Singapura Punya Depo MRT Bawah Tanah Pertama di Dunia, Jakarta Punya Depo MRT Pertama di Indonesia

Bagi Anda yang pernah berkunjung ke Singapura, tak lengkap rasanya jika belum merasakan sensasi dari salah satu sarana transportasi yang sudah menjadi tulang punggung warganya, yaitu Singapore Mass Rapid Transit (SMRT). Pada awalnya, pengadaan sarana transportasi publik yang dibangun di atas keterbatasan lahan tersebut merupakan sebuah rencana antisipasi pemerintah Singapura yang memprediksi bahwa volume kendaraan akan meningkat drastis dalam beberapa tahun ke depan. Akhirnya, setelah melewati beberapa tahap pertimbangan, pada 7 November 1987, jalur pertama dari MRT Singapura secara resmi dibuka.

Baca Juga: Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan

Layaknya kereta api konvensional, MRT pun menggarasikan moda-moda mereka di sebuah depo. Diantara sekian depo yang tersedia, satu yang paling menarik perhatian adalah Kim Chuan Depot (KCD). Lalu, apa yang menarik dari depo yang terletak di 11 Kim Chuan Road, Singapura ini? Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman railprofessional.com, ini merupakan depo bawah tanah pertama di dunia. Tidak hanya pertama, depo dengan luas area 11 hektar, mencakup panjang 800 meter, lebar 160 meter, dan kedalaman 23 meter, menjadikan KCD Singapura sebagai depo bawah tanah terbesar di dunia.

Sumber: railwaygazette.com

KCD secara resmi  dibuka pada 4 Maret 2009, seiring dengan penyerahan depo senilai $295 juta tersebut dari Land Transport Authority (LTA) ke pihak SMRT. Depo yang dapat menampung hingga 77 kereta ini juga “memelihara” kereta-kereta yang beroperasi Singapore’s Circle Line (CCL). Layaknya Air Traffic Controller (ATC) di dunia penerbangan, KCD pun melakukan pengawasan terhadap pengoperasian harian SMRT. Tidak hanya itu, KCD juga memilki kapabilitas untuk berkomunikasi dengan penumpang di atas kereta, memantau kondisi kereta melalui CCTV, dan siap tanggap akan keadaan darurat.

Jika di Singapura memiliki depo bawah tanah pertama di dunia, Indonesia juga diketahui tengah membangun sebuah depo MRT di daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan yang digalang-galang akan menjadi depo MRT pertama di Indonesia. Sarkasme ini bukan tanpa alasan mengingat Jakarta, yang merupakan kota terbesar di Asia Tenggara, tidak memiliki sistem metro hingga saat ini. Pembangunan MRT Jakarta masih terus bergulir dan direncanakan akan mulai mengular pada paruh pertama tahun 2019 mendatang.

Baca Juga: Sebagai Kota Terbesar di Asia Tenggara, Jakarta Justru Minus Jaringan Metro

Untuk memenuhi syarat dari hadirnya MRT di Jakarta, Lebak Bulus dipilih oleh PT Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) sebagai garasi dari armada-armada mereka. Dengan luas tanah mencapai 10 hektar, rencananya lokasi tersebut tidak hanya digunakan sebagai depo saja, melainkan pusat administrasi PT MRTJ.

Depo MRT Lebak Bulus. Sumber: KabarPenumpang.com

Depo yang berdiri di atas lahan eks Stadion Lebak Bulus ini juga nantinya akan menjadi stasiun awal perjalanan MRT. Maka tidak heran jika di dalam depo ini terdapat rel yang jika dibentangkan panjangnya mencapai 6.000 meter. Walaupun Anda belum bisa melihat depo ini sudah berbentuk dan siap digunakan, namun pengerjaan depo Lebak Bulus dan di sejumlah titik-titik lainnya masih dikebut agar bisa selesai tepat waktu.

Kereta Ekonomi India Sekarang, Gambaran Kereta Ekonomi Indonesia Era 80-an

Jika Anda sering mengeluh tentang fasilitas transportasi darat, khususnya kereta di Tanah Air, sebaiknya Anda lekas menarik kembali pernyataan tersebut. Pasalnya di belahan dunia lain, masih ada fasilitas kereta yang jauh dari kata layak. Jangankan untuk layanan dalam kota seperti Commuter Line yang ada di Jakarta, layanan kereta jarak jauhnya saja terkesan jauh dari kata nyaman. Dari mulai penumpang yang duduk di selasar gerbong, hingga fasilitas “AC alami” yang digunakan, semua bisa Anda saksikan di sini, walaupun tidak di semua layanannya.

Baca Juga: Kalau Sudah Lihat Ini, Masih Mau Mengeluh Mengenai Penuhnya KRL?

KabarPenumpang.com menghimpun dari laman bbc.com (23/9/2017), selain terkenal dengan produksi film Bollywood-nya, India yang dikenal sebagai “Anak Benua” ini menjadi negara yang cukup mumpuni dalam layanan perkeretaapian, sebuat saja di India sudah ada MRT (Mass Rapid Transit) dan kerete termewah di Asia, pun juga ada di India.

Namun, kontradiktif dengan hal diatas, layanan kerete kelas ekonomi di India justru tergolong memprihatinkan dan terkesan alakadarnya. Mari ulas dari bagian luar terlebih dahulu. Untuk kereta yang diberi label Ernad Express, merupakan layanan kereta ekspres yang dikelola oleh Indian Railways zona Selatan yang menghubungkan Bangalore dan Nagercoil. Jika diperhatikan, masing-masing gerbong dari kereta harian yang mengular sepanjang 690 km antara dua kota tersebut memiliki warna cat mencolok tapi sudah mulai pudar.

Sumber: bbc

Alih-alih menggunakan kaca, setiap gerbong dihiasi dengan teralis besi, membuat kereta ini semakin terlihat unik, minimalis, namun miris dipandang. Lain cerita dengan yang ditemui di salah satu layanan kereta lokal di Kolkata, dimana para pekerja yang menjadikan kereta ini sebagai tulang punggung transportasi mereka terlihat tertidur pulas di selasar gerbong, tanpa memperdulikan sekitar mereka. Sementara itu, di dalam foto yang diunggah ke jejaring sosial Instagram oleh Shanu Babar, salah satu pecinta kereta asal India, nampak susunan tempat duduk kereta tersebut mirip dengan KRL Jabodetabek.

Sumber: bbc

Belum lagi para peternak sapi perah yang membawa susu dengan menggunakan milk can  dan menggantungnya di teralis besi tersebut. Sungguh pemandangan yang tidak bisa kita lihat di negara lain, kecuali India. Adapun alasan para peternak tersebut menggantung milk can di luar karena tidak tersedianya tempat di dalam yang sudah penuh oleh “lautan manusia”.

Sumber: bbc

Situasi yang hampir serupa juga pernah terjadi di Indonesia, dimana kala itu perkeretaapian belum dikelola secara maksimal. Periode 1980-an, hewan ternak seperti ayam dan kambing masih diperbolehkan masuk ke dalam kereta dan duduk bersampingan dengan penumpang lainnya. Ditambah dengan bebasnya pedagang asongan menjajakan jualannya. Satu dekade berselang, masih belum ada perubahan yang signifikan dari si ular besi Indonesia.

Para penumpang yang tidak kebagian tempat duduk lebih memilih untuk ngampar di bordes, hingga di jendela yang sudah tidak berkaca. Belum lagi eksistensi para pedagangan asongan yang masih setia menjajakan jualannya. Belum lagi anak-anak kecil yang berlarian di selasar gerbong dan mengeluarkan teriakan serta kelakar khasnya, membuat kondisi di dalam kereta semakin semerawut.

Baca Juga: Maharajas Express, Kereta Termewah di Asia Bertarif Mulai Rp51 Juta

Kini semuanya sudah berubah. PT. KAI selaku operator dari kereta api dalam negeri selalu melakukan pembenahan dari berbagai aspek. Semua itu semata untuk meningkatkan pelayanan kepada para pelanggannya. Lalu, jika suasana chaos di dalam kereta api Indonesia terjadi pada tahun 80-an dan berhasil memperbaiki semua layanannya baru-baru ini, kira-kira kapan India bisa memperbaiki layanan kereta apinya?

Bukan Sekedar Isapan Jempol, Dubai Mulai Uji Coba Taksi Drone

Setelah beberapa waktu yang lalu Dubai menyatakan niatnya untuk menghadirkan sebuah moda transportasi udara untuk melayani masyarakatnya, kini kota yang terkenal dengan menara Burj Khalifa-nya tersebut baru saja menguji coba moda listrik berupa taksi drone dengan 18 rotor keluaran Volocopter.

Baca Juga: Terima Kucuran Dana Segar, Volocopter Fokus Kembangkan VTOL Andalannya

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari lama newatlas.com (26/9/2017), Otoritas transportasi di Dubai mengklaim bahwa idenya untuk menggunakan helikopter yang punya kemampuan Vertical Take-Off and Landing (VTOL) sebagai wahana transportasi sehari-hari akan menjadi layanan taksi drone pertama yang beroperasi di dunia. Diketahui, pihak Dubai menguji coba kendaraan bernama Volocpter 2X ini pada Senin (25/9/2017) kemarin. Kendaraan ini nantinya akan mengambil jatah seperempat dari keseluruhan perjalanan penumpang di kota tersebut pada tahun 2030 mendatang.

Pemandangan dari dalam Volocopter. Sumber: newatlas.com

Pihak Volocopter sendiri pertama kali muncul di tahun 2013 dengan mengedepankan pesawat terbang elektrik bermesin bandel. Dalam memastikan keseriusan Volocopter di bidang transportasi futuristik, sejumlah uji coba pun dilakukan, guna meminimalisir kesalahan teknis yang mungkin terjadi selama pengoperasiannya kelak. Diketahui, perusahaan asal Jerman ini mendapat sokongan dana dari Daimler, sesama perusahaan asal Negeri Bavaria dengan kucuran US$30 juta pada bulan Agustus kemarin.

Dalam pengoperasiannya kelak, Volocopter 2X dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mengangkut penumpang dari titik penjemputan hingga lokasi tujuan tanpa pilot alias otonom. Adapun kecepatan tertinggi yang dapat dicapai oleh helikopter nirawak ini mampu adalah 100 km per jam. Sementara untuk sekali angkut, taksi drone ini dapat menampung maksimal dua penumpang dengan waktu tempuh 30 menit.

Putra Mahkota Dubai Tengah Mengecek Volocopter 2X.Sumber: newatlas.com

“Taksi drone ini memiliki beragam fitur unik yang mencakup standar keamanan dan keselamatan tinggi, dan banyak redudansi di semua komponen penting seperti baling-baling, motor, sumber listrik, elektronika dan kontrol penerbangan,” ungkap HE Mattar Al Tayer, Direktur Jenderal dan Ketua Board of Executive Directors of Dubai’s Road and Transport Authority. “Dalam kondisi darurat, Anda bisa menggunakan parasut yang tersedia,” imbuhnya.

Baca Juga: Selangkah Lagi, Uber Akan Operasikan Taksi Udara

Putra Mahkota Dubai, Yang Mulia Sheikh Hamdan, menerima pengarahan dari pihak Volocopter tentang bagaimana taksi drone ini akan diintegrasikan dengan sistem transportasi umum lainnya dan bagaimana masyarakat dapat memesan penerbangan dan melacak jalur penerbangannya cukup melalui aplikasi smartphone. Uji coba taksi drone di Dubai ini akan berlangsung selama lima tahun ke depan.

Terdampak Sterilisasi Pelabuhan, Eksistensi Anak Pemburu Koin Kian Pudar

Anak koin atau anak pemburu koin, atau populer juga dengan sebutan silem sudah menjadi pemandangan khas di Dermaga Ferry Pelabuhan Merak sejak beberapa dekade silam, tidak diketahui persis kapan munculnya atraksi yang mengundang adrenalin ini. Dan faktanya tak hanya di Merak,  di beberapa pelabuhan Nusantara, aksi anak koin telah melekat dengan keberadaan anak-anak yang bermukim di perkampungan kawasan pelabuhan.

Anak pemburu koin dalam aksinya akan berebut uang yang dilemparkan para penumpang dari deck kapal ke laut, tentunya ini dilakukan saat kapal sedang sandar, terutama saat kapal sedang dalam proses loading. Meski atraksi anak koin lumayan menghibur, risiko yang dihadapi anak-anak usia sekolah ini sangat besar, insiden yang mengakibatkan luka serius sampai meregang nyawa cukup banyak dijumpai. Tak heran kemudian ada peraturan ketat dari ortoritas pelabuhan untuk membatasi ruang gerak anak-anak tersebut naik ke atas kapal.

Baca juga: Pelabuhan Bojonegara, Mungkinkah Jadi “Pesaing” Pelabuhan Ferry Merak?

KabarPenumpang.com merangkum dari beberapa sumber, faktanya bukan hanya sekedar menghibur, anak koin tidak menerima koinnya begitu saja. Karena mereka akan meminta kepada penumpang saat berada di atas kapal, jika penumpang meleparkannya ke laut, maka anak-anak tersebut akan terjun untuk mengambil koin. Tak ayal setelah menemukan koin, mereka akan menunjukkan kepada si pemberi sebagai ucapan terimakasih telah diberikan koin.

Mereka juga tidak pernah takut, sebab setiap melompat, tidak pernah terlihat raut muka takut. Fakta lainnya, anak koin ini juga perenang yang tangguh dan penyelam yang handal.

Kenapa? karena untuk mendapatkan koin yang dilempar penumpang mereka harus bisa berenang menyaingi teman-teman yang lainnya. Selain itu, untuk menemukan uang koin yang mungkin tenggelam ke air, mereka menyelam tanpa alat bantu sama sekali. Ya, ini menjadi catatan bahwa mereka harus memiliki kemampuan pernafasan yang baik. Belum lagi seperti di Pelabuhan Merak, penglihatan anak di bawah permukaan air sangat terbatas, lantaran warna air yang keruh.

Dari beberapa kasus, sebenarnya mereka bukanlah penganggu, tetapi pekerjaan menjadi anak koin sangatlah berbahaya. Anak koin bisa saja sewaktu-waktu terepeleset saat akan melopat dan badan mereka menghantam kapal atau tersedot baling-baling kapal yang bisa menghancurkan tubuh mereka. Tidak sekali dua kali, ditemukan anak koin yang tewas akibat terpeleset yang mengakibatkannya tewas. Sebelum adanya kejadian anak koin ini tewas pun, pemerintah sudah melakukan pelarangan adanya anak-anak yang mencari koin.

Baca juga: Mengenal Pelabuhan Merak, Gerbang Penyeberangan Tersibuk di Indonesia

Dengan adanya Permenhub Nomor 29 Tahun 2016 Tentang Sterilisasi Pelabuhan Penyeberangan, maka pelabuhan seperti halnya bandara, harus steril dari orang-orang yang tidak berkepentingan sesuai dengan aturan yang berlaku. Indra Setiawan, Deputy Branch Manager PT Mata Pensil Globalindo Cabang Merak menyebutkan, “Dengan penerapan sistem automatic ticketing bagi kendaraan dan penumpang, plus sterilisasi pelabuhan, aksi anak koin di Pelabuhan Merak sudah tidak banyak seperti dulu.” Namun Ia mengaku bahwa masih ada beberapa anak koin yang nekat menerobos masuk. “Jika ketahuan akan langsung diminta pergi oleh petugas keamanan, umumnya mereka masuk melalui gate motor atau dermaga lima. Masalah ini memang sudah mendapat penanganan serius karena mengancam keselamatan,” ujar Indra Setiawan kepada KabarPenumpang.com.

Meski paling kondang di Pelabuhan Merak, aksi anak koin juga dapat Anda jumpai di Pelabuhan lain, seperti Bakauheni, Gilimanuk dan Ajibata di Parapat, Sumatera Utara.

Sering Naik Kereta? Kini Saatnya Anda Mengenal Jenis dan Karakter Peron di Stasiun

“Apapun keretanya, turunnya ya di peron,” kalimat diatas menggambarkan betapa kuat arti peron dalam sistem perkeretaapian, khususnya yang ada di stasiun. Jika merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), peron memiliki arti tempat penumpang menunggu atau tempat turun naik kereta. Nah, jika Anda sedang berada di sebuah stasiun untuk menunggu kereta, coba perhatikan sekeliling Anda, bentuk peron di setiap stasiun ada yang sama dan banyak pula berbeda. Antara stasiun kecil dan stasiun besar mempunyai ciri peron tersendiri. Berikut, KabarPenumpang.com jabarkan empat jenis peron versi laman railsystem.net.

Baca Juga: Hindari Berebut Masuk KRL, PT KCJ Buat Garis Batas Antrean di Stasiun

Island Platform

Sumber: railsystem.net

Peron jenis ini ditempatkan di antara dua jalur kereta api, pemberhentian trem, atau persimpangan transitway. Dengan kata lain, peron ini mampu melayani dua jalur sekaligus. Island Platform juga dinilai berguna jika dipasang di stasiun-stasiun besar, karena dapat memudahkan operator kereta untuk memecah layanan kereta lokal dan ekspress dengan arah perjalanan yang sama.

Peron jenis ini sangat populer di dunia perkeretaapian modern karena beberapa keuntungannya, salah satunya adalah memungkinkan pemasangan fasilitas penunjang seperti eskalator, lift, toilet, dan ruang tunggu yang dapat digunakan oleh penumpang dari kedua jalur tersebut. Penggunaan peron jenis ini juga meminimalisir timpangnya kepadatan penumpang di sebuah stasiun yang mengadopsi dua peron bersebrangan. Pada umumnya, layanan kereta menuju daerah perkotaan selalu ramai di pagi hari, begitupun sebaliknya.

Biaya perawatan dari peron jenis ini juga dinilai lebih ekonomis karena cukup mengeluarkan biaya perawatan satu peron untuk dua jalur sekaligus, tidak seperti peron-peron lainnya. Anda dapat melihat peron jenis ini di stasiun-stasiun besar di Ibu kota, seperti Gambir, Manggarai, dan Jatinegara.

Side Platform

Sumber: railsystem.net

Ini merupakan tipe platform yang biasanya ditemui di stasiun-stasiun kecil dengan dua lintasan, seperti stasiun Gondangdia, Tebet, dan Buaran. Sepasang peron di pasang di sisi stasiun dengan rel yang membelah keduanya. Peron tipe inilah yang selalu ramai di satu sisi ketika pagi, dan sisi lainnya di malam hari. Jika dilihati dari pengaplikasiannya di Ibu Kota, untuk menyebrang ke sisi lain peron, Anda harus melewati sebuah jembatan atau underpass, karena sangat berbahaya jika penumpang melintas dua jalur sekaligus.

Split Platform

Sumber: railsystem.net

Peron jenis ini lebih dikenal dengan peron bertingkat, dimana antara satu peron dengan peron lainnya berada di satu garis vertikal sejajar. Biasanya, konfigurasi split platform digunakan di stasiun yang tidak terlalu luas secara horizontal, maka dari itu para otoritas lebih memilih untuk membangunnya secara vertikal, baik ke atas maupun ke bawah. Hanya ada satu stasiun di Indonesia yang menggunakan peron bertingkat, yaitu Stasiun Kampung Bandan, Jakarta.

Stasiun Kampung Bandan. Sumber: youtube.com

Baca Juga: Terowongan Stasiun Manggarai, Optimalkan Keselamatan Calon Penumpang

Flow-Through Platform

Sumber: railsystem.net

Penggunaan peron ini memungkinkan penumpang yang hendak naik kereta menggunakan peron khusus dan penumpang yang hendak turun kereta menggunakan peron di sisi lain. Bisa dibilang, ini merupakan gabungan dari island platform dan side platform, dimana penumpang naik dari island platform dan turun menggunakan side platform. Keuntungan dari penggunaan peron ini adalah meminimalisir senggolan yang mungkin terjadi antara penumpang yang hendak naik dan turun kereta. Walaupun peron jenis ini jarang digunakan karena pertimbangan biaya operasional yang tinggi, namun peron ini terbukti dapat mengurai kepadatan yang terjadi di stasiun.

Misterius, MacBook Tiba-Tiba Terbakar dan Meledak Di Dalam Mobil

Sebuah MacBook dilaportkan terbakar dan meledak di kursi penumpang mobil saat pemiliknya dalam perjalanan menuju tempat kerja. Kejadian terbakarnya laptop tersebut membuat pengemudi menghentikan mobil dan keluar untuk menyelamatkan diri.

Baca juga: Bawa Komputer Full Set, Wanita Ini Mendadak Viral

Dilansir KabarPenumpang.com dari cornwalllive.com (21/9/2017), mobil tersebut dikendarai oleh Thomas Riches pada Rabu (20/9/2017) saat dirinya berangkat kerja dan mengemudi dari rumahnya di Paignton menuju Newton Abbot, Inggris. Ketika itu dia membawa Apple MacBooknya kemudian meletakkan di kursi penumpang dan tiba-tiba laptop yang berada di tasnya mengeluarkan asap.

“Saya sedang mengemudikan mobil untuk bekerja ketika saya terlibat insiden dalam mobil sendiri, dimana mobil saya terbakar karena laptop tiba-tiba mengeluarkan asap,” ujar Riches.

MacBook yang terbakar (www.cornwalllive.com)

Menurut Riches, dirinya sangat beruntung dan bisa membuat orang lain sadar bahwa hal tersebut bisa menimpa siapapun dan kapanpun. Untungnya saat kejadian, Riches berhasil untuk tetap tenang dalam menghadapi situasi dan menepikan mobilnya agar bisa keluar untuk menyelamatkan diri sambil mencari bantuan dan menelpon pemadam kebakaran.

“Saat saya menepikan mobil, ada van putih yang melihat kejadian ini, pemilik van tersebut kemudian menepikan mobilnya dan mengeluarkan pemadam api. Beberapa menit kemudian, pemadam kebakaran juga tiba untuk memadamkan api di mobil,” ungkap Riches.

Setelah api berhasil dipadamkan, pihak pemadam kebakaran menjelaskan sumber api berasal dari baterai laptop dan membakar semua dokumen kertas yang berada di dalam tas. Dia mengatakan, bahwa saat kebakaran terjadi, laptop berada dalam mode tidur (sleep mode) dimana dalam mode tersebut laptop hanya bekerja dengan daya rendah dan seharusnya tidak menyebabkan kebakaran.

Baca juga: Ikuti Aturannya, Laptop Aman Digunakan Dalam Penerbangan

“Untungnya ini terjadi di mobil, jika terjadi di rumah dan saat itu saya beserta ketiga anak kami tertidur siapa yang bisa tahu kalau terjadi kebakaran. Sekarang saya benar-benar tidak ingin berpikir terlalu rumit untuk masalah ini,” tambahnya.

Seorang juru bicara Devon and Somerset Fire and Rescue mengatakan, ini adalah api yang melibatkan sebuah laptop di kursi penumpang mobil dengan penyebab yang tidak disengaja. Atas insiden ini, MacBook milik Riches dibawa ke kantor Apple untuk diketahui penyebab pasti laptop tersebut meledak dan terbakar.

Alami Kerugian, Garuda Bekukan Kiriman Armada dari Boeing dan Airbus

Maskapai penerbangan plat merah kebanggaan nasional, PT Garuda Indonesia Tbk. tengah dalam perbincangan serius dengan pihak manufaktur pesawat, Airbus SE dan Boeing Co. Diketahui, pihak Garuda berencana untuk menunda pengiriman 20 pesawat yang mereka pesan. Bukan tanpa alasan, pihak Garuda mengatakan akan berusaha untuk lebih memanfaatkan armada yang ada dan meminimalisir pengeluaran mereka saat ini.

Baca Juga: Douglas DC-8: Lambang Supremasi Penerbangan Jarak Jauh Garuda Indonesia di Era 60/70-an

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman reuters.com (22/9/2017), Garuda Indonesia dan anak perusahaannya, Citilink, seharusnya telah menerima pengiriman pesawat tersebut selama dua tahun. “Hingga periode 2019,” ungkap Chief Executive Garuda Indonesia, Pahala Mansury, tanpa membeberkan detail tanggal untuk pengiriman unit baru.

Garuda melaporkan kerugian bersih perusahaan yang meluas di paruh pertama tahun 2017, sebagian dari kerugian tersebut disebabkan oleh biaya untuk berpartisipasi dalam skema amnesti pajak yang diterapkan oleh pemerintah. Setelah menghitung kerugian tersebut, perusahaan yang dikendalikan oleh pemerintah ini juga meminta persetujuan untuk mengubah persyaratan tertentu pada obligasi sukuk global senilai $500 juta yang akan jatuh tempo pada tahun 2020.

Jika ditarik kesimpulan, mungkin penundaan pengiriman ini merupakan dampak dari kerugian yang mereka alami. “Kami ingin fokus pada optimalisasi armada yang ada,” kata Pahala. Lebih lanjut, Pahala masih memilih untuk bungkam ketika ditanya model pesawat apa yang ditunda kedatangannya oleh pihak Garuda. Namun,  juru bicara Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan mengatakan bahwa salah satu jenis pesawat yang akan ditunda pengadaaannya adalah Airbus A320 yang akan digunakan oleh Citilink.

Baca juga: Airbus A320Neo – Tawarkan Kabin Lebih Senyap, Inilah Pesawat Terbaru Citilink

Seorang juru bicara dari pihak Boeing mengatakan bahwa perusahaan tersebut menjalin kerja sama dengan banyak maskapai, salah satunya adalah Garuda Indonesia. Layaknya kebanyakan pelanggan mereka, Boeing seolah sudah paham betul tentang dalih mengoptimalkan armada yang dilontarkan pihak Garuda. Sedangkan rekanan Garuda lainnya, Airbus memilih untuk menutup mulut ketika ditanya soal diskusi yang mereka lakukan dengan pihak Garuda. Menurut buku pesanan Airbus dan Boeing, Citilink memiliki 25 pesawat A320neo dan Garuda memiliki 50 pesawat Boeing 737 MAX secara berurutan.

Gunakan Ballasted dan Non Ballasted Track, Panjang Rel MRT Jakarta Mencapai 36 Ribu Meter

Bentang rel MRT (Mass Rapid Transit) dari Stasiun Lebak Bulus hingga ke Stasiun Bunderan Hotel Indonesia nantinya mencapai 16 kilometer. Dan sampai saat ini, sudah 3 persen jalur rel yang terpasang, atau kurang lebih sekitar 1.300 meter. Tapi tahukah Anda, bahwa total panjang rel yang akan ditanamkan PT MRT Jakarta dalam pembangunan fase I ini mencapai 36 ribu meter.

Baca juga: Sejak 2013, Proyek MRT Jakarta Telah Menyerap Dana Rp5 Triliun

Silvia Halim, direktur konstruksi PT MRT Jakarta dalam acara Forum Jurnalis dan Blogger September 2017 menyebutkan, bahwa total panjang rel 36 ribu meter dibutuhkan untuk jalur rel utama sepanjang 16 ribu meter dan kebutuhan rel di depo Lebak Bulus yang mencapai 6 ribu meter. “Keseluruhan rel masih didatangkan dari Jepang, namun untuk bantalan rel 60 persen sudah dapat dipasok oleh industri di dalam negeri,” ujar Silvia Halim kepada KabarPenumpang di Balai Kota (28/9).

Lebih jauh, wanita lulusan Nanyang Technological University Singapore jurusan Teknik Sipil ini juga memaparkan tentang jenis struktur track yang digunakan pada proyek MRT Jakarta. Dalam penjelasannya disebutkan ada tiga lokasi penempatan track, yakni di depot, struktur layar dan struktur bawah tanah. Untuk gelar track di kawasan depot mengadopsi ballasted track, serupa dengan adopsi rel yang telah digunakan pada jalur track milik PT KAI.

Sementara yang berbeda ada di struktur layar dan struktur bawah tanah, yaitu mengusung non ballasted track. Yang disebut terakhir ini menjadi sesuatu yang baru di Indonesia, elemen track tanpa ballast ini terdiri dari rel, fastening system, insulator, rail pads, sleeper dan resilient yang terpasang pada struktur beton, dek beton (viaduct) atau pada stuktur beton bawah tanah (non ballasted track). Teknologi ini sudah diaplikasikan di Jepang sejak tahun 1980-an.

Baca juga: Ingin Menikmati Sensasi Kereta Cepat, Bentang Lebar Rel Harus Diganti

ballasted track.

Sebaliknya untuk sistem ballasted track yang sudah umum dipakai PT KAI, balas berfungsi untuk meneruskan dan menyebarkan beban bantalan ke tanah dasar, mengkokohkan kedudukan bantalan dan meloloskan air sehingga tidak terjadi genangan air di sekitar area yang dapat mengakibatkan kerusakan struktur bawah jalan. Agar ada sinergitas dengan layanan moda berbasis rel milik PT KAI, lebar rel (gauge) atau lebar poros roda yang digunakan pada jalur MRT Jakarta adalah 1.067 mm.

Tingkatkan Keselamatan Penerbangan, Lion Air Group Gandeng Ideagen Coruson

Sebagai salah satu penyedia layanan penerbangan terbesar di Indonesia, Lion Air Group diketahui tengah berusaha untuk meningkatkan manajemen keselamatan penerbangannya. Dalam usahanya tersebut, Lion Air Group menggaet Ideagen, sebuah perusahaan yang menelurkan perangkat lunak berbasis cloud, Ideagen Coruson dari Inggris.

Baca Juga: Gandeng BMKG, UnDip dan Lion Group, KNKT Kembangkan Sistem Informasi/Peringatan Dini di Bandara

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman enterpriseinnovation.net (21/9/2017), nantinya perangkat lunak ini akan diimplementasikan sebagai solusi keselamatan, pelaporan masalah, dan manajemen risiko secara menyeluruh. Ideagen Coruson akan memberikan Lion Air Group wewenang pengawasan di enam Air Operator’s Certificate (AOC) yang berafiliasi dengannya dan memberikan data kinerja secara terperinci. Data tersebut berisikan himbauan agar perusahaan terkait segera menyoroti kelemahan dan resiko keamanan potensial, seperti yang terkait dengan kasus faktor kebugaran pilot atau insiden selama penerbangan.

Coruson akan menggantikan sistem pendahulunya, membantu memperkokoh budaya keselamatan penerbangan melalui fungsi kekinian, seperti smart form, penandaan GEO, dan penggunaan aplikasi seluler untuk pelaporan terperinci. “Ideagen Coruson akan menjadi solusi keamanan yang berkualitas dan akan melayani fungsi yang dapat memperluas jangkauan area di suatu daerah, terutama pelaporan keselamatan dan manajemen resiko,” ungkap Jose Fernandez, Group Safety and Quality Director Lion Air Group.

“Sistem kami saat ini tidak menawarkan cara mudah untuk mengukur kinerja keselamatan di seluruh afiliasi kami, yang mengakibatkan kesulitan saat mencoba menilai kinerja maskapai secara keseluruhan. Ideagen Coruson merupakan jawaban dari semua kekurangan tersebut,” imbuh Jose. Diketahui, Lion Air Group sendiri memiliki lebih dari 182 rute penerbangan, baik dalam maupun luar negeri. Untuk penerbangan luar negeri, perusahaan yang berbasis di Jakarta ini membuka jalur menuju Singapura, Malaysia, Australia, India, Cina, dan Arab Saudi.

Baca Juga: Lion Air, Punya Citra Buruk Soal Keterlambatan Jadwal Penerbangan

“Coruson dapat diukur dan nilai utama yang akan kita lihat dari sistem ini adalah skalabilitas dan kemudahan penyebarannya di tiga negara dan enam AOC yang kami miliki saat ini,” kata Jose. Sehubungan dengan perkembangan penerbangan di dalam negeri yang terus berkembang dengan pesat, Jose mengatakan pihak Lion Air Group akan berusaha untuk mengimbangi laju perkembangan tesebut.

“Jumlah layanan yang bisa kami tawarkan akan terus bertambah karena pasar penerbangan di Indonesi terus berkembang,” tuturnya. “Kami rasa, perangkat lunak ini akan cocok dengan rencana pertumbuhan Lion Air Group yang ambisius.” Tutup Jose. Diketahui, Ideagen saat ini memiliki lebih dari 300 klien penerbangan di seluruh dunia, termasuk Emirates, International Airlines Group, Ryanair, Thomas Cook, Flybe dan KLM. Selain Lion Air Group, maskapai AirAsia dari Malaysia diketahui juga menggunakan jasa aplikasi dari Ideagen Coruson.

Kereta Peluru Fuxing Akhirnya Kembali Merajai Dunia Kereta Api Cina

Otoritas layanan transportasi di Cina baru-baru ini kembali meluncurkan kereta peluru yang beroperasi antara Beijing dan Shanghai pada Kamis lalu. Kecepatan kereta ini mencapai 350 kilometer per jam atau 217 mil per jamnya. Dilansir dari rt.com (21/9/2017), kereta ini disebut Fuxing atau peremajaan kembali dan menawarkan fitur baru yang melengkapi kursi kereta seperti port listrik, port USB dan jaringan WiFi gratis.

Baca juga: “Drone” Jatuh di Lintasan Rel, Kereta Cepat 300 Km Per Jam Aktifkan Rem Darurat

“Kereta ini sangat sangat populer sehingga tiket untuk pelayanan hari ini terjual habis seminggu yang lalu,” ujar salah seorang pejabat Cina Railway Corporation (CR), Huang Xin. Kereta ini menghubungkan Ibu Kota Cina di Utara yakni Beijing dengan pusat bisnis utama di Selatan yaitu Shanghai dengan penumpang sekitar 100 juta orang per tahunnya. Fuxing sendiri menempuh jarak 1.200 kilometer hanya dalam waktu empat setengah jam dan lebih cepat dua jam bila dibandingkan dengan kereta peluru generasi sebelumnya.

“Kereta api berkecepatan tinggi Beijing – Shanghai ini dibangun dengan standar tertinggi di dunia. Kereta Fuxing dirancang untuk perjalanan pada kecepatan 350 kilometer per jam. Mengoperasikan Fuxing pada rute ini dengan kecepatan 350 km per jam tanpa adanya pertanyaan keamanan, kehandalan dan kenyamanan,” ujar General Manager CR, Lu Dongfu.

Diketahui, kereta ini akhirnya kembali beroperasi setelah enam tahun lalu pengoperasiannya di batasi, karena pada Agustus 2008, saat pertama dioperasikan dengan kecepatan 350 km per jam, terjadi tabrakan dua kereta yang menewaskan 40 orang. Sehingga tahun 2011, kereta ini hanya bisa berjalan dengan kecepatan 250 – 300 km per jam.

Baca juga: The Dolphin Blue dan Golden Phoenix, Kereta Peluru Terbaru Tembus 400Km Per Jam

Tidak hanya dibatasi kecepatannya saja, perusahaan pembuat kereta api terbesar kedua Cina yaitu China CNR Corp Ltd menarik kembali 54 kereta api cepatnya dengan alasan keamanan penumpang. Saat ini, Cina sudah memiliki layanan kereta cepat dengan jalur khusus lebih dari 20 ribu km dan tahun 2020 mendatang ditargetkan akan menambah 10 ribu kilometer.

Hingga kini, dari kabar yang beredar di media lokal, Cina telah menjual kereta berkecepatan tinggi ini ke Rusia, Iran dan India. Pihak CR sendiri mengklaim bahwa kereta Fuxing ini dapat digunakan di iklim yang ekstrem, sehingga membuat mereka lebih kompetitif di pasar global. Kabarnya CR juga akan memasok kereta cepat untuk jalur Jakarta – Bandung.