Pengalaman Penumpang Jadi Penentu Pertumbuhan Layanan Kereta Cepat

Kereta Cepat Shinkansen, Jepang. Sumber: wikipedia

Kemajuan teknologi yang melesat pesat belakangan ini membawa dampak positif bagi para konsumennya, tidak terkecuali di sektor transportasi. Kehadiran kereta cepat yang semakin menjamur di berbagai belahan dunia membuka kemungkinan persaingan antar moda, yaitu pesawat dan kereta cepat. Dengan estimasi perjalanan yang tidak jauh berbeda, namun perjalanan dengan menggunakan kereta cepat, para penumpang tidak perlu merogoh kocek sedalam perjalanan udara.

Baca Juga: Fenomena Kereta Tabrak Burung Jadi Dampak Ekologi Kehadiran Bullet Train?

Hipotesa inilah yang akhirnya membuat para peneliti beranggapan bahwa di masa yang akan datang perjalanan darat dengan menggunakan kereta akan meruntuhkan kedigdayaan dunia dirgantara, terutama pada segmen penerbangan jarak pendek. Anomali runtuhnya kejayaan sektor udara ini mulai terlihat manakala banyak maskapai yang berbondong-bondong menyediakan rute penerbangan bertarif rendah (LCC). Beragam promosi dan peningkatan pelayanan juga terus diakselerasi oleh para pegiat perjalanan udara demi meraih hati konsumen.

Tapi jangan salah, hadirnya sang kuda hitam, kereta cepat, bukan tanpa beban. Para penyedia layanan ini mesti memikirkan bagaimana cara untuk memastikan para calon penumpang untuk memilih layanan ini. Banyaknya pengembangan dan perbaikan yang dilakukan di ceruk teknologi hingga opersional seolah menganaktirikan pengalaman penumpang, dimana poin ini memegang peranan yang sangat penting dalam kemajuan industri kereta cepat.

Adalah Paul Priestman, ketua PriestmanGoode yang bergerak di bidang desain produk, lingkungan, transportasi, dan penerbangan mengatakan bahwa pihaknya pernah berperan sebagai katalisator perubahan wajah perjalanan udara global dengan ide tempat duduk datarnya. Menurut Paul, perubahan tempat duduk pada maskapai British Airways dan Virgin Atlantic inilah yang akhirnya menjadi faktor pendorong utama peningkatan pengalaman perjalanan penumpang.

Walaupun dari segi ini kereta cepat tidak perlu unggul sepenuhnya dari pesawat, namun Paul menggarisbawahi bahwa saingan utama kereta cepat di sini adalah penerbangan jarak pendek. Ia mencontohkan kesuksesan Eurostar yang berhasil memangkas waktu perjalanan dari dan menuju bandara. Dirinya beranggapan, bukan tidak mungkin kereta cepat mampu mengambil pasar penerbangan jarak pendek.

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman globalrailwayreview.com (6/2/2018), pesaing lain yang berpotensi menghambat laju perkembangan kereta cepat adalah kendaraan pribadi. Namun Paul beranggapan bahwa kereta cepat menawarkan kenyamanan dan potensi para penumpang untuk memaksimalkan produktifitas mereka. Para pengguna jasa kereta cepat bisa tetap melanjutkan pekerjaan mereka dengan menggunakan laptop dan koneksi internet yang tersedia di jaringan kereta cepat. Lagi, di sini Paul menegaskan bahwa pengalaman perjalanan penumpang dapat serta merta meningkat jika pihak penyedia jasa pun memperhatikan kenyamanan dan aksesibilitas penumpang.

Baca Juga: Ini Dia Kendala Utama Pembangunan Jalur Kereta Elizabeth

Menurut Paul, kehadiran bangku yang empuk, meja lipat, konektifitas internet yang cepat, hingga berbagai pelayanan menjadi tolak ukur pengalaman perjalanan penumpang yang tidak boleh dinomorduakan, karena kelangsungan nafas bisnis transportasi bergantung pada penumpang itu sendiri.