Rajin Naik Garuda Indonesia, Terbang ke Jepang dengan First Class Hanya Bayar US$76

Garuda Indonesia menjadi salah satu maskapai dengan layanan penuh (full service) di setiap penerbangannya. Dengan layanan penuhnya ini, Garuda Indonesia memberikan Garuda Frequent Flyer (GFF) yang merupakan loyalty program dari Garuda Indonesia yang diberikan pada pengguna setianya.

Baca juga: Lakukan Go Around, Pilot Garuda Indonesia GA425 Selamatkan Penerbangan dari Petaka

Dari GFF miles setiap terbang dengan Garuda Indonesia dan partner terbangnya, akan ada akumulasi miles yang bisa ditukarkan dengan berbagai macam award seperti tiket destinasi favorit, upgrade kelas terbang dari ekonomi ke bisnis. Kedua award ini bisa menjadi hadiah unuk keluarga, teman ataupun orang-orang terdekat penumpang setia Garuda Indonesia.

Tiket Sam Huang (nextshark.com)

Selain itu, anggota GFF juga bisa menikmati banyak keuntungan dan keistimewaan yang eksklusif seperti konter check ini khusus di airport, kuota bagasi tambahan, prioritas baggage handling, prioritas wait list untuk reservasi tiket, akses lounge Garuda Indonesia hingga penawaran menarik dari partener Garuda Indonesia di seluruh dunia. Sebagai anggota GFF, wajib memiliki kartu yang memiliki empat macam jenis yakni, GFF Blue, Silver, Gold dan Platinum yang memiliki keunggulan masing-masing.

Baca juga: DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an

Dilansir KabarPenumpang.com dari nextshark.com (10/7/2017), baru-baru ini seorang pria bernama Sam Huang menjadi orang paling beruntung terbang di First Class Garuda Indonesia dari Jakarta menuju Jepang hanya dengan membayar US$76 atau sekitar Rp1 jutaan. Padahal harga asli tiket untuk First Class Garuda Indonesia US$7.000 atau sekitar Rp93 juta.

Penasaran bagaimana bisa pria dengan kedua orangtuanya berkewarganegaraan Taiwan ini bisa mendapatkan harga fantastis itu? Ternyata Sam adalah pelanggan setia dari Garuda Indonesia dan sudah mengumpulkan 13.500 Garuda miles. Belum lama Sam mengikuti promo 90 persen Desember 2016 lalu, saat itu Sam hanya perlu menukarkan poin dari Garuda mile miliknya da menambah 1000 poin lagi atau senilai dengan US$76 (Rp1 jutaan) dan bisa mendapatkan satu tiket kelas utama dengan segala fasilitasnya.

Diketahui, dengan membayar kelas utama Garuda Indonesia yang seharga US$7000, siapapun akan dijemput dengan Mercedes di rumah atau tempat Anda mengipap dan diantar ke bandara. Saat sampai di bandara pun, Anda akan dilayani dan disambut, tak lupa passport dan tas juga sudah dibawakan. Seperti seorang raja, saat check in pun ditemani dan sepanjang jalan, para staf menuju ruang tunggu akan menyapa dan menundukkan kepala.

Baca juga: Seragam Pramugari Garuda, Beda Warna, Beda Pula Arti dan Jabatannya

Saat itu Sam bisa masuk ke lounge khusus penumpang First Class untuk menunggu boarding dengan sangat mewah, dimana meja maka lengkap dengan hidangan ala hotel bintang lima yang bisa di santap. Tak hanya itu, jika Anda lelah terdapat sofa bed yang bisa digunakan untuk beristirahat. Dalam lounge ini juga mdisediakan ruang keluarga, kamar mandi mewah hingga spa.

Tak hanya di lounge, keberadaan Anda di dalam pesawat juga seperti menjadi seorang raja yang disambut saat terbang, kabin dengan isi bangku pribadi yang bisa di tutup. Hidangan langsung disajikan koki profesional, bahkan awak kabin juga melepas sepatu Anda dan menggantinya dengan sendal agar istirahat Anda menjadi lebih nyaman.

Dengan Sentuhan Rusia, Kalimantan Bakal Rasakan Jalur Kereta di 2022

Setelah Jawa dan Sumatera, Kalimantan akan menjadi pulau ketiga di Tanah Air yang akan merasakan moda transportasi kereta. Tentu belum menjadi program di sepanjang pulau, namun di fokuskan di provinsi Kalimantan Timur dengan panjang sistem kereta api 575 km. Untuk pembangunan ini sendiri, dana yang akan diinvestasikan oleh perusahaan kereta Api PT kereta Api Borneo, anak perusahaan Kereta Api Rusia mencapai US$2 miliar.

Baca juga: Mengenal Polsuska, Penegak Peraturan di Kereta Api

Nantinya jaringan kereta api ini akan melewati empat kabupaten di seluruh provinsi Kalimantan Timur. Diketahui nantinya pembangunan kereta ini akan dibagi menjadi dua jalur yakni jalur utara dan selatan.

Baca juga: Satu Layanan Bisa Beda Tarif, Kenali Sub Class di Kereta Api

“Mereka akan dibagi menjadi dua jalur, yaitu Jalur Utara yang akan membentang sekitar 305 km dan Jalur Selatan yang akan berada di sekitar 270 km,” kata Presiden Direktur Kereta Api Borneo Sergey Kuznetsov di Balikpapan, yang dikutip KabarPenumpang.com dari The Jakarta Post (12/7/2017).

Sergey menjelaskan bahwa nantinya jalur utara akan menghubungkan Tabang yang merupakan sebuah kabupaten terpencil di Kabupaten Kutai Kertanegara menuju Maloy daerah pesisir Kutai Timur. Sedangkan jalur selatan akan dimulai dar Melak di Kutai Barat dan berakhir di Buluminung, Penajam Paser Utara. Pembangunan kedua jalur ini diperkirakan selesai tahun 2022 mendatang.

Baca juga: Saatnya Maksimalkan Tenaga Surya untuk Energi Terbarukan di Kereta Api

“Saat ini, kami telah menyelesaikan sejumlah penelitian, seperti geofisika dan hidrologi. Kami juga telah mengambil dan menguji 2.000 sampel tanah dari daerah di mana jalur akan dibangun, “kata kepala konstruksi dan pengembangan bisnis Vladimir Volkov.

Kedua jalur kereta api tersebut akan digunakan untuk mengangkut barang, khususnya sumber daya alam seperti batubara dan minyak sawit mentah. Kereta api akan digunakan untuk mengangkut penumpang setidaknya lima tahun setelah mulai beroperasi pada 2022.

Baca juga: Meski Antre Panjang di Gerbong Restorasi, Sahur di Kereta Itu Unik!

“Mengoperasikan kereta penumpang membutuhkan izin yang jauh lebih rumit dan kerjasama yang komprehensif dengan perusahaan kereta api milik negara PT Kereta Api Indonesia (PT KAI),” kata Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak.

Ratakan Persebaran Wisatawan di Bali, Pemerintah Tawarkan Jalur Kereta ke Investor Cina

Guna meratakan persebaran wisatawan lokal maupun mancanegara di Pulau Dewata, Bali, Pemerintah Indonesia mengambil langkah untuk menawarkan proyek pembangunan jalan kereta api ke sejumlah inverstor Cina. Jalur kereta yang selama ini hanya berpusat di Pulau Jawa dan Sumatera, kini coba dikembangkan oleh pemerintah ke daerah lainnya seperti Bali dan Kalimantan. Dilansir KabarPenumpang.com dari kantor berita Antara, Kamis (15/6/2017), Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan tidak hanya menawarkan proyek kereta di Bali kepada para calon investor.

Baca Juga: Target Pengoperasian Kereta Bandara Soekarno-Hatta Molor dari Jadwal

“Ada beberapa proyek yang kita tawarkan (ke investor Cina), di antaranya jalan kereta api di Bali,” tutur Luhut. Lebih lanjut, Pria kelahiran Sumatera Utara, 28 September 1947 ini menyebutkan jalur kereta tersebut dirancang khusus untuk melewati beberapa daerah di Pulau Seribu Dewa yang selama ini kerap menjadi konsentrasi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Sebagai langkah awal, rencananya pembangunan jalur kereta tersebut akan dibangun dari Denpasar menuju Ubud yang berada di Kabupaten Gianyar, dan Singaraja yang berada di Kabupaten Buleleng.

Dengan adanya jalur kereta tersebut, mantan Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia periode 2014-2015 ini berharap persebaran wisatawan bisa lebih merata dan tidak hanya terfokus di satu destinasi saja. “Selama ini wisatawan hanya terkonsentrasi di Nusa Dua, di Kabupaten Badung atau di sekitar Denpasar saja. Nanti, dengan adanya jalur kereta api, penyebarannya akan sampai ke Bali Utara, sekitar Kabupaten Buleleng,” tutur Luhut melengkapi pernyataannya sebelumya.

Baca Juga: Ternyata, Bordes Merupakan Nama Seorang Meneer Belanda Lho!

Hingga berita ini diturunkan, Luhut belum bisa memastikan kapan proyek pembangunan infrastruktur baru di Pulau Dewata itu bisa dimulai, namun ia berharap dalam waktu dekat akan ada kepastian mengenai proyek tersebut. “Tapi mudah-mudahan tahun depan sudah bisa dimulai karena sudah ada studi kelayakannya yang dilakukan oleh World Bank dan Universitas Udayana,” ujarnya.

Tidak hanya pembangunan jalur kereta anyar di Bali Utara dalam rangka pemerataan pembangunan, tapi ada juga beberapa proyek guna mendukung program tersebut, seperti pembangunan bandara internasional Buleleng, dan pembangunan pelabuhan Tanah Ampo di Kabupaten Karangasem. Nantinya, Pemprov Bali akan mengambil jatah sebesar 51 persen dalam pengelolaan jalur kereta tersebut, sisanya akan dikelola oleh pihak swasta.

Baca Juga: Hanya Cerita yang Tersisa dari Terowongan KA Wilhelmina di Pangandaran

Kunjungan kerja Luhut ke Negeri Tirai Bambu pada 15 hingga 17 Juni 2017 kemarin merupakan tindak lajut dari pertemuan bilateral Presiden Joko Widodo dengan Presiden Cina, Xi Jinping yang dilakukan pada bulan Mei 2017. Dalam kunjungannya, Luhut didampingi pula oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Thomas Lembong, sejumlah direktur BUMN, dan beberapa pengusaha Indonesia. Menurut Agenda, sejumlah pejabat tersebut akan melakukan pertemuan dengan sejumlah pejabat dan pengusaha Cina.

Dirjen Perhubungan Udara: “Akan Ada Sanksi Berat Jika Lontarkan Lelucon Bom”

Kembali, kelakar mengenai bom menerpa dunia aviasi. Kali ini salah seorang penumpang yang hendak terbang dari Timika, Papua menuju Denpasar, Bali terpaksa diturunkan dari maskapai plat merah, Garuda Indonesia pada Senin (10/7/2017) kemarin. Akibatnya, pria dengan inisial WH ini bersama dengan salah seorang penumpang lainnya terpaksa digelandang ke pos pengamanan guna diperiksa lebih lanjut.

Baca Juga: Teror Bom di Kantung Mabuk udara, Penumpang Virgin Airways Terpaksa Melopat dari Kabin

Seperti yang dilansir Kabarpenumpang.com dari laman straitstimes.com (11/7/2017), kejadiaan ini bermula ketika seorang penumpang yang bernama  Parlindungan Tambunan menanyakan isi tas dari WH yang tampak besar.  Dengan maksud bercanda, WH lalu mengatakan bahwa isi tasnya adalah sebuah bom. Mendengar jawaban dari WH yang terkesan nyeleneh, Parlindungan lantas tidak kaget sama sekali karena ia mengetahui itu hanyalah sebuah sebuah lelucon. Sialnya, salah satu awak kabin mendengar percakapan ringan mereka dan lalu berbegas utuk memanggil ground staff.

Tak berselang lama, beberapa ground staff naik ke atas maskapai dan langsung menurunkan dua orang tersebut. Walaupun sudah mencoba untuk menjelaskan bahwa itu hanyalah sekedar lelucan dan berulang kali meminta maaf, namun ia bersama Parlindungan tetap diturunkan dari pesawat guna pemeriksaan lebih lanjut. Kejadian ini terjadi pada pukul 12.30 waktu setempat, sesaat sebelum pesawat tersebut mengudara dari Bandara Timika.

Baca Juga: Muncul Hotspot Berbau Teror, Penumpang Thomson Airways Terpaksa Dipulangkan

Setelah menjalani sejumlah pemeriksaan, kepolisian setempat tidak menemukan benda-benda yang mencurigakan. Akibat insiden tersebut, penerbangan mengalami keterlambatan pemberangkatan. Juru bicara kepolisian Papua, AM Kamal mengatakan ada baiknya penumpang untuk tidak sembarangan berbicara, apalagi menyangkut hal-hal yang berbau teror. “Kami berharap penumpang pesawat menahan diri untuk tidak mengatakan hal-hal yang dapat mengganggu penerbangan,” ungkapnya.

Hal-hal seperti ini kerap kali menghiasi pemberitaan media dewasa ini, seperti kasus serupa yang terjadi di Bandara Kuala Namu, Deli Serdang, Sumatera Utara pada Jumat (17/3/2017). Hal ini tentu perlu ditindaklanjuti oleh pihak yang berwenang. Sebagaimana yang dikatakan oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi yang mengimbau masyarakat untuk tidak iseng karena ada sanksi yang akan dijatuhkan. “Ada ancaman bom yang sifatnya lelucon, tapi itu bukan lelucon. Peraturan mengatakan itu ada sanksinya,” imbuh Budi.

Baca Juga: Yang Tabu Saat Anda Berada di Bandara

Hal serupa juga diutarakan oleh Dirjen Perhubungan Udara, Agus Santoso. Ia mengatakan akan ada denda yang dijatuhkan kepada setiap pelaku. “Mungkin ratusan miliar akan dikenakan kepada orang yang bercanda. Candaan bom bisa menjadikan yang bersangkutan bangkrut,” tegas Agus. Meskipun sanksi tersebut masih memerlukan kajian lebih dalam, Agus menganggap sanksi tersebut dinilai ampuh untuk memberikan efek jera kepada pelaku, termasuk meneror balik calon pelaku dengan biaya denda yang sangat besar.

Kerumunan Pods Modular Siap Gantikan Peran Kendaraan Pribadi di 2020

Seorang berkebangsaan Italia bernama Tommaso Gecchelin memiliki angan-angan mengenai sistem transportasi masa depan yang menggabungkan beberapa keunggulan dari sistem transportasi yang sudah ada sekarang. Next Future Transportation, begitulah nama dari transportasi masa depan ini, dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menjadi moda yang efisien dengan jaringan yang saling terkoordinasi dengan angkutan penumpang lainnya yang melayani perjalanan door-to-door.

Baca Juga: Ketika Dunia Transportasi “Teracuni” Perkembangan Jaman

Walaupun ini masih berupa konsep awal, namun rancangan dan sistem dari Next Future Transportation sudahlah terbentuk. Sarana transportasi ini terdiri dari sejumlah pods listrik modular tanpa awak yang akan mengantarkan penumpang sesuai keinginan mereka. Tidak hanya itu, seperti yang sudah dijabarkan di atas, pods listrik modular tanpa awak ini juga dapat mengantarkan penumpang menuju sarana transportasi lainnya, seperti bus dan kereta.

Tommaso yang berperan juga sebagai pendiri dari Next Future Transportation Inc. mengatakan satu set pods modular tanpa awak ini akan beroperasi di jalan raya, bersanding dengan moda transportasi lainnya. KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (22/10/2015), Tommaso menambahkan moda transportasi ini berbeda dengan sistem transportasi lain, tidak memiliki rute yang tetap, serta pengguna cukup memesannya melalui aplikasi di smartphone.

Tommason pun sudah merencanakan interior dari pods ini. Satu pods mampu untuk menampung 10 orang, dengan enam kursi yang tersedia dan empat lainnya berdiri di ruang yang tersisa. Pods ini memiliki ketinggian sekitar 2,7 meter, sehingga penumpang akan merasa seperti tengah menaiki sebuah lift. Karena Next Future Transportation akan menggunakan jalan yang ada, maka tidak dibutuhkan adanya jalur khusus untuk kawanan pods ini.

Baca Juga: Catalyst E2, Bus Otonom Mampu Berjalan 966 Km Dalam Sekali Charge

Sebaliknya, direncanakan infrastruktur dari moda ini murni virtual, terdiri dari sistem cloud yang canggih yang tidak hanya menggerakkan pods otonom sesuai permintaan penumpang, tapi juga mengkoordinasikan semua pods di sistemnya masing-masing, dan tentu saja akan Tommason memastikan moda impiannya ini paling hemat energi.

Sistem modular yang diterapkan di moda ini memungkinkan pods memisahkan diri dari “kawanannya”, layaknya gerbong di kereta api. Tidak hanya itu, impian gila Tommason berlanjut ketika ia membayangkan penumpang memesan layanan pods tambahan, seperti kamar mandi, restoran, hingga toko yang kemudian digabungkan dengan pods penumpang lainnya, tentunya moda ini akan tampak seperti kereta yang sangat modern.

Baca Juga: Lihat Dampak Pada Kota, iCity-CATT Akan Tinjau Teknologi Pada Mobil Otonom

Dalam hal pemesanan, Anda dapat melakukannya melalui aplikasi di smartphone. Layaknya layanan transportasi berbasis online lainnya, Anda dapat dengan mudah memesan salah satu pods ini dari genggaman Anda. Jika destinasi yang Anda tuju berada dalam jarak yang tidak terlalu jauh, maka sistem yang ada akan mengirimkan sinyal pada pods lain supaya dapat membawa Anda dan menurunkannya di destinasi tujuan.

Walaupun terdengar luar biasa, tapi netizen dimohon untuk bersabar terlebih dahulu mengingat statemen yang dikeluarkan oleh Tommason yang akan baru memulai membangun prototipe-nya pada tahun 2020 mendatang. Tentu saja pembangunan prototipe tersebut dibarengi dengan harapan untuk meluncurkan sebuah sistem transportasi yang layak uji dan layak pakai. Sebagaimana perusahaan lain yang saling mengadu teknologi moda masa depannya, Tommason dengan Next Future Transportation-nya juga  memiliki harapan agar penggunaan kendaraan pribadi dapat berkurang dan beralih ke moda transportasi  umum.

Soal Keselamatan Penumpang, Moda Laut Seperti Dianaktirikan

Sedikit bercerita ke belakang, tepatnya pada 13 Februari 2017 silam, sebanyak 2.515 penumpang terdampar di atas kapal pesiar Royal Carribean’s Emperor of the Seas. Insiden ini terjadi akibat kurang jelinya para awak kapal tersebut dalam melakukan final checking sebelum kapal tersebut melaut. Dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh pihak Royal Caribbean, mereka mengatakan masalah teknis yang dihadapi berhubungan dengan keselamatan penumpang, termasuk jaket keselamatan (life jacket) yang sudah tidak layak pakai karena termakan usia.

Baca Juga: Mengenal Inflatable Liferaft, Sosok Tabung Berwarna Putih di Geladak Kapal

Dilansir KabarPenumpang.com dari telegraph.co.uk (15/2/2017), Coast Petty Officer 3rd Class, Ryan Dickinson mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan inspeksi terkait keselamatan penumpang dan menemukan masalah tersebut. “Kapal tersebut tidak lolos uji keselamatan penumpang,” terangnya sebagimana yang ia ungkapkan pula kepada situs berita lokal, Florida Today. Lebih lanjut, Ryan mengatakan kapal tersebut tidak memiliki masalah lain pada bagian mesin, lambung kapal, dan bagian teknis lainnya.

“Untuk kelas kapal pesiar, jarang sekali ditemukan ada kapal yang tidak lolos uji keselamatan yang diakibatkan oleh alat keselamatan penumpang yang tidak mumpuni, karena setiap moda transportasi bertanggung jawab atas semua keselamatan para penumpangnya,” tambah Ryan dilansir dari sumber yang sama. Akibat insiden keterlambatan pemberangkatan tersebut, tidak sedikit penumpang yang memilih untuk mengambil sisi positif dari sekian banyaknya respon negatif yang pihak Royal Caribbean terima. Sebagai rasa tanggung jawab, pihak pelayaran Royal Caribbean menawarkan pengembalian dana sebesar 25 persen dari tarif kapal, ditambah dengan potongan 25 persen untuk perjalanan berikutnya.

Tentu kejadian seperti ini membuat iri para pengguna kapal penyeberangan di Indonesia yang masih mendapatkan perlakuan ala kadarnya dalam keselamatan di perjalanan. Layaknya moda transportasi lain, ada banyak bahaya yang mengancam selama Anda bepergian, dari mulai faktor cuaca hingga human error. Ketersediaan alat keselamatan seperti life jacket di kapal penyebrangan tentu saja menjadi satu poin penting yang menunjukkan penyebrangan tersebut memenuhi standar pelayaran atau tidak.

Baca Juga: Spesifikasi KMP Port Link, Kapal Ferry Teranyar dan Terbesar

Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, bahwasanya setiap penyedia jasa transportasi angkutan laut wajib untuk menyediakan peralatan keselamatan bagi pengemudi dan penumpang, jika operasionalnya tidak ingin dihentikan. Bukan lagi sekedar himbauan, namun Dishub pun nampak geram dengan penyedia jasa transportasi laut yang seolah tidak mengindahkan himbauan tersebut.

Berbicara mengenai alat keselamatan yang ada di moda penumpang, khususnya angkutan laut, tentu Anda masih ingat dengan kejadian terbakarnya KM Zahro Express yang terbakar di perairan Jakarta pada Minggu (1/1/2017). Kejadian yang terjadi beberapa jam setelah perayaan Tahun Baru tersebut mengundang banyak respon, salah satunya adalah dari Darmaningtyas, seorang pengamat transportasi dan juga merupakan anggota Masyarakat Transportasi Indonesia yang mengatakan kecelakaan kapal yang terjadi selama ini merupakan bentuk kurang perhatiannya pemerintah terhadap transportasi maritim.

Lebih lanjut, ia mengomentari kinerja awak kapal yang tidak melakukan pengecekan secara menyeluruh. “Yang sering terjadi dan yang saya kira juga terjadi di kapal Zahro ini kan jumlah pelampung itu tidak sebanding dengan jumlah penumpang. Itu bukti tidak ada kontrol. Syahbandar tidak melakukan pengecekan berapa jumlah pelampung, berfungsi tidak, bagaimana emergency exit-nya, saya kira itu tidak pernah dikontrol,” ungkap Darmaningtyas dilansir dari sumber lain.

Baca Juga: Tampomas II, Ingatkan Tragedi di Perairan Masalembo

Dari dua contoh kasus di atas, ini merupakan ironi bagi Tanah Air khususnya untuk moda laut yang seolah dianaktirikan oleh pemerintah, tidak seperti yang terjadi pada Royal Caribbean yang langsung mendapat tindakan tegas ketika moda tersebut terbukti tidak memenuhi kriteria penyebrangan yang sesuai standar. Jadi, mau sampai kapan moda laut Indonesia seperti ini?

Nasib Kondektur Bus Kota di Jakarta, Korban “Seleksi Alam”

Seiring menjamurnya moda angkutan berbasis online dan TransJakarta, secara langsung membawa perubahan signifikan dalam pola transportasi warga Ibu Kota, dimana sistem pembayaran mulai diadaptasi ke arah contactless payment, baik menggunakan aplikasi dan e-ticketing. Namun disamping nilai positif bagi pengguna jasa, ada yang jadi korban terkena “seleksi alam,” yakni profesi kondektur pada angkutan bus kota dan kelas Mikrolet/KWK.

Baca juga: Bus Berkonsep Alam di Taipei Tuai Banyak Pujian dari Netizen

Menurunnnya jumlah penumpang yang kini tersedot ke layanan taksi/ojek online, berimbas langsung ke pendapatan sehari-hari. Ditambah beban operasional yang meningkat akibat kemacetan parah, mendorong pemilik (operator) angkutan untuk mengurangi jadwal trip perjalanan dan mulai menghilangkan peran kondektur.

Tiadanya kondektur pada angkutan bus dan mikro bus menjadikan fenomena tersendiri. Pasalnya tugas Sang Sopir harus bertambah, selain mengemudi juga harus melayani transaksi pembayaran. Bisa dibayangkan, betapa repotnya kerja sopir, secara langsung ini berimbas kepada lamanya waktu tempuh dan kemacetan di jalan raya. Kenapa? Karena saat sopir melayani transaksi pembayaran dari penumpang, otomatis sopir harus menepikan kendaraan di lalu lintas yang padat.

Baca juga: TransJakarta Terintegrasi KWK dengan Kartu seharga Rp15 ribu di Jam Sibuk

Berdasarkan pengamatan KabarPenumpang.com, sejatinya kondektur masih sangat diperlukan oleh angkutan umum seperti bus kota, Metromini dan Kopaja. Sebab angkutan umum ini belum di fasilitasi dengan model sistem pembayaran berbasis elektronik. Menyadari tetap dibutuhkannya kondektur, tidak jarang juga sopir bus tetap menghadirkan kondektur, tapi yang jadi kondektur justru tidak layak. Umumnya yang dijadikan kondektur adalah istri dari sopir, atau ada kondektur yang masih anak-anak. Kesemua itu harus dilakukan sopir agar dapat membayar upah lebih murah, dibandingkan menggunakan kondektur pria dewasa.

Dalam fungsi yang berbeda, kondektur justru ada di setiap armada bus TransJakarta, namun perannya untuk memberitahukan pemberhentian-pemberhentian TransJakarta. Selain itu juga membantu para penumpang lansia atau disabilitas untuk naik dalam TransJakarta. Tapi ketika TransJakarta menawarkan rute baru yang non busway, maka peran kondektur TransJakarta bertambah, yakni membantu transaksi pembayaran lewat e-money dan cash.

Contactless Payment Paling Cocok Untuk Mass Transportation

Perkembangan sistem pembayaran sarana transportasi umum di hampir seluruh dunia bisa dibilang sudah mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Ini terlihat dari para pengguna angkutan massal di London yang sudah tidak lagi menggunakan “tiket tradisional” dan mulai menggunakan kartu debit hingga kredit untuk melakukan pembayaran sarana transportasi dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang.

Baca Juga: Seabreg Tantangan Implementasi E-Ticketing Pada Transportasi Massal

Semenjak kejadian itu, beberapa wilayah di Britania Raya lalu menerapkan sistem pembayaran menggunakan kartu debit dan kredit masing-masing, terutama dengan menggunakan contactless Europay, Mastercard, dan Visa (contactless EMV). Dilansir KabarPenumpang.com dari masstransitmag.com (6/7/2017), ternyata demam metode pembayaran elektonik ini juga telah merambah negeri Paman Sam yang diketahui sudah terlebih dahulu menggunakan sistem pembayaran semacam ini. Hingga salah satu perusahaan yang melayani insutri transportasi bawah tanah, bus, dan kereta api, ISV menyatakan ini merupakan sebuah kesempatan untuk memperkenalkan sistem pembayaran baru tersebut.

Sebenarnya, sebagian otoritas transportasi memiliki sebuah kartu khusus yang diperuntukkan untuk melakukan transaksi tiket moda transportasi yang dinilai sudah cukup baik, namun masih memiliki beberapa kekurangan, diantaranya pengguna kartu tersebut wajib melakukan administrasi dan bukanlah menjadi pilihan yang mudah diakses oleh para pengguna yang berasal dari daerah lain.

Oleh karenanya, kebanyakan otoritas transportasi yang mengambil pelajaran dari London yang memanfaatkan penggabungan kartu debit dan kredit sebagai metode pembayaran baru sebagai bentuk pembayaran sekunder. Sistem pembayaran menggunakan kedua kartu ini dinilai akan memudahkan para penggunanya karena akan lebih menghemat waktu ketimbang harus menyediakan uang receh untuk membeli tiket tradisional tersebut. Selain itu, para pelancong juga akan merasakan dampak positif dari penggunaan metode pembayaran ini.

Baca Juga: E-Ticket, Antara Mempermudah Atau Memperkeruh

Dalam pengaplikasiannya, sistem pembayaran elektronik ini terbagi menjadi dua kubu, Radio-Frequency Identification (RFID) dan Near Field Communication (NFC). RFID merupakan sebuah metode identifikasi dengan menggunakan sarana yang disebut transponder untuk menyimpan dan mengambil data jarak jauh.  Sedangkan NFC adalah metode komunikasi antar dua perangkat dengan cara menempelkan atau menyinggungkan dua perangkat tersebut.

Terbukti, penggunaan sistem transaksi ini dapat menekan laju perputaran penumpang di beberapa moda transportasi seperti bus dan kereta. Para penumpang dapat dengan cepat melakukan transaksi dan bisa segera berangkat ketika moda tersebut sudah tersedia. Antrean mungkin hanya akan terlihat ketika sarana transportasi  tersebut mengalami keterlambatan, setidaknya, tidak ada antrean yang terjadi di loket pembelian tiket.

Auckland Transportation Mulai Pasang CCTV di Jalur Bus Pusat Kota

Kini, para pengemudi di Auckland harus lebih berhati-hati dalam berkendara, pasalnya otoritas transportasi di sana baru saja memasang kamera pengawas (CCTV) di jalur bus Fanshawe St yang terkenal sibuk. Auckland Transport selaku pihak yang bertanggung jawab terhadap pelayanan transportasi di sana akan memantau setiap pengguna jalan, dan tidak segan-segan untuk mengeluarkan denda jika mereka menemukan adanya pelanggaran yang terekam kamera pengawas tersebut.

Baca Juga: 10 Poin Penting Sistem Keselamatan di Bus

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari nzherald.co.nz (10/7/2017), layaknya kamera pengawas di setiap tempat, seluruh area yang berada dalam jangkauan CCTV ini akan diawasi 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Ini berarti, tidak ada satu momenpun yang luput dari pengawasan kamera pengawas ini. Setelah pemasangannya yang berlangsung tadi pagi waktu setempat, kamera ini tercatat melum merekam kejadian yang berbau melanggar peraturan.

Dua buah kamera pengawas langsung dipasang oleh otoritas setempat di jalur bus yang hendak meninggalkan kota Auckland, tepatnya di sebelum dan sesudah stasiun pengisian bahan bakar BP di antara Nelson St. dan Halsey St. Menurut peraturan yang berlaku, para pengemudi akan dikenakan tilang ketika mereka terekam melakukan pelanggaran dari kedua kamera pengawas tersebut.

Seorang juru bicara dari Auckland Transportastion mengatakan jalur Fanshawe St. merupakan jalur bus pertama yang dipasang oleh kamera pengawas. Tidak menutup kemungkinan jalur-jalur lainnya juga akan dipasang kamera serupa guna meningkatkan pelayanan terhadap para pengguna jalan. Tambahnya, untuk pemasangan kamera CCTV di jalur lain, pihak Auckland Transportation masih menunggu ketersediaan teknologi serat yang sesuai dengan standar yang diterapkan oleh Auckland Transportation. “Untuk jalur lain akan pula dipasang kamera serupa, tergantung dari ketersediaan teknologi yang serupa,” ujarnya. “Bisa saja teknologi serupa akan tiba dalam waktu yang lama, kita lihat saja nanti,” tambahnya.

Baca Juga: Pelatihan Terhadap Pengemudi Bus Akan Meminimalisir Tingkat Kecelakaan

Otoritas Auckland sengaja memilih Fanshawe St. sebagai lokasi pemasangan kamera pengawas tersebut, karena jalur ini bisa dilewati oleh lebih dari 5000 orang pada peak hours pagi hari,dimana 1800 diantaranya merupakan pengguna mobil di kedua jalur super sibuk tersebut. “Keputusan apakah seseorang terbukti melanggar peraturan akan tetap ditindak oleh petugas di lapangan, dan semua rekaman yang diambil dari kamera tersebut akan selalu ditinjau oleh petugas penegak hukum,” terang juru bicara Auckland Transportation.

Sementara itu, pengoperasian bus yang melintas di Fanshawe St. bisa dibilang tidak ada hentinya, 24 jam dalam sehari dan tujuh hari dalam seminggu, dan otoritas setempat telah menghimbau untuk tidak berhenti sembarangan di jalur padat tersebut.

“Bikun,” Bus Kampus Yang Kadung Jadi Legend

Dengan populasi 48 ribu mahasiswa yang tersebar di 13 fakultas pada lahan 320 hektar, tentu bukan perkara mudah bagi rektorat untuk menyediakan fasilitas transportasi yang terintegrasi di kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat. Namun sejak berdirinya kampus UI Depok pada tahun 1988, mulai dirintis kehadiran Si “Bikun” (Bis Kuning) yang hingga kini menjadi identitas kedua UI, tentunya setelah jaket kuning almamater yang menjadi ciri khas.

Baca juga: Google Pasang WiFi di Bus Sekolah Untuk Kemudahan Siswa di Pedesaan

Bikun ini merupakan bus yang disediakan gratis untuk melayani kebutuhan transportasi mahasiswa-mahasiswi yang berkuliah di kampus UI Depok. Tetapi, bus ini juga bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar secara gratis dimana warga bisa menggunakan bus ini sebagai penghubung antara daerah Kukusan dan Margonda.

Hingga tahun 2005 bus kuning berjumlah 20 unit. Bus ini beroperasi dari hari Senin hingga Jumat dimulai pukul 07.00-22.00 WIB, sedangkan hari Sabtu hanya sampai pukul 14.00 WIB, untuk hari Minggu bus ini tidak beroperasi sama sekali.

Baca juga: “Bus Sekolah Gratis,” Aplikasi Monitoring Bus Sekolah di Jakarta

Bus ini melalui dua rute yakni rute merah dan biru, biasanya penanda rute merah dan biru dapat dilihat pada kertas warna yang tertempel di kaca setiap bus. Rute merah yakni Halte Asrama – Halte Gerbatama – Halte Stasiun UI — Halte FH — Halte Masjid UI — Halte Pondok Cina/Balairung — Halte RIK – Halte FIK – Halte FMIPA — Halte PNJ — Halte Vokasi/Kukusan Kelurahan — Halte FT — Halte FE – Halte FIB — Halte FISIP — Halte F.Psikologi — Halte Stasiun UI — Halte Gerbatama — Halte Asrama.

Sedangkan rute biru yakni Halte Asrama – Halte Gerbatama – Halte Stasiun UI — Halte F.Psikologi — Halte FISIP — Halte FIB — Halte FE — Halte FT — Halte Vokasi/Kukusan Kelurahan — Halte PNJ — Halte FMIPA — Halte FIK — Halte FKM — Halte RIK — Halte Balairung/Pondok Cina — Halte Masjid UI – Halte FH – Halte Stasiun UI — Halte Gerbatama — Halte Asrama. Dari rute-rute ini ada beberapa halte yang tak dilewasi si Bikun ini yakni Halte Gedung ILRC di Jalan Dr Nugrogo Notosutanto.

Tahukah Anda selain tentang rute, Bikun ini jug memiliki hal unik dari setiap penggunanya. Dilansir KabarPenumpang.com dari satujam.com ternyata ada empat tipe mahasiswa penumpang Bikun ini.

1. Rombongan alias gerombolan
Biasanya ini mahasiswa yang malu-malu dan males naik sendirian. Mereka rela menunggu atau janjian dengan yang lainnya hanya untuk naik Bikun sama-sama.

2. Tipe sempurna
Tipe ini bukan mementingkan penampilan, melainkan adalah mementingkan bila pria bersama perempuan, si perempuan pasti dipersilahkan naik terlebih dahulu dan biasanya mengucap salam baik saat naik atau mau turun kepada pengemudi Bikun. Kemudian setelah turun juga menunggu bus tersebut hingga pergi dari hadapannya untuk ytujuan berikutnya.

3. Dunia seperti milik sendiri
Yang seperti ini adalah si bodo amat alias yang mementingkan dirinya sendiri. Berebut tempat demi duduk dan terkadang pura-pura tidur, telepon, baca buku atau yang lainnya seperti dunia milik sendiri.

4. Anti duduk
Penumpang ini lebih mementingkan penampilan, biasanya anak mahasiswa biar di anggap cool. Walaupun kadang Bikun kosong pun dia akan tetap berdiri dari awal naik sampai tujuannya.

Baca juga: Trans Jogja, Bus Rapid Transit Tanpa Separator Asli Kota Gudeg

Sebagai wujud kecintaan pada Bikun, sekelompok mahasiswa Fasilkom UI 2011 pernah merilis aplikasi “Bikun Mania.” Aplikasi ini dapat digunakan untuk mengecek jadwal bus kuning (bikun) yang berkeliling di area UI. Pembuatan aplikasi muncul dari pengamatannya terhadap permasalahan yang dihadapi para pengguna bikun. Para pengguna seringkali tidak megetahui jadwal keberangkatan dan kedatangan bikun di tiap-tiap halte. Hal ini tidak jarang membuat mereka menunggu terlalu lama atau justru tertinggal bikun.

Nama Bikun juga diadaptasi sebagai tempat kuliner, tepatnya di kawasan Fakultas Hukum (FHUI) terdapat Bikun Coffee, sebuah coffee shop yang menggunakan basis rangka Bikun yang sudah tidak terpakai. Dengan konsep semi out door di bawah rindangnya pepohonan, Bikun Coffee merupakan sebuah tempat nongkrong sederhana tapi nyaman, yang sangat disukai oleh anak muda, sehingga membuat mereka betah duduk sambil ngobrol santai ataupun sembari mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.

Meski telah menjadi identitas UI Depok, pengelolaan Bikun dilakukan secara outsourcing, dan sayangnya pengoperasian Bikun telah berakhir pada tahun 2015. Sebagai penggantinya adalah Bus Pakar Wisata yang hadir berkat kerjasama UI dengan PO Kramat Djati Group.