Punya Implan MicroChip? Hati-Hati Ketika Anda Melewati Sistem X-Ray Bandara

Sumber: BBC.com

Pernahkah terlintas di benak Anda bagaimana jika seseorang yang memiliki implant microchip ditubuhnya bisa melewati sistem keamanan bandara yang terkenal ketat? Sebelumnya, KabarPenumpang.com melansir dari gizmodo.com (3/7/2017), seorang yang memiliki implan pada otaknya yang bernama Gary Olhoeft terpaksa mengurungkan niatnya untuk berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan karena sistem pengamanan disana mematikan secara paksa implan microchip yang tertanam di otaknya.

Baca Juga: Jelang Musim Panas, AS Perketat Prosedur Keamanan di Bandara

Ternyata medan magnet yang berada di sistem pengamanan di sebuah pusat perbelanjaan hingga di bandara bisa menon-aktifkan sistem microchip yang tertanam di tubuh seseorang, karena adanya singgungan sinyal yang terjadi antara dua alat tersebut. Namun, ada suatu fenomena yang cukup membingungkan ketika pada tahun 2016 ada seorang pelancong Andreas Sjostrom yang memiliki chip NFC (Near Field Communication) yang ditanamkan di tangannya, yang berisikan rincian ID anggota Skandinavia Airlines EuroBonus, sehingga ia tidak perlu khawatir dengan microchip yang tertanam di tubuhnya.

Namun tidak sembarang microchip bisa melewati sistem pengamanan yang ada di pra-sarana transportasi seperti pemindai X-Ray di bandara. Kembali ke kasus awal, pemasangan microchip di otak Gary merupakan salah satu metode penyembuhan dimana chip tersebut akan menghantarkan impuls listrik ke korteks motoriknya untuk mengendalikan penyakit Parkinson yang diidapnya. Dan ternyata, kasus yang dialami oleh Gary bukanlah kasus yang aneh, karena menurut rekap yang dimiliki oleh Food and Drug Administration’s (FDA) MAUDE database, terdapat sebanyak 374 kasus yang menimbulkan malfungsi terhadap alat-alat kesehatan, seperti implan saraf, alat pacu jantung dan pompa insulin.

Baca Juga: Penumpang Pukul Petugas Avsec Bandara Sam Ratulangi, Video Viral Kemana-mana

Meskipun tidak semua laporan tersebut telah diverifikasi, FDA dan para ilmuwan telah mengungkapkan kekhawatirannya mengenai skenario di mana medan elektromagnetik dapat mengganggu peralatan medis yang beroperasi dalam spektrum frekuensi yang sama. “Konsekuensi dari Electromagnetic Interference (EMI) dengan peralatan medis mungkin hanya akan menimbulkan pemberitahuan pada layar sistem keamanan, namun kemungkinan yang sama besarnya akan timbul manakala interfensi elektromagnetik tersebut dapat menimbulkan cidera serius hingga berujung kematian,” terang FDA dalam sebuah pernyataan.

Sebuah studi khusus dilakukan guna meneliti masalah seperti ini. Kesimpulan  yang didapat adalah semakin banyak alat berenergi yang tertanam di tubuh seseorang, maka mereka harus lebih berhati-hati dan waspada guna menghindari kejadian yang tidak diinginkan.