Lima Mitos Yang Keliru Seputar Dunia Penerbangan

Layaknya moda transportasi lain yang memiliki mitosnya masing-masing, di dunia penerbangan pun memiliki mitos tersendiri. Namun, tentu saja mitos ini tidak ada kaitannya dengan hal-hal berbau mistis. Berikut, KabarPenumpang.com sarikan lima mitos seputar dunia penerbangan dilansir dari gulfnews.com (23/7/2017).

Baca Juga: 11 Kasus Misterius Dalam Dunia Penerbangan

Semakin Besar Pesawat, Tarifnya pun Semakin Rendah
Adapun alasan dibalik tercetusnya mitos seperti ini adalah ketersediaan bangku yang lebih banyak dapat membantu pihak maskapai untuk memenuhi setiap permintaan penerbangan dalam jumlah besar dan menawarkannya dengan harga yang lebih rendah daripada penerbangan dengan pesawat kecil.

Ternyata, anggapan netizen selama ini mengenai asumsi tersebut tidaklah benar. Faktanya adalah pihak maskapai tidak meningkatkan efisiensi per penumpang dengan meningkatkan kapasitas seat. Ini dikarenakan skala ekonomi tidak selalu berpihak pada maskapai penerbangan. Jadi, hingga saat ini, mitos mengenai tarif terbang menggunakan pesawat berukuran besar lebih rendah terbantahkan karena pesawat berukuran kecil memungkinkan maskapai untuk mengoperasikan rute non-stop dengan biaya yang lebih murah dan dianggap lebih efisien.

Fakta ini juga ditunjang dengan keberadaan maskapai berbodi jumbo yang hanya bisa diakses melalui bandara berukuran besar pula. Dapat dibayangkan jika calon penumpang yang tinggal di daerah pinggiran harus menyambangi bandara besar yang letaknya sangat jauh, tidak efisien bukan?

Terbang itu Mahal
Mitos ini pun terbantahkan dengan adanya studi yang menunjukkan bahwa terjadi hingga saat ini adalah penurunan harga tiket. Pada tahun 1979, rata-rata harga tiket pulang-pergi di Amerika berada di angka $617, sedangkan sekarang harganya hanya $367. Begitupun dengan harga tiket New York – Los Angeles yang ditaksir mencapai $1.442 pada tahun 1974, kini harga tiket perjalanan di antara dua kota tersebut hanya $149.

Taksiran harga tersebut menunjukkan bahwa pesawat menawarkan harga yang bisa dibilang murah, terutama dalam kasus penerbangan jarak jauh. Dapatkah Anda bayangkan jika bepergian dari New York menuju Los Angeles dengan menggunakan moda transportasi lain seperti bus, kereta, atau kendaraan pribadi? Tentu biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih besar ketimbang naik pesawat.

Baca Juga: 6 Hal Ini Bisa Memicu Keributan Selama Penerbangan

Pesawat Terbang Berdampak Buruk Bagi Lingkungan
Untuk mengudara dari Dubai menuju Sydney, Airbus A380 membutuhkan lebih dari 65.000 galon bahan bakar, sedangkan satu galon bahan bakar setara dengan 3,78 liter. Belum lagi bahan bakar pesawat menghasilkan lebih banyak tingkat karbon dioksida dibandingkan dengan moda transportasi lainnya, dan dengan anggapan seperti ini, maka setiap penerbangan dinilai memiliki dampak yang buruk bagi lingkungan, hingga ada statemen yang menyatakan “Setiap kali Anda terbang, maka Anda berperan serta dalam menghancurkan planet ini”.

Kembali, mitos ini ditepis dengan fakta yang menunjukkan terbang jauh lebih efisien daripada menggunakan moda transportasi lain. Untuk terbang dari Frankfurt menuju Washington D. C., sebuah Boeing 747-800 membutuhkan 65 galon bahan bakar, dimana dengan jumlah yang sama, sebuah mobil SUV pun tidak mampu untuk pergi dari Washington D. C. menuju Denver. Pesawat tersebut memiliki rata-rata penggunaan bahan bakar 89mpg (miles per gallon), nilai tersebut jauh lebih rendah daripada sebuah mobil hibrida yang paling efisien sekalipun. Ditambah lagi dengan operator penerbangan yang lebih memilh untuk menggunakan biofuel untuk mengurangi emisi ketika mengudara.

Merger Merupakan Berita Buruk Bagi Para Pelancong
Penggabungan saham atau merger dalam dunia aviasi memang bukan menjadi suatu hal yang aneh, seperti yang terakhir terjadi adalah US Airways dan American Airlines. Sebenarnya ini merupakan bentuk dari persaingan yang agresif. Merger sendiri memiliki keunggulan kompetitif, ambil contoh dari tiga maskapai raksasa Amerika, Delta, American, dan United yang kini memiliki rute penerbangan yang lebih variatif. Sebut saja Delta Airlines yang memiliki rute terbang ke lebih dari 200 destinasi dari Amerika.

Baca Juga: 10 Pendaratan Dramatis Sepanjang Sejarah Penerbangan

Rute Penerbangan Terbaik Adalah yang Terpendek
Mitos ini pun terbantahkan, karena pada umumnya setiap penerbangan tidak memiliki rute terbaik ataupun terburuk, kecuali hal ini disangkutkan dengan kondisi geografis suatu wilayah dan kondisi cuaca di jalur yang hendak dilewati oleh maskapai tersebut.

Yang benar-benar menentukan jalur penerbangan suatu maskapai adalah biaya penerbangan itu sendiri. Semakin jauh Anda mengudara, biasanya ongkos yang dikenakan pun akan jauh lebih mahal. Mungkin karena dasar pemikiran seperti inilah yang akhirnya menyebabkan mitos mengenai penerbangan terbaik adalah penerbangan dengan rute terpendek menyeruak ke permukaan.