Tingkatkan Efisiensi Penerbangan, Airnav Perkenalkan Aplikasi Oasis

ilustrasi.

Airnav selaku penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan di Indonesia membuat terobosan baru dengan memperkenalkan layanan berupa aplikasi yang digadang dapat meningkatkan efisiensi serta monitoring bagi para maskapai komersial di Tanah Air. Dalam acara INACA Annual General Meeting 2017 di Hotel Borobudur, Jakarta (26/10), Airnav secara resmi memperkenalkan “Oasis” – Online Airnav Services Information System.

Baca juga: Frekuensi Melonjak, ATC Bandara Soekarno-Hatta Peringatkan Risiko Keselamatan Penerbangan

Aplikasi yang disebut-sebut free of charge untuk para maskapai anggota INACA ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi di industri penerbangan. “Lewat aplikasi yang bersifat realtime, para maskapai pengguna Oasis nantinya dapat meningkatkan efisiensi bahan bakar, on time performance, peningkatan proses bisnis internal lewat otomatisasi data, dan implementasi host to host,” ujar Kristanto, Kepala Divisi Perencanaan dan Strategi Keuangan Airnav dalam presentasinya.

Kristanto menambahkan, dengan Oasis para maskapai juga bisa mendapatkan berbagai data penerbangan dengan lebih akurat dan cepat. Karena berjalan by system, Oasis juga mampu meminimalisir kesalahan informasi. Sementara dari aspek keuangan, Oasis dapat mengurangi ‘holding’ maskapai di udara dan di darat. Untuk melengkapi informasi, fitur lain yang disematkan pada Oasis adalah NOTAM (Notice to Airmen) yang diterbitkan di seluruh dunia.

Pihak maskapai pengguna Oasis nantinya akan mengakses aplikasi ini lewat dashboard di website, dimana termasuk dalam fitur Oasis adalah peta rute penerbangan realtime. Kristanto menyebut bahwa tampilan peta di Oasis memang mirip yang ada di aplikasi AirNav RadarBox. Airnav sendiri untuk aplikasi Oasis mengadopsi teknologi Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B).

Baca juga: Digital Air Traffic Solutions, Saatnya Menara ATC Dikendalikan Secara Remote

ADS-B adalah teknologi yang dapat menentukan posisi pesawat serta navigasinya melalui gelombang radio dan sebuah satelit. Teknologi yang digunakan sebagai radar sekunder ini memungkinkan sebuah pesawat dapat dilacak keberadaannya oleh stasiun kontrol di darat serta pesawat lain untuk menghindari terjadinya tabrakan pada sebuah jalur.