Bolak Balik di Tutup, Stasiun Purworejo Kini Jadi Cagar Budaya

Stasun Purworejo masa kini dan non aktif

Berbicara tentang stasiun bersejarah, saat ini banyak sekali yang sudah tidak aktif dan tak sedikit yang di jadikan cagar budaya. Seperti salah satu stasiun besar di Jawa Tengah yakni stasiun Purworejo. Stasiun yang dijadikan cagar budaya sejak tahun 2010 ini, merupakan stasiun kelas satu dan berada tepatnya 11 km arah timur stasiun Kutoarjo.

Baca juga: Analisis Ilmiah Berbalut Nuansa Mistis Warnai Rentetan Kecelakaan di Stasiun Cipeundeuy

Awal tahun 2018 ini, stasiun Purworejo sempat digunakan oleh masyarakat Purworejo untuk tempat resepsi pernikahan. Pada resepsi tersebut, para undangan yang hadir menuliskan nama pada papan putih layaknya jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta. Tak hanya itu, para tamu juga akan melewati portal seperti di jalan raya menunggu kereta lewat dan bersalaman dengan petugas sebelum bertemu pengantin.

Stasiun Purworejo masa lalu (Sportourism.id)

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa stasiun ini pertama kali didirikan pada masa kolonial Belanda oleh Staatsspoorwegen (SS) pada 20 Juli 1887 atau sekitar 131 tahun yang lalu. Berada di ketinggian +63 meter Purworejo menjadi stasiun paling timur di Daerah Operasional (Daop) V Purwokerto.

Stasiun Purworejo sendiri masih menggunakan sistem persinyalan manual atau mekanik. Dimasa peralihan dari Belanda ke Jepang, stasiun ini melayani relasi antara Kutoarjo menuju Magelang, Secang, Temanggung hingga Ambarawa.

Namun, saat ini stasiun yang menjadi cagar budaya tersebut tidak lagi melayani satu pun kereta api. Diketahui kereta terakhir yang singgah di stasiun ini adalah kereta api Feeder Purworejo-Kutoarjo, ditarik lokomotif simbah BB300 dan tidak lagi beroperasi sejak November 2010 lalu.

Bangunan stasiun ini sendiri dari awal dirancang sudah menggunakan pondasi beton dengan tinggi delapan meter. Untuk peronnya sendiri menggunakan bahan baja dengan atap berbentuk setengah lingkaran seperti bentuk peron stasiun di Eropa pada masa itu.

Stasiun Purworejo sendiri sudah dua kali dilakukan pemugaran, namun tidak merubah bentuknya sama sekali. Meski tak lagi digunakan, stasiun Purworejo masih tetap kokoh berdiri meski hampir 1,5 abad dibangun.

Bagian dalam stasiun dan jalur sepur stasiun Purworejo

Sebelum akhirnya tidak aktif lagi pada tahun 2010, selain menjadi jalur kereta api Feeder, stasiun ini juga pernah ditutup empat kali. Pertama pada masa penjajahan Jepang, kedua saat peralihan menjadi Djawatan Kereta Api, kemudian tahun 1977 dan sempat dihidupkan tahun 1990an serta hingga kini tutup dan entah kapan lagi kembali beroperasi.

Baca juga: Stasiun Cirebon, Bernilai Strategis dan Menyandang Bangunan Cagar Budaya

Meski wacana untuk menghidupkan kembali terus bermunculan. Tetapi sepertinya sulit untuk merealisasikan hal tersebut mengingat transportasi darat semakin banyak jumlahnya ditambah, saat ini setiap keluarga sudah menggunakan kendaraan pribadi. Tetapi terealisasi atau tidaknya, PT KAI bisa diapresiasi, karena mampu untuk menjaga serta merawat stasiun Purworejo tersebut apalagi sejak menjadi bangunan cagar budaya yang wajib dilindungi.