Boeing 747 Dilelang Online, Inikah Akhir Cerita dari The Queen of The Skies?

Siapa yang tidak mengenal Boeing 747, pesawat yang sempat berada di puncak kejayaannya di era 1960 hingga 1990-an. Bagi para pecinta dunia dirgantara, tentu salah satu impian mereka adalah bisa memiliki pesawat berjuluk The Queen of the Skies ini, karena mereka bisa berbangga diri karena memiliki salah satu ikon dunia penerbangan ini. Dan impian para pecinta pesawat terbang untuk bisa memiliki The Queen of the Skies  hampir terealisasi dengan dibukanya pelelangan untuk tiga unit Boeing 747.

Baca Juga: Sepi Pesanan, Boeing 747 Beralih dari “Queen of the Skies” Jadi “Flying Truck”

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman economist.com (26/9/2017), sebuah pengadilan negeri di Shenzhen, salah satu kota besar di Provinsi Guangdong, Cina melelang tiga Boeing 747 milik maskapai Jade Cargo International  yang bangkrut pada tahun 2012 silam. Uniknya, pelelangan tersebut dilakukan melalui situs jual beli online, Taobao.com, yang hampir serupa dengan eBay, Amazon, dan Rakuten. Pada awalnya, pesawat tersebut dilelang secara offline atau pelelangan pribadi. Tapi setelah gagal selama enam kali, barulah pelelangan ini dilakukan secara online. Adapun harga terendah yang ditawarkan pada pelelangan tersebut adalah 122 juta yuan atau setara dengan Rp248 miliar.

Namun Anda jangan dulu kaget, karena kejadian seperti ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Tahun lalu, sebuah perusahaan berbasis di Florida yang membeli dan menjual suku cadang pesawat, Concorde Aerospace melakukan pelelangan serupa. Mereka melelang Boeing 747 di eBay seharga US$300.000 atau setara dengan Rp4,1 miliar. Harga rendah yang Concorde tawarkan bukan tanpa alasan, mereka melepas mesinnya dan hanya menjual body-nya saja. Meski begitu, pesawat tersebut tidak kunjung terjual. “Karena ongkos pengirimannya melebihi harga pesawatnya sendiri,” tukas Mert Balta, pendiri Concorde Aerospace.

Tentu ini merupakan sebuah kabar buruk bagi Boeing yang mulai kehilangan pasarnya setelah beberapa  pihak melelang salah satu mahakaryanya. Situasi ini semakin diperkeruh dengan pernyataan United Airlines dan Delta yang mengumumkan bahwa tahun ini merupakan periode terakhir mereka menerbangkan seri Boeing 747. Salah satu vokal yang menjadi titik terjun bebasnya Boeing 747 di pasaran adalah inefisiensinya dalam biaya operasi.

Baca Juga: Inilah Fakta di Balik Berhentinya Produksi Boeing 747-8 Intercontinental

Sesuai dengan julukannya “Jumbo Jet”, pesawat ini dinilai terlalu berat ketimbang burung besi lan yang mengaplikasikan twin engine. Selain itu, Boeing 747 juga dinilai boros dalam penggunaan bahan bakar. Sebagai contoh, dalam penerbangan dari New York menuju Los Angeles, Boeing 747 akan menghabiskan 30 persen lebih banyak bahan bakar daripada kompetitornya, Airbus A320 yang diketahui mengunakan twin engine dengan ukuran body yang lebih kecil. Biaya pengoperasian 747 terasa menjadi lebih mahal saat harga minyak dunia melambung di akhir tahun 1990-an.

Selain dua masalah di atas, perubahan pola penerbangan yang terjadi belakangan ini membuat pamor pesawat yang berukuran lebih kecil dari 747 naik drastis, karena pihak maskapai bisa menerbangkan penumpang dengan interval yang lebih pendek daripada harus menunggu bangku The Queen of the Skies terisi penuh. Namun, terlepas dari berbagai alasan pensiunnya Boeing 747, pesawat ini tetap bisa dimanfaatkan oleh tangan-tangan orang kreatif. Diketahui, beberapa pesawat ini bertransformasi menjadi sebuah restoran mie di Korea Selatan hingga sebuah asrama di dekat bandara Stockholm di Swedia.

Beberapa Mitos Seputar Hak Calon Penumpang Pesawat

Sesuai dengan standar pelayanan penerbangan, regulator telah membuat undang-undang untuk melindungi hak-hak dari calon penumpang dan penumpang pesawat. Meski topiknya dominan pada masalah ganti rugi akibat penundaan/pembatalan penerbangan, sampai asuransi, namun tentang hak pengguna jasa kerap menimbulkan mitos di tengah pemahaman masyarakat.

Dan berikut kami sarikan beberapa mitos populer tentang hak pengguna jasa penerbangan, dan fakta yang sebenarya.

Baca juga: 5 Mitos Seputar Online Travel Agents yang Terbantahkan

1. Anda akan diberi kompensasi jika penerbangan di batalkan
Hal ini tidak sepenuhnya benar secara universal, sebab jika penerbangan dibatalkan karena masalah teknis, kru tidak tersedia atau alasan lain dimana pihak maskapai yang salah maka aotomatis akan ada kompensasi. Tetapi jika penundaan dikarenakan cuaca, atau hal-hal yang diluar kendali manusia, maka maskapai tidak akan memberikan kompensasi baik itu untuk pembatalan penerbangan, penginapan, makanan hingga transportasi.

2. Jika melewatkan penerbangan, Anda akan dipindah kepenerbangan lainnya
Sayangnya, hal ini tidaklah selalu benar, dimana jika Anda meminta untuk penerbangan berikutnya saat terlambat, mungkin akan membayar tiket ekstra untuk hal tersebut. Biasanya ini tergantung dari maskapai penerbangannya sendiri. Alasan ini pun tergantung kenapa Anda terlambat ikut penerbangan, jika alasannya terlambat sampai bandara karena ban kendaraan kempes, maksapai akan mencoba mentolerirnya dan membantu untuk mengganti penerbangan, tetapi Anda harus menunggu. American Airlines, Delta Airlines dan United Airlines mungkin akan membantu Anda mendapat penerbangan lainnya. Tetapi jangan berharap untuk penerbangan dengan Southwest Airlines, JetBlue, Spirit Airlines atau Virgin America, karea tidak akan mau membantu.

3. Kejadian alam yang luar biasa
Jika saat akan melakukan penerbangan dan terjadi kejadian alam yang luar biasa di bandara tempat keberangkatan, maka semua akan terdampak. Ini mengartikan bahwa Anda akan ikut dalam penerbangan berikutnya dan penumpang lainnya tidak bermasalah walaupun penerbangan Anda dibatalkan itu pun bila ada kursi yang tersedia. Atau bisa saja Anda menunggu untuk mengambil kesempatan berangkat di penerbangan berikutnya.

4. Penerbangan tertahan karena terlambat check in
Bila Anda terlambat check in karena ada masalah yang serius, maka penumpang menjadi pihak yang butuh belas kasihan. Keterlambatan check in pada faktanya bisa membuat maskapai sedikit merugi.

Baca juga: Lima Mitos Yang Keliru Seputar Dunia Penerbangan

5. Maskapai penerbangan bangkrut
Sebuah maskapai yang bangkrut dan dihentikan izin operasinya secara regulasi memang wajib mengembalikan dana kepada calon penumpang. Namun perlu dicatat, proses pengembalian dana tiket kerap tidak lancar, pasalnya pihak maskapai dalam waktu yang bersamaan juga harus menangani masalah keuangan perusahaan. Yang terbaik adalah berharap maskapai ini menawarkan tarif lebih rendah untuk maskapai lainnya.

 

 

Gunung Agung Siap Erupsi, Apa Kabar Aktivitas Wisatawan di Bali?

Pemberitaan media belakangan ini terkonsentrasi terhadap status Gunung Agung di Karangasem, Bali yang sudah meningkat menjadi awas. Dengan tiga ratus gempa tremor yang terjadi pada Minggu (24/9/2017), rentang tengah malam hingga dini hari, seolah menjadi pertanda bahwa salah satu dari tiga gunung vulkanik di Pulau Dewata ini siap meletus kapan saja. Ditambah kepulan asap putih membumbung setinggi 200 meter di atas kawah, menandakan gunung tersebut siap memuntahkan laharnya.

Baca Juga: Aktivitas Magma Gunung Agung Meningkat, Angkasa Pura I Siap Antisipasi Dampak Erupsi

Untuk menindaklanjuti kemungkinan Gunung Agung yang bisa meletus kapan saja, evakuasi warga yang tinggal di sekitaran gunung tersebut pun mulai dilakukan secara mandiri. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, hingga saat ini sudah lebih dari 350.000 warga yang diungsikan ke penampungan sementara. Kemungkinan angka tersebut akan berlipat ganda jika letusan terjadi. Adapun posko pengungsian terletak di radius 9 km dan 1 2km dari kawah Gunung Agung.

Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengumumkan beberapa daerah yang berpotensi hancur akibat letusan gunung berapi tertinggi di Bali ini. Daerah yang berpotensi tinggi mengalami kehancuran akibat aliran lava mencakup 7 km sebelah barat laut jarak maksimum dari kawah, 13 km sebelah timur laut jarak maksimum dari kawah, dan 11 km sebelah tenggara jarak maksimum dari kawah.

Diketahui, Gunung Agung terakhir meletus pada tahun 1963 dan beristirahat hingga kini. Pada letusan yang terjadi sejak 2 Februari 1963 hingga 27 Januari 1964, menewaskan 1.549 orang, menghancurkan 1.700 rumah, dan sekitar 225.000 orang kehilangan mata pencaharian mereka. Tidak hanya berdampak pada warga Bali, letusan gunung tersebut pun tercatat menurunkan suhu bumi sebesar 0,4 derajat celcius. Hal itu disebabkan oleh material vulkanik dari gunung yang terbang hingga jarak 14.400 km dan “bersemayam” di atmosfer bumi.

Mengingat Pulau Dewata merupakan destinasi wisata favorit para wisman, mulai banyak travel advise yang diterbitkan oleh beberapa negara, karena pemberitaan tentang gunung ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Sebut saja Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia menyarankan agar menunda semua kegiatan di luar ruangan yang dilakukan oleh warganya di Bali. Wisatawan didesak oleh Departemen untuk selalu waspada saat berkunjung ke Bali, terutama ketika kondisi yang kurang kondusif seperti sekarang.

Berbeda dengan Kementerian Luar Negeri Inggris yang mendesak semua warga negaranya  yang berada di Bali untuk tetap mematuhi peraturan yang diberlakukan oleh pihak berwenang dan tetap berada di luar zona eksklusi.

Baca Juga: Operasional Bandara Ngurah Rai di Bawah Bayang-Bayang Erupsi Gunung Agung

Sementara itu, pihak Bandara Internasional Ngurah Rai mengaku masih menjalankan roda penerbangan secara normal. “Penerbangan dari dan ke Bandara Ngurah Rai hingga saat ini masih terpantau normal, dengan melayani 50.000 hingga 60.000 pelancong  keluar masuk setiap harinya,” tutur General Manager Bandara Internasional Ngurah Rai, Yanus Suprayogi.

Adapun AirNav Indonesia menyiapkan skenario pengalihan penerbangan menuju Bali jikalau Gunung Agung erupsi. Setidaknya, ada 10 bandara yang siap menampung penerbangan menuju bandara Ngurah Rai, yaitu Jakarta, Solo, Surabaya, Banyuwangi, Lombok, Ambon, Manado, Makassar, Balikpapan, dan Kupang.

“Kita akan buat skenario yang detail jika ada erupsi. Kalau terjadi siang bagaimana, sore bagaimana, kalau malam bagaimana. Karena ini berbeda situasi traffic-nya kalau pagi-siang sibuk, mungkin malam agak sepi. Tapi paling penting kita mengatasi pesawat yang di udara ini tidak terkena abu,” papar Direktur AirNav Indonesia, Novie Riyanto.

Amadeus Tawarkan Teknologi Check In Barang Bawaan Berbasis Cloud

Sebentar lagi penumpang tidak akan direpotkan lagi oleh barang bawaan saat akan ke bandara maupun ke pelabuhan. Hal ini dikarenakan adanya inovasi sistem check in pertama di dunia yang berbasis cloud hasil rancangan Amadeus IT Group SA.

Baca juga: Penanganan Bagasi di Bandara Kini Libatkan Teknologi RFID

KabarPenumpang.com melansir dari bloomberg.com (19/9/2017), teknologi ini yang akan memudahkan check in untuk kelompok wisatawan yang menginap di hotel, sekolah, pusat konferensi dan stadion olahraga. Penyedia pemesanan penerbangan terbesar di dunia, mengatakannya pada Selasa lalu dimana tas yang dibawa ke bandara dengan truk akan melewati pemeriksaan seperti biasa.

Virgin Australia Holdings Ltd juga akan merintis layanan ini setelah sukses melakukan uji coba di terminal penerbangan utama Sydney. Hal ini dikatakaan oleh spesialis logistik lokal OACIS yang bekerjasama dengan Amadeus, dimana memungkinkan penumpang untuk menikmati waktu sebelum penerbangan mereka dan tidak dibebani dengan barang bawaan.

Di bandara penumpang tak lagi direpotkan dengan barang bawaan saat chek in atau menunggu keberangkatan pesawat. Sistem ini memanfaatkan teknologi berbasis cloud untuk mengakses penumpang pesawat dalam proses sistemnya dari jarak jauh. Inovasi teknologi tersebut kemungkinan akan diluncurkan Virgin di seluruh bandara di Australia dan Selandia Baru pada 12 sampai 18 bulan kedepan.

Baca juga: Global Locator, Alat Pelacak Posisi Bagasi Dalam Penerbangan

Salah satu kandidat yang sudah jelas akan memperluas layanan ini adalah Miami, dimana menjadi pelabuhan tersibuk dunia untuk keberangkatan kapal pesiar. Penggunaan inovasi teknologi pada pelabuhan Miami dikatakan oleh Chief Executive OACIS Matt Lee. “Mereka tertarik ingin melihat bagaimana kita pergi dari sini di Miami menuju ke Australia. Tantangan bagi kami hanyalah kecepatan di mana kita menggunakan teknologi ini untuk memudahkan penumpang melakukan pemindahan barang dengan cepat,” kata Lee.

Kemudahan sistem ini sendiri, bisa digunakan hampir di mana saja, mengingat kesederhanaan dan kurangnya fasilitas permanen. “Contohnya seperti kita berada di satu tempat dari pukul enam pagi sampai sebelas pagi serta kemudian menutup toko dan pergi begitu saja. Disini, kami punya fleksibilitas itu,” tambah Lee.

Tak hanya itu di Inggris terkait masalah penerbangan, yang diluncurkan pada bulan Juli lalu, juga akan mengeksplorasi cakupan untuk mengurangi titik-titik kepadatan penumpang di bandara melalui perluasan kiriman barang bawaan dan check in. Ini mencontoh Hong Kong Airport Express, yang memungkinkan wisatawan mengantarkan barang bawaan ke stasiun dua hari sebelum terbang dan mengumpulkannya pada perjalanan.

Bird Strike Paksa AirAsia QZ104 ‘Return to Base’ di Bandara Kualanamu

Lagi, kasus bird strike atau serangan burung kembali hangat diperbincangkan setelah sebuah pesawat AirAsia terpaksa kembali ke bandara awal (return to base) pada Selasa (26/9/2017) siang lalu. Pesawat dengan nomor penerbangan QZ104 tujuan Penang, Malaysia tersebut melakukan pendaratan darurat di Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara sesaat setelah pesawat tersebut take-off.

Baca Juga: Bird Strike! Masih Jadi Momok Menakutkan dalam Dunia Penerbangan

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman freemalaysiatoday.com (26/9/2017), mesin pesawat Airbus A320 milik maskapai AirAsia kemasukan beberapa burung yang mengakibatkan gagal mesin. Pesawat yang lepas landas pada pukul 13.25 WIB tersebut diketahui tengah mengangkut sekitar 150 penumpang yang mayoritas berkebangsaan Indonesia.

Sekitar lima menit pesawat mengudara, sang pilot lalu mengumumkan kepada penumpang bahwa pesawat akan kembali ke Kualanamu menggunakan second engine karena terkena bird strike. Untungnya, pesawat tersebut bisa mendarat dengan selamat dan insiden ini tidak memakan korban. Sesampainya kembali di bandara, para penumpang terdampar setelah mereka diminta oleh pihak maskapai untuk mengklaim barang bawaan.

“Seluruh penumpang dan awak pesawat selamat. Mereka dievakuasi ke ruang tunggu gate 4, sementara pesawat menjalani pemeriksaan,” terang Junior Manager Branch Communication Bandara Kualanamu, Abdi Negoro. “Bird strike terjadi pada engine nomor dua. Kerusakan pada fan blade nomor 16 dan 17,” imbuhnya dilansir dari sumber berbeda.

Akibat kejadian ini, pesawat batal mengudara dan penumpang diberi dua opsi, pengembalian uang tiket atau berangkat dengan pesawat yang sama pada keesokan harinya. Setelah melewati serangkaian perbaikan dan dianggap sudah layak terbang, pesawat dengan registrasi PK-AXU kembali mengudara keesokan harinya.

“Pesawat dengan registrasi PK-AXU, berangkat dari Kualanamu menuju Penang (Malaysia) pada pukul 05.43 WIB,” kata Abdi.

Baca Juga: The Robird Drone, Robot Penangkal Bird Strike di Bandara Edmonton

Kejadian serupa juga pernah menimpa maskapai AirAsia X pada 4 Juli 2017, dimana penerbangan tersebut terpaksa melakukan pendaratan darurat di Brisbane karena diduga terkena bird strike. Penerbangan D7207 menuju Kuala Lumpur diketahui baru saja lepas landas dari Gold Coast, Australia pada pukul 22.20 waktu setempat.

Air Asia X di Brisbane. Sumber: stuff.co.nz

Tak lama berselang, penumpang mendengar sebuah letusan dan melihat api menyala dari bagian mesin. “Pesawat mulai bergoyang, lalu ada beberapa dentuman keras dan banyak percikan api,” ungkap salah seorang penumapng dilansir dari sumber berbeda. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, dan penumpang terpaksa melanjutkan perjalanan setelah pesawat selesai diperbaiki.

Dibentuk Sejak 1993, KNKT Sinergikan Para Investigator Kecelakaan di Tiga Moda

Nama entitas yang satu ini terbilang sering disebut, terutama setiap terjadi kecelakaan yang menyangkut moda transportasi, Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT menjadi yang paling dicari oleh awak media untuk bisa memberikan keterangan tentang sebab musabab terjadinya kecelakaan. Namun tahukah Anda tentang sejarah komite yang langsung berada di bawah Presiden ini?

KNKT dibentuk sejak tahun 1993 dengan penggagas Alm Prof Oetarjo Diran atau yang biasa di panggil Prof Diran bersama beberapa orang lainnya salah satunya adalah Prof Mardjono. KNKT terbentuk karena adanya desakan dari ICAO (International Civil Aviation Organization). Awal terbentuknya untuk meneliti masalah dalam penerbangan Indonesia yang terkait dengan kecelakaan.

Baca juga: KNKT: Isi Black Box Bisa Diterjemahkan ke Format Excel

Akhirnya pada tahun 1999 KNKT berdiri secara sah dengan Keputusan Presiden Nomor 105 Tahun 1999 sebagai lembaga independen tetap bertanggung jawab kepada publik melalui Menteri Perhubungan. Prof Diran setelah disahkannya KNKT menjadi kepala KNKT pertama dan saat itu menangani kecelakaan pesawat Garuda Indonesia di Medan dan Silk Air di Palembang.

Kepala KNKT saat ini Soerjanto Tjahjono mengatakan setelah pembentukan KNKT, kemudian di bentuklah investigator darat dan laut, karena inestigator udara sudah sangat banyak. Ini untuk menginvestigasi kecelakaan yang terjadi di laut dan angkutan darat. “Saat KNKT terbentuk yang awalnya untuk menginvestigasi kecelakaan pesawat, setelah pengesahan Keppres waktu itu Presidennya Habibie, jadinya ada investigator untuk darat dan laut. Pertama yang ditangani adalah kecelakaan kereta api di Cirebon,” ujar Soerjanto yang diwawancarai KabarPenumpang.com (26/5/2017) di kantor KNTK.

Baca juga: KNKT: Ada 7 Tipe Black Box dengan Parameter Berbeda

Soerjanto menambahkan, untuk saat ini KNKT sudah memiliki investigator darat dari perusahaan-perusahaan baik BUMN maupun swasta dan dari Kementererian Perhubungan. Tak hanya itu, untuk investigator laut, KNKT juga dibantu oleh para anak buah kapal (ABK) serta nahkoda-nahkoda kapal yang mengajukan diri sebagai investigator laut.

Dia mengaku, saat ini KNKT sendiri berada langsung di bawah dan bertanggung jawab kepada presiden. Namun, untuk anggaran dan lainnya masih menjadi satu dengan Kementerian Perhubungan.

Sebagai komite nasional yang menangani keselamatan, KNKT juga berhak memberikan penilaian kepada perusahaan baik maskapai penerbangan, angkutan darat hingga angkutan laut. Menurut Soerjanto, penilaian didapat setelah adanya hasil investigasi baik saat pengujian kelaikan jalan ataupun saat terjadinya kecelakaan.

Dari awal berdirinya hingga saat ini, KNKT sudah bekerjasama dengan KNKT Australia atau Australia Transport Safety Buerau (ATSB). Bisa dikatakan, berdirinya KNKT Indonesia menjadi pelopor berdirinya KNKT di negara Asean seperti Singapura dan lainnya. “Kalau dengan Australia sudah dari awal KNKT berdiri sampai saat ini. Ya bisa dibilang kalau ke KNKT Australia seperti rumah kami sendiri dan mereka juga begitu. Di Singapura atau yang lain juga begitu,” tutur Soerjanto.

Soerjanto Tjahjono – “Ilmu Yang Diterapkan Langsung, Jadi Kunci Kesuksesan Kinerja di KNKT”

Seiring banyaknya kasus kecelakaan yang terjadi di Indonesia, maka semakin melambung juga nama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Tidak jarang, lembaga yang berdiri tahun 1999 berdasarkan Keppres No 105/1999 ini terjun langsung ke lapangan untuk melakukan investigasi terhadap suatu kecelakaan. Tidak hanya darat, KNKT pun kerap terlibat dalam proses pengumpulan data pasca kecelakaan udara dan laut. Tapi, siapa sih orang nomor satu di balik lembaga yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden ini?

Baca Juga: KNKT: Isi Black Box Bisa Diterjemahkan ke Format Excel

Adalah Soerjanto Tjahjono, pria berdarah Jawa kelahiran Jakarta, 23 Mei 1960 ini merupakan alumnus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Mesin dan Aeronautika. Kecintaannya terhadap dunia penelitian, khususnya yang menyangkut soal transportasi, akhirnya mendorong Soerjanto dan beberapa rekan lainnya untuk mendirikan sebuah lembaga yang kini dikenal sebagai KNKT.

Menelusuri ke perjalanan karirnya, setelah mendapatkan gelar sarjana dari ITB pada tahun 1986, Ia memilih untuk bergabung dengan Garuda Indonesia setahun berselang untuk mengaplikasikan ilmu yang didapatnya selama bangku perkuliahan.

Tidak hanya sebatas omong kosong belaka, Soerjanto membuktikan bahwa untuk menyalurkan kegemarannya dalam menginvestigasi suatu kasus diperlukan pengalaman nyata di lapangan. “Untuk jadi investigator tidak gampang, harus punya pengalaman di lapangan langsung, jadi bisa menentukan apakah sistem ini sudah berjalan dengan benar apa belum,” ungkap Soerjanto ketika ditemui KabarPenumpang.com (26/9/2017). “Kalau cuma modal ilmu, dijamin dia pasti pusing ketika menginvestigasi suatu kasus,” imbuhnya. Walaupun latar belakang pendidikannya di dunia aviasi, ini bukan menjadi penghalang bagi seorang Soerjanto untuk mendalami ilmu di moda darat dan laut.

Mantan General Manager Teknik dan Pemeliharaan Keselamatan Penerbangan di PT Garuda Indonesia periode 2001-2005 ini mengatakan sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk menjadi orang nomor satu di KNKT. Kini, ia harus mengemban beban untuk menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia agar lebih berhati-hati dalam berkendara. “Miris ketika kami sudah memberi himbauan kepada masyarakat, namun tidak diindahkan, sehingga kecelakaan yang sama terus berulang,” tutur investigator multimoda ini.

Hilir mudik Soerjanto di dunia transportasi sudah tidak bisa diragukan lagi, terbukti dari banyaknya pengalaman dan pembelajaran berharga yang ia raih selama menjadi investigator multimoda. Namun, tidak semua kasus yang ia tangani menemukan titik terang. “Tantangan terbesar terletak di urusan non-teknis, dimana kita harus berhadapan dengan sebuah regulasi,” tukasnya. “Untuk masalah pencapaian yang paling membanggakan, setiap kasus yang berhasil kami pecahkan menjadi suatu pencapaian yang sangat berharga,” kata Soerjanto.

Baca Juga: Cegah Kecelakaan Bus, KNKT Himbau Pemda Berikan Fasilitas Istirahat Pengemudi

Untuk beberapa kasus lokal yang pernah ia tangani, investigator internal Garuda ini tidak menyangkali hal-hal aneh menjurus mistis yang membumbui investigasi tersebut. “Seperti dua kecelakaan yang terjadi di Gunung Salak, Bogor, pesawat TNI AU dan pesawat Sukhoi. Jarak jatuh keduanya hanya terpaut 25 meter saja. Dan boleh percaya boleh tidak, di atas lokasi kecelakaan tersebut merupakan makam Mbah Salak,” pungkas Soerjanto setengah sangsi.

Tidak bisa dipungkiri Soerjanto kini sudah tak muda lagi, waktunya ia untuk menentukan apa yang akan ia lakukan di masa tuanya kelak. “Selain ingin melanjutkan penelitian, mengembangkan over craft dan turbin angin yang saya buat, saya ingin membagikan ilmu dan pengalaman yang saya punya kepada siapapun.” Tutup Soerjanto bijaksana.

Singapura Punya Depo MRT Bawah Tanah Pertama di Dunia, Jakarta Punya Depo MRT Pertama di Indonesia

Bagi Anda yang pernah berkunjung ke Singapura, tak lengkap rasanya jika belum merasakan sensasi dari salah satu sarana transportasi yang sudah menjadi tulang punggung warganya, yaitu Singapore Mass Rapid Transit (SMRT). Pada awalnya, pengadaan sarana transportasi publik yang dibangun di atas keterbatasan lahan tersebut merupakan sebuah rencana antisipasi pemerintah Singapura yang memprediksi bahwa volume kendaraan akan meningkat drastis dalam beberapa tahun ke depan. Akhirnya, setelah melewati beberapa tahap pertimbangan, pada 7 November 1987, jalur pertama dari MRT Singapura secara resmi dibuka.

Baca Juga: Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan

Layaknya kereta api konvensional, MRT pun menggarasikan moda-moda mereka di sebuah depo. Diantara sekian depo yang tersedia, satu yang paling menarik perhatian adalah Kim Chuan Depot (KCD). Lalu, apa yang menarik dari depo yang terletak di 11 Kim Chuan Road, Singapura ini? Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman railprofessional.com, ini merupakan depo bawah tanah pertama di dunia. Tidak hanya pertama, depo dengan luas area 11 hektar, mencakup panjang 800 meter, lebar 160 meter, dan kedalaman 23 meter, menjadikan KCD Singapura sebagai depo bawah tanah terbesar di dunia.

Sumber: railwaygazette.com

KCD secara resmi  dibuka pada 4 Maret 2009, seiring dengan penyerahan depo senilai $295 juta tersebut dari Land Transport Authority (LTA) ke pihak SMRT. Depo yang dapat menampung hingga 77 kereta ini juga “memelihara” kereta-kereta yang beroperasi Singapore’s Circle Line (CCL). Layaknya Air Traffic Controller (ATC) di dunia penerbangan, KCD pun melakukan pengawasan terhadap pengoperasian harian SMRT. Tidak hanya itu, KCD juga memilki kapabilitas untuk berkomunikasi dengan penumpang di atas kereta, memantau kondisi kereta melalui CCTV, dan siap tanggap akan keadaan darurat.

Jika di Singapura memiliki depo bawah tanah pertama di dunia, Indonesia juga diketahui tengah membangun sebuah depo MRT di daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan yang digalang-galang akan menjadi depo MRT pertama di Indonesia. Sarkasme ini bukan tanpa alasan mengingat Jakarta, yang merupakan kota terbesar di Asia Tenggara, tidak memiliki sistem metro hingga saat ini. Pembangunan MRT Jakarta masih terus bergulir dan direncanakan akan mulai mengular pada paruh pertama tahun 2019 mendatang.

Baca Juga: Sebagai Kota Terbesar di Asia Tenggara, Jakarta Justru Minus Jaringan Metro

Untuk memenuhi syarat dari hadirnya MRT di Jakarta, Lebak Bulus dipilih oleh PT Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) sebagai garasi dari armada-armada mereka. Dengan luas tanah mencapai 10 hektar, rencananya lokasi tersebut tidak hanya digunakan sebagai depo saja, melainkan pusat administrasi PT MRTJ.

Depo MRT Lebak Bulus. Sumber: KabarPenumpang.com

Depo yang berdiri di atas lahan eks Stadion Lebak Bulus ini juga nantinya akan menjadi stasiun awal perjalanan MRT. Maka tidak heran jika di dalam depo ini terdapat rel yang jika dibentangkan panjangnya mencapai 6.000 meter. Walaupun Anda belum bisa melihat depo ini sudah berbentuk dan siap digunakan, namun pengerjaan depo Lebak Bulus dan di sejumlah titik-titik lainnya masih dikebut agar bisa selesai tepat waktu.

Kereta Ekonomi India Sekarang, Gambaran Kereta Ekonomi Indonesia Era 80-an

Jika Anda sering mengeluh tentang fasilitas transportasi darat, khususnya kereta di Tanah Air, sebaiknya Anda lekas menarik kembali pernyataan tersebut. Pasalnya di belahan dunia lain, masih ada fasilitas kereta yang jauh dari kata layak. Jangankan untuk layanan dalam kota seperti Commuter Line yang ada di Jakarta, layanan kereta jarak jauhnya saja terkesan jauh dari kata nyaman. Dari mulai penumpang yang duduk di selasar gerbong, hingga fasilitas “AC alami” yang digunakan, semua bisa Anda saksikan di sini, walaupun tidak di semua layanannya.

Baca Juga: Kalau Sudah Lihat Ini, Masih Mau Mengeluh Mengenai Penuhnya KRL?

KabarPenumpang.com menghimpun dari laman bbc.com (23/9/2017), selain terkenal dengan produksi film Bollywood-nya, India yang dikenal sebagai “Anak Benua” ini menjadi negara yang cukup mumpuni dalam layanan perkeretaapian, sebuat saja di India sudah ada MRT (Mass Rapid Transit) dan kerete termewah di Asia, pun juga ada di India.

Namun, kontradiktif dengan hal diatas, layanan kerete kelas ekonomi di India justru tergolong memprihatinkan dan terkesan alakadarnya. Mari ulas dari bagian luar terlebih dahulu. Untuk kereta yang diberi label Ernad Express, merupakan layanan kereta ekspres yang dikelola oleh Indian Railways zona Selatan yang menghubungkan Bangalore dan Nagercoil. Jika diperhatikan, masing-masing gerbong dari kereta harian yang mengular sepanjang 690 km antara dua kota tersebut memiliki warna cat mencolok tapi sudah mulai pudar.

Sumber: bbc

Alih-alih menggunakan kaca, setiap gerbong dihiasi dengan teralis besi, membuat kereta ini semakin terlihat unik, minimalis, namun miris dipandang. Lain cerita dengan yang ditemui di salah satu layanan kereta lokal di Kolkata, dimana para pekerja yang menjadikan kereta ini sebagai tulang punggung transportasi mereka terlihat tertidur pulas di selasar gerbong, tanpa memperdulikan sekitar mereka. Sementara itu, di dalam foto yang diunggah ke jejaring sosial Instagram oleh Shanu Babar, salah satu pecinta kereta asal India, nampak susunan tempat duduk kereta tersebut mirip dengan KRL Jabodetabek.

Sumber: bbc

Belum lagi para peternak sapi perah yang membawa susu dengan menggunakan milk can  dan menggantungnya di teralis besi tersebut. Sungguh pemandangan yang tidak bisa kita lihat di negara lain, kecuali India. Adapun alasan para peternak tersebut menggantung milk can di luar karena tidak tersedianya tempat di dalam yang sudah penuh oleh “lautan manusia”.

Sumber: bbc

Situasi yang hampir serupa juga pernah terjadi di Indonesia, dimana kala itu perkeretaapian belum dikelola secara maksimal. Periode 1980-an, hewan ternak seperti ayam dan kambing masih diperbolehkan masuk ke dalam kereta dan duduk bersampingan dengan penumpang lainnya. Ditambah dengan bebasnya pedagang asongan menjajakan jualannya. Satu dekade berselang, masih belum ada perubahan yang signifikan dari si ular besi Indonesia.

Para penumpang yang tidak kebagian tempat duduk lebih memilih untuk ngampar di bordes, hingga di jendela yang sudah tidak berkaca. Belum lagi eksistensi para pedagangan asongan yang masih setia menjajakan jualannya. Belum lagi anak-anak kecil yang berlarian di selasar gerbong dan mengeluarkan teriakan serta kelakar khasnya, membuat kondisi di dalam kereta semakin semerawut.

Baca Juga: Maharajas Express, Kereta Termewah di Asia Bertarif Mulai Rp51 Juta

Kini semuanya sudah berubah. PT. KAI selaku operator dari kereta api dalam negeri selalu melakukan pembenahan dari berbagai aspek. Semua itu semata untuk meningkatkan pelayanan kepada para pelanggannya. Lalu, jika suasana chaos di dalam kereta api Indonesia terjadi pada tahun 80-an dan berhasil memperbaiki semua layanannya baru-baru ini, kira-kira kapan India bisa memperbaiki layanan kereta apinya?

Bukan Sekedar Isapan Jempol, Dubai Mulai Uji Coba Taksi Drone

Setelah beberapa waktu yang lalu Dubai menyatakan niatnya untuk menghadirkan sebuah moda transportasi udara untuk melayani masyarakatnya, kini kota yang terkenal dengan menara Burj Khalifa-nya tersebut baru saja menguji coba moda listrik berupa taksi drone dengan 18 rotor keluaran Volocopter.

Baca Juga: Terima Kucuran Dana Segar, Volocopter Fokus Kembangkan VTOL Andalannya

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari lama newatlas.com (26/9/2017), Otoritas transportasi di Dubai mengklaim bahwa idenya untuk menggunakan helikopter yang punya kemampuan Vertical Take-Off and Landing (VTOL) sebagai wahana transportasi sehari-hari akan menjadi layanan taksi drone pertama yang beroperasi di dunia. Diketahui, pihak Dubai menguji coba kendaraan bernama Volocpter 2X ini pada Senin (25/9/2017) kemarin. Kendaraan ini nantinya akan mengambil jatah seperempat dari keseluruhan perjalanan penumpang di kota tersebut pada tahun 2030 mendatang.

Pemandangan dari dalam Volocopter. Sumber: newatlas.com

Pihak Volocopter sendiri pertama kali muncul di tahun 2013 dengan mengedepankan pesawat terbang elektrik bermesin bandel. Dalam memastikan keseriusan Volocopter di bidang transportasi futuristik, sejumlah uji coba pun dilakukan, guna meminimalisir kesalahan teknis yang mungkin terjadi selama pengoperasiannya kelak. Diketahui, perusahaan asal Jerman ini mendapat sokongan dana dari Daimler, sesama perusahaan asal Negeri Bavaria dengan kucuran US$30 juta pada bulan Agustus kemarin.

Dalam pengoperasiannya kelak, Volocopter 2X dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mengangkut penumpang dari titik penjemputan hingga lokasi tujuan tanpa pilot alias otonom. Adapun kecepatan tertinggi yang dapat dicapai oleh helikopter nirawak ini mampu adalah 100 km per jam. Sementara untuk sekali angkut, taksi drone ini dapat menampung maksimal dua penumpang dengan waktu tempuh 30 menit.

Putra Mahkota Dubai Tengah Mengecek Volocopter 2X.Sumber: newatlas.com

“Taksi drone ini memiliki beragam fitur unik yang mencakup standar keamanan dan keselamatan tinggi, dan banyak redudansi di semua komponen penting seperti baling-baling, motor, sumber listrik, elektronika dan kontrol penerbangan,” ungkap HE Mattar Al Tayer, Direktur Jenderal dan Ketua Board of Executive Directors of Dubai’s Road and Transport Authority. “Dalam kondisi darurat, Anda bisa menggunakan parasut yang tersedia,” imbuhnya.

Baca Juga: Selangkah Lagi, Uber Akan Operasikan Taksi Udara

Putra Mahkota Dubai, Yang Mulia Sheikh Hamdan, menerima pengarahan dari pihak Volocopter tentang bagaimana taksi drone ini akan diintegrasikan dengan sistem transportasi umum lainnya dan bagaimana masyarakat dapat memesan penerbangan dan melacak jalur penerbangannya cukup melalui aplikasi smartphone. Uji coba taksi drone di Dubai ini akan berlangsung selama lima tahun ke depan.