Bird Strike! Masih Jadi Momok Menakutkan dalam Dunia Penerbangan

Sosoknya bisa dibilang kecil di angkasa yang luas, namun jangan salah burung yang bobotnya tak sampai 2 kg bisa menyebakan maut dalam suatu penerbangan, tak pandang pesawat kecil sampai pesawat jumbo jet bisa dibuat tak berdaya oleh seekor burung kecil. Dikenal sebagai bird strike, seekor atau sekawanan burung dapat terlibat ‘tabrakan’ dengan pesawat, umumnya kejadian ini menimpa pada pesawat yang sedang lepas landas (take off) atau pesawat yang mau mendarat (landing). Akibat tabrakan yang terbilang fatal apabila burung menambrak kaca kokpit dan yang sangat ditakutkan bila burung tersedot masuk ke dalam air intake mesin pesawat jet.

Bird strike adalah ancaman pada pesawat jet. Tidak seperti mobil yang mesinnya tertutup rapi, pada pesawat jet, bagian depan mesin pesawat terbuka untuk menyedot udara untuk pembakaran. Benda-benda yang tidak diinginkan bisa tersedot dan merusak bagian dalam mesin pesawat. Benda-benda ini disebut FOD (Foreign Object Damage). Jika ada benda yang merusak sebuah bilah turbin mesin jet, maka pecahan bilahnya bisa melesat ke bilah yang lain dan seterusnya merusak keseluruhan mesin. Pada waktu pesawat lepas landas bahaya yang mengancam sangat besar karena putaran bilah turbin ini mencapai maksimum.

Bagian depan mesin yang terbuka (air intake), menelan apa saja yang dilewati termasuk es/salju, air hujan, burung besar atau kecil. Benda/burung yang masuk ke dalam mesin jet ini bisa merusak bilah-bilah turbin dan membuat mesin berhenti bekerja atau bahkan terbakar karena pembakaran yang terjadi tidak terbuang keluar dari belakang mesin. Bahkan jika FOD yang masuk mesin menjadi hancur terkena bilah mesin dan tidak merusak bilah tersebut, aliran udara yang masuk bisa terganggu dan bisa menyebabkan mesin jet menjadi stall.

Kabar terakhir terkait bird strike di Indonesia paling akhir menimpa jet tempur Sukhoi Su-27 TNI AU yang sedang dalam latihan di Lanud Halim Perdanakusuma pada 7 April 2017. Akibat bird strike, salah satu mesin pesawat asal Rusia ini mati, dan untungnya pesawat masih dapat dikendalikan dengan mengandalkan satu mesin. pesawat twin engine dengan nomer TS-3009 ini masih mampu dikendalikan, dan pilot dapat melakukan (R2B) return to base.

Sementara dalam dunia penerbangan sipil, pesawat Garuda Indonesia GA169 rute Padang – Jakarta pada 15 Desember 2015 sempat mengalami delay atau keterlambatan penerbangan hingga 5 jam lebih akibat gangguan bird strike. Akibatnya adanya potensi kerusakan, penumpang kemudian dialihkan ke pesawat lain.

Melihat ancaman yang cukup serius, beberapa langkah telah dilakukan operator bandara, seperti menggunakan mobil predator. Namun lambat laun alat tersebut tidak lagi mampu mengusir burung. Mobil predator adalah alat yang mengeluarkan suara-suara predator atau hewan pemangsa untuk menakuti burung di sekitar bandara, tapi alat ini hanya berfungsi menakuti burung selama beberapa tahun saja. Setelah itu, burung-burung resisten terhadap suara tersebut. Burung yang sering tertabrak pesawat dan merusak mesin adalah jenis puntul ukuran besar. Biasanya burung tersebut merusak Blitz Jet pada mesin depan pesawat.

Menyadari sulitnya mengusir keberadaan burung, pihak Angkasa Pura l tetap meminta kerja sama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk meneliti penanggulangan hal tersebut. “Kami meminta LIPI meneliti lebih lanjut cara apa yang harus digunakan untuk mengusir burung agar masalah penerbangan berkurang. Memang di Indonesia belum ada kasus pesawat jatuh oleh burung karena burung di kita ukurannya kecil, paling merusak mesin pesawat saja. Namun, untuk antisipasi, kita tetap ingin meneliti lebih lanjut cara terbaik mengusir burung-burung itu,” ujar Darji, Quality Manager of Head PT Angkasa Pura l, dikutip dari tempo.co (29/11/2016). Sejak 2009, PT Angkasa Pura l dan LIPI sudah melakukan penelitian mengenai jenis burung yang sering mengganggu penerbangan. Besar burung, habitat burung, dan lainnya menjadi pokok penelitian.