Putra Mahkota Arab Saudi Sambangi Markas Sir Richard Brenson di California, Ada Apa?

Nampaknya konsep Hyperloop semakin matang dan mendekati realisasi di sistem transportasi global. Melalui salah satu perusahaan yang mengembangkan sarana transportasi ini, Virgin Hyperloop One, moda futuristik ini baru saja memamerkan livery terbarunya berkat kerja sama yang mereka jalin dengan Otoritas Arab Saudi. Tak ayal, hadirnya pod bertuliskan Vision 2030 ini menjadi sorotan publik dunia yang menantikan lahirnya sang sarana transportasi baru.

Baca Juga: Semakin Dekat Realisasi, Virgin Hyperloop One Mulai Pamerkan Pod Futuristiknya

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (5/4/2018), sejumlah pejabat Pemerintah Arab Saudi termasuk Yang Mulia Mohammad bin Salman bin Adbulaziz terpantau mengunjungi tempat uji coba Virgin Galactic yang berada di Gurun Mojave, California beberapa waktu yang lalu. Adapun tujuan kunjungan dari Putra Mahkota Arab Saudi beserta jajarannya ini adalah untuk memenuhi undangan dari CEO Virgin Group, Richard Brenson yang hendak memamerkan prototipe dari moda berbasis levitasi magnetik ini, termasuk melakukan sejumlah pembahasan terkait kelangsungan dari proyek ini.

Sumber: newatlas.com

“Kami berharap untuk memajukan hubungan antara KSA (Kingdom of Saudi Arabia) dan Virgin Hyperloop One. Sementara itu, kami akan memajukan program transportasi inovatif seperti hyperloop,” ungkap Yang Mulia Mohammad bin Salman bin Adbulaziz. “Kami juga akan mengakselerasi visi 2030, yang bertujuan untuk mengubah Kingdom of Saudi Arabia menjadi konsumen dan inovator teknologi,” imbuhnya.

Yang Mulia Mohammad bin Salman bin Adbulaziz pun meyakini bahwa Hyperloop merupakan sebuah katalis yang memungkinkan semua teknologi generasi keempat berkembang pesat di Arab Saudi. “Hal tersebut pun dapat mempengaruhi perkembangan ekonomi di kota-kota visioner dan kelompok teknologi kelas atas. Masyarakat yang dinamis pun akan tercipta seiring perubahan tersebut,” ungkap sang Putra Mahkota.

Baca Juga: Kendati Futuristik, Tapi Pandangan Ahli Tentang Hyperloop Ternyata Berbeda!

Sebagaimana yang diketahui bersama, Virgin Hyperloop One sebelumnya telah menandai jaringan moda futuristik ini yang mencakup sebagaian wilayah Teluk. Hadirnya jaringan ini rencananya akan menghubungkan kota-kota besar yang ada di dalamnya, seperti Kuwait City, Jeddah di Arab Saudi, dan Muscat di Oman.

Berdasarkan salah satu sumber dari pihak Virgin Hyperloop One, jaringan transportasi ini akan memotong waktu tempuh dari Riyadh menuju Jeddah, yang semula membutuhkan waktu hingga lebih dari 10 jam, menjadi kira-kira 76 menit saja. Fantastis, bukan?

Seorang Pria Oleskan Tinja di Dua Toilet, United Airlines Terpaksa Mendarat Darurat

Kejadian pesawat mendarat darurat dalam sebuah penerbangan, mungkin bukanlah hal baru. Bisa dikatakan pendaratan darurat ini sering terjadi baik itu karena masalah teknis hingga permasalahan yang dilakukan penumpang saat berada di dalam pesawat dan membuat keributan serta mengganggu penumpang lainnya.

Baca juga: Akibat Amukan Istri, Qatar Airways Tujuan Bali Terpaksa Mendarat Darurat di India

Belum lama ini pesawat United Airlines yang berangkat dari Chicago tujuan Hong Kong harus dialihkan ke Ted Stevens Anchorage International Airport. Hal ini dikarenakan seorang penumpang mengotori dua toilet dengan kotoran (tinja) serta hendak membersihkan dengan kemejanya.

KabarPenumpang.com melansir dari laman stuff.co.nz, penumpang tersebut mengolesi kotoran itu pada Kamis, (4/1//2018) malam dalam penerbangan 895. Kemudian pesawat Boeing 777 tersebut di alihkan ke Alaska dan hal tersebut tidak ada indikasi yang terkait dengan terorisme.

Juru bicara FBI Staci Feger-Pellessier mengatakan, dalam insiden yang dilakukan penumpang pria tersebut tidak menciderai siapapun. Bahkan pria yang tak disebutkan namanya itu sama sekali tidak mencoba mengganggu awak pesawat.

Setelah agen FBI dan polisi bandara Anchorage bertemu dengan penumpang itu, kemudian membawanya ke rumah sakit Providence untuk dilakukan pemeriksaan metal. Pria ini membawa paspor Vietnam dan memiliki kartu penduduk tetap Amerika Serikat.

Karena bahasanya yang tak jelas, pihak berwenang membutuhkan penerjemah untuk mewawancarai pria tersebut. Sayangnya, meski sudah ada penerjemah, sebagian besar yang dikatakan pria tersebut sama sekali tidak dimengerti bahkan bisa dikatakan tidak masuk akal.

Demi keselamatan orang lain dan pihak berwenang sendiri, pria tersebut di borgol. Namun untuk masalah ini belum ada biaya atau denda yang akan dikenakan kepada penumpang.

Baca juga: Akibat “Teror” Kotoran Manusia, Penerbangan United Airlines Terpaksa Dialihkan

“Kami menyediakan akomodasi hotel untuk pelanggan kami dan bekerja untuk membawa mereka ke tujuan mereka secepat mungkin,” ujar juru biara United Airlines Charlie Hobart.

Namun diketahui, 245 penumpang lainnya diberangkatakan pada esok harinya atau pada Jumat (5/1/2018). Ternyata, insiden ini bukalah yang pertama kalinya terkait feses, melainkan sebuah penerbangan Delta Airlines terpaksa mendarat darurat di Montana pada Desember 2017 lalu karena toilet pesawat tak bisa berfungsi.

Punya Julukan “Terbersih,” Stasiun Kutoarjo Disinggahi Berbagai Jenis Kereta Api

Mendapat julukan stasiun terbersih oleh para pecinta kereta api, stasiun Kutoarjo bisa dikatakan patut mendapatkannya. Sebab, dari foto dan curhatan beberapa blogger terlihat stasiun Kutoarjo bersih dan memperlihatkan layak menjadi sebuah stasiun kereta api kelas besar.

Baca juga: Bolak Balik di Tutup, Stasiun Purworejo Kini Jadi Cagar Budaya

Stasiun Kutoarjo merupakan stasiun besar tipe B dan terletak di Semawung Daleman, Kutoarjo, Purworejo. Berada di ketinggian +16 meter, stasiun ini masuk dalam Daerah Operasional V Purwokerto dan menjadi stasiun awal-akhir pemberangkatan kereta Prambanan Ekspres (Prameks) tujuan Solo.

Tak hanya itu, stasiun ini juga menjadi ujung pemberangkatan KA Sawunggalih dan Kutojaya Utara tujuan Jakarta serta KA Kutojaya Selatan tujuan Bandung. Menjadi stasiun besar, stasiun ini menjadi perhentian hampir semua KA yang melintas melalui jalur selatan pulau Jawa.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa stasiun ini memiliki enam jalur, tetapi hanya menggunakan jalur 1-5 dengan jalur 4 dan 5 digunakan untuk pemberangkatan KA Sawunggalih, Kutojaya Utara, Kutojaya Selatan dan Prameks. Sedangkan jalur 6 di gunakan untuk parkir kereta luar dinas dan langsir.

Bagian dalamstasiun Kutoarjo yang bersih

Ada keunikan di jalur 4 sampai 6 stasiun Kutoarjo, dimana menggunakan slab track tanpa batu kricak atau ballast. Jalur 1 ke arah timur stasiun ini sebenarnya terdapat percabangan menuju Purworejo sepanjang sembilan kilometer sebagai cabang dari jalur utama yang menghubungkan Bandung dan Surabaya. Sayangnya jalur tersebut kini berstatus nonaktif.

Meski menjadi stasiun kelas besar tipe B, ada beberapa kereta yang tak berhenti atau melintas langsung di stasiun ini yakni KA Argo Lawu Fakultatif, Argo Dwipangga Fakultatif, Bima dan Senja Utama YK. Stasiun Kutoarjo sendiri menjadi titik ujung barat jalur rel ganda lintas Solo-Yogyakarta-Kutoarjo sebagai bagian dari jalur ganda lintas selatan pulau Jawa.

Karena menjadi pemberangkatan awal beberapa kereta, di dalam stasiun Kutoarjo juga terdapat sub dipo lokomotif. Dalam sub dipo ini ada dua lokomotif diesel hidrolik yaitu BB300 06 dan BB300 16. Kedua lokomotif ini diketahui hanya digunakan sebagai langsiran ataupun feeder. Meski hanya menjadi sub dipo, tetapi fasilitas terbilang lengkap dan lokomotif juga lebih terawat.

Baca juga: Butuh? Ternyata Ini Nama Stasiun Lho!

Selain sub dipo lokomotif, adapula dipo kereta yang dikhususkan untuk menyimpan keeta-kereta penumpang yang berangkat dasi stasiun Kutoarjo. Kini menelisik jejak sejarahnya, stasiun Kutoarjo dibangun bersamaan dengan pembangunan jalur kereta Yogyakarta-Cilacap tahun 1887 silam.

Dulu bentuk stasiun tak seperti sekarang, setelah fasad stasiun di rombak, yang tersisa hanya bagian atap peron saja. Bisa dikatakan sebelum dirombak, stasiun Kutoarjo memiliki bentuk yang mirip dengan stasiun Purworejo.

Banjir Rob Sampai Alunan Gambang, Hiasi Stasiun Semarang Tawang

Stasiun Semarang Tawang menjadi salah satu stasiun tertua yang masih beroperasi hingga kini di Jawa Tengah. Stasiun ini dibangun pada 29 April 1911 dan selesai serta diresmikan pada 1914 silam. Hadirnya stasiun Tawang sendiri untuk menggantikan stasiun Samarang NIS yang selalu terendam air jika Laut Jawa mengalami pasang. Nama Tawang diambil dari kampung dekat stasiun yakni Tawangsari.

Baca juga: “Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar Budaya

Menjadi stasiun kelas besar tipe A di Tanjung Mas, Semarang Utara, Semarang, stasiun tersebut berada di ketinggian +2 meter dan masuk dalam Daerah Operasional IV Semarang. Letaknya tak jauh dari pusat kota yakni hanya sekitar lima kilometer dan tak jauh dari objek wisata Kota Lama serta Pasar Johar.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa sebagai stasiun besar, Semarang Tawang melayani KA bisnis, eksekutif dan ekonomi. Sejak dibangun hingga kini hampir semua bagian yang ada di stasiun masih tetap sama.

Masa lalu stasiun Semarang Tawang dengan lapangan besar yang kini menjadi polder

Stasiun Semarang Tawang memiliki lapangan dan saat ini menjadi Polder yang berupa kolam raksasa serta dilengkapi pompa di depan stasiun. Ini digunakan saat stasiun terendam air rob atau air pasang dari Laut Jawa.

Dulunya sebelum menjadi polder lapangan tersebut digunakan sebagai ruang terbuka di kawasan kota lama yang berfungsi sebagai tempat olah raga, upacara, pertandingan dan lainnya. Bangunan stasiun yang kini ditetapkan menjadi cagar budaya sejak 2009 oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) ini dibangun oleh perusahaan KA swasta Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) dan dirancang oleh seorang arsitek Belanda Mr Sloth Blauwboer.

Pada masa kemerdekaan, stasiun Tawang pernah menyelenggarakan perjalanan kereta api luar biasa (KLB) sebanyak dua kali. Pertama saat para pemuda dan pekerja kereta api di Semarang Tawang melakukan perjalanan ke Bandung untuk pertama kalinya.

Perjalanan tersebut terjadi pada 10 September 1945 untuk membuktikan kepada para pemimpin Indonesia di kantor pusat Bandung, bahwa perkeretaapian di seluruh Jawa Tengah sudah dikuasai Indonesia. KLB kedua pada akhir Oktober 1945, dimana saat kedatangan Presiden Soekarno bersama Sektretaris negara Gafar Pringgodigdo di stasiun Tawang untuk perundingan gencatan pertempuran lima hari Semarang.

Baca juga: Menapaki Sentuhan Belanda di 10 Stasiun Tua di Indonesia

Pada peristiwa itu, dengan sigap para pekerja di stasiun Tawang membantu mengungsikan 15 lokomotif kiriman dari stasiun Poncol untuk diteruskan ke Kedungjati. Selain sejarah stasiun Semarang Tawang, ada hal yang unik di sini, yakni jika pada umumnya stasiun menggunakan nada Westminster Chime sebagai penanda datangnya kereta, tetapi tidak pada stasiun Tawang.

Sebab, stasiun ini menggunakan melodi bel pertanda datang-perginya KA dengan lagu tradisional khas daerah Semarang yang berjudul Gambang Semarang. Lagu ini dulunya dimainkan dengan menggunakan piano.

Ternyata, Suara Bising dan Getaran dari Kereta Berdampak Pada Kesehatan!

Tidak bisa dipungkiri, kereta api merupakan salah satu moda transportasi darat yang paling banyak menghasilkan getaran dan suara yang bising. Sebuah klakson kereta api saja bisa terdengar hingga radius beberapa ratus meter dari sumber suara. Belum lagi getaran yang ditimbulkan ketika si ular besi ini tengah melaju kencang-kencangnya. Dengan getaran dan suara yang dihasilkan oleh kereta api tersebut, apakah memiliki dampak pada kesehatan seseorang.

Baca Juga: Sering Sakit Saat Turun Pesawat? Mungkin Ini Penyebabnya!

KabarPenumpang.com mengutip dari sejumlah jurnal, kebisingan yang terjadi akibat adanya perambatan vibrasi golombang suara yang berasal dari bagian bawah atau mesin hingga bagian-bagian lain yang ada di dalam gerbong. Paling umum, vibrasi gelombang suara tersebut dihasilkan oleh gesekan antara roda dan rel kereta api, vibrasi dari engine (untuk gerbong yang menggunakan motor bogie), vibrasi bogie kereta api, aerodynamic bogie, aerodynamic gerbong kereta api, hingga alat pengkondisi udara.

Tergantung dari durasi dan volume yang dihasilkan oleh gesekan komponen tadi, ternyata kebisingan tersebut dapat mempengaruhi kesehatan fungsi tubuh si penumpang, lho! Sebut saja tekanan darah penumpang akan naik karena meningkatnya sensitivitas tubuh pada sistem kardiovaskuler (sistem peredaran darah dalam tubuh) dalam bentuk peningkatan tekanan darah dan peningkatan denyut jantung.

Karena kebisingan yang terjadi sangat erat kaitannya dengan indera pendengaran, maka tidak heran jika seseorang yang ‘dipaksa’ mendengar kebisingan dari pengoperasian kereta api akan merasakan fungsi pendengarannya berkurang atau bahkan terganggu sementara. Pada awalnya, si penderita biasanya tidak akan sadar bahwa sistem pendengarannya sudah berkurang, namun lama kelamaan, bukan tidak mungkin terjadi keluhan kurang pendengaran yang sangat mengganggu dan dirasakan sangat merugikan oleh si penderita. Biasanya, yang jadi imbas dari kebisingan kereta seperti penjabaran di atas adalah warga-warga yang tinggal di tepian rel.

Sementara itu, untuk masalah getaran yang ditimbulkan oleh kereta api, biasanya akan berdampak pada masyarakat yang tinggal di tepian rel. Tidak jarang warga yang bermukim di pinggiran rel merasakan gangguan pada organ tertentu, seperti dada, kepala, rahang, hingga persendian. Beberapa penelitian menemukan bahwa efek jangka panjang dari getaran yang ditimbulkan oleh kereta api adalah si penderita terserang osteoartritis tulang belakang, atau adanya penyempitan pada sela antar ruas tulang belakang.

Baca Juga: Duduk Lama Dengan Kaki Bersilang, Waspada Bisa Mengundang Masalah Pada Kesehatan

Jika dikaitkan, maka tidak heran jika pemerintah memberlakukan pelarangan pembangunan pemukiman di sekitaran rel kereta. Selain untuk meminimalisir jatuhnya korban semisal kereta mengalami kecelakaan, tapi pemerintah juga memikirkan tingkat kesehatan para warganya yang tinggal di sekitaran rel.

Kereta Api Langsam, Punya Sebutan ‘Distributor’ Pupuk Hingga Go Green

Berbicara kereta ke Rangkasbitung dari Angke bukanlah hal baru, meski awalnya kereta tersebut melayani relasi Pasarsenen/Jakarta Kota-Rangkasbitung PP dan kemudian diperpendek menjadi Tanahabang-Rangkasbitung PP. Hingga akhirnya relasi kereta tersebut diperpendek menjadi Rangkasbitung-Angke PP.

Baca juga: “Si Gombar” yang Tak Lagi Menghembuskan Uapnya

Penasaran kereta apa? Ya, kereta ini bernama Langsam yang merupakan singkatan dari Langsung Sampai dan jika diartikan dari bahasa Belanda Langzaam menjadi pelan atau lambat. Pada masa beroperasinya kereta ini, banyak atapers yang naik dengan tidak membeli karcis dan duduk di atas kereta.

Tarif tiket kereta ini juga murah sekitar Rp2 ribu sekali jalan dan naik pada 1 April 2015 menjadi Rp5 ribu. Kereta ini saat masih beroperasi selalu ramai dan penuh. Sayang pada 1 April 2017 lalu, KA Langsam, Rangkas Jaya dan Kalimaya tak lagi beroperasi karena ada layanan baru KA Commuter line yang melayani Rangkasbitung-Tanahabang PP.

KabarPenumpang.com mendapatkan sesuatu yang unik, kereta ini disebut dengan KA Go Green pertama di Indonesia. Tapi penasaran tidak sih kenapa di sebut Go Green? Salah satunya karena kereta Langsam ini menggunakan sedikit air dibanding kereta lainnya. Sedikit air karena tidak ada toilet di dalam beberapa gerbong keretanya seperti K3 ex KRD MCW 301 dan 302. Sedangkan K3 biasa sudah menggunakan toilet. Jelas sekali kan irit airnya.

Padahal ada AC di dalam kereta Langsam. Selain irit air, kereta ini juga masih menggunakan kursi plastik. Jumlah kursi yang ada di kereta ini sekitar 190 dengan 106 menggunakan kursi kulit dan 80 lainnya kursi plastik.

Selain irit air, ternyata kereta ini hemat energi, karena sering sekali lampu yang menerangi gerbong KA Langsam mati dan sering menggunakan lilin pada perjalanan malam di gerbong penumpangnya. Ini yang membuat KA Langsam hemat energi dan ikut andil dalam mengurangi pemanasan global. KA langsam juga sering disebut sebagai ‘distributor’ pupuk berjalan.

Hal ini dikarenakan, lubang toilet di kereta Langsam masih bolong tak seperti sekarang. Ini membuat pengguna kereta yang ingin menggunakan toilet baik untuk buang air kecil atau air besar harus saat kereta bergerak. Sisa-sisa kotoran hasil buang hajat penumpang yang tersebar di rel inilah yang menjadikan KA Langsam disebut sebagai distributor pupuk.

Selain menjadi ‘distributor’ pupuk berjalan, KA LAngsam juga menjadi kebon berjalan. Pasti yang ada dipikiran kereta ini punya lahan tanaman. Padahal kereta ini mengangkut sayur mayur, jadi pas kan dengan konsep Go Green yang di sematkan pada KA Langsam.

Baca juga: Wow! Kereta di Indonesia Ini Tempuh Jarak Lebih Dari 900 KM!

KA Langsam berhenti di semua stasiun sepanjang perjalanan, kecuali Tanahabang, Jurangmangu, Rawabuntu, dan Cicayur. Berikut stasiun pemberhentian KA Langsam saat masih beroperasi.

Stasiun Rangkasbitung-Stasiun Citeras-Stasiun Maja-Stasiun Cikoya-Stasiun Tigaraksa-Stasiun Tenjo-Stasiun Daru-Stasiun Cilejit-Stasiun Parungpanjang-Stasiun Cisauk-Stasiun Serpong-Stasiun Sudimara-Stasiun Pondok Ranji-Stasiun Kebayoran-Stasiun Palmerah-Stasiun Duri-Stasiun Angke.























Kereta Lokal Merak-Rangkasbitung, Gantikan Layanan KA Jakarta-Merak

Ada perubahan yang cukup signifikan dalam perjalanan kereta rute Jakarta-Merak, bila dahulu perjalanan bisa dilakukan dengan layanan kereta langsung dari Stasiun Tanah Abang dan Stasiun Angke di Jakarta, maka kini untuk menuju Merak di Banten, calon penumpang tak bisa lagi menikmati KA Kalimaya (Tanah Abang-Merak), Patas Merak/Banten Ekspres (Angke-Merak), KA Lokal Rangkas (Rangkasbitung-Angke) dan KA Rangkas Jaya (Rangkasbitung-Tanah Abang).

Baca juga: Stasiun Merak, Pilihan Integrasi Lintas Moda Penumpang Kapal Ferry

Meski tak lagi beroperasi, pecinta kereta dan penumpang tujuan Merak, masih bisa menggunakan kereta lokal Rangkasbitung-Merak atau sebaliknya. Tanggung? Ya memang, tetapi hal tersebut dikarenakan kini PT KCI sudah membuka jalur kereta Commuterline (KRL) nya hingga ke Rangkasbitung.

Sehingga penumpang dari Jakarta bisa menaiki KRL dari Tanahabang menuju Rangkasbitung dan melanjutkan KA Lokal menuju Merak. Tenang bagi penumpang yang kerja atau punya urusan pagi-pagi di Jakarta, kereta dari Rangkasbitung paling pagi untuk KRL.

Sebenarnya, kereta lokal dari Rangkasbitung menuju Merak juga keberangkatan pertama dan paling pagi yakni 03.50, sehingga penumpang yang memiliki urusan di Merak pagi hari bisa lebih tenang. Sedangkan keberangkatan kereta pertama dari Merak menuju Rangkasbitung yakni pukul 05.00 pagi. Perjalanan dari Rangkasbitung-Merak atau sebaliknya kurang lebih memakan waktu sekitar dua jam.

Setiap perjalanan kereta lokal baik dari Rangkasbitung menuju Merak atau sebaliknya ada enam kereta. Saat ini kereta tersebut hanya kereta lokal yang tak diberi nama dan hanya disebutkan dengan nomor. Dari Rangkasbitung ada KA 462 yang berangkat pukul 03.50, KA 464 berangkat 07.45, KA 466 pukul 09.50, KA 468 berangkat 12.45, KA 470 pukul 15.35 dan KA 472 pukul 20.00.

Baca juga: Jalur Kereta Rangkasbitung-Saketi-Labuan Kembali Direaktivasi

Sedangkan dari Merak menuju Rangkasbitung kereta pertama pukul 05.00 yakni KA 461, 06.30 KA 463, 10.20 KA 465, 11.45 KA 467, 15.35 KA 469 dan 17.20 KA 471. Dengan adanya KA pengganti ini bisa memudahkan penumpang mendapatkan transportasi menuju Merak atau Rangkasbitung dan melanjutkan dengan KRL meski hilangnya kereta langsung Jakarta menuju merak.

Meski ini adalah kereta lokal tetapi KA ekonomi tersebut sudah dilengkapi dengan fasilitas AC. Tarifnya pun cukup murah yakni Rp3 ribu sekali jalan baik dari Rangkasbitung maupun Merak. Jadi meski harus berganti kereta untuk menuju Merak, tapi dengan pola baru ini, maka durasi perjalanan boleh jadi akan lebih cepat dengan lebih banyaknya frekuensi pemberangkatan.

Matinya KA Krakatau, Tak Ada Lagi Jarak Terjauh Perjalanan Kereta di Pulau Jawa

Tak terasa sudah hampir satu tahun kereta api Krakatau yang menghubungkan Merak-Blitar PP tak lagi beroperasi. Terbilang muda karena KA Krakatau Eskpres diresmikan pada 24 Juli 2013 di stasiun Merak saat musim mudik Lebaran dan harus berhenti beroperasi pada 17 Juli 2017 atau empat tahun setelah menemani penumpang.

Baca juga: Wow! Kereta di Indonesia Ini Tempuh Jarak Lebih Dari 900 KM!

Awalnya kereta yang dibuat oleh PT INKA tahun 2012 ini melayani relasi Merak-Madiun. Kemudian pada 1 April 2017 KA Krakatau relasinya diperpanjang yang semula hanya sampai Kediri menjadi ke Blitar. Dengan adanya perubahan ini juga, jadwal menaik turunkan penumpang juga berubah.

Saat masih beroperasi KA Krakatau memiliki jarak paling panjang yakni lebih dari 900 km dengan waktu tempuh hampir sekitar 16 jam dari Merak-Kediri. Nama Krakatau sendiri diambil dari gunung atau pulau yang terletak di selat Sunda yakni Gunung Anak Krakatau dan Pulau Anak Krakatau.

Kereta ini menjadi yang pertama menggunakan nama gunung dan kemudian di susul KA Pangrango yang melayani relasi Bogor-Sukabumi. Sayang, rute ini harus berhenti beroperasi dari Merak-Kediri atau sebaliknya.

Kemudian berganti nama menjadi Singasari yang melayani relasi menjadi Blitar-Pasarsenen PP. Sebelum menjadi KA Singasari, masih sempat digunakan nama Krakatau, namun ada sejumlah kelompok yang menolak perpendekan rute Krakatau dan KA tersebut tak pantas menggunakan Krakatau sehingga berubah menjadi nama yang sekarang.

Sebenarnya, adanya rute KA Blitar-Merak sendiri memudahkan pelancong yang ingin menyeberang ke pulau Sumatera melalui pelabuhan Merak ke Bakauheni lebih mudah. Salah satu masalah penyebab berhentinya rute ini adalah okupansi. VP Humas PT KAI Agus Komaruddin mengatakan, okupansi menjadi salah satu faktor utama perpendekan rute tersebut.

“Banyak penumpang yang naik dari Merak hanya turun di Tanah Abang di banding rute aslinya. Paling jauh hanya ke Pasar Senen,” ujar Agus yang dihubungi KabarPenumpang.com, Kamis (5//4/2018).

Agus menambahkan, bila hanya turun di Tanah Abang atau Pasar Senen, penumpang bisa menggunakan KA Lokal dan KRL. Sebab saat ini KRL sudah menjalar hingga Rangkasbitung dan dilanjutkan KA Lokal dari Rangkasbitung-Merak.

Baca juga: KA Ekonomi Matarmaja, Kondang Berkat Jadi Latar Film “5 Cm”

“Kita perpendek rutenya dari Pasar Senen ke Blitar saja. Nama juga kita ganti karena sudah tidak sampai ke Merak jadi dari Krakatau menjadi Singasari,” jelas Agus.

Dengan adanya pemendekan rute dan penggantian nama ini, tidak ada perubahan jadwal perjalanan maupun nomor pemberangkatan kereta Singasari. Kereta Singasari sendiri diresmikan pada 17 Juli 2017 saat perhentian KA Krakatau. Nama Singasari sendiri diambil dari Kerajaan Singasari yang didirikan Ken Arok pada abad ke 13.

Sedia Payung Sebelum Hujan, Sedia “OneUp” Sebelum Tenggelam!

Sebagai salah satu instrumen keselamatan wajib di pesawat terbang dan kapal laut, pelampung menjelma menjadi barang yang wajib ada di setiap pengoperasiannya. Lalu, apa jadinya jika instrumen keselamatan ini terkontaminasi oleh perkembangan jaman dan kemajuan teknologi? Akankah semakin memudahkan para penggunanya atau malah sebaliknya?

Baca Juga: Tampomas II, Ingatkan Tragedi di Perairan Masalembo

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (5/4/2018), adalah OneUp, sebuah pelampung yang menawarkan berbagai kelebihan kepada para penggunanya. Jika selama ini pelampung yang kita lihat di setiap penerbangan berupa rompi yang dilengkapi dengan peluit, maka inovasi yang dihadirkan oleh OneUp ini jauh lebih sederhana dan mudah digunakan.

OneUp sendiri memiliki bentuk layaknya sebuah neck pillow yang dikemas dalam bentuk seperti kaleng minuman bersoda. Kelebihan dari salah satu instrumen keselamatan ini adalah fleksibilitasnya ketika tidak di gunakan. Seperti yang sudah disinggung di atas, ketika tidak digunakan, OneUp hanyalah memiliki berbentuk seperti kaleng minuman bersoda. Dengan panjang 172mm, dan berat 363 gram, maka dapat dipastikan OneUp mudah dibawa kemana-mana.

Sumber: newatlas.com

Selain fleksibilitasnya ketika tidak digunakan, adapun kelebihan lain dari subjek kampanye sebuah situs web crowdfunding internasional yang bermasrkas di California, Indiegogo, adalah kemampuannya untuk mengembang secara otomatis ketika menghentak permukaan air. Ya, ini merupakan nilai jual tinggi dari OneUp. Ketika OneUp yang masih berbentuk seperti kaleng minuman bersoda tersebut dilemparkan ke permukaan air, maka pelampung inovatif ini hanya membutuhkan waktu dua detik untuk mengembang secara otomatis.

Baca Juga: Tuas Rem Darurat, Instrumen Keselamatan di Kereta Yang Bisa Datangkan Masalah Baru. Kok Bisa?

Setelah mengembang, pelampung ini bisa menahan seseorang dengan berat hingga 150kg. “Ide ini muncul karena sebuah penelitian menyebutkan bahwa ada hampir 50 orang meninggal setiap jamnya karena tenggelam,” tulis OneUp di laman resminya.

Jika sudah digunakan, pelampung inovatif ini bisa dilipat dan dimasukkan kembali ke dalam tabung untuk pemakaian selanjutnya, keren bukan? Jika Anda tertarik untuk memiliki pelampung inovatif ini, Anda cukup merogoh kocek sebesar US$49 atau yang setara dengan Rp674 ribu saja, harga yang pantas untuk sebuah instrumen keselamatan yang inovatif, bukan?

Sering Naik Kereta Api? Ini Dia Posisi yang Paling Aman Bagi Penumpang

Jika Anda tengah membeli tiket kereta api di sebuah laman online ticketing, coba perhatikan pembagian subclass yang ada. Pada artikel sebelumnya, telah dijabarkan mengenai definisi dan macam-macam subclass yang ada pada si ular besi ini. Nah, kali ini, saatnya Anda untuk mengetahui posisi bangku mana yang kira-kira menyajikan tingkat keamanan paling tinggi selama Anda berkendara menggunakan kereta api.

Baca Juga: Satu Layanan Bisa Beda Tarif, Kenali Sub Class di Kereta Api

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, ada beberapa titik yang dianggap paling aman atau dapat meredam tingkat fatalitas ketika kereta mengalami kecelakaan. Secara ilmiah, kecelakaan kereta dapat terjadi dari dua titik saja, yaitu dari depan atau dari belakang. Maka dari itu, gerbong tengah muncul sebagai titik paling aman jika sebuah kereta mengalami kecelakaan.

Usahakan untuk mendapatkan posisi ini jika Anda ingin mendapatkan tingkat keamanan lebih ketika berkendara menggunakan kereta api. Jika gerbong tengah sudah terisi penuh oleh penumpang, maka satu gerbong di belakang gerbong tengah menajdi opsi lain yang bisa Anda pilih.

Seorang peneliti sekaligus asisten profesor teknik industri dan sistem di University of Southern California, Greg Placencia mengatakan bahwa ada alasan sederhana mengapa gerbong tengah dianggap sebagai gerbong paling aman dari satu rangkaian kereta api.

“Sangat sederhana. Banyak kecelakaan (kereta api) datang dari depan, sehingga gerbong pertama dan kedua merupakan gerbong yang terdampak paling parah. Sementara itu beberapa kecelakaan datang dari belakang, tapi hal ini tidak terlalu umum, atau bisa dibilang jarang terjadi,” papar Greg. “Sedangkan untuk gerbong yang ada di tengah rangkaian merupakan gerbong yang paing minim terdampak kerusakan jika terjadi kecelakaan,” imbuhnya.

Lalu bagaimana jika gerbong tengah dan gerbong-gerbong di sekelilingnya sudah penuh? Greg memaparkan bahwa ada satu tips yang ia lakukan ketika tengah berkendara menggunakan si ular besi ini.

“Secara pribadi, saya lebih senang duduk membelakangi laju kereta, karena di kebanyakan kasus, Anda akan terdorong ke depan (jika duduk searah laju kereta) semisal kereta melakukan pengereman darurat,” terangnya. “Hal tersebut tidak lepas dari teori fisika dasar,” ujar Greg.

Baca Juga: Hendak Bepergian Naik Bus? Cek Dulu Bangku Yang Dinilai Paling Aman dan Nyaman!

Merujuk dari sumber lain, ada pula bangku yang menawarkan tingkat keamanan lebih ketika berada di dalam gerbong tengah. Usahakan untuk mendapatkan bangku di bagian tengah dari sebuah gerbong, karena masih berkaitan dengan penjelasan Greg sebelumnya, kemungkinan kecelakaan kereta hanya bersumber dari dua titik, yaitu bagian depan dan belakang.

Penjelasan Greg inilah yang akhirnya mendukung statemen bahwa bagian tengah dari sebuah gerbong menjadi titik paling aman jika sewaktu-waktu kereta mengalami kecelakaan.