Kendati Futuristik, Tapi Pandangan Ahli Tentang Hyperloop Ternyata Berbeda!

Ramainya pemberitaan tentang moda transportasi futuristik hasil pemikiran Elon Musk, yaitu Hyperloop memang begitu masif. Kendati moda ini masih belum menunjukkan eksistensi operasionalnya, namun ide yang ditelurkan enterpreneur asal Negeri Paman Sam tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata.

Baca Juga: Semakin Dekat Realisasi, Virgin Hyperloop One Mulai Pamerkan Pod Futuristiknya

Terbukti, banyaknya negara yang secara terang-terang menunjukkan minatnya untuk menggunakan jasa layanan ini dan beberapa perusahaan pengekor ide Elon menjadi bukti nyata bahwa teknologi Hyperloop dipercaya dapat menyandang status sebagai “moda transportasi kelima”. Sebut saja Amerika, Korea Selatan, India, hingga Indonesia sendiri pun menjadi sederet negara yang telah menunjukkan minatnya akan layanan Hyperloop.

Di lain sisi, Virgin Hyperloop One, salah satu perusahaan yang tengah berupaya untuk merealisasikan ide dari sang enterpreneur tersebut terus melaju dengan serangkaian uji coba yang menandakan kesiapannya dalam membawa Hyperloop ke dalam dunia transportasi di kehidupan nyata, jauh meninggalkan Elon yang menunggangi perusahaan Hyperloop Transportation Technology (HTT).

Hyperloop sendiri merupakan moda transportasi yang mengedepankan gaya levitasi magnetik, dimana sebuah pod yang berisi penumpang akan melaju dalam sebuah lintasan berupa tabung. Moda futuristikini sendiri digalang-galang dapat menempuh kecepatan hingga 1.000 km per jam, hampir setara dengan kecepatan sebuah pesawat Concorde.

Seolah sudah menjadi hukum alam, pro dan kontra mengenai kehadiran Hyperloop ini terus bertebaran. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railwaygazette.com (14/3/2018), adalah Garreth Dennis, seorang Permanent Way Engineer untuk konsultasi desain internasional mengatakan bahwa kelebihan yang ditawarkan oleh calon moda tranportasi kelima ini tidak sebanding dengan kekurangan yang dimilikinya.

Garreth menyebutkan bahwa ada sejumlah kendala teknis yang mengintai, namun permasalahan yang paling mendasar datang dari sektor pemberangkatan penumpang. Hyperloop sendiri menjadikan rencana High Speed 2, kereta berkecepatan tinggi di Inggis, sebagai benchmark mereka dengan estimasi memberangkatkan sekitar 20.000 penumpang setiap jamnya.

Semisal setiap pod Hyperloop memiliki kapasitas angkut 50 penumpang, maka Hyperloop membutuhkan 400 pods dan melakukan pemberangkatan setiap sembilan detik sekali. Sebuah perkiraan waktu yang agak sedikit mustahil untuk ditempuh, kecuali pihak Hyperloop menurunkan kapasitas pemberangkatan penumpang per jamnya.

Di segi lain, Garreth pun menyinggung soal sambungan tabung yang dianggap terlalu memakan biaya. Bagaimana tidak, ruang dalam tabung tersebut haruslah kedap udara agar pengoperasian Hyperloop bisa berjalan mulus. Maka pihak penyedia jasa layanan ini harus sangat memperhitungkan kekuatan dari sambungan yang ada di setiap jalurnya.

Baca Juga: Beda Strategi Dengan Rival, Hyperloop Transportation Technology Utamakan Studi Lapangan

Lalu, bagaimana jika ditengah pengoperasianya, pod Hyperloop mengalami kendala hingga tersendat di tengah tabung? Ada banyak kemungkinan yang menghantui salah satu pemikiran ini, tapi yang paling buruk adalah tabrakan mahadahsyat antar pod.

Masalah Switch menjadi ‘senjata cadangan’ Garreth. Ia menuturkan bahwa selama ini, sistem perkeretaapian dunia pun masih sering kali menemukan masalah terkait dengan sistem perpindahan jalur ini. “Jika Hyperloop berhasil memecahkan masalah ini, maka dunia perkeretaapian dunia akan turut berbahagia,” ujar Garreth.