Begini Proses ‘Memasak’ Makanan di Pesawat Sampai Dihidangkan ke Penumpang

Pada penerbangan agak jauh di atas dua jam, maskapai biasanya menyediakan makanan ringan hingga berat. Khusus untuk makanan berat, proses penyajiannya tentu tidak mudah. Selain harus berpacu dengan waktu dan bergelut di tempat sempit untuk menyediakan begitu banyak makanan, pramugari juga perlu menghangatkan makanan terlebih dahulu selama kurang lebih 20 menit.

Baca juga: Sajian Makanan di Pesawat Wajib Ekstra Bumbu, Inilah Alasannya!

Sudah menjadi rahasia umum bahwa makanan dihidangkan penumpang pesawat dimasak di darat, bukan di pesawat. Berbagai menu makanan beserta boxnya memang didesain untuk dihangatkan kembali di pesawat.

Setelah selesai dimasak (biasanya tak jauh dari bandara), berbagai menu makanan untuk penumpang pesawat akan didinginkan atau dibekukan terlebih dahulu, dikemas, dan didistribusikan ke lokasi tertentu di bandara, sebelum akhirnya dimuat ke dalam pesawat.

Sampai di sini, prosesnya bisa dibilang agak menantang. Sebab, menu makanan di darat cenderung berubah ketika disajikan di udara. Sudah begitu, ketika selesai dimasak dan kemudian didinginkan, biasanya ada perubahan rasa. Apalagi ketika dihangatkan kembali, rasanya sudah hampir pasti berubah. Karenanya, katering pesawat harus bisa mengukur agar makanan tetap memiliki cita rasa kuat saat dihidangkan penumpang di udara.

Tak cukup sampai di situ, saat makanan dimuat di pesawat juga menantang dikarenakan box harus tetap rapat dan tak boleh terbuka untuk mencegah udara masuk. Jika tidak, kualitas makanan akan menurun dan itulah yang terkadang membuat penumpang mengeluh karena hambar.

Dilansir Simple Flying, usai dimuat ke dalam pesawat, masing-masing box berisi makanan dihangatkan selama sekitar 20 menit. Tentu, ini bergantung pada menu makanan yang disajikan. Untuk makanan penumpang first class, biasanya, usai dihangatkan, makanan dipindahkan ke wadah lain sebelum dihidangkan.

Di beberapa kondisi, maskapai bahkan harus benar-benar memasak di dalam pesawat yang tengah mengudara untuk memberikan pelayanan terbaik bagi penumpang first class. Akan tetapi, koki, atau dalam hal ini pramugari yang dilatih khusus untuk memasak, tak mempunyai banyak pilihan memasak melainkan hanya telur. Ya, hanya bisa memasak telur, tidak lebih.

Meski demikian, memasak telur di atas ketinggian tentu tak semudah memasak telur di darat. Tekanan di dalam kabin serta kelembapan rendah membuat berbagai rasa, seperti asin, manis, dan pedas berkurang signifikan. Itulah mengapa makanan di pesawat rata-rata harus ekstra bumbu. Sebab, bila tidak, makanan, baik yang dimasak di darat ataupun di udara, akan tak terasa apapun alias hambar.

Baca juga: Yakin Sehat? Ini Rahasia Makanan di Pesawat Kata Mantan Pramugari

Terkadang, karena rasanya yang kurang memuaskan, banyak penumpang memutuskan tak memakan makanan di pesawat. Akibatnya, banyak makanan yang terbuang percuma setiap tahunnya.

Menurut penelitian IATA, 1,14 juta ton makanan untuk penumpang pesawat terbuang percuma pada tahun 2017 lalu. Angka di tahun-tahun berikutnya, sebelum virus Corona mewabah ke seluruh dunia, tentu semakin meningkat seiring peningkatan jumlah penumpang.






















Waduh! Makan Bersamaan di Kabin Pesawat Tingkatkan Risiko Penularan Covid-19

Seiring melandainya tren Covid-19, maka perjalanan udara mulai kembali dibuka untuk para pelancong. Namun, prosesi penumpang makan di pesawat masih berisiko tinggi untuk terjadinya penularan Covid-19. Hal ini ditunjukkan dalam studi di pesawat yang tengah mengudara dan penumpang makan yang tentunya melepaskan masker.

Baca juga: Waspada, Face Shiled Tidak Bisa Cegah Penularan Covid-19

Dilansir KabarPenumpang.com dari eater.com (2/11/2021), Wall Street Journal mencatat bahwa sebuah penelitian medis baru-baru ini dilakukan oleh sebuah kelompok di University of Greenwich di London, yang menunjukkan risiko penularan virus 59 persen lebih tinggi selama layanan makan satu jam dalam penerbangan 12 jam. Bahkan persentase ini tetap lebih tinggi jika dibandingkan dengan tetap menggunakan masker selama penerbangan.

Dari paparan studi tersebut, penumpang harus menanggung risiko untuk keuntungan yang sangat terbatas dari makanan dalam penerbangan. Apalagi, penumpang sadar dengan Covid-19 yang masih ada meski sudah mendapat vaksin.

Sehingga bisa dikatakan, melepas masker di kabin meski aliran udara segar dan terfilter secara konstan tetap menghadirkan risiko serius. Untuk itu, di awal pandemi, kebanyakan maskapai menghentikan layanan makanan di udara (in-flight meals). Makanan di udara baru diberikan pada penerbangan jarak jauh.

Hal tersebut membuat para peneliti memberikan saran pada maskapai, salah satunya dengan percepatan waktu pengiriman, sehingga kelompok penumpang bisa makan bergantian dengan yang lainnya tetap menggunakan masker. Sayangnya, maskapai belum terlalu gesit dalam menanggapi pedoman kesehatan masyarakat, terutama jika berpotensi membuat kesal penumpang yang sudah lapar.

Jadi, jangan mengandalkan protokol pengiriman makanan di pesawat yang disajikan waktu dekat. Selain itu para peneliti menyarankan agar setiap penumpang menunggu beberapa menit lagi untuk camilan atau menyesap kopi.

Baca juga: Penularan Covid-19 Lebih Subur Terjadi di Ruangan Ber-AC Tanpa Sirkulasi Udara

Tidaklah ideal jika semua orang di sekitar Anda melepas masker mereka, tetapi tetap memakai masker Anda saat orang lain makan akan tetap memberikan lapisan perlindungan ekstra. Lalu bayangkan betapa lebih enaknya bila Anda makan 20 menit setelah semua orang makan, mengetahui bahwa Andalah satu-satunya yang menikmati udara segar pesawat tanpa masker. Tapi kembali lagi, anda harus lebih kuat menahan lapar.






















Kecoa Bikin Geger British Airways, Ditemukan di Area Penyimpanan Makanan di Kabin

Bagaimana jika seekor kecoa terlihat dalam sebuah penerbangan? Mungkin hal itu bisa saja terjadi dan membuat banyak orang panik karena geli dengan kehadiran serangga yang dianggap kotor tersebut. Ternyata salah satu pesawat milik Biristh Airways ditumpangi oleh penumpang gelap (kecoa).

Baca juga: Menjijikan, Ada Kecoa di Makanan ‘Bersegel’ Pada Penerbangan Full Service Air India

Kecoa tersebut terlihat oleh seorang penumpang di pantry, tepatnya di tempat makanan penumpang disiapkan di dalam kabin British Airways. Video kecoa yang tidak diumumkan tersebut membuat kegemparan di antara petinggi Britisha Airways yang kemudian dibagikan di halaman online awak kabin.

Insiden penemuan kecoa ini membuat pihak maskapai melakukan investigasi setelah meminta maaf pada semua penumpang dalam penerbangan tersebut. KabarPenumpang.com melansir laman the-sun.com (29/10/2021), dalam rekaman yang dibagikan tersebut diberi judul Stowaway from New York.

Bahkan dalam video itu, seorang awak kabin yang jijik dapat terdengar berseru, “Ya Tuhan!” saat dia melihat bug.

Serangga itu terlihat dala video sedang menggeliat di dalam wadah logam di mana makanan dan minuman disimpan ke pesawat. Itu diyakini berada di antara kotak jus jeruk dalam penerbangan New York ke London.

“Ini sangat menjijikkan. Tidak ada yang mau berpikir seekor kecoa ada di makanan dan minuman yang disajikan di ketinggian 30 ribu kaki. Kebaikan tahu jika dia terbang solo,“ ujar salah seorang narasumber maskapai.

“BA memperhatikan dengan serius bagaimana hal itu terjadi. Ini adalah bencana di mana-mana. Kami sedang menyelidiki masalah ini,” ujar British Airways lagi.

Baca juga: Setelah Insiden Kecoa, Kini Belatung Hidup ‘Tersaji’ di Makanan Pakistan International Airlines

Untuk diketahui, kecoa dapat membawa penyakit seperti salmonella, disentri dan gastroenteritis.






















Bus Listrik Terpanjang Akan beroperasi di Denmark

Belum lama ini, Solaris (manufaktur bus) menerima pesanan pertama bus listrik terbaru dan terpanjang. Ini adalah Urbino 24 di MetroStyle, Denmark yang merupakan bus listrik bi-artikulasi” 24 meter. Dioperasikan oleh Tide Bus Danmark, bus ini diharapkan akan beroperasi sebanyak 14 unit kota di Aalborg.

Baca juga: BYD Perluas Jaringan Pelayanan Bus Listrik di Jepang

Pihak Solaris menyebutkan, bus tersebut dirancang khusus untuk rute BRT (Bus Rapid Transit). Pesanan dari Denmark adalah yang pertama untuk kendaraan artikulasi ganda dengan penggerak listrik ini. Solaris juga menyebut pesanan itu “belum pernah terjadi sebelumnya” karena panjang kendaraan dan pilihan desain MetroStyle.

“Kami sangat senang mendengar bahwa Denmark akan menjadi negara pertama yang menerima pengiriman bus listrik Urbino 24 MetroStyle”, kata Petros Spinaris, anggota Dewan Manajemen untuk Penjualan, Pemasaran, dan Layanan Pelanggang yang dikutip KabarPenumpang.com dari electrive.com (30/10/2021).

Dia menambahkan pihaknya “yakin bahwa kolaborasi kami dengan Tide Bus Danmark akan membuka babak baru dalam kegiatan kami dan mendukung transportasi perkotaan yang berkelanjutan.” Listrik Urbino 24 dalam versi MetroStyle ditenagai oleh dua motor listrik dengan output sistem 240 kW.

Paket baterai menampung tidak kurang dari 700 kWh dan akan diisi melalui steker. Solaris tidak memberikan rincian tentang daya pengisian dan waktu pengisian atau kapasitas penumpang. Masing-masing dari 14 bus listrik yang beroperasi di Aalborg akan dilengkapi dengan sistem bantuan pengemudi, termasuk apa yang disebut Solaris sebagai MirrorEye.

Sistem kamera menggantikan kaca spion belakang dan samping dan memastikan “visibilitas optimal”. Ini juga mengurangi lebar keseluruhan bus dan sistem tambahan Mobileye Shield+ semakin menghilangkan bahaya titik buta. Berkat kamera yang dipasang di kedua sisi bus, pengemudi diperingatkan akan pejalan kaki atau pengendara sepeda yang dekat dengan kendaraan.

Untuk meningkatkan manajemen armada, MetroStyle listrik Urbino 24 juga akan menampilkan eSConnect, alat diagnostik untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengoptimalkan perawatan yang dilakukan oleh produsen bus Polandia. Solaris telah memulai debutnya dengan tipe e-bus di BusWorld 2019 di Belgia.

Baca juga: Mampu Angkut 250 Penumpang, BYD Automobile Luncurkan Bus Listrik Terpanjang di Dunia

Dalam pernyataannya, pabrikan menggambarkan ide di balik kendaraan tersebut sebagai “untuk menciptakan platform untuk produksi serial masa depan tidak hanya kendaraan 24 meter dengan penggerak listrik atau hibrida tetapi juga bus listrik.” Pesanan yang dilakukan oleh Tide Bus Danmark adalah yang pertama untuk kendaraan listrik bi-artikulasi ini, begitu juga Solaris.






















Video: Charging Ponsel di Kereta Lewat Hembusan Angin di Luar Jendela

Beruntunglah penumpang kereta di Indonesia bahwa stop kontak listrik telah hadir di setiap rangkaian kereta, mulai dari kelas eksekutif, bisnis dan ekonomi, PT KAI telah menyiapkan fasilitas pengisian daya (charging) untuk gadget Anda. Namun belum semua negara bisa menyajikan layanan seperti di atas. Contoh di India dan Pakistan, stop kontak masih jadi barang langka.

Baca Juga: India Luncurkan Kereta Bertenaga Panel Surya

Atas kelangkaan stop kontak di rangkaian kereta kelas ekonomi, justru menjadi tantangan bagi kreator di Pakistan Science Club (PSC). Dengan memanfaatkan jendela kereta yang dapat dibuka tutup, kreator PSC merilis peragkat pengisian daya melalui media angin. Dalam video berdurasi kurang dari dua menit yang diunggah ke laman youtube.com ini, tampak sebuah kipas berukuran sedang terpasang di bagian kaca luar gerbong kereta yang tengah melaju.

Dengan begitu, kipas akan terus berputar karena diterpa oleh angin. Pada bagian depan kipas tersebut, dilekatkan sebuah alat yang tersambung dengan sebuah kabel yang berujung pada voltmeter. Ketika kipas tengah berputar, tampak voltmeter menunjukkan angka yang tidak konsisten. Ini membuktikan bahwa kipas yang berputar karena terkena terpaan angin tersebut berhasil menciptakan daya listrik tidak statis. Adapun angka yang ditunjukkan oleh voltmeter tersebut berkisar antara 3,4 hingga 3,6 volt.

Setelah itu, rekaman menunjukkan sebuah ponsel yang tengah berada dalam kondisi baterai terisi. Dengan beredarnya video ini, maka semakin mempertegas bahwa penggunaan energi terbarukan lebih baik ketimbang menggunakan sumber energi lain yang mungkin akan berdampak pada kelestarian lingkungan.

Baca Juga: 100 Persen Tenaga Kereta di Belanda Kini Andalkan Energi Terbarukan

Pemberdayaan sumber energi terbarukan belakangan ini memang tengah ramai dikembangkan oleh perusahaan yang mengusung tema ramah lingkungan. Sebut saja perkeretaapian India yang merilis kereta Diesel Electric Multiple Unit (DEMU), dimana semua kebutuhan listrik di setiap gerbong, meliputi lampu, kipas angin, dan layar penampil informasi akan dipasok oleh sistem panel surya yang tertanam di atas kubah kereta.

Di Shinkansen, Toleransi Antar Penumpang Kereta Begitu Kuat

Masih ingat tentang aturan PT KAI yang melarang penumpangnya membawa peuyeum (fermentasi tape) ke dalam rangkaian kereta? Ya, di sebagaian jenis moda transportasi seperti kereta api dan pesawat memang memberlakukan larangan membawa makanan yang memiliki aroma tajam atau menyengat. Sebenarnya, peraturan yang didasarkan pada subjektifitas yang diterapkan oleh PT KAI ini juga diadopsi oleh negara lain lho!

Baca Juga: Peuyeum Dilarang Masuk Kabin Kereta?

Sebelum melangkah lebih jauh, peraturan tentang pelarangan membawa makanan beraroma kuat ini tidak bisa disamaratakan dengan larangan merokok di dalam moda atau peraturan lainnya. Karena aturan ini berkaitan langsung dengan indera penciuman seseorang. Ketika di satu sisi orang mengatakan bau durian atau peuyeum tidak menimbulkan masalah, namun beda cerita dengan orang lain yang tidak menyukai makanan tersebut. Mereka bisa saja langsung mual ketika mencium aroma dari makanan yang tidak mereka sukai.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman japantoday.com, Jepang pun memberlakukan hal yang sama terhadap para penumpangnya yang membawa makanan beraroma kuat. Ada beberapa etiket yang harus diperhatikan oleh penumpang sebelum mereka menyantap makanan mereka di dalam kereta peluru atau yang dikenal dengan nama Shinkansen ini.

Pertama dan paling utama adalah tetap menjaga kebersihan setelah penumpang menyantap makanan mereka. Poin ini merupakan sebuah keharusan yang tidak bisa dinomorduakan. Kedua adalah tetap berlaku santun kepada sesama penumpang, hal ini berkaitan dengan makanan yang mereka bawa ke dalam moda. Seperti yang sudah disinggung di atas, tidak semua orang suka terhadap satu makanan yang memiliki aroma kuat.

Bahkan ada kasus seorang penumpang yang terpaksa ‘menyelundupkan’ ayam goreng dari salah satu restoran cepat saji asal Amerika Serikat ke dalam kereta Shinkansen. Hal tersebut ia lakukan karena ia tidak ingin mengganggu penumpang lain yang tidak suka dengan aroma ayam goreng ini. Semuanya berkaitan dengan toleransi sesama penumpang.

Baca Juga: 10 Peraturan Lalu Lintas Unik Ini Siap Membuat Anda Kernyitkan Dahi

Sama halnya seperti ayam goreng tadi, 551 Horai Pork Bun, sebuah penganan berupa bakpao yang menjadi cemilan favorit dari Osaka yang sama-sama memiliki aroma kuat. Tidak sedikit juga penumpang yang membawa penganan ini ke dalam kereta dan memakannya. Namun kembali lagi, tingginya toleransi antar penumpanglah yang menjadikan peraturan ini seolah tidak ada di sistem perkeretaapian Negeri Sakura.

Otoritas Bandara Kenya Lelang 70-an Pesawat Mangkrak, Primadonanya Boeing 707 Seharga Rp36 Juta

Pemandangan pesawat mangkrak yang tak terurus lazim kita lihat di bandara-bandara besar. Bagi pengelola bandara, ‘timbunan’ bangkai pesawat merupakan persoalan tersendiri, selain menyita lahan, deretan pesawat dengan cat kusam juga menjadi pemandangan yang kurang enak dilihat oleh penumpang pesawat yang melintas, terlebih di bandara yang berstatus internasional.

Jembatan Kereta Bukit Duri, Berdesain Klasik Tapi Terlupakan

Jembatan kereta api, tak asing lagi di dunia, bahkan beberapa diantaranya ada yang termasuk dalam jembatan kereta tertinggi di dunia. Kali ini salah satu yang akan dibahas adalah jembatan kereta api Bukit Duri yang termasuk salah satu jembatan klasik.

Baca juga: The Causey Arch, Jembatan Kereta Tertua yang Kini Masih Bisa Dilihat Keberadaanya

KabarPenumpang.com mendapatkan fakta bahwa jembatan kereta ini ternyata berdiri kokoh selama 100 tahun lebih sejak April 1917. Membentang di atas sungai Ciliwiung Jalan Slamet Riyadi Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Dulunya sempat disebut dengan Jembatan kereta Manggarai Selatan karena terletak di kelurahan Bukit Duri dan berbatasan dengan kelurahan Manggarai Selatan.

Jembatan kereta api Bukit Duri ini dibangun oleh perusahaaan kereta api Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij pada tahun 1876 dan dirancang oleh seorang arsitektur bernama Ingenieur J Plantema. Jembatan ini ternyata memiliki peran yang penting dalam dunia transportasi, dimana memiliki jalur ganda.

Pada masa kejayaannya dulu di era tahun 1930-an, sekitaran jembatan ini sangat indah dengan sungai Ciliwung yang juga masih bersih dan belum ramai dari pemukiman penduduk. Namun, kondisi kini tak lagi indah melainkan jauh dari kesan bersih dan apik.

Sebab, di sekitaran jembatan kereta Bukit Duri sudah banyak rumah yang dibangun rapat di bantaran kali Ciliwung. Selain itu juga ada tembok yang dibangun setinggi 2,5 meter yang menutupi jembatan ini. Tak hanya rumah tinggal, di sekitaran jembatan juga terdapat penjual bambu dan kayu. Sebenarnya untuk melihat jelas keberadaan jembatan kereta Bukit Duri tersebut, masih bisa melalui jembatan jalan raya Slamet Riyadi.

Baca juga: Grand Danyang-Kunshan, Jembatan Kereta Yang Panjangnya Melebihi Jarak Jakarta-Bandung!

Hal ini dikarenakan jembatan tersebut tepat berhadapan dengan jembatan kereta Bukit Duri. Tetapi, meski bisa melihat dengan jelas, bau sampah yang menyengat akan dirasakan. Karena sekitaran jembatan tersebut dijadikan tempat bongkar muat sampah.

Bila dihubungkan, ternyata jembatan kereta Bukit Duri tersambung dengan stasiun Jatinegara dan Manggarai. Kini, jembatan kereta Bukit Diri menjadi salah satu jembatan klasik.

Permudah “Check-in Online”, Batik Air Lakukan Penyegaran pada Aplikasi Mobile

Maskapai full service milik Lion Air Group, Batik Air, mengumumkan telah menghadirkan dan menyediakan fasilitas terbaru pada aplikasi Batik Air Mobile Apps untuk menawarkan kemudahan para tamu (calon penumpang) saat melakukan pelaporan mandiri (self check-in) sebelum keberangkatan.

Baca juga: Cathay Care, Mudahkan Penumpang dari Check In samapi di Kabin

Layanan “mobile apps” terbaru yang memiliki keunggulan dengan nilai lebih “tak perlu repot-repot lagi melakukan check in di bandar udara serta mengurangi kontak dengan keramaian atau mengurangi antrean”, sehingga menambah pengalaman sebelum terbang atau “pre flight” yang akan melakukan penerbangan dengan Batik Air. Mobile apps ini sudah tersedia pada platform OS Android pada Google Play Store dan iOS melalui aplikasi Apple Store.

Batik Air Mobile Apps hadir tampilan interface yang lebih segar (fresh) dan mudah digunakan (user-friendly), bagian dari upaya Batik Air dalam meningkatkan kualitas layanan kepada setiap tamu, khususnya dengan memberikan kemudahan dan kenyamanan lebih ketika mengakses informasi layanan dan rencana penerbangan dalam satu genggaman dan tepat waktu.

Proses check-in lebih cepat, langkah praktis sebagai berikut

1. Buka Batik Air Mobile Apps dan pilih menu Online Check-in

2. Masukkan kode pemesanan (booking reference number/ PNR) pada tiket yang terdiri 6 (enam) karakter yaitu 6 huruf kapital dan nama belakang (last name) atas nama tamu yang akan melakukan penerbangan..

3. Pahami tentang barang bawaan yang memenuhi aspek ketentuan keselamatan penerbangan (apakah tergolong barang berbahaya atau tidak).

4. Pilih “lanjut” (continue) untuk proses check-in dengan memilih penerbangan dan nama tamu sesuai pada tiket yang akan mengikuti penerbangan (klik untuk memberi tanda centang pada kolom) . Proses check-in selesai.

Beginilah Gaya Tidur Penumpang Kereta Komuter di Jepang

Waktu berangkat dan pulang kerja atau yang lebih dikenal sebagai peak hours memang menjadi momen paling menyebalkan bagi sebagian orang. Bukan karena mereka malas untuk bekerja di pagi hari atau enggan meninggalkan kantor di sore hari. Melainkan karena kepadatan yang terjadi dimana-mana, mulai dari jalanan hingga sarana transportasi umum berbasis massal.

Baca Juga: Akibat Tertidur di Bus Antar Jemput Bandara, Pria ini Ketinggalan Pesawat

Ketika fisik dan otak mereka sudah memaksa untuk beristirahat, maka mau tidak mau para pekerja ini harus menembus kerumunan lampu rem yang senantiasa menemani perjalanan mereka menuju rumah.

Nah, bagi mereka yang memutuskan untuk menggunakan sarana transportasi umum, nampaknya berjejalan bukanlah menjadi halangan untuk sampai di rumah dengan cepat. Tidak perduli kondisi penuh sesak, mereka tetap berusaha untuk melawan rasa lelah setelah seharian bekerja. Saking lelahnya, tidak sedikit dari mereka yang bahkan sampai tertidur selama perjalanan. Ternyata, kejadian seperti ini tidak hanya terjadi di dalam negeri saja lho!

Sebagai salah satu benchmark perkeretaapian Indonesia, Jepang juga ternyata punya segelintir cerita unik terkait padatnya moda transportasi umum ketika peak hours, sebut saja kereta api. Banyak para komuter yang harus rela diabadikan posenya ketika ia tertidur di dalam kereta. Pasalnya, pose tidur mereka bisa dibilang sangat unik dan mengundang gelak tawa. Dihimpun dari berbagai sumber, inilah beberapa pose unik para komuter yang tertidur selama di perjalanan.

Baca Juga: Sulit Tidur Selama Perjalanan? Trtl Pillow Bisa Jadi Solusinya!

Siapa Bilang Tidak Bisa Tidur Sambil Berdiri?

Sumber: funnyjunk
Sumber: Pinterest

Mungkin Dia Terlalu Lelah Bekerja

Sumber: funnyjunk

Mereka Ketiduran Atau Kenapa ya?

Sumber: Pinterest
Sumber: pinterest
Sumber: dashoffresh.com
Sumber: Dailymail.co.uk