Ketua KNKT: Depnaker Perlu Turun Tangan Tinjau Jam Kerja Pengemudi Shuttle

Sumber: istimewa

Kehadiran jalan tol Cikampek – Cipularang memang ada kalanya membawa keuntungan bagi warga Ibukota yang hendak bertolak menuju Bandung, pun sebaliknya. Bagaimana tidak, dengan memakan waktu perjalanan kurang lebih dua jam saja, mereka semua sudah bisa sampai di tujuan.

Baca Juga: Kecelakaan Terus Berulang, Rekomendasi KNKT Sebagian Besar Tak Diindahkan

Namun keuntungan waktu tempuh yang singkat tersebut kini tidak tergambarkan lagi dari rute ini, pasalnya kehadiran empat proyek sekaligus di ruas jalan tol Cikampek digadang-gadang sebagai sumber kemacetan. Alhasil, operator kereta Tanah Air, PT KAI selalu kebanjiran penumpang yang hendak bepergian di antara dua kota ini.

Padatnya jaringan kereta Jakarta – Bandung kerap kali membuat sebagian orang terpaksa menggunakan moda transportasi lain, sebut saja layanan shuttle atau yang kerap disebut travel. Ketika jalan tol Cipularang ini rampung pada April 2005 silam, layanan shuttle pun menjamur.

Banyak warga yang antusias menggunakan layanan shuttle karena waktu tempuh diantara dua kota ini yang menjadi relatif lebih cepat. Namun sejak kehadiran proyek-proyek tersebut, layanan shuttle ini pun tetap digandrungi oleh banyak penumpang yang kehabisan tiket kereta api, seperti sebuah pelarian.

Nah, ketika kemacetan semakin memerah, maka cepat atau lambat kondisi ini akan mempengaruhi daya tahan si pengemudi shuttle itu sendiri. Ketika KabarPenumpang.com yang kebetulan tengah melakukan perjalanan dari Jakarta – Bandung dengan menggunakan Shuttle Baraya, di tengah perjalanan si pengemudi tampak mengantuk karena mobilyang ia kemudikan sempat oleng dan berjalan dengan kecepatan yang tidak konsisten.

Ketika ditanya, pengemudi ini mengaku kelelahan karena jatah kerja yang berlebihan. “Saya PP (Bandung – Bintaro) empat kali sehari,” ungkap pengemudi yang enggan menyebutkan namanya tersebut. Tentu saja pernyataan dari si pengemudi ini telah menyalahi apa yang telah direkomendasikan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono mengatakan bahwa selain kelaikan kendaraan, kondisi pengemudi pun menjadi salah satu aspek penunjang keselamatan dalam berkendara.

Baca Juga: KNKT Bocorkan Rahasia Pilih Bus Wisata Yang Berkeselamatan

“Kalau rekomendasi yang kita berikan terkait dengan pengemudi itu berlaku untuk semuanya, mulai dari bus, shuttle, bahkan hingga kendaraan pribadi,” tutur Soerjanto kepada KabarPenumpang.com, Kamis (22/3/2018). “Travel (shuttle) pun sebenarnya itu bermasalah, Semarang – Yogyakarta, Jakarta – Bandung, itu semua mereka kejar setoran. Diharapkan Depnaker (Departemen Ketenagakerjaan) dapat meninjau lebih dalam lagi tentang jam kerja para pengemudi travel tersebut,” tambahnya.

Ya, tidak bisa dipungkiri faktor stamina sangat berpengaruh terhadap keselamatan ketika berkendara. Tidak jarang kita mendengar kasus kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh pengemudi mengantuk atau mengalami fenomena micro-sleep (tertidur dalam jangka waktu hitungan detik). Maka dari itu, aliih-alih menambah rentetan panjang kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh kondisi pengemudi yang kelelahan, ada baiknya untuk tidak mengindahkan rekomendasi yang diberikan oleh KNKT, agar tercipta keberselamatan dalam berkendara.