Lima Poin Ini Jadi Kunci Keselamatan Saat Pesawat Alami Crash Landing

Asiana Airlines yang tebakar dan 95 persen penumpang selamat (VOA Indonesia)

Mengalami crash landing atau pendaratan darurat dengan impact pasti menjadi momok menakutkan bagi setiap penumpang pesawat. Meski kerap menimbulkan korban jiwa, namun pada prinsipnya tetap ada prosedur yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan diri dan menghindari cedera serius. Sebagai bukti, dari sebagian besar dari kasus crash landing diakhiri dengan jumlah penumpang selamat lebih besar.

Kasus crash landing yang terjadi pada Boeing 777 Asiana Airlines 214 di Bandara Internasional San Fransisco pada 6 Juli 2013 bisa menjadi pembelajaran yang menarik. Hal yang paling mengejutkan adalah 95 persen penumpang pesawat tersebut selamat menurut National Transportation Safety Board (NTSB), lembaga keselamatan transportasi di Amerika Serikat, bila di Indonesia sama dengan KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi).

Sekilas tentang kasus Asiana Airlines 214, awalnya proses pendaratan berjalan wajar, tapi kemudian perut pesawat menabrak dinding pembatas laut, menghantam aspal dan terseret di landasan pacu Runway 28L. Badan pesawat dan sayapnya kemudian terlihat menyembul di antara kepulan debu dan asap, terangkat ke atas, lalu terempas kembali.

Pesawat lantas terbakar selagi penumpang berhamburan menyelamatkan diri. Tiga penumpang tewas, termasuk gadis 16 tahun asal Cina yang meregang nyawa karena ditabrak mobil gawat darurat yang buru-buru datang ke lokasi kejadian. Sementara 187 lainnya cidera.

Baca juga: Lima Penyebab Umum Terjadinya Kecelakaan Pesawat

“Salah satu alasan mengapa penumpang tidak memperhatikan briefing penerbangan diyakini menjadi faktor jatuhnya korban jiwa dalam crash landing” demikian menurut laporan NTSB tahun 2001. KabarPenumpang.com merangkum dari livescience.com, ada beberapa hal yang membuat Anda bisa selamat dan bertahan dalam crash landing. Berikut beberapa hal diantaranya.

1. Pakaian untuk bertahan hidup
Sebelum berangkat ke bandara pakailah pakaian yang tepat. Sehingga jika terjadi keadaan darurat Anda pastinya ingin sekali menggunakan busana dan sepatu yang praktis.

“Bayangkan harus melarikan diri dari pesawat yang terbakar. Jika Anda harus melakukan itu, seberapa baik kinerja sandal jepit Anda? Seberapa baik sepatu hak tinggi Anda akan tampil?,” ujar human factors specialist at the Federal Aviation Administration (FAA), Cynthia Corbett. Baiknya gunakan celana panjang dan baju lengan panjang, karena bisa melinddungi kulit dari api atau benda tajam. Menurut NTSB, 68 persen penumpang tewas dalam kecelakaan pesawat disebabkan luka yang diderita setelah kecelakaan.

2. Pilihan tempat duduk yang bijak
Dari hasil sebuah analisis ternyata penumpang yang duduk dari sayap hingga kebelakang lebih mungkin bertahan hidup daripada yang berada di bagian depan. Dalam melihat kecelakaan pesawat fatal sejak 1971, di mana grafik tempat duduk tersedia, analisis tersebut mengungkapkan bahwa orang-orang yang duduk di belakang sayap memiliki kesempatan 40 persen lebih besar untuk bertahan hidup.

Namun, setiap kecelakaan pesawat pastinya akan selalu berbeda, dan penumpang yang duduk di bagian depan bisa saja bernasib lebih baik.Terlepas dari bagian mana dari pesawat tempat Anda duduk, akan lebih baik bila posisi kursi Anda tak jauh dari pintu atau jendela darurat.

Baca juga: Sejumlah Fakta dari Proses Emergency di Pesawat Terbang

Profesor Ed Galea, pakar masalah keamanan dan kebakaran dari University of Greenwich di Inggris, menemukan bahwa sebagian besar korban kecelakaan berada pada lima baris pertama atau lebih sedikit dari pintu keluar pesawat yang terbakar. Galea mengatakan, duduk dekat lorong adalah paling aman dibandingkan kursi tengah ataupun jendela.

3. Lepas landas dan mendarat
Pakar keselamatan telah menemukan bahwa saat-saat yang paling sulit dilalui dari sebuah pesawat terbang adalah tiga menit setelah lepas landas dan delapan menit sebelum mendarat. Selama masa-masa ini, masuk akal untuk tetap memakai sepatu Anda, jaga agar meja didepan Anda tetap terjaga dan ingat posisi pintu darurat yang terdekat.

Para ahli juga merekomendasikan untuk menempatkan barang bawaan di bawah kursi di depan Anda. “Itu memberi sebuah ‘blok’ di sana, jadi kaki tidak bisa naik di bawah kursi di depan,” kata Corbett. Dalam setiap kecelakaan patah tulang kaki biasa terjadi. Jika suatu dampak sudah dekat, penting untuk tetap tenang dan menganggap posisi bertahan. Bila Anda memiliki tempat duduk di depan Anda, lewati tangan Anda di kursi belakang dan letakkan dahi Anda di atas tangan Anda.

Jika Anda tidak memiliki kursi belakang menghadap Anda, tekuk ke depan dan peluk lutut Anda dengan kepala Anda ke bawah. Penumpang juga harus menyingkirkan benda tajam, seperti pena dan kunci, dari saku mereka – itu semua berpotensi bisa menusuk kulit akibat benturan.

4. Aturan 90 detik
Dalam 90 detik pertama setelah kecelakaan adalah yang paling penting. Jika Anda bisa tetap tenang dan keluar dari pesawat dengan cepat, peluang hidup dan bertahan Anda jauh lebih besar. Menurut NTSB, banyak penumpang yang panik dan tak bisa melepaskan sabuk pengaman. Banyak korban kecelakaan yang tewas ditemukan di tempat duduk mereka dan masih terikat sabuk pengaman.

“Itulah mengapa penting untuk mengetahui apa yang harus dilakukan, bahkan tanpa perintah. Beberapa orang duduk dan menunggu perintah, dan jika mereka tidak mendengarnya, mereka langsung melewati bencana,” kata Corbett.

Salah satu alasan mengapa banyak penumpang yang selamat dari kecelakaan Asiana adalah kemampuan mereka untuk keluar dari pesawat dengan cepat. “Jika orang telah turun dari pesawat ini, itu akan membuat mereka berisiko tinggi,” kata John Hansman, direktur Pusat Transportasi Udara Internasional. Mencoba mengumpulkan barang bawaan dan barang pribadi adalah satu hal yang terfatal dalam kondisi darurat.

5. Secepat eskalator
Menurut NTSB, hanya satu dari 1,2 juta penerbangan yang berakhir dalam sebuah kecelakaan, menurut statistik NTSB. Perbaikan yang luas dalam pelatihan keselamatan, bahan pesawat terbang yang tidak mudah terbakar dan peralatan pemadam kebakaran membuat penerbangan jauh lebih aman daripada berkendara. Kemungkinan kematian dalam kecelakaan pesawat sekitar satu dari 11 juta, menurut Discovery, sementara kemungkinan kematian dalam kecelakaan mobil sekitar satu dari 5.000 orang.

Baca juga: Ini Alasan Lampu Kabin Pesawat Dimatikan Saat Lepas Landas dan Mendarat

“Mengendarai pesawat komersial memiliki risiko yang sama dengan naik eskalator,” kata Hansman. Terbang di langit yang bersahabat, jadi cara paling aman untuk melakukan perjalanan. Tapi tidak berarti kita harus menganggapnya enteng, kita harus selalu bersiap, dan jangan biarkan isu dan mitos-mitos menakut-nakuti Anda.