Alihkan Jalur Utara Jawa yang Padat, AirNav Siap Benahi Navigasi di Tiga Bandara di Selatan Jawa

Sebagai moda yang sangat mengandalkan sistem navigasi yang saling terintegrasi satu sama lain, Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau AirNav Indonesia akan membenahi beberapa infrastuktur bandara yang ada di Pulau Jawa. Selain untuk meningkatkan pelayanan dan keselamatan, tujuan lain dari pembenahan sistem navigasi ini adalah dalam rangka memaksimalkan rute penerbangan via Jawa bagian Selatan.

Baca Juga: Tingkatkan Efisiensi Penerbangan, Airnav Perkenalkan Aplikasi Oasis

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman detik.com (28/1/2018), Novie Riyanto selaku Dirut AirNav Indonesia mengatakan ada tiga bandara yang menjadi sasaran utama program pembenahan sistem navigasi ini, yaitu Bandara Wiriadinata di Tasikmalaya, Bandara Wirasaba di Purbalingga, dan New Yogyakarta International Airport di Kulonprogo.

“Di Bandara Kulonprogo, kami telah mengalokasikan dana senilai Rp79,6 miliar untuk investasi pembangunan Tower beserta peralatan fasilitas pendukungnya,” ungkap Novie dalam sebuah keterangan tertulis.

Untuk Bandara Wiriadinata, Novie mengatakan akan merenovasi tower dan memperbaiki sistem navigasinya, sedangkan untuk Bandara Wirisaba akan dikembangkan lebih lanjut, dimana TNI AU, Pemda, pengelola bandara akan terlibat di dalamnya. Rencananya, bandara yang terletak di Purbalingga ini akan mulai beroperasi pada Desember 2019 mendatang.

Dibukanya rute penerbangan via Selatan Jawa (Tango One) pada Oktober 2017 silam dinilai Novie sebagai salah satu langkah strategis yang dilakukan AirNav Indonesia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di bibir selatan Jawa. Menurutnya, ini merupakan rute penerbangan domestik pertama yang berbasis Performance Based Navigation (PBN). Selain itu, padatnya rute Utara Jawa menjadi faktor pendukung lainnya di balik pembukaan rute Tango One ini.

“Selama ini, rute berbasis PBN baru mencakup rute internasional saja. Dengan menggunakan satelit sebagai basis utama navigasi, pengaturan lalu lintas penerbangan akan menjadi lebih presisi dan akurat,” jelas Novie.

Baca Juga: NATS Paparkan Beragam Cara Untuk Maksimalkan Efisiensi Bandara

“Rute penerbangan W45, yakni rute yang melayani penerbangan di sepanjang bagian utara pulau Jawa, seperti jalur penerbangan Jakarta-Surabaya-Bali misalnya yang dilayani melalui rute ini, menjadi rute yang sangat padat (kurang lebih 4.000 penerbangan per bulan),” imbuhnya.

Dikutip dari sumber lain, Novie juga menyebutkan bahwa pembenahan sistem navigasi ini merupakan salah satu langkah yang ditempuh AirNav untuk mewujudkan upaya pemerintah dalam menghadirkan tol udara. “Program Airnav, Pulau Jawa ke depan kita buat semacam tol udara,” tuturnya singkat.

Apresiasi Petani Kopi, PT KAI Bagi-Bagi Kopi Gratis!

Tren ngopi belakangan ini memang sedang digandrungi oleh banyak kalangan. Salah satu tolak ukurnya adalah menjamurnya kedai-kedai kopi di hampir seluruh pelosok negeri. Tidak bisa dipungkiri, mulai dari yang muda sampai yang tua seperti sudah menjadikan kopi sebagai salah atu kebutuhan primer mereka.

Baca Juga: 17 Agustusan, PT KAI Gratiskan Tarif Semua Kereta Komuter di Jawa dan Sumatera

Nah, seolah tidak mau ketinggalan tren, PT KAI yang bekerja sama dengan Komunitas Kopi dan PT Reska Multi Usaha (anak perusahaan PT KAI) menggelar sebuah perhelatan yang bertajuk Enjoy Your Journey With Indonesian Coffee.

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, acara ngopi bareng yang serentak diadakan di 13 stasiun di Jawa ini berlangsung selama dua hari berturut-turut, 30-31 Januari 2018. Menurut Manajer Humas PT KAI Daop 5 Purwokerto, Ixfan Hendriwintoko, acara yang diresmikan langsung oleh Dirut PT KAI Edi Sukmoro ini merupakan bentuk apresiasi PT KAI terhadap ribuan petani kopi Indonesia.

“Kegiatan ini kami gelar sebagai salah satu bentuk dukungan PT KAI terhadap para petani kopi Indonesia, sekaligus memperkenalkan bahwa Indonesia kaya dan memiliki berbagai macam varietas kopi dari masing-masing daerah,” jelas Ixfan, dikutip dari laman republika.co.id (30/1/2018).

Dalam acara ini, para calon penumpang, masyarakat, pengunjung stasiun, hingga penumpang yang ada di dalam gerbong akan mendapatkan segelas kopi secara cuma-cuma. Dalam menggelar acara ngopi bareng ini, PT KAI tidak tanggung-tanggung mendatangkan sekitar 200 barista lokal yang siap meracik lebih dari 20 jenis kopi, mulai dari Aceh Gayo, Sidikalang Arabika, Lampung Robusta, Poso Robusta, hingga Wamena Arabika.

Para peserta acara Enjoy Your Journey With Indonesian Coffee ini juga dapat memilih kopi yang mereka inginkan sesuai selera masing-masing. “Bisa request (jenis kopinya), selama persediaan masih ada,” ungkap Kepala Humas PT KAI, Agus Komarudin, dikutip dari sumber terpisah. “Untuk ikut memeriahkan acara ini, syaratnya penumpang atau calon penumpang (download) menujukkan aplikasi KAI Access terbaru yang sudah teregistrasi,” lanjut Agus.

Adapun ke-13 stasiun yang turut berpartisipasi dalam acara ini adalah Stasiun Gambir, Pasar Senen, Bandung, Cirebon, Semarang Tawang, Tegal, Purwokerto, Tugu Yogyakarta, Solo Balapan, Surabaya Pasarturi, Surabaya Gubeng, Malang, dan Jember.

Baca Juga: Tiru Kehigienisan Reska, PT ASDP Coba Peruntungan Tawarkan PopSo di Kapal Ferry

Untuk keretanya, berikut adalah list kereta yang bisa menikmati acara ngopi bareng ini:

Bima (Malang-Gambir)
Gajayana (malang-gambirSembrani (Surabaya Pasar Turi-Gambir)
Jayakarta premium (Surabaya Gubeng-Pasar Senen)
Gumarang (Pasar Senen-Surabaya Pasar Turi)
Argo Wilis (Surabaya Gubeng-Bandung)
Mutiara Selatan (Malang-Bandung)
Lodaya pagi (Solo Balapan-Bandung)
Harina (Surabaya Pasar Turi-Bandung)
Sancaka Pagi (Surabaya Gubeng-Tugu)
Fajar (Pasar Senen-Tugu)
Malioboro Ekspres (Malang-Tugu)
Wijaya Kusuma (Cilacap-Solo Balapan)
Argo Muria (Gambir-Semarang Tawang)
Ciremai (Bandung-Semarang Tawang)
Bangunkarta (Gambir-Surabaya Gubeng)
Turangga (Bandung-Surabaya Gubeng)
Gumarang (Pasar Senen-Surabaya Pasar Turi)
Jayabaya (Pasar Senen-Malang)
Gajayana (Gambir-Malang)
Bima (Gambir-Malang)
Majapahit (Pasar Senen-Malang), dan
Ranggajati (Cirebon-Jember)

Upayakan SDM dan Manajemen Kelas Dunia, PT MRT Jakarta Rangkul MTR Academy Hong Kong

Mengingat waktu peluncuran layanan Mass Rapid Transit (MRT) di Ibukota yang semakin dekat, PT MRT Jakarta selaku kontraktor layanan ini merangkul MTR Academy Hong Kong guna mengembangkan kapasitas SDM. Penandatanganan perjanjian kerja sama yang dilakukan oleh kedua belah pihak di Balai Agung Pemprov DKI Jakarta, Kamis (1/2/2018) ini, turut pula dihadiri oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno.

Baca Juga: PT MRT Jakarta Gaet Tower Bersama Group Untuk Gelar Coverage Seluler dan WiFi

Sebagaimana pantauan KabarPenumpang.com di lapangan, selain untuk meneken Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT MRT Jakarta, pimpinan MTR Academy Hong Kong, Mr Morris Cheung juga akan meninjau secara langsung potensi edukasi juga mengadakan sosialisasi terhadap sejumlah pihak terkait selama berada di Jakarta.

Dalam acara yang bertajuk “Realizing Integrated Urban Transportation System: a Lesson from Hong Kong towards The Inception of MRT Jakarta Transport Academy” ini, Dirut PT MRTJ, William P Sabandar tidak lupa menyampaikan perkembangan terakhir dari konstruksi yang tengah pihaknya tunggangi ini. “Overall, Construction Progress hingga saat ini sudah mencapai angka 90,96 persen, struktur bawah tanah telah selesai 95,59 persen, sementara struktur layang telah mencapai 86,36 persen,” tutur William dalam sambutannya.

William melanjutkan, selain menjadikan MTR Hong Kong sebagai salah satu Benchmark-nya, PT MRT Jakarta juga memuji pencapaian yang telah dicapai oleh MTR Hong Kong. “Dengan melayani sekitar 5,5 juta penumpang setiap harinya, On Time Performance MTR Hong Kong mencapai 99,99%,” ungkap William. “Salah satu keunggulan MTR Hong Kong adalah tingkat keselamatannya yang tinggi,” tambahnya.

Adapun tujuan PT MRT Jakarta merangkul MTR Hong Kong adalah untuk saling bertukar pengalaman. “MTR Hong Kong sudah sekitar 40 tahun beroperasi, dan menjadi salah satu penyedia layanan MRT yang berpengalaman di dunia,” cetus William. “Selain itu, kami juga ingin mendalami soal pengelolaan managemen,” tambahnya.

Baca Juga: Kursi Penumpang MRT Jakarta Berbahan Plastik, Upps Jangan Kecewa Dulu!

William juga menambahkan bahwa pihaknya kini tengah menjalin kerja sama dengan pemerintah provinsi untuk belajar bagaimana menerapkan aspek keselamatan yang ada di Hong Kong dan diaplikasikan di Jakarta.

Sandiaga Uno yang turut hadir dalam acara ini pun mendukung penuh kerja sama yang dilakukan oleh kedua belah pihak. “Semoga PT MRT Jakarta bisa menjalin kerja sama yang baik dengan pihak MTR Hong Kong, safety first,” ujar Sandiaga. “Kita ingin MRT Jakarta tidak hanya punya infrastruktur kelas dunia, tapi juga SDM-nya juga harus kelas dunia,” imbuhnya.

Papua Barat Rencanakan Bangun Bandara Besar di Misool, Raja Ampat

Raja Ampat kini menjadi destinasi wisata yang paling banyak ingin dikunjungi para wisatawan. Keindahan Papua bisa tampak dari tempat wisata yang satu ini. Kalau Anda pecinta pantai dan laut, maka Raja Ampat adalah pilihan yang tepat. Karena banyak kunjungan pelancong, maka harus ada jalur transportasi yang memadai. Dan belum lama ini ada kabar bahwa akan dibangun bandara baru di Raja Ampat.

Baca juga: Kisah Stasiun Pulau Air, Saksi Bisu Kebangkitan Perkeretaapian di Sumatera Barat

Sebenarnya di Raja Ampat sendiri sudah ada bandara yakni bandara Marinda, tetapi bandara ini hanya mampu menampung pesawat berbadan kecil. Untuk menemani bandara Marinda Pemerintah akan membangun bandara baru di Misool. Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengatakan, pemerintah daerah setempat sudah mulai proses pematangan lahan di kawasan Misool tersebut. Misool adalah pulau terbesar di antara empat pulau utama di kawasan Raja Ampat. Misool punya kota utama Waigama dengan luas 2.034 km²

“Terkait Raja ampat, bandara Marinda di Waisai sulit untuk dikembangkan. Bisa, tapi membutuhkan anggaran besar karena tidak mungkin memangkas gunung di dekat Marinda,” kata Dominggus.

Meski bandara baru di Misool dibangun, bandara Marinda akan tetap beroperasi melayani pesawat berbadan kecil, sedangkan pesawat berbadan besar akan diarahkan ke Misool. Dominggus mengatakan, Pemerintah Kabupaten Raja Ampat sudah memulai pematangan lahan seluas tiga ribu meter persegi.

Tak hanya itu, penambahan untuk lahan seluas seribu meter persegi pun sudah siap dilakukan. Dia menjelaskan, adanya pembangunan bandara besar di Raja Ampat dilakukan untuk mendukung program pariwisata di daerah tersebut. Dominggus berharap jumlah pengunjung ke Raja Ampat terus meningkat.

“Ke depan, kami berharap ada penerbangan langsung dari Jakarta, Manado, Bali, atau Batam ke Raja Ampat. Kemudahan akses ini tentu bisa menyedot kehadiran turis,” ujarnya.

Diketahui pada pekan lalu, Dominggus dan sejumlah Bupati bertemu dengan Menteri perhubungan di Jakarta untuk membahas pengembangan empat bandara yakni Raja Ampat, Manokwari, Fakfak dan Manokwari Selatan. Terkait dengan rencana pengembangan sejumlah bandara ini Kemenhub akan mengutus tim ke daerah.

Baca juga: Pulau Miangas, Garda Terdepan Yang Eksotis di Utara Indonesia

Nantinya pihak kemenhub ini akan melakukan kajian kelayakan lahan dan hal yang terkait dengan keselamatan penerbangan. “Banyak yang sudah kami bahas bersama Menteri Perhubungan. Pelan-pelan kami bangun infrastruktur perhubungan di Raja Ampat dan Papua Barat. Sejauh ini koordinasi daerah dan pusat berjalan baik,” kata Dominggus.

Demi Pembangunan Terminal 5, Bandara Changi Kutip Pajak Hingga S$15 Per Penumpang

Pelancong yang akan keluar dari Changi akan dikenakan biaya tambahan sekitar S$10 dan S$15. Biaya ini menjadi bagian baru untuk membantu pembangunan Terminal 5 di bandara Changi. Bahkan pelancong yang transit di bandara ini juga akan dikenakan pajak setengah dari yang dibayarkan oleh penumpang berangkat langsung dari Changi yakni sebesar S$6 untuk transit.

Baca juga: Dalam Jumlah Pergerakan Penumpang, Bandara Soekarno-Hatta Unggul Tipis dari Changi

KabarPenumpang.com melansir dari laman straitstimes.com (21/1/2018), pajak baru ini dikenakan mulai akhir tahun 2017 kemarin diperkirakan berada di atas biaya keberangkatan S$34 yang mencakup biaya layanan penumpang, pajak keamanan dan pungutan yang dikumpulkan oleh Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS). Pajak baru tersebut untuk membayar berbagai hal di Changi East, salah satunya membantu memperkuat status hub udara Singapura dari pembangunan terminal penumpang di Mega Terminal 5 yang akan dibuka tahun 2030 mendatang dan landasan pacu ketiga.

Tak hanya itu, pajak tersebut juga digunakan untuk memperbaiki tanah dilokasi lebih dari seribu hektar dan pembangunan saluran air serta terowongan besar. Biaya untuk penerbangan termasuk parkir dan pendaratan pesawat diperkirakan meningkat 30 persen.

Untungnya penumpang tidak menanggung semua beban ini. Sebab Kementerian Perhubungan Singapura mengatakan akan menanggung sebagian besar dari total biaya untuk proyek Changi East. Sampai saat ini, untuk total biaya anggaran pembangunan Changi East sendiri tidak jelas berapa besar.

Terminal 5 sendiri akan menangani 70 juta penumpang pertahunnya. Nantinya jumlah ini akan lebih tinggi jika digabung dengan Terminal 1, 2 dan 3 saat selesai. Landasan ketiga yang juga dalam pembangunan sudah bisa beroperasi di awal tahun 2020-an.

Seorang konsultan bisnis Brendan Choi yang melakukan perjalanan beberapa kali dalam setahun untuk bekerja mengatakan memahami kebutuhan ekspansi tersebut. Tetapi dia ragu harus membayar pajak sekarang untuk pembangunan yang akan selesai dalam satu dekade kemudian. “Mengapa membuat saya membayar sesuatu yang mungkin atau tidak saya gunakan di masa depan?” Katanya.

Pihak IATA (International Air Transport Association) telah mengatakan berulang kali bahwa hal itu tidak mendukung pra pendanaan, di mana perusahaan penerbangan harus membayar layanan dan fasilitas yang saat ini tidak mereka gunakan.

Baca juga: Layanan MRT di Bandara Changi Ditutup! Apa Penyebabnya?

Mr Michael Valkevich, wakil presiden Asia Pasifik untuk penjualan global dan manajemen program di Carlson Wagonlit Travel, mengatakan kenaikan biaya untuk penumpang dapat menimbulkan kekhawatiran tentang daya saing Changi sebagai hub internasional.

 

Jalur Mau Dihidupkan, Stasiun Demak Justru Sudah Menjadi Kafe

Sudah banyak stasiun baik dalam maupun luar negeri yang beralih fungsi menjadi berbeda dari fungsi aslinya. Di Jepang stasiun menjadi rumah makan, di kota Bantul menjadi warung dan kini di Demak, menjadi sebuah kafe. Selain berubah menjadi kafe, nama stasiun ini dari bagian depan telah berubah menjadi stasiun Angkasa, bukan lagi stasiun Demak. Namun, jika dilihat dari bagian belakang stasiun ini masih jelas terlihat tulisan Demak.

Baca juga: Tak Lagi Beroperasi, Stasiun Lama di Yogya Berubah Jadi Bengkel Hingga Warung Makan

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber dan menemukan fakta bahwa stasiun non aktif yang berada di kawasan Bintoro, Demak ini dulunya merupakan stasiun kereta api besar yang melayani kereta api lokal antarkota. Stasiun ini dibangun tahun 1885 oleh pemerintahan Hindia Belanda dan dikelola oleh perusahaan swasta Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij.

Bagian depan stasiun Demak Jaman dulu

Pada masa kemerdekaan tahun 1945 semua aset kereta api miliki Hindia Belanda kemudian diambil alih oleh Indonesia. Tetapi jalur dan stasiun ini ditutup pada tahun 1980-an karena saat itu rel kereta berada di pinggir jalan.

Stasiun ini dulunya terdapat percabangan menuju Blora yang melalui Purwodadi dan Wirosari. Namun, kini stasiun Demak hanyalah sebuah bangunan tua dan usang serta ditempati oleh warga sekitar baik untuk tempat tinggal maupun usaha salah satunya adalah kafe.

Kafe tersebut menggunakan bagian depan bangunan stasiun dan didepannya dibangun pagar yang berupa candi-candi sehingga terlihat seperti Pura dari kejauhan. Tetapi bagian belakang stasiun ini justru tak terawat bahkan ditumbuhi ilalang.

Sebelum menjadi sebuah kafe, stasiun ini sempat menjadi kantor DLLAJ dan menjadi gudang garam. Tampak terlihat kerapuhan bangunan tersebut karena terkena garam dan usia bangunan yang terbilang tua.

Baca juga: Dulunya Stasiun Kini Jadi Restoran Ramen

Di bagian depan stasiun ini berganti nama menjadi stasiun Angkasa yang tertera di bagian atas bangunan. Depan kafe tersebut juga masih terlihat rel kereta api yang digunakan pada jalur tersebut ketika beroperasi.

Stasiun Demak setelah berubahn menjadi kafe

Tak hanya itu bekas loket kereta dan beberapa peninggalan sisa-sisa stasiun masih terlihat di kafe tersebut. Dari kabar yang tersiar, stasiun Demak yang kini menjadi kafe tersebut akan kembali dihidupkan untuk jalur kereta api Demak-Pati-Rembang. Kereta ini merupakan jalur kereta Pantura dari Demak, Kudus, Pati dan Purwodadi. Namun, hingga kini setelah tinjauan Dirut KAI Edi Sukmoro pada Maret 2015 lalu belum ada progres tentang pembukaan kembali jalur kereta Pantura tersebut.

Tanpa Tarif Batas Jadi Senjata Ompreng.com Menangkan Pasar Ride-Sharing

Walaupun namanya erat dengan segala sesuatu yang berkonotasi kurang baik, namun hal tersebut tidak menyurutkan Ary Setiyono untuk membangun Omprengan.com, sebuah platform ride-sharing berbasis aplikasi yang siap bersaing dengan raksasa lain di bidangnya, seperti GoJek, Grab, dan Uber. Terinspirasi dari beragamnya transportasi alternatif selama ia mengenyam bangku pendidikan di Jerman, hadirnya Ompreng.com diharapkan dapat menawarkan solusi untuk mengatasi masalah kemacetan di Ibukota dan kota-kota lain di Indonesia.

Baca Juga: Ride-Sharing, Upaya Uber Untuk Lebih Mengerti “Perasaan” Pengguna

Dikutip KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, startup yang berdiri pada 3 Oktober 2015 ini memiliki layanan utama dengan nama O-Shuttle, dimana layanan ini secara langsung bersaing dengan omprengan konvensional. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), omprengan sendiri memiliki kendaraan pribadi yang ditambangkan untuk mencari penghasilan tambahan. Mungkin sebagian orang lebih akrab dengan sebutan ‘angkot gelap’.

“Omprengan gelap, mobil pribadi yang menjadi antar jemput, yang mengharuskan penumpang untuk membayar setiap perjalanan, itu kompetitor kita. Mereka masih konvensional,” tutur Ary, dikutip dari laman id.techinasia.com. Alumnus University of Malaya ini juga menurutkan, kehadiran Ompreng.com diharapkan dapat menekan jumlah kendaraan yang melintas di jalanan.

Ary Setiyono. Sumber: istimewa

Mengingat pesaingnya yang sudah lebih banyak menelan asam garam di jalanan, Ary tidak kehilangan akal. Ia lalu menggandeng TRAC-Astra Rent a Car, perusahaan penyedia layanan sewa mobil milik Astra International, untuk memastikan para pelanggannya bahwa jasa yang Ary tawakan sudah memenuhi izin opersional resmi.

“Kita sediakan armada yang bagus. Kerja sama dengan rental mobil terkenal seperti TRAC-Astra, dan yang paling penting ada izin pelat kuning. Itu value kita,” terangnya.

Walaupun Ompreng.com menggandeng merk dagang ternama seperti Astra, Ary tetap memberlakukan harga yang bersahabat dengan penumpang dan juga bersaing dengan jasa omprengan konvensional. “Harganya sekitar Rp25.000 per trip, kalau langganan Rp22.500,” ungkap Ary.

Untuk membedakan diri dengan penyedia jasa serupa, Ary mengaku bahwa Ompreng.com tidak sama dengan layanan transportasi berbasis aplikasi lain yang telah memiliki peraturan mengenai tarif batas atas dan bawahnya. “Karena kita bukan on-demand. Kita lebih pada schedule service. Rute perjalanan sudah diumumkan di depan. Jadi enggak kena tarif batas atas dan bawah,” cetus sang founder. Jadi tidak heran jika selama ini Ary bersama dua rekannya yang juga memiliki andil dalam Ompreng.com masih menyuntikkan dana setiap bulannya.

Baca Juga: Baraya Travel, Dipilih Karena Tak Buat Dompet Merintih

Tidak hanya menyediakan layanan O-Shuttle, Ompreng.com juga menyediakan layanan lain seperti O-Car dan O-Bike, dimana layanan ini hampir serupa dengan fitur Grab Hitch. Sama seperti O-Shuttle, Ary juga tidak memberlakukan tarif batas bawah dan atas terhadap dua fitur di layanan Ompreng.com ini. “O-Car, O-Bike belum ada monetisasi. Itu seperti marketplace saja,” jelas Ary.

Untuk mengetahui rute mana saja yang dilayani oleh layanan O-Shuttle milik Ompreng.com, aplikasi ini dapat diunduh secara gratis melalui Play Store.

Lion Bizjet Tawarkan Taksi Udara Bertarif Rp47 Juta Per Jam

Selain dikenal sebagai perusahaan penerbangan terbesar di Indonesia, Lion Air Group juga telah melebarkan sayapnya dengan meluncurkan beberapa maskapai di dalam dan luar negeri. Di level premium dan full service, Lion Air Group menghadirkan Batik Air, dan untuk menjawab kebutuhan penerbangan carter, Lion Air Group kini punya unit bisnis Lion Bizjet, yakni layanan penerbangan tak berjadwal yang siap melayani pengguna jasa berkocek tebal untuk mengangkasa setiap saat.

Baca juga: Macet Parah Menuju Bandara, Bangalore Tawarkan Layanan Antar Jemput via Helikopter

Meski backbone Lion Bizjet adalah pesawat jet bisnis Hawker Beechraft 900XP, namun belum lama ini Lion Bizjet memperkenalkan armada terbarunya, bukan berupa pesawat bersayap tetap, melaiankan sebuah helikopter EC-135 buatan Airbus Helicopters. Layanan ini seolah membawa angin sejuk bagi warga Ibukota yang ingin merasakan sensasi berkendara menggunakan helikopter. Selain bebas macet, interior helikopter ini juga bisa bikin betah para penumpangnya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, mobilitas tinggi warga Ibukota dan tuntutan waktu yang serba cepat merupakan dua alasan yang melatarbelakangi hadirnya layanan bernama Lion Bizjet ini. “Tujuan Lion Bizjet adalah untuk mengakomodasi dan memfasilitasi kebutuhan transportasi udara pribadi bagi kalangan VVIP – VIP secara eksklusif. Helikopter ini bisa disewa untuk urusan bisnis, keluarga juga wisata” ungkap Ramaditya Handoko, selaku Corporate Communication Lion Air Group.

Dengan menggunakan helikopter berjenis EC-135 Twin Engine, Ramaditya menuturkan bahwa para penyewa yang kebanyakan berasal dari kalangan selebriti dan anggota pemerintahan. Adapun destinasi wisata favorit para penyewa adalah Denpasar, Bali dan Manado, Sulawesi Utara.

Terkait fasilitas yang tersedia di dalamnya, Chief Pilot Lion Bizjet, Capt. Nengah Sumerta mengatakan ada beberapa fasilitas unggulan yang ditawarkan oleh layanan helikopter VVIP ini. “Kami tawarkan kenyamanan maksimal bagi penyewa helikopter Lion BizJet,” ungkap Capt. Nengah. Adapun beberapa keunggulan dari helikopter yang mampu menampung lima penumpang ini mencakup sofa yang nyaman, pendingin udara, hingga penganan yang disediakan oleh pihak Lion Boga selama penerbangan.

Interior EC135. Sumber: international-pilot.com

Mengamini pernyataan di atas, Capt. Nengah mengatakan bahwa permintaan tertinggi terhadap layanan ini datang dari kalangan orang penting. “Khususnya di kalangan pengusaha, dan pebisnis mereka biasanya minta diantar point to point agar lebih cepat dan mudah,” tuturnya. “Lebih privat dan mereka punya fleksibilitas waktu yang tinggi,” imbuh Capt. Nengah.

Baca juga: Helikopter Kursi Tunggal Ini Dibandrol Hanya US$20 Ribu

Walaupun bukan bagian dari layanan utamanya, Lion Air Group selalu memperhatikan seluruh aspek keamanan dan keselamatannya. Bahkan, hanggar di Balaraja (Lion City) selalu kedatangan Helikopter Bizjet guna perawatan rutin. “Tapi kami juga punya prosedur daily inspection, untuk pengecekan rutin,” terang Capt. Nengah.

Menyinggung soal harga sewanya, Lion Air memanjer Rp47 juta per jam, berlaku untuk dua jam pertama dan akumulasi setiap satu jam berikutnya. Bagaimana, tertarik untuk mencoba mengudara dengan layanan super luxury dari Lion Air Group ini?

Kabar Duka dari India, Aktor Muda Bollywood Tewas Setelah Terjatuh dari Peron

Kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Baru-baru ini kecelakaan tidak sengaja merenggut seorang aktor muda berusia 22 tahun asal India. Aktor muda berparas tampan dengan nama Prafu Bhalerao, diketahui saat ini tengah bermain di serial televisi Marathi.

Baca juga: Indian Railways Bakal Gunakan Drone Untuk Tunjang Pelayanan di Berbagai Aspek

KabarPenumpang.com melansir dari laman hirunews.lk (23/1/2018), bahwa Praful mengalami kecelakaan hingga tewas di stasiun kereta api Mumbai pada Senin (22/1/2018). Saat itu aktor muda tersebut sedang melakukan perjalanan dari Malad menuju Goregaon.

Saksi mata yang melihat kejadian tersebut megatakan, Praful bersandar di tangga dan kehilangan pegangannya saat kereta api melaju dengan kencang. Sedangkan dari cuplikan video yang diambil dari CCTV stasiun terlihat Praful berlari menuju peron untuk naik kereta, namun saat itu dirinya terlambat.

Ketika kereta melaju kencang, Praful terjatuh ke lintasan. Inspektur Polisi Senior Shailendra Dhiwar dari Polisi Kereta Api Borivali atau Government Railway Police (GRP) mengatakan, sekitar pukul 04.15 pagi waktu India, Praful Bhalerao mencoba naik kereta cepat menuju Churchgate dari peron Malad.

“Dia dilaporkan berdiri di dekat tempat duduk dan terjatuh yang mengakibatkan cedera pada kepalanya. Kami mendapat telepon pukul 04.30 pagi mengenai jenazah yang ditemukan di rel. Pada jam itu, umumnya kereta api kurang ramai dan kami mendaftarkan kasus kematian Praful adalah kasus kematian tidak disengaja dan kami melakukan investigasi lebih lanjut,” ujar seorang polisi lainnya.

Baca juga: Setelah Hadir di 200 Stasiun, Google Station Perluas Jaringan di Seluruh India

Dari laporan pihak kepolisian, jenazah Praful dikirim ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan postmortem untuk mengetahui hasil penyelidikan lebih lanjut. Praful sendiri dikenal di televisi Marathi dan mendapatkan ketenaran pertamanya di acara televisi Kunku yang saat itu sedang populer di India. Serial televisi lainnya dimana Praful tampil yakni Tu Majha Sangati, Nakushi dan Jyotiba Phule. Dia juga sedang mengerjakan film Marathi Barayan yang baru saja dirilis.

Akhir Minggu Ini! Setiap Pramugari di Banda Aceh Wajib Kenakan Jilbab

Masih ingat dengan kejadian seorang wanita yang mengeluhkan tentang seragam pramugari AirAsia kepada Perdana Menteri Malaysia beberapa waktu yang lalu? Setelah sempat risih dengan seragam pramugari yang dinilai terlalu seronok, wanita bernama Dr. June Robertson ini lalu melayangkan protes kepada Senator Malaysia, Hanafi Mamat, selaku salah satu pemangku kuasa di destinasinya tersebut.

Baca Juga: Dianggap Seronok, Soal Kostum Pramugari AirAsia Diadukan Ke Pejabat Malaysia

Menanggapi surat yang dikirim oleh wanita asal Selandia Baru ini, pada bulan Oktober 2017 kemarin Hanafi mengatakan bahwa semua awak kabin dari maskapai lokal harus mengenakan seragam yang sesuai dengan syariah. Hanafi juga menambahkan bahwa tidak menutup kemungkinan impresi para pelancong terhadap Malaysia akan membuat reputasi Negeri Jiran turun karena hilir mudiknya pramugari yang mengenakan seragam minim di terminal internasional.

Nah, bicara soal syariah, salah satu provinsi di Indonesia juga sempat mengutarakan hal serupa terkait seragam pramugari yang menurut mereka tidak sesuai dengan nilai yang berlaku. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman themalaymailonline.com (31/1/2018), Pemerintah Kota Banda Aceh meminta kepada semua pramugari Muslim yang mendarat di sana agar mengenakan pakaian yang sesuai dengan syariat Islam. Jika tidak, mereka akan menerima ganjaran dari polisi agama.

“Saya berhadap pihak maskapai penerbangan dapat menghormati keunikan yang ada di Aceh, dimana kami sangat menjunjung tinggi Syariah,” ungkap Mawardi Ali, Bupati Aceh Besar. Memang, Provinsi paling timur Indonesia ini terkenal dengan nuansa keagamaannya yang sangat kental, dimana wanita-wanita Muslim di Serambi Mekkah ini dituntut menggunakan jilbab untuk menutup aurat mereka. Maka tidaklah heran jika hal tersebut diberlakukan sama kepada para pelancong, tidak terkecuali para awak kabin.

Mawardy mengaku akan melakukan sosialisasi terhadap sejumlah maskapai hingga akhir minggu ini. “Jika ada awak kabin yang tidak mematuhi peraturan ini, kami akan menegurnya. Namun jika dirinya kedapatan berkali-kali melanggar, kami akan mengerahkan polisi Syariat untuk menangkap dan menghukumnya,” tutur Mawardy.

Lalu, apa tanggapan dari Garuda Indonesia dan Citilink merupakan dua maskapai tuan rumah di Provinsi Banda Aceh? Melalui juru bicaranya, pihak Flag Carrier Indonesia ini menyampaikan bahwa maskapai akan menyediakan seragam khusus untuk penerbangan menuju Banda Aceh. “Garuda menghormati budaya lokal di Aceh,” ungkap juru bicara Garuda, Ikhsan Rosan.

Baca Juga: Iklan Menjurus Seksis, AirAsia Menuai Kecaman dari Netizen

Senada dengan pihak Garuda, Lion Air Group juga mengatakan bahwa maskapai tersebut menghormati setiap peraturan yang berlaku. “Kita sangat mendukung dan menghormati sekali apa yang menjadi kebijakan daerah di Aceh,” kata Pelaksana Tugas Manajer Humas Lion Air Group, Rama Aditya, dikutip dari sumber terpisah.

Menurut Rama, Batik Air yang merupakan anak perusahaan dari Lion Air Group sudah menerapkan peraturan tersebut, sedangkan Lion akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk bisa menghormati aturan itu. “Beberapa penerbangan dari Aceh juga sebaliknya untuk maskapai Batik Air pramugarinya sudah mengenakan hijab sejak beberapa waktu lalu. Kita di Lion insya Allah minggu depan,” terang Rama.

Sementara itu juru bicara Citilink, Benny Butarbutar mengatakan bahwa pramugarinya telah mengenakan seragam yang sesuai dengan syariat Islam.