Load Factor Rendah, Maskapai-Maskapai Ini Tak Lagi Mendarat di Jakarta

Karena dipengaruhi banyak faktor, dunia penerbangan menjadi industri yang sangat dinamis. Selain tarif yang amat bergantung pada gejolak minyak dunia, rute penerbangan yang menyambangi suatu destinasi juga kerap kali berubah, disesuaikan dengan tingkat permintaan pasar dan kondisi lain, seperti masalah politik dan keamanan regional.

Bila mengacu ke daftar penerbangan internasional dari dan menuju Jakarta, dari masa ke masa selalu mengalami perubahan. Sebagai ilustrasi, di dekade 80-an dan 90-an, ada beberapa maskapai asing dari Eropa yang melayani penerbangan (in direct flight) ke Jakarta. Sebut saja di dekade tersebut ada British Airways, SwissAir, Air France, Lufthansa, dan KLM. Namun kini diantara keempatnya, hanya Lufthansa yang masih bertahan melakukan penerbangan dari Jerman ke Jakarta (transit di Singapura).

Baca juga: Qatar di Blokade Negara-Negara Teluk, Bagaimana Nasib Qatar Airways?

Maskapai yang lain, seperti British Airways, SwissAir, Air France dan KLM, kini memang tak lagi secara fisik menghadirkan sosok pesawatnya di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Namun, roda bisnis terus berjalan, seperti Air France bahkan masih membuka kantor perwakilannya di Jakarta.

Dirunut dari argumen yang diutarakan pihak maskapai, rendahnya load factor menjadi alasan utama ditutupnya rute penerbangan ke suatu kota/negara. Alasan lain,tumbuhnya aliansi penerbangan juga merupakan faktor kuat ditutupnya rute penerbangan, terutama pada penerbangan jarak jauh. Dengan model aliansi, seperti SkyTeam Airline Alliance dan Star Alliance, menjadikan maskapai asal Eropa yang tidak mempunyai rute ke Jakarta, dapat memanfaatkan sistem kerjasama transfer penumpang (codeshare) hingga ke tujuan akhir.

Sebagai contoh, maskapai KLM untuk tujuan ke Asia Tenggara berakhir di Malaysia, maka jika ada penumpang tujuan Jakarta, maka ia dapat dialihkan ke penerbangan dari maskapai sesama anggota aliansi. Sementara penumpang British Airways dari London tujuan Jakarta, maka akan transit dan berpindah ke pesawat Cathay Pacific untuk kemudian terbang ke Jakarta.

Namun, karena berada di ‘ruang’ yang dinamis, buka tutup pada jalur penerbangan adalah hal yang biasa, kuncinya kembali ke permintaan pasar dan load factor yang dapat terpenuhi. Dan berikut ini, beberapa maskapai internasional yang pernah singgah di ruang udara Indonesia.

SwissAir
Maskapai asal Swiss ini melayani penerbangan ke Jakarta di dekade 80-an dan 90-an. Di masa Halim Perdanakusuma masih didapuk sebagai bandara utama internasional di Jakarta, SwissAir melayani penerbangan ke Jakarta (transit di Mumbai, India) menggunakan pesawat jet bermesin tiga, DC-10 30.

Air France
Berhentinya Air France melayani rute Jakarta karena sepinya pelanggan. Terkadang hanya satu atau dua pelanggan saja yang menjadi pengguna Air France tiap harinya. Hal ini membuat banyak pengguna Air France kecewa karena rute langsung Indonesia – Perancis terhenti.

Baca juga: Angkasa Pura II Beri Insentif Maskapai Untuk Extra Flight Domestik

Kuwait Airways
Tak jauh berbeda dengan maskapai Air France, Kuwait Airways juga berhanti dikarenakan hal yang sama, yakni sepinya penumpang rute Jakarta.

Tiger Airways
Januari lalu, maskapai ini diberhentikan penerbangannya oleh Kementerian Perhubungan melalui Otoritas Bandar Udara (OBU). Ini dikarenakan Tiger Airways tidak memenuhi aturan penerbangan Indonesia.

Baca juga: Antara Qatar Airways, Irlandia, dan Jamaah Umroh Indonesia

MASwings
Maskapai yang berbasis di Malaysia ini menghentikan penerbangannya dari Kuching (Malaysia) ke Pontianak (Indonesia) per 1 Februari 2016 lalu. Dulunya penerbangan maskapai ini bisa tiga kali dalam seminggu. Penghentian ini karena penerbangan fokus pada pertumbuhan rute domestik sebagai pasar utamanya.

Baca juga: Lion Air Pesan 50 Unit Boeing 737 MAX 10 Senilai US$6,24 Miliar

Adanya penutupan rute penerbangan sebuah maskapai ke Indonesia sebenarnya memiliki dampak positif terutama pada bandara Soekarno-Hatta dalam pengaturan lalu lintas. Dimana tidak lagi terjadi penumpukan jam terbang atau pendaratan yang membuat pengatur lalu lintas kewalahan karena banyak maskapai asing meminta jam terbang di luar jadwal seharusnya.