Banjir Rob Sampai Alunan Gambang, Hiasi Stasiun Semarang Tawang

Stasiun Semarang Tawang masa kini, bangunannya tak berubah dari masa lalu

Stasiun Semarang Tawang menjadi salah satu stasiun tertua yang masih beroperasi hingga kini di Jawa Tengah. Stasiun ini dibangun pada 29 April 1911 dan selesai serta diresmikan pada 1914 silam. Hadirnya stasiun Tawang sendiri untuk menggantikan stasiun Samarang NIS yang selalu terendam air jika Laut Jawa mengalami pasang. Nama Tawang diambil dari kampung dekat stasiun yakni Tawangsari.

Baca juga: “Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar Budaya

Menjadi stasiun kelas besar tipe A di Tanjung Mas, Semarang Utara, Semarang, stasiun tersebut berada di ketinggian +2 meter dan masuk dalam Daerah Operasional IV Semarang. Letaknya tak jauh dari pusat kota yakni hanya sekitar lima kilometer dan tak jauh dari objek wisata Kota Lama serta Pasar Johar.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa sebagai stasiun besar, Semarang Tawang melayani KA bisnis, eksekutif dan ekonomi. Sejak dibangun hingga kini hampir semua bagian yang ada di stasiun masih tetap sama.

Masa lalu stasiun Semarang Tawang dengan lapangan besar yang kini menjadi polder

Stasiun Semarang Tawang memiliki lapangan dan saat ini menjadi Polder yang berupa kolam raksasa serta dilengkapi pompa di depan stasiun. Ini digunakan saat stasiun terendam air rob atau air pasang dari Laut Jawa.

Dulunya sebelum menjadi polder lapangan tersebut digunakan sebagai ruang terbuka di kawasan kota lama yang berfungsi sebagai tempat olah raga, upacara, pertandingan dan lainnya. Bangunan stasiun yang kini ditetapkan menjadi cagar budaya sejak 2009 oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) ini dibangun oleh perusahaan KA swasta Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) dan dirancang oleh seorang arsitek Belanda Mr Sloth Blauwboer.

Pada masa kemerdekaan, stasiun Tawang pernah menyelenggarakan perjalanan kereta api luar biasa (KLB) sebanyak dua kali. Pertama saat para pemuda dan pekerja kereta api di Semarang Tawang melakukan perjalanan ke Bandung untuk pertama kalinya.

Perjalanan tersebut terjadi pada 10 September 1945 untuk membuktikan kepada para pemimpin Indonesia di kantor pusat Bandung, bahwa perkeretaapian di seluruh Jawa Tengah sudah dikuasai Indonesia. KLB kedua pada akhir Oktober 1945, dimana saat kedatangan Presiden Soekarno bersama Sektretaris negara Gafar Pringgodigdo di stasiun Tawang untuk perundingan gencatan pertempuran lima hari Semarang.

Baca juga: Menapaki Sentuhan Belanda di 10 Stasiun Tua di Indonesia

Pada peristiwa itu, dengan sigap para pekerja di stasiun Tawang membantu mengungsikan 15 lokomotif kiriman dari stasiun Poncol untuk diteruskan ke Kedungjati. Selain sejarah stasiun Semarang Tawang, ada hal yang unik di sini, yakni jika pada umumnya stasiun menggunakan nada Westminster Chime sebagai penanda datangnya kereta, tetapi tidak pada stasiun Tawang.

Sebab, stasiun ini menggunakan melodi bel pertanda datang-perginya KA dengan lagu tradisional khas daerah Semarang yang berjudul Gambang Semarang. Lagu ini dulunya dimainkan dengan menggunakan piano.