Mogok Dua Kali Saat Uji Coba, Inilah Sekilas Spesifikasi Kereta Bandara Soetta

Selain Mass Rapid Transport (MRT) Jakarta, satu moda transportasi yang sebelumnya dinantikan oleh warga Jakarta adalah kereta bandara yang menghubungkan Stasiun Sudirman Baru dengan Bandara Internasional Soekarno Hatta yang berada di Cengkareng, Tangerang. Kini, rasa penasaran warga Ibukota berubah menjadi skeptis manakala proyek yang sudah rampung sejak beberapa waktu yang lalu ini belum juga beroperasi hingga sekarang.

Baca Juga: Awal Beroperasi, Kereta Bandara Soekarno-Hatta Akan Digratiskan!

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa kereta bandara ini menggabungkan pergerakan slot-slot kereta lain, sehingga PT Railink selaku operator kereta tersebut harus terus melakukan serangkaian uji coba, supaya saat nanti diresmikan, tidak ada gangguan yang berarti dengan adanya tambahan dari kereta bandara.

“Mestinya tanggal 1 itu sudah bisa dioperasikan secara rutin. Komersialnya nanti saat diresmikan oleh Presiden Jokowi. Jadi ini semacam simulasi terhadap beberapa rangkaian-rangkaian baik yang di Jakarta maupun Soekarno Hatta dulu supaya matching,” ungkap Budi seperti yang dikutip dari laman detik.com (2/12/2017). “Tadi saya sudah telpon dengan KAI dan APMS (Automatic People Mover System atau Sky Train) yang ada di Soetta, supaya ini (pengoperasiannya) mulus. Mestinya paling lambat dalam satu minggu ke depan, ini sudah berjalan,” tandas suksesor dari Ignasius Jonan itu.

Tidak hanya sampai di situ, citra kereta bandara semakin tercoreng setelah moda tersebut sempat mogok ketika melewati wilayah Batu Ceper pada Selasa (5/12/2017). Direktur Utama PT Railink, Heru Kuswanto membantah mogoknya kereta bandara karena mati listrik. “Kalau listrik mati itu enggak, namanya trek baru, justru ini namanya uji coba yang kita lakukan mencari titik temunya, biasa itu,” kelit Heru. “Masih berbagai kemungkinan kalau di jalur baru, apakah tingkatan sarana atau prasarana, kami rapat dan evaluasi,” tandasnya dikutip dari sumber yang sama.

Memang, penjelasan dari Heru bisa dibilang masuk akal juga, namun beberapa kabar sempat beredar bahwa armada yang digunakan oleh PT Railink ini merupakan kereta tangan kedua dari Swedia. Kereta yang tenar dengan nama Railink Basoetta ini menggunakan sistem traksi VVVF-IGBT dengan nama MITRAC yang diproduksi oleh Bombardier Transportation, yang merupakan salah satu sistem propulsi traksi tercanggih yang pernah diproduksi oleh Bombardier pada saat ini.

Baca juga: Melesat 200 Km Per Jam, Arlanda Express Kereta Bandara Tercepat 

Lebih lanjut, kereta yang menjadikan pantograf sebagai metode pengambilan arus ini ini menggunakan Train Information Monitoring System (TIMS) yang juga dipakai pada KRL-KRL AC buatan INKA yang lainnya, sebut saja KRL Jabodetabek. Kereta yang memiliki bobot maksimum 39.000 kg ini  mampu melesat dengan kecepatan maksimum 120 km per jam.

Walaupun banyak spekulasi terkait mogoknya Railink Basoetta terus berkembang, namun satu yang pasti, warga Jakarta tetap menantikan kereta ini beroperasi dengan normal.

Niat Atasi Polusi, Mantan Pemilik Toko Sepeda ini Hadirkan Light Electric Vehicle

Seorang mantan pemilik toko sepeda bernama Fabrizio Cross di Kanada memiliki angan yang bisa dibilang sederhana, namun dapat berdampak besar pada dunia transportasi dan lingkungan sekitar. Kala itu, Fabrizio berpikir bagaimana cara menarik minat para pemilik kendaraan bermotor untuk beralih meninggalkan kendaraan pribadi mereka dan mulai memikirkan tentang penurunan tingkat emisi yang dihasilkan oleh kendaraan mereka.

Baca Juga: Swytch Conversion Kit, Ubah Sepeda Konvensional Jadi Sepeda Listrik

Ya, pencemaran udara dewasa ini memang tengah ramai dirembukkan oleh berbagai pemangku kepentingan dan tengah mencari jalan keluar yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (6/12/2017), Fabrizio mengatakan bahwa ‘evolusi’ pada sepeda diyakini dapat menarik minat para pemilik kendaraan bermotor untuk mulai beralih dan meninggalkan kendaraan yang menjadi salah satu penyumbang polusi udara terbesar di dunia ini. “Sebuah sepeda generasi terbaru yang berbeda dengan sepeda pada umumnya. Dapat melakukan sesuatu yang lebih, menjangkau wilayah yang lebih jauh namun tidak perlu lagi bersusah payah untuk mengayuh seperti sepeda kuno,” papar Fabrizio.

Dari situ, Fabrizio mulai menciptakan sebuah inovasi yang diberi nama Electrom LEV (Light Electric Vehicle). “Walaupun kendaraan ini hanya single one-off, tapi diharapkan sesegera mungkin dapat diproduksi,” imbuh Fabrizio. Ia mulai mengerjakan sepeda unik ini sejak 20 tahun yang lalu, dan telah melahirkan empat prototipe. Selain penampilannya yang unik, salah satu hal yang benar-benar membedakan Electrom LEV adalah dual drivetrain-nya.

Dengan kecepatan hingga 6 mph atau yang setara dengan 10 km per jam, pengendara dapat mengayuh sepeda yang akan menggerakkan roda belakang melalui rantai. Pada kecepatan yang lebih tinggi, drive pada rantai akan memungkinkan daya kayuh sang pengemudi dialirkan langsung ke generator yang akan mengisi daya baterai Electrom LEV dengan kapasitas 500 watt.

Ini menunjukkan bahwa begitu pengemudi melaju lebih cepat, irama yang dihasilkan dari daya kayuh mereka tidak menentukan kecepatan kendaraan. Mereka hanya bisa mengayuh dengan kecepatan yang normal, yaitu sekitar 80 rpm, dan menggunakan throttle untuk mengendalikan kecepatan. Diketahui juga bahwa Electrom LEV sendiri tidak memerlukan sistem pergeseran gigi.

Baca Juga: Ford Hadirkan Layanan Bike Sharing, Kok Bisa?

Dalam penggunaannya, para pengemudi dapat menjadikan Electrom LEV ini sebagai moda yang siap digunakan pada jarak dekat maupun jauh sekalipun. Dengan menggunakan bahan yang hampir serupa dengan sepeda pada umumnya, ditambah dengan beberapa ornament yang membantu pengoperasian dari kendaraan ini, Fabrizio meyakini bahwa kendaraan ini akan sangat diminati di masa yang akan datang.

Fabrizio berharap bisa meluncurkan kampanye crowdfunding pada musim semi berikutnya (Northern Hemisphere), untuk mengumpulkan dana produksi untuk versi komersial kendaraan tersebut. Jika semua berjalan sesuai rencana, maka Electrom LEV akan dijual sebagai kit yang dirakit dengan biaya tidak lebih dari US$8000. Harga tersebut bisa saja lebih murah, tergantung pada volume penjualan.

Dengan Regulasi Terpadu, MRT Jakarta Mampu Kurangi Subsidi Pemerintah

Ruang bawah tanah saat ini sudah digunakan untuk pembuatan arus lalu lintas Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta yang akan hadir pada Maret 2019 mendatang. Dari aspek hukum , tentang ruang bawah tanah sendiri ada dalam Peraturan Gubernur atau Pergub No. 167/2012.

Baca juga: PT MRT Jakarta: Dibutuhkan Tiga Payung Hukum Untuk Pengembangan Ruang Bawah Tanah MRT

MRT memanfaatkan lahan ruang bawah tanah ini dikarenakan lahan atas kurang untuk area pembangunan, ruang alternatif bagi pejalan kaki dan peluang dalam mengintegrasikan transportasi sekitarnya. Pemilihan ruang bawah tanah oleh PT MRT Jakarta sebenarnya ada keuntungan selain hal-hal diatas yakni bisa membentuk sebuah jaringan kawasan atau TOD.

Pada fase pertama ini, MRT ingin adanya regulasi untuk mengatur terkait pembebasan lahan, utility yang akan digunakan hingga koordinasi di lahan-lahan publik. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, saat ini hubungan antara publik ke publik, publik ke komersial baru diberikan kewenangan dan belum diberikan terkait aturannya.

“Contohnya seperti interkoneksi perjalanan, dimana ada satu bangunan yang interkoneksi dengan MRT. Jika kita mengenakan fee interkoneksi ini kan harus ada payung hukumnya,” ujar William yang ditemui KabarPenumpang.com pada Workshop di Balai Kota, Rabu (6/12/2017).

Dia mengatakan, saat ini yang diharapkan MRT Jakarta adalah Peraturan Gubernur dalam jangka pendek, UU Pertanahan, UU terkait kekhusussan Ibu Kota hingga Perda bawah tanah yang akan menjadi payung hukum kedepannya. Menurut William, aturan-aturan ini diharapkan bisa segera mendukung semua hal yang terkait tersebut.

“Hubungan pengaturan kawasan publik di kawasan TOD, kami mengajukan ke pemerintah untuk mengelola itu, jika bersama pihak ketiga nanti kita buat masterplan lagi,” ujar William.

William juga mengatakan bila bersama dengan operator transportasi lain sama-sama diuntungkan sebab ada aspek komersial yang sangat penting. Apalagi jika PT MRT diberikan untuk megelola revenue yang ada di kawasan.

Baca juga: Ini Dia Penampakan MRT Jakarta di Jepang

“Kalau pemberlajaran kita, di beberapa negara operator transportasi dunia, revenue ini bagian untuk mengurangi subsidi pemerintah dari 100 persen hingga nol persen secara perlahan. Jadi masyarakat sendiri bisa merasakan harga subsidi tanpa ada bantuan dari pemerintah dengan mengelola TOD ini,” jelasnya.

Yuk Intip Aktivitas Awak Kabin Virgin Atlantic

Mengupas kehidupan awak kabin selalu menjadi topik yang menarik, bahasan tentang seputar awak kabin pun terbilang ramai menjadi buah bibir. Dan baru-baru ini awak kabin maskapai Virgin Altlantic merekam aktivitas pekerjaan mereka dari sebelum berangkat, selama perjalanan dalam penerbangan hingga tiba di tujuan.

Baca juga: Bagi Pramugari, Melayani Penumpang di Kelas Ekonomi Adalah Berkah

KabarPenumpang.com yang merangkum dari laman news.com.au (5/12/2107), video tersebut menggambarkan kehidupan kru kabin dimulai dari para staf yang akan melakukan penerbangan dengan Boeing 787 Dreamliner dari London ke Los Angeles di tujuan akhir mereka. Kamera yang akan memvideokan memulainya dengan mengikuti salah seorang kru kabin bernama Emma Ashley dan rekan-rekannya di pukul 08.00 pagi tepatnya di bandara Heathrow, London.

Awal mula video di Terminal 3 bandara Heathrow, dimana seluruh tim diberi pengarahan sebelum naik ke dalam pesawat Boeing 787-9 G-VDIA. Pada pengarahan, para kru kabin diberi update tentang keselamatan dan membantu penumpang khusus (disabilitas) selama penerbangan.

Penerbangan dari London ke Los Angeles diketahui selama 10 jam 28 menit dengan Emma dan empat orang kru lainnya bertugas di kelas ekonomi yang melayani 233 penumpang. Video ini kemudian berlanjut saat roda pesawat sudah terangkat menuju angkasa dan awak kabin memulai siklus pekerjaan mereka dengan memberi camilan, minuman, makanan panas, kopi dan teh serta hal lainnya.

Briefing sebelum memulai penerbangan (Youtube)

Terlihat jelas para awak kabin ini selalu berdiri bahkan saat mengambil makanan atau camilan di dapur kabin yang sangat sepi. Selain berdiri, para awak kabin ini juga tidak memiliki waktu yang banyak dalam perjalanan tersebut, apalagi dengan waktu tukar jaga atau shift yang tidak terlalu lama.

Dengan pergantian ini awak kabin hanya bisa beristirahat dan tidur sebentar sebelum kembali melayani penumpang. Bulan November yang lalu, seorang pramugari dan blogger penerbangan Amanda Pleva mengungkap kehidupan yang dikira penuh glamor dari pekerjaan awak kabin untuk menunjukkan kepada awak wannabe, apa pekerjaan yang dilakukan sebenarnya. Seperti halnya pekerjaan yang menuntut pramugari melakukan keanehan dengan makan berdiri dan mencobanya di rumah.

Awak kabin yang makan di sudut belakang kabin (Youtube)

“Di tempat kita kerja, kita cenderung bersembunyi di sudut dapur hanya untuk menyendok makanan dan jauh dari pandangan penumpang. Ini juga dilakukan di rumah dengan menghadap ke tembok sambil melahap makan malam selama sepuluh detik,” kata Amanda.

Baca juga: Ini Dia! Tips Cantik ala Pramugari

Dia juga menggambarkan kesulitan saat bekerja dalam penerbangan malam dan dalam kondisi harus tetap terjaga. “Anda akan mematikan lampu dan melihat penumpang tidur dan membaca majalah yang sama berulang-ulang sampai Anda mengantuk. Ini akan membuat Anda merindukan tempat tidur nyaman,” jelas Amanda.

Sepeda Kini Tanpa Dilipat Bisa Masuk Ke Gerbong Kereta

Sepeda masuk ke dalam gerbong kereta jelas sudah biasa, dan memang diperbolehkan, namun syaratnya adalah sepeda lipat. Lantas bagaimana dengan sepeda konvensional yang tidak bisa dilipat, apakah tak mungkin masuk ke dalam gerbong kereta? Jika gerbong kereta biasa jelas masuknya sepeda ukuran standar bisa membuat repot, lantaran kompartemen gerbong yang sangat terbatas. Tapi lain hal dengan kereta di Tokyo ini

Baca juga: Swytch Conversion Kit, Ubah Sepeda Konvensional Jadi Sepeda Listrik

Baru-baru ini di Jepang tepatnya Tokyo diluncurkan gerbong kereta yang dibuat untuk sebuah rangkaian kereta khusus pengguna sepeda. Dimana nantinya para pengguna sepeda tidak lagi perlu repot dengan melipat bahkan membongkar sepeda mereka.

KabarPenumpang.com melansir dari laman japantoday.com (5/12/2017), kereta ini diluncukan oleh East Japan Railway Co pada Senin (4/12/2017) layanan kereta khusus ini, akan mulai digunakan masyarakat pengguna sepeda pada Januari 2018 mendatang. Kereta tersebut hadir setiap akhir pekan dan akan menghubungkan Ryogoku di Tokyo ke berbagai kota pesisir di Semananjung Boso.

Salah satu tujuan terpopuler pengguna sepeda yakni di Prefektur Chiba. kali ini, perusahaan telah mengubah kereta komuter menjadi Basis Sepeda Boso dalam enam gerbong yang mampu menampung 99 sepeda. Uniknya, setiap kursi penumpang di kereta memiliki tiang untuk meletakkan sepeda.

“Kami berharap banyak orang akan menikmati perjalanan bersepeda di sekitar semenanjung,” kata seorang juru bicara East Japan Railway.

Untuk menggunakan gerbong ini, penumpang perlu memesan tempat duduk setidaknya lima hari sebelum keberangkatannya. Tak hanya itu pihak operator mengatakan, tarif tiket pulang-pergi-pulang mulai dari 6.500 yen.

Baca juga: Yuk Bersepeda, Mengurangi Polusi Sembari Membakar Kalori di Tubuh

Di Indonesia, sepeda masuk kedalam kereta pun harus dilipat, sebab tidak ada tempat luas untuk menyimpan sepeda tersebut. Sedangkan di Australia tepatnya di kota Victoria, sepeda yang masuk juga harus dilipat dan jika membawa sepeda yang biasa bisa masuk dalam gerbong bila ruang tersedia. Bagi pengguna kereta jarak jauh dari Albury, Bairnsdale, Shepparton, Swan Hill atau Warrnambool, sepeda Anda harus diperiksa di sebuah stasiun staf minimal 30 menit sebelum layanan Anda berangkat.

Faraday Cage Selamatkan MRT Singapura Saat Tersambar Petir

Sebuah kereta MRT di East-West Line tersambar petir dan terhenti di dekat stasiun Bedok, Singapura sekitar pukul 16.00 waktu setempat pada Senin (20/11/2017). Alhasil, kereta lain yang hendak melintasi Tanah Merah dan Paya Lebar tertunda keberangkatannya lebih dari 10 menit. Untungnya, insiden yang disebabkan oleh alam ini tidak memakan korban jiwa, dan operator dengan sigap menindaklanjuti kecelakaan tersebut, sehingga jadwal kereta lain tidak terganggu lebih parah lagi.

Baca Juga: Terowongan MRT di Singapura Kebanjiran? Ini Dia Penyebabnya!

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (21/11/2017), Vice-President of Corporate Communications SMRT, Patrick Nathan mengatakan bahwa penumpang yang berada di dalam kereta MRT tersebut diturunkan di stasiun Bedok dan modanya ditarik oleh dinas setempat untuk kepentingan penyelidikan. Sesaat setelah kejadian tersebut, sang kapten kereta mengeluhkan mati rasa dan nyeri dada.

Untuk penanganan lebih lanjut, sang kapten kereta dibawa ke Rumah Sakit Umum Changi untuk mendapatkan pengananan medis. Patrick mengatakan bahwa pihaknya tengah menyelidiki insiden kereta tersambar petir ini lebih dalam. Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa kereta yang berjalan di permukaan tanah berpeluang untuk tersambar listrik kapan saja, namun operator SMRT mengatakan bahwa penumpang yang berada di dalam rangkaian kereta akan tetap aman.

Ini dikarenakan gerbong kereta dilindungi oleh Faraday Cage, sebuah ‘kandang’ yang dibentuk oleh bahan konduktif yang dapat menghambat arus listrik, baik itu yang ditimbulkan oleh petir maupun gesekan elektrik lainnya. “Jika kereta tersambar petir, Faraday Cage akan mengantarkan arus listrik di luar gerbong tanpa melewati bagian dalam,” papar Patrick.

Tidak hanya kereta, beberapa moda transportasi lain juga diketahui menggunakan Faraday Cage untuk melindungi para penggunanya, seperti mobil dan pesawat terbang. Dapat dibayangkan jika moda-moda transportasi seperti pesawat terbang tidak dilengkapi dengan Faraday Cage, tentu akan sangat berbahaya bagi para penumpang dan kru udara. Pesawat yang mengudara tinggi berpotensi lebih besar tersambar petir ketimbang moda-moda lain yang ada di darat.

Baca Juga: Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan

Sebelumnya, pada 11 Mei 2016 juga SMRT yang berada di North-South Line juga pernah tersambar petir dan sempat lumpuh sesaat. Alhasil, SMRT layanan selatan yang menghubungkan Yishun dan stasiun Yio Chu Kang sempat terganggu dan tidak dapat beroperasi untuk sementara waktu. Entah berkaitan atau tidak, satu jam sebelum kejadian yang terjadi pada hari Senin sore tersebut, sebuah alarm sempat berbunyi di stasiun Clementi di East-West Line. Namun, polisi yang menangani kasus ini mengatakan bahwa itu adalah sebuah alarm palsu.

Samsung Pasok Teknologi 5G di Kereta Cepat Jepang

Perusahaan konglomerat asal Korea Selatan, Samsung mengumumkan telah menyelesaikan demonstrasi pengadaan koneksi 5G pada sebuah kereta di Jepang. Demonstrasi ini merupakan bentuk kemitraan Samsung dengan salah satu operator telekomunikasi asal Jepang, KDDI, dimana dalam demonstrasi tersebut, kecepatan internet mencapai kecepatan maksimal 1,7 Gbps (Gigabyte per second, baik handover downlink maupun uplink. Pengujian ini merupakan solusi 5G pra-komersial Samsung yang menggabungkan router 5G, unit akses radio 5G, virtualized RAN (vRAN), dan virtualized core.

Baca Juga: Jaringan 5G Untuk Sistem Transportasi, Dianggap Masih Terlalu Mahal

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman zdnet.com (3/12/2017), kereta yang menjadi kelinci percobaan tersebut melaju diantara dua stasiun di Saitama itu dengan kecepatan 100km/jam, dengan masing-masing stasiun berjarak 1,5km. Menurut Samsung, tes tersebut menunjukkan bagaimana koneksi 5G dapat digunakan oleh penumpang kereta berkecepatan tinggi, termasuk backhaul untuk on-board Wi-Fi, dan untuk meningkatkan layanan hiburan bagi para penumpang dan layanan informasi dengan keamanan dan analisis yang ada.

“Bekerja sama dengan Samsung, KDDI telah membuka kemungkinan untuk model bisnis vertikal 5G baru, seperti yang akan dipasang di kereta berkecepatan tinggi,” tutur Yoshiaki Uchida, pejabat eksekutif senior di KDDI. “Dengan adanya koneksi 5G, diharapkan dapat membawa layanan perkeretaapian ke dimensi baru, keberhasilan demonstrasi ini merupakan tonggak penting yang menunjukkan bahwa komersialisasi jaringan 5G sudah dekat,” imbuhnya.

Melalui Yoshiaki, KDDI berencana untuk meluncurkan jaringan 5G ini pada tahun 2020 mendatang. Selama rentang waktu peluncuran tersebut, KDDI akan terus melakukan pembenahan dan menguji setiap kemungkinan yang akan menghambat pengoperasian jaringan ini di masa depan. Diketahui, Samsung juga telah bekerja sama dengan SK Telecom dalam uji coba 5G ini, dimana pada bulan September kemarin, Samsung mengumumkan telah melakukan serah terima pertama antara spektrum 2.6GHz dan 28GHz di jaringan 4G LTE dengan spektrum 3.5GHz di jaringan 5G.

Jika program pemasangan jaringan 5G di kereta ini berhasil pada tahun 2020 mendatang, maka penumpang tidak akan lagi dilanda kebosanan selama dalam perjalanan. Untuk di Indonesia sendiri, kehadiran jaringan 5G memang bisa dibilang terlalu muluk-muluk, mengingat keberadaan WiFi onboard di kereta saja belum kunjung terealisasi hingga kini.

Baca Juga: Sejumlah Masalah Hadang Penerapan WiFi Onboard di Kereta? Ini Dia Jawabannya!

Sudah barang tentu, kehadiran WiFi onboard dalam kereta sudah diidam-idamkan para pecinta kereta sejak lama. Dapat dibayangkan jika perkeretaapian Indonesia menggunakan layanan Free WiFi onboard, tidak akan ada lagi yang namanya waktu terbuang selama dalam perjalanan. Para pekerja kantoran juga tetap dapat mengakses jaringan internet selama dalam perjalanan, sehingga mereka bisa tetap melanjutkan pekerjaan.

Idap Diabetes Insipidus, Nyawa Pria ini Terancam Saat Berada di Kereta!

Setiap orang pasti mendambakan yang namanya hidup sehat, begitu pula yang dialami oleh beberapa orang yang mengidap penyakit turunan atau bawaan sejak lahir. Sebut saja Marc Wübbenhorst dari kota Biefield, Jerman Barat yang mengidap sebuah penyakit langka yang mengharuskannya minum 10 kali lebih banyak dari kebanyakan orang normal. Dua liter air putih sehari merupakan anjuran bagi orang normal, namun bagi Marc, ia harus meminum 20 liter air setiap harinya!

Baca Juga: Nissan Garap Prototipe Sistem Anti Dehidrasi Untuk Pengemudi

Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman health24.com (3/12/2017), pria berusia 35 tahun tersebut diketahui mengidap penyakit Diabetes Insipidus sejak lahir. Penyakit tersebut merupakan penyakit yang sangat langka, bahkan, dari keseluruhan warga Negeri Bavaria, hanya 60 orang saja yang mengidap penyakit ini. Namun, jangan terjebak dengan penamaannya, penyakit ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan penyakit diabetes.

Dikutip dari laman alodokter.com, terjadinya Diabetes Insipidus dikarenakan gangguan pada hormon antidiuretik (antidiuretic hormone/ADH) yang mengatur jumlah cairan dalam tubuh. Alhasil, produksi hormon antidiuretik yang berkurang atau ketika ginjal tidak lagi merespons seperti biasa terhadap hormon antidiuretik. Akibatnya, ginjal mengeluarkan terlalu banyak cairan dan tidak bisa menghasilkan urine yang pekat. Orang yang mengidap penyakit ini akan selalu merasa haus dan minum lebih banyak karena berusaha mengimbangi banyaknya cairan yang hilang.

Betapa mengerikan jika pengidap penyakit langka ini tidak mengimbangi asupan cairan dengan jumlah  yang mereka keluarkan, tentunya akan berakibat sangat fatal. Seperti halnya dengan Marc, jika ia tidak minum air putih selama dua jam, maka ia akan merasa lemas yang sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan jiwanya. “Selama hidup saya, saya tidak pernah tidur lebih lama dari dua jam pada satu waktu,” papar Marc.

Bahkan, yang lebih mengerikannya lagi, Marc pernah hampir kehilangan nyawanya saat naik kereta api di masa lampau. “Kala itu saya lupa membawa botol minum saat naik kereta, dan berusaha ke toilet untuk minum air keran, tapi sayangnya keran tersebut rusak,” kenangnya. Pertanda awal Marc mulai dehidrasi sudah muncul, dan untungnya, ia bertemu dengan seorang teman yang segera menyediakan air untuk Marc. “Yang saya ingat pada saat itu adalah saya merasa sangat haus,” tukas Marc.

Baca Juga: Selain Banyak Minum, Dehidrasi di Pesawat Bisa Dicegah dengan Cara Ini

Tidak hanya di kehidupan sehari-hari, saat berkendara merupakan salah satu tantangan pengidap Diabetes Insipidus. Mereka harus segera membuang asupan cairan di dalam tubuhnya dan mengisinya kembali dengan banyak minum. Bagaimana jadinya jika kendaraan yang mengangkut pengidap Diabetes Insipidus tidak menyediakan toilet? Atau stok air yang mereka bawa sudah habis di tengah jalan? Silakan Anda simpulkan sendiri apa yang terjadi selanjutnya.

Jepang Tawarkan Paket Wisata dengan Kereta Mewah Yang Ramah Dompet

Sebagai negara yang terkenal dengan kegilaan masyarakatnya akan kereta api, Jepang kini menghadirkan sebuah terobosan yang dipercaya dapat lebih memanjakan para maniak kereta tersebut. Diketahui, operator kereta di Negara Matahari Terbit tersebut memiliki jaringan kereta api yang sangat luas, namun mulai kekurangan target pasar mereka. Kehadiran layanan kereta mewah ini diharapkan dapat membangkitkan kembali semangat orang-orang untuk naik kereta, walaupun dengan harga yang cukup fantastis.

Baca Juga: Java Nacht Express, Layani Jakarta – Surabaya, Inilah Kereta Mewah Pertama di Indonesia

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman asia.nikkei.com (23/11/2017), para penumpang yang sudah menjajal wahana baru ini mengaku sangat puas dengan pelayanan yang diberikan oleh pihak operator. “Semuanya bagus, mulai dari pemandangan hingga live music yang disuguhkan selama perjalanan,” ujar salah satu penumpang pria yang sudah pernah mengular dengan kereta yang bernama The Royal Express tersebut.

Live Music di Dalam The Royal Express. Sumber: japantimes.co.jp

Layanan kereta mewah ini mulai mengular dari Yokohama menuju Shimoda di ujung Izu Peninsula di Samudera Pasifik. Peluncuran layanan ini merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh Operator Tokyu untuk meningkatkan penggunaan jalur kereta yang dijalankan oleh anak perusahaan mereka, Izukyu, yang menawarkan panorama laut yang indah saat kereta melaju di sepanjang bibir pantai timur. Perjalanan dengan menggunakan The Royal Express aan memakan waktu perjalanan total sekitar tiga jam, termasuk menginap semalam di kota bersejarah.

Kursi dan lantai kayu yang mendominasi bagian kabin penumpang layaknya hotel mewah berbintang, dipadukan dengan penganan menggugah selera akan semakin melengkapi perjalanan luxury Anda bersama orang-orang tercinta. “Kami juga pernah menikmati perjalanan serupa ketika mengendarai Seven Stars di Kyushu,” ungkap istri sang penumpang tadi, sembari merujuk pada layanan kereta mewah lain di Jepang.

Interior Gerbong The Royal Express. Sumber: japantimes.co.jp

Bagi Anda yang tertarik untuk mencoba menjajal layanan superior dari The Royal Express, pastikan Anda mengantongi modal sebesar 25.000 yen atau yang setara dengan tiga juta rupiah untuk paket perjalanan termurah, dan 35.000 yen atau setara dengan Rp4,2 juta untuk paket perjalanan termahal. Harga tersebut sudah termasuk tiket pulang-pergi, biaya menginap semalam di hotel hot-spring tradisional ala Jepang, dan tiket masuk ke beberapa lokasi wisata.

Baca Juga: Tengok Kemewahan “Venice Simplon – Orient Express, Kereta dengan Tarif Mulai Rp44 Juta

Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang yang hendak mencoba layanan super mewah ini, pihak operator membatasi hanya 100 kursi dalam sekali perjalanan. Bagaimana, apakah Anda tertarik untuk mencoba perjalanan wisata dengan menggunakan kereta luxury ini?

PT MRT Jakarta: Dibutuhkan Tiga Payung Hukum Untuk Pengembangan Ruang Bawah Tanah MRT

Dalam pengembangan dan implementasi proyek Mass Rapid Transit (MRT), selain dukungan pendanaan dan teknologi, sisi lain yang sangat penting adalah payung hukum yang menaungi pengerjaan proyek serta pemanfaatannya kelak. Terlebih pada fase II yang menghubungkan lintas Timur-Barat (Cikarang – Balaraja) secara penuh mengandalkan koridor di bawah tanah.

Baca juga: Silvia Halim – Srikandi di Balik Konstruksi MRT Jakarta

Terkhusus tentang penggunaan ruang bawah tanah, Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar menyebutkan pihaknya membutuhkan tiga payung hukum yang sangat diperlukan untuk pengembangan MRT. “Tiga payung hukum itu sekiranya bisa menjadi rancangan peraturan yang kelak dapat disahkan oleh pemerintah dan DPRD,” ujar William kepada KabarPenumpang.com di Balai Kota hari ini (5/12/2017).

Ia menyebutkan tiga rancangan peraturan yang dimaksud, yang pertama adalah Peraturan Daerah (Perda) tentang pengelolaan ruang bawah tanah, lalu yang kedua adalah Undang-Undang Pertanahan yang menjadi wilayah Kementerian Agraria dan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Dan yang ketiga adalah Revisi Undang-Undang tengan Ibukota yang akan menjadi bahasan Kementerian Dalam Negeri. Willian menambahkan, kesemua yang disebut di atas menjadi ranah para pemangku kebijakan, dan berharap payung hukum yang memadai bisa ditelurkan untuk menunjanhg pengembangan MRT.

Pada prinsipinya, ruang bawah tanah terbagi menjadi dua, yakni ruang bawah tanah dangkal dan ruang bawah tanah dalam. Dangkal sama dengan ruang di bawah permukaan tanah sampai dengan kedalaman 10 meter. Di ruang bawah tanah dangkal ini antara lain boleh untuk pembangunan MRT, parkir/pondasi gedung, jalan, perdagangan (mall) dan jasa.

Baca juga: Box Girder MRT Jakarta Terakhir Sambungkan Jalur Lebak Bulus-Bundaran HI

Sementara ruang bawah tanah dalam, adalah ruang tanah yang kedalamannya melampaui 10 meter. Ruang tersebut untum pembangunan MRT, jalan, pondasi gedung, yang ini tidak diatur untuk perdagangan/jasa.

Atas kebutuhan pengembangan MRT tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama dengan PT MRT Jakarta akan menyelenggarakan Lokakarya Pemerintahan Bawah Tanah yang akan berlangsung Rabu, 6 Desember 2017 di Balai Agung DKI Jakarta.