Stasiun Kalimenur, Terlupakan dan Pernah Hancur Akibat Bom

Stasiun Kalimenur yang dulu juga disebut stasiun Tahu, kini tak lagi beroperasi

Jejak sejarah stasiun di Indonesia begitu beraneka ragam, mulai dari pembangunannya, jalur kereta hingga bahkan apa yang terjadi di stasiun tersebut. Seperti salah satu stasiun yang ada di Kulon Progo yakni stasiun Kalimenur.

Baca juga: Museum Kereta Api Bondowoso, Saksi Sejarah Gerbong Maut Pengangkut 100 Pejuang Kemerdekaan

Stasiun ini ternyata pernah di bom oleh Belanda pada masa revolusi tahun 1948 silam dan hampir hancur. Namun, hal tersebut tak membuat Indonesia gentar, melainkan Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) kembali membangun stasiun ini dan meresmikannya menjadi stoplat atau stasiun mini yang merupakan lokasi pemberhentian sementara kereta tahun 1954 lalu.

KabarPenumpang.com mendapatkan fakta, stasiun yang kini sudah dinonaktifkan tersebut kondisinya sangat lusuh, terabaikan dan banyak vandalisme. Hal ini dikarenakan sejak 44 tahun lalu stasiun ini tak lagi beroperasi. Penghentian operasional stasiun Kalimenur dilakukan pada 1974, karena stasiun ini dianggap tak layak menjadi pemberhentian kereta berkecepatan tinggi. Sebab posisi stasiun sangat tidak strategis dan berada di tikungan besar Kalimenur.

Tampak samping stasiun Kalimenur dengan nama dan ketinggian stasiun yang masih jelas meski sudah usang

Stasiun Kalimenur sendiri berada di ketinggian +35 meter dan berada di Sukoreno, Sentolo, Kulon Progo, tepatnya di antara Stasiun Sentolo dan Stasiun Wates. Pembangunanya diperkiran pada masa yang sama dengan pembangunan jalur kereta Surabaya-Cilacap tahun 1876-1888. Dulunya stasiun ini juga dikenal dengan stasiun Tahu.

Adapun penyebutan stasiun Tahu, karena mayoritas penumpang kereta yang berangkat melalui stasiun tersebut adalah penjual tahu dari Desa Tuksono yang akan berjualan ke Yogyakarta atau Kutoarjo. Para pedagang tersebut tak hanya menjadi penumpang dan naik kereta dari stasiun Kalimenur, melainkan juga berjualan di sekitar stasiun baik tahu matang yang sudah digoreng ataupun mentah.

Ternyata tak hanya para pedagang tahu, pengguna lain stasiun ini adalah pedagang sayur, ternak dan para pelajar Kulon Progo yang akan bersekolah ke Yogyakarta. Sebenarnya dengan adanya stasiun, daerah Kalimenur sangat beruntung, karena saat itu kereta api menjadi moda transportasi yang dapat menjangkau daerah lain dibanding moda lainnya.

Baca juga: Stasiun Cibatu, Nuansa Vintage Yang Tak Lekang Ditelan Zaman

Tak hanya cepat, tarif kereta api juga pada masa itu cukup terjangkau. Meski tak lagi beroperasi, kini stasiun Kalimenur dijadikan tempat beristirahat oleh warga dan pecinta kereta yang hendak menyaksikan atau mengabadikan momen dimana kereta api yang sedang menikung di tikungan Kalimenur. Dibangunan stasiun tersebut juga masih terlihat jelas nama stasiun dan ketinggian stasiun.