Viral Suzuki Jimny Nongkrong di Atas Rel LRT Sumatera Selatan. Ada Apa?

Setelah pemberitaan terakhir menyebutkan bahwa kekuatan sosial media Twitter mampu menggagalkan kasus human trafficking di India, kini jagat sosial media Instagram di Indonesia berhasil menyedot perhatian publik. Bukan karena berhasil menggagalkan kasus kriminal seperti di India, melainkan ada penampakan unik di atas jalur Light Rapid Transit (LRT) Sumatera Selatan. Kira-kira apa ya?

Baca Juga: Hanya dengan Lima Stasiun Utama, LRT Palembang Siap Beroperasi Saat Asian Games 2018

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman brilio.net (6/7/2018), sebuah akun instagram dengan nama pengguna @suzukijimnyindonesia mengunggah sebuah foto mobil Jimny tengah berada di atas jalur LRT Sumatera Selatan. Caption dari unggahan tersebut pun menyiratkan tanda tanya besar di benak setiap orang yang melihatnnya.

“Sesuai dengan slogan kebesaran dan kebanggaan #JIMNY “YOU CAN GO FAST, BUT I CAN GO ANYWHERE” Mungkin admin @ditjenperkeretaapian bisa menjelaskan maksud dan tujuan jimny ini? Biar kita bisa tau hehehe Terimakasih Min”

Begitulah kurang lebih keterangan yang dicantumkan oleh akun @suzukijimnyindonesia dalam postingan yang diunggah pada Kamis (5/7/2018) tersebut. Dalam postingan itu sendiri, tampak sebuah mobil Suzuki Jimny berwarna biru langit, lengkap dengan seorang pengemudi di dalamnya. Selain itu, tampak pula sebuah alat pada bagian depan mobil yang terkenal bandel ini.

Tenang dulu, Anda jangan langsung berpikiran yang aneh-aneh ketika melihat postingan tersebut. Karena melalui akun instagram miliknya, Ditjen Perkeretaapian menjelaskan bahwa mobil Jimny tersebut sudah dimodifikasi sedemikian rupa dan digunakan untuk mobilisasi serta pengujian atau inspeksi jalur LRT Sumatera Selatan yang rencananya akan mulai beroperasi dalam waktu dekat ini.

“Jimny digunakan untuk inspeksi prasarana LRT Samsel, yakni third rail untuk power supply LRT serta mobilisasi di atas track dan untuk clear area (pengecekkan) di atas rel sebelum kereta berjalan,” terang akun @ditjenperkeretaapian.

Baca Juga: Kebut Persiapan Asian Games 2018, PT INKA Mulai ‘Cicil’ Pengiriman LRT Palembang

Lalu mengapa mesti mobil Jimny? Mengapa tidak mobil lain saja? Menjawab pertanyaan tersebut, seorang netizen menimpalinya dengan sangat sederhana. “Lebar track kereta api di Indonesia hanya cocok dengan jarak antarban (wheel track) di Jimny. Mobil lain tak cocok karena terlalu lebar. Suzuki Jimny 4×4 traksinya cukup baik untuk menarik beban berat sehingga tidak selip,” unggah akun @SuryaSBK.

 

Pembatalan Tiket Lama dan Ribet, PT KAI Coba Buat Aplikasi Mudahkan Penumpang dengan Online

Pembelian tiket kereta api kini sudah dimudahkan karena bisa secara online melalui aplikasi travel online ataupun milik PT KAI yakni KAI Accsess. Meski begitu mudahnya membeli, tetapi tidak dengan pembatalan atau pengubahan waktu berangkatnya.

Baca juga: Mau Membatalkan atau Merubah Jadwal Tiket Kereta Api? Baca Ini Dulu Ya!

Ini membuat para penumpang banyak yang tidak nyaman termasuk KabarPenumpang.com sendiri yang merasakannya. Sebab cukup lama waktu terbuang saat mengantri pembatalan tiket tersebut karena dipanggil sesuai nomor urut oleh petugas loket sekitar satu sampai dua jam waktu menunggu nomor antrian untuk pembatalan tiket tersebut.

Terkait masalah pembatalan tiket ini, KabarPenumpang.com kemudian menghubungi VP Pulic Relation PT KAI Agus Komarudin yang mengatakan, pihaknya saat ini sedang melakukan development aplikasi pembatalan dan re-route secara online. “Mudah-mudahan dalam tahun ini juga bisa kami siapkan untuk di launching,” ujar Agus yang dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa (10/7/2018).

Dia mengatakan, pihaknya harus sangat hati-hati mengingat sistem tersebut cukup kritis karena menyangkut pembayaran sejumlah uang yang di kirimkan ke rekening masing-masing penumpang. Agus menegaskan, adanya opsi atau pembatalan dan re-route tiket penumpang tersebut bukanlah persolan teknologi, sehingga banyak pertimbangan yang harus dipikir secara cermat oleh pihaknya sebelum menggulirkan kebijakan tersebut.

“Untuk teknologi, sistem IT kami tak ada masalah. Sistemnya mendukung kok, tapi ada faktor lain yang jauh lebih prioritas yang perlu dipertimbangkan secara mendalam dibanding persoalan teknologi,” kata Agus.

Salah satunya terkait masalah percaloan, dimana PT KAI mengkhawatirkan pembatalan tiket secara online dimanfaatkan sehingga percaloan kembali mencuat kepermukaan. Sehingga pihak KAI menginginkan hal tersebut benar-benar di antisipasi.

Baca juga: Mencapai 64%, Jalur Pembelian Tiket PT KAI Mayoritas via Online

“Kalau KAI kan perlu observasi berbagai kemungkinan, terutama dalam meminimalisir atau menghapus praktek percaloan. Riskan bagi kami mendapat banyak keluhan, makanya kami terus berpikir skema terbaiknya,” tegasnya.

Agus menambahkan, karena sulit ditembus calo maka sempat beredar tiket palsu dan KTP palsu yang dijual saat angkutan Lebaran, Natal dan Tahun Baru. Ini membuat penumpang menjadi korban percaloan. Berikut ini ada beberapa stasiun tempat pembatalan tiket, Stasiun Serang, Rangkasbitung, Jakartakota, Gambir, Pasar Senen, Bogor,Bekasi, Cikampek.

Hitung Mundur, LRT Jakarta Optimis Bisa Beroperasi Saat Asian Games 2018

Proyek Light Rapid Transit (LRT) Jakarta yang akan menghubungkan Velodrome Rawamangun di Jakarta Timur dan Kelapa Gading di Jakarta Utara kini sudah mulai masuk tahap akhir pembangunan. Pernyataan mengenai pembangunan jalur sepanjang 5,8 km tersebut dilontarkan langsung oleh Direktur Proyek LRT Jakarta, Allan Tandiono. Diproyeksikan, dalam waktu dekat ini sarana transportasi baru di Ibu Kota ini bisa rampung.

Baca Juga: Di Tengah Pesimisme, Dirut Jakpro Optimis LRT Jakarta Bisa Digunakan Saat Asian Games 2018

Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, Allan mengungkapkan bahwa saat ini timnya tengah mengakselerasi proses pembangunan tahap akhir ini. “Saat ini, tim konstruksi sedang mempercepat tahap penyelesaian, seperti memasang atap, instalasi listrik dan mekanik, lantai dan lukisan,” tutur Allan, dikutip dari laman thejakartapost.com (7/7/2018).

Selain itu, Allan juga menambahkan bahwa proyek yang digagas oleh Pemprov DKI dan PT Adhi Karya ini tengah menjalani fase uji coba oleh Kementerian Perhubungan. “Diharapkan akhir Juli sudah selesai,” ungkap Allan.

Ditambah lagi, perhelatan olahraga terbesar se-Asia, Asian Games 2018 yang akan mulai bergulir pada 18 Agustus mendatang juga menjadi salah satu penanda LRT Jakarta untuk segera menyelesaikan semua pekerjaannya. Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Satya Heragandhi mengatakan pekerjaan ini dikebut siang-malam agar dapat beroperasi ketika Asian Games 2018 berlangsung. “Proses pengerjaan ini dikebut siang dan malam demi mencapai target 85% hingga Agustus nanti,” ujar Satya.

Dikutip dari laman detik.com (4/7/2018) kemarin, Satya mengungkapkan bahwa pembangunan proyek LRT ini sudah dalam tahap 77 persen selesai. Bahkan delapan gerbong kereta sudah mendarat di atas rel. “Delapan gerbong sudah siap dan nanti akan ditambah delapan gerbong lagi,” terangnya. Rencananya, delapan gerbong tambahan lainnya akan tiba pada 13 dan 14 Juli mendatang.

Jika warga Indonesia saat ini tengah menantikan kehadiran jaringan LRT secara keseluruhan, maka para aktor utama di balik pembangunan proyek ini tengah ketar-ketir menantikan proses sertifikasi. “Apabila nanti sudah di sertifikasi kira-kira tanggal 30 Juli, maka sudah bisa kami resmikan,” ungkap Satya.

Sebagai informasi tambahan, jaringan LRT Velodrome Rawamangun – Kelapa Gading ini total memiliki enam stasiun, yaitu Stasiun depot di Jalan Pegangsaan Dua Kelapa Gading, stasiun Mal Kelapa Gading, stasiun Kelapa Gading Boulevard, stasiun Pulomas, Stasiun Pacuan Kuda hingga Stasiun Velodrome di arena balap sepeda Velodrome Rawamangun.

Baca Juga: LRT Kelapa Gading-Velodrome Progress Pengerjaan 67 Persen

Untuk masalah harga, Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) memberikan usul harga tiket LRT Jakarta sebesar Rp10.800. “Mengenai harga, belum ada kepastian. Namun memang telah ada usulan dari DTKJ bahwa harga tiket Rp10.800,” ujar Satya. Memang harga tersebut berada di atas rataan harga sarana transportasi berbasis massal yang ada di Jakarta seperti TransJakarta dan KRL Jabodetabek, namun menurut Satya, itu masih dalam batas wajar. “Segitu tidak mahal. Apalagi jalur ini (LRT) yang sampai ke tengah dan dekat dengan busway,” ujarnya.

Menuju Konsep Smart City, Bandara Mineta San Jose Operasikan Robot yang Siap Bantu Penumpang

Tidak akan ada habisnya jika kita membahas tentang perkembangan yang dilakukan oleh berbagai operator layanan transportasi, karena pada dasarnya mereka harus terus melakukan ‘evolusi’ agar tetap berada di jalur persaingan dengan para rivalnya. Sebut saja dengan meningkatkan pelayanan, para penumpang diharapkan akan dapat merasakan pengalaman berbeda dan meninggalkan kesan yang baik.

Baca Juga: Geser Yang “Manual,” Selamat Datang Era Robotika di Bandara

Nah, sehubungan dengan perkembangan di sektor teknologi yang seolah sudah menjadi bagian dari setiap peningkatan layanan di infrastuktur transportasi – seperti bandara, maka tidak heran rasanya jika banyak pengelola bandara di seluruh dunia yang berusaha untuk menyajikan inovasi teknologi terbaru di dalamnya. Sebut saja Bandara Internasional Mineta San Jose, California yang telah mengupayakan untuk merebut impresi para pelancong dengan mengoperasikan robot beberapa waktu yang lalu.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman digitalsignageconnection.com, robot-robot yang ada di bandara ini ditujukan untuk menyambut para pelancong dan membantu navigasi mereka dari dan menuju terminal. Penyandingan tenaga manusia dan robotika ini mulai diperkenalkan kepada publik pada Oktober 2016 silam dengan visi untuk memungkinkan kekuatan teknologi menjadi sebuah peluang bisnis yang menguntungkan.

Namun di balik visi tersebut, tentu saja meningkatkan perjalanan para pelancong dengan menitikberatkan pada perkembangan teknologi dan inovasi menjadi yang paling utama di antara semua misi tersebut. Bekerja sama dengan 22 Miles, salah satu perusahaan yang menggeluti dunia IT, Bandara Internasional Mineta San Jose berhasil meraup impresi positif dari para pengguna layanannya. “Sangat penting bagi kami untuk menyajikan layanan terbaik kepada setiap pelancong yang berada di kawasan kami,” tutur Manajer Informasi Publik Bandara Internasional Mineta San Jose, Rosemary Barnes.

Baca Juga: Ini Dia Troika! Robot Canggih di Bandara Incheon, Korea Selatan

Norma, Amelia, dan Piper merupakan tiga robot yang secara khusus ditugaskan di bandara ini untuk membantu mobilitas para pengguna layanan. Agar dapat menyelaraskan dengan kebutuhan para pelancong, ketiga robot ini dapat memahami lima bahasa, Inggris, Spanyol, Jepang, Jerman, dan Perancis.

Tantangan dalam pengimplementasian teknologi robotika ini bukan berarti tidak ada, dan rataan masalahnya datang dari pengembangan inovasi. Namun pengembangan seperti itu terus dilakukan agar tercapainya ruang lingkup Smart City yang tengah digalakkan oleh sejumlah operator bandara di seluruh dunia.

 

Virtual dan Augmented Reality Ubah Pengalaman Penumpang di Udara

Hadirnya teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) dalam dunia aviasi global memang memberikan banyak keuntungan bagi sejumlah pihak. Tidak hanya bagi si penyedia produk VR dan AR saja yang diproyeksikan akan meraup untung, pun dengan pihak maskapai selaku ‘penghubung’ produsen VR dengan konsumen jasa penerbangan. Di sisi penumpang sendiri, tentu saja hadirnya teknologi ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pengalaman mengudara mereka secara keseluruhan.

Baca Juga: First Airlines, “Maskapai” Jepang dengan Penerbangan Virtual Reality Pertama

Mundur ke tahun 2015 lalu, dimana Flag Carrier Australia, Qantas Airways memperkenalkan teknologi VR hasil kerja samanya dengan Samsung ke dalam kabin armadanya dan first class lounge. Namun siapa sangka, kesuksesan uji coba teknologi tersebut telah memicu hampir seluruh penyedia jasa penerbangan untuk turut serta mengaplikasikan fitur VR di dalam pelayanannya.

Sampai-sampai, beredar pernyataan yang mengatakan bahwa penggabungan teknologi baru untuk meningkatkan pengalaman penumpang adalah sebuah keharusan. Wajar saja jika penyataan tersebut seolah menjadi pemantik penyedia jasa penerbangan untuk meningkatkan pelayanannya, setidaknya jika mereka tidak ingin tersingkir dari ketatnya persaingan yang ada.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman wamda.com (31/5/2018), Ketua Kapitel UAE asosiasi industri global untuk VRAR Association, Shujat Mirza mengatakan bahwa hadirnya teknologi VR dan AR merupakan pengubah ritme permainan di sektor aviasi global . “Ini tidak hanya sebatas cara kita sebagai penumpang untuk mengkonsumsi sebuah konten, melainkan juga memungkinkan kita untuk berinteraksi lebih baik lagi,” ungkapnya.

Dari sini saja, kita sudah dapat berkaca bahwa tidak hanya nilai keselamatan dan keamanan saja yang diutamakan oleh para penyedia jasa penerbangan, pun dengan poin pengalaman penumpangnya.

Nampaknya akan terlalu panjang jika menyebutkan maskapai mana saja yang telah menerapkan fitur VR dan AR di dalam pelayanannya. Sebut saja Royal Dutch Airlines (KLM), Lufthansa, dan Air France yang menjadi tiga maskapai besar yang telah membuktikan ‘khasiat’ dari penggabungan teknologi VR dan AR ke dalam pelayanannya. Walaupun tidak sama persis, namun secara garis besar, penumpang ketiga maskapai tersebut dapat menikmati layanan entertainment on-board selama mereka mengudara. Mulai dari headset VR hingga menyaksikan tayangan 2D dan 3D, merupakan beberapa poin yang siap meningkatkan pengalaman mengudara penumpang.

Seperti yang sudah disinggung di atas mengenai siapa-siapa saja yang akan menerima keuntungan dari penggunaan teknologi VR dan AR ini, ternyata banyak pihak yang meyakini bahwa perusahaan-perusahaan startup pun akan ikut merasakan euforia dari naik daunnya teknologi ini. Tidak bisa dipungkiri, ada banyak perusahaan startup di luar sana yang berkecimpung di bisnis menggiurkan ini.

Baca Juga: Inilah Para Pengguna Augmented Reality di Industri Dirgantara

Sebut saja GigaWorks, TAKELEAP, PearQuest, dan Eventagrat merupakan sejumlah kecil startup yang mendalami bisnis VR dan AR ini. Namun bukan berarti mereka hanya tinggal menunggu pesanan dari pihak maskapai. Ada beberapa poin yang harus mereka buktikan kepada calon konsumennya, seperti inovasi apa yang bisa mereka hadirkan dan membuatnya beda dengan perusahaan startup lain.

Dengan begitu, sudah hampir dapat dipastikan bahwa masa depan dunia aviasi global akan dipenuhi dengan seabreg fitur futuristik yang dapat meningkatkan pengalaman terbang para penumpangnya.

 

Operator Kereta India Digitalisasikan Layanan Keluhan Penumpang

Siapa sih yang tidak pernah merasakan kurang nyaman ketika menggunakan sarana transportasi umum berbasis massal? Mungkin semuanya pernah ya! Mengantri saat beli tiket, berdesak-desakan di dalam modanya, atau mungkin yang menyinggung ke arah tindak kriminal adalah kasus pencopetan yang hingga kini masih marak terjadi. Semua itu seolah sudah menjadi resiko yang harus ditanggung oleh setiap pengguna jasa transportasi umum.

Baca Juga: Hadapi Keluhan Soal Calo, Otoritas Banglades Hadirkan BGB

Nah, karena setiap penyedia jasa juga memerlukan yang namanya peningkatan pelayanan, maka bukanlah sesuatu yang baru ketika Anda menemukan kotak saran dan keluhan di sejumlah infrastruktur transportasi. Tidak hanya itu, kemajuan jaman juga turut berperan dalam hadirnya platform keluhan dalam bentuk digital, dimana para penumpang bisa melayangkan keluhan via SMS atau melalui platform jejaring sosial yang dimiliki oleh si penyedia jasa.

Menyinggung soal prosedur pengaduan penumpang dalam bentuk digital, operator perkeretaapian India, Indian Railways baru saja merilis aplikasi yang memungkinkan setiap pengguna jasanya melayangkan keluhan dengan cara yang lebih modern.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman globalrailwayreview.com (15/6/2018), Rail MADAD (Mobile Application for Desired Assistance During travel) merupakan sebuah aplikasi yang mampu menampung setiap keluhan dari para pengguna jasa dan meneruskannya kepada setiap petugas di lapangan yang relevan. Setelah diterima oleh petugas di lapangan, maka keluhan yang dilayangkan tersebut pun dapat secara langsung ditindaklanjuti.

Setelah penumpang melayangkan keluhan di aplikasi Rail MADAD, mereka akan mendapatkan pesan singkat yang diikuti dengan instruksi lanjutan dari pihak perkeretaapian. Cara seperti ini dinilai ampuh untuk mempercepat tindak lanjut dari setiap keluhan penumpang yang masuk.

RPGRAMS (Railway Passenger Grievance Redressal and Management System) atau sistem penanganan keluhan penumpang sendiri terdiri dari banyak cabang, salah satunya adalah Rail MADAD. Dalam aplikasi ini sendiri, tercantum beberapa nomor penting (helpline) yang dapat dihubungi kapanpun oleh penumpang, mulai dari keluhan soal keamanan hingga penanganan darurat terhadap anak. Tercatat, ada 14 mode keluhan yang tergabung di dalam satu aplikasi layanan keluhan penumpang ini.

Baca Juga: Mobile Game Ini “Ajarkan” Penumpang Hadapi Situasi Darurat Selama Mengudara

Opsi panggilan langsung pun tersedia di dalam aplikasi ini, semisal ada satu kejadian yang benar-benar darurat dan membutuhkan pertolongan dengan segera. Selain ditujukan untuk meningkatkan pelayanan kepada penumpang, hadirnya Rail MADAD juga memungkinkan operator kereta untuk mengevaluasi hasil kerja anak buahnya di lapangan. Baik buruknya kinerja mereka dapat dipantau melalui jumlah keluhan penumpang yang masuk.

 

 

 

Ethiopian Airlines, Maskapai Afrika Pertama Yang Daratkan Pesawatnya di Indonesia

Berkunjung ke Eropa, Amerika, Australia bahkan ke Asia mungkin seringkali dilakukan baik para pelancong yang menikmati keindahan negara yang ada di benua tersebut atau para pelaku bisnis yang melakukan pekerjaan mereka. Tapi bagaimana dengan Afrika? Ya, Afrika terkenal dengan gurun dan savananya, bagi pelancong yang mencintai alam bebas dan menyukai tantangan benua ini cocok sekali untuk di singgahi.

Baca juga: Ethiopian Airlines Sabet Gelar Katering Terbaik di Afrika Versi PAX International

Tidak perlu khawatir, para pelancong Indonesia maupun Afrika yang akan berkunjung sebentar lagi akan dimudahkan dengan penerbangan langsung dari Addis Ababa ke Jakarta. Kenapa? Karena pada 21 Juli 2018 mendatang, maskapai asal Ethiopia yakni Ethiopian Airlines akan membuka rute penerbangan langsungnya dari Jakarta-Addis Ababa PP. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa maskapai yang tergabung dalam Star Alliance Member ini akan membuka rute dengan frekuensi penerbangan tiga kali dalam seminggu yakni Selasa, Kamis dan Sabtu.

Untuk penerbangan dari Ethiopia menuju Jakarta, akan menggunakan nomor penerbangan ET 0628 pukul 00.00 waktu setempat dan sampai di Bangkok pukul 13.20 waktu setempat. Serta melanjutkan perjalanan menuju Jakarta pukul 14.20 dan sampai pada 18.05 WIB. Sedangkan keberangkatan dari Bandara Soetta dengan nomor penerbangan ET 0629 pada pukul 20.35 WIB kemudian menuju Bangkok, Thailand pukul 00.20 waktu setempat. Kemudian melanjutkan penerbangan pukul 01.45 dan menuju Addis Ababa hingga tiba pukul 06.15 waktu setempat. Penerbangan ini sendiri akan dilayani dengan armada Boeing 787-8.

“Kami sangat senang meluncurkan rute baru menuju Jakarta, penerbangan terhubung pertama antara Afrika dan Indonesia, serta maskapai Afrika pertama yang menghubungkan Afrika dengan Jakarta,” ujar Group CEO Ethiopian Airlines Tewolde GebreMariam.

Tewolde mengatakan, Indonesia merupakan sasaran tepat untuk pertumbuhan ekonomi dan pariwisata. “Indonesia adalah salah satu negara terpadat di dunia dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat. Di tahun-tahun mendatang, perdagangan Afrika dan Indonesia, investasi dan hubungan pariwisata diatur untuk tumbuh secara eksponensial dan penerbangan langsung kami akan membuat kontribusi signifikan dalam peningkatan kerjasama Afrika-Indonesia,” ujarnya.

Terkait adanya penerbangan perdana ini, PT Angkasa Pura II sebagai pengelola Bandara Internasional Soekarno-Hatta berkomitmen untuk mendukung dalam rencana bisnis maskapai sebagai memajukan industri penerbangan dalam dan luar negeri. Penerbangan perdana ini nantinya juga akan disambut dengan water salute dan pengalungan bunga dari PT Angkasa Pura II kepada tamu dan kru Ethiopian Airlines.

Baca juga: Load Factor Rendah, Maskapai-Maskapai Ini Tak Lagi Mendarat di Jakarta

“Kami berharap dengan penerbangan perdana ini, Ethiopian Airlines dapat mendorong potensi perdagangan dan pariwisata dari Afrika di Indonesia dan sebaliknya. Selain itu sebagai upaya menguatkan jaringan ekonomi antara negara Indonesia dan Ethiopia,” kata Senior Manager Of Branch Communication and Legal, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Erwin Revianto.

Diketahui hingga kini baru Ethiopian Airlines, masakapai Afrika yang mendaratkan pesawatnya di Indonesia, tepatnya di Jakarta.

Masalah Manifes, Bukti Carut Marutnya Layanan Pelayaran di Tanah Air

Sudah over kapasitas, manifest penumpang pun bermasalah, inilah gambaran nyata seputar jasa pelayaran rakyat di Indonesia pada umumnya. Musibah yang dialami KM Sinar Bangun di Danau Toba dan KM Lestari Maju di Perairan Selayar menjadi bukti coreng morengnya masalah manifes penumpang kapal. Berbeda dengan moda darat dan moda udara, urusan manifes penumpang kapal tak kunjung tuntas dibenahi. Dan seperti biasa, saat musibah datang, semua pihak seperti gamang menghadapi masalah manifes.

Baca juga: Di Balik Tragedi Danau Toba, Inilah Profil KM Sinar Bangun

Padahal jika ditilik lebih dalam, sejatinya manifes adalah hak pengguna jasa, persisnya hak pengguna jasa atas identitas dirinya untuk terdaftar dalam suatu moda transportasi. Mengapa manifes begitu penting didengungkan?

Berlaku di semua moda, manifes penting untuk untuk urusan keselamatan, proses identifikasi korban akan lebih mudah dan cepat dengan adanya manifes penumpang. Dan yang tak kalah penting, data manifes menjadi pegangan bagi pihak asuransi untuk bisa melakukan pembayaran santunan kepada keluar korban. Apa yang terjadi pada kasus KM Sinar Bangun dan KM Lestari Maju sudah bisa ditebak, tiadanya manifes menjadi petaka, khususnya pada proses klaim keluarga korban. Jika tak ditemukan jazad, lantas bukti otentik apa yang menyatakan bahwa penumpang hilang telah naik ke kapal yang tenggelam?

Walau implemetasi di lapangan masih berantakan, namun pemerintah lewat Kementerian Perhubungan sudah aware dengan persoalan manifes. Bila ditelaah, sudah ada Peraturan Menteri Nomor 25/26 Tahun 2016 yang mengatur mengenai jumlah penumpang dan kendaraan angkutan penyeberangan. Yang jadi kewajiban operator atau pengelola pelabuhan yakni menciptakan formulir jumlah manifes bersama format yang sudah ditentukan.

Lebih detail lagi, operator kapal kemudian menciptakan rekapitulasi daftar penumpang berdasarkan sobekan kupon dari penumpang pejalan kaki dan formulir penumpang yang diisi oleh pengemudi kendaraan baik pribadi ataupun angkutan umum.

Setelah penumpang naik ke kapal, operator kapal wajib menghitung kembali jumlah penumpang untuk menyesuaikannya bersama jumlah penumpang yang ada. Seterusnya, pembuatan rekapitulasi jumlah manifes jadi tanggung jawab nahkoda kapal. Rekapitulasi tersebut pada akhirnya merupakan dasar untuk mengajukana Surat Persetujuan Berlayar pada Syahbandar.

Lantas yang jadi pertanyaan mendasar, bagaimana peran petugas pengawas pelabuhan?

Suara YLKI
Mengutip pernyataan Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi dalam “Catatan Akhir Mudik Lebaran,” disebutkan persoalan manifest tak melulu dihadapi pada pelayaran rakyat, namun pelayaran yang dikelola BUMN PT ASDP Indonesia Ferry pun ditengarai tak luput dari persoalan serius.

Sistem tiket dan manifest penumpang PT ASDP, khususnya pada Cabang Merak dan Bakauheni memang pernah mengalami perbaikan signifikan pada era 2016. Saat PT ASDP dipimpin (Alm) Danang S. Baskoro, kedua lintasan pelabuhan tersibuk di Tanah Air tersebut dikelola cukup baik, dengan basis tiket elektronik maka ‘kebocoran’ pada transaksi keuangan dapat ditekan. Secara umum, pendapatan PT ASDP pun meroket di periode itu, meski tekanan keras dari para oknum untuk ‘menghilangkan’ tiket elektronik tak kunjung reda.

Baca juga: Angkut 139 Penumpang dan Puluhan Kendaraan, KM Lestari Maju Tenggelam di Perairan Selayar

“Namun, sayangnya setelah pergantian direksi PT ASDP, justru di tangan direksi yang baru sistem tiket PT ASDP berantakan lagi, menjadi kembali manual. YLKI menerima pengaduan/laporan yang cukup akurat terkait hal ini dari konsumen yang amat kredibel,” ujar Tulus Abadi.

Bahkan, di ASDP kini kembali bangkit fenomena “tiket muter”, yaitu tiket yang sudah dijual, bisa dijual lagi untuk penumpang berikutnya. Akibat dari ini manifes penumpang kapal menjadi kacau, koruptif, dan pendapatan negara yang hilang. Jika mau jujur, pendapatan pemilik kapal pun turut tergerus dengan praktek nakal ini.

Walau identitas oknum di pelabuhan dapat ditelusuri dengan mudah, namun untuk mewujudkan pengawasan manifes bukan perkara gampang. Tumpang tindihnya regulasi yang ada, khususnya di level pemerintah pusat, Kemenhub. Kemudian pihak Pemda mengklaim banyak kewenangannya diambil Pemerintah Pusat, sehingga kemudian Pemda tak punya kewenangan. Di sisi lain, Kemenhub tak cukup mampu melakukan pengawasan di lapangan.

‘Cuitan’ Seorang Penumpang Selamatkan Nasib 25 Gadis di India!

Tidak ada yang bisa memungkiri kekuatan dan kecepatan dari sebuah platform media sosial. Selain dapat digunakan sebagai sarana promosi sebuah produk, tapi yang lebih mengesankan adalah media sosial dapat dengan mudah memviralkan sebuah kejadian dalam kurun waktu yang relatif sangat cepat. Dapat dengan mudah terhubung dengan beberapa orang penting dan sejumlah otoritas merupakan kelebihan lain yang dapat Anda rasakan dari hadirnya media sosial, bukan?

Baca Juga: Antara Garuda Indonesia, Berita Hoax, dan Media Sosial

Terkait dengan kelebihan dari media sosial tersebut, beberapa waktu ke belakang, jagat sosial media kembali menunjukkan kekuatannya. Dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, seorang penumpang kereta Muzaffarpur – Bandra Awadh Express berhasil menyelamatkan 25 gadis sekaligus yang tampak ketakutan di dalam rangkaian kereta tersebut. Hebatnya lagi, aksi yang dilakukan oleh Adarsh Shrivastava ini hanya ia lakukan dengan cara me-mention sejumlah orang penting yang ada di jejaring sosial Twitter.

Kejadian ini berawal ketika Adarsh tengah menggunakan layanan Muzaffarpur – Bandra Awadh Express pada Kamis (5/7/2018) kemarin. Pemandangan di dalam rangkaian tersebut agak aneh di mata Adarsh ketika dirinya melihat sejumlah anak yang tampak ketakutan dan merasa tidak nyaman berada di dalam rangkaian tersebut. Bahkan beberapa di antaranya ada yang sampai menangis.

Merasa ada yang janggal, Adarsh langsung mengambil ponselnya dan mencuitkan sebuah posting yang ditujukan kepada Menteri Perkeretaaapian Piyush Goyal, Perdana Menteri Narendra Modi, Menteri Negara di Kementerian Perkeretaapian Manoj Sinha, Kepala Menteri Uttar Pradesh Yogi Adityanath, dan Kementerian Perkeretaapian dalam cuitannya tersebut.

“Saya tengah dalam perjalanan menggunakan Avadh Express(19040). Di s5. Di dalam gerbong saya terdapat 25 gadis yang hampir semuanya menangis dan merasa ketakutan. @RailMinIndia @PiyushGoyal @PMOIndia @PiyushGoyalOffc @narendramodi @manojsinhabjp @yogi” Begitulah isi dari cuitan Adarsh pada pukul 17:25 waktu setempat.

Baca Juga: Manfaatkan Medsos Sebagai Wadah Promosi, Tokyu Corp. Sukses Jaring Banyak Wisman

Kurang lebih dalam waktu setengah jam saja, sejumlah otoritas berwenang langsung turun tangan untuk menyelidiki hal apa yang terjadi di balik laporan Adarsh tersebut. Setelah ke-25 gadis tersebut berhasil diselamatkan, satu per satu dari mereka mulai dimintai keterangan guna mendapatkan informasi lebih lanjut.

Sayangnya,tidak ada satupun dari mereka yang berani membuka mulut. Akhirnya ke-25 gadis ini diserahkan ke Komite Perlindungan Anak dan mendapatkan perawatan di sana. Kuat dugaan, mereka merupakan calon korban human trafficking di India, dimana dalam kasus ini, dua orang tersangka berhasil diamankan dan proses penyelidikan hingga kini masih bergulir.

 

 

Gandeng Qantas Airways, Bandara Internasional Sydney Operasikan Fitur Face Recognition

Dalam rangka pengembangan infrastruktur bandara dan melayani para penggunanya dengan lebih baik, Bandara Internasional Sydney diketahui baru-baru ini bersinergi dengan Flag Carrier Negeri Kangguru, Qantas Airways. Dalam kerja sama tersebut, mereka saling bahu membahu mengembangkan teknologi face recognition. Dengan menggunakan teknologi pengenalan wajah ini, nantinya para penumpang akan melewati sebagian besar pemeriksaan bandara tanpa menggunakan paspor dan boarding pass.

Baca Juga: Pilah-Pilih Vendor, Bandara Internasional Changi Siap ‘Pekerjakan’ Facial Recognition

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (6/7/2018), sebagai bagian dari uji coba biometrik ‘couch-to-gate’ ini, ada empat langkah utama yang akan diuji, termasuk check-in otomatis, akses lounge, proses boarding, dan penangangan bagasi. Uji coba teknologi face recognition ini sendiri rencananya akan dilakukan disejumlah rute penerbangan internasional.

Salah satu juru bicara dari pihak bandara mengatakan bahwa nantinya, bandara juga akan dilengkapi dengan fitur Mobile Check-In dan Automated Border Processing. Setelah masa uji coba berakhir, nantinya penumpang akan bisa melewati sebagian besar perjalanan mereka di bandara hanya dengan menggunakan wajah mereka, tanpa boarding pass, tanpa paspor.

Sementara itu, CEO anara Internasional Sydney, Geoff Culbert mengatakan bahwa uji coba ini merupakan bagian dari fokus dalam ruang lingkup investasi di bagian teknologi. “Yang paling utama adalah kami berupaya untuk membuat pengalaman penumpang selama berada di bandara menjadi lebih baik, lebih mudah, dan lebih nyaman lagi,” tutur Geoff. “Dan kami sangat bahagia karena dapat memfasilitasi penumpang Qantas dalam uji coba teknologi face recognition ini,” tandasnya.

Wajah Anda merupakan boarding pass, paspor, dan tanda pengenal lain yang dibutuhkan oleh pihak bandara. Sesederhana itulah pemahan dari penggunaan teknologi face recognition di Bandara Internasional Sydney ini. “Tidak akan ada lagi yang namanya menunjukkan boarding pass fisik. Wajah Andalah yang merupakan boarding pass dan paspor,” imbuh Geoff.

Baca Juga: Cina Siap Kontrol Warganya dengan Teknologi Pemindai Wajah

Di sisi lain, CEO Qantas Airways, Vanessa Hudson mengatakan bahwa maskapai berlogo kangguru tersebut tengah berfokus pada pengembangan teknologi yang akan berdampak pada dorongan inovasi terhadap para pelanggannya. “Tidak hanya di check-in counter saja, bahkan ketika mereka menggunakan lounge pun, niscaya para penumpang akan merasakan sesuatu yang berbeda – lebih inovatif,” ungkap Vanessa. “Secara keseluruhan, ini akan meningkatkan pengalaman penumpang.” Tutupnya.