10 Fakta Seputar Kereta Cepat di Cina

Dengan jumlah penduduk 1,3 miliar jiwa, Cina jelas membutuhkan infrastruktur transportasi yang besar, salah satunya memang Cina dikenal sebagai negara yang memiliki ‘populasi’ layanan kereta cepat terbesar di dunia, setelah menggeser kedudukan Jepang. Bahkan industri kereta cepat Cina terus melakukan ekspansi, seperti yang tengah berjalan di Indonesia dan negara Skandinavia.

Baca juga: Tembus Pegunungan Qinling, Cina Luncurkan Kereta Cepat Lintasi Wilayah Utara dan Selatan

Pesatnya kemajuan industri kereta cepat di Cina menjadi menarik diperhatikan, terlebih seperti apakah karaktrer dan layanannnya. KabarPenumpang.com merangkum dari laman en.people.cn, ternyata ada sepuluh fakta menarik tentang sistem kereta cepat tinggi milik Negeri Bambu ini. Berikut kesepuluh fakta tentang sistem kereta cepat yang dimiliki Cina.

1. Cina ternyata memiliki jarak tempuh terpanjang untuk jalur High Speed Rail (HSR) di dunia yang kemudian diikuti Jepang dan Spanyol. Tahun 2014 lalu, jarak tempuh kereta cepat Cina telah mencapai 16 ribu km.

2. Penumpang kereta Cina ternyata adalah yang tertinggi jumlahnya. Tahun 2014 rata-rata pertahunnya pengguna kereta cepat di Cina mencapai 940 juta dan hariannya sekitar 2,9 juta penumpang. Dari Januari hingga Agustus 2015, tercatat volume pengguna kereta cepat Cina berjumlah 747 juta dengan penumpang harian meningkat menjadi 3,1 juta.

3. Kereta HSR milik cina ini bergerak dari Shaoguan di provinsi Guangdong ke arah barat Leiyang provinsi Hunan dan memiliki jarak sepanjang 248 km dan berjalan dengan kecepatan 316,6 km per jam dan hanya ditempuh dengan waktu 47 menit.

4. Di Cina jalur kereta cepat terpanjang dari Harbin menuju Wuhan sepanjang 2.446 km atau 23 km lebih panjang dai jalur Lanzhou ke Xinjiang. Selain itu jalur ini juga 25 km lebih panjang dari Harbin menuju Shanghai. Dengan kereta cepat dari Harbin menuju ke Wuhan waktu tempuhnya selama 14 jam 38 menit.

5. Kereta cepat Cina juga memiliki jalur terendah di Lanzhou-Xinjiang, dimana melewati cekungan Turpan di Xinjiang dan sebagian berada di bawah 500 meter. Danau Ayding dekat kaki bukit selatan cekungan berada 155 meter di bawah permukaan laut. Ini adalah titik terendah Cina.

6. Ada yang terendah adapula yang tertinggi. Jalur tertinggi berada di jalur yang sama yakni Lanzhou-Xinjiang dengan terowongan tertinggi yang melalui Pengunungan Qilian. Terowongan ini merupakan terpanjang kedua yang menghubungkan Qinghai dan Gansu. Berada di ketinggian 4.345 meter.

7. Cina juga merupakan lintasa kereta cepat dengan suhu terdingin, pasalnya dari Harbin menuju Dalian sepanjang 921 km, dari catatan meteorologi dalam 30 tahun terakhir ada perbedaan suhu di tiga provinsi di wilayah timur laut Cina. Perbedaan suhu tersebut mencapai 80 derajat Celcius dan menjadikan tiga provinsi tersebut menjadi wilayah terdingin yang memiliki jalur kereta cepat.

8. Mungkin harga tiketnya berbeda dengan negara lain dan bisa dikatakan memiliki harga kereta cepat paling murah. Untuk kelas ekonomi dari Changle ke Weifang hanya dikenakan 4,5 Yuan atau sekitar Rp9.800. Kereta ini hanya menempuh jarak 24 km dalam waktu tempuh 12 menit.

Baca juga: Tiga Tahun Lagi Cina Luncurkan Kereta Maglev Berkecepatan 600 Km Per Jam

9. Pada 1 Juli 2014 lalu, setelah kereta berkecepatan tinggi Beijing-Shanghai dioperasikan selama tiga tahun. Ternyata kereta ini memberikan hasil yang menguntungkan. Ini menjadi HSR pertama Cina yang mengasilkan pendapatan. Pada 30 Juni 2015, HSR Beijing-Shanghai mengangkut 330 juta penumpang.

10. Dengan kecepatan 300 kmnper jam, Jalur Hefei-Fuzhou yang melalui Anhui, Jiangzi, Fujian dan delapan tempat lainnya yang dilewati HSR memiliki pemandangan indah serta cukup terkenal di dunia.

Airbus A380 Milik Emirates Mendarat di Beirut, Ada Apa?

Di tengah konflik yang terjadi di Lebanon, ada pemandangan menarik dari Rafik Hariri International Airport, Beirut, dimana sebuah jet penumpang terbesar saat ini, Airbus A380 mendarat di sana. Pesawat berselimutkan livery khas Emirates ini ternyata membawa misi khusus di balik pendaratannya di Ibukota Lebanon ini. Dengan mendaratnya Airbus A380 milik Emirates, maka Rafik Hariri International Airport menjadi satu-satunya bandara di Lebanon yang mampu menampung jet penumpang terbesar di dunia aviasi ini.

Baca Juga: Sambut Pesanan Airbus A380 Ke-100, Emirates Pasang Livery Presiden Pertama Uni Emirat Arab

Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman washingtonpost.com (29/3/2018), penerbangan dari Dubai ini merupakan pengakuan atas lalu lintas penumpang yang substansial antara Lebanon dan negara-negara Teluk. Emirates sendiri menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan penjadwalan penerbangan guna melihat apakah Rafik Hariri International Airport di Beirut siap untuk menangani layanan reguler dari Airbus A380 milik mereka.

Pejabat di Lebanon sendiri mengharapkan hasil yang positif dari pembukaan rute baru ini, dimana mereka berharap datangnya wisatawan mancanegara dapat mendongkrak sektor pariwisata mereka. Para pejabat tersebut pun mengaku bahwa tingkat lonjakan wisatawan terakhir kali terjadi pada tahun 2010 silam. Beberapa waktu berselang, pecahlah pemberontakan negara tetangga, Suriah yang akhirnya turut berimbas pada sektor pariwisata Lebanon. Para wisatawan mengaku khawatir akan tindakan kekerasan karena pemberontakan tersebut.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2010 silam, Kementerian Pariwisata Lebanon mencatat ada sekitar 2,16 juta wisatawan yang melancong ke negara tersebut. Sedangkan di tahun 2017, angka tersebut mengalami penyusutan hingga ke level 1,85 juta wisatawan. Perlu diketahui, saat ini ada sembilan penerbangan setiap harinya dari Dubai menuju Beirut, yang disediakan oleh tiga maskapai yang berbeda.

Baca Juga: Pamer Kekuatan di Dubai Airshow 2017, Airbus Dongkrak Saham Yang Anjlok di Bulan Lalu

Menurut World Travel and Tourism Council, sektor pariwisata merupakan salah satu pilar utama perekonomian Lebanon, dimana mereka telah menyumbang 19 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di negara tersebut. Namun, salah satu poin yang menjadi pusat perhatian otoritas setempat adalah kondisi bandara yang masih kurang memadai.

Bandara yang direnovasi terakhir kali pada periode tahun 90-an ini didesain untuk menampung 6 juta penumpang setiap tahunnya, dan mengalami peningkatan menjadi 8 juta penumpang pada tahun 2017 kemarin. Diketahui, Flag Carrier Lebanon, Middle East Airlines tengah mempertimbangkan dua rencana untuk memperluas dan meningkatkan fasilitas bandara, dimana besaran dana yang dikeluarkan berkisar antara $88 hingga $200 juta, dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas bandara hingga 10 juta penumpang pada tahun 2020 mendatang.

Bagi Penderita Autis, Ternyata Naik Kereta Merupakan ‘Cobaan’ Berat

Selain menawarkan kecepatan, ternyata satu poin penting yang jadi incaran para penumpang kereta adalah keberangkatannya yang terjadwal, baik itu layanan jarak jauh atau hanya sekedar kereta komuter. Maka tidak heran jika moda ini selalu ramai dipenuhi oleh penumpang. Namun, pernyataan tersebut seolah tidak berlaku bagi penderita autis. Alih-alih merasakan kelebihan yang ditawarkan oleh penyedia jasa layanan kereta api, mereka malah merasakan cemas berlebih saat menumpangi kerera.

Baca Juga: Apa Kabar Fasilitas “Khusus” Bagi Penumpang?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman scotsman.com (4/4/2018), sebuah survei menunjukkan bahwa sembilan dari 10 penderita autis mengalami perubahan tak terduga dalam diri mereka ketika menggunakan sarana transportasi umum, dimana perubahan tersebut berdampak pada meningkatnya tingkat kecemasan dalam diri mereka. Gangguan selama perjalanan memang dapat membuat frustasi sebagian orang, namun penderita autis akan merasakannya seperti tanda-tanda akhir jaman.

Fiona McGrevey dari The National Autistic Society Scotland mengemukakan bahwa sekitar 52 persen penderita autis mengatakan takut untuk menggunakan jasa transportasi umum seperti bus atau kereta api. Kecemasan berlebih yang melanda mereka akhirnya seolah menjadi bumerang, karena semakin sulit untuk melakukan mobilitas menggunakan sarana transportasi umum. Hal tersebut menjadi konsentrasi bagi sebagian orang, karena mereka khawatir orang-orang ‘berkebutuhan khusus’ ini semakin terisolasi secara sosial.

Salah seorang penyandang autis bernama Christopher asal Girvan, Ayrshire mengaku mengalami kecemasan setiap harinya ketika ia naik kereta bawah tanah menuju Glasgow Botanic Gardens. Kepada Fiona, Christopher mengaku bisingnya kereta dan guncangan yang ditimbulkan sangat mempengaruhi kondisi kejiwaannya. Untuk mengatasinya, Christopher harus menutup mata dan telinganya. Namun ia hanyalah manusia biasa yang tetap memiliki rasa malu, maka dari itu ia selalu berharap perjalanan tersebut cepat berakhir.

Survei terbaru dari The National Autistic Society Scotland menemukan bahwa 67 persen publik menampilkan reaksi negatif seperti memperhatikan secara tidak wajar, hingga berkomentar ketika penderita autis ini mencoba menenangkan diri mereka dengan bertepuk tangan atau mengayun-ayunkannya.

Baca Juga: Jepang Punya Taksi Khusus Ibu Hamil, Indonesia Punya Taksi Khusus Kaum Difabel!

Beberapa penderita autis mengatakan bahwa bepergian dengan menggunakan sarana transportasi umum akan lebih mudah bagi mereka jika didampingi oleh seseorang yang dapat diajak berbicara selama perjalanan. Tapi patut diingat, tidak semua penderita autis akan merasa nyaman dengan opsi di atas, bahkan ada beberapa di antara mereka yang hanya membutuhkan ruang dan respon positif dari lingkungan sekitarnya.

Perkeretaapian Polandia Gandeng Nokia Dalam Luncurkan Jaringan GSM-R

Sebentar lagi, jaringan kereta api Polandia, PKP Polskie Linie Kolejowe (PKP PLK) akan meluncurkan jaringan GSM-Railway (GSM-R) lengkap bersama backbone-nya (mission-critical backhaul network). Hal tersebut dapat dipastikan setelah pihak PKP PLK menyodorkan kontrak kerja sama berdurasi lima tahun kepada perusahaan telekomunikasi multinasional asal Finlandia, Nokia dan mitranya, Herkules, Pozbud, dan Wasko.

Baca Juga: Seoul Subway Gunakan Jaringan LTE-R dari SK Telecom

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (3/4/2018), penggunaan jaringan baru ini akan memungkinkan PKP PLK untuk memenuhi semua persyaratan baru untuk European Rail Traffic Management System (ERTMS) yang diterapkan oleh European Union (EU). Tidak hanya itu, jaringan GSM-R ini juga ditujukan untuk meningkatkan keamanan dan keandalan kinerja kereta api di seluruh negeri.

Hadirnya GSM-R yang notabene merupakan komponen utama dari ERTMS akan membantu operator kereta api untuk mengelola pengoperasian kereta dalam sebuah kombinasi apik dengan European Train Control System. Patut diketahui, keseluruhan proyek ini akan didanai oleh pihak EU dan Pemerintah Polandia sendiri.

“Kami selaku pihak Nokia tentu sangat bangga dan bersemangat karena telah dipercaya sebagai mitra dalam upaya untuk melancarkan digitalisasi di Polandia, dan membangun jaringan komunikasi kereta api merupakan bagian terpenting di sini,” ungkap salah satu pejabat senior di Nokia Eropa, Matthieu Bourguignon. “Berdasarkan keahlian kami sebagai pemimpin pasar dan pengalaman kami dalam jaringan komunikasi GSM-R, Nokia merupakan pilihan terbaik dalam peluncuran jaringan ambisius ini,” imbuhnya.

Tidak bermaksud menyepelekan proyek ini, namun Nokia sendiri sudah banyak memakan asam garam dalam soal penyebaran jaringan komunikasi skala besar dan beberapa proyek turnkey di Polandia. Berdasarkan pada ketentuan yang tersurat dalam kontrak kerja sama tersebut, Nokia bertanggungjawab untuk melakukan instalasi, commissioning, integrasi, dan pemeliharaan pihak ketiga untuk jaringan GSM-R sepanjang 13.800 km.

Baca Juga: Saat Kereta Terintegrasi Internet of Things

Perusahaan telekomunikasi yang berbasis di Finlandia tersebut juga akan bertanggung jawab atas infrastruktur jaringan backhaul berbasis serat optik dengan IP Multiprotocol Label Switching (IP/MPLS) dan Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) sepanjang 11.000 km. Pengiriman ini juga mencakup solusi GSM-R lengkap, jaringan inti IP-MPLS, serta teknologi DWDM untuk jaringan serat optik.

Sementara itu, Herkules, Pozbud, dan Wasko akan melaksanakan pekerjaan sipil di bawah proyek raksasa ini.

Keunggulan teknologi GSM-R utama nya adalah koordinasi trafic dan update informasi. Seperti menunjang operasional komunikasi suara antara masinis dan petugas controller di stasiun, antar sesama masinis di suatu area, antar petugas langsir hingga kebutuhan emergensi. Disamping itu GSM-R juga dapat mendukung komunikasi non operasional, seperti antara stasiun dan depot. Tidak hanya itu, lebih penting lagi kebutuhan komunikasi bagi penumpang juga diakomodasi, misalkan informasi perubahan waktu berangkat, keterlambatan hingga kebutuhan koneksi data

Anak Bangsa Harumkan Nama Indonesia di Ajang Worldwide Ferry Safety Design Competition

Anak bangsa kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia melalui ajang Worldwide Ferry Safety Design Competition yang diadakan oleh Worldwide Ferry Safety Association di Amerika Serikat. Tim Indonesia yang bernama Basudewa menempati peringkat kedua dan tim ini terdiri dari mahasiswa Departemen Teknik Perkapalan dan Teknik Sistem Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

Baca juga: University of Liege Sabet Gelar Juara Perhelatan Desain Kapal Ferry di New York

KabarPenumpang.com merangkum dari laman sumber its.ac.id, dengan adanya penghargaan ini seakan menegaskan status Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia. Penghargaan Worldwide Ferry Safety Design Competition sendiri di serahkan langsung di New York pada Kamis (22/3/2018) waktu setempat.

Para pemuda bangsa yang mengharumkan nama Indonesia dalam kancah internasional tersebut ialah Jangka Ruliyanto, Raja Andhika RR, Rahmat Diko Edfi, Novario Adiguna P, Alvinur, Yudha A dan Riyan Bagus P yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di Negeri Paman Sam. Tim Basudewa ini dibimbing oleh Ir Agoes Santoso MPhil dari Departemen Teknik Sistem Perkapalan (Siskal) dan Hasanuddin ST MT dari Departemen Teknik Perkapalan.

Kapal Archimaiden yang didesain Tim Basudewa ITS (www.its.ac.id)

Penilaian pada ajang Worldwide Ferry Safety Design Competition adalah desain kapal pada keamanan, faktor ramah lingkungan, mudah dibangun dan biaya pembangunan yang murah. Tak hanya itu, desain kapal yang dibuat Basudewa berdasarkan studi kasus pada selat antara Singapura, Malaysia dan Batam.

Penilaian untuk kompetisi ini tak sama dengan yang lainnya, dimana dilakukan secara online jarak jauh. Tim Basudewa bisa berada di peringkat kedua karena secara struktur desain kapal ferry rancangan mereka memiliki keunggulan dibagian stabilitas, konstruksi kapal serta disesuaikan dengan karakter dermaga dan laut yang mengacu pada ombak di Selat Singapura sebagai studi kasus.

Sementara sistem keamanan kapal ferry ini dirancang berdasarkan regulasi Safety of Life at Seas (Solas) 3 dan 4, di mana kapal memiliki pemadam api dan rute evakuasi sebagai standar keselamatan. Selain itu, kapal ferry yang didesain tim mahasiswa ITS ini digerakkan menggunakan teknologi twin-screw water jet sebagai tenaga penggerak dengan menggunakan bahan bakar hibrida sebagai sumber energi.

Menurut Jangka, penggunaan bahan bakar hibrida lebih hemat dari segi biaya operasional dibanding kapal ferry di Selat Singapura pada umumnya. “Penghematan biaya bisa mencapai 17,21 persen,” terang Jangka.

Kompetisi ini diikuti oleh 19 negara, termasuk AS, Jerman, Perancis, Belanda dan negara maju lainnya. Kemenangan tim ITS menjadi kebanggan tersendiri karena mampu bersaing dan mengungguli negara-negara maju yang terkenal dengan teknologi terbarunya.

“Kita bersanding dengan Singapura yang berhasil meraih juara satu dan India juara 3 serta Belanda sebagai juara 4. Alhamdulillah Asia meraih tiga besar,” tutur Jangka.

Menurut Agoes Santoso, salah satu pembimbing tim Basudewa, 19 negara yang mengikuti kompetisi ini semua siap dengan kualitas hasil dan mental. “Kita tidak menyangka bisa juara dua. Yang kami tanamkan adalah terus semangat menghasilkan desain kapal yang nyaman, handal, ramah lingkungan dan efisien,” jelas dosen Siskal tersebut.

Baca juga: BC Ferries Operasikan Kapal Ferry Pertama dengan Bahan Bakar Ganda

Sementara itu, Kepala Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS, Dr Eng M Badrus Zaman menambahkan bahwa kompetisi level dunia pada sektor teknologi maritim harus sering diikuti. Hal ini juga dalam rangka menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia, dalam hal ini ITS, mampu bersaing pada level dunia.

“Momentum ini juga menunjukkan bahwa Indonesia siap menjadi poros maritim dunia,” tegas doktor lulusan Kobe Un iversity, Jepang ini.

Kendati Futuristik, Tapi Pandangan Ahli Tentang Hyperloop Ternyata Berbeda!

Ramainya pemberitaan tentang moda transportasi futuristik hasil pemikiran Elon Musk, yaitu Hyperloop memang begitu masif. Kendati moda ini masih belum menunjukkan eksistensi operasionalnya, namun ide yang ditelurkan enterpreneur asal Negeri Paman Sam tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata.

Baca Juga: Semakin Dekat Realisasi, Virgin Hyperloop One Mulai Pamerkan Pod Futuristiknya

Terbukti, banyaknya negara yang secara terang-terang menunjukkan minatnya untuk menggunakan jasa layanan ini dan beberapa perusahaan pengekor ide Elon menjadi bukti nyata bahwa teknologi Hyperloop dipercaya dapat menyandang status sebagai “moda transportasi kelima”. Sebut saja Amerika, Korea Selatan, India, hingga Indonesia sendiri pun menjadi sederet negara yang telah menunjukkan minatnya akan layanan Hyperloop.

Di lain sisi, Virgin Hyperloop One, salah satu perusahaan yang tengah berupaya untuk merealisasikan ide dari sang enterpreneur tersebut terus melaju dengan serangkaian uji coba yang menandakan kesiapannya dalam membawa Hyperloop ke dalam dunia transportasi di kehidupan nyata, jauh meninggalkan Elon yang menunggangi perusahaan Hyperloop Transportation Technology (HTT).

Hyperloop sendiri merupakan moda transportasi yang mengedepankan gaya levitasi magnetik, dimana sebuah pod yang berisi penumpang akan melaju dalam sebuah lintasan berupa tabung. Moda futuristikini sendiri digalang-galang dapat menempuh kecepatan hingga 1.000 km per jam, hampir setara dengan kecepatan sebuah pesawat Concorde.

Seolah sudah menjadi hukum alam, pro dan kontra mengenai kehadiran Hyperloop ini terus bertebaran. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railwaygazette.com (14/3/2018), adalah Garreth Dennis, seorang Permanent Way Engineer untuk konsultasi desain internasional mengatakan bahwa kelebihan yang ditawarkan oleh calon moda tranportasi kelima ini tidak sebanding dengan kekurangan yang dimilikinya.

Garreth menyebutkan bahwa ada sejumlah kendala teknis yang mengintai, namun permasalahan yang paling mendasar datang dari sektor pemberangkatan penumpang. Hyperloop sendiri menjadikan rencana High Speed 2, kereta berkecepatan tinggi di Inggis, sebagai benchmark mereka dengan estimasi memberangkatkan sekitar 20.000 penumpang setiap jamnya.

Semisal setiap pod Hyperloop memiliki kapasitas angkut 50 penumpang, maka Hyperloop membutuhkan 400 pods dan melakukan pemberangkatan setiap sembilan detik sekali. Sebuah perkiraan waktu yang agak sedikit mustahil untuk ditempuh, kecuali pihak Hyperloop menurunkan kapasitas pemberangkatan penumpang per jamnya.

Di segi lain, Garreth pun menyinggung soal sambungan tabung yang dianggap terlalu memakan biaya. Bagaimana tidak, ruang dalam tabung tersebut haruslah kedap udara agar pengoperasian Hyperloop bisa berjalan mulus. Maka pihak penyedia jasa layanan ini harus sangat memperhitungkan kekuatan dari sambungan yang ada di setiap jalurnya.

Baca Juga: Beda Strategi Dengan Rival, Hyperloop Transportation Technology Utamakan Studi Lapangan

Lalu, bagaimana jika ditengah pengoperasianya, pod Hyperloop mengalami kendala hingga tersendat di tengah tabung? Ada banyak kemungkinan yang menghantui salah satu pemikiran ini, tapi yang paling buruk adalah tabrakan mahadahsyat antar pod.

Masalah Switch menjadi ‘senjata cadangan’ Garreth. Ia menuturkan bahwa selama ini, sistem perkeretaapian dunia pun masih sering kali menemukan masalah terkait dengan sistem perpindahan jalur ini. “Jika Hyperloop berhasil memecahkan masalah ini, maka dunia perkeretaapian dunia akan turut berbahagia,” ujar Garreth.

Urat Malu Putus, Penumpang AirAsia Ini Kekeh Pindah Ke Bangku Premium

Sikap egois dan mau menang sendiri yang ditunjukkan oleh seseorang memang dapat dengan mudah menyulut emosi lawan bicaranya, tidak terkecuali seorang penumpang maskapai AirAsia bernama Bruce Lam. Ia mengaku kesal terhadap salah seorang penumpang dalam penerbangannya menuju Hong Kong. Pasalnya, penumpang wanita tersebut berlaku seenaknya dengan pindah ke bangku Premium, padahal bangku yang dipesan oleh wanita tersebut berada di bangku Ekonomi.

Baca Juga: Inilah Beberapa Tipe Penumpang Pesawat, Anda Masuk Kategori Yang Mana?

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman news.com.au (4/4/2018), kejadian ini sendiri terjadi pada Jumat, 2 Maret 2018 silam dalam penerbangan AirAsia tujuan Kuala Lumpur – Hong Kong. Emosi Bruce mulai tersulut manakala ia mengetahui bahwa penumpang wanita tersebut membandel dan terus kembali ke bangku Premium kendati sudah diperingatkan beberapa kali oleh awak kabin.

Kejadian ini bermula ketika seorang awak kabin menghampiri wanita tersebut dan memintanya untuk kembali ke bangku asal karena sesaat lagi pesawat akan take-off. Penumpang tersebut pun mengikuti perintah si awak kabin dan kembali ke bangku asalnya di bangku Ekonomi. Namun tak lama berselang setelah pesawat mengudara, penumpang ini kembali lagi ke bangku Premium tersebut.

Lagi, awak kabin memberinya teguran dan menghimbaunya untuk kembali ke bangku semula. Perdebatan antar keduanya pun tak bisa dihindari. Awak kabin Air Asia pun sempat menghimbau si penumpang wanita untuk memesan bangku prioritas di penerbangan selanjutnya. Setelah beberapa sesaat adu urat, penumpang wanita ini pun kembali lagi ke bangku yang sudah ia pesan sebelumnya.

Tidak cukup dua kali kena tegur, ia mencoba peruntungannya kembali, namun tingkah polah yang ia tunjukkan semakin tidak tahu malu dan terkesan kampungan. Ia membawa serta sebuah neck-pillow dan berbaring di bangku Premium tersebut. Tindakannya itu sontak membuat penumpang lain di kelas Premium naik pitam, tak terkecuali Bruce yang kebetulan duduk tepat di depan si wanita tersebut.

Kendati awak kabin sudah kembali memperingatinya untuk yang ketiga kalinya, wanita ini pun malah semakin menjadi-jadi dan mulai bernada tinggi. “Kenapa?!” teriak si wanita kepada awak kabin AirAsia. Tidak tinggal diam, Bruce pun beranjak dari bangkunya dan mulai membela si pramugari.

“Kembalilah ke bangkumu, satu kali, dua kali, hingga tiga kali Anda mendapatkan teguran, tidakkah Anda malu?!” ucap Bruce kepada wanita tersebut. Ia pun akhirnya mengangkat kaki untuk yang ketiga kalinya dari bangku Premium tersebut sembari menggerutu, “Urus saja urusanmu sendiri,”

Baca Juga: Tanpa Rasa Malu, Penumpang Ini Lepas Celana di Dalam Kabin Pesawat

Untungnya, teguran langsung dari Bruce membuat wanita ini jera dan tidak lagi duduk di bangku kelas Premium tersebut. Awak kabin AirAsia pun berterimakasih kepada Bruce yang telah membantu mengusir wanita ini. “Terima kasih, kami cukup sering menjumpai penumpang bebal seperti wanita ini,” ungkapnya.

“Kami membayar lebih untuk bangku ini, bagaimana Anda bisa menahan emosi ketika ada seorang wanita paruh baya berpindah dari bangku standarnya menuju bangku Premium sebanyak tiga kali?” kenang Bruce.

Bandara di AS Kian Ketat, TSA Wajibkan Pemeriksaan Terpisah Pada Perangkat Elektronik

Ketika keamanan bandara semakin diperketat, maka penumpang akan semakin direpotkan saat berada di pemeriksaan keamanan bandara. Pasalnya sejak adanya larangan laptop dan tablet masuk ke kabin karena meningkatnya ancaman terorisme, hal ini di anggap cukup efektif.

Baca juga: Tangkal Terorisme, Larangan Bawa Laptop ke Dalam Kabin Dipandang Tak Efektif

KabarPenumpang.com melansir dari laman wvnews.com (4/4/2018), Transportation Security Administration (TSA) mengumumkan kepada penumpang yang akan keluar dari bandara Virginia Barat harus mengeluarkan semua perangkat elektronik mereka yang lebih besar dari ponsel untuk diperiksa. Selain Laptop, maka tablet dan smartphone yang berukuran lebih besar harus dikeluarkan dari dalam tas sebelum melalui alat pemindai.

“Orang-orang sudah melakukan ini selama bertahun-tahun dengan laptop yang mereka bawa. Kami hanya menambahkan beberapa hal saja,” ujar Lisa Farbstein, juru bicara TSA di Arlington, Virginia. Farbstein mengatakan, hal ini dilakukan karena teroris sudah mulai beradaptasi dan menyembunyikan bahan peledak di perangkat elektronik seperti tablet, pembaca elektronik, handphone, kamera dan lainnya.

“Kami tahu mereka sangat mahir menyembunyikan improvised explosive device (IED). Ancaman itu nyata,” ujar Farbstein. Dia mengatakan, pejabat TSA mengumumkan persyaratan keamanan baru pada Juli 2017 lalu. Namun mulai menerapkannya secara perlahan sembari adanya tambahan pelatihan pada petugas TSA.

Prosedur baru ini sudah mulai diberlakukan di Bandara Yeager di Charleston, Bandara Tri-State di Huntington, Bandara Regional Mid-Ohio Valley di Parkersburg, Bandara West Virginia Barat Bagian Utara di Bridgeport, Bandara Kota Morgantown dan Bandar Udara Greenbrier Valley. Farbstein mengatakan sebelum melalui keamanan baiknya, perangkat-perangkat elektronik tersebut sudah dipisahkan dari tas penumpang.

Ini dilakukan untuk memudahkan petugas TSA mendapatkan gambar barang elektronik tersebut dengan jelas saat dipindai dengan X-Ray keamanan. Dia menambahkan, baiknya barang-barang elektronik tersebut di tempatkan dalam palstik dan tidak di tumpuk satu sama lain agar tiap barang terlihat dengan jelas.

Dengan banyaknya perangkat tipis, sangat mudah bagi penumpang melupakan perangkat tersebut, bahkan terkadang diletakkan jauh di dalam tas mereka dan bertumpuk dengan barang lainnya. Farbstein mengatakan, saat perangkat elektronik tersebut di pisahkan dari tas penumpang, baiknya di label dengan nama serta nomor telepon.

Hal tersebut dibuat, jika ada penumpang yang tidak sengaja meninggalkan barang elektronik mereka bisa dilacak dan dikembalikan. Farbstein menjelaskan, setelah adanya pelatihan untuk pemindaian barang penumpang tersebut, maka petugas TSA kini siap memandu penumpang dengan prosedur keamanan baru.

Baca juga: Bandara Abu Dhabi Cabut Larangan Elektronik Masuk Amerika Serikat

Diketahui, prosedur tersebut harus ada di semua bandara Amerika Serikat pada akhir Mei 2018 ini. Tak hanya itu, pihak TSA juga menyarankan, agar penumpang tiba 90 menit sebelum waktu keberangkatan yang dijadwalkan agar memiliki cukup waktu saat melewati keamanan.

Stasiun Kalimenur, Terlupakan dan Pernah Hancur Akibat Bom

Jejak sejarah stasiun di Indonesia begitu beraneka ragam, mulai dari pembangunannya, jalur kereta hingga bahkan apa yang terjadi di stasiun tersebut. Seperti salah satu stasiun yang ada di Kulon Progo yakni stasiun Kalimenur.

Baca juga: Museum Kereta Api Bondowoso, Saksi Sejarah Gerbong Maut Pengangkut 100 Pejuang Kemerdekaan

Stasiun ini ternyata pernah di bom oleh Belanda pada masa revolusi tahun 1948 silam dan hampir hancur. Namun, hal tersebut tak membuat Indonesia gentar, melainkan Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) kembali membangun stasiun ini dan meresmikannya menjadi stoplat atau stasiun mini yang merupakan lokasi pemberhentian sementara kereta tahun 1954 lalu.

KabarPenumpang.com mendapatkan fakta, stasiun yang kini sudah dinonaktifkan tersebut kondisinya sangat lusuh, terabaikan dan banyak vandalisme. Hal ini dikarenakan sejak 44 tahun lalu stasiun ini tak lagi beroperasi. Penghentian operasional stasiun Kalimenur dilakukan pada 1974, karena stasiun ini dianggap tak layak menjadi pemberhentian kereta berkecepatan tinggi. Sebab posisi stasiun sangat tidak strategis dan berada di tikungan besar Kalimenur.

Tampak samping stasiun Kalimenur dengan nama dan ketinggian stasiun yang masih jelas meski sudah usang

Stasiun Kalimenur sendiri berada di ketinggian +35 meter dan berada di Sukoreno, Sentolo, Kulon Progo, tepatnya di antara Stasiun Sentolo dan Stasiun Wates. Pembangunanya diperkiran pada masa yang sama dengan pembangunan jalur kereta Surabaya-Cilacap tahun 1876-1888. Dulunya stasiun ini juga dikenal dengan stasiun Tahu.

Adapun penyebutan stasiun Tahu, karena mayoritas penumpang kereta yang berangkat melalui stasiun tersebut adalah penjual tahu dari Desa Tuksono yang akan berjualan ke Yogyakarta atau Kutoarjo. Para pedagang tersebut tak hanya menjadi penumpang dan naik kereta dari stasiun Kalimenur, melainkan juga berjualan di sekitar stasiun baik tahu matang yang sudah digoreng ataupun mentah.

Ternyata tak hanya para pedagang tahu, pengguna lain stasiun ini adalah pedagang sayur, ternak dan para pelajar Kulon Progo yang akan bersekolah ke Yogyakarta. Sebenarnya dengan adanya stasiun, daerah Kalimenur sangat beruntung, karena saat itu kereta api menjadi moda transportasi yang dapat menjangkau daerah lain dibanding moda lainnya.

Baca juga: Stasiun Cibatu, Nuansa Vintage Yang Tak Lekang Ditelan Zaman

Tak hanya cepat, tarif kereta api juga pada masa itu cukup terjangkau. Meski tak lagi beroperasi, kini stasiun Kalimenur dijadikan tempat beristirahat oleh warga dan pecinta kereta yang hendak menyaksikan atau mengabadikan momen dimana kereta api yang sedang menikung di tikungan Kalimenur. Dibangunan stasiun tersebut juga masih terlihat jelas nama stasiun dan ketinggian stasiun.

Biaya Rendah dan Kualitas Menurun? Permintaan Perjalanan Udara Justru Meningkat

Sepuluh tahun lalu pesawat terbang masih terbilang moda transportasi mahal, mewah, glamor dan menarik. Penumpangnya pun biasanya kalangan menengah ke atas, karena harga tiket yang bisa dikatakan cukup mahal dan tidak bersahabat dengan masyarakat menengah kebawah.

Baca juga: Biar Nyaman di Penerbangan Kelas Ekonomi Jarak Jauh, Baca Ini!

Kini sudah berbeda, sebab kalangan menengah ke bawah beberapa sudah bisa menikmati pesawat terbang dengan harga yang cukup terjangkau. Namun, dengan berbiaya rendah, banyak sekali fasilitas dan kenyamanan yang hilang bagi penumpang.

KabarPenumpang.com merangkumnya dari laman cnn.com, bahwa ada sebuah survei yang pernah dilakukan International Air Transport Association (IATA) pada 2015 lalu dan mendapatkan bahwa banyak penumpang yang menginginkan mengantre di konter keamanan bandara tidak lebih dari sepuluh menit. Bahkan setengahnya memilih menunggu hanya 1-3 menit saja untuk pemeriksaan barang bawaan mereka.

Ada beberapa hal yang membuat penerbangan masa kini lebih murah. Namun, hal tersebut justru bisa membuat penumpang tidak nyaman dan marah saat sampai di dalam pesawat. Namun, dengan harga murah ini menciptakan lebih banyak permintaan untuk perjalanan udara yang bisa menyebabkan penundaan karena lalu lintas udara sedikit tersedat. Hal ini juga menjadikan kualitas pelayanan yang menurun terhadap penumpang.

Sebenarnya, untuk pelayanan disesuaikan dengan harga yang dibayarkan. Jika pelanggan memilih membayar lebih mahal untuk kelas bisnis dan kelas satu, pasti akan ada layanan yang berbeda dibandingkan dengan kelas ekonomi.

Perbedaan paling mencolok ialah dimana saat berada di dalam kabin, jarak antara kursi kelas ekonomi lebih sempit. Tak hanya itu, dengan biaya lebih murah, untuk mendapatkan makanan dan fasilitas bagasi lebih Anda harus membayar diluar dari harga tiket yang sudah dibeli.

Tak sama seperti dahulu dimana, saat membeli tiket pesawat, maka yang didapat penumpang adalah kemudahan dalam bagasi yang lebih besar serta layanan makanan, minuman dan beberapa hal lainnya yang dibutuhkan. Toilet pun kini di uji apakah sangat dibutuhkan atau tidak, tetapi jika toilet dikurangi maka akan semakin sedikit kenyamanan yang didapat penumpang.

Baca juga: Benarkah Penumpang Kelas Ekonomi Kurang Perhatian? Ini Kata Awak Kabin

Bahkan kini penumpang kelas ekonomi lebih memilih membawa tas jinjing atau ransel namun membayar biaya yang sama dengan penumpang menggunakan koper. Tetapi ini adalah pandangan sepihak dan tidak bisa di salahkan dengan apa yang digunakan penumpang.

Dengan hal ini semua terutama kualitas kenyamanan yang turun, tetapi permintaan perjalanan bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa, meski kualitas layanan menurun, penumpang masih bersedia terbang dengan harga yang lebih rendah.