Perkenalkan Flagman, Robot Pengatur Lalu Lintas di India

Sebuah robot kembali mengambil alih tugas manusia, kali ini berasal dari negara penghasil film Bollywood, India. Berbeda dengan dua robot yang ada di Bandara Internasional Incheon di Korea, kali ini robot yang bernama Flagman beroperasi di pinggir jalan! Tidak hanya wilayah operasinya saja yang berbeda dengan di Korea, Flagman juga memiliki bentuk yang menyerupai sebuah manekin di pusat perbelanjaan. Lalu, apa saja yang dapat dilakukan oleh robot ini?

Baca Juga: Cegah Kecelakaan di Perlintasan Sebidang, Indian Railways Adopsi Teknologi Satelit

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman tribuneindia.com (1/12/2017), Flagman tiada henti melambaikan kepada para pengguna jalan di Jalan Raya Nasional Chandigarh-Ambala dekat Lalru, India untuk memberi tahu mereka bahwa sedang ada pekerjaan konstruksi jalan sehingga mereka bisa menghindarinya. Diketahui, Flagman merupakan robot eksperimental pertama yang ditugaskan untuk mengatur lalu lintas di India.

Tak ayal, robot Flagman yang menggunakan sistem sensor inbuilt ini menarik perhatian para pengguna jalan yang melintasi perlintasan tersebut. Tidak sedikit pula pengguna jalan memutuskan untuk mengabadikan momen bersama robot yang beroperasi menggunakan baterai isi ulang ini. Sementara pengguna jalan lain lebih memilih untuk memperlambat laju kendaraan mereka untuk mengambil beberapa foto dari kendaraannya.

Kebanyakan, respon pertama yang ditunjukkan oleh para pengguna jalan ketika melihat robot ini adalah tertawa geli, karena bentuknya yang menyerupai manekin yang didandani ala petugas jalan raya, lengkap dengan rompi keselamatan, helm pengaman, dan kacamata hitam. Tidak lupa, sesuai dengan namanya, robot ini juga memegang sebuah bendera berwarna merah di tangan kanannya. Jika dilihat dari jauh, mungkin para pengguna jalan tidak akan sadar bahwasanya yang sedang mengatur lalu lintas mereka adalah sebuah robot.

Salah satu pejabat dari GMR Expressway, selaku otak dibalik pengadaan robot eksperimental pengendali arus lalu lintas ini mengatakan bahwa kocek yang mesti dikeluarkan oleh perusahaannya mencapai Rs58.000. Ia melanjutkan bahwa penemuan ini akan berguna sebagai pengatur lalu lintas selama masa pekerjaan konstruksi, atau situasi lain yang membutuhkan tenaga tambahan, termasuk kondisi darurat.

Baca Juga: Tak Lagi Gunakan Timer, Secerdas Apa Sistem Pengaturan Lalu Lintas Baru di India?

“Kemungkinan robot ini dapat membantu untuk menganalisis sebuah kecelakaan, tentunya dengan menambahkan perangkat kamera,” tutur Project Manager dari GMR Company, Iqbal Singh. Iqbal melanjutkan bahwa jika penggunaan robot ini berhasil untuk mengurai kemacetan, tidak menutup kemungkinan robot ini akan digunakan sebagai pengatur lalu lintas di jalur yang padat.

Ini Dia Jurus Jitu Atasi ‘Beser’ Selama Perjalanan Jarak Jauh

Menempuh perjalanan panjang dengan menggunakan angkutan umum seperti bus memang tidak selalu mengenakkan, apalagi jika rasa ingin buang air kecil mulai mendera. Tidak melulu setiap moda tersebut menyediakan kamar kecil, dan mau tidak mau, Anda harus menunggu bus tersebut berhenti di rest area. Lalu, apa yang harus dilakukan untuk mencegah rasa ingin buang air kecil ini timbul? Berikut KabarPenumpang.com sarikan beberapa tips terkait masalah di atas, dilansir dari laman wikihow.com.

Baca Juga: 6 Tips Ampuh Menahan BAB Saat Perjalanan Jauh

Pastikan Bus Menyediakan Toilet
Ya, seperti yang sudah disinggung di atas, tidak semua bus menyediakan layanan toilet di dalam modanya. Pastikan bus yang hendak Anda tumpangi dilengkapi dengan fasilitas toilet yang dapat memberikan solusi bagi Anda yang ingin buang air kecil.

Cukupi Konsumsi Air Sebelum Berangkat
Janganlah Anda terlalu banyak meminum air saat hendak melakukan perjalanan jauh, terutama minuman yang mengandung kafein dan alkohol, karena kedua minuman yang mengandung dua zat tersebut akan memancing sistem pencernaan Anda untuk bekerja lebih keras dan akan memaksa Anda untuk buang air lebih sering daripada Anda mengkonsumsi air putih.

Pastikan Anda Mengetahui Lokasi Peristirahatan Bus
Ini penting bagi Anda yang baru pertama kali melakukan perjalanan jauh menggunakan bus umum. Tanyakan lokasi peristirahatan bus kepada petugas yang berada di terminal maupun di dalam bus, sehingga Anda dapat memperkirakan pasokan air yang dapat masuk ke dalam tubuh.

Jangan Silangkan Kaki
Jika Anda sudah tidak kuat untuk menahan urine lebih lama lagi, segera kendurkan celana Anda dan duduklah dengan kaki terbuka lebar. Ini akan membantu Anda untuk bisa menahan sedikit lebih lama lagi urine Anda.

Baca Juga: Tips Kenalan “Ampuh” di Moda Transportasi, Intinya Tidak Boleh Dipaksakan!

Gunakanlah Toilet Jika Ada Kesempatan
Untuk menghindari penyakit yang mungkin datang karena terlalu lama menahan buang air kecil, ada baiknya menggunakan setiap toilet yang Anda temui.

Alihkan Perhatian Anda
Jika rasa ingin buang air kecil mulai melanda, coba untuk memainkan gadget, baca buku, atau aktifitas lain yang dapat mengalihkan perhatian Anda.

Empat Proyek Pembangunan Perkeruh Kemacetan di Tol Cikampek

Menghabiskan waktu liburan akhir pekan besama orang-orang yang kita cinta bisa berubah menjadi suatu ‘malapetaka’ jika Anda tidak mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Mulai dari destinasi, rute, hingga moda yang hendak digunakan menjadi beberapa faktor penting yang dapat mempengaruhi kelancaran waktu liburan Anda. Belum lagi jika libur panjang akhir pekan tiba, tentu minat plesir warga di kota-kota besar meningkat dan tidak menutup kemungkinan terjadinya kepadatan di mana-mana.

Baca Juga: Baraya Travel, Dipilih Karena Tak Buat Dompet Merintih

Ambil contoh warga Ibukota yang memilih untuk menghabiskan waktu libur panjang akhir pekan kemarin di daerah Bandung dan sekitarnya. Pantauan langsung KabarPenumpang.com di lapangan menemukan bahwa tiket kereta api dengan destinasi Kota Kembang tersebut sudah habis sejak awal bulan November kemarin. Tidak ada yang memungkiri bahwa Bandung kerap kali menjadi tempat peraduan warga Ibukota yang penat dengan rutinitasnya sehari-hari. Tak pelak, warga Jakarta kehilangan salah satu moda pengangkutnya menuju kota berjuluk Paris van Java tersebut.

Keberadaan shuttle Jakarta – Bandung lalu menjadi opsi cadangan bagi warga Ibukota yang malas berkutat dengan kemacetan yang sudah dapat diprediksi dari jauh-jauh hari. Tidak mesti libur panjang akhir pekan saja, kemacetan yang terjadi di sepanjang tol Cikampek bahkan belakangan ini semakin meradang dengan adanya beberapa proyek di sana. Sebut saja proyek jalan tol Jakarta – Cikampek II (elevated) yang dimulai pada 6 Juli 2017 silam, proyek Light Rapid Transit (LRT) Jakarta – Bekasi Timur, Kereta Cepat Jakarta – Bandung, hingga proyek jalan tol Cibitung – Cilincing menjadi pemandangan baru yang menghiasi sepanjang tol Cikampek.

Padatnya kendaraan yang dipadukan dengan keberadaan empat proyek di atas seolah menjadi mimpi buruk bagi setiap orang yang hendak melintasi jalan dengan gerbang tol terbanyak di Indonesia tersebut (Gerbang Tol Cikarang Utama). “Dulu tidak segini macet, sejak ada proyek itu saja tuh tol jadi makin macet,” ujar pengemudi shuttle Baraya Travel yang melakukan perjalanan dari Sarinah menuju Bandung, Kamis (30/11/2017). Mobil shuttlenya sendiri hanya bisa melaju dengan kecepatan maksimal 10 km per jam, terhitung mulai dari Kuningan hingga Rest Area Tol Cikampek KM 57 arah Bandung. Dengan waktu rehat 40 menitan, total durasi perjalanan yang kami tempuh dari Jakarta ke Bandung hari itu mencapai 8 jam!

Di sini, fatamorgana mulai muncul tatkala penumpang yang merasa kelelahan selama perjalanan lebih mendambakan untuk tiba di rest area ketimbang di Bandung. Bagaimana tidak, para penumpang yang kebanyakan orang kantoran ini tentu sudah merasa kelelahan setelah seharian bekerja dan mereka harus menghadapi kemacetan yang semakin memerah. Wajar jika para penumpang lebih menunggu-nunggu untuk tiba di rest area.

Baca Juga: Menjajal Jakarta-Bandung Menggunakan Shuttle Premium Cititrans

Jalur neraka Jakarta – Bandung via tol Cikampek, opsi terakhir warga Jakarta yang hendak melancong ke Kota Kembang menawarkan estimasi perjalanan kurang lebih tujuh setengah jam. Bagi Anda yang hendak menggunakan mobil pribadi, disarankan untuk membawa bekal cemilan selama perjalanan untuk menghilangkan rasa kantuk karena kelelahan. Dianjurkan juga untuk tidak memaksakan diri untuk berkendara jika sudah mulai lelah dan bisa  menggunakan fasilitas rest area yang tersedia. Selain kondisi pengemudi, performa kendaraan juga harus dipastikan prima agar perjalanan Anda senantiasa selamat dan lancar.

Ini Dia Penampakan MRT Jakarta di Jepang

Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta akan mulai di uji coba kelayakannya di Jepang pada 18 Desember 2017 mendatang. Uji coba ini dilakukan untuk mengetes kemampuan kereta baik performa maupun kelaikan kereta tersebut sebelum dihadirkan ke Indonesia untuk digunakan Jakarta tahun 2019 mendatang.

Baca juga: Setelah Uji Coba di Jepang, Satu Set Kereta MRT Jakarta Akan Tiba Maret 2018

KabarPenumpang.com merangkum dari laman n-sharyo.co.jp, Nippon Sharyo dan Sumitomo Corporation bekerja sama dengan PT MRT Jakarta untuk memasok 96 gerbong untuk 16 set kereta pada jalur bawah tanah pertama di Indonesia. Fase pertama yakni jalur utar-selatan dari sistem MRT ini memiliki kontrak bernilai 13 miliar yen.

Rangkaian gerbong yang disediakan ini akan mengadopsi Standard Urban Railway System for Asia (STRASYA), sebuah sistem perkeretaapian perkotaan yang dikembangkan oleh perusahaan kereta api Jepang yang bekerja sama dengan pemerintah Jepang untuk mempromosikan sistem transportasi Jepang ke negara-negara Asia. Ide dasar STRASYA adalah mencapai kereta api yang lebih aman dan hemat energi dengan memanfaatkan pengetahuan tentang bagaimana merancang dan membangun wahana yang dapat diandalkan dari jenis yang sudah digunakan di Jepang

Ruang masinis (MRT Jakarta)

Memperkenalkan teknologi ini dapat meningkatkan ketepatan waktu dan stabilitas operasi sekaligus menghilangkan kebutuhan akan perawatan yang sering. Proyek ini merupakan pertama kalinya dalam dua dekade bahwa kereta api buatan Jepang yang baru dibangun akan diperkenalkan ke dalam sistem perkeretaapian Indonesia, di mana kereta api Jepang yang digunakan masih memainkan peran penting.

Proyek ini juga dianggap sebagai proyek unggulan inisiatif Metropolitan Priority Area yang bertujuan memperkuat kemitraan strategis antara Jepang dan Indonesia dan dengan demikian merupakan proyek yang sangat penting dan sangat jelas bagi kedua pemerintah. Nippon Sharyo dan Sumitomo Corporation memiliki track record dalam memasok kereta api secara global, seperti ke Amerika Serikat, Taiwan dan Filipina.

Di Indonesia, kedua perusahaan tersebut sebelumnya telah bermitra dengan perusahaan milik negara untuk bersama-sama membangun dan mengoperasikan perusahaan teknik perkeretaapian, yang telah memberi kontribusi kepada masyarakat melalui alih teknologi dan pengembangan industri perkeretaapian Indonesia. MRT Jakarta berencana untuk memperluas jalur MRT-nya sekitar 8 kilometer ke arah utara dan untuk membangun jalur baru yang melintasi Jakarta di arah timur-barat.

Dengan rencana untuk membangun sistem perkeretaapian baru di kota-kota lain di Indonesia juga dalam pekerjaannya, Sumitomo Corporation berharap dapat memberikan kontribusi lebih lanjut sambil terus memperluas pangsa pasar kereta api negara tersebut. Indonesia mengatakn panjang dari Lebak Bulus hingga ke Bundaran HI sejauh 16 km, tetapi dari garis besar proyek sepanjang 15,7 km atau hampir mendekati angka yang deibrikan oleh MRT Jakarta.

Baca juga: Silvia Halim – Srikandi di Balik Konstruksi MRT Jakarta

Pengiriman pertama kereta-kereta ini sekitar 185 minggu dan satu set kereta akan dikirimkan ke Indonesia pada Maret 2018 dan akan selesai pengirimannya akhir tahun 2018 mendatang. Berikut ini penampakan MRT yang akan siap dibawa ke Jakarta.

Bagian dalam kereta MRT Jakarta (MRT Jakarta)

Dianggap Berbahaya, Koper Pintar dengan Baterai Lithium Dilarang Masuk Ruang Kargo

Koper pintar menjadi solusi yang ditawarkan untuk pengamanan koper yang akan dimasukkan ke dalam jalur kargo pesawat. Basis teknologi kargo pintar adalah sistem pelacakan (tracking) dan tentunya baterai lithium sebagai sumber energinya. Dan kini ada kabar terbaru bahwa penggunaan koper pintar tak boleh lagi dimasukkan ke dalam ruang kargo pesawat. Resminya koper pintar tidak diperbolehkan masuk dalam kargo pesawat American Airlines dan Delta Airlines. Koper pintar hanya diperbolehkan masuk dalam kargo jika baterai Lithium dilepaskan atau dikeluarkan dari koper.

Baca juga: Global Locator, Alat Pelacak Posisi Bagasi Dalam Penerbangan

Kedua maskapai tersebut menyatakan hal pembatasan ini pada Jumat, 1 Desember 2017 kemarin. KabarPenumpang.com melansir dari laman latimes.com (1/12/2017), bahwa kebijakan baru dari dua maskapai terbesar dunia ini akan mulai berlaku pada 15 Januari 2018 mendatang.

Adanya pernyataan untuk melepaskan baterai dari alat pelacak dan kunci jarak jauh pada koper pintar karena kedua maskapai khawatir jika baterai Lithium dapat menyalakan api dan menimbulkan bahaya pada pesawat. Seorang perwakilan dari United Airlines mengatakan, maskapai tersebut juga akan segera mengumumkan pembatasan yang sama terkait baterai Lithium dalam alat pelacak dan kunci jarak jauh pada tas pintar.

American Airlines masih mengizinkan jika tas dibawa dalam kabin, tetapi Delta Ailines mengatakan koper atau barag lain yang menggunakan alat pelacak diperbolehkan masuk baik di kabin maupun kargo jika baterai dilepaskan. Bluesmart, perusahaan yang memproduksi tas pintar tersebut mengatakan telah benar-benar menguji produknya untuk keamanan dan berjanji bertemu dengan eksekutif perusahaan penerbangan untuk meminta pembebasan terhadap pembatasan tersebut.

“Kami sedih dengan perubahan terbaru pada beberapa peraturan penerbangan dan merasa ini merupakan langkah mundur tidak hanya untuk teknologi perjalanan namun juga menghadirkan hambatan untuk merampingkan dan memperbaiki cara kita melakukan perjalanan,” kata Bluesmart dalam sebuah pernyataan di situsnya.

Koper pintar telah menjadi semakin populer di kalangan pecinta teknologi karena tas dilengkapi dengan perangkat built-in yang dapat menimbang tas, melacaknya menggunakan GPS dan menguncinya dari jarak jauh dengan menggunakan aplikasi ponsel cerdas. Beberapa tas bahkan termasuk motor sehingga pelancong bisa mengendarai koper seperti skuter.

Baca juga: Tas Anda Hilang di Perjalanan? Tenang, Gadget ini Akan Tunjukkan Lokasinya!

Perangkat baterai Lithium, termasuk laptop dan hoverboards, telah menghadirkan masalah untuk maskapai penerbangan. Ini karena baterai yang lebih besar dan beberapa baterai yang tersimpan bersama-sama dapat menimbulkan risiko kebakaran, yang bisa menjadi bencana dalam sebuah pesawat kargo. Akibatnya, maskapai penerbangan telah mengembangkan daftar perangkat dan ukuran baterai tertentu yang mereka izinkan dalam koper saat diperiksa.

Dallas Fort Worth, Jadi Bandara Pertama dengan Status Netral Emisi

Upaya pengurangan emisi karbon telah menjadi gerakan yang menjalan di tingkat global dan melibatkan lintas industri. Seperti dalam dunia penerbangan, bandara di klaim dapat memberikan sumbangan untuk menurunkan emisi karbon (CO2). Pada konferensi tahunan ACI World & Africa (WAGA) yang diselenggarakan Airport of Mauritius Co Ltd di Montreal 25 Oktober 2017, memberikan update mengenai kemajuan penanganan emisi CO2 melalui program sertifikasi global yang independen dan sukarela yakni akreditasi karbon bandara.

Baca juga: Tekan Emisi Karbon, di Perth Dibangun Halte Bus Dengan Motion Sensor

KabarPenumpang.com merangkum dari aci.aero, Airport Council International juga setiap tahun merilis untuk Carbon Accreditation Airport per Mei 2016-Mei 2017 yang hasilnya bandara dunia memberikan komitmennya untuk menurunkan CO2 mereka sendiri. Direktur Jenderal ACI World Angela Gittens mengatakan, tahun ini ada 36 aplikasi baru untuk Carbon Accreditation Airport.

“Sebagai hasilnya kami dapat mengumumkan bahwa sekarang kami memiliki 201 bandara yang berpartisipasi dalam Akreditasi Karbon Bandara. Bandara ini menerima lebih dari 39,6 persen lalu lintas penumpang udara secara global. Untuk memasukkannya ke dalam konteks, itu berarti lebih dari 2,8 miliar penumpang saat ini melakukan perjalanan melalui bandara yang disertifikasi satu dari empat tingkat program,” ujarnya.

Adapun hasil kolektif pengurangan emisi CO2 sebesar 202.184 ton CO2 atau setara dengan CO2 yang dipancarkan siklus hidup 2,1 juta iPhone. Niclas Svenningsen yang memimpin inisiatif Climate Neutral Now mengenai perubahan iklim di UNFCCC di Bonn mengatakan, Airport Carbon Accreditation adalah contoh yang sangat bagus.

Dengan menyediakan kerangka kerja yang jelas namun ambisius dan mengakomodasi sifat multi kecepatan usaha bandara di seluruh dunia. Ini secara aktif mendorong dan menstimulasi upaya kolektif oleh industri bandara Internasional yang juga melibatkan pemangku kepentingan penerbangan lainnya untuk terlibat dengan baik.

Bandara Townsville di Queensland, Australia menjadi bandara ke-200 untuk mengikuti program ini, yang disertifikasi di Level 2 Reduction. Partisipasi pertumbuhan di benua Afrika sangat luar biasa awalnya mulai hanya dengan tiga bandara dan kini sepuluh bandara sudah terakreditasi. Diketahui bandara di Afrika menerima 28 persen lalu lintas penumpang. Enam bandara di Amerika Serikat juga pertama kalinya mendapatkan sertifikat dan menjadi kontributor utama terhadap keseluruhan emisi Co2 yang dicapai tahun lalu.

Dallas Fort Worth menjadi bandara pertama di Amerika Serikat yang mencapai status netral karbon. Prestasi ini mencerminkan komitmen lanjutan bandara AS untuk mengatasi perubahan iklim, terlepas dari penarikan AS dari Persetujuan Paris. Sejumlah bandara menerima sertifikat mereka pada upacara Akreditasi Karbon Bandara khusus selama WAGA tahun ini di Mauritius:

ACSA (Perusahaan Bandara Afrika Selatan) menerima 4 sertifikat masing-masing di Pemetaan Tingkat 1 untuk Cape Town International (Cape Town), King Shaka International (Durban), O.R. Bandara Tambo International (Johannesburg) dan Port Elizabeth International (Port Elizabeth).

ONDA (Otoritas Bandara Maroko) mengumpulkan dua sertifikat Pemetaan Tingkat 1 untuk 2 bandara: Casablanca Mohammed V International dan Marrakech Menara Airport.
Dari Amerika Latin juga ada sertifikat Pemetaan Tingkat 1 yang dipresentasikan ke Bandara Internasional Guayaquil dan Bandara Internasional Carrasco, Montevideo, bandara terakhir yang disertifikasi pada Pemetaan Tingkat 1 adalah Bandara Internasional Sir Seewosagur Ramgoolan di Mauritius host WAGA tahun ini.

Sementara itu, di Level 2 Reduction, ada 2 sertifikasi: Libreville Leon Mba International Airport dan Bandara Internasional Quito. Aeria’s Felix Houphouet Boigny Airport, bandara Abidjan juga menerima sertifikat Level 3+ Netrality, yang membedakan dirinya sebagai bandara Afrika pertama yang mencapai status netral karbon.

Baca juga: Etihad ESCO Retrofit Bandara Dubai dengan Energi Tenaga Surya

Dengan 4 tingkat akreditasi yang berbeda yang mencakup semua tahap pengelolaan karbon (Pemetaan, Pengurangan, Optimalisasi dan Netralitas), Akreditasi Karbon Bandara diberikan secara independen, didukung secara institusional¹ dan mendapat dukungan dari Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), United Nation Environment Programme (UNEP), Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), Administrasi Penerbangan Federal AS dan Komisi Eropa (EC).

NATS Paparkan Beragam Cara Untuk Maksimalkan Efisiensi Bandara

Tidak dapat dipungkiri, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh pihak bandara dewasa ini adalah percepatan dalam hal perkembangan bandara itu sendiri, baik dari segi landas pacu maupun terminal penumpang. Inilah yang menjadi faktor penting pengelolaan dan memaksimalkan efisiensi bandara menjadi sangat penting. Bagaimana bisa sebuah bandara tidak melakukan pengembangan di segala aspek, sedangkan permintaan penerbangan dari berbagai pihak terus meningkat setiap waktunya?

Baca Juga: Tingkatkan Efisiensi Penerbangan, Airnav Perkenalkan Aplikasi Oasis

Satu poin yang tidak kalah pentingnya adalah kapasitas dan ketahanan suatu bandara seringkali dapat didorong tanpa harus menginvestasikan uang dalam jumlah yang besar. Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman nats.aero, perusahaan yang bergerak di bidang pengendalian lalu lintas udara dan kinerja bandara global, NATS dipercaya untuk melakukan pengembangan kinerja bandara di beberapa negara di dunia. NATS menyebutkan bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi pengoperasian wilayah udara, landas pacu, hingga arus penumpang di terminal.

Sebut saja jumlah penumpang yang dapat ditampung dalam satu terminal, berapa banyak tas yang masuk ke dalam kargo, berapa jarak pemisah antar satu pesawat dengan pesawat lainnya, hingga jenis pesawat apa yang akan menggunakan landas pacu merupakan sebagian kecil faktor yang menentukan pengoperasian udara secara keseluruhan, dan faktor-faktor tersebut selalu berubah setiap harinya. Di sini, efisiensi operator bandara dipertaruhkan untuk menjaga ritme pengoperasian perjalanan udara.

NATS menilai pra-sarana bandara juga memerlukan waktu istirahatnya sendiri. Biasanya, penurunan 5-10 persen dalam pergerakan yang terjadwal setiap 4-5 jam sekali dinilai bisa sangat efektif dalam memungkinkan bandara terhindar dari gangguan moderat periodik. Tanpa itu, penundaan penerbangan bisa berkembang dengan sangat cepat dengan pembatalan penerbangan kerap kali menjadi satu-satunya jalan keluar.

Baca Juga: Bandara Changi Uji Coba Remote Air Traffic Control

Faktor terakhir ini bisa dibilang yang paling penting dari konsistensi ritme penerbangan, yaitu kinerja dari petugas kontrol lalu lintas udara dan pilot. Keduanya memegang peranan penting dalam menjaga jadwal penerbangan tetap tepat waktu. Ambil contoh di bandara yang sibuk, pengendali harus secara taktis mengatur permintaan lalu lintas udara, menyeimbangkan kedatangan dan keberangkatan untuk memastikan operasi berjalan sebaik mungkin setiap saat.

Jadi, efisiensi pengoperasian bandara tidak melulu harus menanamkan modal yang sangat besar. Masih banyak aspek yang dapat dimaksimalkan atau diatur ulang agar dapat meminimalisir pengeluaran yang mesti dikeluarkan oleh operator bandara.

“The Rail Saarthi,” Aplikasi Mirip KAI Accsess Untuk Penumpang Kereta di India

Perkeretaapian India belum lama meluncurkan aplikasi mobile pemesanan tiket kereta, penerbangan hingga pemesanan makanan untuk di kereta bernama The Rail Saarthi. Nama ini adalah singkatan dari Synergised Advanced Application Rail Travel Help and Information.

KabarPenumpang.com melansir dari laman financialexpress.com (14/7/2017), aplikasi ini diresmikan oleh menteri perkeretaapian India Suresh Prabhu. Dia mengatakan, aplikasi tersebut dibuat dengan tujuan untuk memberikan pengalaman yang lebih baik kepada pelanggan

Baca juga: Jadwal Perjalanan Terencana, Pesan Makanan Pun via Online

“Aplikasi terpadu tersebut bisa memberi satu kemudahan untuk melakukan semua hal. Baik itu memesan tiket kereta, pesawat ataupun makanan di dalam kereta,” ujar Prabhu.

Ternyata ada lagi yang bisa dipesan dari aplikasi The Rail Saarthi yakni memesan porter, ruang pensiun dan makanan untuk di makan dalam perjalanan. Tak hanya memudahkan dalam segala hal terkait pemesanan, aplikasi ini juga dilengkapi layanan untuk keamanan wanita. Prabhu menambahkan, aplikasi Saarthi dikembangkan oleh Center for Railway Information Systems (CRIS). Biaya untuk membuat aplikasi ini adalah Rs7 crore.

Aplikasi tersebut bisa dengan mudah di unduh di Google Play Store pada smartphone Android Anda dengan kata pencarian COMS untuk Rail Saarthi. Sama seperti aplikasi lainnya jika terpasang, Anda harus membuat ID untuk menggunakan aplikasi tersebut.

Aplikasi Saarthi

“Saat ini kami memiliki solusi digital yang berbeda untuk tiket, pembatalan dan masalah lainnya. Kami bermaksud untuk mengintegrasikan semua fasilitas tersebut ke dalam dua aplikasi mobile, yang menangani semua masalah tiket dan yang lainnya untuk penerimaan dan pengurangan keluhan serta saran terkait dengan semua layanan kami. Aplikasi terpadu sekarang juga dapat digunakan untuk pemesanan taksi dan hotel,” ujar Prabhu.

Aplikasi ini seperti mengingatkan pada milik Kereta Api Indonesia yakni KAI Accsess yang bisa digunakan untuk memesan tiket dan meals atau makanan di kereta. Sayangnya, aplikasi ini tidak bisa digunakan untuk melakukan pemesanan tiket pesawat terbang seperti The Rai Saarthi.

Baca juga: Pyka, Aplikasi Unik Untuk Penumpang Yang Sering Ketiduran di Kereta

Untuk penumpang di Indonesia, dalam memesan makanan di kereta masukkan kode booking keret dan nomor validasi di aplikasi Anda. Nantinya akan ada pilihan menu yang bisa dipesan untuk Anda makan di dalam kereta sesuai tujuan dan waktu keberangkatan Anda.

Cuaca di Selat Sunda Membaik, Arus Balik dari Sumatera ke Jawa Berjalan Lancar

Arus balik penumpang dan kendaraan dari Bakauheni, Lampung menuju Merak, Banten terpantau ramai lancar pada Minggu (3/12) sore hari. Hingga pukul 15.00 sudah 10.210 orang, 935 unit roda empat, 1.200 unit sepeda motor, 38 bus dan 850 unit truk yang menyeberang menuju pulau Jawa.

Baca juga: Penyeberangan Merak-Bakauheni Kembali Dibuka, ASDP Kerahkan Kapal Ferry Bertonase Besar

PLT Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Intan Sugiharti mengatakan, kondisi cuaca yang semakin baik di Perairan Selat Sunda mendukung kelancaran arus balik libur panjang akhir pekan awal Desember ini. “Arus balik dari Bakauheni hingga sore ini terpantau normal dengan kondisi ramai lancar, dan tidak ada antrian,” tutur Intan, Minggu (3/12) lewat siaran pers.

GM PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bakauheni Anton Murdianto mengatakan, setelah sebelumnya terjadi cuaca ekstrem, kini kondisi cuaca semakin baik dimana tinggi gelombang berada di kisaran 0,50 meter hingga 0,75 meter.

“Kecepatan angin juga sudah kembali normal sekitar 4-5 knot. Namun, kami terus berkoordinasi dengan BMKG dan seluruh stakeholder terkait, demi memastikan layanan penyeberangan berjalan lancar, aman dan selamat,” tutur Anton. Dari pelabuhan Bakauheni, lanjutnya, dioperasikan 5 dermaga dengan 29 unit kapal yang melayani penyeberangan menuju Merak, Banten.

Namun demikian, kepada seluruh pengguna jasa penyeberangan diimbau tetap waspada dan bersabar dalam melakukan perjalanan menyusul potensi cuaca ekstrem tengah melanda sejumlah perairan di Indonesia, termasuk Selat Sunda.

Baca juga: Mengenal Bakauheni, Pelabuhan Utama Penghubung Transportasi ke Sumatera

PT ASDP Indonesia Ferry bersama dengan seluruh mitra kerja pelayaran dan regulator sangat memprioritaskan faktor keselamatan dan keamanan seluruh pengguna jasa sehingga akan patuh pada aturan untuk tidak memberikan pelayanan selama kondisi cuaca buruk berlangsung.

 

Silvia Halim – Srikandi di Balik Konstruksi MRT Jakarta

Walaupun kehadirannya masih setahun lagi, namun warga Ibukota sudah tidak sabar dengan salah satu moda transportasi berbasis massal yang digalang-galang akan menjadi solusi kemacetan di Jakarta. Ya, kereta Metro pertama di Indonesia ini memang tengah dikebut pengerjaannya oleh PT MRT Jakarta (PT MRTJ). Hingga Selasa (28/11/2017) kemarin, progress pengerjaan untuk jalur Lebak Bulus – Bunderan HI sudah mencapai angka 86,12 persen dan direncanakan akan menyentuh angka 90 persen di akhir Desember 2017 ini.

Baca Juga: Setelah Uji Coba di Jepang, Satu Set Kereta MRT Jakarta Akan Tiba Maret 2018

Namun siapa sangka, konstruksi yang selama ini digenjot habis-habisan oleh PT MRTJ, dinakhodai oleh seorang perempuan! Kehadirannya kerap kali digambarkan seperti seorang Srikandi yang menyempurnakan cerita Pewayangan. Perkenalkan, Silvia Halim selaku Direktur Konstruksi PT MRTJ. Tidak sekonyong-konyong ia diangkat menjadi direktur konstruksi di PT MRTJ, melainkan atas latar belakang pendidikan dan pengalamannya di bidang serupa yang akhirnya memuluskan langkah Silvia hingga ia berhasil menduduki salah satu jajaran direksi di perusahaan milik negara ini.

Wanita yang mengenyam pendidikan di SMU Don Bosco II ini tidak pernah mempermasalahkan gender ketika bekerja, karena ia sendiri pun mengakui bahwa tidak ada persoalan yang berarti hanya karena masalah tersebut. “Untuk saya pribadi, sejauh ini, tidak pernah menghadapi masalah spesifik (gender) seperti itu ya, hanya karena saya perempuan di dunia yang laki-laki banget,” papar Silvia ketika ditemui KabarPenumpang.com, Selasa (28/11/2017).

“Tantangannya selama ini selalu berkaitan dengan pekerjaan itu sendiri, seperti tantangan teknis hingga koordinasi dengan banyaknya instansi yang ada di Indonesia. Tapi untuk masalah gender ya sampai saat ini tidak ada yang menghalangi lah,” tambahnya.

Seperti sudah menjadi hukum alam, dimana semakin tinggi jabatan yang melekat di diri kita, maka semakin berat pula beban yang mesti  dipertanggungjawabkan. Walaupun pernyataan tersebut tidak dipungkiri olehnya, namun Silvia tetap memegang teguh prinsip yang selama ini terus mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. “Walaupun banyak tactical challenges dalam mengemban tugas ini, tapi satu hal yang selalu mendorong saya untuk terus maju adalah kami di sini melakukan sesuatu yang meaningful, yaitu MRT pertama di Indonesia yang dapat membawa perubahan besar, bukan hanya untuk warganya, tapi juga kotanya,” jelas wanita kelahiran 18 Juni 1982 tersebut.

Sebelum menjajal PT MRT Jakarta, wanita lulusan Nanyang Technological University Singapore jurusan Teknik Sipil ini sempat terlebih dahulu mengabdi untuk Land Transport Authority (LTA) Singapura  selama 12 tahun. “Ya, sebelum di sini (PT MRTJ) saya di LTA Singapura sebagai Project Manager untuk beberapa proyek infrastruktur di sana,” tandas wanita 35 tahun itu. “Saya juga sempat bekerja di MRT Singapura. Setelah beragam ilmu yang saya dapat selama di sana, kini saatnya saya mengabdi ke negara sendiri, dan kebetulan ada kesempatan, ya langsung saya ambil,” tukas Silvia sembari bercanda.

Baca Juga: ‘Kejar Setoran’, PT MRT Jakarta Larang Pengunjung Tengok Perkembangan Proyek

Beredarnya sarkas mengenai Jakarta, kota terbesar di Asia Tenggara yang tidak memiliki sistem Metro menjadi pelecut tersendiri bagi PT MRTJ dan khususnya bagi Silvia untuk terus melakukan yang terbaik bagi Ibukota. “Oh jelas, pernyataan itu yang selalu membakar dan memotivasi kami (PT MRTJ), kalau kota-kota itu bisa, masa kita nggak bisa,” terangnya menggebu-gebu.

Pada akhirnya, Silvia kembali menegaskan bahwasanya perbedaan gender yang kerap kali menjadi topik hangat perdebatan tidak berlaku untuknya. “Jangan hanya karena Anda seorang perempuan, Anda tidak dapat melakukan sesuatu.” Tutup Sang Srikandi dari PT MRTJ itu.