Naik Level! Penumpang KA Rajabasa Tak Lagi Duduk Adu Dengkul, Apakah Tarifnya Naik?

Kabar gembira bagi masyarakat khususnya Lampung dan Sumatra Selatan. Bahwa rangkaian kereta api kelas ekonomi yang dikenal dengan tarif yang murah, kini sudah cukup nyaman. Pasalnya rangkaian ini bisa terbilang naik level. Ya, Kereta Api (KA) Rajabasa yang merupakan satu-satunya angkutan penumpang dengan rute Stasiun Tanjung Karang – Kertapati pp.

Banyak yang memanfaatkan KA Rajabasa untuk melakukan perjalanan jarak dekat maupun jarak jauh. Dengan tarif Rp32.000 saja, penumpang sudah bisa menikmati perjalanan hingga 10 jam. Terbilang sangat murah memang, namun layaknya rangkaian kelas ekonomi lainnya yang masih berada pada tarif subsidi, fasilitas yang dirasakan masyarakat masih terbatas.

Sebelumnya KA Rajabasa memiliki kapasitas sebanyak 106 tempat duduk dengan konfigurasi 2-3. Itu berarti penumpang rela duduk dengan posisi tegak dan adu dengkul dengan penumpang yang berada di depannya. Namun, kini fasilitas tersebut kandas sudah. Karena PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) resmi mengoperasikan rangkaian baru KA Rajabasa tersebut.

Modernisasi sarana itu membawa peningkatan kenyamanan bagi penumpang. Dan kabar baiknya tarif yang dikenakan penumpang tidak mengalami kenaikan sama sekali atau dengan kata lain tarif subsidi masih diberlakukan. Kini KA Rajabasa memiliki konfigurasi kursi 2-2 atau dengan total 80 tempat duduk di setiap unit kereta.

Manager Angkutan Fasilitas dan Pelayanan Penumpang KAI Divre IV Tanjungkarang, Eko Dodid Hertanto, mengatakan perubahan paling mencolok terdapat pada konfigurasi tempat duduk. Jika sebelumnya kursi disusun dengan formasi 3-2, kini seluruh rangkaian menggunakan konfigurasi 2-2 sehingga ruang gerak penumpang menjadi lebih lapang.

Tentunya, tak hanya mengubah tata letak kursi, KAI juga melengkapi seluruh gerbong dengan reclining seat. Jarak antarkursi diperlebar sehingga penumpang tidak lagi saling beradu lutut selama perjalanan menuju Sumatra Selatan. Ini membuat penumpang semakin nyaman dengan fasilitas baru ini. Apalagi KA Rajabasa merupakan perjalanan penting bagi masyarakat yang terbiasa menggunakan kereta api di jalur Sumatra.

Meski kualitas layanan meningkat, tarif KA Rajabasa dipastikan tidak berubah. Penumpang tetap membayar Rp32 ribu untuk perjalanan dari Tanjungkarang menuju Kertapati. Antusiasme masyarakat terhadap layanan tersebut langsung terlihat pada hari pertama pengoperasian. Seluruh 440 kursi yang disediakan untuk perjalanan perdana terisi penuh.

Tingginya minat penumpang juga diiringi munculnya permintaan agar KAI menambah frekuensi perjalanan, terutama pada malam hari. Menurut Eko, usulan tersebut telah menjadi perhatian perusahaan dan akan dikaji dalam penyusunan Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) yang baru. Pihaknya pun tengah melakukan survei dan memang ada kebutuhan perjalanan malam. Masukan dari masyarakat tentunya akan di akomodasi dalam perubahan grafik perjalanan kereta api.

KAI juga mengimbau masyarakat merencanakan perjalanan lebih awal melalui aplikasi Access by KAI. Tiket KA Rajabasa sudah dapat dipesan hingga 45 hari sebelum keberangkatan sehingga peluang memperoleh tiket lebih besar. Disamping fasilitasnya sudah cukup baik, pun tiket KA Rajabasa lebih sering cepat habis karena minat masyarakat.

Pemerintah pun akan terus mengusulkan penambahan kuota subsidi sekaligus peningkatan layanan kereta api di Lampung. Salah satu usulan yang tengah didorong adalah penambahan perjalanan malam karena tingkat keterisian penumpang terus tinggi. Karena peningkatan fasilitas dan penambahan layanan juga dapat mendorong lebih banyak masyarakat beralih menggunakan kereta api sebagai moda transportasi antardaerah yang aman, nyaman, dan terjangkau.

Yuk Kenali Nama-nama Stasiun di Lampung yang Terbilang Unik

Ini Dia Nama Kereta di Tahun 1961 Ketika Perusahaan Bernama “Djawatan Kereta Api”

Jalur kereta api pertama di Indonesia dimulai pada 17 Juni 1864 oleh perusahaan swasta Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) yang menggunakan lebar sepur 1435 mm. Dari sinilah awal mula kereta Indonesia mengular di Jalur Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta).

Baca juga: Ternyata Kereta Api Indonesia Sudah Berganti Logo 3 Kali

Bahkan sebelum menjadi nama PT Kereta Api Indonesia (KAI), nama perusahaan kereta ini sudah berganti-ganti beberapa kali. Selain nama perusahaan yang berganti, berbagai macam nama kereta pun silih berganti untuk mewarnai perkeretaapian Indonesia.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, ternyata ada yang unik di tahun 1961. Namun entah mengapa ini menjadi pengelompokan sendiri di tahun tersebut. Sebab nama-nama kereta ini hadir sejak 6 Juli 1961 dan ada yang masih ‘berjaya’ hingga saat ini.

Pada masa itu kereta dibagi dua yakni kereta api ekspres siang dan malam dan dibawah Djawatan Kereta Api (DKA) yang menjadi nama perusahaan kereta api di tahun 1950-1963. Penasaran apa saja namanya? Berikut ini akan dikupas.

#Ka Ekspres Siang
K.a. No. 1 Surabajpasarturi (Surabaya Pasar turi) – Gambir
TARUMANEGARA, nama kereta ini diambil dari kerajaan di Jawa Barat Abad ke 5-7 dengan rajanya yang terkenal bernama Purnawarman.

K.a. No. 2 Gambir – Surabajapasarturi
MANTJANEGARA (Mancanegara), bukan diambil dari pendatang luar negeri tetapi merupakan wilayah Kerajaan Majapahit yang terletak dipesisir utara pulau Jawa dari abad ke 15-17. Daerah ini terkenal kekayaannya karena perdagangannya yang menguasai kota-kota pelabuhan Surabaya, Gresik, Tuban, Cirebon dan lainnya. Wilayah ini bahkan berhasil melepaskan diri dari Majapahit berkat bantuan dari para Wali-Wali Mantjanegara.

K.a. No. 3 Surabajakota (Surabayakota) – Bandung
PARAHIJANGAN (Parahiangan), daerah Jawa Barat yang dikuasai oleh raja-raja dengan gelar Hijang dari abad 14-16. Para Hijang tersebut adalah pula raja-raja Kerajaan Padjajaran.

K.a. No. 4 Bandung – Surabajakota
MADJAPAHIT, kerajaan besar dengan wilayah meliputi seluruh Nusantara dari tahun 1239-1479. Rajanya yang sangat harum namanya adalah Hayam Wuruk yang memerintah dari 1350 sampai 1389 dengan patihnya yang terkenal yakni Gadjah Mada.

K.a. No. 5 Kroja (Kroya) – Gambir
SUNDAKELAPA, merupakan nama sebelum menjadi Jakarta seperti saat ini. Kala itu menjadi bandar terbesar dari Kerajaan Padjajaran di abad ke-16. Sejak 1527, Sunda kelapa kemudian menjadi Jakarta setelah Falatehan dari Banten (Sunan Gunung Djati) berhasil merebutnya.

K.a. No. 6 Tjirebon (Cirebon) – Surabajakota
SINGHASARI, kerajaan di Jawa Timur tahun 1222-1292 dengan rajanya yang terkenal Kartanegara dan memerintah tahun 1268-1292.

#2 Ka Ekspres Malam
K.a. No. 7 Ekspres Malam, Surabajakota – Djakarta (Jakarta)
BINTANG SENDJA, kereta ini meluncur dari timur ke barat seolah-olah berlomba dengan silamnya Sang Surya. Meghantarkannya dibalik bumi pada waktu senja, maka diberikan kepadanya nama tersebut.

K.a. No. 8 Ekspres Malam, Djakarta – Surabajakota
BINTANG FADJAR, bintang sebagai benda alam yang tampak pada malam hari. Berkelip-kelip menerangi daerah-daerah nyenyak terbenam dimalam buta. Kereta api ekspres malam meluncur cepat dari barat ke timur seolah menyongsong bangkitnya Sang Surya di fajar pagi.

Baca juga: Setiap Nama Kereta Ternyata ada Filosofinya

Sudah kenal dengan nama-nama kereta tahun 1961 kan? Ya salah satunya sampai hari ini masih ada yang beroperasi yakni KA Majapahit. Uniknya lagi bila kereta masa kini berjalan pergi pulang, kereta-kereta di tahun 1961 hanya berjalan satu arah alias tidak untuk pergi dan pulang.

Beres 15 Juli 2026, Peron 6, 7, 8 Stasiun Bogor Segera Bisa Digunakan Penumpang KRL

Stasiun Bogor merupakan stasiun akhir yang berada di lintas Bogor dan paling banyak pengguna KRL untuk beraktivitas sehari-hari. Selain itu akses menuju ke berbagai lokasi keramaian dan wisata juga sangat terjangkau dan praktis. Maka tak heran, stasiun yang merupakan bangunan cagar budaya ini paling banyak dikunjungi baik dari seluruh wilayah di Jabodetabek maupun masyarakat Bogor sendiri.

Dengan semakin meningkatnya penumpang di Stasiun Bogor, tentu harus memiliki fasilitas yang dapat mempermudah dan membantu masyarakat untuk diakses. Salah satu fasilitas yang saat ini menjadi sorotan adalah peron Stasiun Bogor yang akan di perbaharui. Ya, peron 6, 7, dan 8 jika dilihat kini sudah semakin rapi dan nantinya bisa digunakan penumpang Kereta Rel Listrik (KRL).

PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) mempercepat peningkatan kapasitas layanan KRL di Stasiun Bogor melalui pengembangan peron jalur 6, 7, dan 8. Pengembangan ini disiapkan untuk mendukung operasional rangkaian KRL Commuter Line 12 kereta atau SF12 pada Bogor Line.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelakan bahwa saat ini pekerjaan konstruksi telah masuk tahap finishing dan secara paralel dilakukan uji operasional. Pengembangan peron Stasiun Bogor dimulai sejak 15 April 2026 dan ditargetkan selesai total pada 15 Juli 2026.

Ia menambahkan bahwa lintas Bogor menjadi salah satu pilihan utama masyarakat untuk perjalanan harian. Dengan kesiapan SF12, kapasitas layanan dalam satu perjalanan dapat meningkat dan proses naik turun pelanggan di Stasiun Bogor dapat lebih tertata.

Pengembangan yang dilakukan mencakup pekerjaan persiapan, struktur dan arsitektur, mechanical, electrical, and plumbing atau MEP, pekerjaan jalan rel, serta listrik aliran atas atau LAA. KAI juga memasang overcapping atau kanopi di area peron untuk meningkatkan kenyamanan pelanggan saat menunggu KRL, termasuk ketika cuaca panas dan hujan.

KAI telah melaksanakan uji beban menggunakan lokomotif pada 29 Juni 2026 dan dilanjutkan dengan uji coba operasional KRL pada 1 Juli 2026. Tahapan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan keselamatan serta kualitas prasarana sebelum digunakan secara optimal. Selama proses pekerjaan berlangsung, KAI bersama KAI Commuter terus berkoordinasi agar pelayanan kepada pelanggan tetap berjalan dengan aman, tertib, dan lancar.

Sebelumnya kondisi peron dan jalur eksisting dinilai belum optimal untuk mendukung operasional rangkaian kereta dengan kapasitas yang lebih besar. Oleh karena itu, melalui proyek tersebut dilakukan perpanjangan peron pada jalur 6 dan 7 dari semula 201 meter menjadi 251 meter. Sementara itu, peron jalur 8 diperpanjang dari 204 meter menjadi 252 meter.

Berdasarkan data KAI semester I 2026, Stasiun Bogor menjadi stasiun dengan pergerakan penumpang KRL tertinggi dibandingkan stasiun lain yang melayani KRL Commuter Line Jabodetabek. Sepanjang Januari-Juni 2026, Stasiun Bogor mencatat 18.451.462 pergerakan penumpang KRL, terdiri dari 9.371.057 gate in dan 9.080.405 gate out. Rata-rata pergerakan penumpang KRL di Stasiun Bogor mencapai sekitar 101.942 per hari.

Dengan pergerakan penumpang KRL tertinggi pada semester I 2026, Stasiun Bogor berada di posisi pertama dengan 18.451.462 pergerakan penumpang. Capaian ini menunjukkan Stasiun Bogor sebagai simpul utama perjalanan harian penumpang KRL, sekaligus memperlihatkan kuatnya peran Bogor Line dalam mobilitas kawasan penyangga Jakarta.

Diketahui bahwa lintas Bogor merupakan salah satu lintas utama KRL Commuter Line yang melayani perjalanan masyarakat dari Bogor, Cilebut, Bojonggede, Citayam, Depok, hingga Jakarta. Selain Bogor yang menempati posisi pertama, Stasiun Citayam juga masuk lima besar, sedangkan Stasiun Depok Baru, Bojonggede, Cilebut, dan Depok masuk dalam jajaran stasiun dengan pergerakan pelanggan tinggi. Data ini memperkuat kebutuhan peningkatan kapasitas layanan pada lintas Bogor.

Stasiun Gorakhpur, Punya Peron Terpanjang di Dunia

Musim Liburan Sekolah Kereta Wisata Masih Jadi Incaran Wisatawan, Ini Jadwal Lengkapnya

Suasana libur sekolah tentu sangat berpengaruh dengan kunjungan destinasi wisata favorit. Ditambah lagi perjalanan dengan kereta api bisa merasakan fasilitas yang lebih nyaman. Berbagai fasilitas kereta api saat ini sudah dirasakan oleh masyarakat untuk ke kota tujuan. Salah satunya menggunakan kereta api wisata.

Ya, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) kini terus menyediakan layanan serta fasilitas yang lebih nyaman selama di perjalanan. Menggunakan kereta wisata juga merupakan incaran masyarakat apalagi di masa musim liburan sekolah seperti saat ini. Dari data KAI Group mencatat bahwa sepanjang Semester I 2026 dengan melayani 258.993.359 penumpang, meningkat 7,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 240.805.920 penumpang.

Selama Juli 2026 betbagai kereta wisata ini masih melayani sejumlah rute mulai dari Jakarta, Bandung, Solo, Garut, Banjar, Surabaya, hingga Malang. Berdasarkan informasi resmi PT KAI Wisata, inilah rute perjalanan kereta wisata yang aktif selama Juli 2026, sebagai berikut:

1. Kereta Wisata Panoramic
• Kereta Api Argo Wilis
Surabaya Gubeng: 08.30 WIB – Bandung: 18.17 WIB
Bandung: 07.45 – Surabaya Gubeng: 17.25 WIB

• Kereta Api Turangga
Surabaya Gubeng: 20.00 WIB – Bandung: 06.10 WIB
Bandung:17.40 WIB – Surabaya Gubeng: 03.40 WIB

• Kereta Api Manahan Pagi dan Malam
Solo Balapan: 09.50 WIB – Gambir: 17.31 WIB
Solo Balapan: 22.35 WIB – Gambit: 06.33 WIB
Gambir: 22.50 WIB – Solo Balapan: 06.31 WIB
Gambir: 10.30 WIB – Solo Balapsn: 18.18 WIB

• Kereta Api Pangandaran
Banjar: 16.55 WIB – Gambir: 01.10 WIB
Gambir: 08.30 WIB – Banjar: 16.08 WIB

• Kereta Api Papandayan
Garut: 12.40 WIB – Gambir: 18.00 WIB
Gambir: 06.35 – Garut: 11.45 WIB

• Kereta Api Parahyangan
Bandung: 05.00 WIB – Gambir: 08.01 WIB
Bandung: 10.25 WIB – Gambir: 13.13 WIB
Gambir: 18.25 WIB – Bandung: 21.20 WIB
Gambir: 13.40 WIB – Bandung: 16.42 WIB

2. Kereta Wisata Priority
• Kereta Api Pandalungan
Jember: 16.00 WIB – Gambir: 04.30 WIB
Gambir: 19.55 WIB – Jember: 09.00 WIB

• Kereta Api Brawijaya
Malang: 16.00 WIB – Gambir: 04.10 WIB
Gambir: 15.45 WIB – Malang: 03.38 WIB

• Kereta Api Malabar
Malang: 16.50 WIB – Bandung: 05.45 WIB
Bandung: 18.10 WIB – Malang: 06.52 WIB

• Kereta Api Gajahwong
Lempuyangan: 20.40 WIB – Pasar Senen: 04.33 WIB
Pasar Senen: 07.55 WIB – Lempuyangan: 15.50 WIB

• Kereta Api Senja Utama Yogyakarta
Yogyakarta: 17.30 WIB – Pasar Senen: 00.33 WIB

Pasar Senen: 19.00 WIB – Yogyakarta: 02.00 WIB
• Kereta Api Fajar Utama Yogyakarta
Yogyakarta: 07.00 WIB – Pasar Senen: 14.26 WIB
Pasar Senen: 07.35 WIB – Yogyakarta: 15.10 WIB

• Kereta Api Parahyangan
Bandung: 06.35 WIB – Gambir: 09.40 WIB
Bandung: 13.05 WIB – Gambir: 16.05 WIB
Gambir: 10.05 WIB – Bandung: 13.38 WIB
Gambir: 09.15 WIB – Bandung: 12.18 WIB

3. Kereta Wisata Imperial
• Kereta Tambahan Yogyakarta
Yogyakarta: 05.55 WIB – Gambir: 13.50 WIB
Yogyakarta: 15.40 WIB – Gambir: 23.30 WIB
Gambir: 05.15 WIB – Yogyakarta: 13.11 WIB
Gambir: 17.15 WIB – Yogyakarta: 00.43 WIB

Terkenal Karena Didi Kempot, Inilah Jejak Sejarah Stasiun Solo Balapan

Yang Unik dari Stasiun Tawang, Alunan Gambang Semarang Gantikan Bunyi Bel

Suara tembang atau musik Jawa biasanya lebih sering di dengar saat acara-acara kebudayaan Jawa, tapi apa jadinya saat kita hendak bepergian dengan kereta api tiba-tiba mendengar suara tembang Jawa tersebut di stasiun? Ya, ada beberapa stasiun di Jawa Tengah yang menggunakan melodi gambang ini untuk kedatangan maupun keberangkatan kereta api dari stasiun-staisun tersebut.

Baca juga: Stasiun Sruweng, Ternyata Punya Musik Berbeda dari Stasiun Lainnya Loh!

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber ada beberapa stasiun yang menggunakan tembang Jawa yakni Stasiun Semarang Tawang, bel stasiun yang digunakan adalah nada lagu Gambang Semarang yang dimainkan dengan piano. Melodi ini diperdengarkan untuk menandai kedatangan kereta di Stasiun Tawang.

Gambang Semarang ini pun juga diperdengarkan di Stasiun Semarang Poncol. Hanya saja bedanya alunan gambang tersebut dibunyikan saat kereta akan melintas, datang dan berangkat dari Stasiun Semarang Poncol.

Bahkan di Stasiun kecil Weleri yang menjadi satu-satunya stasiun di Kabupaten Kendal untuk menaik turunkan penumpang juga menggunakan Gambang Semarang tersebut. Meski begitu bukan hanya di jalur utara saja, di jalur selatan juga memiliki lagu kedatangan yakni di Stasiun Sruweng yang letaknya dekat dengan tepian sungai Serayu.

Di Stasiun Sruweng sendiri bahkan lagu ini pun diputar ketika terjadinya persilangan dikala malam. Alunan-alunan lagu yang dimainkan dengan piano ini sebenarnya bisa mengangkat salah satu kebudayaan Indonesia melalui tembang atau musik jawa.

Dengan alunan tembang Jawa tersebut stasiun-stasiun ini tidak seperti stasiun lainnya yang masih menggunakan nada Westminster Chime (ting…tong…ting…tong…) sebagai penanda kedatangan kereta. Nah, ternyata bukan hanya Indonesia saja yang memiliki musik untuk penanda kedatangan atau keberangkatan kereta.

Baca juga: Jingle di Stasiun Kereta Jepang, Bangkitkan Semangat Penumpang

Jepang, sebagai negara dengan kereta apinya yang cukup sibuk ternyata ikut ambil bagian memperdengarkan jingle untuk keberangkatan keretanya. Melodi jingle tiap stasiun pun berbeda antara satu dengan lainnya.

Uniknya bila di Indonesia menggunakan tembang Jawa, di Jepang, stasiun menggunakan musik dari berbagai lagu anime atau film terkenal seperti Star Wars, Astro Boy dan beberapa lainnya. Selain membuat melodi yang baru dari biasanya, tembang atau jingle tersebut bisa membangkitkan semangat dan bedanya di Indonesia tembang dibunyikan di stasiun jarak jauh sedangkan Jepang untuk stasiun kereta komuternya.

KunKun: Alat Pendeteksi Bau Badan, Seperti Apa Cara Kerjanya?

Hawa panas, berjejalan, dan minimnya ruang gerak ketika Anda berada di moda transportasi berbasis massal seperti  kereta api tidak jarang memaksa Anda untuk menghirup aroma tidak sedap yang berasal dari penumpang lain. Tentunya hal seperti ini membuat perjalanan Anda kurang nyaman, bukan? Terlebih jika ‘wewangian’ tersebut terus setia menemani perjalanan Anda hingga tujuan. Atau mungkin, si penyebar aroma tidak sedap tersebut adalah Anda?

Baca Juga: Akibat Bau Kentut, Pesawat Transavia Lakukan Pendaratan Darurat di Wina

Tidak melulu dari bau badan, bahkan salah satu kasus yang sedang hangat menjadi perbincangan publik dunia adalah ketika maskapai Transavia Airlines terpaksa melakukan pendaratan darurat di Vienna Airport, Austria pada awal Februari 2018 kemarin. Hal tersebut terjadi lantaran salah satu penumpangnya enggan untuk berhenti buang gas. Dinilai mengganggu kenyamanan penumpang lainnya dalam penerbangan itu, alhasil penumpang terkait diturunkan.

Nah, untuk meminimalisir menyebarnya bebauan tidak sedap tersebut, Daisuke Koda yang bekerja untuk Konica-Minolta mengembangkan sebuah alat yang dapat mendeteksi aroma tidak sedap. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman abc.net.au (26/8/2017), KunKun, begitulah nama dari alat ini, akan memberikan penilaian terhadap bau yang ia deteksi.

Dengan ukurannya yang tidak lebih besar dari smartphone dan berbentuk seperti sebuah radio transistor, Anda cukup mendekatkan KunKun ke objek yang dinilai menyebarkan aroma tidak sedap. Tunggulah sekitar 20 detik, hingga alat ini akan memaparkan tingkat kebauan dari si objek tersebut. “Kami ingin menciptakan budaya dimana Anda akan mendapatkan citra positif karena tidak memiliki bau badan,” tutur Daisuke Koda.

Mengingat Jepang merupakan salah satu negara yang menjadikan bau badan sebagai sumber dari masalah besar, maka tidak heran ketika karyawan di Konica-Minolta ini mengembangkan KunKun yang diharapkan dapat menjadi solusi masalah tersebut. “Di Jepang, ada yang namanya smell harassment, dimana orang yang memiliki aroma tubuh kurang sedap akan mendapatkan ‘perlakuan khusus’ ketika berada di tempat umum,” lanjutnya.

Baca Juga: Halau Rusa di Jalur Kereta, Peneliti Jepang Pasang Klakson Suara Anjing Melolong di Lokomotif

Jika menilik masa depan dari KunKun, maka alat pendeteksi bau ini bisa digunakan di banyak industri, sebut saja transportasi. Demi menunjang perjalanan yang nyaman, para operator layanan bisa terlebih dahulu menyaring penumpang yang memiliki bau badan sebelum mereka diperbolehkan untuk masuk ke dalam moda bersangkutan.

Lebar Bentang Rel Menjadi Ciri Khas Jalur KRL Jabodetabek

Jalur kereta komuter sudah lumrah hadir di beberapa daerah di Tanah Air, namun yang menjadi maskot dan barometer nasional adalah jalur KRL (Keret Rel Listrik) Jabodetabek yang dikelola olehPT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ). Banyak cerita yang menarik seputar KRL yang telah beroperasi sejak tahun 1976 ini, diantaranya ada fakta bahwa jalur rel KRL Jabodetabek hanya bisa digunakan oleh rangkaian kereta asal Jepang. Ini bukan terkait monopoli atas pengadaan dan lain-lain, melainkan menyangkut lebar rel yang urusannya berhubungan dengan sejarah panjang kereta api di Indonesia.

Baca juga: Antisipasi Pelecehan Seksual di KRL, Ikuti Tips Berikut Ini

Dirunut dari sejarah, pada tahun 1864 Pemerintah Hindia Belanda memulai proyek untuk membangun lintasan kereta dari Jakarta ke Bogor (d/h Batavia ke Buitenborg). Dari sejak proyek dimulai, namun pembangunan jalur rel baru dimulai pada tahun 1869. Ada jeda implementasi selama lima tahun, apakah kucuran dana tersedat?

Baca juga: Ingin Menikmati Sensasi Kereta Cepat, Bentang Lebar Rel Harus Diganti

Dikutip KabarPenumpang.com dari buku “The Untold Story of E-Ticketing – Kisah di Balik Modernisasi KRL Jabodetabek,” disebutkan bahwa jeda lima tahun dicurahkan hanya untuk mengkaji lebar rel (spoorwijdte). Awalnya lebar rel dirancang dan dipasang selebar 1.435, yakni jenis track standar yang paling banyak digunakan di seluruh dunia, sebagaimana dirancang oleh George Stephenson, Bapak Perkeretaapian Dunia. Lebar rel 1.435 mm pun sudah diterapkan di jalur kereta api Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta. Namun, Menteri Urusan Jajahan Belada De Wall pada 27 September 1869 justru memutuskan lebar rel mengadopsi standar 1.067 mm, atau dikenal sebagai track Afrika Selatan dan juga digunakan oleh Jepang.

Baca juga: Anda Mau “Survive” di Dalam Gerbong KRL? Yuk Ikuti Tipis Berikut Ini

Mengapa De Wall memutuskan penggunaan lebar rel 1.067 mm? Ini ternyata sudah melalui penelitian insinyur perkeretaapian JA Kool dan guru besar sekolah politeknik di Delft, NH Henket. Untuk jalur Jakarta – Bogor, bila tetap menggunakan lebar rel 1.435 mm, maka diperlukan dana 4 juta gulden, atau 68.259 gulden per kilometer. Namun dengan lebar rel 1.067 mm dapat dihemat 0,80 juta gulden, dengan total biaya hanya 3,19 juta gulden atau 43.600 per kilometer.

Baca juga: Mei 2017, Jumlah Penumpang KRL Jabodetabek Tembus 1 juta Per hari

Pada akhirnya, lintasan kereta Jakarta – Bogor resmi dioperasikan pada 31 Januari 1873. Dan sampai saat ini, lebar rel lintasan Jakarta – Bogor tetap 1.067 mm. Entah menjadi berkat atau sekaliknya, yang jelas lintasan KRL Jabodetabek hanya bisa dipasok KRL dari Jepang, negara yang sama-sama mengadopsi rel dengan lebar 1.067 mm. Seandainya dahulu yang diadopsi adalah standar lebar rel 1.435 mm, maka laju kereta bisa lebih tinggi, dan tak sulit bila nantinya ingin mentransformasikan penggunaan kereta cepat.

Shibuya Crossing, Fenomena Perlintasan Padat Manusia Bebas Senggolan

Lautan pekerja pejalan kaki rasanya sulit terlihat di Jakarta, justru yang dominan adalah lautan besar kendaraan yang mencoba berusaha lepas dari kemacetan. Bukan karena warga Ibu Kota malas berjalan kaki, tapi ada anggapan bahwa infrastruktur pejalan kaki, seperti trotoar tidak tersedia secara memadai. Dan bicara tentang lautan pekerja pejalan kaki, maka alam bawah sadar kita akan merujuk ke distrik Shibuya, Tokyo, Jepang

Baca juga: Jepang Terancam Tersingkir (Lagi) dari Persaingan Peremajaan Kereta di Indonesia

Banyaknya pejalan kaki ini akan terlihat pada jam-jam sibuk dan bisa diperkirakan sebanyak 2.500 orang yang akan menyeberang pada waktu yang bersamaan. Diketahui, distrik Shibuya ini memiliki sekitar sepuluh jalur lalu lintas mobil dan lima penyeberangan utama yang saling bertautan satu dengan lainnya. Tiap dua menitnya terdapat ribuan orang yang menyeberangi jalan ini, dimana akan semakin sibuk ketika stasiun Shibuya sudah dibuka dari jam 05.00 sampai 13.00 (7 hari dalam seminggu).

Saat isyarat lampu lalu lintas yang menandakan para pejalan kaki bisa menyeberang, dari keempat penjuru mata angin terlihat seperti air laut bergerak maju. Bila dilihat dari atas, para pejalan kaki ini seperti tentara besar yang akan maju bertempur, masing-masing bergerak untuk mencapai tujuan mereka.

Pada saat berjalan, satu dengan yang lain para pejalan kaki tersebut tidak terlihat bersenggolan sama sekali. Glionna mengatakan pada tulisannya, saat berada di tengah seperti kartu yang dikocok di tangan yang meluncur mulus saat melewati yang lainnya.

Waktu yang dihabiskan para pejalan kaki ini untuk menyeberang selama hampir satu menit penuh, persimpangan tersebut penuh lautan manusia dan perlahan berkurang hingga hampir kosong. kalaupun ada, hanya beberapa orang yang bergegas melewati jalan tersebut sebelum tanda berhenti kembali menyala. Setelah selesai para pejalan kaki, yang terlihat kemudian adalah lalu lintas kendaraan seperti biasanya. Para pejalan kaki ini akan seperti siklus dan selalu berulang saat jam sibuk di kota Shibuya.

Yang paling ikonik dari Shibuya Crossing ini ialah banyaknya papan reklame dan video dengan layar lebarnya. Begitu juga terdapat truk-truk promosi yang diisi dengan papan reklame yang terang menyala melingkari penyeberangan ini secara berulang-ulang. Setiap harinya total orang yang melintasi persimpangan ini bisa mencapai 1 juta orang sehingga pada waktu-waktu tertentu bisa tampak kacau. Bila hujan turun dimana ada begitu banyak orang yang melewati satu titik persimpangan yang sama membuat jalanan begitu penuh dan kacau. Terlebih semua orang menggunakan payung yang satu sama lainnya saling bersinggungan.

Lampu lalu lintas disini juga terkenal sangat singkat sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi siapapun yang melintas disini supaya tidak “terjebak” dengan lampu merah terus-menerus.

 

Jadi Ajang Kampanye Produk, Pegangan Tangan di Angkutan Umum Dibuat Unik

Bagi Anda yang kerap kali menggunakan sarana TransJakarta atau Commuter Line Jabodetabek (KRL), pasti Anda tidak asing lagi dengan yang namanya  atau pegangan tangan. Desainnya pun beragam, dari mulai yang berbentuk lingkaran hingga segitiga. Pegangan tangan ini ditujukan bagi para penumpang moda tersebut yang tidak kebagian tempat duduk sehingga mereka bisa menyeimbangkan diri selama dalam perjalanan.

Baca Juga: Seni Tingkat Tinggi Siap Hiasi Stasiun-Stasiun di Ottawa

Namun, di tangan orang-orang kreatif, pegangan tangan tersebut tidak hanya berperan sebagai salah satu alat penunjang keselamatan dalam berkendara, namun bisa menjadi suatu hal yang menarik untuk dilihat. Ide ini muncul ketika beberapa perusahaan besar di dunia mencoba untuk beriklan di lokasi yang strategis, dimana setiap hari orang-orang bisa melihat dan akhirnya penasaran dengan produk mereka.

Ketika moda transportasi berbasis massal seperti bus dan kereta api mulai diminati oleh khalayak ramai, para perusahaan ini seolah mendapat ilham dengan mencoba untuk memasang iklan di sana. Ketika moda-moda tersebut melaju dengan kecepatan tinggi, para penumpang yang tidak kebagian tempat duduk tentu membutuhkan sebuah pegangan agar mereka bisa tetap seimbang. Dan di situlah beberapa perusahaan besar di dunia mulai terinspirasi untuk membuat iklan di pegangan tangan tersebut.

Baca Juga: Wow! Bekas Menara ATC ini Disulap Jadi Penthouse

Selain itu, beriklan melalui pegangan tangan di moda transportasi dinilai akan menjangkau “pasar” yang lebih luas dan dapat dengan mudah menjadi viral di dunia maya. Para penumpang yang bosan dengan perjalanan mereka juga pasti akan melihat ke arah pegangan tangan tersebut dan membaca setiap kalimat yang ada di dalamnya. Cara pemasaran gerilya yang sangat unik! Berikut adalah beberapa contoh pegangan tangan kreatif yang KabarPenumpang.com sarikan dari laman boredpanda.com.

Sedang Memegang Handle atau Angkat Barbel?

Sumber: boredpanda.com

Diketahui ini merupakan salah satu bentuk iklan dari Fitness Company yang terpasang di subway di Jerman. Unik ya!

Pegangannya Kok ke Rambut?

Sumber: istimewa

Ini merupakan salah satu bentuk iklan kreatif yang digunakan oleh sebuah perusahaan shampoo, Gard dalam mempromosikan produk terbarunya, yaitu shampoo untuk rambut kuat. Handles kreatif ini bisa ditemui di Frankfurt, Jerman.

Baca Juga: Intip Langsung Kungstradgarden, Stasiun Bawah Tanah Paling Keren di Dunia

Pegangannya Berbentuk Ban

Sumber: boredpanda.com

Sebuah perusahaan ban terkenal asal Korea Selatan, Hankook pun tidak mau melewatkan momen untuk mempromosikan produknya. Mereka mendesain handles menyerupai bentuk ban, mirip dengan aslinya. Tentu saja dengan ukuran yang disesuaikan, ya!

Handle Berbentuk Minuman Kaleng

Sumber: boredpanda.com

Ini merupakan salah satu bentuk kampanye Pepsi dalam mempromosikan produknya. Diketahui, pegangan tangan ini bisa ditemui di hampir 3400 bus yang tersebar di seluruh Amerika.

Pegangannya ke Dasi, Hati-Hati Tercekik

Sumber: boredpanda.com

Ini merupakan ajang promosi dari salah satu perusahaan yang bergerak di bidang peminjaman. Pegangan unik ini dapat kita jumpai di subway di Tokyo, Jepang.

Tarif Kereta Bandara Kualanamu Mulai dari Rp5.000 aja, Cek Info Lengkapnya Disini

Penumpang kereta api di wilayah Divisi Regional (Divre) 1 Sumatra Utara kini kian meningkat. Pasalnya banyak masyarakat yang menggunakan transportasi kereta api ke berbagai wilayah di wilayah tersebut. Bahkan data dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) mencatat kenaikan penumpang pengguna kereta api cukup signifikan. Salah satunya adalah Stasiun Medan yang kini makin ramai.

Berbagai kereta api yang melintas di Stasiun Medan ini beragam, mulai dari kereta api jarak jauh hingga kereta bandara yang menuju Bandara Internasional Kualanamu. Ya, jika dilihat, pengguna kereta bandara juga naik secara signifikan. PT Railink (KAI Bandara) berkomitmen untuk terus meningkatkan konektivitas transportasi publik di Sumatera Utara melalui penambahan layanan kereta api yang akan menjangkau lebih banyak masyarakat, khususnya di wilayah Kabupaten Deli Serdang dan sekitarnya.

Komitmen tersebut didasarkan pada tingginya minat masyarakat terhadap layanan KA Srilelawangsa yang terus menunjukkan tren pertumbuhan positif hingga kini. Pada periode Januari hingga Mei 2026, layanan KA Srilelawangsa telah melayani 1.775.762 pelanggan, yang terdiri dari 664.833 pelanggan relasi Medan – Bandara Kualanamu dan 1.110.932 pelanggan relasi Medan – Binjai – Kualabingai. Capaian ini menunjukkan bahwa kereta api telah menjadi salah satu moda transportasi pilihan masyarakat untuk perjalanan menuju bandara maupun perjalanan antar kota di wilayah Sumatera Utara.

Presiden Direktur PT Railink, Porwanto Handry Nugroho, mengatakan bahwa peningkatan jumlah pelanggan menjadi indikator kuat kebutuhan masyarakat terhadap layanan transportasi publik berbasis rel yang andal dan terjangkau. Pertumbuhan jumlah penumpang KA Srilelawangsa menunjukkan bahwa masyarakat semakin mempercayai transportasi kereta api sebagai sarana mobilitas sehari-hari.

Dari hal tersebut, kini PT Railink menambah layanan baru bagi penumpang Kereta Bandara Kualanamu. Layanan dengan rute Bandara – Lubuk Pakam ini sudah bisa dinikmati penumpang dengan tarif yang sangat murah, yaitu Rp5.000.

Pengoperasian layanan baru ini merupakan hasil sinergi antara PT Kereta Api Indonesia (Persero), Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan, dan PT Railink dalam menghadirkan layanan transportasi yang semakin mudah dijangkau, aman, nyaman, tepat waktu, dan terjangkau bagi masyarakat.

Melalui dukungan PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebagai induk perusahaan serta dukungan pemerintah melalui DJKA Kementerian Perhubungan dalam penyelenggaraan layanan Public Service Obligation (PSO), masyarakat kini dapat menikmati layanan kereta api dengan tarif hanya Rp5.000 per perjalanan.

Layanan baru ini beroperasi sebanyak 4 perjalanan setiap hari dengan relasi Stasiun Medan – Stasiun Bandar Khalipah – Stasiun Batang Kuis – Stasiun Araskabu – Stasiun Lubuk Pakam (PP). Perjalanan menggunakan sarana Kereta Rel Diesel Elektrik (KRDE) Woojin dengan jarak tempuh 29,366 kilometer dan waktu perjalanan sekitar 45 menit.

Selain memperlancar mobilitas harian, layanan ini juga akan mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan, pariwisata, serta meningkatkan konektivitas dengan Bandara Internasional Kualanamu dan Kota Medan. Perluasan layanan ini merupakan bagian dari komitmen PT Railink untuk terus mendukung program pemerintah dalam meningkatkan penggunaan transportasi massal berbasis rel.

Bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan DJKA Kementerian Perhubungan, KAI Bandara akan terus berinovasi menghadirkan layanan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung pembangunan transportasi yang berkelanjutan. Sinergi ini menjadi bukti komitmen bersama dalam menghadirkan layanan transportasi publik yang aman, nyaman, tepat waktu, dan terjangkau.

Jejak Sejarah Stasiun Medan, Sisakan Kenangan Menara Jam Antik