Bandara Adisutjipto Gunakan Bahasa Jawa untuk Pemberitahuan kepada Penumpang

Bahasa lokal biasanya lebih banyak dipakai di daerah itu sendiri atau di kalangan masyarakat yang memang dominan dari satu daerah tertentu, bahasa lokal setiap daerah juga merupakan kearifan budaya yang bisa digunakan untuk mengenalkan lebih tentang satu daerah tersebut. Dulu, artian bahasa kearifan lokal Indonesia seperti bahasa Jawa, Batak, Sunda dan lainnya hanya bisa di cari dalam mesin pencarian seperti Google.

Baca juga: Optimalkan Pelayanan, PT Angkasa Pura I Luncurkan Concordia Lounge Card

Belum lama ini, tepatnya 17 Juli 2017 kemarin, bahasa Jawa sebagai salah satu kearifan lokal Daerah Istimewa Yogyakarta digunakan di Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta, Sleman. Corporate Secretary Angkasa Pura Airports Israwadi, mengatakan, bahasa Jawa yakni bahasa dan dialeknya yang biasa digunakan oleh masyarakat Pulau Jawa kini bisa dapat langsung dirasakan di bandara.

“Penumpang yang datang dan pergi melalui Bandara Adisutjipto akan merasakan nuansa khazanah budaya Yogyakarta dengan hadirnya informasi announcement yang menggunakan Bahasa Jawa,” ujar Corporate Secretary Angkasa Pura Airports Israwadi, melalui siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (20/7/2017).

Baca juga: Toilet Tiga Dimensi Ada di Bandara Sepinggan Balikpapan

Bandara Internasional Adisutjipto menambahkan layanan kepada penumpang dengan menghadirkan Bahasa Jawa dalam penyampaian informasi announcement di bandara, yang saat ini disampaikan dalam 2 bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Penambahan bahasa dalam penyampaian informasi announcement ini diharapkan dapat menghadirkan nuansa keramahan Yogyakarta di bandara, sekaligus untuk mengenalkan dan mempromosikan Bahasa Jawa sebagai bahasa daerah baik kepada wisatawan domestik maupun mancanegara yang melalui Bandara Adisutjipto.

Yogyakarta yang merupakan salah satu destinasi utama di Pulau Jawa, memberikan peranan penting bagi bandara dalam mendukung industri kepariwisataan suatu daerah. Bandara menjadi etalase karena fungsi konektivitasnya dari dan menuju suatu lokasi wisata. Hal ini pula menjadi langkah Angkasa Pura Airports Kantor Cabang Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta dalam mendukung Pemerintah Daerah untuk mencapai target 4 persen wisatawan yang berkunjung di Yogyakarta pada tahun 2018, melalui promosi wisata DIY.

Baca juga: Angkasa Pura I Perketat Prosedur Keamanan di 13 Bandara

“Ini menjadi yang pertama. Bandara Adisutjipto merupakan bandara pertama yang menghadirkan Bahasa Jawa dalam penyampaian informasi announcement kepada penumpang. Semoga ini dapat menjadi wujud komitmen kami dalam memberikan pelayanan dan kenyamanan kepada pengguna jasa bandara, sekaligus sebagai upaya mendukung kearifan lokal seni budaya dan pariwisata di Yogyakarta,” kata Israwadi.

Lebih lanjut, adanya penggunaan bahasa kearifan lokal ini adalah inisiatif langsung dari pihak bandara tersendiri dan ini menjadi terobosan baru untuk dunia penerbangan. Untuk bandara lainnya, pihak Angkasa Pura Airports sampai saat ini juga mendukung bandara lainnya untuk mengikuti hal yang sama seperti Adisutjipto.

Pelayanan Buruk Malah Dongkrak Laba United Airlines, Kok Bisa?

Serangkaian masalah membelit United Airlines beberapa waktu ke belakang, seperti insiden penarikan paksa Dr. David Dao, kekerasan terhadap calon penumpangnya di bandara, hingga salah menerbangkan penumpangnya ternyata tidak membuat maskapai asal Negeri Paman Sam tersebut mengalami kerugian. Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari nytimes.com (18/7/2017), pihak United meraup keuntungan sebesar US$818 juta pada kuartal terakhir yang berakhir pada bulan Juni  kemarin.

Baca Juga: Karyawan United Airlines Dorong Penumpang di Bandara, Kenapa Lagi?

Dengan angka tersebut, maka United Airlines mengalami kenaikan laba dari tahun lalu sebesar 39 persen. Keuntungan tersebut meningkat seiring dengan banyaknya calon penumpang yang memilih United Airlines sebagai pemandu perjalanan mereka. Ini merupakan imbas positif dari meningkatnya permintaan layanan penerbangan di seluruh dunia.

Terlepas dari itu semua, United Airlines juga memiliki laporan sendiri yang menunjukkan adanya kenaikan jumlah pelanggan yang cukup signifikan, yaitu sekitar 71 juta penumpang selama paruh pertama tahun ini. Dengan kata lain, United mengalami peningkatan jumlah penumpang sekitar 4,2 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

Tentu saja, fakta tersebut berbanding terbalik dengan respon masyarakat dalam menanggapi kasus Dr. Dao yang menyuarakan agar maskapai tersebut diboikot. Namun, kembali kepada prinsip yang mendasari bisnis penerbangan, dimana penumpang pada umumnya mencari tarif yang paling rendah, bukan berdasarkan pada layanan yang diberikan oleh maskapai tersebut.

Baca Juga: Duh! Dokter ini Diseret di Lorong Kabin Pesawat, Kenapa ya?

Tentu Anda masih ingat dengan kejadian yang menimpa Dr. David Dao, seorang penumpang United Airlines berusia 69 tahun yang ditarik paksa keluar maskapai dengan alasan kru United Airlines lain juga hendak ikut dalam penerbangan menuju Louisville, Kentucky pada 9 April silam. Rekaman kejadian tersebut diunggah ke media sosial Twitter oleh salah seorang penumpang dalam kabin dan sontak menjadi viral di dunia maya. Tak berselang lama, kecaman demi kecaman berdatangan ke pihak United hingga banyak golongan yang meminta agar maskapai tersebut diboikot.

Akibat kejadian penyeretan paksa tersebut, Dr. David Dao mengalami luka yang cukup parah pada bagian kepalanya. United Airlines sempat menolak untuk memberikan dana ganti rugi kepada korban, namun setelah media membombardir maskapai yang bermarkas di Chicago, Illinois tersebut, akhirnya United menurunkan dana ganti rugi yang tidak disebutkan nominalnya.

Baca Juga: Salah Menerbangkan Penumpang, United Airlines Harus Minta Maaf (Lagi)

Guna mencegah kejadian serupa terulang kembali, pihak United memberlakukan peraturan baru, dimana setiap penumpang yang terpaksa dibatalkan perjalanannya akan mendapat intensif penggantian dana yang lebih besar. Selain itu, United juga akan terus memberlakukan harga tiket murah kepada setiap penumpangnya. Inilah cara yang dilakukan oleh pihak United Airlines dalam meraup keuntungan yang cukup signifikan. Terlepas dari caranya memperlakukan para penumpang yang bisa dibilang “seenaknya” sehingga muncul anggapan bahwa hal tersebut merupakan salah satu cara United dalam menjalani kampanye abu-abunya.

Bawa Komputer Full Set, Wanita Ini Mendadak Viral

Perkembangan teknologi tentu saja menawarkan berbagai kemudahan bagi para penggunanya, salah satunya adalah keberadaan laptop yang dinilai bisa menggantikan peran komputer. Bentuknya yang kecil dan simpel, ditambah dengan fungsinya yang serba guna menjadikan laptop sebagai salah satu gear wajib dari berbagai kalangan, dari mulai mahasiswa hingga para eksekutif.

Baca Juga: Penumpang Ini Sama-Sama Terjepit Pintu Kereta, Namun Beda “Penderitaan”

Namun, pernahkah Anda melihat seseorang yang menggunakan sebuah komputer masa kini, lengkap dengan keyboard-nya di moda transportasi? Apa mungkin ia tidak mengetahui tentang keberadaan laptop? Atau mungkin ia hanya mencari sensasi semata? Beragam spekulasi bermunculan tatkala seorang pengguna media sosial Twitter, David Hill mengunggah foto yang dianggap tidak lazim tersebut.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman nydailynews.com (7/7/2017), akun @davidhill_co milik David memposting sebuah foto seorang wanita yang tengah duduk di bangku first class di kereta jurusan Darlington menuju London Kings Cross pada tanggal 4 Juli 2017 silam. Foto tersebut sontak menjadi viral setelah netizen menyadari keberadaan sebuah layar iMac yang sedang mengakses situs google, lengkap dengan sebuah keyboard di depannya. David pun turut menyertakan caption yang isinya, “Seorang wanita membawa iMac-nya ke dalam kereta! Apakah ia tidak mengetahui tentang keberadaan laptop?!”

Sumber: nydailynews.com

Cuitan David sukses menjadi viral dengan jumlah retweet sebanyak 2.710 kali, dan likes sebanyak 5.142 kali. Sejumlah media setempat pun turut memberitakan kejadian yang dilihat langsung oleh David ini. Ketika David dimintai keterangan oleh sejumlah media, ia mengaku terkejut ketika melihat sang wanita yang menggunakan seperangkat komputer full set yang ditaruh di sebuah meja kecil yang terletak di belakang tempat duduk penumpang di depannya. “Saya sampai harus melihatnya dua kali sebelum menyadari bahwa saya sedang tidak bermimpi. Yang terlintas di benak saya adalah memotretnya,” ungkap David.

Baca Juga: Momen Mudik Lebaran, Saatnya Maksimalkan Kemampuan Fotografi

Pria yang bekerja di sebuah perusahaan perangkat lunak ini mengaku baru pertama kali melihat kejadian seperti ini. “Saya telah bepergian menggunakan kereta selama kurang lebih 15 tahun, saya belum pernah melihat yang seperti ini. Wanita itu bahkan membawa serta keyboard dan mousenya,” tambahnya.

“Saya bingung, mengapa masih ada orang yang menggunakan sebuah komputer full set di dalam moda transportasi, sedangkan laptop diciptakan untuk menyediakan layanan serupa dengan komputer dan lebih mudah dibawa.” Ujar David kebingungan.

Ini Uniknya Boarding di Beberapa Maskapai Dunia

Meski mengacu pada standar pelayanan yang sama, namun setiap maskapai boleh jadi memiliki proses yang berbeda saat melakukan boarding di bandara. Dilansir KabarPenumpang.com dari travelandleisure.com (5/7/2017), ada sebagian penumpang yang sudah bersumpah setia akan menggunakan satu maskapai saja. Ini dikarenakan faktor kebiasaan, apalagi bila seseorang dipaksa menggunakan maskapai lainnya, kemungkinan akan mengacaukan hal kebiasaan mereka pada maskapai lainnya.

Baca juga: Pengamat Menjawab 6 Permasalahan Antara Penumpang dan Maskapai Penerbangan

Berikut beberapa maskapai yang memiliki cara boarding yang bervariasi.

1. American Airlines
Maskapai yang satu ini, memiliki sembilan kelompok boarding yang berbeda dan diberi nomor urut saat akan naik. Kelompok satu hingga empat merupakan penumpang yang berada di kelas bisnis atau kelas premium dengan status penumpang langganan atau yang paling sering menggunakan dan militer.

Kelompok lima dimulai dari Main Cabin Extra dan berlanjut ke kelompok delapan untuk kabin utama. Kelompok-kelompok ini di atur oleh zona masing-masing di pesawat terbang. Kelompok sembilan adalah ekonomi dasar dengan tempat duduk berada di lantai atas dan tidak bisa membawa barang bawaan ke dalam kabin.

Baca juga: Load Factor Rendah, Maskapai-Maskapai Ini Tak Lagi Mendarat di Jakarta

2. Delta Airlines
Delta memiliki gaya boarding yang khas seperti kebanyakan maskapai Amerika Serikat. Boarding diawali dengan pelanggan yang membutuhkan bantuan. Kemudian masuk ke kelas satu dengan penumpang pengguna Delta terserung dan penumpang yang membeli dengan kartu kredit. Setelah itu penumpang pada kabin utama menaiki pesawat dari belakang menuju depan kabin dan terakhir kelas ekonomi dasar dan boleh membawa satu bawaan ke dalam kabin.

3. United Airlines
Proses boarding pada maskapai yang satu ini cukup normal dimana kelompok satu adalah yang berada di kelas utama, kelompok dua di kelas penumpang setia. Namun hal ini kemudian berubah, dimana penumpang pada kabin utama akan duduk di kursi dekat jendela terlebih dahulu, kemudian yang duduk di bangku tengah, terakir yang duduk dekat lorong kabin. Sehingga memudahkan akses di dalam lorong saat akan duduk dan selama berada dalam penerbangan.

4. Southwest
Southwest terkenal dengan tata letak boardingnya yang unik. Ketika penumpang mendapatkan email bahwa sudah saatnya check in untuk penerbangan mereka, mereka harus segera mengikuti link dan check in secepatnya. Penumpang yang check in pertama naik pesawat terlebih dahulu. Kelompok asrama adalah A, B dan C – dengan masing-masing penumpang menugaskan sebuah nomor di suatu tempat di kelompok tersebut. Ketika agen gerbang memanggil nomor grup Anda, Anda akan menemukan tempat Anda sesuai. Bisnis Pilih tiket yang akan sampai ke papan pertama (mereka selalu A 1-15). Begitu sampai di pesawat, ada tempat duduk terbuka.

Baca juga: Serba Serbi Check In Online di Masing-Masing Maskapai Penerbangan

5. Alaska
Proses boarding Alaska dimulai dengan pre-boarding (militer, keluarga dengan anak kecil, mereka yang membutuhkan waktu tambahan) dan kemudian beralih ke pelanggan kelas satu. Selebaran yang sering dan mereka yang telah membeli boarding premium berikutnya. Penumpang umum adalah dua kelompok terakhir, dimulai dengan orang-orang yang duduk di belakang barisan keluar.

6. Frontier
Proses boarding Frontier mungkin tampak sedikit berbeda sebagai maskapai penerbangan anggaran, namun masih cukup mirip dengan standar industri. Mereka yang membutuhkan papan waktu ekstra terlebih dahulu. Maka orang-orang yang membayar biaya untuk naik lebih awal. Biaya frontier untuk akses bin di atas. Mereka yang memilih untuk membayar biaya tambahan untuk carry-on bisa naik sebelum sisa kabin. Lalu naik dari belakang ke depan. Kursi (dan zona asrama) secara acak – kecuali jika penumpang memilih untuk membayar biaya tambahan.

7. Spirit
Spirit dikenal dengan biaya tambahan. Mereka yang membayar biaya tersebut dapat naik pesawat terlebih dahulu – kecuali anak-anak di bawah umur atau penumpang yang tidak didampingi yang memerlukan bantuan. Penumpang yang membeli “kursi depan besar” diizinkan naik ke papan pertama dan kemudian baris yang tersisa (dari depan ke belakang) diizinkan masuk ke pesawat. Penumpang yang membayar tempat duduk bisa memilih tempat duduk ke arah depan pesawat untuk naik terlebih dahulu.

Layar Informasi di Stasiun Kini Jadi Obyek Iklan Komersial

Dalam upaya untuk meningkatkan pendapatan non-tarif, Kementerian Perkeretaapian India telah memutuskan untuk “memonetisasi” asetnya dengan meluncurkan kegiatan yang dapat menghasilkan pendapatan tambahan di luar pendapatan tarif. Untuk memulainya, setengah dari layar digital Rail Display Network (RDN) yang menampilkan informasi real time kepada penumpang diusulkan akan menayangkan iklan komersial.

Baca Juga: India Sukses Lubangi Perut Bumi Untuk Jalur MRT Bawah Airnya

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thehindu.com (15/7/2017), RDN merupakan proyek ambisius Menteri Perkeretaapian India, Suresh Prabhu yang bertujuan untuk mengintegrasikan dan menyebarkan semua informasi yang berkaitan dengan penumpang, termasuk jadwal kedatangan / keberangkatan kereta api, fasilitas keselamatan yang tersedia, dan perkembangan terbaru mengenai suatu lokasi pasca bencana di layar digital raksasa di semua stasiun kereta api utama.

Layar RDN akan menampilkan konten audio-video di bawah pengawasan langsung RailTel, sebuah badan yang ditunjuk oleh Kereta Api India untuk menerapkan dan mengelola sistem, sebagaimana yang tercantum pada laman sumber. RailTel akan memberikan kontrak melalui proses tender yang transparan dan pemegang lisensi yang berwenang akan menampilkan konten audio/video di layar berdasarkan pedoman dan norma pemerintah untuk penggunaan umum.

Baca Juga: India Hadirkan Kereta Kubah Kaca Untuk Tarik Wisatawan

Informasi yang berkaitan dengan penumpang akan memakan ruang kurang lebih 50 persen dari keseluruhan layar digital, sementara space tersisa akan digunakan oleh pemegang lisensi untuk menampilkan iklan, pesan sosial, dan lain-lain. RailTel akan memutuskan untuk menggunakan tingkat audio dalam satuan suara yang diizinkan dan menentukan langkah-langkah terperinci selanjutnya untuk memastikan keamanan RDN dari upaya yang mungkin dilakukan untuk mencegah pengambilalihan sistem yang tidak bersahabat oleh sumber yang tidak sah.

Baca Juga: Atasi Lonjakan Penumpang Kereta di Musim Libur, India Siapkan Skema Vikalp

Setelah memulai pengoperasiannya, RDN akan menjadi media periklanan eksklusif di gedung-gedung bertingkat, stasiun, balai pertemuan atau meeting point, jembatan penyebrangan hingga platform di stasiun kereta. “Pihak Kereta Api akan membentuk sebuah komite pengawasan di Dewan Perkeretaapian, tingkat zonal dan tingkat divisi yang masing-masing terdiri dari perwira senior untuk memfasilitasi peluncuran proyek tersebut dengan mulus,” ungkap sumber tersebut. Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa perkeretaapian akan menyanggupi masalah tempat, listrik dan dukungan logistik lainnya kepada RailTel untuk melaksanakan proyek tersebut.

Survei: Keraguan Masyarakat Bakal Jadi Penghambat Kehadiran Drone Penumpang

Tak lama lagi , warga Dubai di Uni Emirat Arab bisa menikmati perjalanan udara mereka menggunakan drone penumpang yang selama ini digadang menjadi salah satu moda transportasi masa depan. Pada bulan Juni 2017 kemarin, Roads and Transportation Agency Dubai mengatakan layanan Autonomous Aerial Taxi (AAT) akan melakukan uji coba di beberapa titik di Dubai pada bulan Oktober hingga Desember 2017. Dalam pengoperasiannya kelak, Volocopter, yang merupakan mahakarya sebuah perusahaan penerbangan asal Jerman, dipercaya untuk mengangkut penumpang sesuai tujuan mereka.

Baca Juga: Juli 2017, Drone Penumpang Resmi Mengudara di Dubai

Namun, dalam usahanya untuk mengoperasikan sarana transportasi baru, otoritas Dubai nampaknya harus menahan keinginannya tersebut, mengingat penelitian yang dilakukan oleh sebuah firma riset pasar berbasis internet internasional yang beroperasi di Eropa, Amerika Utara, Timur Tengah dan Asia-Pasifik, YouGov, menyatakan bahwa konsumen belum terlalu yakin untuk menggunakan layanan drone sebagai sarana transportasinya dalam waktu dekat.

Penelitian ini dilakukan berdasarkan pada fakta di lapangan yang menyebutkan bahwa hanya seperempat warga Amerika yang mengetahui drone dapat dijadikan sebagai taksi udara, dan sisanya masih tidak mengetahui bahwa layanan tersebut akan mengambil alih dunia transportasi di masa yang akan datang. Lebih parahnya lagi, sebanyak 54 persen warga Amerika Serikat mengaku takut untuk menggunakan sarana transportasi modern ini, dan hanya 5 persen yang menyatakan siap untuk menggunakan drone penumpang ini. Kebanyakan, wanita lah yang merasa ketakutan untuk menaiki moda ini.

Baca Juga: Wow! Uber Canangkan Program Taksi Drone

Terlepas dari kekhawatiran ini, analis teknologi YouGov sendiri percaya bahwa pesawat penumpang otonom akan lepas landas hanya dalam waktu 5 tahun. Dilansir KabarPenumpang.com dari cnbc.com (10/7/2017), direktur riset YouGov, Tom Fuller mengatakan penetrasi pasar terhadap penumpang akan mempercepat proses adaptasi bagi siapapun yang merasa ketakutan untuk menggunakan drone. “Hal serupa juga terjadi pada perkembangan teknologi sebelumnya, terutama dari sektor dirgantara, namun mengingat keuntungan yang ditawarkan membuat ketakutan tersebut perlahan sirna,” tuturnya.

“Jika dilihat dari survei yang dilakukan, spekulasi kami mengarah kepada para penumpang yang sebenarnya kurang memahami seluk beluk dari drone penumpang tersebut, sehingga mereka ragu dan terkesan takut untuk menaikinya,” tambah Tom. Padahal, Tom melanjutkan, penggunaan drone ini sudah banyak ditemui di kehidupan sehari-hari, seperti untuk pengambilan gambar, mengantarkan paket, balapan dan beberapa aktivitas lainnya. “Kesadaran dan keakraban konsumen pada teknologi ini akan mendorong mundur ketakutan mereka,” pungkasnya.

Drone yang mengangkut hasil laboratorium di Swiss. Sumber: designboom.com

Tidak hanya menawarkan solusi bagi para penumpang yang hendak bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya, keberadaan drone juga terbukti ampuh untuk menunjang efektifitas di bidang lain, contohnya kesehatan. Salah seorang analis mengatakan penggunaan drone di bidang medis memberikan dampak tersendiri bagi kedua belah pihak. “Ini akan membantu memperbaiki citra drone yang selama ini dipandang sebelah mata oleh masyarakat,” ungkapnya.

Baca Juga: Swiss Manfaatkan Drone Untuk Antar Sampel Laboratorium

Tom menambahkan bahwa risiko yang mungkin dihadapi oleh drone penumpang sebenarnya lebih sedikit ketimbang yang mobil nirawak. Mobil tanpa pengemudi, seperti yang dikembangkan oleh Google dan Tesla harus bersaing dengan mobil, sepeda, dan pejalan kaki yang dioperasikan manusia. Sedangkan menurut Tom, ancaman yang mungkin terjadi untuk drone penumpang berasal dari serangan siber, seperti virus ransomware yang terjadi beberapa waktu ke belakang.

Di sisi lain, penelitian yang dilakukan oleh YouGov menunjukan sebanyak 62 persen masyarakat berencana untuk memiliki sebuah drone penumpang di masa yang akan datang, tentu saja jika mereka sudah tidak ketakutan untuk menaikinya, sedangkan 25 persen masyarakat menolak untuk memiliki “pod” modern ini. Sebanyak 4 persen lainnya mengatakan akan membeli drone bekas daripada harus menghabiskan lebih banyak uang untuk membeli yang baru.

Lalu, jika memang drone penumpang ini merupakan moda transportasi modern, akankah warga Indonesia siap untuk menerima perkembangan jaman semacam ini?

India Luncurkan Kereta Bertenaga Panel Surya

Kembali, perkeretaapian India membuat sebuah gebrakan dengan meluncurkan sebuah kereta yang menggunakan panel surya (solar cell) sebagai sumber energi terbarukan. Kehadiran teknologi ini disandingkan dengan fasilitas penyimpanan energi dalam sebuah baterai yang menjamin daya tersebut tetap memadai walaupun tidak ada sinar matahari. Namun, tentu saja energi ini tidak digunakan untuk menggerakkan kereta, melainkan sebagai salah satu solusi untuk menggantikan peran listrik yang dibutuhkan di kereta.

Baca Juga: Kementerian Kereta Api India Janji Sulap Gerbong Lama Jadi Lebih Modern

Sebagaimana KabarPenumpang.com wartakan dari laman thehindu.com (15/7/2017), seluruh kebutuhan listrik di setiap gerbong, meliputi lampu, kipas angin, dan layar penampil informasi akan digantikan perannya oleh sistem panel surya yang tertanam di atas kubah kereta Diesel Electric Multiple Unit (DEMU) tersebut.

Peluncuran ini dilakukan di stasiun Safdarjung yang dihadiri oleh Menteri Perkeretaapian, Suresh Prabhu. Dalam kesempatan tersebut, Suresh mengatakan peluncuran kereta ini merupakan batu loncatan menuju perkeretaapian yang lebih ramah lingkungan. Pengadaan kereta dengan energi terbarukan ini berlandaskan pada komitmen kereta api untuk menggunakan bahan bakar yang lebih bersih dan usaha untuk meningkatkan penggunaan sumber energi non-konvensional.

Tidak hanya menggunakan panel surya sebagai pengganti energi listrik di kereta, kereta DEMU juga menggunakan teknologi ramah lingkungan lainnya, seperti bio toilet, air daur ulang, penampungan limbah, Compressed Natural Gas (CNG), Liquefied Natural Gas (LNG), dan pemanfaatan energi angin.

Biasanya, rangkaian kereta DEMU digerakkan oleh mesin on-board yang terpasang di setiap gerbongnya, karena panel surya tersebut harus mengalirkan energi ke benda elektronik yang ada di setiap gerbongnya sehingga barang-barang elektronik tersebut bisa berfungsi.

Baca Juga: India Hadirkan Kereta Kubah Kaca Untuk Tarik Wisatawan

Untuk sementara, kereta akan mengular di jalur komersial yang menghubungkan daerah pinggiran dengan kota Delhi, mengingat belum ada rute spesifik untuk kereta DEMU ini. Adapun Integral Coach Factory dari Chennai yang menjadi produsen dari panel-panel surya tersebut. Sebelum dipasang di kereta berkekuatan 1.600tenaga kuda tersebut, panel-panel surya tersebut telah dikembangkan oleh Indian Railways Organization of Alternative Fuel (IROAF). Rencananya, dalam waktu enam bulan ke depan, otoritas setempat akan menghadirkan 24 gerbong serupa untuk mendukung sarana transportasi di negera yang terkenal dengan film Bollywoodnya tersebut.

“Kereta DEMU bertenaga surya ini akan menghemat sekitar 21.000 liter solar dan mengurangi emisi karbon 9 ton per tahunnya,” tutur salah satu sumber dari Kereta Api India.

Warga UEA Setujui Aturan Penggunaan Sabuk Pengaman dan Car Seat

Awalnya para ekspatriat yang tinggal di Uni Emirat Arab (UEA) mengeluhkan terkait masalah sabuk pengaman dan kursi duduk anak (car seat) di dalam mobil. Namun, sekarang ini justru berbalik, para ekspaktriat UEA tersebut justru merasa bahwa sabuk pengaman dan kursi anak dalam mobil adalah hal yang aman untuk digunakan.

Baca juga: Foto Viral Ini Ingatkan Pentingnya Car Seat Untuk Anak

KabarPenumpang.com kemudian melansir khaleejtimes.com (6/7/2017), saat ini justru banyak ekspatriat UEA yang menginginkan adanya juga penerapan peraturan tersebut di negara asal mereka. Peraturan ini baru berlaku pada Sabtu (2/7/2017) dan banyak sekali manfaatnya.

Salah seorang warga Dubai, Amit Singh mengatakan bahwa dirinya mendukung inisiatif ini, dirinya berharap, di India negara asalnya juga ada peraturan seperti itu. Amit pun mengaku di awalnya tidak nyaman dengan peraturan tersebut karena belum terbiasa.

“Tapi perlahan mereka akan menyadari bahwa ini bermanfaat untuk keselamatan anak-anak dan juga untuk seluruh keluarga,” katanya.

Baca juga: Qantas dan JetStar Izinkan Car Seat Dibawa ke Dalam Kabin

Seorang ekpatriat asal Palestina, Rawan Al Hussain mengatakan, bahwa dengan peraturan sabuk ini maka pengamanan Dunia Arab perlu diubah. “Ini adalah aturan terbaik yang dibuat untuk keselamatan anak-anak. Sabuk pengaman menyelamatkan nyawa dan dalam kasus kecelakaan akibat benturan besar, penumpang di kursi belakang sering terlempar dari mobil jika sabuk pengaman tidak dipakai.”

Ahmed Lasheen seorang penduduk Mesir mengatakan, di negaranya sendiri peraturan penggunaan sabuk pengaman sudah ada. Tetapi belum berlaku untuk anak-anak dan penumpang mobil dan ini adalah suatu perubahan baru. Menurutnya, ini adalah hal positif terhadap undang-undang lalu lintas federal dimana pengemudi dan penumpang bisa terlindungi. Selain itu, ini juga memperbaiki tingkat disiplin saat mengemudi.

Baca juga: Lampu Sabuk Pengaman Mati, Waktu Yang Tepat Gunakan Toilet

Padahal di Eropa, Amerika dan Australia peraturan penggunaan sabuk pengaman dan tempat duduk anak sendiri sudah lama penerapannya. Hal ini pun dibenarkan oleh Jeff Price dan Zeyna Sanjania para ekspaktriat Inggris dan lama tinggal di UEA. “Saya mendukungnya 100 persen, kami selalu menerapkannya dan bagi mereka yang tidak setuju dengan hal itu, mereka perlu menyadari bahwa ini demi keselamatan anak-anak mereka dan orang lain,” ujar Price.

Baca juga: Untuk Penumpang Obesitas, Perpanjangan Sabuk Pengaman Belum Jadi Prioritas

“Sungguh mengejutkan bagi saya untuk melihat anak-anak di kursi depan duduk di pangkuan ibu mereka, tapi itu terjadi di sini. Namun, saya harap sistem denda dan poin yang parah merupakan inisiatif yang baik untuk mengubah pola pikir ini,” katanya.

Namun beberapa warga masih mendapati dampak finansial dari peraturan tersebut. Abdul Sharef yang berdomisili di Dubai mengatakan meskipun peraturan baru tersebut mempromosikan keamanan, tetapi menjadi beban bagi keluarga besar.

“Car seat masih sangat mahal dan beberapa keluarga tidak mampu membelinya. Bagi keluarga dengan beberapa anak yang berarti banyak unit harus dibeli.” Dan dia masih skeptis terhadap peraturan ‘sabuk pengaman untuk semua’. Sabuk pengaman untuk semua anggota keluarga besar tidak praktis. Ini adalah kebiasaan budaya, dan anak-anak yang tidak terlatih duduk di kursi atau memakai sabuk pengaman akan sulit menyesuaikan diri,” ujar Sharef.

Baca juga: Soal Keselamatan Penumpang, Moda Laut Seperti Dianaktirikan

Sementara itu ekspat Filipina, Richard Dela Cruz, setuju dengan peraturan pengaman menggunakan sabuk keselamatan, hukuman pelanggaran terhadap Dh400 “terlalu besar”.

10 Poin Utama Pada Proyek Kuala Lumpur–Singapore High Speed Rail

Pembangunan layanan kereta cepat tak pelak menjadi landmark transportasi di suatu negara. Karena punya keunggulan dalam kecepatan dan keamanan, beberapa moda kereta cepat diluncurkan untuk menghubungkan akses antar negara, hal yang lumrah di Eropa Barat. Dan di Asia Tenggara nantinya bakal hadir kereta cepat lintas negara pertama, yakni antara Malaysia dan Singapura dalam proyek Kuala Lumpur–Singapore High Speed Rail (HSR).

Rencana implementasi Kuala Lumpur–Singapore HSR sebenarnya sudah disusun sejak tahun 2013, namun pengerjaan proyek baru di tandatangani pada 13 Desember 2016. Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (4/1/2017), kesepakatan bilateral yang bersejarah ini untuk membangun jalur kereta kecepatan tinggi dengan target operasi pada 1 Desember 2026 mendatang. Proyek ini sendiri sebenarnya untuk meningkatkan konektivitas dan memperkuat hubungan ekonomi dan menjalin hubungan yang lebih erat antara kedua negara yang bertetangga ini.

Baca juga: Johor Baru – Singapura via Rapid Transit System di Tahun 2022

Meski baru bisa dinikmati sembilan tahun lagi, ada poin-poin penting terkait proyek Kuala Lumpur–Singapore High Speed Rail .

1. Waktu permulaan
Layanan ekspres yang menghubungkan Singapura dan Kuala Lumpur ditargetkan mulai tanggal 31 Desember 2026.

2. Delapan stasiun
Jalur ini akan melalui sebanyak delapan stasiun dengan tujuh diantaranya ada di Malaysia dan satu berada di Singapura. Delapan stasiun tersebut yakni rencananya di Kuala Lumpur, Putra Jaya, Seremban, Ayer Keroh Muar, Batu Paha, Iskandar Puteri dan Jurong Timur.

Baca juga: Jepang Tawarkan Teknologi Kereta Cepat Malaysia – Singapura

3. Panjang jalur 350 km
Proyek ini melibatkan pembangunan jalur baru (khusus), yang memungkinkan kereta mencapai kecepatan maksimum lebih dari 300 km per jam, 335 km jalur akan diatur di Malaysia, sementara jarak lintasan di Singapura hanya terbentang 15 km.

4. Waktu tempuh perjalanan singkat
High Speed Rail diharapkan mampu memangkas waktu tempuh dengan hanya 90 menit bila dibandingkan dengan perjalanan menggunakan mobil atau bus dari Singapura menuju Kuala Lumpur yang memakan waktu lima sampai enam jam.

Baca juga: Ingin Menikmati Sensasi Kereta Cepat, Bentang Lebar Rel Harus Diganti

5. Tiga layanan dengan dua operator terpisah
Ada dua layanan ekspress antar dua stasiun Jurong East di Singapura dan Bandar Malaysia di Kuala Lumpur, layanan antar jemput lebih pendek yang menghubungkan Singapura dengan Iskandar Puteri di Johor dan layanan domestik yang menghubungkan tujuh stasiun di Malaysia. Ketiga layanan tersebut akan dipimpin oleh dua operator berbeda, OpCo International dan OpCo Domestic.

Layanan ekspres dan antar-jemput oleh OpCo International akan terdiri dari peregangan stasiun Kuala Lumpur sampai Singapura dan stasiun Iskandar Puteri dan Singapura masing-masing. Dinas dalam negeri (pemerintah) hanya terdiri dari stasiun-stasiun di Malaysia saja, dari Kuala Lumpur sampai stasiun Iskandar Puteri. Memiliki dua OpCos berbeda akan memungkinkan HSR untuk lebih memenuhi kebutuhan berbeda dari profil penumpang mereka. OpCo Domestic juga akan memberi Malaysia fleksibilitas lebih untuk mengatur layanan internalnya sendiri. Layanan ekspres dan antar jemput akan diberikan penjadwalan dan prioritas operasional untuk layanan domestik.

6. Setiap negara membiayai pembangunan infrastruktur masing-masing
Pemerintah masing-masing negara bertanggung jawab dalam mengembangkan, membangun dan memelihara infrastruktur sipil di negarnya. MyHSR Coroporation di Malaysia dan Land Transport Authority (LTA) di Singapura.

Baca juga: Melesat 200 Km Per Jam, Arlanda Express Kereta Bandara Tercepat

7. Pelaksanaan Komite Bilateral
Komite bilateral akan mengawasi semua hal yang dapat mempengaruhi layanan kilat dan antar jemput. Tim gabungan tingkat kerja juga akan menangani semua hal yang memerlukan koordinasi dan keterlibatan bersama antara Singapura dan Malaysia.

8. Konsep CIQ Co-Located (Imigrasi)
Kedua negara telah sepakat bahwa fasilitas Customs, Immigration & Quarantine (CIQ) Singapura dan Malaysia akan berada di tiga lokasi – Kuala Lumpur, Iskandar Puteri dan Singapura. Penumpang yang terikat internasional harus melalui izin CIQ oleh pihak berwenang Singapura dan Malaysia hanya pada saat keberangkatan, memastikan perjalanan yang cepat dan mulus.

Baca juga: Rail Transit Suite, Solusi Untuk Penumpang Kereta Yang Lelah

9. Jembatan penghubung Sigapura dan Malaysia
Jalur sepanjang 350 km, delapan stasiun akan menghubungkan kedua negara melalui sebuah jembatan di Selat Johor yang berada di atas permukaan air (tinggi 25 meter). Pada tanggal 4 Januari 2017 kemarin, Otoritas LTA dan Singapura menyatakan bahwa tanah yang menjadi tempat Raffles Country Club di Tuas akan dibebaskan, karena dianggap sebagai lokasi yang paling sesuai untuk menjalankan jalur High Speed Rail.

10. Yang harus dilihat pertama
Muar Otah, Mie Daging Sapi Seremban dan Hello Kitty Town pertama di luar Jepang akan lebih mudah diakses setelah High Speed Rail beroperasi. Layanan kereta api yang baru akan menjadi cara lain bagi wisatawan dari Singapura untuk menjelajahi kota-kota yang kurang terkenal di Malaysia.

Penanganan Bagasi di Bandara Kini Libatkan Teknologi RFID

Semakin hari penumpang yang menggunakan moda transportasi udara meningkat, sehingga bandara dan maskapai penerbangan melakukan investasi pada teknologi terkait penanganan (handling) bagasi untuk meningkatkan kemanan barang bawaan penumpang.

Dilansir KabarPenumpang.com dari airport-technology.com (10/7/2017), Frances Marcellin, jurnalis asal Inggris, melihat beberapa cara agar teknologi bisa membantu dalam perbaikan proses krusial masalah penanganan bagasi di seluruh dunia. Pengenalan teknologi yang bertahap pada dekade terakhir ini meningkatkan keberhasilan penanganan bagasi yang signifikan. Saat ini dari data yang ada menunjukkan selama sepuluh tahun terakhir penumpang meningkat sebesar 1,2 miliar dan tas yang ditangani turun jumlahnya menjadi 20 juta lebih.

Baca juga: Punya Implan MicroChip? Hati-Hati Ketika Anda Melewati Sistem X-Ray Bandara

Tak hanya itu untuk meningkatkan penanganan bagasi, 200 bandara dan 500 maskapai penerbangan yang menjadi anggota International Air Transport Association (IATA), bekerja untuk meningkatkan dan memenuhi resolusi 753 dari asosiasi ini. Dengan artian nantinya mulai Juni 2018, setiap barang bawaan akan dilacak dan dipertanggungjawabkanan mulai dari check ini hingga pengambilan barang oleh penumpang.

“Bandara, maskapai penerbangan dan ground handler berusaha keras untuk memastikan bagasi yang dipesan penumpang membuat perjalanan yang sama dan tiba dengan selamat di tempat tujuan. SITA’s BagJourney mendukung pengalaman ini dengan memastikan semua orang yang terlibat dalam proses bagasi memiliki informasi terbaru tentang lokasi yang tepat dari setiap tas yang ditangani, ,” kata Matthys Serfontein, wakil presiden Solusi SITA, selaku penyedia solusi sistem informasi dan komunikasi untuk bandara.

Serfontein mengatakan ini adalah gudang dari semua kejadian penanganan bagasi mulaai dari check ini sampai pengiriman tas ke penumpang di tempat tujuan. Menurutnya BagJourney juga dapat memberikan bantuan jika bagasi penumpang tidak sampai ke pesawat karena terhubung dengan sistem WorldTracer SITA yang melacak barang bawaan yang hilang atau salah penanganan.

Baca juga: Ini Dia Troika! Robot Canggih di Bandara Incheon, Korea Selatan

Sebagai contoh jika tas penumpang salah, sebuah permintaan dapat diproses saat naik pesawat dan sebelum sampai di tempat tujuan untuk menghindari penundaan. Menyusul pelaksanaan BagJourney, Etihad Airway yang membawa 24,5 juta tas setiap tahun dengan jadwal 8.500 penerbangan telah melaporkan penurunan 20 persen tas yang tidak sesuai dari tahun 2015 .

Menurut Survei Tren IT Pasar 2011 dari SITA, 91 persen penumpang yang menggunakan teknologi swalayan untuk check in akan terus melakukannya untuk interaksi tatap muka. Tahun lalu di Bandara Luton London, Rockwell Collins memperkenalkan tas tak berbentuk T-series, yang beralih ke instalasi permanen pada bulan November 2016. Bagian dari investasi £110 juta oleh bandara untuk meningkatkan pengalaman penumpang, konfigurasi dua langkah tersebut melihat penumpang menimbang Tas dan tag cetak sebelum tas dikirim secara otomatis, tanpa penumpang perlu menyentuh tombol atau layar.

“Ini adalah tas drop sentuh pertama di dunia. Dalam hal penggunaan, instalasi kami memproses lebih dari 200.000 kantong minggu lalu saja. Saat ini sudah berada di 26 lokasi,” kata Tony Chapman, direktur senior manajemen produk dan program strategis untuk Rockwell Collins.

Chapman menjelaskan bahwa manfaat bandara mencakup peningkatan efisiensi terminal dan throughput sistem bagasi, sementara keuntungan maskapai adalah peningkatan pendapatan tambahan, penurunan biaya penanganan dan peningkatan nilai kepuasan pelanggan. “Bagi penumpang, manfaat utamanya sangat mengurangi waktu antrian, pemrosesan cepat dan sederhana, dan pengalaman check-in bebas stres,” tambahnya.

Sementara jumlah tas yang tidak ditangani menurun, data dari 2016 menunjukkan bahwa 47 persen kesalahan penanganan terjadi saat transfer berlangsung. Bandara Kopenhagen yang memiliki banyak penerbangan penghubung telah berurusan dengan masalah tag yang menjadi kusut atau tidak terbaca, yang berarti tas tidak dapat diproses oleh sistem penanganan bagasi.

“Jumlah tipikal kami yang tidak membaca tag tas berjalan sekitar 2-3 persen, sehingga mengurangi jumlah ini adalah kunci untuk memberikan peningkatan nyata dalam efisiensi kapasitas penanganan dan sistem Baggage Handling System (BHS),” kata Karsten Madsen, Bandara Kopenhagen.

Bandara tersebut memperkenalkan sistem pengkodean video Beumer Group (VCS), yang menggunakan perangkat lunak serupa yang banyak digunakan di industri paket, dan kamera pembaca otomatis (ATR) kamera dalam sistem penanganan bagasi untuk memecahkan masalah tag yang tidak dibaca. Bila tag bagasi tidak dibaca terjadi, gambar dikirim ke operator yang akan memilih gambar terbaik untuk dilihat dan menyandikan informasi dari jarak jauh melalui workstation atau tablet. VCS memungkinkan operator, tidak peduli di mana mereka berada, zoom-in untuk melihat tag yang tidak dibaca, menggunakan layar sentuh, daripada harus secara fisik memutar atau mengangkat tas.

Baca juga: Ada Guratan “Abu-Abu” Pada Sistem Pemindai Wajah di Bandara

RFID
Teknologi RFID (Radio Frequency Identification) diharapkan dapat lebih meningkatkan tingkat tag baca-baca di masa depan. Tag RFID bisa dimasukkan ke dalam tag tas dan track bawaan secara real-time. Dengan pembaca RFID membaca tag melalui gelombang radio, tag tersembunyi atau yang tidak terbaca tidak menimbulkan masalah, yang menyebabkan lebih sedikit tas yang salah penanganan. Sementara biaya disebut sebagai salah satu hambatan terbesar, SITA dan IATA menghitung bahwa RFID dapat diimplementasikan sekitar $0,10 per penumpang, sementara menghasilkan penghematan lebih dari $0,20 per penumpang.

Menurut sebuah studi oleh SITA, Delta Airlines, yang memproses 120 juta tas per tahun, menginvestasikan US$50 juta dalam teknologi RFID untuk membantu memenuhi Resolusi 753. Kini ditempatkan di 344 stasiun Delta di seluruh dunia, maskapai ini telah melaporkan tingkat keberhasilan pelacakan tas 99,9 persen. Untuk masa depan tas drop-off, bagaimanapun, mesin cerdas, seperti Leo, robot bagasi, bisa lepas landas di bandara. Leo adalah robot yang sepenuhnya otonom yang akan check-in dan mencetak label tas, dan kemudian mengangkut tas ke lokasi yang diinginkan sambil menghindari rintangan di bandara yang sibuk. Leo diujicobakan di Bandara Jenewa, Swiss tahun lalu dan saat ini merupakan bagian dari berbagai percobaan dan demonstrasi di seluruh dunia.