Singapura Bangun Jalur dan Stasiun MRT Baru, Harga Properti Siap Melonjak

Dekatnya jarak sebuah properti atau tempat tinggal dengan pra sarana transportasi kerap melambungkan harga properti tersebut. Tak hanya di Indonesia, di Singapura pun keberadaan stasiun Mass Rapid Transit atau MRT, akan mempengaruhi harga properti, pasalnya sebuah perumahan atau apartmenen yang memiliki lokasi dengan simpul transportasi utama adalah penentu nilai dari properti hunian.

Harganya pun akan berbeda jauh dengan yang lebih dekat ke pusat kota, tempat rekreasi ataupun institusi pendidikan. KabarPenumpang.com melansir dari asiaone.com, nilai relatif suatu lokasi hunian bervariasi dari waktu ke waktu karena adanya pengenalan infrastruktur transportasi baru di lingkungan tersebut untuk meningkatkan akses ke pusat kegiatan.

Baca juga: Singapura Punya Depo MRT Bawah Tanah Pertama di Dunia, Jakarta Punya Depo MRT Pertama di Indonesia

Biasanya, kenaikan harga hunian lebih sering terjadi di Singapura, dimana Land Transport Authority telah membuat rencana untuk menggandakan jaringan keretanya dari 178 km menjadi sekitar 360 km di tahun 2030 mendatang. Nantinya penambahan jalur terjadi di jalur Thomson, jalur Wilayah Timur, perpanjangan ruas West dari Timur ke Barat dan perpanjangan ke jalur Utara menuju Selatan.

Berdasarkan studi properti di National University of Singapura menemukan bahwa pembukaan sebuah jalur rel perkotaan baru akan meningkatkan nilai rumah pribadi yang berjarak 600 meter dari stasiun MRT sebesar 6,3 persen. Sedangkan untuk properti yang memiliki jarak lebih dekat dengan stasiun pertukaran memiliki nilai tambahan empat persen kenaikan harga properti.

Adanya penelitian ini juga menunjukkan bahwa lokasi stasiun baru memiliki dampak yang tidak signifikan terhadap nilai properti yang dekat dengan stasiun tersebut. Hasil ini di dapat karena pembeli tidak terlalu tertarik untuk pindah karena saat masa pembangunan dari MRT yang diusulkan tersebut akan merasakan kebisingan, polusi dan hal lainnya yang tidak menyenangkan.

Tetapi tidak menutup kemungkinan saat pasar properti sedang lemah tiba-tiba bisa menjadi bervariasi setelah stasiun MRT selesai dibangun. Selain itu ada penelitian lainnya yang mengatakan akan ada perkembangan potensial setelah penyelesaiannya.

Baca juga: Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan

Di Downtown Line Stage 3, sebagian besar stasiun akan dikelilingi oleh perkebunan, pengembangan bisnis komersial ataupun industri kecuali stasiun Upper Changi dan Resevoir Bedok. Sebab stasiun Upper Changi akan diusulkan dekat dengan Singapore University of Technology dan juga One World International School serta perumahan pribadi.

Saat ini diketahui, masyarakat bagian ini menuju ke stasiun MRT dengan berjalan kaki minimal 11 menit, tetapi bila stasiun baru sudah selesai bisa menjadi enam menit. Sedangkan di jalur MRT Thomson – East Coat akan dibuka lima tahap mulai tahun 2019 sampai 2024.

Ini untuk mengantisipasi pertambahan nilai properti hunian yang berada dekat pemberhentian MRT baru. Jalur MRT Thomson ini diharapkan bisa memudahkan penduduk yang berada di daerah Yio Chu Kang, Ang Mo Kio dan Bishan yang biasanya lebih banyak menggunakan bus umum atau mobil pribadi sebagai transportasi utama mereka.

Harga rumah di dekat jalur Thomson ini S$2,2 juta dan S$3,5 juta pada tahun 2016 tergantung pada luas rumah, harga ini cukup stabil sejak tahun 2013. Sedangkan di River Valley yang sudah menjadi tempat populer bagi para ekspatriat karena kehidupan malam yang semarak, bistro trendi dan dekat dengan area perbelanjaan terutama Orchard Road, diharapkan akan ada permintaan lebih banyak dengan perkembangan stasiun yang hadir di Great World City.

Jalur dari Tanjong Rhu ke Siglap merupakan jalur yang diminati karena kedekatannya dengan Eas Coast Park dan perjalanan yang lebih singkat ke CBD. Kawasan ini juga menjadi tempat persinggahan untuk pengunjung bandara Changi.

Namun, sebagian besar penduduk di daerah tersebut mengandalkan transportasi pribadi atau bus umum karena tidak adanya stasiun MRT di dekatnya. Dengan garis Thomson-East Coast yang akan datang, aksesibilitas akan meningkat dan kami mengantisipasi bahwa daya tariknya bagi ekspatriat dan masyarakat internasional akan meningkat.

Apartemen freehold yang lebih kecil cenderung melihat lebih banyak penjualan dan akan mendapatkan keuntungan paling banyak dari stasiun MRT yang baru. Dari sisi harga, selisih antara apartemen freehold dan leasehold dengan luas kurang dari 50 meter persegi sekitar lima persen. Selain itu, pembeli lebih cenderung membeli unit seperti itu mengingat kuantum yang lebih rendah.

Angkut Giant Panda, Garuda Indonesia Dandani Airbus A330 dengan Tema dan Livery Khusus

Sepasang Giant Panda dari Chengdu, Cina telah tiba di Jakarta pada hari Kamis lalu (28/9). Dengan menumpangi pesawat Airbus A330-200 Garuda Indonesia GA887, kedua Panda ini diterbangkan selama 6 jam 50 menit dan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pukul 08.50 WIB.

Baca juga: Garuda Indonesia Travel Fair Fase II, Roadshow ke 22 Kota

Bagi Garuda Indonesia, membawa sepasang Panda ini menjadi momen yang spesial, pasalnya penerbangan reguler GA887 adalah mengambil rute Chengdu-Denpasar -Jakarta dan secara khusus di re-route menjadi Chengdu-Jakarta-Denpasar, khusus untuk mengantarkan sang Panda ke Jakarta lebih dulu.

Fasilitas pengangkutan kedua panda raksasa ini dengan jenis Ailuropoda Melanoleuca yang merupakan bentuk dukungan Garuda Indonesia terhadap upaya pelestarian dan konservasi populasi Panda di dunia yang juga menandai adanya peningkatan hubungan bilateral dan telah dijalin antara Republik Indonesia dan Republik Rakyat Cina. Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansyury mengungkapkan sebagai national flag carrier, menjadi kehormatan tersendiri bagi Garuda Indonesia dalam mengambil bagian dalam upaya tindak lanjut dari inisiasi konservasi panda yang di jalin sejak peringatan 60 tahun hubungan diplomatik.

“Persiapan penerbangan Panda ini telah kami lakukan sejak tiga bulan lalu melalui koordinasi intensif dan safety risk assessment yang dilakukan antara seluruh pihak terkait, mulai dari jajaran operasional penerbangan, pihak manufaktur, hingga otoritas terkait lainnya, sehingga saat pengangkutan sepasang Giant Panda dari Chengdu ke Jakarta dapat berlangsung dengan lancar,” lanjut Pahala yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (28/9/2017).

Livery Sticker Panda di body Garuda Idonesia (Istimewa)

Penerbangan re-route ini juga menyiapkan kompartemen khusus dengan memaksimalkan ruang kargo di perut pesawat untuk memuat kandang masing-masing Giant panda berumur tujuh tahun. Sepasang panda tersebut yang jantan bernama Cai Tao dengan bobot 128 kg dan panda betina Hu Chun berbobot 113 kg.

Baca juga: Lakukan Go Around, Pilot Garuda Indonesia GA425 Selamatkan Penerbangan dari Petaka

Karena mengangkut Giant Panda, Garuda Indonesia juga menampilkan tema khusus pada aspek layanan inflight service. Design head rest di kursi pesawat dengan menampilkan gambar kartun panda. Tak hanya itu snack dan dessert juga dibentuk panda.

Livery sticker panda di badan pesawat Garuda Indonesia juga dimuat di bagian jendela pesawat. Garuda Indonesia melayani penerbangan yang menghubungkan Denpasar dengan Chengdu yang dikenal sebagai “home of the giant panda” ini sejak Mei 2017 sebanyak tiga kali seminggu (hari Rabu, Jumat dan Sabtu) menggunakan Airbus A330-200 dengan kapasitas seat 36 kursi di Kelas Bisnis dan 186 kursi di Kelas Ekonomi.

Selain Chengdu, Garuda Indonesia juga melayani penerbangan reguler dari Jakarta dan Denpasar menuju ke Beijing, Shanghai, dan Guangzhou. Pengembangan market Cina juga dilakukan maskapai dengan memaksimalkan penerbangan charter dari kota-kota di Cina yaitu Xi’an, Shenyang, Zhengzhou, dan mulai 28 Juni nanti dari Kunming serta mengoptimalkan kapasitas potensial belly cargo yang mencapai 18.154,5 ton pada tahun 2017.

Cina saat ini merupakan salah satu pasar yang sangat penting bagi Garuda Indonesia dengan potensi turis mencapai 100 juta orang setiap tahunnya. Dengan potensi tersebut, maka Cina menjadi salah satu wilayah yang menjadi fokus pengembangan jaringan Garuda Indonesia yang tentunya memiliki arti dan pencapaian tersendiri bagi peningkatan hubungan bilateral antara Indonesia dan Cina baik itu di lingkup sosial, ekonomi dan budaya.

Potential market yang dimiliki Cina menjadi salah satu fokus kami dalam mengembangkan network penerbangan Garuda. Terlebih pada tahun 2016, Garuda merupakan maskapai dengan market share terbesar untuk penerbangan Indonesia – Cina, yaitu sebesar 25 persen.

Laju Eskalator Stasiun Bawah Tanah Terlalu Kencang, Manula di Perth Kerap Jadi Korban

Kehadiran eskalator di pra-sarana moda transportasi memang menguntungkan banyak orang, tapi belum tentu dengan manula. Tidak sedikit dari mereka yang merasa ketakutan saat naik eskalator dan lebih memilih untuk naik lift. Seperti contoh kasus yang terjadi di Perth, Australia dimana Mark Dyer asal Rockingham merasa khawatir saat ibunya menaiki eskalator. Bukan tanpa alasan, Mark mengingat ada banyak insiden yang terjadi saat menggunakan eskalator, dan ia khawatir Sang Ibu akan menjadi korban selanjutnya.

Baca Juga: Stasiun Ini Dalamnya Melebihi Tinggi Patung Liberty Loh!

Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman thewest.com.au (7/7/2017), sistem transportasi umum yang melayani kota dan daerah pinggiran kota Perth, Transperth melakukan kampanye keselamatan eskalator untuk manula pada akhir bulan Juni kemarin. Kampanye ini terkait 76 insiden yang melibatkan manula dan eskalator yang terjadi pada tahun lalu. Beberapa staf terlatih dikirim ke sejumlah stasiun di Perth untuk memberikan saran terhadap penumpang manula tentang penggunaan eskalator yang aman.

Mark menilai bukan hanya soal penggunaan eskalatornya saja yang perlu disosialisasikan, namun kecepatan eskalator juga perlu dipertimbangkan. “Dengan membawa Ibu saya naik kereta ke Perth baru-baru ini, saya menjadi sangat menyadari betapa menakutkan dan berpotensi bahaya memasang eskalator kecepatan tinggi di stasiun kereta bawah tanah Perth,” ungkap Mark. “Tentu ini sangat beresiko bagi mereka yang sudah berusia lanjut,” imbuhnya.

Melihat data insiden yang terjadi di eskalator pada tahun lalu, Mark beranggapan bahwa tidak heran jika kebanyakan korban dari insiden ini adalah orang-orang berusia lanjut. “Mungkin eskalator berkecepatan tinggi akan sangat berguna untuk mengurai kepadatan penumpang dikala peak-hours, namun para lansia ini kebanyakan menggunakannya di periode off-peak, dimana mereka mendapatkan tarif konsesi,” terang Mark.

Mark berspekulasi bahwa kampanye yang dilakukan oleh Transperth terlalu mendasar dan terkesan menggurui. Ditembak dengan statemen tersebut, juru bicara dari Transperth, David Hynes pun mengamini pendapat yang dilontarkan oleh Mark. “Eskalator memang dapat membantu mobilitas banyak orang, namun bisa juga berbahaya, terutama bagi para lansia,” tuturnya. “Perkara jatuh dan cidera memang dapat menimpa siapa saja, tidak terkecuali para lansia, maka dari itu kami melakukan kampanye keselamatan tersebut,” imbuh David.

Baca Juga: Mau Naik Kereta Bawah Tanah? Ternyata Ada Etikanya

Memang, merupakan kebebasan setiap orang untuk memilih menggunakan eskalator atau lift, namun diharapkan bagi para pendamping lansia agar dapat mendampingi dan merekomendasikan penggunaan kedua alat tersebut. “Kami berharap di setiap pra-sarana transportasi memiliki himbauan agar para lansia lebih baik menggunakan lift daripada eskalator, sehingga keselamatan mereka lebih terjaga.” tutup David.

Boeing 747 Dilelang Online, Inikah Akhir Cerita dari The Queen of The Skies?

Siapa yang tidak mengenal Boeing 747, pesawat yang sempat berada di puncak kejayaannya di era 1960 hingga 1990-an. Bagi para pecinta dunia dirgantara, tentu salah satu impian mereka adalah bisa memiliki pesawat berjuluk The Queen of the Skies ini, karena mereka bisa berbangga diri karena memiliki salah satu ikon dunia penerbangan ini. Dan impian para pecinta pesawat terbang untuk bisa memiliki The Queen of the Skies  hampir terealisasi dengan dibukanya pelelangan untuk tiga unit Boeing 747.

Baca Juga: Sepi Pesanan, Boeing 747 Beralih dari “Queen of the Skies” Jadi “Flying Truck”

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman economist.com (26/9/2017), sebuah pengadilan negeri di Shenzhen, salah satu kota besar di Provinsi Guangdong, Cina melelang tiga Boeing 747 milik maskapai Jade Cargo International  yang bangkrut pada tahun 2012 silam. Uniknya, pelelangan tersebut dilakukan melalui situs jual beli online, Taobao.com, yang hampir serupa dengan eBay, Amazon, dan Rakuten. Pada awalnya, pesawat tersebut dilelang secara offline atau pelelangan pribadi. Tapi setelah gagal selama enam kali, barulah pelelangan ini dilakukan secara online. Adapun harga terendah yang ditawarkan pada pelelangan tersebut adalah 122 juta yuan atau setara dengan Rp248 miliar.

Namun Anda jangan dulu kaget, karena kejadian seperti ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Tahun lalu, sebuah perusahaan berbasis di Florida yang membeli dan menjual suku cadang pesawat, Concorde Aerospace melakukan pelelangan serupa. Mereka melelang Boeing 747 di eBay seharga US$300.000 atau setara dengan Rp4,1 miliar. Harga rendah yang Concorde tawarkan bukan tanpa alasan, mereka melepas mesinnya dan hanya menjual body-nya saja. Meski begitu, pesawat tersebut tidak kunjung terjual. “Karena ongkos pengirimannya melebihi harga pesawatnya sendiri,” tukas Mert Balta, pendiri Concorde Aerospace.

Tentu ini merupakan sebuah kabar buruk bagi Boeing yang mulai kehilangan pasarnya setelah beberapa  pihak melelang salah satu mahakaryanya. Situasi ini semakin diperkeruh dengan pernyataan United Airlines dan Delta yang mengumumkan bahwa tahun ini merupakan periode terakhir mereka menerbangkan seri Boeing 747. Salah satu vokal yang menjadi titik terjun bebasnya Boeing 747 di pasaran adalah inefisiensinya dalam biaya operasi.

Baca Juga: Inilah Fakta di Balik Berhentinya Produksi Boeing 747-8 Intercontinental

Sesuai dengan julukannya “Jumbo Jet”, pesawat ini dinilai terlalu berat ketimbang burung besi lan yang mengaplikasikan twin engine. Selain itu, Boeing 747 juga dinilai boros dalam penggunaan bahan bakar. Sebagai contoh, dalam penerbangan dari New York menuju Los Angeles, Boeing 747 akan menghabiskan 30 persen lebih banyak bahan bakar daripada kompetitornya, Airbus A320 yang diketahui mengunakan twin engine dengan ukuran body yang lebih kecil. Biaya pengoperasian 747 terasa menjadi lebih mahal saat harga minyak dunia melambung di akhir tahun 1990-an.

Selain dua masalah di atas, perubahan pola penerbangan yang terjadi belakangan ini membuat pamor pesawat yang berukuran lebih kecil dari 747 naik drastis, karena pihak maskapai bisa menerbangkan penumpang dengan interval yang lebih pendek daripada harus menunggu bangku The Queen of the Skies terisi penuh. Namun, terlepas dari berbagai alasan pensiunnya Boeing 747, pesawat ini tetap bisa dimanfaatkan oleh tangan-tangan orang kreatif. Diketahui, beberapa pesawat ini bertransformasi menjadi sebuah restoran mie di Korea Selatan hingga sebuah asrama di dekat bandara Stockholm di Swedia.

Beberapa Mitos Seputar Hak Calon Penumpang Pesawat

Sesuai dengan standar pelayanan penerbangan, regulator telah membuat undang-undang untuk melindungi hak-hak dari calon penumpang dan penumpang pesawat. Meski topiknya dominan pada masalah ganti rugi akibat penundaan/pembatalan penerbangan, sampai asuransi, namun tentang hak pengguna jasa kerap menimbulkan mitos di tengah pemahaman masyarakat.

Dan berikut kami sarikan beberapa mitos populer tentang hak pengguna jasa penerbangan, dan fakta yang sebenarya.

Baca juga: 5 Mitos Seputar Online Travel Agents yang Terbantahkan

1. Anda akan diberi kompensasi jika penerbangan di batalkan
Hal ini tidak sepenuhnya benar secara universal, sebab jika penerbangan dibatalkan karena masalah teknis, kru tidak tersedia atau alasan lain dimana pihak maskapai yang salah maka aotomatis akan ada kompensasi. Tetapi jika penundaan dikarenakan cuaca, atau hal-hal yang diluar kendali manusia, maka maskapai tidak akan memberikan kompensasi baik itu untuk pembatalan penerbangan, penginapan, makanan hingga transportasi.

2. Jika melewatkan penerbangan, Anda akan dipindah kepenerbangan lainnya
Sayangnya, hal ini tidaklah selalu benar, dimana jika Anda meminta untuk penerbangan berikutnya saat terlambat, mungkin akan membayar tiket ekstra untuk hal tersebut. Biasanya ini tergantung dari maskapai penerbangannya sendiri. Alasan ini pun tergantung kenapa Anda terlambat ikut penerbangan, jika alasannya terlambat sampai bandara karena ban kendaraan kempes, maksapai akan mencoba mentolerirnya dan membantu untuk mengganti penerbangan, tetapi Anda harus menunggu. American Airlines, Delta Airlines dan United Airlines mungkin akan membantu Anda mendapat penerbangan lainnya. Tetapi jangan berharap untuk penerbangan dengan Southwest Airlines, JetBlue, Spirit Airlines atau Virgin America, karea tidak akan mau membantu.

3. Kejadian alam yang luar biasa
Jika saat akan melakukan penerbangan dan terjadi kejadian alam yang luar biasa di bandara tempat keberangkatan, maka semua akan terdampak. Ini mengartikan bahwa Anda akan ikut dalam penerbangan berikutnya dan penumpang lainnya tidak bermasalah walaupun penerbangan Anda dibatalkan itu pun bila ada kursi yang tersedia. Atau bisa saja Anda menunggu untuk mengambil kesempatan berangkat di penerbangan berikutnya.

4. Penerbangan tertahan karena terlambat check in
Bila Anda terlambat check in karena ada masalah yang serius, maka penumpang menjadi pihak yang butuh belas kasihan. Keterlambatan check in pada faktanya bisa membuat maskapai sedikit merugi.

Baca juga: Lima Mitos Yang Keliru Seputar Dunia Penerbangan

5. Maskapai penerbangan bangkrut
Sebuah maskapai yang bangkrut dan dihentikan izin operasinya secara regulasi memang wajib mengembalikan dana kepada calon penumpang. Namun perlu dicatat, proses pengembalian dana tiket kerap tidak lancar, pasalnya pihak maskapai dalam waktu yang bersamaan juga harus menangani masalah keuangan perusahaan. Yang terbaik adalah berharap maskapai ini menawarkan tarif lebih rendah untuk maskapai lainnya.

 

 

Gunung Agung Siap Erupsi, Apa Kabar Aktivitas Wisatawan di Bali?

Pemberitaan media belakangan ini terkonsentrasi terhadap status Gunung Agung di Karangasem, Bali yang sudah meningkat menjadi awas. Dengan tiga ratus gempa tremor yang terjadi pada Minggu (24/9/2017), rentang tengah malam hingga dini hari, seolah menjadi pertanda bahwa salah satu dari tiga gunung vulkanik di Pulau Dewata ini siap meletus kapan saja. Ditambah kepulan asap putih membumbung setinggi 200 meter di atas kawah, menandakan gunung tersebut siap memuntahkan laharnya.

Baca Juga: Aktivitas Magma Gunung Agung Meningkat, Angkasa Pura I Siap Antisipasi Dampak Erupsi

Untuk menindaklanjuti kemungkinan Gunung Agung yang bisa meletus kapan saja, evakuasi warga yang tinggal di sekitaran gunung tersebut pun mulai dilakukan secara mandiri. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, hingga saat ini sudah lebih dari 350.000 warga yang diungsikan ke penampungan sementara. Kemungkinan angka tersebut akan berlipat ganda jika letusan terjadi. Adapun posko pengungsian terletak di radius 9 km dan 1 2km dari kawah Gunung Agung.

Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengumumkan beberapa daerah yang berpotensi hancur akibat letusan gunung berapi tertinggi di Bali ini. Daerah yang berpotensi tinggi mengalami kehancuran akibat aliran lava mencakup 7 km sebelah barat laut jarak maksimum dari kawah, 13 km sebelah timur laut jarak maksimum dari kawah, dan 11 km sebelah tenggara jarak maksimum dari kawah.

Diketahui, Gunung Agung terakhir meletus pada tahun 1963 dan beristirahat hingga kini. Pada letusan yang terjadi sejak 2 Februari 1963 hingga 27 Januari 1964, menewaskan 1.549 orang, menghancurkan 1.700 rumah, dan sekitar 225.000 orang kehilangan mata pencaharian mereka. Tidak hanya berdampak pada warga Bali, letusan gunung tersebut pun tercatat menurunkan suhu bumi sebesar 0,4 derajat celcius. Hal itu disebabkan oleh material vulkanik dari gunung yang terbang hingga jarak 14.400 km dan “bersemayam” di atmosfer bumi.

Mengingat Pulau Dewata merupakan destinasi wisata favorit para wisman, mulai banyak travel advise yang diterbitkan oleh beberapa negara, karena pemberitaan tentang gunung ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Sebut saja Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia menyarankan agar menunda semua kegiatan di luar ruangan yang dilakukan oleh warganya di Bali. Wisatawan didesak oleh Departemen untuk selalu waspada saat berkunjung ke Bali, terutama ketika kondisi yang kurang kondusif seperti sekarang.

Berbeda dengan Kementerian Luar Negeri Inggris yang mendesak semua warga negaranya  yang berada di Bali untuk tetap mematuhi peraturan yang diberlakukan oleh pihak berwenang dan tetap berada di luar zona eksklusi.

Baca Juga: Operasional Bandara Ngurah Rai di Bawah Bayang-Bayang Erupsi Gunung Agung

Sementara itu, pihak Bandara Internasional Ngurah Rai mengaku masih menjalankan roda penerbangan secara normal. “Penerbangan dari dan ke Bandara Ngurah Rai hingga saat ini masih terpantau normal, dengan melayani 50.000 hingga 60.000 pelancong  keluar masuk setiap harinya,” tutur General Manager Bandara Internasional Ngurah Rai, Yanus Suprayogi.

Adapun AirNav Indonesia menyiapkan skenario pengalihan penerbangan menuju Bali jikalau Gunung Agung erupsi. Setidaknya, ada 10 bandara yang siap menampung penerbangan menuju bandara Ngurah Rai, yaitu Jakarta, Solo, Surabaya, Banyuwangi, Lombok, Ambon, Manado, Makassar, Balikpapan, dan Kupang.

“Kita akan buat skenario yang detail jika ada erupsi. Kalau terjadi siang bagaimana, sore bagaimana, kalau malam bagaimana. Karena ini berbeda situasi traffic-nya kalau pagi-siang sibuk, mungkin malam agak sepi. Tapi paling penting kita mengatasi pesawat yang di udara ini tidak terkena abu,” papar Direktur AirNav Indonesia, Novie Riyanto.

Amadeus Tawarkan Teknologi Check In Barang Bawaan Berbasis Cloud

Sebentar lagi penumpang tidak akan direpotkan lagi oleh barang bawaan saat akan ke bandara maupun ke pelabuhan. Hal ini dikarenakan adanya inovasi sistem check in pertama di dunia yang berbasis cloud hasil rancangan Amadeus IT Group SA.

Baca juga: Penanganan Bagasi di Bandara Kini Libatkan Teknologi RFID

KabarPenumpang.com melansir dari bloomberg.com (19/9/2017), teknologi ini yang akan memudahkan check in untuk kelompok wisatawan yang menginap di hotel, sekolah, pusat konferensi dan stadion olahraga. Penyedia pemesanan penerbangan terbesar di dunia, mengatakannya pada Selasa lalu dimana tas yang dibawa ke bandara dengan truk akan melewati pemeriksaan seperti biasa.

Virgin Australia Holdings Ltd juga akan merintis layanan ini setelah sukses melakukan uji coba di terminal penerbangan utama Sydney. Hal ini dikatakaan oleh spesialis logistik lokal OACIS yang bekerjasama dengan Amadeus, dimana memungkinkan penumpang untuk menikmati waktu sebelum penerbangan mereka dan tidak dibebani dengan barang bawaan.

Di bandara penumpang tak lagi direpotkan dengan barang bawaan saat chek in atau menunggu keberangkatan pesawat. Sistem ini memanfaatkan teknologi berbasis cloud untuk mengakses penumpang pesawat dalam proses sistemnya dari jarak jauh. Inovasi teknologi tersebut kemungkinan akan diluncurkan Virgin di seluruh bandara di Australia dan Selandia Baru pada 12 sampai 18 bulan kedepan.

Baca juga: Global Locator, Alat Pelacak Posisi Bagasi Dalam Penerbangan

Salah satu kandidat yang sudah jelas akan memperluas layanan ini adalah Miami, dimana menjadi pelabuhan tersibuk dunia untuk keberangkatan kapal pesiar. Penggunaan inovasi teknologi pada pelabuhan Miami dikatakan oleh Chief Executive OACIS Matt Lee. “Mereka tertarik ingin melihat bagaimana kita pergi dari sini di Miami menuju ke Australia. Tantangan bagi kami hanyalah kecepatan di mana kita menggunakan teknologi ini untuk memudahkan penumpang melakukan pemindahan barang dengan cepat,” kata Lee.

Kemudahan sistem ini sendiri, bisa digunakan hampir di mana saja, mengingat kesederhanaan dan kurangnya fasilitas permanen. “Contohnya seperti kita berada di satu tempat dari pukul enam pagi sampai sebelas pagi serta kemudian menutup toko dan pergi begitu saja. Disini, kami punya fleksibilitas itu,” tambah Lee.

Tak hanya itu di Inggris terkait masalah penerbangan, yang diluncurkan pada bulan Juli lalu, juga akan mengeksplorasi cakupan untuk mengurangi titik-titik kepadatan penumpang di bandara melalui perluasan kiriman barang bawaan dan check in. Ini mencontoh Hong Kong Airport Express, yang memungkinkan wisatawan mengantarkan barang bawaan ke stasiun dua hari sebelum terbang dan mengumpulkannya pada perjalanan.

Bird Strike Paksa AirAsia QZ104 ‘Return to Base’ di Bandara Kualanamu

Lagi, kasus bird strike atau serangan burung kembali hangat diperbincangkan setelah sebuah pesawat AirAsia terpaksa kembali ke bandara awal (return to base) pada Selasa (26/9/2017) siang lalu. Pesawat dengan nomor penerbangan QZ104 tujuan Penang, Malaysia tersebut melakukan pendaratan darurat di Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara sesaat setelah pesawat tersebut take-off.

Baca Juga: Bird Strike! Masih Jadi Momok Menakutkan dalam Dunia Penerbangan

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman freemalaysiatoday.com (26/9/2017), mesin pesawat Airbus A320 milik maskapai AirAsia kemasukan beberapa burung yang mengakibatkan gagal mesin. Pesawat yang lepas landas pada pukul 13.25 WIB tersebut diketahui tengah mengangkut sekitar 150 penumpang yang mayoritas berkebangsaan Indonesia.

Sekitar lima menit pesawat mengudara, sang pilot lalu mengumumkan kepada penumpang bahwa pesawat akan kembali ke Kualanamu menggunakan second engine karena terkena bird strike. Untungnya, pesawat tersebut bisa mendarat dengan selamat dan insiden ini tidak memakan korban. Sesampainya kembali di bandara, para penumpang terdampar setelah mereka diminta oleh pihak maskapai untuk mengklaim barang bawaan.

“Seluruh penumpang dan awak pesawat selamat. Mereka dievakuasi ke ruang tunggu gate 4, sementara pesawat menjalani pemeriksaan,” terang Junior Manager Branch Communication Bandara Kualanamu, Abdi Negoro. “Bird strike terjadi pada engine nomor dua. Kerusakan pada fan blade nomor 16 dan 17,” imbuhnya dilansir dari sumber berbeda.

Akibat kejadian ini, pesawat batal mengudara dan penumpang diberi dua opsi, pengembalian uang tiket atau berangkat dengan pesawat yang sama pada keesokan harinya. Setelah melewati serangkaian perbaikan dan dianggap sudah layak terbang, pesawat dengan registrasi PK-AXU kembali mengudara keesokan harinya.

“Pesawat dengan registrasi PK-AXU, berangkat dari Kualanamu menuju Penang (Malaysia) pada pukul 05.43 WIB,” kata Abdi.

Baca Juga: The Robird Drone, Robot Penangkal Bird Strike di Bandara Edmonton

Kejadian serupa juga pernah menimpa maskapai AirAsia X pada 4 Juli 2017, dimana penerbangan tersebut terpaksa melakukan pendaratan darurat di Brisbane karena diduga terkena bird strike. Penerbangan D7207 menuju Kuala Lumpur diketahui baru saja lepas landas dari Gold Coast, Australia pada pukul 22.20 waktu setempat.

Air Asia X di Brisbane. Sumber: stuff.co.nz

Tak lama berselang, penumpang mendengar sebuah letusan dan melihat api menyala dari bagian mesin. “Pesawat mulai bergoyang, lalu ada beberapa dentuman keras dan banyak percikan api,” ungkap salah seorang penumapng dilansir dari sumber berbeda. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, dan penumpang terpaksa melanjutkan perjalanan setelah pesawat selesai diperbaiki.

Dibentuk Sejak 1993, KNKT Sinergikan Para Investigator Kecelakaan di Tiga Moda

Nama entitas yang satu ini terbilang sering disebut, terutama setiap terjadi kecelakaan yang menyangkut moda transportasi, Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT menjadi yang paling dicari oleh awak media untuk bisa memberikan keterangan tentang sebab musabab terjadinya kecelakaan. Namun tahukah Anda tentang sejarah komite yang langsung berada di bawah Presiden ini?

KNKT dibentuk sejak tahun 1993 dengan penggagas Alm Prof Oetarjo Diran atau yang biasa di panggil Prof Diran bersama beberapa orang lainnya salah satunya adalah Prof Mardjono. KNKT terbentuk karena adanya desakan dari ICAO (International Civil Aviation Organization). Awal terbentuknya untuk meneliti masalah dalam penerbangan Indonesia yang terkait dengan kecelakaan.

Baca juga: KNKT: Isi Black Box Bisa Diterjemahkan ke Format Excel

Akhirnya pada tahun 1999 KNKT berdiri secara sah dengan Keputusan Presiden Nomor 105 Tahun 1999 sebagai lembaga independen tetap bertanggung jawab kepada publik melalui Menteri Perhubungan. Prof Diran setelah disahkannya KNKT menjadi kepala KNKT pertama dan saat itu menangani kecelakaan pesawat Garuda Indonesia di Medan dan Silk Air di Palembang.

Kepala KNKT saat ini Soerjanto Tjahjono mengatakan setelah pembentukan KNKT, kemudian di bentuklah investigator darat dan laut, karena inestigator udara sudah sangat banyak. Ini untuk menginvestigasi kecelakaan yang terjadi di laut dan angkutan darat. “Saat KNKT terbentuk yang awalnya untuk menginvestigasi kecelakaan pesawat, setelah pengesahan Keppres waktu itu Presidennya Habibie, jadinya ada investigator untuk darat dan laut. Pertama yang ditangani adalah kecelakaan kereta api di Cirebon,” ujar Soerjanto yang diwawancarai KabarPenumpang.com (26/5/2017) di kantor KNTK.

Baca juga: KNKT: Ada 7 Tipe Black Box dengan Parameter Berbeda

Soerjanto menambahkan, untuk saat ini KNKT sudah memiliki investigator darat dari perusahaan-perusahaan baik BUMN maupun swasta dan dari Kementererian Perhubungan. Tak hanya itu, untuk investigator laut, KNKT juga dibantu oleh para anak buah kapal (ABK) serta nahkoda-nahkoda kapal yang mengajukan diri sebagai investigator laut.

Dia mengaku, saat ini KNKT sendiri berada langsung di bawah dan bertanggung jawab kepada presiden. Namun, untuk anggaran dan lainnya masih menjadi satu dengan Kementerian Perhubungan.

Sebagai komite nasional yang menangani keselamatan, KNKT juga berhak memberikan penilaian kepada perusahaan baik maskapai penerbangan, angkutan darat hingga angkutan laut. Menurut Soerjanto, penilaian didapat setelah adanya hasil investigasi baik saat pengujian kelaikan jalan ataupun saat terjadinya kecelakaan.

Dari awal berdirinya hingga saat ini, KNKT sudah bekerjasama dengan KNKT Australia atau Australia Transport Safety Buerau (ATSB). Bisa dikatakan, berdirinya KNKT Indonesia menjadi pelopor berdirinya KNKT di negara Asean seperti Singapura dan lainnya. “Kalau dengan Australia sudah dari awal KNKT berdiri sampai saat ini. Ya bisa dibilang kalau ke KNKT Australia seperti rumah kami sendiri dan mereka juga begitu. Di Singapura atau yang lain juga begitu,” tutur Soerjanto.

Soerjanto Tjahjono – “Ilmu Yang Diterapkan Langsung, Jadi Kunci Kesuksesan Kinerja di KNKT”

Seiring banyaknya kasus kecelakaan yang terjadi di Indonesia, maka semakin melambung juga nama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Tidak jarang, lembaga yang berdiri tahun 1999 berdasarkan Keppres No 105/1999 ini terjun langsung ke lapangan untuk melakukan investigasi terhadap suatu kecelakaan. Tidak hanya darat, KNKT pun kerap terlibat dalam proses pengumpulan data pasca kecelakaan udara dan laut. Tapi, siapa sih orang nomor satu di balik lembaga yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden ini?

Baca Juga: KNKT: Isi Black Box Bisa Diterjemahkan ke Format Excel

Adalah Soerjanto Tjahjono, pria berdarah Jawa kelahiran Jakarta, 23 Mei 1960 ini merupakan alumnus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Mesin dan Aeronautika. Kecintaannya terhadap dunia penelitian, khususnya yang menyangkut soal transportasi, akhirnya mendorong Soerjanto dan beberapa rekan lainnya untuk mendirikan sebuah lembaga yang kini dikenal sebagai KNKT.

Menelusuri ke perjalanan karirnya, setelah mendapatkan gelar sarjana dari ITB pada tahun 1986, Ia memilih untuk bergabung dengan Garuda Indonesia setahun berselang untuk mengaplikasikan ilmu yang didapatnya selama bangku perkuliahan.

Tidak hanya sebatas omong kosong belaka, Soerjanto membuktikan bahwa untuk menyalurkan kegemarannya dalam menginvestigasi suatu kasus diperlukan pengalaman nyata di lapangan. “Untuk jadi investigator tidak gampang, harus punya pengalaman di lapangan langsung, jadi bisa menentukan apakah sistem ini sudah berjalan dengan benar apa belum,” ungkap Soerjanto ketika ditemui KabarPenumpang.com (26/9/2017). “Kalau cuma modal ilmu, dijamin dia pasti pusing ketika menginvestigasi suatu kasus,” imbuhnya. Walaupun latar belakang pendidikannya di dunia aviasi, ini bukan menjadi penghalang bagi seorang Soerjanto untuk mendalami ilmu di moda darat dan laut.

Mantan General Manager Teknik dan Pemeliharaan Keselamatan Penerbangan di PT Garuda Indonesia periode 2001-2005 ini mengatakan sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk menjadi orang nomor satu di KNKT. Kini, ia harus mengemban beban untuk menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia agar lebih berhati-hati dalam berkendara. “Miris ketika kami sudah memberi himbauan kepada masyarakat, namun tidak diindahkan, sehingga kecelakaan yang sama terus berulang,” tutur investigator multimoda ini.

Hilir mudik Soerjanto di dunia transportasi sudah tidak bisa diragukan lagi, terbukti dari banyaknya pengalaman dan pembelajaran berharga yang ia raih selama menjadi investigator multimoda. Namun, tidak semua kasus yang ia tangani menemukan titik terang. “Tantangan terbesar terletak di urusan non-teknis, dimana kita harus berhadapan dengan sebuah regulasi,” tukasnya. “Untuk masalah pencapaian yang paling membanggakan, setiap kasus yang berhasil kami pecahkan menjadi suatu pencapaian yang sangat berharga,” kata Soerjanto.

Baca Juga: Cegah Kecelakaan Bus, KNKT Himbau Pemda Berikan Fasilitas Istirahat Pengemudi

Untuk beberapa kasus lokal yang pernah ia tangani, investigator internal Garuda ini tidak menyangkali hal-hal aneh menjurus mistis yang membumbui investigasi tersebut. “Seperti dua kecelakaan yang terjadi di Gunung Salak, Bogor, pesawat TNI AU dan pesawat Sukhoi. Jarak jatuh keduanya hanya terpaut 25 meter saja. Dan boleh percaya boleh tidak, di atas lokasi kecelakaan tersebut merupakan makam Mbah Salak,” pungkas Soerjanto setengah sangsi.

Tidak bisa dipungkiri Soerjanto kini sudah tak muda lagi, waktunya ia untuk menentukan apa yang akan ia lakukan di masa tuanya kelak. “Selain ingin melanjutkan penelitian, mengembangkan over craft dan turbin angin yang saya buat, saya ingin membagikan ilmu dan pengalaman yang saya punya kepada siapapun.” Tutup Soerjanto bijaksana.