Pergerakan Penumpang Pesawat, Bisa Jadi Faktor Penyebaran Infeksi Pernafasan

Penumpang dengan pembawa influenza atau infeksi pernapasan lainnya bisa menularkan ke penumpang lainnya melalui tetesan cairan dari bersin atau saat batuk dan menutup mulut menggunakan tangan. Apalagi penularannya juga tidak akan mungkin ke semua penumpang dalam satu pesawat tetapi hanya yang berada di sekitaran penumpang sakit tersebut atau bersentuhan melalui benda yang di pegangnya.

Baca juga: Saat Ada Penumpang Flu di Kabin, Maka Virusnya Tak Menyebar Pada Semua Orang

Profesor Vicki Hertzberg dari Nell Hodgson Woodruff School of Nursing di Universitas Emory dan Howard Weiss yang memimpin penelitian mengatakan, pengembangan model untuk melihat penularan infeksi pernafasan atau influenza menggabungkan perkiraan infektivitas dan pola-pola kontak atau berhubungan di antara penumpang. KabarPenumpang.com merangkum dari futurity.org (21/3/2018), seperti kontak awak kabin dengan penumpang, hal ini bisa memungkinkan terkena infeksi.

Anggota tim FlyHealthy yang melakukan penelitian ini, memantau area khusus kabin penumpang dan melakukan lima perjalanan dari East ke West Coast. Perjalanan tersebut dilakukan untuk melihat dan mencatat pergerakan penumpang dan awak kabin.

Selain itu, para peneliti tersebut juga mengumpulkan sample udara dan mengambil dari permukaan yang terpapar mikroba. Para peneliti ini memanfaatkan data dari pergerakan untuk menciptakan ribuan skenario penerbangan seperti simulasi dan kemungkinan terkena paparan langsung penyakit pernapasan yang ditularkan melalui percikan cairan di permukaan dan udara.

“Penyakit pernapasan sering menyebar dalam populasi melalui kontak dekat. Kami ingin menentukan jumlah dan durasi kontak sosial antara penumpang dan kru, tetapi kami tidak dapat menggunakan teknologi pelacakan reguler kami di pesawat terbang. Dengan pengamat terlatih kami, kami dapat mengamati di mana dan kapan kontak terjadi di penerbangan. Ini memungkinkan kita untuk memodelkan bagaimana transmisi langsung mungkin terjadi,” jelas Hertzberg.

Hertzberg mengatakan, pihaknya menjadi tahu tentang bagaimana penumpang bergerak di dalam penerbangan. Mereka membuat ilustrasi dimana 40 persen penumpang tidak pernah meninggalkan tempat duduknya, 40 persen lainnya bangun satu kali selama penerbangan.

Sedangkan sisa 20 persen lainnya bangun dua kali atau lebih. Jarak ke lorong kabin juga menjadi salah satu alasan pergerakan para penumpang pesawat.

Sekitar 80 persen penumpang bergerak biasanya berada di dekat lorong, 60 persen dari kursi tengah dan 40 persen berada di kursi dekat jendela. Mereka rata-rata beranjak dari kursi sekitar lima menit.

Para peneliti juga menunjukkan transmisi paparan virus yang tetap pada permukaan tertentu seperti meja lipat, sabuk pengaman, dan pegangan toilet sebagai kemungkinan tambahan penyumbang untuk penularan penyakit. Mereka memberikan rekomendasi kesehatan masyarakat untuk membantu mencegah penyebaran penyakit menular.

“Kami menemukan bahwa penularan penyakit langsung di luar area satu meter dari penumpang yang terinfeksi tidak mungkin,” jelas Weiss.

Sebab, infeksi pernapasan juga dapat ditularkan secara tidak langsung melalui kontak dengan permukaan yang terinfeksi. Ini bisa terjadi jika penumpang yang sakit batuk di tangan mereka dan kemudian menyentuh permukaan kamar kecil atau tempat sampah.

Baca juga: Mesin Self Service di Bandara Ternyata Jadi ‘Sarang’ Kuman dan Bakteri 

“Penumpang dan awak kabin dapat menghilangkan risiko penularan tidak langsung ini dengan melatih kebersihan tangan dan menjauhkan tangan mereka dari hidung dan mata mereka,” kata Hertzberg.

Penelitian ini hanya mengevaluasi potensi penyebaran agen infeksi pada pesawat terbang. Penularan juga bisa terjadi pada titik-titik lain dalam perjalanan seorang penumpang, menggarisbawahi kebutuhan untuk mempertahankan kebiasaan sehat.

Temuan lengkap dari penelitian ini muncul dalam Proceedings of National Academy of Sciences. Diketahui, pendanaan untuk penelitian tersebut berasal dari Boeing.

Koper Dirusak Oknum Tidak Dikenal, Penumpang ini Sebut Bandara I Gusti Ngurah Rai Jadi Lokasi Perusakkan

Apa yang akan Anda lakukan jika barang bawaan yang Anda masukkan ke dalam bagasi pesawat rusak? Tentu hal ini akan menyulut emosi Anda, bukan? Ya, kejadian inilah yang menimpa salah satu penumpang Singapore Airlines, dimana dirinya menyadari bahwa koper yang ia bawa dirusak oleh oknum tidak bertanggung jawab. Kejadian ini ia ketahui sesaat setelah dirinya melakukan klaim bagasi.

Baca Juga: Ini Alasan Pentingnya Plastik Wrap Untuk Barang Bawaan

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com (2/3/2018), seorang pemain biola, Katei Chang menemukan kopernya dalam kondisi yang sudah rusak pada bagian gembok ritsletingnya, Jumat (2/3/2018). Sontak, Katei yang kaget mengetahui hal tersebut langsung mengecek apakah ada barang yang hilang dari dalam kopernya. Beruntung, tidak ada satupun barang yang rusak maupun hilang.

Diketahui, Katei melakukan transit di Bali terlebih dahulu sebelum akhirnya melanjutkan penerbangan menuju Changi International Airport. “Saya turun di Bali dan terbang menuju Singapura dengan menggunakan Singapore Airlines,” ungkap Katei di dalam laman jejaring sosial Facebook. “Ketika saya mengambil koper di claim baggage, saya sadar kunci gemboknya sudah dibuka secara paksa dan koper saya menjadi rusak karenanya,” lanjutnya.

Menyadari hal tersebut, Katei langsung melaporkan kejadian tersebut ke bagian keamanan bandara dan bagian Lost and Found. Kendati begitu, Katei merupakan salah satu penumpang yang beruntung, karena tiga orang lainnya yang berada dalam penerbangan yang sama pun mengalami kejadian yang lebih buruk. Katei menuturkan bahwa ketiga penumpang tersebut mengaku koper mereka rusak dan sebagian dari barang mereka ada yang hilang.

Menanggapi hal tersebut, pihak Singapore Airlines pun tidak tinggal diam dan menawarkan bantuan sebagai bentuk pertanggungjawaban. “Kami akan membantu mereka,” ujar salah satu petugas Singapore Airlines.

Sebenarnya, ketakutan terbesar Katei bukan pada barang-barang yang hilang, namun pada tindakan fitnah. “Bagaimana jika ada oknum yang tidak bertanggungjawab menaruh obat-obatan terlarang atau bom di tas saya?” terang Katei. Ia pun bersikeras bahwa kopernya rusak pada saat dirinya transit di Bali, dan sayangnya asumsi Katei tersebut ia tuliskan di Facebook. Tak ayal, postingan Katei tersebut diberondong komentar netizen yang membacanya.

“Bagaimana mungkin Anda yakin hal tersebut (koper rusak) terjadi di Bali? Bagaimana jika kejadiannya ternyata setelah Anda mendarat di Singapura?” tanya salah satu pengguna Facebook. Pertanyaan lain pun hampir mirip, yang pada intinya mereka bertanya-tanya, “Mengapa Katei sangat yakin bahwa kopernya dirusak ketika ia tengah transit di Bali.”

Baca Juga: Koper Anda Hilang atau Tertukar? Baggage Claim Jadi Solusinya

Setelah serentetan pertanyaan pada akun Facebooknya tersebut, Katei langsung mengklarifikasi pernyataannya. “Kejadian seperti ini bisa menimpa siapa saja dan dimana saja,” tulisnya bijaksana. Walaupun hingga kini masih belum diketahui secara pasti dimana tindakan vandalisme ini terjadi, namun pihak Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali pun turut mengulurkan tangannya untuk membantu Katei menemukan oknum yang merusak kopernya. “Kasus ini masih kami selidiki,” ungkap salah satu petugas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

LRT Kelapa Gading-Velodrome Progress Pengerjaan 67 Persen

Light Rapid Transit atau biasa disebut LRT yang saat ini dalam tahap pembangunan mulai di percepat untuk tujuan Kelapa gading ke Velodrome di Rawamangun. Hal ini guna memudahkan dan memperlancar kendaraan bagi para atlet yang akan bertanding pada Agustus 2018 mendatang.

Baca juga: Jelang Asian Games 2018, LRT Palembang Mulai Uji Coba Maret Mendatang

Project Engineer LRT, Rizky Fauzi mengatakan, untuk fase pertama dari Kelapa gading menuju Velodrome ini proyek pengerjaan sudah sekitar 67 persen. Dipo kereta yang berada di Jalan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading pun saat ini masih dalam pembangunan.

Padahal diketahui, wisma atlet untuk Asian Games berada di daerah Kemayoran. Namun, Rizky mengatakan, pihaknya memilih Pegangsaan Dua dikarenakan, lahan untuk dipo kereta ada sehingga jalur tersebut di mulai dari Kelapa Gading.

“Untuk Kemayoran, kita tidak membuat jalur karena memang lahan untuk pembuatan dipo tidak ada. Pemerintah daerah DKI Jakarta menyediakan lahan di Pegangsaan Dua, maka kita buat dipo kereta LRT disana,” ujar Rizky kepada KabarPenumpang.com saat ditemui di Pameran Railway JI Expo, Jumat (23/3/2018).

Dia mengatakan saat ini kereta untuk fase pertama Kelapa Gading-Velodrome dalam pengiriman dan ada dua rangkaian dengan masing-masing dua kereta. Dalam setiap rangkaian sendiri, Rizky mengatakan bisa mengangkut penumpang sekitar 200-an orang dengan berdiri maupun duduk.

“Kita saat ini juga sudah mulai pembuatan stasiun, ada lima dan namanya masih kita pakai dari nama adanya stasiun tersebut yakni Velodrome, Pacuan Kuda, Pulo Mas, Gading Boulevard dan Gading Mall. Dipo kereta dinamakan Pegangsaan Dua,” ujar Rizki.

Tak hanya itu, LRT ini masih akan menggunakan masinis untuk menjalankan rangkaian keretanya. Sebab sistem sinyalnya masih dikendalikan secara manual. Sedangkan untuk fase kedua Velodrome ke Dukuh Atas masih dalam tahap perencanaan.

Baca juga: Korea Selatan Bakal Sokong Pendanaan Proyek LRT Jakarta Fase II

Tak hanya LRT Jakarta, LRT Jabodebek (Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi) saat ini juga sudah mencapai progres pengerjaan sekitar 60 persen. Baik jalur maupun stasiun di kerjakan secara bersamaan. Humas PT Adhi Karya, Isnanita Deborani mengatakan, pengerjaan saat ini di fase pertama dalam penyelesaian dari Cawang menuju Cibubur.

Isna menambahkan nantinya LRT Jabodebek ini juga akan berintegrasi dengan LRT Jakarta yang akan berpusat di Dukuh Atas. Kapasitas penumpang LRT Jabodebek sendiri sekitar 800 penumpang dengan 174 kursi dan 620 lainnya berdiri.

Lima Kesalahan dalam Memasang Car Seat di Kendaraan

Kecelakaan mobil di Amerika Serikat adalah pembunuh nomor satu anak-anak usia 0 sampai 19 tahun. Data ini didapat menurut Centers for Disease Control and Prevention. Safe Kids Worldwide mengatakan, tempat duduk untuk anak di mobil (car seat) bisa mengurangi risiko kematian sebanyak 71 persen, namun tentu syarat car seat harus dipasang dan digunakan dengan benar.

Baca juga: Ternyata, Sabuk Pengaman Lindungi Anda dari Lima Arah

KabarPenumpang.com merangkum dari laman watertowndailytimes.com, bahwa banyaknya kematian terjadi terhadap anak-anak di karenakan banyak pemilik mobil yang tidak memasang car seat mereka dengan benar.

“Kami menemukan orang tua sering melakukan beberapa kesalahan sekaligus. Sebenarnya hanya dengan beberapa menit untuk memastikan pemasangan kursi anak di jok mobil dengan benar menjadi langkah awal menyelamatkan nyawa,” ujar manager pelatihan program Safe Kids Buckle Up Lorrie Walker.

Menurutnya ada lima kesalahan utama yang sering dilakukan orang tua terhadap pemasangan car seat terebut. Berikut ini kesalahan dan cara menghindarinya agar anak lebih aman saat berada di dalam mobil.

1. Berpikir anak sudah besar
Kebanyak orang tua memikirkan anak mereka sudah besar saat di dudukkan di car seat mereka saat berada di dalam mobil. Padahal sebenarnya anak-anak harus duduk dengan aman dan pas. Apalagi untuk anak-anak yang sedang bertumbuh, ini lebih berbahaya karena perlindungan lebih sedikit.

2. Mematuhi hukum negara dan bukan rekomendasi federal
Undang-undang negara dibuat politisi yang bukan ahli kecelakaan. Hukum negara sangat minimun dan tidak maksimal. Rekomendasi federal dari para ahli di NHTSA atau Academy of Peatrics lebih baik. Sebab sabuk pengaman harus bisa digunakan anak sampai usia 8 tahun jika duduk di kursinya. Pendiri dan presiden kelompok keselamatan KidsAndCars Janette Fennel mengatakan, anak yang dipindahkan dari kursi boosternya harus dilihat dengan cara mereka duduk dimana punggung bersandar dengan rata pada jok belakang.

Kemudian lutut pas berada di tepi jok dan kaki menapak di lantai mobil. Sabuk pengaman di bahu dan dada bukan di wajah atau leher, sabuk menyilang di pinggul dan menyentuh paha bukan di perut. Dengan seperti ini berarti anak Anda sudah nyaman duduk sendiri di dalam mobil tanpa bantuan kursi tambahan.

3. Tidak membaca buku panduan
Pengguna car seat sering lupa dengan petunjuk manual. Meski sering menggunakan, tetapi masih juga ada yang lupa pada tahap-tahapnya. Dari penelitian yang dilakukan Safe Kids, ada 64 persen oang tua yang masih lalai dalam pengamanan kursi tambahan tersebut.

4. Tak gunakan bantuan gratis
Memasang car seat dengan benar tidaklah mudah. Jika sendiri terkadang juga masih menggunakan buku manual. Bila masih tidak paham, baiknya mintalah bantuan pada ahlinya dan ini tidak dikenakan biaya alias gratis untuk memasang kursi tambahan tersebut.

Baca juga: Warga UEA Setujui Aturan Penggunaan Sabuk Pengaman dan Car Seat

NHTSA dan Safe Kids menyediakan daftar tempat para ahli yang mengetahui kesalahan kritis dimana bisa menyebabkan seorang anak terbunuh saat sabuk kursi tambahan dengan mobil terlalu longar. Tak hanya itu, jika sabuk pada bagian dada melebihi ketinggian yang salah juga bisa mengakibatkan kecelakaan.

5. Tidak tahu tentang tempat duduk yang digunakan
Para pendukung keselamatan, menyarankan, untuk tidak menerima car seat bekas. Biasanya jika menggunakan mobil sewaan, lihat riwayat kecelakaannya. Apalagi jika mobil yang Anda beli memiliki riwayat kecelakaan dikarenakan joknya, baiknya ganti dengan yang baru dibandingkan harus membuat nyawa melayang.

Pramugari Virgin Atlantic Pergoki Sepasang Remaja Lakukan ‘Adegan Dewasa’ di Toilet Pesawat!

Benih-benih cinta memang bisa datang kapan saja dan dimana saja. Namun apa jadinya jika hal tersebut disalahgunakan dalam sebuah kegiatan yang tidak seronok? Ya, inilah yang baru-baru ini terjadi dalam sebuah penerbangan Virgin Atlantic yang menghubungkan Inggris – Cancun, Mexico. Sepasang muda-mudi yang disinyair berumur 20 tahun terpaksa menjadi pusat perjatian publik setelah tindakan asusila yang mereka lakukan di dalam toilet maskapai dipergoki oleh pramugari.

Baca Juga: Dua Sejoli ini Lakukan Adegan Panas di Dalam Kabin

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (15/3/2018), kedua remaja ini sebelumnya tidak saling mengenal satu sama lain. Namun lama kelamaan, mereka berdua larut dalam satu pembicaraan yang sangat akrab. Sejurus sesaat, kedua muda-mudi ini pun meninggalkan bangku mereka. Pramugari yang menyadari sepasang remaja ini tidak ada pada bangku mereka lalu mencari tahu keberadaa mereka.

Sesampainya di toilet, sang pramugari menemukan pintu toilet berada dalam kondisi tertutup namun tidak terkunci. Dengan penuh rasa curiga, pramugari ini pun langsung mebuka pintu toilet dan sempat dibuat terkejut dengan pemandangan yang ia lihat saat itu. Pramugari yang enggan membuka identitasnya tersebut melihat kedua muda-mudi ini tengah melakukan tindakan tidak seronok.

Si wanita duduk di toilet, dan si laki-laki berdiri persis di depannya dengan kondisi celana yang sudah ditanggalkan. Dalam kondisi yang sangat terkejut, sang pramugari lalu segera memerintahkan si pria untuk kembali mengenakan celananya, dan menggiring mereka kembali ke tempat duduk semula.

Bak pencuri yang tertangkap basah, kedua muda-mudi ini terpaksa menanggung malu ketika seisi penumpang pesawat Boeing 747 mencemooh mereka. “Apakah kalian menghabiskan waktu liburan kalian untuk melakukan tindakan menjijikkan seperti itu?” teriak salah satu penumpang ketika pesawat berada di ketinggian 30.000 kaki.

Ketika diinterogasi, pria ini berdalih bahwa si wanita berada dalam kondisi yang kurang sehat sehingga ia mengantarkannya ke toilet. Namun awak kabin Virgin Atlantic tidak percaya begitu saja karena mengetahui bahwa mereka berdua tidak saling mengenal sebelumnya.

Baca Juga: Yuk Intip Aktivitas Awak Kabin Virgin Atlantic

Cemoohan dan sorakan dari para penumpang yang berada di dalam kabin pun menghiasi sepanjang perjalanan menuju Mexico. Kapten pesawat yang mengetahui hal tersebut langsung berkoordinasi dengan pihak kepolisian guna menindaklanjuti insiden ini.

Sesampainya di Cancun, Mexico, kedua muda-mudi ini langsung digelandang menuju pos keamanan guna diinterogasi oleh pihak berwajib. Patut diketahui, si wanita tengah berada dalam pengaruh minuman beralkohol ketika insiden memalukan tersebut terjadi.

Ketua KNKT: Depnaker Perlu Turun Tangan Tinjau Jam Kerja Pengemudi Shuttle

Kehadiran jalan tol Cikampek – Cipularang memang ada kalanya membawa keuntungan bagi warga Ibukota yang hendak bertolak menuju Bandung, pun sebaliknya. Bagaimana tidak, dengan memakan waktu perjalanan kurang lebih dua jam saja, mereka semua sudah bisa sampai di tujuan.

Baca Juga: Kecelakaan Terus Berulang, Rekomendasi KNKT Sebagian Besar Tak Diindahkan

Namun keuntungan waktu tempuh yang singkat tersebut kini tidak tergambarkan lagi dari rute ini, pasalnya kehadiran empat proyek sekaligus di ruas jalan tol Cikampek digadang-gadang sebagai sumber kemacetan. Alhasil, operator kereta Tanah Air, PT KAI selalu kebanjiran penumpang yang hendak bepergian di antara dua kota ini.

Padatnya jaringan kereta Jakarta – Bandung kerap kali membuat sebagian orang terpaksa menggunakan moda transportasi lain, sebut saja layanan shuttle atau yang kerap disebut travel. Ketika jalan tol Cipularang ini rampung pada April 2005 silam, layanan shuttle pun menjamur.

Banyak warga yang antusias menggunakan layanan shuttle karena waktu tempuh diantara dua kota ini yang menjadi relatif lebih cepat. Namun sejak kehadiran proyek-proyek tersebut, layanan shuttle ini pun tetap digandrungi oleh banyak penumpang yang kehabisan tiket kereta api, seperti sebuah pelarian.

Nah, ketika kemacetan semakin memerah, maka cepat atau lambat kondisi ini akan mempengaruhi daya tahan si pengemudi shuttle itu sendiri. Ketika KabarPenumpang.com yang kebetulan tengah melakukan perjalanan dari Jakarta – Bandung dengan menggunakan Shuttle Baraya, di tengah perjalanan si pengemudi tampak mengantuk karena mobilyang ia kemudikan sempat oleng dan berjalan dengan kecepatan yang tidak konsisten.

Ketika ditanya, pengemudi ini mengaku kelelahan karena jatah kerja yang berlebihan. “Saya PP (Bandung – Bintaro) empat kali sehari,” ungkap pengemudi yang enggan menyebutkan namanya tersebut. Tentu saja pernyataan dari si pengemudi ini telah menyalahi apa yang telah direkomendasikan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono mengatakan bahwa selain kelaikan kendaraan, kondisi pengemudi pun menjadi salah satu aspek penunjang keselamatan dalam berkendara.

Baca Juga: KNKT Bocorkan Rahasia Pilih Bus Wisata Yang Berkeselamatan

“Kalau rekomendasi yang kita berikan terkait dengan pengemudi itu berlaku untuk semuanya, mulai dari bus, shuttle, bahkan hingga kendaraan pribadi,” tutur Soerjanto kepada KabarPenumpang.com, Kamis (22/3/2018). “Travel (shuttle) pun sebenarnya itu bermasalah, Semarang – Yogyakarta, Jakarta – Bandung, itu semua mereka kejar setoran. Diharapkan Depnaker (Departemen Ketenagakerjaan) dapat meninjau lebih dalam lagi tentang jam kerja para pengemudi travel tersebut,” tambahnya.

Ya, tidak bisa dipungkiri faktor stamina sangat berpengaruh terhadap keselamatan ketika berkendara. Tidak jarang kita mendengar kasus kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh pengemudi mengantuk atau mengalami fenomena micro-sleep (tertidur dalam jangka waktu hitungan detik). Maka dari itu, aliih-alih menambah rentetan panjang kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh kondisi pengemudi yang kelelahan, ada baiknya untuk tidak mengindahkan rekomendasi yang diberikan oleh KNKT, agar tercipta keberselamatan dalam berkendara.

PT KCI Gandeng PPD Hadirkan Bus Integrasi dari Stasiun Sudirman ke Gambir dan Blok M

PT Kereta Commuter Indonesia atau KCI kali ini bekerjasama dengan Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD) berintegrasi memudahkan penumpang yang akan menuju stasiun Gambir maupun terminal Blok M. Adanya integrasi dengan bus milik PPD ini, dimulai sejak 16 Maret 2018 kemarin melalui peluncuran kartu Transcommuter (KMT khusus) dengan integrasi e-ticketing.

Baca juga: PT KCI Hadirkan Mesin Penyelaras Tarif dan Penetapan Saldo Minimun Baru untuk Kartu Multi Trip

Dengan adanya integrasi memudahkan penumpang yang akan menuju dua rute tersebut, sebab baik stasiun Gambir maupun terminal Blok M tidak dilalui oleh kereta commuter (KRL). Sehingga penumpang dengan tujuan kedua tempat tersebut bisa menggunakan bus PPD yang hadir di jalan Blora dekat stasiun Sudirman.

Layanan ini merupakan pilot project integrasi antara PT KCI dan PPD untuk meningkatkan pelayanan antara KRL dan bus PPD. Sebenarnya tidak hanya menggunakan KMT, bagi pengguna kartu bank dengan uang elektronik lain juga bisa digunakan untuk bus integrasi PPD tersebut.

Humas PT KCI Eva Chairunis mengatakan, dengan adanya integrasi ini penumpang hanya akan membayar tarif sebesar Rp5 ribu baik stasiun Sudirman-stasiun Gambir PP ataupun stasiun Sudirman-terminal Blok M PP. Saat ini, masa sosialisasi masih berlaku selama satu bulan kedepan sehingga penumpang yang tidak memiliki KMT bisa membayar dengan tunai dalam perjalanannya.

“Usai sosialisasi, semua penumpang nantinya akan menggunakan KMT untuk membayar ongkos mereka,” ujar Eva yang ditemui KabarPenumpang.com di pameran Railway, JI Expo Kemayoran, Jumat (23/3/2018).

Bus PPD yang disediakan untuk mengangkut penumpang di kedua rute ini akan bergerak setiap setengah jam sekali. Diketahui, untuk pembayaran dengan kartu tersebut akan disediakan seperti mesin EDC untuk mentap kartu sebelum penumpang duduk di dalam bus.

Sebenarnya untuk memudahkan penumpang, bila bukan pengguna kereta dan tidak menggunakan KMT atau kartu Transcommuter tersebut, bisa lebih mudah. Karena ada petugas yang akan menjual kartu tersebut di dalam bus PPD, sehingga penumpang tidak perlu repot untuk membayar tunai.

Baca juga: Di Korea Selatan, Bangunkan Penumpang di KRL Bisa Dapat Kopi Gratis!

Harga kartu Trancommuter Rp35 ribu dan penumpang akan mendapat saldo Rp15 ribu. Untuk selanjutnya tujuan lainnya saat ini belum jelas akan ada atau tidak.

“Tergantung pihak PPD akan ada lagi atau tidak,” ujar salah seorang staf humas KCI.

Pihak KCI juga saat ini tengah menyiapkan kereta simulator untuk digunakan dalam pendidikan atau digunakan dalam percobaan dengan pihak luar negeri di dipo Depok. Namun, belum jelas kapan simulator kereta ini akan di luncurkan ke masyarakat.

Teknologi On-Board Pegang Peran Penting Dalam Tingkatkan Kepuasan Penumpang Kereta

Penumpang dan operator moda transportasi memang saling terikat, dimana keduanya sama-sama saling membutuhkan satu sama lain. Penumpang yang hendak melakukan mobilisasi membutuhkan operator transportasi, begitupun sebaliknya. Guna melancarkan layanan perjalanan yang operator tawarkan, maka mereka pun harus berusaha untuk memikat penumpang dengan beragam cara. Kedua hal ini berjalan seiringan dengan perkembangan di sektor teknologi yang membawa dampak positif kepada dua belah pihak.

Baca Juga: Pengalaman Penumpang Jadi Penentu Pertumbuhan Layanan Kereta Cepat

Jika dulu penumpang yang hendak bepergian menggunakan kereta ke luar kota mesti membeli tiket langsung ke loket stasiun, kini mereka sudah bisa mengakses semuanya melalui gadget masing-masing. Begitupun layanan yang diberikan oleh operator kereta terhadap penumpang, masih serba terbatas pada jaman dulu. Berbeda dengan sekarang yang sudah serba canggih dan efisien. Sebut saja hadirnya WiFi on-board di sejumlah kereta yang menjadi tanda peningkatan layanan operator kereta terhadap penumpangnya, semuanya saling bersinergi.

Bahkan baru-baru ini, beberapa operator kereta sudah mulai berrencana untuk menawarkan personalisasi yang lebih luas kepada para penumpangnya, seperti melakukan pemesanan makanan selama perjalanan melalui aplikasi khusus. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman globalrailwayreview.com (9/3/2018), adapun operator kereta seperti SNCF, Newrest Wagons-Lits, Irish Rail, Northern Irish Rail, Rail Gourmet, East Midlands Trains, TransPennine Express, Grand Central, dan GWR sudah mulai memikirkan cara untuk menyanggupi layanan berbasis virtual tersebut.

Seperti yang sudah disinggung di atas, sentuhan teknologi mutakhir seperti ini semata-mata ditujukan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dalam menggunakan layanan terkait. Head of Sales dari ECR Retail Systems, Mark Simpson pun menuturkan hal serupa.

“Perusahaan kereta api progresif semakin menyadari bahwa memiliki teknologi on-board terbaru dapat secara signifikan membantu meningkatkan kepuasan penumpang,” tandasnya. “Hal tersebut juga dapat menumbuhkan arus pendapatan baru bagi operator,” tambah Mark. Ia juga beranggapan bahwa kehadiran teknologi semaca ini dapat membantu operator untuk meraup pendapatan tambahan dengan cara menyesuaikan permintaan pelanggan secara lebih personal.

Baca Juga: Dengan Model Train Set, PT KAI Jadi Lebih Mudah Siapkan Layanan WiFi di Kereta

Berkaitan dengan asumsi ini, Rail Gourmet yang memiliki pelanggan dari TransPennine Express, East Midlands Trains, dan Grand Central Trains memutuskan untuk mulai mencari perusahaan yang mampu mengadakan solusi penjualan elektronik (Electronic Point-Of-Sale/EPOS) baru-baru ini. Pihak Rail Gourmet percaya bahwa penggunaan EPOS dapat menjadi solusi sekaligus penghubung antara penumpang dan petugas yang berada di kereta makan.

“Kami membutuhkan sistem yang cukup maju secara teknologi untuk menangani transaksi seluler dengan cepat, namun dapat diandalkan dan cukup intuitif bagi kru untuk digunakan,” ungkap pihak Rail Gourmet.

Renault EZ-GO, Moda Otonom yang Memiliki Desain Pintu Low Deck Unik

Sebagai salah satu raksasa manufaktur otomotif, sudah tidak heran jika Renault terus berusaha untuk mengikuti perkembangan jaman. Belakangan ini dunia otomotif global memang tengah diramaikan dengan eksistensi moda otonom. Tidak mau kalah, perusahaan otomotif asal Perancis ini pun turut mengembangkan kendaraan futuristiknya yang bernama EZ-GO, dari waktu ke waktu. Hingga pada perhelatan Geneva Motor Show 2018 yang diadakan di Swiss, Renault secara resmi memperkenalkan mahakaryanya.

Baca Juga: Luncurkan Electric Vehicle, Renault Janjikan Tempuh 279 Km Sekali Charge

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, Renault EZ-GO yang bertenaga listrik ini mampu menampung hingga enam penumpang sekaligus. Namun, pihak Renault mendedikasikan moda futuristik ini sebagai kendaraan umum, layaknya bus yang berhenti di setiap pemberhentian, atau bahkan melayani perjalanan door-to-door layaknya taksi konvensional.

Sumber: iol.co.za

Renault EZ-GO memiliki panjang sekitar 5,2m, lebar 2,2m, dan tinggi 1,6m, termasuk kendaraan yang bisa dibilang ceper. Jika kebanyakan mobil memiliki pintu pada bagian sisinya, maka hal tersebut tidak berlaku pada Renault EZ-GO. Bagian belakang kendaraan futuristik ini akan membuka secara vertikal, dan dek dari kendaraan ini pun secara otomatis akan berubah jadi landai. Dalam kondisi terbuka seperti ini, Renault EZ-GO mampu menyediakan ruang kepala minimal 1,8m, atau 0,2m lebih tinggi ketimbang ukuran asli dari kendaraan ini.

Hadirnya dek landai pada Renault EZ-GO akan memudahkan para penyandang disabilitas, pengguna kereta bayi, hingga seseorang yang membawa trolley-bag. Selain itu, susunan bangku yang membentuk huruf U akan memudahkan penumpang untuk melakukan interaksi dengan penumpang lainnya. Bagi Anda yang kebetulan tengah membawa barang bawaan yang cukup banyak, Anda bisa menggunakan fasilitas penyimpanan barang yang juga tersedia di samping bangku penumpang.

Sumber: iol.co.za

Renault EZ-GO sendiri memiliki kemampuan mengemudi otonom Level 4, dimana kendaraan ini dapat mengatur jarak dari kendaraan yang berada di depannya, tetap berkendara di satu jalur, berpindah jalur (seperti menyalip), dan berbelok dengan sendirinya di persimpangan. Kendaraan ini juga bisa keluar dari jalan ke posisi parkir yang aman, baik menggunakan sistem keamanan yang terpasang atau melalui konektivitasnya dengan pusat pemantauan.

Baca Juga: Hadirkan Bus Otonom, Ericsson Gandeng Perusahaan Lokal Swedia

Adapun fitur keselamatan dari moda otonom yang mampu melesat hingga kecepatan maksimum 50km/jam ini adalah strip lampu yang dapat memberikan tanda kepada pengguna jalan lain bahwa ada orang yang menyeberang atau membunyikan klakson ketika ada yang menghalangi jalannya. Dengan segala kelebihan yang dimiliki oleh moda ini, bukan tidak mungkin Renault EZ-GO akan merajai angkutan umum di perkotaan kelak.

Mobil Otonom Uber Tabrak Pejalan Kaki Hingga Tewas di Arizona

Mobil tanpa pengemudi atau otonom beredar di Arizona untuk uji coba pada Minggu, 18 Maret 2018 kemarin sekitar pukul 10 malam waktu setempat. Sayangnya uji coba mobil otonom tersebut yang dioperasikan Uber menabrak dan menewaskan seorang wanita di jalanan daerah Tempe, Arizona.

Baca juga: Berusaha Tetap di Arus Persaingan, Porsche pun Turut Luncurkan Taksi Udara Otonom!

Padahal saat itu uji coba mobil otonom juga ada seorang pengemudi yang duduk di belakang setir. KabarPenumpang.com melansir dari laman nytimes.com (19/3/2018), diduga kematian pengguna jalan tersebut terkait dengan teknologi pada mobil otonom tersebut.

Karena ada kejadian ini , Uber kemudian menunda pengujian lainnya di Tempe, Pittsburgm San Francisco dan Toronto. Kecelakaan ini mengingatkan bahwa self driving masih dalam tahap percobaaan dan pemerintah masih mencari peraturan untuk mengatur ini.

Saat ini diketahui Uber, Waymo dan beberapa perusahaan teknologi lainnya serta pembuat mobil mulai memperluas pengujian kendaraan otonom mereka di kota-kota seluruh negeri. Perusahaan mengatakan mobil otonom akan lebih aman daripada yang biasa karena bisa mengalihkan perhatiannya saat berkendara.

Akibat adanya kecelakaaan yang terjadi di Arizona ini, belum jelas apakah perusahaan platform kendaraan dengan mobil otonom akan memperlambat peluncuran mobil tersebut di jalanan umum. Sebab saat ini sudah banyak mobil otonom yang diuji di lingkungan untuk mendapat peraturan yang bisa diberikan.

Beberapa kota di Arizona telah membuat beberapa regulasi yang mudah di pahami. Pejabat Arizona juga ingin memikat perusahaan yang bekerja pada teknologi otonom di negara tetangganya yakni California. Tetapi regulator di California dan di tempat lain telah menjadi lebih akomodatif akhir-akhir ini. Pada bulan April mendatang, California diperkirakan akan mengikuti jejak Arizona dan memungkinkan perusahaan untuk menguji mobil tanpa seseorang di kursi pengemudi.

“Insiden tragis ini memperjelas bahwa teknologi kendaraan otonom memiliki jalan panjang sebelum benar-benar aman bagi penumpang, pejalan kaki dan pengemudi yang berbagi jalan Amerika,” kata Senator Richard Blumenthal, Demokrat dari Connecticut.

Diketahui mobil Uber yang menabrak Elaine Hezberg tersebt adalah Volvo XC90 yang sudah dilengkapi dengan sistem penginderaan perusahaan dan berada dalam mode otonom tanpa penumpang hanya seorang pengemudi yang hanya duduk di belakang setir.

Baca juga: DriveHER, Ride Sharing dengan Pengemudi Wanita dan Khusus Bagi Penumpang Wanita

Ronald Elcock, juru bicara polisi Tempe mengatakan, bahwa penyelidikan awal menunjukkan bahwa kendaraan itu bergerak sekitar 40 mil per jam ketika itu menyerang Herzberg, yang sedang berjalan dengan sepedanya di jalan. Dia mengatakan itu tidak tampak seolah-olah mobil telah melambat sebelum benturan dan bahwa pengemudi keselamatan Uber tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan.

“Hati kami pergi ke keluarga korban. Kami sepenuhnya bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam penyelidikan insiden ini,” kata juru bicara Uber, Sarah Abboud, dalam sebuah pernyataan.