Punya Implan MicroChip? Hati-Hati Ketika Anda Melewati Sistem X-Ray Bandara

Pernahkah terlintas di benak Anda bagaimana jika seseorang yang memiliki implant microchip ditubuhnya bisa melewati sistem keamanan bandara yang terkenal ketat? Sebelumnya, KabarPenumpang.com melansir dari gizmodo.com (3/7/2017), seorang yang memiliki implan pada otaknya yang bernama Gary Olhoeft terpaksa mengurungkan niatnya untuk berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan karena sistem pengamanan disana mematikan secara paksa implan microchip yang tertanam di otaknya.

Baca Juga: Jelang Musim Panas, AS Perketat Prosedur Keamanan di Bandara

Ternyata medan magnet yang berada di sistem pengamanan di sebuah pusat perbelanjaan hingga di bandara bisa menon-aktifkan sistem microchip yang tertanam di tubuh seseorang, karena adanya singgungan sinyal yang terjadi antara dua alat tersebut. Namun, ada suatu fenomena yang cukup membingungkan ketika pada tahun 2016 ada seorang pelancong Andreas Sjostrom yang memiliki chip NFC (Near Field Communication) yang ditanamkan di tangannya, yang berisikan rincian ID anggota Skandinavia Airlines EuroBonus, sehingga ia tidak perlu khawatir dengan microchip yang tertanam di tubuhnya.

Namun tidak sembarang microchip bisa melewati sistem pengamanan yang ada di pra-sarana transportasi seperti pemindai X-Ray di bandara. Kembali ke kasus awal, pemasangan microchip di otak Gary merupakan salah satu metode penyembuhan dimana chip tersebut akan menghantarkan impuls listrik ke korteks motoriknya untuk mengendalikan penyakit Parkinson yang diidapnya. Dan ternyata, kasus yang dialami oleh Gary bukanlah kasus yang aneh, karena menurut rekap yang dimiliki oleh Food and Drug Administration’s (FDA) MAUDE database, terdapat sebanyak 374 kasus yang menimbulkan malfungsi terhadap alat-alat kesehatan, seperti implan saraf, alat pacu jantung dan pompa insulin.

Baca Juga: Penumpang Pukul Petugas Avsec Bandara Sam Ratulangi, Video Viral Kemana-mana

Meskipun tidak semua laporan tersebut telah diverifikasi, FDA dan para ilmuwan telah mengungkapkan kekhawatirannya mengenai skenario di mana medan elektromagnetik dapat mengganggu peralatan medis yang beroperasi dalam spektrum frekuensi yang sama. “Konsekuensi dari Electromagnetic Interference (EMI) dengan peralatan medis mungkin hanya akan menimbulkan pemberitahuan pada layar sistem keamanan, namun kemungkinan yang sama besarnya akan timbul manakala interfensi elektromagnetik tersebut dapat menimbulkan cidera serius hingga berujung kematian,” terang FDA dalam sebuah pernyataan.

Sebuah studi khusus dilakukan guna meneliti masalah seperti ini. Kesimpulan  yang didapat adalah semakin banyak alat berenergi yang tertanam di tubuh seseorang, maka mereka harus lebih berhati-hati dan waspada guna menghindari kejadian yang tidak diinginkan.

Fosil Maroko Mengartikan Perjalanan Manusia Begitu Jauh

Saat fosil ditemukan, biasanya banyak masyarakat yang bertanya-tanya apalagi bila itu adalah fosil manusia. Biasanya para peneliti langsung melakuka pengecekan dari spesies mana fosil tersebut berasal.

Baca juga: HYBRIDShip Bangun Kapal Ferry Tanpa Emisi

Dilansir KabarPenumpang.com dari time.com (7/6/2017), dari Maroko ditemukan fosil yang mendorong adanya bukti kembali ke 100 ribu tahun lalu dan sebelumnya di Afrika Timur yang kaya akan fosil ditemukan tulang belulang berusia 300 ribu tahun dan menjadi pemecah rekor hingga saat ini.

Penemuan fosil ini menandakan adanya tahapaan evolusi pada spesies manusia dengan campuran sifat modern dan lebih primitif. “Mereka tidak seperti kita,” ujar Jean Jacques Hublin salah satu ilmuwan yang menemukan fosil tersebut.

Baca juga: Bus Berdaya Baterai Listrik Hantam Jalanan Swedia

Dengan bukti lainnya, fosil Maroko ini menunjukkan bahwa Homo Sapiens mungkin telah berubah menjadi bentuk yang lebih modern lebih dari satu tempat di Afrika. Sayangnya, hingga kini tidak jelas kapan dan dimana Homo Sapiens bisa sampai ke Afrika sendiri. Hublin mengatakan, tahap awal pengembangan mendahului yang terungkap dari penemuan timnya.

Saat menjelaskan tentang fosil Maroko (Time)

“Dari fosil yang ditemukan ini ataupun penemuan lainnya memiliki bentuk tengkorak yang berbeda dan memiliki berat yang berbeda juga. Namun terlihat lebih mirip dari kita, atau manusia kera datang sebelum adanya manusia lainnya ini. Spesies kita hidup di waktu yang sama,” jelas Hublin.

Dalam penemuannya, Hublin dan tim lainnya menjelaskan bahwa penemuan ini bisa membantu menjelaskan bagaimana spesies manusia bisa berevolusi. Dalam penemuan yang mereka lakukan, Spesimen Maroko ini ditemukan antara tahun 2007 dan 2011 lalu dengan tengkorak, ragang dan gigi serta peralatan batu.

Baca juga: Waspada! “Human Trafficking” Lewat Moda Transportasi Umum

Selain itu ditemukan juga tulang belulang lainnya yang ditemukan namun tidak diberi tanggal yang benar. Koleksi fosil ini setidaknya diperkirakan dari lima orang termasuk dewasa, ramaja dan anak-anak berusia sekitar delapan tahun. Bentuk otaknya pun lebih panjang dari yang dimiliki manusia saat ini.

“Dalam 300 ribu tahun terakhir, cerita utamanya adalah perubahan otak,” kata Hublin. Diketahui, ketika manusia purba ini tinggal di Maroko tepatnya dalam sebuah gua yang menjadi tempat perburuan dimana manusia saat itu menyemelih dan makan di dalamnya. Saat itu mereka sudah menggunakan api dann peralatan yang digunakan dari batu yang berjarak 25 mil atau 40 km.

Baca juga: Ada Penampakan UFO di Dekat Kereta, Laporan Wanita ini Disangsikan

Dapat diketahui dari hasil penelitian ini, bahwa Homo Sapiens modern mungkin muncul lebih dari satu tempat. “Ini adalah bagian dari jaringan,” melalui mana ide dan gen mengalir, kata John Shea seorang Antropolog.

Bisa dikatakan lebih lanjut, populasi lokan yang berbeda sebagai satu kesatuan yang menghubungkan hal sama seperto kota besar yang dihubungkan dengan pemberhentian kereta bawah tanah. Shea mengatakan bahwa masuk akal untuk menemukan jejak lama Homo sapiens purba di Afrika barat laut. Dia setuju bahwa itu tidak berarti spesies kita pertama kali muncul di sana.

“Ketika sampai pada bukti asal-usul manusia di Afrika barat laut versus Afrika timur versus Afrika bagian selatan, itu adalah dasi,” tulisnya melalui sebuah email.

Richard Potts dari Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian Institution mengatakan fosil Maroko “tampaknya mencerminkan transisi awal ke Homo sapiens, sangat mungkin menunjukkan awal dari garis keturunan yang dimiliki semua orang.”

Situs ini terletak sekitar 34 mil atau 55 kilometer tenggara kota pesisir Safi, barat laut Marrakech. Umurnya ditentukan terutama dengan menganalisis potongan batu yang ditemukan di sana, dan penulis menyimpulkan bahwa mereka berusia sekitar 315 ribu tahun. Hublin mengatakan bahwa karena metode yang berbeda menyarankan usia yang lebih muda untuk situs ini, dia menganggap tulangnya berusia sekitar 300 ribu tahun.

Richard Roberts dari University of Woollongong di Australia, seorang ahli dalam menentukan usia situs kuno, mendukung kesimpulan tersebut. “Saya akan mengatakan bahwa penulis telah memberikan bukti yang cukup meyakinkan untuk menemukan manusia modern awal di situs ini 300 ribu tahun yang lalu dan Mungkin sedikit lebih awal, “Roberts menulis dalam sebuah email.

Ini Dia Kendala Utama Pembangunan Jalur Kereta Elizabeth

Salah satu proyek kereta terbesar di Eropa, Elizabeth Line diharapkan dapat membantu mobilitas warga Inggris yang semakin mempercayai sarana transportasi berbasis massa untuk bepergian. Jalur yang membentang sejauh 100 km ini menghubungkan Reading dan Heathrow di sebelah barat dengan Shenfield dan Abbey Road di sebelah timur.

Baca Juga: Rencana Pengoperasian Kereta Jalur Elizabeth di Inggris, Semuanya Serba Baru Loh!

Menurut data yang diperoleh KabarPenumpang.com dari newelectronics.co.uk (27/6/2017), layanan di jalur ini akan mulai beroperasi pada bulan Desember 2018 mendatang dengan harapan dapat memboyong penumpang lebih dari 200 juta per tahunnya. Dalam pembangunannya, pihak kontraktor telah mengentaskan banyak tantangan, mulai dari pengeboran terowongan baru sejauh 42km, hingga pembangunan 10 stasiun baru.

Diantara semua tembok penghalang tersebut, yang paling kompleks adalah memecahkan masalah koneksi dari tiga sistem yang sangat berbeda. “Sistem pensinyalan tersebut harus dapat berfungsi secara optimal agar komunikasi dapat berjalan secara efektif dan ini merupakan masalah teknis yang paling menantang yang dihadapi oleh kami,” ungkap Chris Binns, chief engineer dalam proyek kereta ini.

Baca Juga: Bullet Train Siap Mengular di Ujung Barat Daya Inggris

Pengerjaan rel yang dinaungi oleh Crossrail Ltd. ini akan membawa penumpang berhenti di 40 stasiun dalam satu kali perjalanan, 30 diantaranya merupakan pembaruan dari stasiun yang sudah ada sebelumnya.

Sedangkan untuk masalah sarana yang akan digunakan oleh jalur ini, Negara yang dipimpin oleh seorang ratu ini mempercayai Bombardier dalam penyediaan keretanya. The Aventra, dinilai cocok untuk mengular di jalur ini. Gerbongnya pun sangat impresif, dapat dilihat dari jarak gangway yang lebar dan ukuran gerbong yang sedikit lebih panjang dari gerbong lainnya yang beroperasi di Inggris. Dengan adanya perbedaan dari ukuran gerbong serta jarak gangway, maka sedikit banyaknya akan berpengaruh terhadap mobilitas para penumpang di dalam kereta. Gerbong-gerbong tersebut juga memiliki desain walk-through interkoneksi.

Dengan panjang total sekitar 200 meter yang mencakup sembilan gerbong, The Aventra digalang-galang dapat mengangkut penumpang sekitar 1500 orang sekali perjalanan. Sementara itu, direktur proyek Elizabeth Line, Joe Bednall mengatakan jalur Elizabeth yang tengah mereka garap ini merupakan sesuatu yang langka mengingat keunikan dari jalur yang namanya diambil dari salah satu Ratu Inggris tersebut. “Jalur Elizabeth menggabungkan layanan darat tradisional dengan jaringan bawah tanah, sungguh unik,” tuturnya dilansir dari sumber yang sama.

Baca Juga: Setelah 175 Tahun, Ratu Inggris Kembali Menumpangi Kereta Api

Namun, nampaknya warga Inggris akan gigit jari mengingat keterlambatan pengoperasian layanan di jalur tersebut, sehubungan dengan banyaknya masalah yang dihadapi, terutama masalah sinyal. “Isu utamanya jelas mengenai masalah persinyalan dan kami perlu memastikan agar pengoperasiannya dapat berjalan dengan aman dan lancar. Kami harus memetakan setiap bagian dari sistem pensinyalan. Kami juga harus mengidentifikasi sistem fungsional,sebelum akhirnya disebarkan menuju sistem on-board,” terang Joe. Apakah masalah yang dihadapi dalam pembangunan jalur ini bisa disamakan dengan proyek kereta cepat Jakarta – Bandung yang masih berkutat dengan masalah pembebasan lahan?

Departemen Keamanan Dalam Negeri AS Umumkan Langkah Keamanan Penerbangan Baru

Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, Department of Homeland Security (DHS) Amerika Serikat pada rabu (28/6/2017) mengumumkan langkah-langkah terkait kemananan penerbangan global yang menuju wilayah Amerika Serikat. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris DHS John Kelly dalam sambutannya kepada Center of New American Security

Baca juga: Bandara Abu Dhabi Cabut Larangan Elektronik Masuk Amerika Serikat

Dia mengatakan, dalam tindakan langkah-langkah keamanan ini akan ada yang terlihat dan tidak, kemudian akan bertahap dari waktu ke waktu. Hal ini sebenarnya seperti yang sudah diperkirakan oleh para pemilik industri penerbangan dimana kepala DHS pernah mengatakan tindakan tersebut akan mencakup pengawasan yang lebih besar pada penumpang yang memasuki Amerika Serikat.

Dengan perbaikan skrining perangkat elektronik, penyebaran alat yang lebih baik lagi untuk mendeteksi bahan peledak. Dia juga mengatakan bahwa departemen yang berada di bawah naungannya tersebut akan mendorong lebih banyak bandara untuk menjadi lokasi sebelum adanya izin masuk.

Baca juga: Tangkal Terorisme, Larangan Bawa Laptop ke Dalam Kabin Dipandang Tak Efektif

Kelly mengatakan, jika bandara serta maskapai tersebut menolak untuk mengikuti langkah-langkah keamanan baru ini, ini termasuk dengan laptop yang berada dalam larangan dan dilarang untuk masuk dalam pengoperasian penerbangan langsung ke Amerka Serikat. Pihaknya juga menjelaskan langkah ini adalah salah satu cara untuk mengatasi ancaman yang di kemukakan pihak intelijen sehingga melakukan pelarangan laptop secara besar-besaran dan terang-terangan.

“Ancaman tidak berkurang. Sebenarnya saya khawatir bahwa kita melihat minat baru dari kelompok-kelompok teroris yang mengejar sektor penerbangan,” ujar Kelly dalam pidatonya, dikutip KabarPenumpang.com dari wgntv.com (28/6/2017), ini disampaikan oleh

Baca juga: Tanggapi Pelarangan Gadget di Kabin, Emirates Airlines Buat Iklan Lucu di YouTube

Selain untuk lebih memperketat keamaanan, adanya langkah-langkah ini juga untuk membuat para teroris tersebut seperti ‘mati langkah’ agar tidak berhasil masuk ke Amerika Serikat membawa ancaman yang besar. Dalam pengumumuan langkah-langkah keamanan ini, DHS tidak merinci semua persyaratan terbaru tersebut untuk alasan kemanan. Adanya tindakan ini, salah seorang pejabat di DHS mengatakan bahwa tindakan ini adalah perintah agar maskapai penerbangan mengikuti aturan tersbut. Sebab DHS tidak memiliki yuridiksi atas bandara asing, tetapi memliki yuridiksi atas maskapai yang memiliki penerbangan langsung ke Amerika Serikat.

Pada awalnya, Kellly mengatakan ada sepuluh bandara yang dilarang untuk para penumpangnya membawa laptop dalam kabin pesawat. Selain itu DHS sendiri tidak memberikan tanggal yang jelas kapan tindakan terbaru ini akan mulai berlaku dan mengatakan bahwa ini semua diserahkan kepada perusahaan penerbangan untuk menentukan sendiri seberapa cepat mereka bisa melakukannya.

Modus Perampokan Baru, Korban Penumpang Taksi diturunkan Selamat

Modus perampokan pada taksi memang banyak ragamnya. Dilansir KabarPenumpang.com dari jamaica-star.com (1/7/2017), baru-baru ini seorang pria menyamar menjadi seorang penumpang taksi dan merampok penumpang lainnya saat berada di dalam taksi. Sebelumnya perlu dijelaskan, bahwa taksi di Jamaika ini menganut model ride sharing, meski bukan berbasis aplikasi, artinya dalam satu taksi bisa memuat dua sampai tiga orang penumpang yang tak saling kenal.

Baca juga: Nissan Leaf, Mobil Listrik Favorit Perusahaan Taksi dan Pengguna Pribadi

Penumpang yang jadi korban awalnya tidak memiliki kecurigaan apapun terhadap pengemudi dan ini seperti modus baru. Dari laporan yang didapat, Kamis ( 29/6/2017), seorang pria di rampok dengan laptop dan dompetnya diambil saat memasuki taksi, kejadian tersebut terjadi di sepanjang jalan Boulevard Washington.

Saat itu korban masuk ke dalam mobil dan ada seorang pria yang berlagak seperti penumpang duduk di depan dan langsung memundurkan sadaran bangkunya hingga menjepit si korban yang berada pas dibelakangnya agar tidak bisa bergerak kemana pun. Akibat dari tindakan tersebut, penumpang yang jadi korban langsung ditodong pistol dan di paksa menyerahkan barang-barangnya. Kemudian, korban di ajak berkeliling sebelum akhirnya diturunkan di sebuah tempat.

Insiden lainnya yakni seorang penumpang laki-laki lain yang naik ke sebuah taksi di jalan Hagley Park menuju ke Half Way Tree. Dalam perjalanannya, korban merasakan hal yang sama seperti korban pertama. Namun korban kedua ini ditodong untuk memberikan uang, perhiasan dan pin ATM-nya.

Ini adalah modus baru dan tidak membuat penumpang curiga ataupun terluka sama sekali. Sebab, bila barang-barang yang diinginkan sudah di dapatkan biasanya korban diturunkan di jalan.

Baca juga: Banyak Kasus Pelecehan, Inikah Momen Taksi Online Perketat Penerimaan Pengemudi?

Satuan Kriminal di divisi polisi pusat St Andrew, Inspektur Colin Roberts mengatakan bahwa polisi memiliki beberapa pengetahuan terkait insiden tersebut. “Saya mendengarnya di pinggir jalan tetapi tidak bisa memastikan dalam laporan resmi,” ujarnya.

Roberts menambahkan, modus operandi ini adalah hal yang baru dan ia berpesan agar masyarakat menggunakan taksi resmi di bandingkan yang tidak resmi untuk mengurangi kriminal dengan modus perampokan seperti ini.

Baca juga: Oslo, Kota Dengan Tarif Taksi Termahal di Dunia, Jakarta Ada Diurutan Berapa Ya?

Sebenarnya, modus operandi seperti ini pernah terjadi di Jakarta beberapa tahun lalu. Namun yang digunakan adalah taksi resmi yang dipalsukan oleh pelaku, dimana korban di todong untuk menyerahkan barang-barang yang dibawanya, kemudian korban diberikan uang Rp100 ribu untuk ongkos pulang dan diturunkan di tempat yang jauh dari keramaian dengan kondisi selamat tanpa luka sedikitpun.

Travel Advice, Jangan Samakan dengan Travel Warning

Tentu masih lekat diingatan Anda mengenai aksi teror yang terjadi di Jakarta Timur pada 24 Mei 2017 malam, dimana sebuah bom meledak persis di area Teminal Kampung Melayu. Kejadian yang menewaskan tiga orang polisi tersebut berhasil menyita perhatian dunia, terbukti dengan datangnya berbagai kecaman kepada para pelaku hingga travel advice yang juga turut dikeluarkan oleh beberapa negara, seperti Inggris, Amerika Serikat dan Australia.

Baca juga: Public Figure Ini Pernah Terobos Label Travel Warning di Indonesia

Namun, sebelum melangkah lebih jauh, apa sih travel advice itu? Sebenarnya, travel advice merupakan himbauan yang dikeluarkan oleh suatu negara, namun levelnya masih dibawah travel warning. Ketika suatu negara sudah menerbitkan travel advice kepada para warganya untuk lebih berhati-hati ketika hendak bertolak menuju suatu destinasi, maka keputusan tetap berada di tangan calon pelancong untuk tetap melakukan perjalanan atau mengurungkan niatnya.

Ada kemiripan dengan travel warning, travel advice pun dirilis suatu negara dengan berbagai alasan tertentu yang bisa saja mengancam keselamatan dari para warganya. Dari mulai ancaman cuaca buruk hingga aksi teror yang berkembang di suatu negara menjadi beberapa aspek pendukung penerbitan status travel advice. Biasanya, kebijakan otoritas setempat untuk menerbitkan travel advice maupun travel warning tergantung dari seberapa bahayanya ancaman yang mungkin terjadi di destinasi tujuan. Semakin besar ancaman yang mengintai, semakin tinggi pula kemungkinan diterbitkannya travel warning, begitu juga sebaliknya.

Sudah barang tentu travel advice tak melulu dikeluarkan oleh negara lain untuk kunjungan ke Indonesia. Seperti pada teror bom di kota Paris pada tahun 2015, Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di Paris, Perancis telah mengeluarkan travel advice (peringatan keamanan) kepada Waga Negara Indonesia yang berada di Perancis. Sebagai perwakilan pemerintah di negara tiap negara, peran Kedutaan Besar lumrah untuk memberikan informasi intelijen dan masukkan kepada pemerintah pusat.

 

Public Figure Ini Pernah Terobos Label Travel Warning di Indonesia

Untuk Anda yang sering bepergian ke luar negeri, mungkin sudah tidak asing lagi dengan yang namanya travel warning. Bagi Anda yang belum mengetahui atau mungkin lupa, travel warning adalah sebuah pernyataan peringatan resmi yang dikeluarkan oleh badan pemerintahan, biasanya Kementerian Luar Negeri kepada warganya untuk memberikan informasi yang menyangkut keamanan dari suatu destinasi atau negara tertentu. Sebenarnya travel warning ini lebih kepada larangan untuk mengunjungi suatu negara.

Baca juga: 13 Tips Perjalanan Luar Negeri dengan Ransel

Adapun tujuan dari dikeluarkannya sebuah travel warning adalah untuk memungkinkan para pelancong membuat keputusan yang tepat tentang perjalanan yang akan mereka tempuh. Selain itu, fungsi lain dari travel warning adalah untuk membantu para wisatawan mancanegara (wisman) mempersiapkan segala sesuatunya yang dibutuhkan guna menghadapi berbagai kemungkinan selama perjalanan yang akan mereka tempuh.

Dalam penerbitannya, travel warning tidak mengenal waktu alias bisa saja datang secara mendadak, mengingat kejadian luar biasa yang tidak bisa diprediksi kapan akan datang, contohnya seperti bencana alam. Selain travel warning, ada istilah lain yang kerap kali muncul, yaitu travel alert. Walaupun travel alert juga berisikan peringatan mengenai isu keamanan, yang membedakan hanyalah durasi. Durasi masa aktif travel alerts terhitung lebih singkat daripada travel warning.

Dibalik keuntungan diberlakukannya status travel warning bagi para calon pelancong, namun itu semua berbanding terbalik dengan resiko yang harus diterima oleh negara berlabel travel warning tersebut. Mulai dari merosotnya pemasukan dari segi pariwisata, citra negara tersebut yang secara otomatis tercoreng, hingga kemungkinan pencabutan saham yang ditanam oleh perusahaan asing.

Baca juga: Mau Travelling, Ini Tips Buat Melipat Pakaian Yang Hemat Tempat!

Travel warning ini biasanya berisikan tentang informasi terkait isu massive, seperti cuaca buruk, segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah keamanan, dan wabah penyakit yang sedang menjangkiti suatu daerah. Contoh yang paling hangat dari diberlakukannya travel warning bagi Indonesia adalah ketika meledaknya sebuah bom di terminal Kampung Melayu, Jakarta timur pada 24 Mei 2017 silam. Sebagaimana KabarPenumpang.com wartakan dari TheJakartaPost.com (25/5/2017), akibat ledakan tersebut, The Foreign and Commonwealth Office (FCO) Inggris mengeluarkan travel warning bagi para warganya yang hendak berkunjung ke Jakarta.

Travel warning tersebut dirilis dalam sebuah pernyataan resmi yang menyatakan agar para warga Inggris yang berada di Jakarta untuk menghindari TKP dan tetap mengikuti arahan dari pihak berwajib. Sedangkan himbuan bagi para pelancong yang hendak terbang ke Jakarta untuk tetap waspada mengingat ancaman terorisme yang masih sangat tinggi. Dengan dikeluarkannya pernyataan seperti itu, maka secara tidak langsung mencoreng citra Indonesia yang seolah kental dengan tindakan terorisme.

Tidak hanya itu, salah satu penyanyi Pop asal Barbados, Rihanna juga pernah batal manggung di Indonesia terkait isu travel warning yang tengah mebelit Indonesia. Rihanna yang dijadwalkan konser di Istora Senayan pada bulan November 2008 terpaksa dibatalkan mengingat keamanan Indonesia yang masih labil akibat eksekusi trio teroris, Amrozi cs.

Baca juga: Tips Aman dan Nyaman Untuk Penerbangan Bagi Lansia

Namun, tidak sedikit pula orang yang mengindahkan label travel warning di sebuah negara. Tercatat sejumlah artis kenamaan dunia pernah melanggar larangan penerbangan tersebut, seperti grup band asal Amerika, “Incubus” dan band rock “Skid Row” pernah nekat untuk tetap ngamen di Ibu Kota. “Kami tahu larangan itu, tapi kami tidak takut dan tidak khawatir ke manapun kami pergi sebab tujuannya adalah bermusik. Dengan musik maka perbedaan budaya dapat dijembatani,” ujar salah satu personil band “Ozomatli” yang juga pernah nekat manggung di Indonesia walaupun status travel warning tengah aktif.

Nama Taufik Kiemas Menjadi Nama Bandara di Lampung

Siapa tak kenal dengan Taufiq Kiemas? Nama almarhum suami dari Presiden keempat Megawati Soekarno Putri dan mantan ketua MPR RI, kini sudah menjadi nama salah satu bandara di Lampung tepatnya di Lampung Barat. Nama Bandara Muhammad Taufiq Kiemas menggantikan Bandara Pekon Serai yang sebelumnya sudah ada berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan KP 811 Tahun 2016.

Baca juga: Bandara Radin Inten II Semakin Keren dengan Lorong Fiberglass

Dirangkum KabarPenumpang.com dari beberapa sumber, bandara ini memiliki panjang landasan pacu 1.100 meter dan lebar 23 meter. Tahun 2016 lalu Pemerintah Daerah telah membebaskan lahan seluas 2,8 hektar untuk memperpanjang landasan pacu tersebut.

Bandara ini berada di Pesisir Barat dengan jarak 250 km dari kota Bandar Lampung. Untuk sampai ke sini menggunakan jalan darat bisa mencapai lima hingga enam jam. Tetapi bila menggunakan transportasi udara hanya akan menempuh satu jam penerbangan dari Bandara Radin Inten II, Lampung.

Baca juga: Angkasa Pura II Targetkan Runway Kedua Bandara Supadio Rampung di 2020

Tahun 2017 ini, rencananya bandara Muhammad Taufiq Kiemas, landasan pacunya akan diperpanjang oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menjadi 1.400 meter dan tahun 2018 mendatang menjadi 1600 m, ini agar bandara bisa digunakan untuk mendaratkan pesawat sekelas Boeing 737. Perpanjangan landasan pacu juga diikuti adanya kunjungan dari wisatawan mancanegara.

Hal ini karena, daerah Pesisir Barat Lampung memiliki pantai dengan ombak terbaik kedua untuk melakukan surfing setelah Hawaii. Selain itu, daerah Pesisir Barat pun akan semakin berkembang dan ekspor ikan pastinya juga akan meningkat dengan perkembangan di berbagai sektor.

Landasan pacu saat bernama Bandara Pekon Serai

Dengan panjang landas pacu 1.100 meter, sampai saat ini memang belum ada penerbangan di Bandara Muhammad Taufiq Kiemas. Tetapi sejak tahun 2014 hingga Desember 2016, bandara ini melayani penerbangan perintis dengan rute Bengkulu – Krui – Tanjung Karang dan Palembang – Krui – Tanjung Karang yang dioperatori oleh maskapai Susi Air.

Sayangnya penerbangan perintis ini tidak berkembang sehingga berhenti beroperasi. Nantinya bila perpanjang landasan pacu sudah selesai, potensi akan semakin berkembang dan turis yang datang pun akan semakin banyak. Untuk menciptakan konektivitas di daerah terpencil, terluar dan tertinggal. Diketahui hingga kini kunjungan wisatawan mancanegara ke Pesisir Barat Lampung tepatnya Krui mencapai 150 ribu orang pertahunnya.

FeliCa, Gelang Ajaib Berbasis Chip Untuk Transaksi Komuter Jabodetabek

Bila di Swedia sudah ada sistem pembayaran tiket kereta dengan implan chip di bawah lapisan kulit, maka di Indonesia yang baru merasakan sistem pembayaran tiket elektronik kereta sejak tahun 2012, juga telah menerapakan teknologi contactless. Memang tak secanggih di Swedia, tapi model gelang FeliCa yang dirilis tahun 2015 bisa menjadi solusi yang optimal untuk transaksi cepat bagi para penumpang kereta komuter Jabodetabek.

Baca juga: Microchip Implan Digunakan Untuk Pembayaran Tiket Kereta di Swedia

Felicity Card atau yang disingkat FeliCA merupakan sebuah chip khusus yang dikembangkan oleh Sony untuk memudahkan para penggunanya, dari mulai transaksi tiket elektronik, keuangan hingga administrasi seperti daftar absensi hingga pengoperasian alat-alat elektronik. Sementara FeliCa yang diadopsi oleh PT KCJ (KAI Commuter Jabodetabek) hanya dapat digunakan untuk transaksi tiket elektronik. Cara kerjanya pun tidak jauh beda dengan tiket kartu yang kebanyakan orang pakai hingga detik ini, yaitu dengan cara menyimpan saldo di dalam kartu dan mengisinya kembali ketika saldo sudah habis.

Baca Juga: E-Ticket, Antara Mempermudah Atau Memperkeruh

Dilansir KabarPenumpang.com dari railway-technology.com (5/2/2015), CEO PT KAI Commuter Jabodetabek kala itu, Tri Handoyo mengatakan KCJ ingin memanfaatkan kerja sama yang mereka jalin dengan Sony dalam penyediaan teknologi FeliCa yang diharapkan mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para penumpang.

Dilansir dari sumber lain, Tri mengaku membagikan sebuah gelang yang di dalamnya tertanam chip FeliCa kepada para penumpangnya dengan maksud sebagai ajang promosi. “Masih promo, mungkin masih free tapi terbatas saja. Jika selesai promo harganya sama saja, Rp30 ribu untuk saldo tiket dan Rp20 ribu untuk gelangnya jadi Rp50 ribu,” ujar Tri. “Kemampuan untuk membaca semua jenis chip akan memudahkan integrasi antarmodal di masa depan, karena perangkat kami dapat mengidentifikasi jenis tiket elektronik yang mungkin akan dikembangkan oleh operator transportasi lain,” tambahnya. Dengan model gelang, maka saat transaksi di gate penumpang tak perlu repot mengambil dan mengeluarkan isi dompet

Baca Juga: Kalau Sudah Lihat Ini, Masih Mau Mengeluh Mengenai Penuhnya KRL?

Dalam pengadaan gelang berisikan chip FeliCa tersebut KCJ mengaku tidak mengeluarkan biaya investasi sepeser pun. Pasalnya proyek tersebut merupakan bagian dari ekspansi bisnis perusahaan teknologi raksasa asal Jepang tersebut selaku penyedia teknologi chip tiket elektronik gaya baru tersebut.

Seakan mengamini Tri, Business Division Senior General Manager dari Sony Corporation FeliCa, Kazuyuki Sakamoto mengaku puas dengan kerja sama yang pihaknya jalin dengan PT KCJ dan meyakini invasi teknologi Sony tersebut akan berperan serta dalam meningkatkan pelayanan PT KCJ. “Kami akan memastikan bahwa kami dapat memberikan kontribusi positif untuk memperbaiki layanan KCJ untuk pengoperasian yang lebih baik lagi,” tutur Kazuyuki.

Tidak bisa dipungkiri, warga DKI Jakarta amat mensyukuri kehadiran sarana transportasi seperti KRL Jabodetabek. Selain tidak macet, tarif yang digunakan oleh PT KCJ juga bisa dibilang murah. Layaknya gula yang dikerubungi oleh semut, KRL pun akan mengalami lonjakan penumpang drastis pada peak hour.

Kereta Dek Ganda Stadler Rail, Kereta Ramah Untuk Penyandang Disabilitas

Di tahun 2012 silam, perusahaan manufaktur asal Swiss, Stadler Rail meluncurkan double-decker multiple-unit train atau yang lebih dikenal dengan kereta dek ganda pertamanya di Erlen, Swiss. Peluncuran tersebut terkait permintaan dari Bern-Lötschberg-Simplon (BLS) railway, sebuah perusahaan kereta api asal Swiss. Pertama kali, BLS melakukan pemesanan kereta jenis CHF494m sebanyak 28 unit kereta dek ganda pada bulan Maret 2010 silam dengan harga US$542 juta.

Baca Juga: Rute Ekstrim Kereta Bergerigi di Swiss, Kemiringannya Hingga 48%

Sebagaimana diwartakan KabarPenumpang.com dari railway-technology.com (22/3/2012), adapun tujuan dibalik permintaan kereta dek ganda ini adalah untuk meningkatkan kapasitas tempat duduk bagi para penumpangnya hingga 30 persen lebih banyak daripada menggunakan gerbong biasa. Menurut sumber tertera, kereta dek ganda ini nantinya akan dioperasikan di jalur komuter Bern. Adapun perakitan kereta ini dilakukan di Stadler Rail Altenrhein.

Pemilik sekaligus CEO dari Stadler Rail, Peter Spuhler mengatakan tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk mengembangkan kendaraan yang memenuhi standar keselamatan dan kecelakaan. “Kami hanya membutuhkan sembilan bulan untuk memenuhi standar keselamatan yang tinggi, karena tidak semua kereta dapat transit melalui Base Lötschberg Tunnel,” ujar Peter. Kereta dek ganda tersebut terlebih dahulu diuji coba di Swiss bagian timur pada bulan September sebelum akhirnya mulai beroperasi pada bulan Desember.

Baca Juga: Glacier Express, Antarkan Anda Nikmati Indahnya Pemandangan Swiss

Satu rangkaian kereta ini memiliki 335 bangku, dimana 61 diantaranya berada di kelas satu, dan mampu untuk menampung lebih dari 110 penumpang berdiri. Fasilitas penunjang lainnya pun bisa dibilang cukup memadai, seperti pintu masuk dengan lantai rendah, AC, kamera pengawas, hingga banyak ruang yang tersedia untuk pengguna kursi roda, soket listrik di kelas satu, hingga toilet yang bisa diakses oleh penyandang disabilitas.

BLS mengoperasikan sistem kereta api komuter di Bern dan Lucerne West, serta beberapa layanan regional lainnya dengan total tujuh kanton. Tidak hanya melayani perjalanan kereta api, BLS juga ternyata menjalankan beberapa usaha transportasi lainnya, seperti Autoverlad Lötschberg yang bergerak di bidang transportasi darat, Schifffahrt Berner Oberland yang melayani perjalanan laut, serta bus wilayah Emmental.