Sejak 2013, Proyek MRT Jakarta Telah Menyerap Dana Rp5 Triliun

Proyek pembangunan jalur MRT (Mass Rapid Transit) oleh PT MRT Jakarta sudah dimulai sejak tahun 2013. Dengan segala hiruk pikuknya, warga Jakarta pun sepakat bahwa inilah proyek megastruktur terbesar yang pernah dilangsungkan di DKI Jakarta. Dan secara terbuka, manajemen PT MRT Jakarta dalam Forum Jurnalis dan Blogger hari ini (26/9) menyebutkan bahwa secara keseluruhan proses pembangunan infrasktur sudah mencapai 80,1 persen. Dan akan dikejar hingga level 90 persen sampai akhir tahun ini.

Baca juga: Merespon Tanggapan Masyarakat, MRT Jakarta Gandeng Qlue Indonesia

Hal tersebut diungkapkan direktur utama PT MRT Jakarta William P. Sabandar. Lebih detail Ia mengakatan pencapaian 80,1 persen terdiri dari dua elemen, yakni pengerjaan elevated section, di permukaan tanah dan jalan layang mencapai 70,16 persen. Dan selanjutnya pengerjaan underground section, yang terdiri dari jalur terowongan dan stasiun bawah tanah yang sudah mencapai 90,22 persen.

Dengan besarnya pencapaian yang telah dilakukan, tentu menjadi pertanyaan menarik, berapa dana yang telah digelontorkan untuk menggarap mega proyek ini? Kesan ‘wah’ memang terasa, mengingat sebagian besar komponen pada proyek ini masih harus diimpor, terutama rangkaian kereta (rolling stock) dan rel yang masih harus didatangkan langsung dari Jepang.

“Semenjak proyek MRT ini berjalan di tahun 2013, sampai saat ini dana yang telah terserap mencapai Rp5 triliun, dan sampai akhir tahun ini kami akan menyerap hingga mencapai Rp8 triliun,” ujar William P. Sabandar. Ia menambahkan secara keseluruhan pada pembangunan jalur di fase I dibutuhkan dana sampai Rp16 triliun. Sumber pendanaan MRT Jakarta sendiri berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan pinjaman dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Pada kesempatan temu media, William dan jajarannya berkomitmen untuk mulai mengoperasikan MRT pada Maret 2019.

Baca juga: Lintasi Tol JORR, Inilah “Special Bridge,” Jembatan Unik di Jalur MRT Fatmawati

Di pembangunan fase II yang akan menghubungkan antara Stasiun Bunderan HI sampai Stasiun Kampung Bandan, gelontoran dana yang dibutuhkan akan lebih besar lagi, yakni mencapai total Rp25,1 triliun, mengingat jalur ini secara keseluruhan di bangun di bawah tanah, dan penggarapan terowongan kereta sebagian besar berada di bawah Sungai di Jalan Gajah Mada.

Aktivitas Magma Gunung Agung Meningkat, Angkasa Pura I Siap Antisipasi Dampak Erupsi

Dalam beberapa waktu terakhir, aktivitas magma Gunung Agung di Karangasem, Bali terus mengalami peningkatan, ditandai dengan aliran magma menuju ke permukaan. Menyikapi kondisi tersebut, PT Angkasa Pura I (Persero) selaku pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai telah menyatakan kesiapannya dalam mengantisipasi dampak erupsi Gunung Agung.

Baca juga: Operasional Bandara Ngurah Rai di Bawah Bayang-Bayang Erupsi Gunung Agung

Salah satunya yaitu manajemen Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai telah menggelar rapat koordinasi mitigasi potensi dampak erupsi Gunung Agung bersama dengan pemangku kepentingan terkait pada tingkat lokal di Bali sejak 22 September 2017 ketika status ‘awas’ diberlakukan. Rapat koordinasi ini melibatkan antara lain Kepolisian Daerah Bali, TNI AU Lanud Ngurah Rai, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali, Perum LPPNPI Bali, dan Otoritas Bandar Udara Wilayah IV.

“Jika potensi terjadinya erupsi Gunung Agung makin tinggi dan kondisi mendesak, Bandara I Gusti Ngurah Rai akan menyiapkan sejumlah langkah mitigasi dampak, seperti menyiapkan posko tanggap darurat bencana di bandara, menyiapkan fasilitas dan penunjang seperti layanan hotline contact center, help desk airlines untuk penumpang maskapai, media center untuk media massa, dan menyiapkan kendaraan bus atau roda empat untuk mengantar penumpang jika ingin mengganti rencana perjalanan via darat atau laut,” ujar Corporate Secretary PT Angkasa Pura I (Persero) Israwadi, dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com hari ini.

Bentuk kesiapan lainnya, lanjut Israwadi, adalah prosedur operasional standar Airport Disaster Management Plan (AMDP) yang disosialisasikan kepada anggota Airport Emergency Committee (AEC) yang terdiri dari pemangku kepentingan terkait seperti TNI, Perum LPPNPI, Kepolisian Daerah setempat, maskapai, imigrasi, karantina, dan ground handling. “Sosialisasi ini memberitahukan mengenai tugas dan tanggung jawab agar apabila terjadi bencana, semua pihak sudah paham hal-hal apa saja yang harus dilakukan oleh masing-masing pihak,” imbuh Israwadi.

Selanjutnya jika teridentifikasi muncul volcanic ash atau abu vulkanik, maka Bandara I Gusti Ngurah Rai akan ditutup dan penerbangan akan dialihkan (divert) ke bandara sekitar, seperti Bandara Juanda Surabaya yang dapat menampung 12 slot penerbangan, Bandara Internasional Lombok yang dapat menampung 2 penerbangan, dan Bandara Adi Soemarmo Solo yang dapat menampung 30 slot penerbangan.

Baca juga: Abu Vulkanik, Musuh Besar Dalam Dunia Penerbangan

Selain Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bandara Internasional Lombok juga telah melakukan sosialiasi AMDP kepada anggota AEC Lombok pada Senin (25/9/2017) pagi, sebagai lanjutan dari kegiatan koordinasi penanggulangan bencana yang sebelumnya pada 19 September 2017. Namun kali ini dengan penambahan ditambah pengecekan fasilitas penunjang dan simulasi latihan kejadian.

Keluar Bandara Ini, Wisman Dilarang Menggunakan Kantong Plastik, Kenapa Ya?

Jika Anda berencana untuk berkunjung ke Kenya, bersiaplah untuk menghadapi salah satu peraturan unik di sana, yaitu pelarangan penggunaan kantong plastik. Tercatat, Kenya merupakan salah satu negara di Afrika yang menganut peraturan pelarangan tersebut, lainnya adalah Rwanda, Kamerun, Guinea-Bissau, Mali, Tanzania, Uganda, Ethiopia, dan Malawi. Ini merupakan bentuk tindak lanjut dari upaya pencegahan pencemaran lingkungan, karena sifat plastik sendiri yang sulit diurai.

Baca Juga: Yang Tabu Saat Anda Berada di Bandara

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman the-star.co.ke (28/8/2017), Otorita Lingkungan dan Manajemen Nasional mengatakan bagi setiap wisatawan yang datang ke Kenya dan ketahuan membawa kantong plastik, maka mereka wajib meninggalkannya di bandara. Yang dimaksud adalah Jomo Kenyatta
International Airport yang berlokasi kota Nairobi. Hal ini mengikuti putusan pihak Pengadilan Tinggi yang melarang penggunaan kantong plastik yang dinilai kurang efektif di negara tersebut. Pelarangan ini tidak berlaku di daerah yang berada di luar teritori negara Kenya.

Keputusan tersebut membuat Kenya menjadi negara terakhir di Afrika yang memperkenalkan larangan penggunaan kantong plastik setelah Mauritania, yang diketahui memberlakukan peraturan serupa sejak tahun 2013 silam. Selain itu, ini merupakan kali ketiga pemerintah mengeluarkan peraturan yang sama, setelah sebelumnya gagal di tahun 2007 dan 2011.

Meski begitu, Kenya Association of Manufacturers mengatakan larangan tersebut belum berdampak signifikan pada perputaran roda produksi. “Kami ingin mengklarifikasi bahwa, sebagai asosiasi produsen, kami tidak pernah menentang maksud dari larangan tersebut, yaitu untuk membersihkan negara kita, untuk meningkatkan kualitas hidup semua warga negaranya,” ungkap CEO eksekutif pabrik, Phyllis Wakiaga dalam menanggapi hasil putusan pengadilan tersebut. “Kami hanya berbeda dengan cara pelaksanaannya saja, yang tidak memperhitungkan hasil konsultasi dengan pemangku kepentingan secara memadai,” imbuhnya.

Ironi mulai muncul manakala isu tentang pergantian kantong plastik dengan tas ramah lingkungan. Banyak yang beranggapan bahwa tas ramah lingkungan tersebut akan menjadi tidak higienis ketika digunakan berulang kali untuk membuang sampah, hal tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan masalah sosial baru di Kenya.

Untuk memastikan kelancaran transisi dari kantong plastik, pihak pabrikan yang tergabung dalam sebuah asosiasi tersebut meminta pemerintah untuk melibatkan mereka dalam mengembangkan langkah-langkah yang bisa menjadi alternatif. Sebagai alternatif pelarangan, asosiasi tersebut telah mengembangkan dan mempresentasikan solusi pengelolaan limbah kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam.

Baca Juga: 85% Kecelakaan Lalu Lintas di Kenya Karena Human Error

Proposal tersebut mencakup strategi bagaimana mengelola limbah di negara tersebut dan juga proses menciptakan lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat Kenya. “Kami meminta Kementerian Lingkungan untuk meninjau proposal ini karena potensinya akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tutur Phyllis.

Diketahui, saat ini terdapat lebih dari 176 perusahaan manufaktur plastik di dalam negeri, yang secara langsung mempekerjakan 2,89 persen dari seluruh warga Kenya atau lebih dari 60.000 orang. Jika pelarangan penggunaan plastik ini diterapkan, maka secara otomatis roda produksi akan terhenti dan karyawan di manufaktur tersebut akan kehilangan pekerjaannya. Tidak hanya karyawan, pendapatan negara juga otomatis akan berkurang karena penutupan manufaktur kantong plastik.

Citilink Raup Penjualan Rp3,99 Miliar di GATF Fase II

Dalam ajang Garuda Indonesia Airlines Travel Fair (GATF) fase dua yang digelar 22-24 September 2017 kemarin, dikabarkan bahwa anak perusahaan Garuda Indonesia, yakni Citilink berhasil mencatatkan penjualan sebesar Rp3,99 miliar. Jumlah ini lebih besar dari fase pertama tanggal 10-12 Maret 2017 lalu, yang mencatatkan penjualannya sebesar Rp3,27 miliar.

Baca juga: Garuda Indonesia Travel Fair Fase II, Roadshow ke 22 Kota

Sebagai maskapai low cost carrier (LCC), Vice President Corporate Communication Citilink Indonesia Benny S Butarbutar mengatakan, pencapain ini meningkat 22 persen dari fase pertama.

“Nilai transaksi penjualan periode kedua ini mengalami peningkatan 22 persen dari GATF periode pertama, yang menunjukan peningkatan minat masyarakat untuk bepergian menggunakan Citilink Indonesia sebagai pilihan transportasi udara,” ujar Benny S Butarbutar yang dikutip KabarPenumpang.com dari tribunnews.com (25/9/2017).

Dari dua fase GATF 2017 yang diselenggarakan jumlah total penjualan tiket Citilink sebesar Rp7,26 miliar. Tujuan penerbangan yang laris pada fase kedua ini adalah Denpasar, Medan dan Yogyakarta.

Sedangkan pada fase pertama pengunjung banyak membeli tiket Citilink tujuan Denpasar, Lombok, Yogyakarta, Medan dan Malang. Pada GATF fase kedua ini Citilink menawarkan promo seperti diskon 15 persen dan juga menawarkan keanggotaan Supergreen Garuda Miles yang terintegrasi dengan Garuda Indonesia serta promo lainnya seperti paket perjalanan dan jaringan hotel di Indonesia.

Melalui pencapaian Citilink ini, target untuk megangkut 14,7 juta penumpang sepanjang tahun 2017 pastinya bisa tercapai. Tak hanya itu juga dengan jumlah armada yang terus bertambah dan ekspansi rute ke kawasan timur Indonesia serta regional akan menjadi kekuatan Citilink untuk mencapai target tahun 2017.

Baca juga: Dorong Potensi Wisata, Citilink Buka Rute Baru Medan-Yogyakarta

Penambahan armada baru Citilink Indonesia yakni enam pesawat Airbus A320 dimana ada lima unit A320Neo dan satu unit A320Ceo. Dengan penambahan enam pesawat ini melengkapi jajaran Armada Citilink menjadi 50 unit.

Diketahui jumlah pengguna jasa angkutan udara pada tahun 2017 diproyeksikan akan sedikit lebih baik dibanding tahun 2016, meski laju pertumbuhan ekonomi nasional 2017 diprediksi sebesar 5,1 persen atau sama dengan target akhir tahun 2016.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 menunjukkan bahwa jumlah penumpang angkutan udara mengalami kenaikan paling besar dibandingkan mode transportasi lainnya. Jumlah penumpang penerbangan domestik tercatat mencapai 80,4 juta Orang atau naik 16,97 persen dibanding tahun 2015.

Operasional Bandara Ngurah Rai di Bawah Bayang-Bayang Erupsi Gunung Agung

Gunung Agung di Karangasem, Bali saat ini berstatus awas atau berada di level IV dan menjadi salah satu gunung aktif paling eksplosif di Indonesia, yang kabarnya melebihi Gunung Merapi di Yogyakarta dan Gunung Sinabung di Sumatera Utara. Gunung Agung sendiri memiliki ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut dan dari puncaknya, para pendaki bisa melihat puncak Gunung Rinjani di Lombok.

Baca juga: Bandara Blimbingsari, Andalkan Konsep Green Airport dan Kearifan Lokal

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, yang menyatakan gunung ini merupakan gunung yang disakralkan oleh masyarakat Hindu Bali. Berbagai macam upacara adat sering kali dilaksanakan untuk menghormati gunung tertinggi di Bali tersebut.

Sayangnya, Gunung Agung tidak memberikan catatan yang detail tentang letusan yang pernah terjadi. Adapun catatan awal Gunung Agung meletus tahun 1808 yang disertai dengan uap dan abu vulkanik. Letusan kedua terjadi tahun 1821, ini menjadi lanjutan aktivitas tahun 1808.

Namun letusan tahun 1821 tidak terekam dengan jelas dan berlangsung normal. Tahun 1843, Gunung Agung kembali meletus dengan diawali aktivitas kegempaan. Kemudian tahun 1963 atau tepatnya 120 tahun setelah letusan terakhir, Gunung Agung memulai aktivitasnya kembali pada 18 Februari 1963 dengan letusan dahsyat yang mengakibatkan 1.148 orang meninggal dunia dan 296 orang luka.

Seperti halnya di di Merapi, korban tewas mayoritas terkena awan panas yang menerjang permukaan dengan lebar 70 km per segi. Letusan ini cukup dahsyat dan baru berakhir pada 27 Januari 1964. Tapi berbeda dengan ini, kala itu di Bali belum terlalu menjadi daerah tujuan wisata utama. Jalur penerbangan juga belum terlalu di perhatikan, pasalnya Bandara I Gusti Ngurah Rai yang dibangun Belanda pada tahun 1930 baru berstatus sebagai bandara internasional pada 10 Agustus 1966 atau tiga tahun setelah pengembangan proyeknya di tahun 1963.

Baca juga: Apa Kabar Fasilitas “Khusus” Bagi Penumpang?

Penyelesaian Pengembangan Pelabuhan Udara Tuban ditandai dengan peresmian oleh Presiden Soeharto pada tanggal 1 Agustus 1969, yang sekaligus menjadi momen perubahan nama dari Pelabuhan Udara Tuban menjadi Pelabuhan Udara Internasional Ngurah Rai (Bali International Airport Ngurah Rai).

Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi, Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Gede Suantika mengatakan, penerbangan tahun itu memang terganggu dan awan panas sampai ke daerah Jawa Timur. “Terganggu iya, tetapi data jelasnya tidak tahu berapa lama. Itu bisa ditanyakan pada bagian yang menangani penerbangan,” ujar Gede saat dihubungi KabarPenumpang.com (25/9/2017).

Saat ini, Gunung Agung dengan status awasnya, Gede menambahkan, di perkirakan letusan akan besar dan bisa mengganggu penerbangan karena awan panasnya. Tapi faktanya, aktivitas bandara Ngurah Rai sampai tulisan ini diturunkan belum ada gangguan sama sekali dan masih dipastikan jalur penerbangan berjalan normal.

Berdasarkan pengukuran dari Google Maps, jarak antara Bandara Ngurah Rai di Denpasar dan Gunung Agung sekitar 75,2 kilometer, atau jika ditempuh dengan mengendarai mobil dalam kondisi lancar bisa dicapai dalam 2,5 jam. Posisi yang jelas tidak terlalu jauh, dan bila terjadi erupsi abu vulkanik, arah angin lah yang akan menentukan operasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Jerman Datangkan Saksi Bisu Pembajakan Lufthansa 1977, Indonesia Juga Punya Sejarah Yang Mirip

Tahun 1977, menjadi tahun bersejarah bagi maskapai Lufthansa. Pasalnya, Boeing 737-200 yang tengah dalam perjalanan dari Majorca menuju Frankfurt dibajak oleh sekumpulan teroris pada bulan Oktober 1977. Kini, kejadian yang hampir genap 40 tahun itu menyisakan kenangan bagi semua orang yang merasakan ketegangan di dalam penerbangan nahas tersebut. Dan sebagai salah satu saksi bisu drama tersebut, sosok pesawat Boeing 737-200 yang dibajak kembali menunjukkan batang hidungnya.

Baca Juga: Pembajakan Pesawat Terlama, 39 Hari Kelam Penumpang El Al Flight 426

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (23/9/2017), rencananya pesawat tersebut akan menjadi etalase salah satu sudut di Museum Dornier, Jerman. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, tragedi pembajakan tersebut bermula ketika Boeing 737-200 milik maskapai Lufthansa baru saja bertolak dari Majorca (kini dikenal dengan Mallorca), pulau terbesar di Kepulauan Balearic, yang merupakan bagian dari Spanyol, menuju Frankfurt, Jerman.

Pembajakan tersebut terjadi pada 13 Oktober 1977 pukul 11.00 waktu setempat, dimana penerbangan Lufthansa LH 181 tengah mengangkut 86 penumpang dengan lima awak pesawat di dalamnya. Setelah berlabuh di berbagai kota untuk mengisi bahan bakar, akhirnya drama pembajakan tersebut berakhir di kota Mogadishu, Somalia pada 18 Oktober 1977. Dalam kejadian bersejarah ini, pembebasan para sandera di dalam pesawat tidak lepas dari peran pasukan anti teror Jerman, Grenzschutzgruppe 9 (GSG 9).

Selain berhasil membebaskan para sandera, insiden pembajakan ini juga merupakan misi pertama dari Police Tactical Unit milik Kepolisian Federal Jerman ini. Walaupun pilot Jürgen Schumann dan beberapa orang lainnya tewas dalam kejadian ini, namun operasi tersebut bisa dibilang berhasil dan menorehkan sejarah baru di dunia aviasi. Mengingat berharganya peristiwa kelam tersebut, maka otoritas setempat sepakat untuk megabadikan benda bersejarah tersebut.

Sumber: dailymail.co.uk

Menteri Luar Negeri Jerman, Sigmar Gabriel, memutuskan untuk membeli bangkai pesawat tersebut seharga £20.000 (setara Rp361 juta) dan membawanya kembali pulang ke Jerman dari Brasil. Selama bertahun-tahun, Landshut, nama pesawat tersebut, bermukim di Fortaleza Airport tanpa ada penanganan khusus. Maka tidak heran jika badan pesawat tersebut nampak usang dan mulai termakan usia. “Ini akan menjadi simbol masyarakat bebas yang menolak menyerah pada ancaman terorisme,” ungkap Sigmar.

Jürgen Vietor. Sumber: dailymail.co.uk

Pesawat tiba di kota Friedrichshafen dan disambut oleh sejumlah wartawan dan saksi hidup dari kejadian mengerikan tersebut, tidak terkecuali sang co-pilot, Jürgen Vietor. Pesawat narrow body tersebut diangkut menggunakan Antonov An-124, dengan bagian sayap dan ekor yang dilepas untuk memudahkan pemindahan.

Jangan hanya terpaku dengan sejarah yang ditorehkan di luar negeri, Indonesia sendiri pernah mengalami hal serupa. Kala itu, 28 Maret 1981, pesawat McDonnell Douglas DC-9-32 milik maskapai Garuda Indonesia mengangkut sekitar 57 penumpang hendak bertolak dari Jakarta pada pukul 08.00 WIB, transit di Palembang, dan akan terbang ke Medan dengan perkiraan sampai pada pukul 10.55 WIB. Pembajakan yang dikenal sebagai Peristiwa Woyla ini berawal ketika Garuda Indonesia Penerbangan 206 menyertakan beberapa teroris yang menyamar menjadi penumpang. Aksi tersebut dilakukan oleh lima orang teroris yang dipimpin Imran bin Muhammad Zein, dan mengidentifikasi diri sebagai anggota kelompok Islam ekstremis “Komando Jihad”.

McDonnell Douglas DC-9-32 Dalam Peristiwa Woyla. Sumber: istimewa

Pembajakan ini dilatarbelakangi oleh tuntutan agar para rekan sang teroris yang ditahan pasca Peristiwa Cicendo di Bandung, Jawa Barat, supaya dibebaskan. Drama pembajakan berakhir pada 31 Maret 1981 di Bandara Don Mueang, Bangkok. Dalam peristiwa ini juga, nama Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang semula bernama Kopassandha mulai naik pamor setelah sukses melakukan operasi kilat pembebasan pesawat. Satu anggota Kopassus, pilot, dan empat pembajak gugur dalam kejadian ini.

Baca juga: DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an

Jika ditarik benang merahnya, Peristiwa Woyla dan Pembebasan Boeing 737-200 milik Lufthansa di Mogadishu memiliki beberapa kesamaan. Ketika otoritas berwenang Jerman berusaha untuk mengabadikan sejarah kelam dunia penerbangan mereka, lalu bagaimana dengan otoritas Indonesia yang mungkin lupa akan sejarah ini? Akankah mereka mendatangkan pesawat McDonnell Douglas DC-9-32 milik maskapai Garuda Indonesia yang menjadi saksi bisu kejadian kelam tersebut dan menjadikannya monumen agar generasi muda dapat mengingat sejarah?

Liam Neeson Suguhkan Aksi Thriller Terbarunya di Kereta Amtrak

Usianya sudah tergolong paruh baya, namun setiap aksi Liam Neeson yang kini berusia 65 tahun selalu dinanti para penggemar film action thriller. Dan ikut melengkapi deretan film Hollywood dengan latar cerita di kereta api, Neeson di film terbarunya “The Commuter” akan tampil mengejutkan penuh ketegangan dari atas gerbong kereta Amtrak.

Baca juga: Saat Kereta Ikut Kondang Sebagai Latar Film Box Office

KabarPenumpang.com melansir dari laman mensfitness.com (22/9/2017), dalam film ini Liam berperan sebagai seorang salesman asuransi yang selalu disibukkan dengan segala aktivitasnya yang sama hampir setiap hari. Liam menggunakan commuter sebagai alat transportasinya sebab selain cepat, juga lebih murah dibanding dengan yang lainnya.

Dalam film The Commuter, Liam dihadapkan pada situasi dimana ada sebuah rencana mematikan sedang berlangsung dan tanpa sadar terjebak dalam persekongkolan kriminal. Dimana nyawa para penumpang serta dirinya sendiri sebagai taruhan.

(Youtube)

Seperti kisah pembunuhan di film Orient Express tetapi dengan kekerasan yang jauh lebih banyak. Liam harus bertarung nyawa dengan meloncat pada kereta yang melaju kencang.

Tak hanya itu, dalam potongan trailer The Commuter juga terlihat Liam harus bertaruh nyawa dengan kecepatan kereta keluar dari rel sebelum kereta tersebut menggilas dirinya. Memang, terlihat sangat menegangkan dan mengerikan dimana Liam harus melakukannya dengan cepat sebelum tewas terlindas.

The Commuter merupakan film garapan sutradara Jaume Collet Sera diketahui menggunakan kereta Amtrak sebagai set film The Commuter yang akan tayang pada Januari 2018 mendatang. Kereta Amtrak sendiri sudah digunakan pada film Hollywood seperti Under Siege 2: The Dark Teritory (1995), Polar Express (2004) dan Mission Impossible (1996).

Selain The Commuter, film yang menggunakan kereta api sebagai latar belakangnya juga sudah ada dari tahun 1970-an. Film tersebut yakni Murder on the Orient Express (1974), Mr Bean Holiday (2007), Midnight Meat Train (2008), Last Passanger (2013) dan Train to Busan (2016).

Baca juga: Serba-Serbi Amtrak, Kereta Jarak Jauh Yang Sering Mejeng di Film Hollywood

(Youtube)

Tak hanya itu Amtrak menghubungkan lebih dari 500 destinasi dari 46 wilayah yang berbeda di Amerika Serikat dan tiga wilayah di Kanada. Setiap harinya, kereta dengan ciri khas berwarna silver kaleng dengan beberapa lekukan pada bagian sampingnya mengoperasikan sekitar 300 kereta dengan total jarak tempuh kurang lebih 34.000 km.

Adanya film The Commuter ini juga menambah panjang deretan film-film Hollywood dengan latar belakang kereta api.

 

Patrick Smith: Meski Tidak Ekonomis dalam Pengoperasian, Tak Ada Masalah Dengan Usia Pesawat

Setiap benda, baik hidup maupun mati pasti memiliki umurnya masing-masing, tidak terkecuali dengan pesawat terbang. Pernahkah Anda bertanya-tanya, berapakah umur pesawat yang sedang Anda tumpangi? Atau bagaimana cara mengetahui umur pesawat Anda? Pertanyaan tersebut seolah berputar dalam benak pikiran, mengingat setiap pesawat yang sudah berumur, tentu memiliki penanganan khusus yang berbeda dengan pesawat baru yang berteknologi lebih modern.

Baca Juga: Pengamat Menjawab 6 Permasalahan Antara Penumpang dan Maskapai Penerbangan

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman traveller.com.au (7/8/2017), pihak maskapai LCC asal tanah Britania Raya, Jet2 tengah menyelidiki penyebab pendaratan darurat yang dilakukan oleh dua armada Boeing 737 miliknya. Diindikasikan, usia kedua pesawat tersebut sudah terlalu tua untuk terbang. Pesawat pertama dengan rute penerbangan Ibiza menuju Leeds melakukan pendaratan darurat di Barcelona pada 16 Juli 2017. Sedangkan yang satunya lagi, pesawat tujuan Newcastle – Praha melakukan pendaratan darurat di Frankfurt pada 28 Juli 2017.

Setelah ditelusuri, ternyata kedua pesawat tersebut merupakan keluaran tahun 1986. Lalu, apakah usia pesawat yang sudah lebih dari 30 tahun itu mempengaruhi pendaratan darurat tersebut? Seorang pilot berkebangsaan Amerika Serikat yang juga seorang penulis Cockpit Confidential, Patrick Smith menyangkal pernyataan tersebut. “Salah satu alasan mengapa sebuah pesawat komersial dibanderol dengan harga yang sangat mahal adalah daya tahan pesawat tersebut yang bisa dibilang sangat lama atau bisa dibilang tidak terbatas masa penggunaannya,” tukas Patrick.

Patrick Smith. Sumber: istimewa

“Namun semakin tua umur sebuah pesawat, maka semakin banyak pula aspek yang mesti diperhatikan. Dalam artian, semakin banyak kriteria pemeriksaannya,” imbuhnya. Lalu, bagaimana dengan banyaknya pesawat yang pensiun setelah beroperasi lebih dari 30 tahun? Jawabannya sangat sederhana, karena dalam pengoperasiannya, pesawat-pesawat tersebut dinilai sudah tidak ekonomis, sehingga menimbukan beban biaya operasional dan perawatan yang besar.

Baca Juga: Maskapai Timur Tengah Terapkan Standar Tinggi dalam Penerbangan

Nilai ekonomi dari sebuah pesawat tentunya akan mempengaruhi usia pesawat tersebut. Bukan usia dalam arti sesungguhnya, melainkan waktu pengoperasiannya. Ketika sebuah manufaktur penerbangan mengeluarkan pesawat yang hemat bahan bakar, maka pilihan untuk mempertahankan sebuah jet tua kerap kali dikesampingkan karena secara finansial dianggap tidak masuk akal.

Dari sekian banyak maskapai penerbangan yang ada di dunia, Delta Airlines dianggap sebagai maskapai yang mengoperasikan armada dengan usia produktif mencapai rata-rata 17 tahun. Sedangkan Air Canada dan United Airlines menduduki posisi kedua dan ketiga dengan usia pesawat 14,2 dan 14,1 tahun.

Dalam perspektif maskapai modern, penggantian armada dengan pesawat yang baru dengan teknologi canggih, selain bertujuan untuk meningkatkan pelayanan dan promosi, namun lain dari itu, adopsi pesawat baru yang lebih hemat bahan bakar dan jarak tempuh lebih panjang dapat menghemat biaya operasional yang dikeluarkan.

Lima Maskapai Ini Kondang dengan Sajian Makanan Yang Buruk

Tujuan utama menggunakan jasa penerbangan tentu bukan melihat dari kualitas sajian makanan selama perjalanan. Namun kenyataannya, tak bisa dipungkiri bahwa sajian makanan ikut menjadi pertimbangan serius, terlebih pada penerbangan jarak jauh yang dilayani penerbangan full service. Selain pertimbangan soal harga tiket, sajian panganan selama penerbangan kerap menjadi pertimbangan calon penumpang untuk memutuskan maskapai apa yang akan dipilih.

Bagi umumnya warga Indonesia, rekomendasi pertama untuk hidangan makanan adalah Garuda Indonesia, namun jika dirasa kurang sreg atau tiket dianggap lebih mahal, pilihan kedua adalah maskapai Asia dan Timur Tengah. Dan pilihan terakhir menggunakan maskapai asal Eropa. Selain mengedepankan standar internasional, cita rasa resep dan menu dari negara asal memang dikedepankan oleh maskapai flag carrier sebagai bentuk dari representasi dari wisata kuliner.

Meski selera lidah tiap orang berbeda, sajian makanan dan minuman di kabin pesawat sudah punya acuan standar kelayakan tersendiri. Namun, apa jadinya bila makanan tersebut tidak sesuai dengan yang ada di pikiran Anda maupun penumpang lain? KabarPenumpang.com merangkum dari tripsavvy.com, ternyata ada beberapa maskapai yang memberikan makanan yang dianggap kurang layak untuk penumpangnya. Berikut beberapa maskapai tersebut.

Baca juga: Sajian Makanan di Pesawat Wajib Ekstra Bumbu, Inilah Alasannya!

1. Air Cina
Maskapai plat merah milik Negara Tirai Bambu ini memiliki reputasi kurang steril dan menjadi sebuah pernyataan yang menjatuhkan serta meremehkan. Secara obyektif, maskapai ini mendapat peringkat bintang dua dari Skytrax. Dengan bintang dua ini, cukup memalukan dibanding maskapai Jepang yang beberapa maskapainya sudah mendapat peringkat bintang lima. Ini bisa Anda rasakan jika sudah menggunakan Air Cina dalam penerbangan.

Dalam penerbangannya, maskapai layanan penuh ini memberikan makanan baik kelas ekonomi, kelas bisnis hingga kelas satu sama tidak ada perbedaan. Kualitas makanan pada maskapai ini tidak ada perubahan saat berangkat dari bandara di Beijing sebagai pusat distribusi makana dalam penerbangan mereka.

2. United Airlines
Maskapai papan atas asal Amerika Serikat ini namanya kondang lantaran sering membuat kontroversi dari masalah penumpang hingga meniadakan es krim sundae. Seperti pada bulan April lalu, ratusan hingga ribuan penumpang United Airlines mengamuk di media sosial, lantaran maskapai ini selama satu minggu tak menyajikan hidangan penutup yang telah menjadi tradisi turun temurun dari United Airlines, yalni es krim sundae

Baca juga: Hapus Sajian Es Sundae Sesaat, Penumpang United Airlines Ungkap Kekesalan di Media Sosial

(Pinterest)

3. Air Koryo
Maskapai milik Korea Utara ini benar-benar tidak layak memberikan makanan pada pelayananya. Sebab makanan yang disajikan hanya sebuah burger dengan daging tipis tanpa sayuran, mayones ataupun saus. Maskapai ini bisa dikatakan menjadi salah satu maskapai terburuk di dunia dalam pelayanannya.

4. Ukraine International Airlines
Bisa dikatakaan makanan yang diberikan maskapai UIA ini sama seperti yang Anda makan biasanya. Sebab, tidak ada yang spesial dan bukan juga makanan tradisional atau khas dari Ukraina sendiri.

(Pinterest)

5. Adria Airlines
Berdiri sejak sebelum 2012, maskapai asal Slovenia ini memberikan pelayanan yang bisa dikatakaan tidak pantas. Memang untuk perjalanan singkat makanan tidak terlalu dibutuhkan, namun dalam penerbangan Adria ini, penumpang akan diberikan sandwich atau roti isi yang tidak layak dimakan baik untuk mengenyangkan perut atau hanya sekedar mengganjal perut.

Gara-Gara Listrik Mati, Bandara Sydney Menuai Delay Panjang

Belum lama ini bandara tersebuk di Australia Sydney Airport (Kingsford Smith) mengalami situasi chaos, tapi penyebabnya bukan karena ancaman teror. Pada hari pertama liburan sekolah, ribuan orang harus terdampar di bandara tersebut akibat pemadaman listrik dan mengganggu semua penerbangan pada hari Minggu kemarin (24/9). Ini terjadi sekitar pukul 05.00 pagi yang mengakibatkan radar dalam pengendalian lalu lintas udara terganggu, baik untuk penerbangan domestik maupun internasional.

Baca juga: Antisipasi Terorisme, Bandara-Bandara di Australia Dihimbau Perketat Keamanan

KabarPenumpang.com merangkum dari theguardian.com (24/9/2017), terlihat dari beberapa postingan di Twitter pagi itu, antrian mengular dari pintu depan semua terminal di bandara. Kejadian ini dikarenakan masalah pemadaman listrik, sehingga kontrol lalu lintas udara kembali ke proses manual untuk pesawat yang akan berangkat dan hanya mengizinkan 15 pesawat tinggal landas untuk setiap jamnya.

Pemadaman listrik yang mengganggu lalu lintas penerbangan membuat Virgin Australia, Qantas dan Jetstar mengonfirmasi pada penumpangnya, bahwa masalah juga memengaruhi penerbangan pesawat mereka. Untungnya masalah ini bisa diselesaikan pada jam 09.00 pagi, namun otoritas bandara bekerja keras untuk menyelesaikan timbunan penerbangan yang tertunda hari itu.

Jadwal penerbangan di Bandara Sydney (Daily Telegraph)

“Masalah sudah diatasi, tapi bandara tidak berada pada kapasitas normal. Kami bekerja keras untuk menghapus antrian penerbangan,” ujar juru bicara Air Service Australia (ASA) Sarah Fulton. Seorang penumpang yang pesawatnya tertunda di aspal mengatakan, kapten telah memberitahu mereka bahwa kontrol lalu lintas udara sedang menggunakan sistem manual untuk penerbangan pesawat. Ini berarti hanya 15 yang siap berangkat setiap jamnya dibandingkan yang biasanya 80 penerbangan.

Baca juga: Atasi Lonjakan Trafik, Sydney Bersiap Bangun Bandara Internasional Kedua

Juru bicara Virgin Australia mengonfirmasi bahwa semua penerbangannya didasarkan pada kesalahan teknis yang terjadi di bandara. Maskapai ini juga mengatakan akan berusaha membuat para penumpangnya berangkat secepat mungkin setelah masalah diperbaiki. “Kami akan menghubungi penumpang yang terdampak, tetapi kami juga mengajak agar semua penumpang bisa memeriksa situs kami untuk status penerbangan,” ujar juru bicara Virgin Australia.

Karena masalah ini, pihak bandara Sydney juga berharap agar para pelancong bersabar. “Penerbangan tertunda karena masalah sistem layanan @airservice. Silahkan periksa ke maskapai penerbangan Anda untuk mengetahui status penerbangan. Terimakasih atas kesabaran Anda,” ujar pihak bandara melalui cuitan di Twitter mereka.

Dampak dari kejadian di Sydney juga langsung berpengaruh pada aktivitas di bandara-bandara lain. Seperti pengaruh dirasakan di Melbourne, di mana liburan sekolah juga dimulai. Pesawat yang terbang dari Melbourne menju Sydney tidak bisa berangkat sesuai jadwal dan penundaan penerbangan dilakukan sepanjang hari, kata seorang juru bicara bandara Melbourne.

Diketahui, beberapa penumpang mencuitkan kegundahan mereka di Twitter disertai foto. “Frustasi pesawat di Sydney Airport penundaan besar @abcnews karena gagal sistem,” ujar salah satu cuitan dari Lexy Hamilton Smith.