Bagi Penderita Autis, Ternyata Naik Kereta Merupakan ‘Cobaan’ Berat

Ilustrasi Anak Autis. Sumber: istimewa

Selain menawarkan kecepatan, ternyata satu poin penting yang jadi incaran para penumpang kereta adalah keberangkatannya yang terjadwal, baik itu layanan jarak jauh atau hanya sekedar kereta komuter. Maka tidak heran jika moda ini selalu ramai dipenuhi oleh penumpang. Namun, pernyataan tersebut seolah tidak berlaku bagi penderita autis. Alih-alih merasakan kelebihan yang ditawarkan oleh penyedia jasa layanan kereta api, mereka malah merasakan cemas berlebih saat menumpangi kerera.

Baca Juga: Apa Kabar Fasilitas “Khusus” Bagi Penumpang?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman scotsman.com (4/4/2018), sebuah survei menunjukkan bahwa sembilan dari 10 penderita autis mengalami perubahan tak terduga dalam diri mereka ketika menggunakan sarana transportasi umum, dimana perubahan tersebut berdampak pada meningkatnya tingkat kecemasan dalam diri mereka. Gangguan selama perjalanan memang dapat membuat frustasi sebagian orang, namun penderita autis akan merasakannya seperti tanda-tanda akhir jaman.

Fiona McGrevey dari The National Autistic Society Scotland mengemukakan bahwa sekitar 52 persen penderita autis mengatakan takut untuk menggunakan jasa transportasi umum seperti bus atau kereta api. Kecemasan berlebih yang melanda mereka akhirnya seolah menjadi bumerang, karena semakin sulit untuk melakukan mobilitas menggunakan sarana transportasi umum. Hal tersebut menjadi konsentrasi bagi sebagian orang, karena mereka khawatir orang-orang ‘berkebutuhan khusus’ ini semakin terisolasi secara sosial.

Salah seorang penyandang autis bernama Christopher asal Girvan, Ayrshire mengaku mengalami kecemasan setiap harinya ketika ia naik kereta bawah tanah menuju Glasgow Botanic Gardens. Kepada Fiona, Christopher mengaku bisingnya kereta dan guncangan yang ditimbulkan sangat mempengaruhi kondisi kejiwaannya. Untuk mengatasinya, Christopher harus menutup mata dan telinganya. Namun ia hanyalah manusia biasa yang tetap memiliki rasa malu, maka dari itu ia selalu berharap perjalanan tersebut cepat berakhir.

Survei terbaru dari The National Autistic Society Scotland menemukan bahwa 67 persen publik menampilkan reaksi negatif seperti memperhatikan secara tidak wajar, hingga berkomentar ketika penderita autis ini mencoba menenangkan diri mereka dengan bertepuk tangan atau mengayun-ayunkannya.

Baca Juga: Jepang Punya Taksi Khusus Ibu Hamil, Indonesia Punya Taksi Khusus Kaum Difabel!

Beberapa penderita autis mengatakan bahwa bepergian dengan menggunakan sarana transportasi umum akan lebih mudah bagi mereka jika didampingi oleh seseorang yang dapat diajak berbicara selama perjalanan. Tapi patut diingat, tidak semua penderita autis akan merasa nyaman dengan opsi di atas, bahkan ada beberapa di antara mereka yang hanya membutuhkan ruang dan respon positif dari lingkungan sekitarnya.