Sepi Pesanan, Boeing 747 Beralih dari “Queen of the Skies” Jadi “Flying Truck”

Pihak Boeing akhirnya secara gamblang menyebutkan pada Selasa (20/6/2017) waktu setempat bahwa sementara model kargo 747 jumbo jetnya akan terus dijual, walaupun “Queen of the Skies” (julukan untuk Boeing 747) tidak akan lagi digunakan sebagai pesawat penumpang. Berbeda dengan pesaingnya, Airbus, Boeing meragukan si pesawat besarnya tersebut dari seluruh aspek, termasuk pada bisnis pesawat jet penumpang. Hal tersebut dilontarkan Randy Tinseth, wakil presiden pemasaran Boeing dalam pagelaran Paris AirShow 2017, sebagaimana dilansir KabarPenumpang.com dari chicagotribune.com (20/6/2017).

Baca Juga: Tak Lagi Gunakan Airbus A380, Qatar Airways Ganti Armada Tujuan Atlanta

Randy berharap di tahun-tahun yang akan datang Boeing hanya menjual beberapa jenis nonfreighter dari 747 saja, yang terdiri dari pesawat VIP pribadi untuk kepala negara asing ditambah 2 atau 3 pesawat Boeing 747 khusus yang nantinya akan dipasok untuk Air Force One, pesawat kepresidenan AS. “Kami tidak melihat adanya permintaan dalam angka yang cukup besar untuk pesawat ini,” imbuhnya. Tentu saja, ini merupakan pukulan telak bagi salah satu ikon dalam dunia penerbangan.

Pada awalnya, pesawat raksasa ini dirancang dan dibangun oleh tim Boeing ini diprakarsai oleh salah satu insinyur legendaris, Joe Sutter. Pesawat berjuluk “The Incredible” ini mampu membawa dua setengah kali lebih banyak dari pada pesawat jet jarak jauh pendahulunya, Boeing 707. Karena ukuran Boeing 747 yang sangat besar, mampu merubah perjalanan udara pada era 70-an hingga 80-an dari maskapai yang hanya bisa diakses oleh masyarakat kelas wahid menjadi dapat diakses oleh masyarakat kelas menengah. Hal ini disebabkan adanya pembagian kelas dalam kabin pesawatt tersebut.

Sampai saat ini, Boeing telah mengirimkan lebih dari 1.500 unit Boeing 747 Jumbo Jet sejak Januari 1970. Namun, seiring perkembangan jaman, pasar untuk pesawat bermesin empat mulai tergeser dengan teknologi mesin kembar yang dinilai lebih hemat dalam segi pengoperasian. Pada saat yang sama, jaringan rute telah berevolusi untuk mendukung pesawat kecil terbang lebih sering dan langsung, daripada pesawat besar yang melewati hub raksasa.

Baca Juga: Beroperasi Singkat, Maskapai Indonesia Ini Tinggal Cerita

Penurunan pemesanan Boeing terlihat pada bulan Mei lalu, dimana manufaktur pesawat tersebut hanya menerima lima pesanan untuk pesawat jet penumpang model 747-800. Sedangkan kompetitornya, Airbus, menerima 100 pesanan superjumbo A380. Setahun yang lalu, Boeing memprediksi bahwa lebih dari 20 tahun yang akan datan, maskapai penerbangan di dunia membutuhkan 430 pesawat dari jenis 747 dan A380. Angka tersebut jelas menunjukkan suatu penurunan drastis terhadap pemesanan pesawat Boeing, terjun bebas sekitar 290 unit disbanding tahun kemarin.

Maskapai-maskapai papan atas, seperti Air France, All Nippon Airways, Japan Airlines, Cathay Pacific dan Singapore Airlines semuanya telah mengandangkan Boeing 747 dari armada mereka. Dan tahun ini, United Airlines dan Delta menjadi maskapai AS yang tersisa yang masih mengandalkan Boeing 747, dikabarkan tengah bersiap untuk menggunakan produsen maskapai lainnya dan berpaliing dari Boeing. Hingga saat ini, menurut Randy, Boeing hanya memiliki 15 pesanan untuk 747 di backlog-nya.

H-4 Lebaran, Baru 338.795 Orang Pemudik Menyeberang ke Sumatera

Masuk ke H-4 jelang Lebaran, arus pemudik dari Jawa tujuan ke Sumatera terus terlihat di Pelabuhan Merak. Secara total, berdasarkan data Posko Merak dari H-10 hingga pagi ini (21/6), tercatat jumlah penumpang yang telah diseberangkan mencapai 338.795 orang atau naik tipis 0,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 338.713 orang. Lalu, untuk roda dua, tercatat 15.587 unit atau turun 37,4 persen dibandingkan tahun lalu 24.914 unit, roda empat mencapai 32.567 unit atau turun 1,8 persen dibandingkan tahun lalu 33.153 unit.

Baca juga: H-5 Lebaran, Malam Ini Pelabuhan Merak Diprediksi Mulai Dipadati Pemudik

Roda empat/lebih tercatat 48.047 unit atau naik 3,6 persen dibandingkan tahun lalu yang hanya 46.392 unit. Sehingga total kendaraan seluruhnya yang telah menyeberang ke Bakauheni mencapai 63.634 unit atau turun 10,8 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai 71.306 unit.

Sementara itu, data produksi harian Posko Merak hingga pukul 08.00 pagi ini (H-5) mencatat trip kapal mencapai 128 trip selama 24 jam, atau naik 25,5 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai 102 trip. “Jumlah trip memang mengalami kenaikan, seiring dengan pengoperasian dermaga VI Pelabuhan Merak yang selesai dibangun pada Maret lalu. Kini, terdapat 6 dermaga dari sebelumnya hanya 5 dermaga yang beroperasi di Merak,” tuturnya.

Baca juga: Beroperasi 2018, PT ASDP Lakukan Ground Breaking Pembangunan Dermaga Eksekutif Merak – Bakauheni

Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers hari ini, total penumpang mencapai 84.239 orang atau turun 32,6 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 125.003 orang, yang terdiri dari pejalan kaki 13.520 orang atau turun 43,4 persen dibandingkan tahun lalu 23.906 orang, dan penumpang di dalam kendaraan 70.719 orang atau turun 30 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 101.097 orang.

Untuk jumlah sepeda motor 5.467 unit atau turun 63,6 persen dibandingkan tahun lalu 15.033 unit, roda 4 (kendaraan kecil) sebanyak 9.945 unit atau turun 14,5 persen dibandingkan tahun lalu 11.638 unit, bus 448 unit atau turun 16,3 persen dibandingkan tahun lalu sebanyak 535 unit, truk 1.173 unit atau naik 70,2 persen dibandingkan tahun lalu sebanyak 689 unit, dan jumlah kendaraan roda 4 lebih 11.568 unit atau turun 10,1 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 12.862 unit. Sehingga jumlah total kendaraan mencapai 17.033 unit atau turun 38,9 persen dibandingkan tahun lalu sebanyak 27.895 unit.

Kendati produksi harian mengalami penurunan jika dibandingkan periode sama tahun lalu, diperkirakan Rabu (21/6) malam ini akan kembali terjadi peningkatan kepadatan baik untuk pemudik pejalan kaki, sepeda motor maupun kendaraan mobil pribadi.

Peningkatan Arus Mudik di Ketapang
Mengacu pada data produksi dari Pelabuhan Ketapang tercatat kapal yang beroperasi sebanyak 33 unit atau turun 4% dari tahun lalu 35 unit; trip mencapai 255 atau naik 7% dari tahun lalu sebanyak 210 trip. Lalu, penumpang mencapai 19.022 orang atau turun 11% dari tahun lalu sebanyak 21.340 org. Adapun sepeda motor berjumlah 646 unit atau turun 2% dari tahun lalu 657 unit; dan untuk R4 mencapai 3.323 unit atau turun 7% dari tahun lalu 3.567 unit.

Baca juga: Mengenal Inflatable Liferaft, Sosok Tabung Berwarna Putih di Geladak Kapal

Sebaliknya, dari Gilimanuk tercatat 37 unit kapal beroperasi atau turun 10% dari tahun lalu sebanyak 41 unit; Trip mencapai 222 atau naik 5% dari tahun lalu sebanyak 212 unit. Adapun penumpang mencapai 47.477 orang atau turun 25% dari tahun lalu sebanyak 63.717 orang. Tercatat untuk sepeda motor mencapai 9.590 unit atau turun 31% dari tahun lalu 13.952 unit; sedangkan R4 mencapai 5.226 unit atau turun 18% dari tahun lalu 6.405 unit.

Sementara, total pengguna jasa yang menyeberang dari H-10 sampai dengan H-5 dari Pelabuhan Ketapang tercatat penumpang mencapai 104.150 orang atau naik 2% dari tahun lalu sebanyak 101.931 org; sepeda motor mencapai 4.808 unit atau naik 3% dari tahun lalu 4.648 unit; dan mobil pribadi mencapai 20.886 unit atau naik 3% dari tahun lalu 20.235 unit.

Sebaliknya, dari pelabuhan Gilimanuk, tercatat penumpang mencapai 199.910 orang atau turun 6% dari tahun lalu 213.806 orang; sepeda motor mencapai 36.724 unit atau turun 12% dari tahun lalu 41.940 unit; mobil pribadi sebanyak 27.689 unit atau naik 3% dari tahun lalu 26.876 unit.

Waspada! “Human Trafficking” Lewat Moda Transportasi Umum

The Transportation Security Administration (TSA) menghimbau kepada siapa saja yang berada di bandara pada liburan musim panas untuk tetap waspada dengan orang-orang yang berada di sekelilingnya yang mungkin saja merupakan korban dari perdagangan manusia (human trafficking) atau bahkan tersangka dari kejahatan jenis tersebut. Sejatinya, para pelaku jenis kejahatan ini akan mudah berbaur dengan warga sekitar karena kondisi bandara yang bisa dibilang tidak pernah sepi.

Baca Juga: Delay Luar Biasa, 6 Maskapai Ini Pecahkan Rekor!

Sebagaimana KabarPenumpang.com melansir dari wsav.com (16/6/2017), TSA mencatat ada lebih dari 2 juta orang yang mengudara di atas langit Amerika setiap harinya, dan fakta tersebut diamini oleh James Scott, Direktur Keamanan Savannah/Hilton Head International Airport. James mengatakan kuat kemungkinan orang-orang yang ada di bandara tersebut memiliki hubungan dengan kasus perdagangan manusia.

James menambahkan, orang-orang yang disinyalir sebagai korban dari perdagangan manusia bisa dilihat dari ciri-ciri yang melekat pada tubuh mereka. “Para korban biasanya memiliki luka lebam, dan identitas mereka seperti paspor dan lain-lain dipegang oleh orang lain. Mereka juga tdak diijinkan untuk berbicara, andaikan ada yang mengajaknya berbicara, maka pendampingnya lah yang akan menjawab pertanyaan tersebut,” tuturnya.

Berlandaskan pada masalah tersebut, setiap tahunnya TSA melakukan pelatihan sesuai dengan yang telah diamanatkan oleh Department of Homeland Security Blue Campaign, sebuah lembaga yang diperuntukkan sebagai penumpas perdagangan manusia. Terhitung sejak 2010 silam, bekerja sama dengan Departemen Imigrasi dan Bea Cukai, pelatihan ini ditujukan untuk mendorong kesadaran para karyawan dan penumpang untuk melihat dan melakukan intervensi dalam kasus-kasus perdagangan manusia.

Sheila Frederick. Sumber: independent.co.uk

Himbauan ini tentu saja mengingatkan kita tentang kejadian yang menimpa seorang remaja yang diduga sebagai korban perdagangan manusia di Negeri Paman Sam. Adalah Sheila Fedrick, seorang pramugari Alaska Airlines yang bertolak dari Seattle menuju San Francisco pertama kali menyadari ada sesuatu yang janggal dengan salah seorang penumpang yang berada di maskapai tersebut. Dalam keterangannya, Sheila mengatakan gadis itu Nampak lusuh dengan rambut yang berminyak.

Kejanggalan tersebut memancing Sheila untuk bertanya kepada remaja tersebut, namun pertanyaannya dijawab oleh kedua lelaki yang duduk persis di sampingnya, bahkan gadis itu sama sekali tidak menatap Sheila. Gerak-gerik ketiga orang ini semakin aneh ketika Sheila mencoba untuk berbicara lebih dalam, kedua pria ini terlihat lebih defensif dengan mementahkan semua pertanyaan yang dilontarkan.

Baca Juga: Semprotan Merica Masih Ampuh Melawan Penjahat

Melihat keanehan tersebut, pramugari asal Negara Bagian Alabama itu lalu mengisyaratkan gadis tersebut untuk pergi ke kamar kecil. Sejurus kemudian, Sheila langsung pergi ke kamar mandi dan meninggalkan surat di cerminnya. Ternyata gadis belia tersebut membalas surat yang ditinggalkan oleh Sheila yang bertuliskan bahwa ia membutuhkan bantuan.

Sheila yang kaget lalu bergegas menuju ke kokpit dan memberitahu pilot mengenai kejadian yang baru saja ia alami. Tak membutuhkan waktu lama, sang pilot lalu mendaratkan pesawatnya dan petugas berwajib langsung mengamankan kedua pria yang diduga sebagai pelaku perdagangan manusia tersebut. Jadi, diharapkan bagi pengguna sarana transportasi dimanapun berada, untuk lebih waspada dan lebih peka terhadap sekitar, siapa tahu Anda bisa menjadi pahlawan layaknya Sheila Fedrick.

Jelang Beroperasi, PT MRT Jakarta Buka Lowongan Kerja

Menjelang masa operasi moda raya terpadu yang ditargetkan pada Maret 2019, PT MRT Jakarta membuka kesempatan kerja di sejumlah posisi guna mengoptimalkan layanan kepada masyarakat. Pada Kamis (15/6) lalu, pengumuman rekrutmen telah serentak dirilis di sosial media dan situs web resmi PT MRT Jakarta.

“Kami memanggil putra-putri terbaik Indonesia untuk bergabung dalam mensukseskan operasional PT MRT Jakarta. Terutama dalam hal menyiapkan operasional, kami benar-benar ingin melibatkan generasi muda terbaik yang dimiliki bangsa ini sehingga kami dapat menjadi operator kelas dunia,” ucap Tubagus Hikmatullah, Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan PT MRT Jakarta.

Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (20/6), posisi-posisi yang dibuka untuk para pelamar adalah di sektor Operasi dan Pemeliharaan, Manajemen Perusahaan, Keuangan dan Administrasi, serta sektor Konstruksi. Pendaftaran dibuka hingga 31 Agustus 2017 dengan persyaratan umum, di antaranya: Warga Negara Indonesia, tingkat pendidikan minimal Strata 1 untuk jurusan terkait, minimal memiliki pengalaman kerja selama satu tahun, dan bersedia berperan aktif dalam upaya mengubah Jakarta menjadi lebih baik.

Untuk beberapa posisi pekerjaan seperti mechanical engineering, electrical engineering, civil engineering, dan staff station, tingkat pendidikan minimal yang disyaratkan adalah Diploma 3 dengan usia maksimal 27 tahun. Sementara untuk posisi-posisi yang disebutkan sebelumnya, tidak ada pembatasan usia.

Tahap seleksi penerimaan karyawan baru PT MRT Jakarta ini meliputi seleksi administrasi, psikotes, wawancara, dan proses pemeriksaan kesehatan. Tata cara pendaftaran yang lebih lengkap dapat dilihat di tautan berikut: http://jakartamrt.co.id/informasi/karier/.

Hingga 31 Mei 2017, kemajuan Proyek MRT Jakarta secara keseluruhan telah mencapai 73,38% dengan rincian 60,25% untuk pekerjaan depo dan struktur layang serta 86,64% untuk pekerjaan struktur bawah tanah.

Alasan Politik, Pemerintah Mesir Perintahkan Taksi Online Gunakan Aplikasi Pelacak

Kembali pada tahun 2014 silam, dimana sejumlah oknum karyawan Uber menggunakan alat pelacak “God Mode” yang mereka miliki untuk memata-matai semua orang yang pernah menggunakan jasa transportasi berbasis aplikasi ini, termasuk dari kalangan selebriti. Sebagai sanksi pada karyawannya melakukan penyelewengan, Uber kemudian menjatuhkan denda kepada para pelaku dan bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Baca Juga: Uber Punya Fitur Peringkat Untuk Pengguna dari Pengemudi

KabarPenumpang.com melansir dari thedrive.com (12/6/2017) silam, kejadian malfungsi seperti yang terjadi pada tahun 2014 silam tentu akan jauh lebih sulit dilakukan di Mesir, sebab pemerintahan di bawah Presiden Abdel Fattah el-Sisi menekan pihak penyedia jasa, yaitu Uber dan Careem untuk menyerahkan data pelacakan terhadap penumpang yang naik pada hari itu. Namun, kedua pesaing tersebut tidak bisa menolak permintaan data tersebut berhubung Parlemen Mesir yang akan segera mempertimbangkan sebuah undang-undang yang akan mewajibkan para perusahaan ride-sharing untuk menggunakan server di dalam negeri dan memberikan akses kepada pemerintah untuk mendapatkan data pergerakan secara langsung.

“Akan sulit mencari sebuah alasan yang logis untuk meminta data ekstensif mengenai pergerakan para pengguna jasa ini, kecuali jika pemungutan data ini merupakan upaya untuk meningkatkan pengawasan yang lebih luas,” kata Claire Lauterbach, seorang anggota kelompok advokasi di London bernama Privacy International. Dengan adanya desas-desus ini, maka beberapa golongan dengan lantang menolak pemberian data perjalanan mereka, layaknya sedang dimata-matai.

Baca Juga: Ride-Sharing, Upaya Uber Untuk Lebih Mengerti “Perasaan” Pengguna

Meskipun pada awalnya menolak, tapi aplikasi bernama Heaven ini tengah dimatangkan oleh pemerintah Mesir guna memberikan pengawasan langsung terhadap pengguna jasa layanan transportasi berbasis aplikasi. Menurut kabar yang beredar, pejabat intelijen militer bersedia memberikan “perlakuan istimewa” kepada Careem, saingan utama Uber, jika telah memenuhi tuntutan pemasangan “God Mode” tersebut.

Jika Rancangan Undang-Undang (RUU) tersebut resmi naik kelas menjadi Undang-Undang, maka akan sangat mudah bagi Mesir untuk meraup data perjalanan para oposisi politik (katakanlah, di mana pemimpin aktivis saling bertemu) atau melakukan pemblokiran layanan untuk menggagalkan demonstrasi. Memang tidak semua efek yang mungkin ditimbukan berbau negatif, namun masyarakat mungkin berpikir tidak semua tentang dirinya perlu diketahui oleh orang lain, apalagi pemerintah.

Adakah Yang Berbeda Antara Pramugari dan Awak Kabin?

Pernahkah Anda bingung perbedaan pramugari (stewardess) dan awak kabin (flight attendant)? Keduanya berada di dalam satu pesawat yang sama untuk membantu memenuhi kebutuhan dan menjaga kemaanan penumpang pesawat terbang. Dilansir KabarPenumpang.com dari work.chron.com, istilah pramugari saat ini sudah digantikan dengan awak kabin di semua maskpai penerbangan.

Baca juga: Identifikasi Kebutuhan Penumpang, Awak Kabin Air New Zealand Adopsi Augmented Reality

Hal ini, mungkin terdengar aneh, sebab masih banyak penumpang yang menyebut pramugari ketimbang awak kabin. Sebab, sebutan pramugari selalu dikaitkan dengan kesan negatif dimana terlihat seperti seorang model yang mengangkasa bersama pesawat. Sehingga pada tahun 1960-an dan 1970-an, dihapuslah perbedaan gender untuk pekerjaan pada penerbangan di kabin. Hal tersebut membuat banyak pria memasuki lapangan pekerjaan pada maskapai dan menjadikan istilah awak kabin kini lebih tepat dan disukai.

Sebagai ilustrasi, pada tahun 1950-an seorang pramugari diwajibkan terdaftar untuk menjadi seorang perawat atau telah berkuliah di sebuah perguruan tinggi selama dua tahun. Menjadi seorang pramugari hal paling utama adalah penampilan, kala itu definisi pramugari adalah perempuan berkulit putih dengan usia 21-26 tahun, dan memiliki tinggi minimal 160 cm dan berat tidak lebih dari 62 kg atau harus memiliki berat badan yang proporsional sesuai tinggi badan. Selain itu, pramugari diwajibkan seorang perempuan lajang yang belum menikah ataupun janda.

Baca juga: 6 Panduan Kru Maskapai Menangani Penumpang yang Berpuasa

Namun untuk saat ini, seorang awak kabin diperbolehkan bertugas pada usia minimal 18 tahun, meski untuk usia 21 tahun lebih di utamakan. Maskapai saat ini semakin memilih untuk menjadi seorang awak kabin. Salah satu contohnya seorang awak kabin baiknya memiliki gelar sarjana bidang perhotelan, pariwisata, komunikasi atau hubungan masyarakat. Sedangkan untuk posisi awak kabin internasional, diwajibkan fasih berbahasa asing, ini biasanya menjadi nilai lebih. Tak hanya itu, setiap awak kabin atau petugas penerbangan juga harus lulus dalam ujian fisik, dimana setiap awak kabin mampu mencapai bagasi diatas kepala, dan yang jelas bentuk tubuh proporsional.

Untuk menjadi seorang awak kabin, harus bisa memastikan keselamatan penumpang. Sebab banyak penumpang pesawat adalah seorang pengusaha dan awak kabin harus membuat penumpang merasa nyaman. Tetapi, sayangnya banyak penumpang dan masyarakat yang menganggap awak kabin hanyalah pelayan penerbangan, padahal perkerjaan ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebab setiap pramugari dan awak kabin selalu dilatih dengan prosedur keselamataan dan menjadikan hal tersebut tanggung jawab paling vital dari pekerjaan mereka.

Baca juga: Pentingnya Pelampung Untuk Keselamatan Penerbangan

Dalam setiap penerbangan, awak kabin harus menjelaskan keselamatan penerbangan, mengarahkan penumpang untuk menggunakan sabuk pengaman, memberikan bantuan pertama hingga mengarahkan prosedur evakuasi dalam keadaan darurat. Seperti bila ada ancaman terorisme dalam sebuah penerbangan, awak kabin harus mampu mencari cara untuk bertindak dalam situasi yang mengancam jiwa banyak orang.

Petugas penerbangan atau awak kabin berpartisipasi dalam briefing pre-flight tentang cuaca dan keselamatan, memeriksa peralatan keselamatan dan persediaan makanan dan minuman sebelum keberangkatan, mengumpulkan pembayaran untuk minuman beralkohol dan makanan jika ditawarkan, periksa kondisi kabin setelah mendarat dan laporkan ke maskapai medis manapun. Atau masalah lain yang tidak biasa yang terjadi selama penerbangan.

Tak Suka Disebut Pramugari, Awak Kabin Tingkatkan Kinerja

Banyak para awak kabin (cabin crew) atau flight attendant perempuan yang tidak suka disebut dengan pramugari. Hal ini didasari banyak sekali hal yang tidak mengenakkan. Dilansir KabarPenumpang.com dari jalopnik.com, tak sukanya seorang awak kabin perempuan disebut pramugari karena banyak yang berpikir bahwa seorang pramugari adalah “pelayan perempuan.”

Baca juga: 10 Seragam Pramugari Paling Ikonik di Dunia

Ini terlihat dari iklan sebuah maskapai penerbangan Braniff International Airways yang terkenal pada masanya. Dalam iklan tersebut terlihat seorang pramugari mengganti bajunya berkali-kali seperti menyuguhkan peragaan busana dan bisa membuat para penontonnya berpikiran tak senonoh. Iklan seperti ini dianggap obyektif terhadap perempuan karena seperti menjual dirinya. Padahal di masa jayanya, busana pramugari Braniff menggunakan rancangan desainer papan atas.

Pacific Southwest Airways (PSA) merupakan maskapai lainnya yang menggunakan iklan dengan daya tarik pramugari. PSA tahun 1965 membuat iklan rok mini, mantan pramugari PSA Marilyn Tritt menuliskan dalam bukunya “Long Legs and Short Nights” bahwa dulu ada perbedaan pramugari dan petugas keamanan. Dia mencatat petugas pengamanan ada di dalam kabin untuk menjaga keamanan sedangkan pramugari hanya dijadikan sajian mata, menggoda dan menyajikan minuman.

“Pramugari tidak diizinkan melakukan pengumuman di PA, karena tidak ada yang bisa memahami,” tulis Marilyn dalam bukunya.

Baca juga: Seragam Pramugari Garuda, Beda Warna, Beda Pula Arti dan Jabatannya

Saat ini banyak hal baru dan awak kabin saat ini menganggap bahwa sebutan pramugari merupakan hinaan terhadap profesi mereka dan untuk pribadi diri mereka. Sebab pekerjaan mereka lebih berat dan bukan hanya sebagai pemanis kabin saja. Seorang penulis New York Times Heather Poole pernah mengatakan tahun 1960an selama masa kejayaan PanAm, ada beberapa persyaratan sebagai pramugari dimana harus memiliki tinggi minimal 160 cm dan berat tidak lebih dari 62 kg. Tak hanya itu, seorang pramugari harus pensiun pada usia 32 tahun.

Selama masa tugas, pramugari tidak boleh menikah dan memiliki anak. Sedangkan tahun 1970-an organisasi pramugari untuk hak-hak perempuan memaksa maskapai untuk mengubah cara yang selama ini mereka terapkan. Dimana usia pensiun adalah hal yang paling pertama wajib dilakukan, dan mempekerjakan para pria untuk menjadi seorang awak kabin. Saat itulah maskapai beralih menjadi netral gender dan menjadi awak kabin lagi.

“Kata ‘pramugari’ sudah usang tetapi saya tidak keberatan bila seseorang memanggil saya sebagai pramugari. Ini hanya sebuah kemunduran ke waktu yang lebih lama. Saya menganggapnya sebagaai pujian,” ujar Marylin.

Baca juga: Gara-Gara Bikini Pemilik VietJet Jadi Orang Kaya Nomor 2 di Vietnam

Sebuah buku Cruising Attitude : Tale of Crashpads, Crew Drama dan Crazy Passangers at 35000 feet merupaakan bacaan yang bagus. Dimana dalam buku ini menulis tentang rasanya menjadi seorang awak kabin.

Terkait masalah ini, awak kabin PSA dan Braniff bukanlah satu-satunya yang membuat iklan agar maskapainya terkenal, Southwest yang bergabung tahun 1971 juga membuat iklan yang menghadirkan seorang pramugari menggunakan bawahan celana pendek dn sepatu bot gogo. Namun, ternyata masih banyak maskapai lain yang membuat pramugari mereka untuk dijadikan model.

Salah satunya yakni Ryanair yang menerbitkan kalender baju renang tahunan yang hasilnya digunakan untuk amal. Sayangnya Oktober 2014 pihak maskapai menghentikan produksi kalender, karena maskapai ingin menjadi maskapai dengan penerbangan ramah keluarga.

Baca juga: DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an

Maret 2015, Jepang Skymark memulai debut seragam baru untuk para awak kabin dengan menampilkan para awak kabin tersebut. Dalam penampilannya, Jepang Skymark menampilkan wajah-wajah muda yang dianggap tidak mematuhi undang-undang diskriminasi usia. Dalam hal ini, awak kabin juga di tuntut untuk melakukan perawatan dan sebisa mungkin kursus untuk memoles wajah dengan make up, cara berpakaian dan lainnya.

tetapi awak ANA, Korean Airlines ataupun Singapore Airlines tak perlu melakukan hal itu semua, sebab para awak kabin ini benar-benar bekerja keras dalam pesawat dan melakukan pelatihan yang sangat ketat. Bila nantinya pun masuk masa pensiun, biasanya para awak kabin Singapore Airlines tidak susah mencari pekerjaan di bidang jasa.

Lion Air Pesan 50 Unit Boeing 737 MAX 10 Senilai US$6,24 Miliar

Dalam ajang Paris AirShow 2017 yang kini tengah berlangsung di Perancis (19 – 25 Juni), Lion Air Group mengumumkan komitmennya untuk pemesanan 50 unit pesawat terbang tipe 737 MAX 10. Nilai dari pemesanan tersebut mencapai US$6,24 miliar pada daftar harga yang akan di rilis ke dalam situs pemesanan dan pengiriman Boeing.

“Lion Air Group menjadi maskapai pengguna pertama di dunia yang mengoperasikan 737 MAX 8 dan merupakan pemesan pertama dari Boeing 737 MAX 9. Dengan komitmen untuk pemesanan 50 unit 737 MAX 10, kami kembali menjadi yang terdepan dalam hal ini, serta membantu meluncurkan versi terbaru dari generasi Boeing 737”, Ujar Presiden Direktur Lion Air Group, Edward Sirait, dikutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (19/6/2017).

Baca juga: Lion Air, Punya Citra Buruk Soal Keterlambatan Jadwal Penerbangan

Lion Air Group adalah salah satu maskapai pengguna 737 Next-Generation terbesar di dunia yang sebelumnya telah memesan 201 unit Boeing MAX. Maskapai ini juga merupakan pemesan pertama dari 737 MAX 9 dan anak perusahaannya, Malindo Air yang berbasis di Malaysia adalah maskapai pertama yang menerima pengiriman dan mengoperasikan 737 MAX 8 dalam layanan komersial. “Boeing merasa terhormat bahwa pesawat 737 terus memainkan peran integral dalam armada dan strategi pertumbuhan Lion Air Group. Komitmen ini merupakan bukti kemampuan pesawat 737 MAX dan kami berharap dapat memberikan MAX 9 dan MAX 10 untuk mereka di tahun-tahun mendatang”, Ujar Presiden Boeing Commercial Airplanes & CEO Kevin McAllister.

Baca juga: DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an

Seperti model Boeing 737 MAX lainnya, MAX 10 menggabungkan teknologi terkini CFM International LEAP-1B engine, sayap teknologi Advanced, Boeing Sky Interior, display dek penerbangan besar, dan perbaikan lainnya untuk memberikan efisiensi, keandalan dan kenyamanan penumpang dalam pasar single-aisle ini. Boeing 737 MAX 10X menawarkan jarak yang lebih jauh dibandingkan armada pesawat lorong tunggal Boeing saat ini, menyaingi Airbus A321neo, yang akan mengangkut hingga 240 penumpang. Pesawat ini dibuat untuk rute lintas negara, seperti New York ke Los Angeles. Pesawat Boeing terbaru itu diperkirakan akan mulai beroperasi pada 2020.

Baca juga: Airbus A320Neo – Tawarkan Kabin Lebih Senyap, Inilah Pesawat Terbaru Citilink

Perusahaan pesawat kelas dunia ini nampaknya tengah serius memperbaiki pendapatan perusahaan. Boeing segera melakukan perbaikan setelah di tahun 2016 lalu mendapat tamparan keras atas penjualan kompetitornya Airbus yang mampu mengokohkan posisinya di dunia penerbangan. Sebanyak 688 unit pesawat terbang komersial bisa diserahkan kepada 82 pemesan, dari 731 unit pesanan pasti pada 2016, dan jumlah backlog yang sangat sehat, yaitu 6.874 unit pesawat terbang. Selain Lion Air, maskapai lain yang disebut-sebut menyatakan minatnya pada Boeing 737 MAX 10X adalah Garuda Indonesia.

H-5 Lebaran, Malam Ini Pelabuhan Merak Diprediksi Mulai Dipadati Pemudik

Memasuki H-5 Lebaran, pemudik yang menggunakan jasa penyeberangan diprediksi akan ramai berdatangan di Pelabuhan Merak mulai Selasa (20/6) malam ini. Berdasarkan rekap data Posko Merak yang dihitung sejak Senin (19/6) pukul 08.00 hingga Selasa pukul 08.00 pagi, walau mengalami penurunan dibanding tahun lalu, sekitar 57.384 orang penumpang telah menyeberang ke Bakauheni, Lampung.

Baca juga: Pantau Trafik di Area Pelabuhan, PT ASDP Maksimalkan Penggunaan Drone

Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers hari ini, GM PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Merak Tommy L Kaunang mengatakan meski kepadatan penumpang pada H-5 tidak setinggi realisasi tahun lalu, diperkirakan arus penumpang akan mulai meningkat malam ini. “Sejak H-7 atau Minggu (18/6) hingga Selasa (20/6) dini hari arus penumpang belum signifikan khususnya pejalan kaki. Relatif masih sepi. Diperkirakan mulai nanti malam dan besok akan mulai ramai sebelum puncak arus mudik yang diperkirakan jatuh pada Kamis (22/6) dan Jumat (23/6),” ujar Tommy, Selasa (20/6) siang.

Data produksi hingga pukul 08.00 pagi ini mencatat trip kapal mencapai 127 trip selama 24 jam, atau naik 30,9 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai 97 trip. Adapun total penumpang mencapai 57.384 orang atau turun 20,3 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 72.033 orang, yang terdiri dari pejalan kaki 9.795 orang atau turun 21,1 persen dibandingkan tahun lalu 12.421 orang, dan penumpang di dalam kendaraan 47.589 orang atau turun 20,4 persen dibandingkan tahun lalu 59.612 orang.

Kondisi tripod pada terminal penumpang di Pelabuhan Merak pada Selasa (20/6) dini hari.

Baca juga: Buffer Zone, Solusi PT ASDP Untuk Memecah Konsentrasi Pemudik

Lalu, jumlah sepeda motor 2.977 unit atau turun 33,6 persen dibandingkan tahun lalu 4.486 unit, roda 4 (kendaraan kecil) sebanyak 6.415 unit atau turun 19,9 persen dibandingkan tahun lalu 8.008 unit, bus 392 unit atau turun 3,9 persen, truk 1.675 unit atau naik 30,4 persen dibandingkan tahun lalu sebanyak 1.285 unit, dan jumlah kendaraan roda 4 lebih 8.482 unit atau turun 12,6 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 9.701 unit. Sehingga jumlah total kendaraan mencapai 11.459 unit atau turun 19,2 persen dibandingkan tahun lalu sebanyak 14.187 unit.

Secara total, dari H-10 hingga pagi ini, tercatat jumlah penumpang yang telah diseberangkan mencapai 254.556 orang atau naik 19,1 persen dibandingkan tahun lalu yang hanya 213.710 orang. Lalu, untuk roda dua, tercatat 10.120 unit atau naik 2,4 persen dibandingkan tahun lalu 9.861 unit, roda empat mencapai 22.622 unit atau naik 5,1 persen dibandingkan tahun lalu 21.515 unit. Roda empat/lebih tercatat 36.461 unit atau naik 6,8 persen dibandingkan tahun lalu yang hanya 33.530 unit. Sehingga total kendaraan seluruhnya mencapai 46.601 unit atau naik 7,3 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai 43.411 unit.

Baca juga: Di 2017 PT ASDP Canangkan Penambahan Layanan E-Ticketing dan Dermaga

“Pemudik tidak perlu khawatir berdesakan saat berada di loket, karena jumlahnya sangat memadai. Tahun ini, loket penumpang pejalan kaki tersedia 33 loket atau bertambah 20 loket dibandingkan reguler sebanyak 13 loket. Sedangkan loket untuk sepeda motor juga ditambah 13 loket dari 4 loket reguler menjadi 17 loket. Dan untuk roda empat dari reguler yang hanya 8 unit, ditambah 9 loket menjadi 17 loket unit tahun ini,” jelasnya.

Kembangkan Teknologi Autopilot, Boeing Tawarkan Self Flying Plane

Tidak sedikit orang yang akan mengernyitkan dahi ketika ditawarkan untuk melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat otonom. Namun, fase inilah yang baru saja dimasuki oleh Boeing, dimana perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang aviasi tersebut punya visi untuk menciptakan sebuah jet yang bisa terbang dengan sendirinya, tanpa bantuan pilot manusia atau pilotless (self flying plane). Dilansir KabarPenumpang.com dari wired.com (9/6/2017), Wakil Presiden bagian pengembangan produk Boeing, Mike Sinnett mengatakan keperluan mendasar untuk kemajuan teknologi ini sudah tersedia.

Baca Juga: Boeing Tampilkan Konsep Kamar Mandi Mewah Pada Business Jet Class

Sebenarnya, teknologi autopilot yang selama ini terpasang di kebanyakan maskapai sudah melakukan sebagian besar tugas pilot dan tidak memiliki masalah walaupun kondisi cuaca sedang buruk serta jarak pandang yang terbatas. Lebih lanjut, Mark mengatakan akan melakukan uji coba terhadap otomatisasi tersebut dalam sebuah emulator pada musim panas ini, dan mengaplikasikannya pada pesawat nyata tahun depan.

Teknologi autopilot yang digunakan oleh kebanyakan maskapai perlahan-lahan mulai disandingkan dengan otomatisasi lainnya yaitu Flight Management Sytstem (FMS). Begitu pilot memasuki rencana penerbangan, FMS menentukan cara paling efisien untuk mengikutinya. Sistem komputerisasi mengandalkan jaringan sensor yang canggih di seluruh pesawat terbang untuk terus memantau dan menyesuaikan kecepatan, ketinggian saat mengudara, dan faktor lainnya. Dengan kata lain, sebenarnya pilot bisa bersantai dengan diaplikasikannya sistem semacam ini.

Baca Juga: DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an

“Walaupun terbilang santai, secara hukum kami tidak diizinkan untuk tidur,” tutur Douglas M. Moss, konsultan penerbangan AeroPacific Consulting yang menerbangkan Boeing 757 dan 767. “Tapi ada kalanya pilot yang merasa jenuh dengan pengaplikasian sistem ini,” tambahnya. Pilot masih perlu memantau kondisi angin dan cuaca, memperhatikan konsumsi bahan bakar, dan mengendalikan pesawat secara manual selama turbulensi dan berbagai situasi lainnya. Namun, Douglas menegaskan, sebaik-baiknya sistem autopilot yang diterapkan, manusia masih bisa melakukannya dengan lebih baik.

Selain dari kebijakan yang diterapkan oleh pihak maskapai, tipe pesawat juga berperan dalam pengadaan sistem otomatisasi di moda udara tersebut. Untuk Airbus, manufaktur yang berbasis di Perancis ini cenderung lebih mengandalkan otomatisasi ketimbang penggunaan jasa pilot, walaupun bisa saja sang pilot mengesampingkan untuk menggunakan otomatisasi tersebut. Berkaca dari situ, Boeing mencoba untuk menguji teknologi mutakhir tersebut walaupun pada akhirnya, sang pilot manusialah yang menentukan pilihannya. “Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing,” kata Clint Balog, mantan pilot tes yang meneliti kinerja manusia, kognisi, dan kesalahan di Embry Riddle Aeronautical University.

“Dua hal yang berbanding terbalik bisa dilihat dari Airbus dan Boeing. Ketika Airbus mencoba untuk menghindari kesalahan yang dibuat oleh manusia, sedangkan Boeing masih mengandalkan kemampuan akal sehat dari manusia,” tambahnya dilansir dari sumber yang sama.

Baca Juga: Bermasalah di Mesin, Airbus A330 China Eastern Terpaksa Return to Base

Namun, pengaplikasian otomatisasi pada pesawat yang disandingkan dengan keberadaan pilot tidak semuanya berjalan mulus. Kurangnya pelatihan kepada pilot dalam kondisi tertentu bisa saja membuat mereka kurang sigap dalam menghadapinya, contohnya adalah kondisi darurat. Beberapa penyidik lalu menyangkutpautkan kebimbangan ini dengan insiden Air France Flight 447 yang tenggelam di Samudera Atlantik pada tahun 2009 silam dan menewaskan 228 jiwa. Mereka lalu menghubungkan kejadian ini dengan kegagalan mendadak dari sistem autopilot Airbus A330. Dengan kata lain, kru kokpit seolah kebingungan ketika sistem otomatis tersebut mendadak berhenti.

“AF447 adalah contoh klasik dari apa yang bisa salah dengan otomatisasi,” ucap Clint. Kru penerbangan tidak mengerti sistem otomasi, mereka hanya mempercayainya. Sang kapten bisa saja menyelamatkan maskapai tersebut dengan melakukan beberapa tindakan sederhana, namun kepanikan terlanjur membutakan semuanya.

Otonom penuh menjanjikan penerbangan yang lebih aman dengan menghilangkan risiko kesalahan manusia. Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Untuk saat ini, manusia masih berjaya diatas komputerisasi dalam menghadapi berbagai kondisi darurat, seperti yang berkaitan dengan keamanan dan perbaikan mekanis yang cepat. Namun, dibalik semua tantangan yang terampang di depan mata, rintangan terbesar yang harus dihadapi oleh pihak aviasi adalah bagaimana cara merebut hati para penumpang dan meyakinkan mereka bahwa penerbangan otonomi memang benar-benar lebih aman, mengingat salah satu faktor kecelakaan yang terjadi di banyak moda disebabkan oleh human error.