Di Balik Tragedi Danau Toba, Inilah Profil KM Sinar Bangun

KM Sinar Bangun

Nama KM (Kapal Motor) Sinar Bangun dalam beberapa hari ini tengah menjadi sorotan di Tanah Air. Betapa tidak, KM Sinar Bangun baru saja mengalami peristiwa tragis, dimana tenggelam setelah 30 menit bertolak dari Pelabuhan Simanindo di Pulau Samosir menuju ke Pelabuhan Tigaras di Simalungun. Akibat musibah yang terjadi pada 18 Juni ini mengakibatkan banyak korban meninggal dan ratusan lainnya belum ditemukan.

Baca juga: Punya Beragam Peran dan Spesifikasi, Inilah Jenis-Jenis Kapal RoRo

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa dari spesifikasinya, KM Sinar Bangun hanya mampu mengangkut beberapa kendaraan roda dua dan 43 penumpang. Namun pada hari tenggelamnya, kapal tersebut ternyata mengangkut 200 orang dan 60 motor alias melebihi kapasitas semestinya.

Sebagai kapal motor tradisional, KM Sinar Bangun lambungnya terbuat dari kayu dan di jalankan dengan mesin tempel yang biasa digunakan pada speed boat. Bobot kapal ini ditaksir mencapai 35 ton.

Sehingga bila mengangkut melebihi kapasitas semestinya, kapal ini juga sebenarnya tidak akan mampu. Apalagi jika faktor cuaca tidak mendukung seperti ada badai atau gelombang tinggi, dengan kapasitas 43 orang kapal ini pun bisa terombang ambing

Kapal kayu tersebut memiliki dua lantai, di bagian bawah penumpang bisa duduk di bagian dalam kapal dan motor yang dibawa biasanya diletakkan di pinggir kanan, kiri dan bagian depan. Tak hanya itu, di bagain dek atas juga penumpang bisa duduk sembari menikmati pemandangan Danau Toba.

Kapal motor ini pun saat berlayar tidak menggunakan kecepatan tinggi. Sebab KM ini biasanya juga digunakan sebagai kapal wisata para pelancong yang akan menyeberang dari Parapat, Simalungun dan beberapa pelabuhan lainnya untuk menuju ke Pulau Samosir atau sebaliknya. Pemilik kapal motor Sinar Bangun ialah Tua Sagala.

Kapal motor seperti KM Sinar Bangun sebenarnya bisa dijumpai di dermaga-dermaga pinggiran Danau Toba seperti Ambarita, Ajibata, Simanindo, Tigaras dan Muara. Kapal-kapal ini banyak dan bersandar menanti pelancong yang akan menyeberang ke Pulau Samosir untuk menikmati destinasi yang ada.

Bentuknya pun sama dibuat dengan kayu untuk bodi kapal dan mesin tempel yang digunakan untuk menjalankannya. Namun, sayangnya bila musim liburan tiba atau saat pesta Danau Toba, kapal seperti ini semakin banyak bermunculan dan mengangkut melebihi kapasitas semestinya.

Baca juga: Tampomas II, Ingatkan Tragedi di Perairan Masalembo

Meski dilengkapi dengan life jaket, tetapi bila melebihi kapasitas atau muatan kapal motor ini pun bisa dikatakan tidak aman. KM Sinar Bangun sendiri tenggelam di Danau Toba yang merupakan danau alam besar yang terjadi dari letusan gunung super vulkano pada 73 ribu-75 ribu tahun yang lalu.

Danau Toba memiliki panjang sekitar 100 km dan lebar 30 km dengan kedalamanan hingga 505 meter. Menjadi danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara serta memiliki sebuah pulau Vulkanik yang bernema Pulau Samosir.