Japan Airlines Gelontorkan US$10 Juta Untuk Proyek Pesawat Supersonik

Pengambilan keputusan saat ini jelas akan berpengaruh pada proyeksi bisnis di masa depan. Seperti dalam hal adopsi teknologi, apa yang dilakukan maskapai plat merah asal Jepang ini rasanya memang terdengar kontroversial, ya Japan Airlines baru-baru ini telah menginvestasikan dananya sebesar US$10 juta kepada Boom Technology yang berbasis di Denver. Japan Airlines menggandeng Boom Technology dalam niatan untuk terlibat dalam meluncurkan pesawat terbang komersial di masa mendatang.

Baca juga: Lima Maskapai Ini Kondang dengan Sajian Makanan Yang Buruk

KabarPenumpang.com melansir dari laman paddleyourownkanoo.com (5/12/2017), pihak Boom Technology berharap dengan kerja sama ini pihaknya mampu menciptakan pesawat komersial supersonik yang bisa mencapai kecepatan tertinggi Mach 2,2 atau melebihi dua kali kecepatan suara. Pesawat supersonik lansiran Boom Technology ini digadang sebagai suksesor dari jet Concorde yang tidak lagi terbang sejak tahun 2003. Pada masanya Concorde mampu melesat dengan kecepatan maksimum Mach 2,04.

Dengan kemitraan bersama Boom Technology, Japan Airlines bersama beberapa investor lainnya yang memiliki high profile kemudian meninvestasikan dananya dalam proyek supersonik ini.

Nantinya jika berhasil, jet baru tersebut akan dioperasikan pada pertengahan 2020 mendatang. Kabin pesawat ini akan menggunakan kabin kelas bisnis yang mampu membawa 45-55 orang penumpang. Maskapai milik Jepang ini mengatakan akan bekerja sama secara intens dengan Boom untuk mendapatkan pengalaman dan keahlian penerbangan dalam memperbaki desain pesawat terbang serta membantu penumpang dalam perjalanan supersonik. Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Japan Airlines menyatakan akan membeli 20 unit Boom jet, yang saat ini dalam  status pre order.

Kelas bisnis pesawat Boom Supersonic (Boom Supersonic)

Sebenarnya, Japan Airlines dan Boom sudah bekerjasama lebih dari satu tahun dan ini diungkapkan oleh pendiri dan CEO Boom, Blake Scholl. “Tim JAL yang penuh gairah dan visioner menawarkan pengetahuan dan kebijaksanaan praktis puluhan tahun tentang segala hal mulai dari pengalaman penumpang hingga teknis operasional. Kami senang bisa bekerja sama dengan JAL untuk mengembangkan pesawat yang handal dan mudah dipelihara serta akan memberikan kecepatan revolusioner kepada penumpang,” jelas Scholl.

Baca juga: Tupolev “Concordski” T-114 – Jiplakan Concorde Yang Kalah Digdaya

Scholl mengatakan, tujuan dari pihaknya adalah untuk mengembangkan sebuah pesawat terbang yang akan menjadi tambahan bagus bagi armada penerbangan internasional manapun. Presiden JAL, Yoshiharu Ueki mengatakan, ia ingin memajukan penerbangan komersial dengan kemampuan memotong waktu penerbangan menjadi dua kali lipat. Boom Supersonic jet ini jika tidak aral melintang akan ditampilkan prototipenya pada tahun 2023.

Berikut speisifikasi Boom Supersonic Jet
Long-Range Cruise, Supersonic: Mach 2.2 (1,451mph, 2,335km/h)
Long-Range Cruise, Subsonic: Mach 0.95
Maximum Route: 17. 668 km
Balanced Field Length: 2,590 meter
Community Noise: Better than Stage IV

ICAO: Aspek Keamanan Membaik, Indonesia Naik Ke Peringkat 55 Untuk Keselamatan Penerbangan

Ada kabar baik terkait keselamatan penerbangan di Indonesia, pasalnya International Civil Aviation Organization (ICAO) telah menaikan peringkat Indonesia untuk urusan keselamatan di udara. Dengan acuan tingkat kepatuhan pada aspek keselamatan, Indonesia naik peringkat dari yang sebelumnya berada di ranking 151 di tahun 2016, kini Indonesia ada di peringkat 55 dari 191 negara yang tergabung dalam ICAO.

Baca juga: Peragaan Alat Keselamatan Penerbangan, Masih Efektifkah?

Sumber dari news.xinhuanet.com (17/11/2017) menyebut bahwa tingkat kepatuhan keselamatan penerbangan di Indonesia mencapai level 81,51 persen, jauh di atas standar rata-rata yang diminta ICAO di level 64,71 persen. “Ini merupakan lompatan yang luar biasa, mengingat kita bisa melewati 91 negara,” ujar Agus Santoso selaku Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

ICAO sendiri telah meningkatkan standar keselamatan penerbangan pada tahun lalu, menyusul permintaan perbaikan pada layanan penerbangan di beberapa negara. Merujuk laporan yang dirilis International Air Transport Association (IATA) pada tahun 2015, menjelaskan bahwa “aspek keselamatan merupakan perhatian terbesar bagi pengembangan layanan penerbangan di Indonesia”.

Dalam ICAO Universal Safety Oversight Audit Program, Indonesia sempat berada di bawah rata-rata global, lantaran di Indonesia terus terjadi kecelakaan setiap tahunnya, terhitung sejak 2010. Bahkan di tahun 2015 terjadi beberapa kecelakaan pesawat di Indonesia. Seperti pada Desember 2015, 162 orang dinyatakan tewas dalam musibah AirAsia QZ8501, dari Surabaya tujuan Singapura yang jatuh di Selat Karimata

Masih terkait peringkat keselamatan, pada April 2017, US Federation Aviation Administration (FAA) menurunkan peringkat Indonesia ke kategori 2 dalam program International Aviation Safety Assessment. Dampaknya, Uni Eropa pun melarang beberapa maskapai asal Indonesa terbang menuju Benua Biru, kecuali lima operator penerbangan yang diperobolehkan, diantaranya Garuda Indonesia.

Baca juga: Tingkatkan Efisiensi Penerbangan, Airnav Perkenalkan Aplikasi Oasis

Kilas balik di tahun 2014, ICAO pernah menetapkan Indonesia di bawah standar rata-rata global dari delapan wilayah penerbangan. Di tahun 2014, hasil audit ICAO atas Indonesia hanya mencapai level 61 persen, lebih rendah dari standar rata-rata dunia saat itu yang 73,9 persen.

Merespon jatuhnya peringkat keselamatan penerbangan, Otoritas Penerbangan Indonesia lantas mengumumkan beberapa langkah perbaikan sesuai dengan rekomendasi ICAO, diantaranya menyediakan program pelatihan inspeksi keselamatan penerbangan. Sayangnya audit ICAO pada tahun 2016 masih menyebut standar penerapan keselamatan penerbangan Indonesia masih di bawah rata-rata dunia.

Belanda Diterpa Cuaca Buruk, Bandara Schiphol Bakal Lebih Sepi di Akhir Tahun

Bandara Schiphol di Amsterdam, Belanda terkenal sebagai salah satu hub penerbangan transit utama di Eropa. Dan pada akhir tahun 2017 ini, diperkirakan cuaca buruk yang akan melanda Negeri Kincir Angin ini juga akan berdampak pada penerbangan dari dan ke Belanda, yang artinya Schipol akan lebih sepi di akhir tahun.

Baca juga: Empat Bandara di Belanda Bersiap Manfaatkan Energi Angin

Namun, dari sekian banyak penumpang ada lima persen yang masih menggunakan penerbangan walau dengan langit yang sedang tidak bersahabat. KabarPenumpang.com melansir dari laman curbed.com (20/11/2017), diperkirakan hanya sebanyak empat juta penumpang yang bisa melakukan perjalanan dengan menghindari badai yang menyebabkan penundaan penerbangan.

Bandara Schiphol yang dibangun tahun 60-an menjadi model bandara selain Chicago O’Hare dan mampu mengakomodasi 65 juta penumpang setiap tahunnya. Menurut arsitek utamanya Han Benthem dari Benthem Crouwel Architects megawasi penambahan dan desain ulang pada tahun 80-an. Benthem mengatakan Schiphol sendiri memiliki ruang lebih sedikit yang digunakan dibandingkan bandara lainnya.

“Lalu lintas udara telah berkembang pesat dan tidak dapat diprediksi. Masa depan tidak perah tiba tapi saat ini selalu ada, Jika Anda membiarkan desainnya mengarah pada visi masa depan, akhirnya Anda akan berakhir dengan bangunan tua,” ujar Benthem.

Menurutnya, terlihat ironis jika selalu menganggap arus lalu lintas yang padat, sistem keamanan yang kedap udara dan keinginan bersaing dan maskapai membuat beberapa tempat yang paling tidak banyak dirancang. Dalam batasan ini, Schiphol berusaha memberi penumpang kekuatan untuk memberikan suara dalam pengalaman yang mereka rasakan.

Saat ini Schiphol sedang berbenah untuk menjadi yang lebih baik dan akan selesai pembangunannya pada tahun 2023 mendatang. Arsitek Kees Kaan mengatakan, Schiphol akan dibuat dalam kesederhanaan yang berbeda dan spektakuler dengan tata letak rasional yang mencirikan Schiphol.

Benthem menambahkan, bahwa keterbukaan berasaal dari desakan terhadap keseimbangan. Dimana menempatkan penumpang sejajar dengan kepentingan komersialnya.

Dengan penempatan ini, bandara Schiphol telah berevolusi untuk menjadi lebih akomodatif. “Memecahkan sesuatu untuk semua orang tidak semudah kedengaranya,” jelasnya.

Benthem menambahkan, banyak orang yang suka menganggap sebuah bandara sebagai kota, dengan desain interior yang terang dan mengkilap yang bisa terlihat lebih hebat. Tetapi jika hanya dipenuhi dengan toko dan jalan yang tidak jelas ini adalah suatu kegagalan sebuah bangunan dan bandara.

“Kami mengundang Anda untuk tujuan penerbangan yang menyenangkan dan aman. Kami melihat bandara sebagai perpanjangan dari area publik. Tentu saja prosesnya tetap sama seperti bandara lainnya. Tapi kami pikir ini lebih efisien dan menyenangkan,” Benthem mengatakan.

Menurut Jaap Wiedenhoff, seorang insinyur dan perancang dari ABT yang sedang mengerjakan terminal baru di Schipol, ini semua tentang strategu menciptakan arus. Tiga bagian pengalaman keamanan di darat, filter keamanan, dan penutup udara akan menampilkan efek siang hari yang melimpah. Dengan fokus holistik untuk mengurangi kecemasan, alih-alih hanya melemparkan barikade tambahan, transisi membantu mengurangi stres dalam perjalanan.

Baca juga: Dari Italia Sampai Ke Inggris, Berikut 10 Bandara Tersibuk di Benua Biru!

Dengan tes yang dilakukan pada pemindai baru yang memungkinkan penumpang untuk menjaga sepatu dan laptop dan cairan di tas mereka, serta tes lanjutan dengan teknologi pengenalan wajah, pengalaman pengguna jasa bisa menjadi lebih mulus.

 

Antisipasi Peningkatan Lalu Lintas Drone, Airbus A³ Hadirkan Altiscope

Munculnya gagasan tentang penggunaan moda udara nirawak alias drone di masa depan akan meminimalisir kemacetan yang terjadi di jalanan, nyatanya tidak melulu menuai respon positif. Ada banyak pihak yang enggan mendukung program tersebut, tentunya dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya. Sementara sebagian warga lainnya dengan gamblang mendukung proyek ini, bahkan tidak sedikit juga kalangan yang lantas memikirkan bagaimana pengelolaan lalu lintas udara jika drone ini benar-benar beroperasi di masa depan.

Baca Juga: Digital Air Traffic Solutions, Saatnya Menara ATC Dikendalikan Secara Remote

Ya, memang salah satu cara yang paling mudah – namun sulit – untuk mengatasi masalah kemacetan yang kian meradang ini adalah dengan cara membatasi penggunaan kendaraan pribadi dan mulai beralih menggunakan moda transportasi umum. Namun sepertinya untuk sebagian warga di berbagai belahan dunia masih terlalu gengsi untuk meninggalkan moda yang kerap kali dijadikan tolak ukur kemapanan seseorang ini.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (28/11/2017), muncullah Altiscope, sebuah simulator yang dirancang khusus untuk menangani eksistensi moda dan lalu lintas udara dalam jumlah yang besar. Altiscope sendiri merupakan sebuah program hasil besutan A³, anak perusahaan dari Airbus. Project Executive A³, Karthik Balakrishnan mengatakan bahwa eksistensi kendaraan udara di masa depan diperkirakan akan meningkat drastis, sejalan dengan rencana beberapa perusahaan yang akan membuka layanan taksi udara, seperti Uber dan Airbus sendiri.

Ia mengatakan bahwa teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAS) atau yang lebih familiar dengan sebuta drone ini memang tengah digandrungi oleh beberapa penggiat bisnis. Sebenarnya, Federal Aviation Administration (FAA) telah memperkirakan bahwa di tahun 2016 kemarin, akan ada sekitar 600.000 pesawat komersial yang beroperasi di angkasa dalam kurun waktu satu tahun. Prediksi tersebut belum diperparah dengan hadirnya drone seperti yang sudah dijabarkan di atas. Maka, tidak heran jika program Altiscope dipercaya sebagai solusi yang tepat untuk me-manage lalu lintas udara yang lebih kompleks.

“Kami bekerja untuk menganalisis bagaimana drone dapat mengudara pada skala tertentu dan bagaimana pertumbuhan penggunaan drone secara luas akan mempengaruhi ekonomi dan masyarakat,” papar Karthik. Simulator Altiscope sendiri akan mengorganisasikan cara untuk mensimulasikan kebijakan, aturan, kasus penggunaan, arsitektur sistem, dan skenario desain dengan cepat berdasarkan beberapa variabel yang berinteraksi.

“Bagaimana perencana kota yang berbeda di seluruh dunia membuat keputusan tentang infrastruktur jalan raya seperti konfigurasi jalan raya, batas kecepatan, dan peraturan persimpangan. Ini semua adalah keputusan yang bekerja secara berbeda tergantung pada konteks lokal,” jelas Karthik. “Dan hal yang sama berlaku untuk pengelolaan wilayah udara,” imbuhnya.

Baca Juga: Mengenal Serba Serbi dan Peran Air Traffic Controller

Dengan demikian, Altiscope mendekati manajemen wilayah udara dari perspektif holistik, tanpa menganjurkan untuk produk, kebijakan, atau konsep operasi tertentu. “Kami tidak memulai dengan tujuan mengaktifkan arsitektur sistem tertentu atau membuat produk atau aturan yang memecahkan satu platform atau profil misi. Sebagai gantinya, kami menciptakan sebuah kerangka pemodelan kebijakan yang dapat memungkinkan solusi Air Traffic Management (ATM) diterapkan pada berbagai bentuk atau skenario.” Tutup Karthik.

Lagi, Oknum Pengemudi Uber di India Coreng Nama Perusahaan

Tuntutan ekonomi dewasa ini memang meningkat drastis. Lonjakan harga yang terjadi di pasar memaksa semua orang untuk mengeluarkan kocek lebih banyak dari biasanya, sedangkan pendapatan yang diterima oleh pembeli  enggan untuk menanjak. Ketimpangan seperti  inilah yang akhirnya memaksa sebagian oknum untuk melakukan tindak kriminal, tidak terkecuali pengemudi moda berbasis aplikasi. Walaupun kasus yang terjadi di India ini bukan untuk dicontoh, tapi diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan para pengguna moda transportasi berbasis aplikasi.

Baca Juga: Disebut Ilegal, Layanan Uber Dicabut di Tel Aviv

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman indianexpress.com (30/11/2017), pihak Uber menerima keluhan dari seorang penumpang melalui akun Facebook dengan nama JP Muduli. Dalam postingan di laman Facebook milik Uber, Muduli menceritakan bahwa dirinya memesan taksi menuju Bandara Bangalore pada 24 November silam. Kemudian sang pengemudi menagih bayaran cash kepada Muduli, padahal ia sudah membayar perjalanan tersebut menggunakan Paytm (mobile payment).

Sang pengemudi berdalih uang cash tersebut akan digunakan untuk membayar tol, dan mengatakan bahwa transaksi via Paytm akan dikembalikan dengan cara ditransfer. Karena Muduli juga tengah terburu-buru menuju bandara untuk mengejar penerbangannya, maka Ia pun langsung memberikan uang cash sebesar Rs871 atau berkisar Rp183.000 kepada sang pengemudi dengan tujuan Muduli tidak ketinggalan penerbangannya. Walaupun sempat ragu untuk memberikan uang tunai tersebut, namun Muduli tidak punya opsi lain selain menuruti permintaan si pengemudi.

Setibanya mereka di bandara, Muduli segera meninggalkan Uber tersebut dan menyelesaikan administrasi di bandara. Namun sayang, Muduli menjadi korban penipuan modus baru yang dilakukan oleh oknum pengemudi Uber. Hingga berita di laman sumber terbit, mobile payment senilai Rs871 yang dibayarkan Muduli tersebut tidak kunjung ditransfer oleh sang pengemudi. Sontak nasib sial yang dialaminya langsung dilaporkan ke Uber melalui testimoni di laman Facebook mereka.

“Sebelum masuk gerbang tol, sang pengemudi sempat meminggirkan mobil dan menagih uang cash yang katanya untuk membayar tol. Saya sempat menolak untuk memberikan uang, namun sang pengemudi berkata bahwa tidak bisa melanjutkan perjalanan jika tidak ada uang tersebut,” tulis Muduli di laman Facebook milik Uber. “Setelah sempat bertengkar dengan si pengemudi, dan saya juga tengah dikejar waktu penerbangan yang tinggal 20 menit lagi, maka saya turuti keinginan si pengemudi tersebut,” imbuhnya.

Tidak hanya sampai di situ, kekesalan Muduli semakin memuncak manakala pihak Uber Support menolak bersikap kooperatif untuk menyelesaikan soal penipuan ini. “Mereka (Uber Support) sama sekali tidak membantu, bahkan terkesan melindungi si pelaku dengan tidak membagikan nomornya kepada saya. Yang saya harapkan adalah Uber Support dapat memberikan nomor si pelaku, nantinya biar saya yang menghadapi masalah ini sendiri,” lanjut Muduli dalam tulisan tersebut.

Baca Juga: Tekan Jumlah Kendaraan Pribadi, India Hadirkan Bus Berbasis Aplikasi

Namun, di hari yang sama setelah dirinya memposting keluhan tersebut di laman Facebook Uber, Muduli dihubungi oleh salah seorang pejabat Uber yang langsung mengembalikan saldo sebesar Rs871 melalui Paytm. Kejadian ini merupakan pukulan besar bagi Uber, bagaimana tidak, namanya sebagai salah satu penyedia jasa transportasi berbasis aplikasi tercoreng akibat ulah oknum pengemudinya. Adanya kejadian ini tentu menambah buruk catatan perjalanan Uber. Yang terakhir adalah laporan seorang wanita yang mendapati sang pengemudi melakukan masturbasi saat mengantarkannya ke bandara di Hyderabad, Kamis (19/10/2017) silam. Alhasil, sang pengemudi ditahan oleh pihak yang berwajib atas tuduhan tindak asusila.

Chapman’s Peak, Jalur Tebing Nan Indah Meski Sarat Maut

Berada di ujung selatan Benua Afrika, Chapman’s Peak Drive merupakan salah satu pilihan jalan untuk kembali ke kota Capet Town. Jalur ini memiliki panjang sembilan kilometer, jalan dengan pemandangan menakjubkan ini berada di sepanjang pantai Atlantik Afrika Selatan.

Baca juga: Pulau Christmas, Garda Terdepan Australia di Utara, Surganya Jutaan Kepiting Merah

Jika Anda naik ke atas sebuah pohon, maka yang terlihat adalah garis yang berbaris ke selatan Semenanjung Cape. KabarPenumpang.com merangkum dari laman modernghana.com, formasi dari Chapman’s Peak berbentuk kerucut jalan pedesaan di antara padang pasir yang dikelilingi pagar kayu dan dipenuhi kuda.

Saat berada di sisi barat, jalanan yang dilalui memiliki tikungan yang lebih halus dan terlihat Teluk Noordhoek terbentang. Jalur Chappies ini sendiri dibangun antara tahun 1915 hingga tahun 1922 dengan menggunakan tenaga para narapidana.

Chapman’s Peak Drive (www.modernghana.com)

Jalan yang dinamani dengan mana kapten kapal Inggris John Chapman, karena pernah mengunjungi daerah tersebut, tetapi pahlawan sesungguhnya Chapman’s Peak Drive sendiri adalah Sir Nicolas Frederick de Wall seorang administrator pertama provinsi Cape yang gigih mengejar tentang jalan raya saat para insinyur mengatakan hal tersebut tidak bisa.

Sayangnya tebing-tebing indah ini terganggu oleh batuan keras sehingga, para insinyur memilih menempatkan jalanan di tengah gunung. Dimana lapisan granit keras akan memberikan pondasi yang kokoh dan lapisan batu pasir yang lebih lembut dan mudah digali.

Tetapi, tebing batu pasir ini sering menumpahkan ‘serangan’ batuan biasa ke jalan selama 80 tahun pertama dioperasikan. Kemudian atas kejadian jatuhnya bebatuan dari tebing membuat pemerintah daerah setempat mengambil langkah untuk memperbaiki jalanan demi keamanan dan juga memaksa penutupan jalur selama cuaca buruk.

Pada Desember 1999, seorang pengendara motor diketahui tewas akibat batu yang jatuh. Chappies, sebutan untuk jalur Chapman’s Peak ini memakan waktu tujuh tahun untuk menyelesaikannya.

Tahun 2000 sampai 2003 dan tahun 2009 jalanan ditutup sementara hingga para insinyur menggunakan setiap teknologi baru yang bisa dibayangkan untuk membuat tebing tersebut aman. Karena banyaknya bebatuan yang jatuh, dibuat solusi untuk menghindari ancaman batuan yang terus menerus.

Tak jauh dari tebing tersebut, nampak Teluk Hout yang terlihat sangat berkilauan, sebab garis pantai tebing ini memberikan isyarat bagi para pengunjung untuk berhenti dan menikmati setiap sudutnya. Ini terlepas dari risiko yang dihadapi pada rute tersebut.

Baca juga: Khusus ke Pulau Jeju, Bertandang ke Korea Selatan Memang Tak Perlu Visa

Di jalan tersebut di sebuah tikungan juga terdapat seperti terowongan yang menutupi 155 meter jalur untuk menahan bebatuan yang meluncur dari tebing. Para insinyur memperindah dengan memahat sisi batu tersebut.

Waspada! Pengemudi Uber Punya Trik Baru Untuk Kelabui Penumpang

Pelanggan yang menggunakan aplikasi Uber baru-baru ini harus menelan ludah akibat ulah pengemudi yang menipu dengan trik baru. Kejadian tersebut terjadi di Bengaluru, India, dimana penumpang harus membayar dua kali saat menggunakan taksi online ini.

Baca juga: Data Penumpangnya ‘Disandera,’ Uber Didesak Untuk Segera Usut Tuntas

KabarPenumpang.com melansir dari laman timesnownews.com (4/12/2017), berita ini viral di Facebook melalui postingan dari Jp Muduli. Saat itu Muduli yang menggunakan aplikasi Uber menuju bandara diminta pengemudi untuk membayar tiket di gerbang tol dengan alasan akan membatalkan pembayaran melalui Paytm otomatis setelah selesai perjalanan.

Sebab pengemudi saat itu mengatakan sangat membutuhkan uang tunai untuk pembayaran tol. Di postingannya di Facebook Muduli menulis “Di jalan sebelum sampai gerbang tol, pengemudi menghentikan mobil di pinggir jalan dan mengatakan bahwa dia memerlukan uang tunai sebagai mode pembayaran untuk membayar tol. Dan ketika saya tidak setuju, dia mengatakan bahwa tidak bisa melangkah lebih jauh. Saat itu saya benar-benar putus asa karena saya harus mengejar penerbangan dalam 20 menit kedepan.”

Muduli menambahkan, dirinya dan si pengemudi bertengkar hingga akhirnya dia setuju membayar dengan uang tunai karena pengemudi mengatakan akan membatalkan pembayaran Paytm yang akan di transfer kembali ke rekening dirinya setelah 15 menit perjalanan selesai.

Namun Muduli yang sudah menduga sejak awal ada tindakan penipuan, benar saja, sebab di akunnya pengemudi tidak melakukan pembatalan pembayaran setelah selesai perjalanan yang berarti dirinya dikenakan biaya lebih untuk perjalanannya.

Baca juga: Disebut Ilegal, Layanan Uber Dicabut di Tel Aviv

“Setelah menyelesaikan perjalanan yang saya bayarkan dengan uang tunai Rs871 dan juga jumlah yang sama dikurangkan dari saldo Paytm. Sebelum keberangkatan pesawat saya menghubungi customer service Uber dan melaporkan masalah ini. Mereka sama sekali menolak untuk membantu dengan ini, bahkan tidak berbagi nomor kontak pengemudi sehingga saya tidak bisa menghubunginya, “tambah Muduli di posting Facebooknya. Namun akhirnya pihak Uber mengakui masalah ini dan mengembalikan uang tersebut melalui Paytm.

Lama Tak Dipikirkan, Glasgow Canangkan Travelator Sebagai Solusi Transportasi

Bandara Glasgow di Skotlandia sepertinya tengah mempersiapkan sebuah pembaruan yang dapat memanjakan para calon penumpangnya. Bandara yang letaknya cukup jauh dari pusat kota ini tengah merencanakan untuk mengadakan kereta bandara yang akan nantinya akan tersambung dengan sebuah travelator. Rencana tersebut dinilai sebagai langkah terakhir ketimbang pemerintah harus membangun sebuah bandara baru yang letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota.

Baca juga: Travelator, Wahana Transportasi Massal Yang Bebas Emisi

Dihimpun KabarPenumpang.com dari laman eveningtimes.co.uk (5/12/2017), seorang arsitek bernama Maurice Rodger mengatakan bahwa kehadiran travelator di bandara Glasgow tersebut merupakan sebuah solusi terjangkau untuk menghubungkan stasiun kereta bandara dan Bandara Glasgow itu sendiri. Ia mengklaim bahwa pengadaan travelator tersebut akan memotong biaya dari £144 juta menjadi hanya £10 juta.

Maurice yang bekerja untuk ID> A Design telah menyusun rencana kasar untuk membuat stasiun kereta baru yang menghubungkan Bandara Glasgow dengan Wemyss Bay di dekat perumahan keluarga Ferguslie Park di Paisley. Dalam rencana tersebut, Maurice akan menghubungkan stasiun dengan terminal di Bandara Glasgow dengan travelator, dimana ia meyakini bahwa penumpang hanya membutuhkan delapan menit untuk sampai di terminal.

Usulan Maurice ini mulai muncul tatkala rencana pembangunan kereta bandara menuai kritik dari berbagai pihak yang menilai bahwa keberadannya hanya akan memperlambat layanan yang ada. Namun Dewan Kota Glasgow, Susan Aitken mengatakan bahwa rencana jalur kereta yang diusulkan tersebut masih berada di ‘jalur’ yang benar. “Kami akan meninjau ulang pembangunan stasiun tersebut,” paparnya.

Hingga saat ini, Glasgow Prestwick adalah satu-satunya bandara di Skotlandia yang menyediakan fasilitas kereta bandara yang dapat diakses melalui travelator dari dan ke bandara. Rencana pengadaan stasiun dengan travelator yang panjangnya kurang dari setengah jalur trem tersebut diyakini dapat selesai dalam waktu dua tahun. “Ini merupakan gagasan yang sangat sederhana. Saya heran tidak ada yang memikirkannya, “ucap lelaki berusia 71 tahun tersebut.

Baca Juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda

Namun, tetap saja rencana yang bisa dibilang sederhana ini menuai banyak pro dan kontra, mulai dari keberadaan lahan, hingga faktor ekonomi yang melatarbelakangi protes tersebut. “Harus ada tim konsultan untuk melihat ke dalamnya. Bercermin pada Bandara Glasgow Prestwick, saya pikir ini adalah ide ekonomi yang sangat sederhana,” tegas Maurice. Untuk masalah lahan, Maurice mengklaim bahwa sebagian besar lahan yang dibutuhkan sudah dimiliki oleh bandara, Network Rail dan Glasgow City Council.

Sulit Tidur Selama Perjalanan? Trtl Pillow Bisa Jadi Solusinya!

Ada banyak cara yang dilakukan oleh penumpang untuk menghabiskan waktu perjalanan antar negara dengan menggunakan pesawat. Ada yang memilih untuk menikmati pemandangan di luar, ada yang memilih untuk bermain games, hingga tidur selama perjalanan. Ya, memang tidak semua orang dapat dengan mudah untuk tidur selama perjalanan. Beberapa dari mereka mungkin ada yang ketakutan moda yang mereka tumpangi akan mengalami kecelakaan saat mereka terlelap, namun sebagian lainnya memilih untuk tetap memejamkan mata dan tertidur.

Baca Juga: Ini Yang Harus Dilakukan Kala Sakit Punggung Mendera di Perjalanan Jarak Jauh

Tentu saja, tidak ada masalah bagi mereka yang tidak mengalami kesulitan untuk tidur selama perjalanan, namun bagaimana dengan mereka yang mengalami kesulitan tidur? Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman news.com.au (17/11/2017), ada beberapa tempat duduk yang nyaman dan dapat menunjang Anda untuk beristirahat selama perjalanan. Presiden Chiropractors Association of Australia, Andrew Lawrence mengatakan bahwa posisi yang paling kondusif untuk beristirahat adalah dengan mengganjal tulang belakang Anda dengan bantal.

“Sedikit berbaring dengan bantal di dasar tulang belakang dapat membantu mempertahankan kurva lumbar dan mengurangi tekanan pada persimpangan punggung bawah dan panggul,” ungkap Andrew. “Posisi terbaik untuk berbaring adalah sekitar setengah perjalanan,” tandasnya. Andrew mengatakan bahwa tidak melulu setiap bantal yang diberikan selama perjalanan dapat membantu Anda untuk tertidur.

“Dan yang terbaik adalah bantal penopang leher yang membantu menjaga kepala tetap tegak dan tidak menimbulkan tekanan yang tidak semestinya pada leher,” tutur Andrew. Dari sini, bisa disimpulkan bahwa letak kenyamanan seseorang untuk beristirahat selama perjalanan bukanlah semata-mata dari empuknya bangku atau kelas mana yang Anda pilih, tapi lebih kepada treatment yang Anda lakukan selama perjalanan, seperti penggunaan bantal yang sudah dijabarkan di atas.

Berangkat dari banyaknya kasus penumpang yang tidak bisa beristirahat selama perjalanan, beberapa ahli mencoba untuk menemukan solusi untuk masalah tersebut. Lahirlah Trtl Pillow, sebuah bantal yang dirancang sejak tujuh tahun terakhir yang dikhususkan untuk menunjang seseorang beristirahat di jalan. Bantal yang terbuat dari kain fleecy ini diyakini dapat memberikan kenyamanan lebih pada para penggunanya. “Trtl Pillow sangatlah istimewa, karena dapat menjaga kepala dan leher dalam posisi ergonomis yang lebih baik daripada bantal berbentuk U yang standar,” kata direktur teknis Trtl Pillow, David Kellock.

Baca Juga: 6 Tips Ampuh Menahan BAB Saat Perjalanan Jauh

“Trtl Pillow dirancang untuk memungkinkan Anda bersantai sepenuhnya, sehingga Anda bisa tidur berjam-jam di moda transportasi apapun. Dengan design yang unik, Trtl Pillow memungkinkan untuk menyangga leher Anda dalam kondisi apapun,” tandasnya.

Jika diperhatikan, Trtl Pillow memang berbeda dengan neck pillow kebanyakan. Bentuknya yang menyerupai syal yang berisikan komponen untuk menyangga leher Anda, pihak Trtl Pillow memastikan bahwa penggunaannya akan merasa nyaman dan menunjang untuk beristirahat. Jika Anda tertarik untuk memilikinya, Anda bisa membeli Trtl Pillow ini via online dengan harga yang tidak akan melubangi dompet Anda.

Tiga Kota Ini Jadi Benchmark PT MRT Jakarta Untuk Pengembangan Jaringan Bawah Tanah

Sebagai pelopor layanan kereta bawah tanah di Indonesia, Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta yang akan mulai beroperasi pada Maret 2019 mendatang masih terus melakukan studi banding dengan negara lain yang telah eksis memiliki jaringan kereta bawah tanah. Hal ini dilakukan PT MRT Jakarta demi memberikan yang terbaik bagi masyarakat dalam mendukung sistem transportasi massal di Jakarta masa depan.

Baca juga: Dengan Regulasi Terpadu, MRT Jakarta Mampu Kurangi Subsidi Pemerintah

Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar mengatakan, ada tiga kota yang menjadi studi banding, yakni London, Hong Kong dan Shanghai. Ketiga kota ini memiliki jaringan kereta bawah tanah yang cukup sukses, baik itu sistem maupun pemanfaatan ruang bawah tanahnya.

Seperti di London yang membuka layanan kereta bawah tanahnya sejak 1863, pengembangan ruang bawah tanahnya mengacu pada kerangka pembangunanan lokal untuk memberikan strategi perencanaan tata ruang di kawasan Kensington dan Chelsea. Di London jenis pengembangan area bawah tanah selain terowongan, juga mencakup untuk transportasi dan jaringan utilitas, ada pula pengembangan komersial seperti kantor, ritel hingga area parkir bawah tanah.

Workshop Underground Government Study PT MRT Jakarata (KabarPenumpang.com)

Di London juga ruang bawah tanahnya dibuat dengan ornamen yang kental dengan kebudayaan, serta integrasi dengan perumahan, apartemen, taman dan ruang terbuka. “Dewan daerah mereka telah mengeluarkan dokumen perencanaan pengembangan bawah tanah dalam pembahasan mereka seperti fungsi, kenyamanan, keselamatan, antisipasi banjir, keberlanjutan lingkungan, gangguan hingga desain yang kesemunya telah diatur daalm payung regulasi,” ujar William yang ditemui KabarPenumpang.com di Balai Kota (6/12/2017) saat acara workshop PT MRT.

Sementara Hong Kong yang memanfaatkan ruang bawah tanahnya untuk MRT tak luput dari kajian PT MRT Jakarta. Sebab, jaringan pedestrian yang dimiliki Hong Kong sangat signifikan yakni jarigan stasiun Central Hong Kong dan stasiun Tsim Sha Tsui-Tsim Shui Tsui Timur dimana koneksi dibuat diantara stasiun untuk memfasilitasi pergantian moda dan meningkatkan konektivitas dengan bangunan sekitarnya.

Dua jarigan bawah tanah di Hong Kong ini memiliki arus pejalan kaki yang diketahui cukup tinggi dengan rata-rata perharinya mencapai 120 ribu orang di stasiun Central-Hong Kong dan 170 ribu orang di stasiun Tsim Sha Tsui-Tsim Shui Tsui Timur. William mengatakan, dalam pembangunan bawah tanahnya, Hong Kong memiliki prinsip prioritas yakni pusat kota dibangun dengan sejumlah terowongan yang ada untuk pengembangan ruang bawah tanah.

“Zona terbuka dan zona jalur hijau lebih disarankan untuk pembangunan ruang bawah tanah di masa depan untuk menghindari perubahan guna atau akuisisi lahan. Menggabungkan kriteria geologi dan lingkungan untuk menidentifikasi plot lahan konstruksi terowongan serta kepemilikikan tanah menentukan dan memepelajari lebih rinci tanah pemerintah yang diprioritaskan saat ini sampai hak strata dan kriteria kedalaman dan untuk fasilitas Not In MyBack Yard,” jelas William.

William menambahkan, untuk kota Shanghai sendiri, adalah kota terpadat di Cina yang mengalami kekurangan ruang kota. Apalagi dengan ruang bawah tanahnya lebih banyak bebatuan dan membuat pembangunannya terbilang ekspansif meskipun dengan banyak kendala.

Saat ini meskipun dalam pembangunannya banyak mengalami kendala, stasiun subway Peolple’s Square merupakan stasiun subway tersibuk di Cina dengan tiga jalur subway dan bus interchange. Ketiga kota ini memiliki kesibukannya masing-masing dengan standar pemanfaatan ruang bawah tanahnya. Jakarta yang sebentar lagi akan memiliki kereta bawah tanah, memiliki standar sendiri setelah membandingkan dengan ketiga kota tersebut.

“Kami akan menyediakan jalur pejalan kaki yang aman, nyaman dan mudah. Menciptakan dan menghubungkan berbagi ruang publik didalam serta sekitar jaringan pedestrian. Selain itu juga menyediakan jaringan komperhensif dan rute yang mudah diakses seluruh warga,” ujar William.

Baca juga: PT MRT Jakarta: Dibutuhkan Tiga Payung Hukum Untuk Pengembangan Ruang Bawah Tanah MRT

Dia menambahkan, MRT Jakarta menyedakan pintu masuk yang dapat diakses oleh publik dan mudah diidentifikasi ke jalur pejalan kaki yang berada diluar jalan namun terintegrasi dengan bangunan hingga menuju area publik.