moBiel, Vending Machine Yang Akrab Bagi Penyandang Disabilitas

Bagi para pengguna layanan Commuter Line di Ibu Kota tentu tidak terlalu asing dengan mesin penjual (vending machine) tiket yang tersedia di beberapa stasiun. Keberadaannya berhasil memangkas antrian yang terjadi di loket umum pembelian tiket, terutama pada peak-hours. Tidak seperti kebanyakan mesin penjual yang lain, vending machine yang tersedia di beberapa stasiun di Ibu Kota bisa memberikan kembalian jika transaksi yang dilakukan para penumpang membutuhkan uang kembali.

Baca Juga: Seabreg Tantangan Implementasi E-Ticketing Pada Transportasi Massal

Begitu juga yang vending machine baru yang ada di Bielefeld, Jerman. Secara keseluruhan, vending machine yang diluncurkan oleh penyedia layanan mobilitas, moBiel ini hampir tidak ada bedanya dengan yang ada di Jakarta, lalu apa poin istimewa dari mesin penjual ini? Ternyata, seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman eurotransportmagazine.com (21/9/2017), ini merupakan vending machine yang dirancang dengan mempertimbangkan para penyandang disabilitas. Diketahui, mesin ini dilengkapi dengan sistem audio yang dapat membantu penumpang tuna netra.

Langkah yang diambil oleh Scheidt & Bachmann, perusahaan yang memproduksi sektiar 100 vending machine ini merupakan bentuk peremajaan model pendahulunya yang telah beroperasi selama lebih dari 25 tahun. Mengikuti perkembangan jaman, vending machine milik Scheidt & Bachmann ini menggunakan sistem layar sentuh yang lebih modern ketimbang sistem tombol yang terkesan kuno.

Untuk sistem pembayarannya, mesin menerima uang logam dan kertas, tentu saja mesin tidak akan menerima uang kertas yang sudah terlipat, basah, dan usang. Rencananya, Scheidt & Bachmann akan mengembangkan sistem pembayaran non-cash, seperti kartu debit dan kredit. Mesin ini digalang-galang siap menyediakan tiket perjalanan penumpang masa depan yang canggih.

Baca Juga: E-Ticket, Antara Mempermudah Atau Memperkeruh

Seperti yang tertera di laman sumber, moBiel vending machine tidak hanya menyediakan mesin yang dapat memenuhi kebutuhan tiket para penumpang, melainkan juga bisa memberikan informasi seputar moda terkait kepada penumpang. Mesin ini memiliki fitur yang bisa menginformasikan penumpang tentang keberangkatan atau penundaan perjalanan secara real-time, jadwal perjalanan yang lengkap, serta beberapa informasi penting lainnya.

Jika Anda didapati tidak memiliki tiket selama perjalanan, maka Anda bisa membayar denda yang sudah ditetapkan sebelumya di mesin ini pula. Cukup canggih bukan? Di Jakarta sendiri hampir tidak mungkin jika ada penumpang yang tidak memiliki tiket berhasil naik Commuter Line, karena semua KRL Jabodetabek sudah menggunakan sistem tap-cash.

Tingkatkan Keamanan di Peron, Stasiun MRT Jakarta Akan Dilengkapi Platform Screen Doors

Salah satu mimpi terburuk bagi pengguna jasa kereta adalah terdorong dari pinggir peron hingga jatuh ke track lintasan. Itu bukan saja kerap divisualkan dalam film-film action, namun kasus orang terjatuh dari peron dan kemudian langsung tersambar kereta yang melintas memang kerap terjadi, apalagi saat peak hour dimana kumpulan orang saling berdesakan di peron menunggu kedatangan kereta.

Baca juga: Stasiun Tsutsuishi, Stasiun Bawah Tanah yang Menyerupai Sebuah Bangker

Insiden menakutkan tersebut memang telah menjadi perhatian bersama para operator jasa kereta, terutama pada jalur kereta komuter yang melayani penumpang dalam jumlah besar. Sebagai solusinya beberapa stasiun modern kini telah dilengkapi Platform screen doors (PSD). Berupa pintu dan partisi pemisah antara batas peron dan jalur track kereta. Bagi publik di Indonesia meski belum ada stasiun yang dilengkapi PSD, pada dasarnya solusi ini mirip dengan konsep automatic doors yang ada di halte TransJakarta. Meski ada pemisah, calon penumpang di peron masih dapat melihat jelas kedatangan kereta, mengingat material pemisah dibuat dari kaca tahan getaran yang bening.

Nah, PSD nantinya akan diterapkan di seluruh stasiun MRT (Mass Rapid Transit) Jakarta. Model PSD pun terbagi ke dalam dua tipe, yakni full height platform screen doors, dimana lapisan kaca dan pintu screen terutup rapat dari jalur track. Kemudian ada half-screen doors, dimana posisi bagian atas screen terbuka dengan jalur track. Umumnya full height platform screen doors digunakan pada stasiun bawah tanah (underground), sebaliknya half screen doors banya digunakan pada stasiun upperground.

Stasiun MRT Bishan di Singapura dengan full height platform screen doors.

Terjatuh dari peron faktanya tak melulu jadi faktor insiden, ada juga kasus memang orang sengaja bunuh diri dengan cara meloncat dari peron. Meski menekankan pada keselamatan calon pengguna jasa yang berada di peron, PSD punya fungsi lain yang tak kalah penting, seperti mengurangi efek hempasan angin saat kereta melintas dengan kecepatan tinggi. Harus diakui efek hempasan angin cukup mengganggu kenyamanan pada orang yang menanti di peron.

Baca juga: Intip Langsung Kungstradgarden, Stasiun Bawah Tanah Paling Keren di Dunia

Dari aspek kenyamanan, PSD membuat kondisi stasiun bawah tanah lebih nyaman, dimana pengaturan sirkulasi udara dan pengatur suhu bisa lebih optimal. Polusi suara yang diakibatkan kereta juga dapat jauh dikurangi. PSD juga dapat meningkatkan keamanan pada infrastuktur jaringan kereta, semisal tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam terowongan. Dari sisi pengelola stasiun, PSD dapat meningkatkan efisensi, pasalnya bila sudah ada PSD maka tak perlu lagi ada petugas keamanan yang berjaga-jaga di peron.

Merujuk ke sejarahnya, PSD pertama kali diterapkan di Stasiun Saint Petersburg Metro’s Line 2 pada tahun 1961 – 1971. Saat ini stasiun MRT seperti di Singapura dan Malaysia sudah jamak wajib menggunakan PSD. Sebaliknya stasiun kereta bawah tanah di Sydney, Melbourne, Munich dan Stockholm justru belum mengadopsi PSD.

Mau Melancong? Yuk Intip Biaya Visa on Arrival Saat Tiba di Bandara Luar Negeri

Adanya fasilitas Visa On Arrival menjadi magnet tersendiri untuk menyambangi suatu negara, betapa tidak, tanpa harus ribet mengurus Visa di Kedutaan Besar, dengan Visa On Arrival pelacong bisa lebih fleksibel untuk masuk ke negara tujuan. Selain dokumen standar, mengurus Visa On Arrival lebih ditekankan pada kesiapan Anda untuk membayar tarif Visa itu sendiri.

Baca juga: Visa on Arrival, Bisa Berdampak Pada Risiko Keamanan di Dalam Negeri

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, Indonesia menduduki peringkat ke 79 dalam kebebasan bepergian menurut data statistik Henley visa restriction index 1 Januari 2017. Dengan data ini total akses bebas visa dan visa on arrival (VOA) Indonesia hanya bisa masuk dengan mudah ke 57 negara.

Berikut ini, KabarPenumpang.com mendapat sumber beberapa negara yang mengenakan biaya pada pembuatan Visa on arrival saat tiba di bandara.

1. Nepal
Bandara Internasional Tribhuvan, Kathmandu di Nepal memberlakukan Visa on arrival. Anda sebagai pelancong bisa menggunakan mesin aplikasi visa yang berbentuk seperti ATM tak jauh dari pintu masuk bandara. Siapkan paspor dan isi eform di mesin aplikasi, jangan lupa mengisi data diri, nomor telepon serta tempat Anda menginap. Foto juga langsung dilakukan pada mesin tersebut, setelah selesai di mesin aplikasi, Anda diharuskan ke Fee Collection Counter dan siapkan uang tunai. Uang ini untuk membayar biaya bila 15 hari akan dikenakan US$25, 30 hari US$40 dan 90 hari US$100.

Pembayaran visa ini bisa menggunakan mata uang USD, AUD, Yen dan Euro. Setelah selesai baru Anda menuju imigrasi untuk pengecekan pembayaran visa dan cek stiker visa, waktu pengurusan diperkirakan sekitar satu jam.

2. Turki
Untuk masuk ke Turki, warga Indonesia mendapat dua jenis visa dan tidak perlu mengurus ke kedutaan besar Turki atau bisa dikatakan Anda langsung mendapat akses mengurus di bandara. Sampai di bandara Ataturk Istanbul, Turki carilah konter Visa on Arrival dan siapkan uang tunai US$35. Untuk paspor Indonesia, visa ini berlaku selama 30 hari.

3. India
Pelancong Indonesia yang masuk ke India, sesaat setelah tiba di bandara bisa masuk ke ruang imigrasi untuk wawancara kemudian mengisi formulir VOA dan diserahkan ke petugas bersama paspor, tiket pulang serta bukti pemesanan hotel. Setelah mendapat stempel kedatangan Anda harus membayar INR3600 per orangnya dan pembayaran wajib dengan uang Rupee. Disini, uang Anda akan diteliti dengan jelas karena banyak pemalsuan uang Rupee. Uniknya bukan stiker yang Anda terima di paspor untuk VOA di India melainkan hanya stempel dan berlaku selama 30 hari.

Tidak semua bandara internasional di India bisa melayani VOA, beberapa bandara yang siap untuk VOA seperti di Bandara Netaji Subash Chandra Bose, Kolkata, Bandara Bengaluru, Chennai, Cochin, Delhi , Goa, Hyderabad, Mumbai dan Trivandrum.

Sebelum berangkat ke India, sebagai pelancong juga bisa mengisi aplikasi melalui website sehingga nantinya mudah saat di bandara hanya perlu membawa print out saja. Untuk penbuatan TVOA online ini Anda harus membayar US$60 untuk 30 hari. Dokumen yang dipersiapkan pun tak jauh berbeda dengan saat Anda melakukan pembuatan VOA langsung di bandara. Untuk persetujuannya VOA online ini paling lama 72 jam dan akan masuk ke dalam email Anda. Lain dari itu, pihak Kedutaan Besar India di Jakarta juga melayani jalur pembuatan Visa dengan sistem konvensional.

4. Timor Leste
Sebagai negara yang pecah dari Indonesia, masuk ke Timor Leste juga memerlukan VOA dengan biaya US$30 dan berlaku selama satu bulan.

Untuk negara-negara di Asia Tenggara, pemegang paspor hijau Indonesia, tidak dikenakan visa alias bebas visa. Sehingga pelancong Indonesia tak perlu repot memikirkan biaya visa dan segala pengurusannya untuk masuk ke negara-negara Asean.

Visa on Arrival, Bisa Berdampak Pada Risiko Keamanan di Dalam Negeri

Meningkatnya arus wisatawan ke suatu negara banyak dipengaruhi oleh beragam faktor, salah satunya adalah kebijakan dalam peraturan keimigrasian yang ditetapkan negara yang bersangkutan. Dari sisi pelancong tentu mendambakan negara tujuan wisata sudah menerapkan standar bebas Visa seperti halnya untuk berkeliling sesama negara ASEAN. Namun semua kebujakan yang diambil akan berdampak pada risiko pada keamanan di dalam negeri, dan sektor pendapatan pemerintah dari non pajak, karena Visa merupakan dana yang masuk ke kas negara tuan rumah.

Faktanya hanya sebagian kecil negara yang menerapkan bebas Visa, selebihnya memberlakukan Visa untuk para pelancong dan pebisnis. Ketimbang harus mengurus Visa di Kedutaan Besar yang kadang kurang fleksibel dan merepotkan, beberapa negara sahabat dan juga Indonesia menerapkan apa yang disebut dengan Visa on Arrival.

Visa on arrival sendiri merupakan dokumen izin masuk seseorang ke suatu negara yang bisa didapatkan langsung di perbatasan antarnegara seperti di bandara atau pelabuhan. Bisa dikatakan Visa on arrival ini adalah tiket masuk ke suatu negara yang bisa di beli di negara tujuan.

Baca juga: Mau Ke Eropa dengan Visa Schengen? Jangan Lupa Pesan Tiket Kereta Secara Online

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, bahwa di Indonesia sendiri kebijakan untuk pembebasan kunjungan baru mulai April 2015 lalu. Dimana juga mengizinkan warga negara asing dari tambahan 30 negara untuk mengunjungi Indonesia tanpa visa.

Dari sisi Pemerintah Indonesia, kebijakan ini diambil karena masih rendahnya jumlah turis yang masuk ke Indonesia dibandingkan dengan negara lain yang berada di Asia Tenggara. Sebanyak 90 negara diperbolehkan datang dan menetap di Indonesia tanpa visa selama 30 hari dan warga negara asing dari beberapa negara bisa mengajukan Visa on arrival untuk menetap 30 hari dengan membayar US$35 di loket pintu masuk.

Diketahui, untuk saat ini Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2016 tentang Bebas Visa Kunjungan telah membebaskan visa bagi turis asing di 169 negara yang hendak berkunjung ke Indonesia. Berikut negara-negara yang bebas visa yakni Australia, Antigua & Barbuda, Armenia, Albania, Andora, Bahama, Banglades, Barbados, Belize, Benin, Bhutan, Bolivia, Bosnia & Herzegovina, Bostwana, Brasil, Burkina Faso, Burundi, Chad, Cile, Ekuador, El Savador, Gabon, Gambia, Georgia, Grenada, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Hongkong (SAR), Jamaika, dan Kenya.

Baca juga: Gara-Gara Salah Administrasi, Perempuan Ini Tak Bisa Masuk Inggris Selama 10 Tahun

Selanjutnya ada Kepulauan Marshall, Kepulauan Solomon, Kiribati, Komoro, Kuba, Lesotho, Makau (SAR), Madagaskar, Makedonia, Mauritius, Mauritania, Malawi, Mali, Maroko, dan Mongolia, Mozambik, Moldova, Namibia, Nepal, Nikaragua, Palestina, Palau, Pantai Gading, Paraguay, Peru, Puerto Rico, Republik Dominika, Rwanda, dan Saint Kitis dan Navis,Saint Lucia, Saint Vincent dan Grenadis, Samoa, Sao Tome dan Principe, Serbia, Sri Lanka, Swaziland, Tajikistan, Tahta Suci Vatikan, Tanjung Verde, Togo, Tonga, Trinidad dan Tobago, Turkmenistan, Tuvalu, Uganda, Ukraina, Uruguay, Uzbekiztan, Vanuatu, Zambia, dan Zimbabwe.

Kemudian, ada Afrika Selatan, Aljazair, Amerika Serikat, Angola, Argentina, Austria, Azerbaijan, Bahrain, Belanda, Belarusia, Belgia, Bulgaria, Ceko, Denmark, Dominika, Estonia, Fiji, Finlandia, Ghana, Hongaria, India, Inggris, Irlandia, Islandia, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Kazakhstan, Kirgistan, Kroasia, Korea Selatan, Kuwait, Latvia, Lebanon, Liechtenstein, Lituania, Luksemburg, Maladewa, Malta, Meksiko, Mesir, Monako, Norwegia, Oman, Panama, Papua Niugini, Perancis, Polandia, Portugal, Qatar, Republik Rakyat China, Romania, Rusia, San Marino, Arab Saudi, Selandia Baru, Seychelles, Siprus, Slowakia, Slovenia, Spanyol, Suriname, Swedia, Swiss, Taiwan, Tanzania, Timor Leste, Tunisia, Turki, Uni Emirat Arab, Vatikan, Venezuela, Jordania, dan Yunani.

Menggunakan Visa on arrival ini, tidak tanggung-tanggung warga negara asing bisa masuk dengan mudah ke semua bandara besar dan pelabuhan utama di berbagai kota Indonesia. Sayangnya, dengan kebijakan Visa on arrival juga memiliki resiko salah satunya terkait dengan keamanan negara.

Saat suatu negara membiarkan masukknya orang tidak dikenal tanpa adanya pengecekan kredensial mereka berupa dokumen-dokumen penting yang diperlukan, maka akan membawa risiko tersendiri. Sebaliknya pada prosedur Visa konvensional, calon pelancong yang akan masuk ke suatu negara dapat “difilter” terlebih dahulu di negara asal mereka sebelum berangkat. Apalagi saat ini isu teroris, penyelundupan narkotika dan perdagangan manusia kian meningkat. Dalam prosedur konvensional ini, pihak Kedutaan Besar akan mengecek secara detail identitas dokumen para pemohon Visa. Negara-negara yang terkenal ketat dalam urusan pemberian Visa seperti Amerika Serikat, Inggris dan Australia.

Media Kiosk, Vending Machine Mutakhir Yang Dipasang di Pra-Sarana Transportasi

Jika selama ini kita melihat mesin penjual (vending machine) menjajakan tiket, koran, dan minuman, kini satu lagi varian vending machine yang siap meramaikan dunia perbisnisan. Adalah BMC Universal Technologies, sebuah perusahaan asal Kanada yang bergerak di bidang vending machine yang menggabungkan kecepatan, kenyamanan, dan personalisasi untuk menciptakan sebuah vending machine terbaru.

Baca Juga: Geser Yang “Manual,” Selamat Datang Era Robotika di Bandara

Adalah Media Kiosk, sebuah vending machine yang menjajakan beragam jenis permen yang bisa kita pilih sesuai selera dan keluar dalam bentuk bungkusan. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman plasticsinpackaging.com (28/9/2017), mesin ini tidak hanya bisa menjual, tapi juga mempromosikan merek, dan mengumpulkan data para penggunanya. Kelebihan inilah yang akhirnya menjadi daya tarik Media-Kiosk di sebuah pagelaran bertajuk Pack Expo di Las Vegas, yang diadakan tanggal 25 hingga 27 September kemarin. Dengan kata lain, mesin ini menggabungkan pemasaran digital dengan ritel otomatis.

Dengan menggunakan vending machine ini, konsumen bisa bebas memilih dari delapan pilihan produk yang tersedia di dalam wadah yang diberi nama “bins”. Setelah menentukan pilihan, vending machine tersebut akan membungkus permen-permen pilihan Anda dengan menggunakan mesin pemanas sehingga Anda bisa membawanya sebagai buah tangan. Waktu yang dibutuhkan dari mulai Anda memasukkan koin hingga permen-permen pilihan Anda keluar dari mesin ini diperkirakan kurang dari satu menit. Sejatinya sebuah vending machine, para pengguna bisa melihat beragam pilihan permen dari sebuah kaca display.

Seperti yang sudah disebut di atas, mesin ini juga dapat mengumpulkan data para penggunanya. Teknologi yang terpasang di vending machine ini mampu melacak jenis kelamin, tinggi badan, perkiraan usia, dan lain sebagainya. Teknologi pengumpulan data konsumen akan bersinergi dengan fungsi lain dari mesin ini yaitu memasarkan produk. Setelah data pengguna terkumpul, maka mesin akan menampilkan iklan yang sesuai data pengguna. Untuk masalah pembayaran, para pengguna bisa menggunakan kartu debit, kartu kredit, kartu pelajar, uang tunai (kertas atau koin), hingga kartu hadiah.

Baca Juga: Baidu Rambah Teknologi Pengenalan Wajah di Bandara

Robert Schwarzli, wakil presiden pengembangan produk mengatakan mesin ini dikembangkan selama enam tahun dan siap melayani para penggunanya. Selain itu, Robert juga menjelaskan bahwa mesin ini cocok bila dipasang di beragam pra-sarana transportasi seperti stasiun, bandara, halte bus, dan sarana publik lainnya, seperti bioskop dan kampus. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa vending machine ini bisa diisi dengan beragam ritel lainnya, seperti sereal, oabt-obatan, dan makanan ringan.

Tentu, dengan hadirnya mesin ini di pra-sarana transportasi dapat memudahkan penumpang yang hendak jajan untuk bekal perjalanan. Dengan waktu penyajian kurang dari satu menit, diperkirakan penumpang akan lebih bisa menghemat waktu pra-perjalanan.

Didera Sejumlah Masalah, Kalstar Aviation Untuk Sementara Tak Mengudara

Kabar mengejutkan kembali datang dari industri penerbangan nasional, yakni Kalstar Aviation menambah deretan maskapai yang terkena sanksi pemberhentian izin terbang sementara oleh Kementerian Perhubungan.  Berangkat dari sejumlah masalah mendera, menyebabkan maskapai yang basis layanannya berada di Kalimantan harus melakukan koreksi internal jika ingin mengudara kembali.

Baca juga: Beroperasi Singkat, Maskapai Indonesia Ini Tinggal Cerita

“Kami mendapat laporan, maskapai Kalstar Aviation saat ini mempunyai masalah teknis, operasional, dan finansial. Untuk itu, kami meminta internal maskapai melakukan koreksi dan audit. Agar proses tersebut berjalan lancar, kami akan menghentikan sementara izin operasional Kalstar,” kata Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso yang di kutip KabarPenumpang.com dari tribunnews.com (30/9/2017).

Pemberhentian izin operasional maskapai Kalstar per 30 September 2017 kemarin hingga masalah-masalah maskapai tersebut terselesaikan secara baik. Adapun yang harus dilakukan oleh maskapai ini koreksi dan audit yakni meliputi pembenahan finansial atau kinerja keuangan dengan cara menaikkan tingkat likuiditas.

Ini harus dilakukan maskapai Kalstar karena akan berpengaruh pada masalah teknis dan operasional maskapai penerbangan tersebut serta terkait dengan jumlah pesawat beroperasi, crew dan sumber daya manusia yang tersedia. Tak hanya itu Kalstar juga harus melaksanakan training mandatory serta kemampuan penyelesaian masalah teknis yang muncul dalam pengoperasian termasuk kemampuan menyelesaikan temuan hasil safety audit yang baru-baru ini dilaksanakan Ditjen Perhubungan Udara.

Diketahui, Kalstar merupakan maskapai penerbangan pemegang AOC 121, sehingga pemenuhan terhadap ketentuan CASR 121 juga harus dipenuhi. Kalstar harus menyelesaikan safety audit seperti yang diatur dalam peraturan keselamatan penerbangan sipil (PKPS) atau Civil Aviation Safety Regulation (CASR).

“Kewajiban memenuhi ketentuan peraturan keselamatan penerbangan sipil sangat berhubungan dengan kemampuan financial di suatu maskapai penerbangan. Kami mengimbau, manajemen Kalstar segera melakukan dan menyelesaikan koreksi dan audit internal tersebut sehingga bisa kembali melayani masyarakat. Bagaimanapun, sebuah maskapai penerbangan adalah aset bangsa untuk membantu meningkatkan perekonomian nasional,” ujar Agus.

Selain itu, beberapa masalah yang saat ini dialami Kalstar di antaranya, sebagian besar armada pesawat yang berhenti beroperasi sedang dalam perawatan (maintenance). Dengan demikian, Kalstar tidak bisa memenuhi peraturan mengenai persyaratan jumlah pesawat yang dioperasionalkan. Dalam UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, syarat pesawat yang harus dioperasionalkan maskapai penerbangan berjadwal adalah lima pesawat milik dan lima pesawat yang dikuasai.

Masalah lainnya yakni dari 22 rute yang harus dilintasi Kalstar, hingga 29 September 2017 hanya ada empat rute yang benar-benar diterbangi. Rute Kalstar hingga diberhentikan sementara yakni Surabaya menuju Pangkalan Bun, Pangkalan Bun menuju Ketapang, Ketapang menuju Pontianak dan Samarinda menuju Berau.

Merujuk ke sejarahnya, Kalstar Aviation berdiri tahun 2000 dan mulai beroperasi tahun 2008 yang didirikan oleh sebuah agen perjalanan bernama Samarinda. Pesawat yang digunakan kebanyakan berjenis pesawat baling-baling ATR-72 buatan Perancis.

Baca juga: ATR-72 600, Pesawat Tercanggih Untuk Penerbangan Perintis Nasional

Maskapai ini berkantor pusat di Serpong, Banten dan terdaftar dalam kategori 1 oleh Otoritas Penerbangan Sipil Indonesia untuk kualitas keselamatan penerbangan serta terdaftar sebagai maskapai yang dilarang di Uni Eropa. Hingga sekarang, Kalstar Aviation memiliki sepuluh pesawat ATR-72.

Sedertan indisen juga pernah dialami Kalstar, seperti pada 21 Desember 2015, pesawat ERJ195 Penerbangan 676 Tergelincir di Bandar Udara Internasional El Tari, Kupang. Kemudian di 18 Maret 2016, penerbangan Kalstar dengan nomor KD 900 tujuan Berau – Samarinda tiba-tiba mengalami mati mesin ketika berada di udara. Baling-baling pesawat sebelah kanan tidak berputar, dan pilot kemudian memutuskan untuk kembali ke bandara Kalimarau.

Tidak itu saja, pesawat Kalstar dengan penerbangan KLS 931 dari Sampit tujuan Banjarmasin dan Kotabaru mengalami ledakan mesin dengan percikan api di sisi kiri pada 15 April 2016. Akibat ledakan ini empat orang dari 34 penumpangnya luka-luka karena meloncat dari pintu darurat tanpa adanya tangga.

 

Terkait Masalah Seat Pitch, FAA Dipaksa Perbaharui Peraturan Penerbangan

Tersadar atau tidak, saat ini banyak maskapai yang mempersempit jarak antar kursi satu dengan lainnya (seat pitch). Hal ini dilakukan agar pesawat bisa menampung penumpang lebih banyak lagi, biasanya maskapai dengan biaya murah atau low cost carrier (LCC) melakukan hal tersebut.

Namun, tahukah Anda sebagai penumpang sebenarnya berhak mendapat tempat yang nyaman walupun dengan maskapai LCC. Karena adanya penyempitan jarak antar kursi ini bila terjadi insiden pada pesawat justru akan memperlambat waktu penyelamatan atau evakuasi.

Baca juga: Dilema Seat Pitch, Maskapai Tambah Untung Penumpang Merana

KabarPenumpang.com melansir dari laman cbsnews.com (13/9/2017), tahun 2016 lalu ketika American Airlines 767 mengalami insiden mesin terbakar saat lepas landas di Chicago, untuk mengevakuasi semua penumpang pesawat dibutuhkn waktu lebih dari dua menit. Padahal Federation Aviation Administration (FAA) memiliki persyaratan dimana maskapai penerbangan harus menunjukkan bahwa mereka mampu mengevakuasi sebuah pesawat terbang yang penuh penumpang dalam waktu 90 detik atau kurang, bahkan saat pintu terganjal atau susah untuk dibuka.

Tak hanya itu, Delta Airlines yang meluncur di landasan pacu bersalju di LaGuardia New York tahun 2015 mengalami kerusakan sistem komunikasi dalam pesawat dan melakukan evakuasi penumpang lebih dari 17 menit. Adanya penyempitan kursi pesawat ini juga menjadi kekhawatiran baru dimana untuk evakuasi waktu yang dibutuhkan lebih lama.

Saat ini jarak antar baris kursi yang seharusnya 35 inci menjadi 31 inci, ada juga yang mempersempit hingga 28 inci apalagi bila penumpang tersebut memiliki tubuh yang besar akan semakin sempit pastinya. Paul Hudson merupakan president of Flyers Rights yakni sebuah kelompok advokasi yang menuntut, memaksa FAA untuk mengatur jarak antar kursi dan memperbaharui standar keselamatan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

“Menyusutnya kursi pasti membuat penumpang yang menggunakan moda udara kurang aman. Perhatian terbesar adalah tidak akan bisa keluar tepat waktu saat terjadi insiden dalam pesawat. Saat harus menunduk, pastinya Anda tidak akan bisa melakukannya dengan baik dan membentur kursi serta bisa membuat patah leher,” kata Hudson.

Saat musim panas, pada persidangan banding terkait keselamatan penumpang dalam pesawat, keputusan hakim berpihak pada kelompok Hudson dimana keprihatinan terkait keselamatan penumpang dan memerintahkan FAA untuk mengkaji masalah ini. Dengan putusan tersebut, FAA mengatakan pihaknya tengah mengkajinya, namun pihak maskapai penerbangan menolak untuk berbicara pada media dan mengataakan mereka memenuhi atau melampaui persyaratan keamanan federal.

Baca juga: Lima Poin Ini Jadi Kunci Keselamatan Saat Pesawat Alami Crash Landing

Boeing mengatakan bahwa pihaknya melakukan tes evakuasi untuk memastikan sebuah pesawat terbang dapat dievakuasi dalam waktu 90 detik atau kurang, namun pengujian tersebut dilakukan di hanggar, bukan di lingkungan kecelakaan dunia nyata.

Mudahkan Akses Penumpang, AirAsia India Jalin Kerjasama dengan Zoomcar

Zoomcar website penyewaan mobil yang bisa dipilih untuk digunakan sendiri dalam berwisata kini bermitra dengan maskapai AirAsia India. Hal ini agar para penumpang AirAsia yang turun di India lebih mendapat kemudahan dalam memesan Zoomcar untuk transportasi mandiri penumpang dan antar kota bila dibutuhkan.

Baca juga: Tekan Jumlah Kendaraan Pribadi, India Hadirkan Bus Berbasis Aplikasi

KabarPenumpang.com melansir dari laman thehindubusinessline.com (27/9/2017), seorang pelancong yang juga menggunakan AirAsia bisa langsung memesan Zoomcar dari situs AirAsia sendiri tanpa harus masuk laman pribadi milik Zoomcar. Layanan ini tersedia di semua kota besar di India dan para tamu maskapai AirAsia bisa mendaftarkan diri dengan log in di https://www.zoomcar.com/airasia untuk memanfaatkan Zoomcar.

Perusahaan tersebut mengatakan, bahwa pelayanan Zoomcar mereka di bandara semakin populer apalagi dikalangan profesional yang bekerja. Tak hanya itu, bagi pelancong yang menikmati liburannya ataupun sembari berbisnis pelayanan Zoomcar ini pun cukup banyak diminati.

Sebagai pelancong yang juga penumpang AirAsia, akan mendapatkan diskon maksimal Rs1000 atau 20 persen saat melakukan pemesanan di mobil Zoomcar tersebut. Dalam hal penyewaannya, Zoomcar juga akan membebankan biaya keamanan atau semacam deposit yang dapat dikembalikan sepenuhnya pada saat pengembalian mobil bila kendaraan kembali dengan mulus tanpa ada kerusakan.

Baca juga: Ookla: Bandara di India Tempati Urutan Empat Asia dengan Kecepatan WiFi Terbaik

Greg Moran, CEO & Cofounder, Zoomcar, mengatakan, “Kami sangat antusias dengan kemitraan yang selanjutnya akan memungkinkan para tamu AirAsia untuk mendapatkan aksesibilitas Zoomcar di bandara dengan mudah dan fleksibel.”

Saat ini diketahui, Zoomcar sudah berada di 26 kota di seluruh India termasuk kota metro ataupun non metro. Zoom Hop satu arah perjalanan antarkota dimana pelanggan dapat mengambil sebuah mobil dari satu kota dan menggantinya di kota lain.

Amar Abrol, MD & CEO, AirAsia India, mengatakan, “Kami selalu percaya untuk bekerja ekstra untuk memberikan layanan pelanggan terbaik di kelasnya kepada para tamu kami dan kami yakin melalui kemitraan ini, kami dapat menawarkan mobilitas terbaik untuk selebaran kami.”

AirAsia India saat ini terbang ke 16 destinasi dengan hub di Bengaluru, New Delhi dan Kolkata yang meliputi Kochi, Goa, Jaipur, Chandigarh, Pune, Guwahati, Imphal, Vizag, Hyderabad, Srinagar, Bagdogra, Ranchi dan Bhubaneswar.

Iklan Menjurus Seksis, AirAsia Menuai Kecaman dari Netizen

Nama AirAsia kembali menjadi perbincangan khalayak ramai. Kali ini bukan karena promo penerbangan murah atau kasus return to base yang kemarin mereka alami setelah terkena bird strike, melainkan karena salah satu postingannya di jejaring sosial Facebook yang berbau seksis. Sontak, maskapai LCC (Low Cost Carrier) yang berbasis di Malaysia ini diserang oleh netizen yang menilai postingan dengan tujuan promosi tersebut tidak layak untuk dipublikasikan.

Baca Juga: Tampilkan Iklan Vulgar, Chocotravel Merasa Tak Ada Yang Salah

DIhimpun KabarPenumpang.com dari laman marketing-interactive.com (27/9/2017), postingan dengan judul “OMG! (tap to see)” tersebut berisikan gambar kartun seorang wanita yang menggunakan baju dengan bagian bahu terbuka dan terlihat seperti tengah memegangi dadanya. Namun setelah postingan tersebut dibuka, ternyata wanita di gambar tersebut memegang angka 99 yang merupakan harga terendah yang ditawarkan AirAsia untuk sekali penerbangan.

“Anda tidak melihat banyak hal! 10.000 kursi dari RM99.” Begitulah penjelasan pihak AirAsia melengkapi gambar di postingan tersebut. Menanggapi iklan kontroversial ini, juru bicara AirAsia mengatakan bahwa tim promosi yang mengunggah gambar tersebut sudah bisa memprediksi feedback yang akan diterima. “Kami sudah memastikan bahwa iklan tersebut sudah dihapus, dan kami perlu melakukan peninjauan secara menyeluruh,” ungkap juru bicara tersebut.

Atas ketidaknyamanan tersebut, melalui juru bicaranya, pihak AirAsia meminta maaf. “Kami meminta maaf atas ketidaknyamanan yang disebabkan oleh iklan tersebut,” tuturnya. Diketahui, ini merupakan jenis iklan yang memancing setiap orang untuk meng-klik-nya, namun eksekusi yang kurang tepat membuat iklan ini menebar kontroversi. Dengan demikian, iklan yang terkesan nyeleneh tersebut mencoreng dan dianggap tidak sesuai dengan merk terkenal seperti AirAsia.

Sumber: themalaymailonline.com

Dilansir dari sumber yang sama, AirAsia dinilai sudah efektif dalam mengkampanyekan brand mereka dengan cara menciptakan sebuah iklan yang bisa mencuri perhatian netizen. Namun tidak bisa dipungkiri juga setiap nama besar pasti pernah melakukan kesalahan, yang bisa dijadikan acuan untuk ke depannya. Tidak menutup kemungkinan jika AirAsia membuat iklan yang bisa memperbaiki citranya tersebut, maka netizen akan lupa atas kejadian ini.

Baca Juga: Jadi Ajang Kampanye Produk, Pegangan Tangan di Angkutan Umum Dibuat Unik

Executive Content Director dari Ensemble, Chan Woei Hern mengatakan langkah yang dilakukan oleh AirAsia merupakan suatu hal yang bijaksana. ”Guna mencegah gambar tersebut tersebar luas, pihak AirAsia langsung menghapus gambar setelah menerima komentar negatif,” tutur Chan. “Mereka bisa lebih mempertimbangkan dampak yang akan muncul sebelum memviralkan sesuatu,” imbuhnya.

Asuransi Perjalanan, Antara “Wajib” (Untuk Urus Visa) dan Beragam Manfaatnya

Seorang pelancong yang akan berlibur idealnya memang membutuhkan asuransi perjalanan apalagi bila pergi keluar negeri yang memang mewajibkan adanya pembelian asuransi. Sebenarnya asuransi ini berguna untuk kejadian-kejadian yang tidak diinginkan sebelumnya, sehingga bila nantinya terjadi sesuatu pada Anda, asuransi tersebut bisa di claim oleh pihak keluarga.

Baca juga: 13 Tips Perjalanan Luar Negeri dengan Ransel

Bagi Anda pelancong, ada yang namanya travel insurance atau asuransi perjalanan yang berlaku selama Anda melakukan perjalanan. Terkadang mungkin tak terpikir apa yang akan terjadi pada Anda saat melakukan perjalanan tersebut. Dengan adanya asuransi ini, Anda akan merasa aman dan nyaman selama perjalanan.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa beberapa waktu belakangan ini, sudah banyak wisatawan yang menyadari betapa pentingnya asuransi perjalanan. Ini dikarenakan manfaat yang diperoleh Anda saat terjadi apa-apa.

Selain untuk menjamin Anda dari kejadian besar seperti kecelakaan, asuransi perjalanan juga membantu Anda membayar biaya perawatan rumah sakit saat harus dirawat atau menjalani perawatan akibat penyakit atau hal lainnya saat berlibur. Tak hanya itu, dengan assuransi perjalanan jika bagasi rusak akan ada penggantian.

Pesawat yang penerbangannya dibatalkan, keterlambatan transportasi dan lain sebagainya akan diganti pihak asuransi dengan memberikan akomodasi lain. Hal ini dilakukan agar Anda tidak merasa kecewa, penggantian bisa biaya penginapan yang digratiskan, diskon biaya perjalanan atau lainnya.

Penggantian pun biasanya sesuai dengan perjanjian yang disetujui oleh pihak penyedia asuransi perjalanan dengan Anda sebagai tertanggung. Tak hanya diri Anda yang di tanggung oleh pihak asuransi perjalanan, rumah tempat tinggalpun bisa di masukkan untuk di asuransikan saat Anda melakukan perjalanan.

Baca juga: Enam Kereta dengan Perjalanan Paling Romantis Bersama Pasangan

Bukan hanya untuk menjadi keamanan dan kenyamanan dalam perjalanan, setidaknya saat Anda bepergian rumah juga ikut terjaga bila terjadi sesuatu selama di tinggal berlibur. Bagi Anda yang akan membuat visa Schengen ke Eropa, memiliki asuransi perjalanan sudah menjadi suatu keharusan sebagai salah satu syaratnya.

Dari dalam negeri, ada beberapa asuransi perjalanan yang bisa di pilih seperti AXA Travel Insurance, ACE Travel Insurance dan ACA Travel Insurance. Biasanya untuk pembuatan visa Schengen asuransi perjalanan akan mengenakan biaya sekitar US$21 untuk ACA. Sedangkan bila menggunakan AXA akan dikenakan biaya US$43 untuk per orangnya dengan jangka waktu perjalanan 15 hari. Sebab biasanya setiap orang harus memiliki asuransi masing-masing walaupun bepergian dengan keluarga.