Sensor 3D Vayyar, Pasangan Cocok Untuk Mobil Otonom

Dewasa ini, ada banyak perangkat sensor yang dikembangkan oleh pemasok komponen di industri kendaraan otonom untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang apa yang terjadi di luar mobil, namun sensor 3D yang dikembangkan oleh Vayyar memberikan tampilan lebih rinci di dalam mobil, termasuk informasi tentang penumpang. sensor 3D tersebut juga tidak menggunakan pengambilan gambar optik, jadi hasil yang didapatkan punjauh lebih baik daripada hasil kamera, dan juga dapat berfungsi walaupun pencahayaan kurang memadai.

Baca Juga: Fasilitasi Olimpiade 2020, Tokyo Canangkan Penggunaan Mobil Otonom

Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman techcrunch.com (13/7/2017), sensor tertanam ini juga memiliki bentuk yang kecil dan tidak terlalu menguras kocek dibandingkan dengan perangkat yang memiliki fungsi serupa lainnya, dan dapat memberikan info real time tentang apa yang terjadi di dalam mobil, termasuk memantau tanda vital penumpang, dan bahkan mencatat apakah pengemudi mengangguk di belakang roda. Melihat keunggulan ini, para produsen mobil otonom lalu mulai melirik sensor 3D milik Vayyar, karena dinilai dapat membantu memantau kondisi yang seharusnya dilakukan oleh seorang pengemudi.

Selain itu, mobil otonom juga bisa menggunakan teknologi ini untuk mengoptimalkan keamanan dan keselamatan penumpang, dan menjadi penanda lokasi kendaraan yang akurat jika terjadi kecelakaan. Layanan in-vehicle mobil otonom masa depan juga bisa memanfaatkan teknologi serupa,seperti menyesuaikan tampilan dan pengiriman info di display mobil dan memodifikasi kontrol lingkungan.

Vayyar juga mencatat bahwa sensor tersebut dapat digunakan secara otomatis untuk mendeteksi dan mengirim informasi tentang orang yang selamat di dalam kendaraan jika terjadi kecelakaan, yang berpotensi memberi respon darurat tahap awal. Selain pemantauan interior, sensor 3D yang dibuat oleh Vayyar juga memiliki aplikasi dalam hal pemantauan area yang berada disekitar kendaraan. “Menghapus semua blind spot” menurut salah satu sumber dari perusahaan tersebut. tanpa melibatkan soal tingkat cahaya yang biasanya menghambat, dan halangan yang berasal dari alam, seperti kabut atau panas yang ekstrim. Oleh sebab itu, perangkat ini dinilai lebih ampuh dan memantapkan keunggulan mereka dibandingkan perangkat penguat optik lain.

Baca Juga: Waymo Pastikan Penumpang Mobil Otonom Aman Dengan Teknologi Ini

Selain rentetan keunggulan yang sudah dijabarkan di atas,Vayyar juga memiliki orang-orang hebat yang berada di balik sejumlah keunggulan tersebut, salah satunya adalah CEO dan pendiri Raviv Melamed, yang sebelumnya merupakan VP Intel Architecture Groupu dan GM Worldwide Mobile Wireless Group.

Lho! Di Emirates, Ada Sampanye Sisa Dituang Ke Dalam Botol

Bagaimana perasaan Anda saat berada di pesawat dan meminum sampachampagne sisa dari gelas-gelas orang? Mungkin bila Anda mengetahuinya, Anda tidak akan meminum apalagi mencobanya.

Hal ini terjadi di sebuah maskapai terkenal yakni Emirates, dimana terekam dalam sebuah video seorang penumpang melihat awak kabin yang menuang sisa champagne dari gelas ke botolnya. Dilansir KabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk (14/7/2017), video ini sudah ribuan kali ditonton oleh netizen dan menyebutkan bahwa hal tersebut sangat menjijikkan.

Baca juga: Tanggapi Pelarangan Gadget di Kabin, Emirates Airlines Buat Iklan Lucu di YouTube

Diketahui, rekaman penuangan kembali sampanye bekas ke botolnya, diambil ada kelas bisnis Emirates yang direkam oleh seorang perempuan berkebangsaan Rusia yakni Yevgeny Kayumov di atas pesawat A380 dalam perjalanannya ke Dubai. “Saya secara tidak sengaja memfilmkan video ini, dan bahkan tidak menyadari saat ini saat ini, menuangkan Champagne yang belum selesai kembali ke dalam botol,” tulis Kayumov melalui instagramnya dengan tagging Emirates.


Dalam akunnya tersebut Kayumov juga menanyakan apakah ini adalah kebiasaan Emirates? Adanya postingan ini, beberapa pengikut Kayumov akhirnya berbagi keluh kesah dengan masalah champagne yang di isi ulang ke dalam botolnya dari gelas.

Baca juga: Emirates Hadirkan Aplikasi Augmented Reality di Udara, Bisa Diakses dari Smartphone Android dan iOS

Adanya hal ini, salah seorang juru bicara Emirates mengatakan, bahwa maskapai Emirates selalu berusaha memberikan layanan dengan kualitas terbaik. Tindakan yang terekam dalam video tidaklah sesuai dengan standar kualitas Emirates.

“Kami sedang menyelidiki kejadian ini,” ujar juru bicara tersebut. Insiden tersebut tempaknya melibatkan champagne gratis yang tidak disalurkan kepada penumpang setelah mereka naik pesawat. Beberapa komentar mengatakan, ada kemungkinan cara tersebut cara nyaman untuk membuang cairan yang tidak terpakai. Selain itu salah seorang awak kabin memberikan komentarnya terkait masalah tersebut.

Baca juga: Inilah 10 Penerbangan “Direct Flight” dengan Waktu Terlama di Dunia

“Saya adalah seorang awak kabin, apa yang saya pikirikan sedang terjadi di sini adalah bahwa petugas tersebut mungkin menuang champagne yang tidak terpakai dalam botol sesaat sebelum lepas landan dan kemudian di buang setelah lepas landas,” ujar awak kabin tersebut.

Yang lainnya mengatakan, bahwa, setiap awak kabin tak diizinkan membuang barang saat di lapangan. “Aku yakin mereka menuangkan semuanya kembali dalam botol seingga mereka kemudian mencurahkannya pada botol dan membuangnya ke tempat sampah sebelum lepas landas,” ujar awak kabin lainnya.

Garap Potensi Wisata, Indonesia Tawarkan Penerbangan Langsung ke Myanmar

Dibanding Vietnam dan Kamboja, Myanmar jauh lebih sepi didatangi oleh tamu asing, lantaran pemerintahan yang masih dipimpin Junta Militer membuat iklim usaha dan wisata di Negeri asal Aung San Suu Kyi ini kurang menarik dan terlihat ‘mengerikan’ untuk didatangi. Namun perlahan, negara anggota ASEAN ini mulai berbenah, mulai ada sentuhan demokrasi dan berbagai sanksi internasional untuk Myanmar telah dicabut.

Menyikapi peluang Myanmar yang kini mulai membuka diri, pada 14 Juli 2015 lalu, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Dr Ito Sumardi mengatakan bila Myanmar Airlines International (MAI) dan Garuda Indonesia telah menandatangani kesepakatan kerjasama, namun sayangnya sampai saat ini tidak ada kelanjutan tentang langkah kerjasama tersebut.

Baca juga: Lakukan Go Around, Pilot Garuda Indonesia GA425 Selamatkan Penerbangan dari Petaka

“Sayangnya Myanmar belum siap untuk mengizinkan penerbangan langsung dari Indonesia ke Myanmar saat itu. Saya masih berusaha keras untuk meminta Myanmar, jika memungkinkan kita bisa mengatur penerbangan dari Jakarta ke Yangon karena di Indonesia banyak orang ingin berkunjung ke Myanmar,” kata Sumardi yang dikutip KabarPenumpang.com dari mmtimes.com (17/7/2017).

Sumardi menagatakan, dirinya akan mencoba untuk meminta pemerintah Myanmar agar memberi kesempatan bagi Indonesia bisa membuka penerbangan langsung ke Myanmar. Apalagi keadaan ekonomi Myanmar yang mulai berubah setelah pencabutan sanksi internasional tahun lalu dan Myanmar menawarkan potensi besar bagi investor asing yang akan merambah ekonomi negara yang dulu dikenal sebagai “Birma.”

Baca juga: Pulau Rote, Strategis Bagi Perbatasan, Inilah Keindahan di Ujung Selatan Indonesia

“Kedubes kami berupaya membawa delegasi bisnis Indonesia untuk melihat peluang investasi di sini (Myanmar). Semoga nanti salah satu organisasi dari Indonesia dapat mempromosikan bisnis pariwisata,” ujar Sumardi.

Hingga kini diketahui, jumlah kunjungan wisawatan Myanmar ke Indonesia meningkat. Wakil Direktur Kementerian pariwisata Indonesia, Pupung Thariq Fadhillah mengatakan, saat ini sudah ada sekitar 25.000 pelacong Myanmar ke Indonesia tahun 2015 lalu. Tak hanya itu, untuk pertama kalinya Kementerian Pariwisata Indonesia bersama dengan 10 operator berangkat ke Myanmar untuk mempromosikan kegiatan pariwisata antar kedua negara.

Baca juga: Desa Pelangi, Ubah Wilayah Padat dan Kumuh Jadi Tujuan Wisata

“Sebenarnya ini adalah acara singkat untuk promosi pariwisata, kami akan melakukan langkah demi langkah dalam jangka panjang. Dengan melakukan kegiatan ini kita bisa mendapatkan kontak bisnis dan mitra dari kedua negara, “kata Fadhillah. Dia menambahkan, Indonesia berencana untuk menyelenggarakan acara serupa di bulan September di Myanmar. Ini karena sangat penting untuk menghubungkan kedua negara, khususnya agar menuju Myanmar tak perlu harus transit di Bangkok (Thailand), Singapura ataupun Malaysia. “Saya harap frekuensi penerbangan akan meningkat sepanjang tahun, “katanya.

Hingga kini salah satu maskapai yang memiliki rute Indonesia menuju Yangon hanya Jetstar Airlines dan itupun tetap transit di Singapura. Managing Director Electra Tour, Robbie Arisutantyo mengatakan, bahwa masa depan pariwisata Myanmar sangat bagus, dan banyak hal menarik di dalmnya sehingga pihaknya bisa menjual paket wisata ke masyarakat di Indonesia.

Baca juga: Pulau Miangas, Garda Terdepan Yang Eksotis di Utara Indonesia

“Acara ini akan mendorong lebih banyak orang untuk melakukan perjalanan ke Indonesia dan beberapa di antaranya sudah berkunjung ke Indonesia,” ujar Robbie. Menurut data dari Kementerian Pariwisata Indonesia, mereka menerima lebih dari 12 juta turis internasional pada 2016, empat kali lebih banyak dari pendatang di Myanmar. Indonesia menargetkan meraup 15 juta wisatawan tahun ini.

Uji Coba Perdana, Hyperloop One Sukses Meluncur 112 Km Per Jam

Sebagai salah satu perusahaan startup yang tengah mencoba untuk merubah sistem transportasi menjadi lebih baik dan efisien, Hyperloop One kembali membuat sebuah pergerakan dengan melakukan uji coba skala penuh terhadap moda futuristiknya tersebut. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (12/7/2017), bersama dengan para kompetitornya, yaitu Hyperloop Transportation Technologies dan Arrivo, memiliki satu tujuan yaitu untuk membangun jaringan transportasi dengan media tabung dengan kecepatan supersonik.

Baca Juga: Hyperloop One Pamerkan Sembilan Rute Andalannya

Pada bulan Maret lalu, salah seorang dari Hyperloop One mengatakan telah melakukan uji coba jalur skala penuh di gurun Nevada, senada dengan dilakukannya studi kelayakan dengan pemerintah dari beberapa negara, seperti Rusia, Finlandia, dan Dubai, dimana negara-negara tersebut merupakan negara yang tertarik untuk menjadikan Hyperloop One sebagai moda transportasi masa depannya.

Ini merupakan wujud kesungguhan Hyperloop One dalam penyediaan moda angkutan berbasis massal. Dalam uji coba skala penuh tersebut, moda dapat melaju dengan kecepatan 70mph atau setara dengan 112 km per jam. Tentu angka tersebut masih jauh dari target kecepatan Hyperloop yang mencapai 1000 km per jam. Dalam kesempatan tersebut, tim juga menguji keseluruhan dari kesiapan moda di semua komponen sistem untuk pertama kalinya, seperti motor, suspensi kendaraan, teknologi levitasi magnetik, dan pemompaan vakum.

Baca Juga: Dubai, Amerika Serikat, dan Slowakia Saling Mengantri Realisasi Hyperloop

“Hyperloop One telah menyelesaikan apa yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yaitu berhasil menguji sistem Hyperloop skala penuh pertama,” ujar Shervin Pishevar, salah satu pendiri dan Chairman Eksekutif Hyperloop One, dilansir dari sumber yang sama. Lebih lanjut, entrepreneur berdarah Iran-Amerika ini juga menggambarkan kesungguhannya dalam memperkenalkan Hyperloop ke khalayak ramai. “Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu lebih dari 100 tahun, moda transportasi baru akan segera diperkenalkan,” tambahnya.

Dalam masa uji cobanya kemarin, kereta luncur itu “melayang” di atas jalur selama 5,3 detik dengan menggunakan levitasi magnetik, mencapai hampir 2G percepatan perjalanan menuju kecepatan target 70 mph (112 km per jam). Tim telah mengurangi tekanan di dalam tabung reaksi menjadi sekitar lima pascal, yang menjadikannya ruang vakum terbesar keempat di dunia dan yang terbesar di tangan swasta.

Baca Juga: Hyperloop, Tawarkan Kecepatan Supersonic Untuk Transportasi Indonesia

Tidak hanya jalur, Hyperloop One juga meluncurkan prototip pod penumpang dan kargo pada saat yang bersamaan. Dapat dilihat, pod tersebut terbuat dari aluminium struktural dan serat karbon, dengan panjang 28 kaki (8,5 m). Kedepannya, Hyperloop One akan menguji coba modanya tersebut hingga pod tersebut menyentuh kecepatan hingga 250 mph atau setara dengan 400 km per jam.

Bebek Ini Bantu Atasi Stress Pasca Trauma

Seekor bebek ‘bernama’ Daniel Turducken Stinkerbutt atau biasa di panggil Daniel si bebek merupakan hewan pendukung untuk membantu penyembuhan emosional seorang perempuan berusia 37 tahun bernama Carla Fitzgerald.

Dilansir KabarPenumpang.com dari abcnews.go.com (18/10/2016), Fitzgerald selalu bersama Daniel si bebek karena sedang berjuang mengatasi gangguan stress pasca trauma kecelakaan parah yang dialaminya tahun 2013 lalu. Daniel si bebek ini pamornya menjadi naik semenjak menemani Fitzgerald dalam dua penerbangan dari Milwaukee ke Charlotte, North Carolina dan dari Charlotte menuju Ashevile, North Carolina.

Baca juga: Setelah 2 Jam Alami Guncangan Hebat, Airbus A330 AirAsia X Kembali ke Perth

“Semua orang hanya memperhatikannya dan jatuh cinta. Maksud saya, dia seperti pria kecil yang manis, lucu dan manis. Dia berperilaku sangat baik di bandara dan saat penerbangan,” ujar Fitzgerald.

Dia menambahkan, saat menemani dalam penerbangan tersebut, Daniel si bebek menggunakan sepatu merah kecil dan popok Captain America. Firzgerald mengakui, bersama Deniel saat itu menjadi penerbangan pertama kalinya semenjak kecelakan tahun 2013. Dia menambahkan, saat itu juga perasaannya campur aduk, gugup dan mengingat bahwa meninggalkan rumah adalah hal yang sangat mengerikan.

Daniel Turducken Stinkerbutt atau biasa di panggil Daniel si bebek (abcnews.go.com)

“Tapi pelukan dan ciuman Daniel yang memberiku kenyamanan dan keyakinan bahwa penerbangan ini bisa dilalui,” ujarnya.

Baca juga: Anda Takut Naik Pesawat Terbang? Mungkin Aerophobia Penyebabnya!

Fitzgerald mengatakan, selain pelukan dan ciuman, Daniel juga membantunya dengan cara lain yakni Daniel mengetahui kapan Fitzgerald akan mengalami serangan dan panik. Bahkan, Daniel si bebek sampai meletakkan kakinya di dada Fitzgerald sebagai isyarat untuk berbaring.

Dia menjelaskan bahwa dokternya telah menulis surat yang membuktikan bahwa Daniel merupakan bagian dari perawatan Gangguan Stress Pasca Trauma atau Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Dia menambahkan bahwa dia menggunakan surat tersebut untuk mendapatkan izin agar Daniel ikut dengannya dalam penerbangan terakhir mereka.

Daniel bersama Carla Fitzgerald
saaat melewati pemeriksaan di bandara (abcnews.go.com)

Baca juga: Cidera Otak, Penumpang Ini Gugat American Airlines Senilai US$10 Juta

“Beberapa orang memiliki anjing terapi, ada yang punya kucing, saya punya bebek. Saya berharap lebih banyak orang dapat menerima bahwa seekor bebek dapat membuat pendamping yang sangat baik, penuh kasih sayang, dan hewan pendukung,” kata Fitzgerald.

Bukti Cinta Pada Kereta, Halaman Belakang Rumah Disulap Jadi Replika Stasiun

Seorang kakek mantan karyawan kereta api, tepatnya bekerja menjaga kotak persinyalan, Stuart Searle (64) dari Hasting, Inggris, mulai mengumpulkan memorabilianya saat masih remaja. Saat itu, Stuart sangat mencintai dunia perkeretaapian hingga akhirnya menjadi seorang karyawan di perkeretaapian selama 22 tahun.

Baca juga: Kementerian Kereta Api India Janji Sulap Gerbong Lama Jadi Lebih Modern

Dalam mengingat memori masa kecilnya tentang perkeretaapian, Stuart yang menikah dengan Dawn membuat halaman belakang rumahnya seperti stasiun kereta api lengkap dengan segala macam yang ada di stasiun dan 1500 tanda. KabarPenumpang.com melihat dari gambar yang diposting thesun.co.uk (12/7/2017) memperlihatkan penuhnya koleksi memorabilia raksasa tersebut.

www.thesun.co.uk

Pada replika stasiun kereta api tersebut, Stuart memiliki mesin penjual coklat seharga 5000 Poundsterling selain 1500 tanda. Tak hanya itu, replika stasiun ini menawarkan platform setinggi 60 kaki dan ruang penyegaran yang berdampingan. Stuart juga membuat ruang tunggu khusus prempuan dengan jendela yang ditempeli gambar Marilyn Monroe.

Baca juga: Saatnya Maksimalkan Tenaga Surya untuk Energi Terbarukan di Kereta Api

Dengan mengumpulkan ini, Stuart mengaku tidak pernah tahu berapa banyak uang yang sudah dihabiskannnya untuk membuat belakang rumahnya seperti stasiun. “Saya tidak mau tahu berapa banyak, yang ada justru membuat saya takut sendiri,” ujarnya.

www.thesun.co.uk
www.thesun.co.uk

Dia mengatakan, untuk mengumpulkan semuanya, tidak ada batasan berapa banyak yang akan di keluarkan. “Yang paling saya habiskan adalah £5000 pada mesin coklat yang berfungsi penuh tapi saya tidak pernah memasukkan cokelat ke dalamnya. Bagian yang paling mahal pasti membawa semuanya dan membangun stasiun. Saya harus menjual bus sekolah tua saya tahun 1950 untuk mendanai bawah tanah saja,” aku Stuart.

www.thesun.co.uk

Stuart menjelaskan, saat mulai mencintai segala sesuatu yang menyangkut kereta api sejak umur 14 tahun. “Begitu saya mendapat pekerjaan di perkeretaapian, saya bisa mengambil begitu banyak tanda memo yang saya inginkan hanya dengan 10 shilling,” ujarnya.

www.thesun.co.uk

Survei: Penumpang “Pengganggu” Terbanyak dari Belakang Kursi

Penumpang pesawat terkadang tidaklah semua sopan dan mengerti keadaan dan keinginan penumpang lainnya. Padahal tempat duduk yang digunakan sama bentuk dan jaraknya antara depan dan belakang. Dilansir KabarPenumpang.com dari cntraveler.com (18/1/2017), ternyata selama tiga tahun berturut-turut dilakukan survei terkait perilaku penumpang dalam penerbangan dan mendapatkan hasil yang cukup mencengangkan. Survei yang diikuti oleh semua penumpang dewasa ini menghasilkan banyak fakta yakni dimana 64 persen penumpang mengatakan sangat terganggu dengan tendangan-tendangan di belakang tempat duduknya.

Baca juga: Anda Tak Nyaman dengan Penumpang di Kursi Sebelah? Ini Solusinya

Sedangkan 59 persen mengatakan mereka sangat frustasi oleh sikap orang tua yang tidak bisa mengatur dan memperhatikan anak-anak mereka yang nakal. Kemudian, ada pertanyaan yang muncul untuk pengganggu saat berada di kursi. Dari hasil survei tersebut lebih 60 persen dari 1005 orang Amerika yang diwawancarai mengatakan bahwa mereka akan melaporkan kepada awak kabin untuk menangani hal tersebut.

Ada 25 persen yang mengatakan langsung membalas perbuatan penumpang yang berada di belakangnya. Hal yang dilakukan biasanya perilaku agresif atau tidak sopan.

Baca juga: Dibawah Pengaruh Narkotika, Penumpang Mabuk Sukses Hadirkan Jet Tempur F-22 Raptor

Sebanyak 33 persen yang di survei mengatakan akan menyeringai dan membiarkan tetangga sebelahnya dengan diam. Selain itu ada penumpang dengan aroma tubuh baik karena parfum ataupun bau badan mereka, pemabuk, mendengar musik hingga berbicara terlalu keras. Penumpang yang suka mengobrol masuk dalam urutan keenam dengan 40 persen responden merasa terganggu saat mereka berada di antara penumpang yang terlalu berisik.

Dari survei yang dilakukan ini bukanlah dari lamanya jam penerbangan tetapi semakin lama jam penerbangan apalagi hingga lebih dari 16 jam ada kemungkinan hasil survei akan lebih meningkat. Karena menghindari penumpang yang menjengkelkan, lebih dari sepertiga penumpang asal Amerika akan membayar lebih mahal untuk mendapatkan kursi yang tenang sesuai pilihannya, jika maskapai menawarkannya dalam penerbangan.

Baca juga: Dua Sejoli ini Lakukan Adegan Panas di Dalam Kabin

Tahun lalu IndiGo, salah satu maskapai terbesar India memberikan zona bebas anak dari delapan baris yang dibatasi penumpang berusia lebih dari 12 tahun. Untuk maskapai Asia ada penerbangan Singapura Scoot dan Malaysia Airlines yang memberikan zona sepi, walaupun hingga kini tak ada maskapai penerbangan Amerika Serikat yang memiliki tren seperti ini.

Terlambat 2 Jam, Bagasi Penumpang Malindo Air Tak Kunjung Tiba Setelah 5 Jam Menanti

Terlambat dua jam saja untuk sebuah penerbangan pastinya membuat para penumpang gerah, apalagi dengan kehilangan barang di bagasi setelah lima jam penerbangan, apa yang akan Anda katakan dan lakukan dengan kondisi seperti itu?

Dilansir KabarPenumpang.com dari couriermail.com.au (17/7/2017), penumpang Malindo Air Boeing 737 keberangkatan dari Bali menuju Brisbane, Australia mengalami keterlambatan selama dua jam pada hari minggu tengah malam waktu Australia. Hal ini dirasakan para penumpang saat pilot mengumumkan adanya permasalahan bagasi pesawat.

Sayangnya masalah bagasi ternyata bukan satu-satunya, karena pesawat yang sudah berada di landasan ini ternyata mengalami masalah pada toilet, dimana tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Untuk penyelesaian masalah bagasi dan toilet, para penumpang pesawat mau tak mau menunggu di dalam pesawat yang sudah berada di landas pacu.

Baca juga: Koper Anda Hilang atau Tertukar? Baggage Claim Jadi Solusinya

Setelah kejadian tersebut dan pesawat kembali berangkat, masalah lainnya terjadi sesampai di Bandara Internasional Brisbane lima jam kemudian, para penumpang tersadar bahwa tas dan barang bawaan mereka di bagasi tak kunjung muncul setelah menunggu di ban berjalan bagasi. Ashley Perry salah seorang penumpang mengatakan melihat awak kabin dan pilot beserta belasan orang mengumpulkan tas para penumpang sebelum mobil pengangkut tas dari bagasi berhenti tiba-tiba. “Mereka komplain tas tidak ditemukan dan di suruh mengecek ke layanan bagasi,” ujar Perry.

Perry dan Suaminya Amit Chacko yang baru saja menikah di Bali merasa beruntung karena gaun pengantin sang istri tidak hilang. “Untungnya gaun itu kami bawa masuk ke kabin dan tidak masuk ke bagasi pesawat. Awalnya saat di Indoensia, kami di suruh memasukkan pakaian pengantin itu ke bagasi dan istri saya menolak,” ujar Chacko.

Baca juga: Mulai Alergi Kacang Hingga Abu Jenazah, Inilah Deretan Peraturan Unik di Maskapai

Sebanyak 63 penumpang Malindo Air yang kehilangan tas dan barang bawaan mereka, tidak mengetahui apa yang dilakukan petugas penerbangan. Apakah karena terlalu berat hingga tidak bisa menampung bagasi para penumpang atau ada hal lainnya.

Hingga berita ini diturunkan, Malindo Air tidak bisa dihubungi sama sekali dan tidak ada komentar apapun. Maksapai yang berbasis di Malaysia ini baru mulai mengoperasikan pelayanannya dari Bali ke Brisbane dan sebaliknya sejak April 2017.

SpiceJet Tega Buat Penumpang Menunggu 7 Jam Tanpa Kepastian dan Minum

Kembali tersiar kabar pilu dalam dunia penerbangan, salah satu maskapai India yakni SpiceJet dikabarkan telah menelantaran penumpangnya tanpa kepastian yang jelas selama tujuh jam tanpa bantuan dan minuman. Dirangkum KabarPenumpang.com dari indianexpress.com (15/7/2017), hal ini terjadi pada 125 penumpang penerbangan SpiceJet dengan nomor SG524 dari Pune menuju Ahmedabad pada Jumat malam.

Baca juga: Bicara Kompensasi Saat Terjadi Delay Ada di Peraturan Menteri Perhubungan

Harusnya 125 penumpang ini berangkat dengan SpiceJet pukul 8.40 malam waktu Pune dan harus tertunda dengan alasan cuaca buruk sedang terjadi di Ahmedabad. Dari kabar yang ada, para penumpang mengatakan, petugas menahan mereka dan membuat pengumuman yang tidak bisa dipastikan dan hanya sedikit perkataan yang keluar serta pengumuman ini berlangsung sepanjang malam itu.

Hingga akhirnya 125 penumpang tersebut bisa berangkat pukul 3.20 pagi. Sayangnya dari penerbangan tersebut sebagian besar penumpang memutuskan untuk membatalkan tiket mereka setelah beberapa jam tanpa kepastian yang jelas akan penerbangan menggunakan SpiceJet tersebut.

Tak hanya itu, beberapa dari penumpang menuliskan curahan hati mereka di media sosial terkait perasaan dan perilaku maskapai yang tidak bertanggung jawab dan tidak profesional.

Baca juga: Delay Luar Biasa, 6 Maskapai Ini Pecahkan Rekor!

“Saat itu, petugas dari maskapai SpiceJet sama sekali tidak ada. Sekitar 125 penumpang termasuk wanita, anak-anak dan para orang tua terdampar di bandara tanpa kepastian yang jelas. Maskapai juga tidak memberikan bantuan apapun, pengumuman yang diberikan hanya sepotong-sepotong. Awalnya maskapai mengatakan penerbangan tertunda setengah jam dan ini terus di katakan berulang selama beberapa jam. Kemudian pihak maskapai juga mengatakan akan tertunda satu jam lagi,” ujar salah seorang insinyur Paresh Shah.

Satu pernyataan dari media, bahwa SpiceJet mengatakan bila penumpang diberi pilihan untuk memilih penerbangan lain tanpa biaya tambahan. Namun, Shah mengkalim bahwa hal tersebut tak sepenuhnya benar, sebab beberapa penumpang tersmasuk dirinya diberikan pilihan tersebut pada waktunya.

“Tawaran untuk naik penerbangan lainnya tidak diberikan pada semua penumpang. Saya mendapat tawaran itu setelah memposting masalah yang kami hadapi saat itu di Twitter. Penumpang tidak diberikan apapun bahkan air minum pun tak ditawari,” ujar Shah.

Salah seorang penumpang lainnya, Gaurav J mengatakan, dirinya sampai memutuskan untuk membatalkan tiket perjalanannya pada tengah malam. “Setelah empat jam saya kebingungan dan tidak tahu apa-apa, saya memutuskan untuk membatalkan tike dan banyak juga penumpang lainnya, saya harus mengeluarkan uang yang banyak untuk naik taksi ke apartemen saya di Pune,” ujar Gaurav.

Juru bicara SpiceJet mengatakan bahwa maskapai telah “menyesalkan masalah.” Penumpang dilayani untuk pembeharuan secara berkala mengenai status penerbangan. Mereka juga diberi pilihan untuk memilih penerbangan lain tanpa biaya tambahan. SpiceJet dengan tulus meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan pada penumpang karena tertunda,” kata juru bicara tersebut.

Dibalik Sengkarut Jadwal Kereta Bawah Tanah di New York

New York yang dijuluki Big Apple kini sedang mengalami krisis pada layanan kereta bawah tanahnya, pangkal musababnya adalah akibat banyak jadwal kereta yang tidak tepat waktu. Bulan lalu misalnya, sebuah kereta berhenti 45 menit saat cuaca panas.

Dilansir KabarPenumpang.com dari vox.com (11/7/2017), Ryan Cooper dari New York mengatakan, banyak masinis kereta bawah tanah yang mengungkapkan kemarahan di Twitter dan menyalahkan Gubernur Gordon Zomo sebagai yang bertanggung jawab atas layanan kereta bawah tanah. Layanan kereta bawah tahan di New York dikelola oleh  Otoritas Transit Meropolitan atau Metropolitan Transit Aithority (MTA).

Baca juga: Kereta Bawah Tanah Toronto Penyumbang Polusi Udara Tertinggi

Sebagai respon atas cibiran dari penggun jasa, MTA mengatakan, adanya masalah ini disebabkan kepadatan penduduk yang berlebihan. Biasanya penyebab penundaan yang mendadak adalah perubahan jadwal pemeliharaan yang membuat perjalanan kereta bawah tanah menjadi lebih lambat. Tetapi MTA belum menyesuaikan jadwal yang benar dan membutuhkan tinjauan yang sangat besar.

Kereta bawah tanah di New York sudah dibuka sejak tahun 1904 dan menawarkan kecepatan 24 km per jam untuk kereta lokal dan38,6 km per jam untuk kereta ekspress. Tarifnya pun saat itu terbilang murah yakni hanya 5 sen. Naiknya pendapatan para pekerja pengguna kereta membuat kereta api lebih menarik. Kemudian lingkungan sekitarnya dikembangkan dengan apartemen dibandingkan rumah keluarga biasa.

Baca juga: Inilah 10 Kereta Bawah Tanah Paling Keren di Dunia!

Pada Perang Dunia I, inflasi mengurangi separuh nilai dolar, namun harga tiket kereta tetap 5 sen. Kemudian di tahun 1940, diresmikan Otoritas Transit New York (NYTC) dan membuat ongkos kereta naik hingga 10 sen walaupun masih dianggap tidak cukup untuk pemeliharaan kereta. Pada 1970-an, NYCT digabung ke dalam MTA, sebuah otoritas negara, namun negara bagian lainnya tidak melakukan jauh lebih baik. Jarak rata-rata kereta bawah tanah antara kegagalan (MDBF) turun menjadi 6.000 mil pada tahun 1980,

Mulai tahun 1980-an, MTA berinvestasi dalam perawatan jangka panjang, pendekatan “perbaiki dulu” yang oleh banyak ahli sekarang mendukung jalan raya. MTA memulai proyek multi dekade untuk mencapai kondisi perbaikan yang baik, di mana tidak akan ada lagi jaminan pemeliharaan dan tidak perlu melakukan perawatan di luar perbaikan normal.

Ini bertepatan dengan adopsi perencanaan keuangan jangka panjang MTA yang terlambat, dengan rencana modal lima tahun, yang sebagian besar berfokus pada SOGR dan penggantian normal, dan sedikit uang tersisa untuk ekspansi. Ini mengurangi rencana penggalangannya: Kereta api yang dibeli pada tahun 1970-an berambisi namun ternyata menjadi lemon, sementara yang telah dibeli sejak tahun 1980-an telah konservatif, kehilangan Perkembangan seperti gang terbuka yang rutin di kebanyakan sistem kereta bawah tanah.

Baca juga: Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan

Meskipun muncul banyak keluhan, dalam praktiknya, MTA dan NYCT berjalan dengan autopilot. NYCT tidak membuat perubahan besar; MTA membuat sedikit usaha untuk membuat lembaga penyusunnya bekerja sama, termasuk NYCT, tetapi juga dua operator kereta api komuter.

Akibat pelajaran pada krisis tahun 1970-an mengajarkan MTA untuk bersikap konservatif tentang perluasan layanan, pemliharaan peralatan, dan kecepatan sistem. Sampai dekade 80-an dan 90-an tidak ada masalah yang berarti dalam strategi MTA, namun kini doktrin MTA tersebut telah menciptakan masalah sendiri, termasuk penundaan, jadwal yang tidak dapat diandalkan, dan kereta yang sering terlambat.