PaQ, Amankan Barang Berharga dalam Koper dari Benturan di Bagasi

Melakukan perjalanan dengan pesawat, biasanya mewajibkan penumpang yang membawa koper besar masuk ke bagasi kargo. Apalagi saat ada peraturan dimana alat elektronik besar harus ikut disimpan di bawah tanpa boleh masuk ke dalam kabin.

Baca juga: Swiss Freitag Ciptakan Tas Travel yang Bisa Dilipat!

Namun bagaimana untuk membungkus dan menyimpan barang elektronik atau barang pecah belah yang dibawa agar tertahan benturan? KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (5/7/2018), dengan membungkus menggunakan bubble warp (plastik gelembung) atau koran barang tersebut bisa cukup aman dan melindunginya dari benturan.

Pembungkusan ini juga agar barang tidak rusak, pecah atau cacat saat dibuka kembali. Tak hanya itu ada pula PaQ yang merupakan gadget self-inflating dan mampu mengamankan semua barang berharga dalam koper Anda.

PaQ ini berbahan material PVC seperti kantung tiup seukuran smartphone atau tablet dengan berat 7,7 ons atau sekitar 218 gram. Di lengkapi dengan tenaga baterai AA yang bisa bertahan selama dua tahun dengan penggunaan seminggu sekali.

Cara penggunaannya pun mudah, saat Anda selesai berkemas pakaian dalam koper, letakkan kantung PaQ yang berbentuk persegi panjang tersebut dan tempatkan dalam koper di sisi atas. Kemudian, tekan tombol pada perangkat untuk memompa udara kedalam kantong dan tutup koper Anda.

Nantinya, meski sudah ditutup, PaQ masih bekerja untuk memenuhi ruang kosong di koper dan akan berhenti mengembang pada tekanan tertentu secara otomatis jadi tidak perlu khawatir PaQ akan merusak koper. Hal ini menguntungkan pengguna karena PaQ akan mampu menahan semua pakaian, cairan, barang elektronik dan lainnya di dalam koper untuk mencegah terbentur.

Baca juga: JOOX dan AirAsia Rilis “Fly Away,” Musik Tanpa Internet di Pesawat

Tenang saja, PaQ sendiri bisa kempes setelah Anda membuka koper. Diketahui PaQ saat ini merupakan subjek kampanye Kickstarter atau bisa dikatakan penjualan dengan promo seharga US$29 atau Rp417 ribu.

Nantinya untuk harga eceran sendiri diperkirakan dijual dengan harga US$49 atau Rp705 ribu. Bila pendanaan terpenuhi, selain menggunakan sensor akan pula dihadirkan dengan kemampuan Bluetooth dimana akan memberitahukan aplikasi di ponsel setelah koper tiba di bagasi claim.

Selandia Baru Bakal Hadirkan Kembali Trem di Jalanan Wellington

Pada masanya trem merupakan salah satu transportasi massal yang banyak sekali digunakan negara di dunia. Salah satu negara yang juga pernah memiliki trem adalah Selandia Baru. Negara ini memiliki trem listrik bersejarah yang kembali melaju di jalanan Wellington di awal abad ke-20. Dimana kehadiran trem ini sekaligus mengungkap sejarah tragis yang mengubah moda transportasi metropolitan itu selamanya.

Baca juga: Tingkat Kecelakaan Trem Meningkat, Praha Gelar Kampanye Keselamatan di Jalan

Dirangkum dari stuff.co.nz oleh KabarPenumpang.com (27/6/2018), seorang pembuat roda Wairarapa sudah memulihkan trem listrik tertua di Wellington selama lebih dari ribuan jam untuk kembali ke Pantai Kapiti. Trevor Burling dari Wellington Tramway Museum mengatakan, pemulihan kendaraan ini adalah tambahan signifikan terhadap warisan transportasi Selandia Baru.

“Ini trem listrik tertua dari Wellington. Ini adalah gelombang listrik pertama yang pernah datang,” ujarnya.

Perubahan tersebut ternyata dipengaruhi oleh kematian tragis konduktur trem sebelum Perang Dunia I yang menyebabkan perubahan hukum yang mempengaruhi seluruh negeri. Diketahui saat itu tahun 1913 Frank Breedon seorang konduktur meninggal ketika tremnya menabrak tiang, dirinya tewas saat berayun dibagian luar trem ketika beroperasi di Wellington demi menyelamatkan diri untuk keluar.

Karena hal ini, Parlemen kemudian mengharuskan semua trem yang ada di Selandia Baru memiliki akses dari satu ujung ke ujung yang lainnya di dalam kendaraan. Ini membuat kursi dilepas untuk membuat gang di dalam trem.

Trem ini sempat pensiun pada pertengahan 1940-an dan berada di pantai di Raumati Selatan. Kemudian tahun 1983 museum membeli gerbong trem tersebut dan menyimpannya hingga akhirnya dari Gladston Wheelwright Shop pada 28 Juni dipindahkan ke rumah barunya di Museum Tramway di Queen Elisabeth Park, Paekakariki.

Saat ini trem tersebut bisa dilihat di museum dan biaya pemulihan gerbong tersebut sekitar AUS$300 ribu atau setara dengan Rp3,1 miliar yang disumbang oleh Lotere Selandia Baru dan lainnya.

“Greg telah melakukan pekerjaan yang sangat hebat. Dia seorang perfeksionis. Dia benar-benar berhati-hati dengan materi dan mungkin membuatnya lebih baik daripada ketika itu baru,” ujar Burling.

Greg dan Ali Lang dari The Wheelwright Shop di Gladstone, Carterton telah benar-benar berkomitmen untuk restorasi selama lebih dari empat tahun. “Kami sangat bangga akan hal itu. Kami lelah setelah semua pekerjaan yang kami lakukan selama sebulan terakhir untuk menyelesaikannya. Sungguh menyentuh untuk mencapai kesimpulan tetapi sangat bagus untuk mengetahui orang-orang akan menggunakannya,” kata Ali Lang.

Langkah selanjutnya dalam mendapatkan trem kembali ke rel adalah pemulihan rel untuk berjalannya. Burling mengatakan setelah ini selesai dalam 18 bulan hingga dua tahun, trem akan digunakan di McKay’s Crossing untuk membawa penumpang ke Porirua Beach.

Baca juga: Trem di Melbourne, Jaringan Terpanjang di Dunia dan Jadi Ikon Kota

Trem dibangun oleh Perusahaan Mobil Listrik Inggris di Manchester, Inggris dan dikirim ke Selandia Baru di mana ini disatukan oleh Wellington Corporation Tramways. Ini pertama kali digunakan pada tahun 1904 dan digunakan di berbagai rute di sekitar Wellington termasuk Oriental Parade, Island Bay, dan Karori.

Itu diperbesar pada tahun 1911 dengan bagian terbuka ditambahkan ke kotak mobil untuk meningkatkan kapasitas. Kombinasi gaya konfigurasi California ini berarti bahwa beberapa penumpang terbuka untuk elemen.

“Bisakah Anda membayangkan naik Willis St dalam salah satu hal itu di tengah musim hujan?” Kata Burling.

Nyeleneh, Orang-Orang ini Sulap Kendaraan Jadi Kolam Renang!

Kreatifitas tanpa batas. Kalimat singkat, jelas, dan padat tersebut dapat bermakna banyak di tangan-tangan orang yang tepat. Pengalihfungsian beragam benda yang sudah tidak dipakai menjadi kasus yang paling sering kita temui. Tentu Anda semua masih ingat dengan sejumlah moda transportasi tua yang disulap menjadi salon, restoran, hingga hotel.

Baca Juga: Seniman Hollywood Sulap Kereta Kuno Jadi Restoran Mewah

Nah, kali ini ada seorang kreatif yang menyulap van tua menjadi sebuah kolam renang! Ya, itulah yang menjadi nilai jual dari kreatifitas seseorang, dimana ia mampu mentransformasikan suatu barang yang sudah tidak terpakai menjadi lebih berguna kembali.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (14/6/2018), seorang pekerja seni asal Perancis, Benedetto Bufalino diketahui pernah mengubah sejumlah kendaraan menjadi lebih artistik. Terakhir, ia mengubah sebuah van tua yang sudah tidak terpakai menjadi kolam renang mini.

Alih-alih harus menetap di suatu tempat, van tua yang memiliki fungsi baru ini tetap dapat berlari di jalanan lho! Jadi silakan Anda bayangkan sendiri bagaimana sensasinya berenang sembari jalan-jalan keliling kota. Hampir dapat dipastikan, perhatian semua orang akan tertuju pada Anda.

Semuanya berawal ketika Benedetto membeli sebuah van tua dan mulai bekerja dengan timnya untuk membuat sebuah kolam renang mobile. Secara sistematis ia mengeruk semua bagian dalam van tersebut dan melapisi bagian dalamnya dengan pelat baja. Hasilnya pun melebihi apa yang dibayangkan.

Sebuah kolam renang kecil yang mampu menampung beberapa orang dewasa ini tetap tidak kehilangan ‘wajahnya’ sebagai mobil van. Benedetto sendiri mengaku bahwa kolam van ini bisa tetap melaju, walaupun akan sangat berat ketika harus berjalan dengan kondisi air yang penuh, lengkap dengan beberapa orang yang berenang di dalamnya.

Sumber: viva.co.id

Itu dari luar negeri, Indonesia sendiri punya satu moda yang hampir serupa dengan kolam van tadi. Tentu saja dengan ciri khas kearifan lokalnya. Pertengahan Juni kemarin, jejaring sosial Instagram dibuat heboh dengan video yang menampilkan sejumlah pria dewasa tengah berendam di sebuah truk yang sedang berjalan.

Baca Juga: Kreatif! Pilot ini Sulap Bangkai Airbus A330 Menjadi Sebuah Museum

Berlapiskan terpal besar berwarna biru, bagian belakang truk bak terbuka ini disulap menjadi sebuah kolam renang seadanya oleh beberapa pria kreatif ini. Sontak, hal tersebut tidak hanya menjadi viral di Instagram saja, bahkan aksi mereka ini mampu menyedot perhatian warga sekitar tempat mereka melintas. Tidak banyak informasi yang dapat digali dari viralnya video ini, namun satu yang pasti, kreatifitas tanpa batas tidak memandang usia, gender, dan media yang digunakan.

 

CatEyeSYNC, Solusi Bagi Anda yang Gemar Bersepeda di Malam Hari

Selain hujan dan terpaan panas di siang hari, salah satu yang menjadi masalah bagi para pesepeda adalah berkendara di malam hari. Selain tidak semua sepeda memiliki sistem pencahayaan tambahan, jarak pandang yang dipancarkan oleh lampu tambahan tersebut pun tidak terlalu jauh. Ketika jarak pandang berkurang, maka secara otomatis resiko kecelakaan pun akan meningkat. Tapi Anda tidak perlu khawatir, karena CatEyeSYNC punya jawaban atas permasalahan tersebut!

Baca Juga: Lima Poin ini Siap Ubah Persepsi dan Jadikan Anda Seorang Komuter Sepeda!

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (6/7/2018), sistem CatEyeSYNC mampu menghidupkan tujuh lampu sekaligus, hanya dengan menggunakan smartphone Anda! Keren, bukan? Inovasi ini terdiri tiga bagian sederhana, yaitu Headlight Core, Kinetic Tail Lamp, dan Wearable Tail Light. Untuk masalah aplikasinya, Anda dapat mengunduhnya di AppStore dan Google Play. Sistem CatEyeSYNC dapat dikontrol melalui ponsel Anda dengan menggunakan koneksi Bluetooth.

Core Headlight. Sumber: newatlas.com

Tidak hanya sebatas menghidupkan atau mematikan lampunya saja, tetapi melalui aplikasi tersebut, Anda juga mengatur mode si lampu sepeda. Mulai dari mode flashing, hingga intensitas menyalanya, semua dapat diatur melalui aplikasi. Bobot dari ketiga lampu ini juga tergolong sangat ringan, yang paling berat hanyalah 94 gram saja.

Kinetic Tail Lamp. Sumber: newatlas.com

Untuk Headlight Core, beratnya hanya 94 gram, namun bisa memancarkan cahaya seterang 500 lumen. Sedangkan untuk Kinetic Tail Lamp, lampu ini bisa memancarkan cahaya seterang 30 lumen. Semisal pesepeda sedang berhenti, otomatis Headlight Core akan memancarkan cahaya hingga 50 lumen.

Wearable Tail Lamp. Sumber: newatlas.com

Sementara untuk Wearable Tail Lamp akan memancarkan cahaya seterang 40 lumen dan dapat menambah kewaspadaan pengguna jalan lain ketika lampu ini dipasangkan pada baju, tas, atau helm si pesepeda.

Baca Juga: Sepeda Kini Tanpa Dilipat Bisa Masuk Ke Gerbong Kereta

Ketiga jenis lampu ini sendiri disokong oleh baterai lithium yang dapat diisi ulang ketika dayanya habis. Indikator daya baterai pun dapat Anda lihat melalui aplikasi. Semisal daya ketiga lampu tersebut bada di bawah 10 persen, maka pengguna akan mendapatkan peringatan melalui pesan di dalam aplikasi.

Jika diatur ke output maksimum, maka ketahanan Headlight Core mampu mencapai dua jam, Kinetic Tail Lamp dan Wearable Tail Lamp mampu bertahan selama 1,5 jam. Bagaimana, apakah Anda yang gemar bersepeda tertarik untuk memiliki lampu-lampu inovatif ini? Cukup siapkan dana sebesar US$90 untuk Headlight Core, US$70 untuk Kinetic dan US$70 untuk Wearable Tail Light. Salam Gowes!

 

Gaet Embraer, Boeing Siap Rambah Pasar Pesawat Berbadan Kecil

Dalam rangka melebarkan sayap bisnisnya, salah satu manufaktur raksasa di dunia aviasi, Boeing berencana untuk mengambil alih bisnis jet komersial dari perusahaan kedirgantaraan asal Brasil, Embraer. Langkah tersebut ditempuh dengan harapan mampu mendorong ‘si perusahaan raksasa’ untuk masuk ke dalam pasar pesawat penumpang berukuran kecil. Ini juga merupakan salah satu cara yang ditempuh Boeing untuk memperkuat jaringan perusahaannya, setelah beberapa waktu yang lalu, Airbus menjalin kerja sama denga Bombardier.

Baca Juga: Beberapa Hal Yang Terlupakan dari Nama Besar Boeing

Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, Boeing akan memegang kendali atas 80 persen saham Embraer. Sebuah nilai yang setara dengan US$4,75 miliar atau yang berkisar Rp68,3 triliun. Berdasarkan Memorandum of Understanding (MoU) yang diumumkan oleh kedua perusahaan, nantinya basis perusahaan joint venture ini akan bermarkas di Brasil, namun akan dikendalikan oleh Boeing.

“Kami akan terus menjalin kerja sama dengan perusahaan lain dengan fokus untuk mengembangkan pasar dan mengembangkan produk dan layanan pertahanan seperti pesawat militer Embraer’s KC-390,” tutur salah satu juru bicara dari Boeing. Sebenarnya, kerja sama antara dua perusahaan ini sudah terjalin selama kurang lebih beberapa dekade ke belakang. “Sejak tahun 2017 lalu, kami sudah mulai membicarakan tentang produksi pesawat yang mampu menampung 70 hingga 450 penumpang, dan juga pesawat kargo,” tambah sang juru bicara tersebut.

Mengapa Embraer yang dipilih oleh Boeing dalam mengembangkan bisnisnya? Karena Embraer merupakan salah satu produsen pesawat regional terbesar, dimana produksiannya mencakup pesawat berbadan kecil yang mampu menampung 70 hingga 130 penumpang. Sedangkan pesawat komersial Boeing yang paling kecil adalah seri 737, dimana pesawat ini mampu menampung 126 penumpang.

Baca Juga: Boeing 737 MAX 7, Pecahkan Rekor Internal Penjualan Pesawat Tercepat Sepanjang Sejarah!

Setelah pemberitaan terakhir antara Boeing dan Airbus sukses menyedot perhatian publik dengan pesawat penumpang terbesarnya, Boeing 787 dan Airbus A380, kini dua perusahaan ini tengah kembali berusaha merebut perhatian pasar dengan cara merambah produksi pesawat berbadan kecil. Terlepas dari itu semua, durasi kerja sama antara Boeing dan Embraer akan terjalin selama 10 tahun ke depan.

 

Toyota Meluncur di Air dengan Kapal Balap Bertenaga Hidrogen

Setelah enam tahun melakukan pelayaran, Toyota salah satu merek mobil terkenal mengirimkan kapal bertenaga hidrogennya. Kapal balap ini diadaptasi khusus dengan Energy Observer yang menggunakan tenaga surya, angin dan gelombang yang dihasilkan.

Baca juga: HYBRIDShip Bangun Kapal Ferry Tanpa Emisi

Hidrogen bebas karbon tersebut dihasilkan dari air laut. Teknologi dasarnya sendiri sudah digunakan didarat, dimana bisa membantu mangatasi masalah pasokan listrik entermittent dari energi terbarukan. Tetapi konsep ini sendiri baru pertama kalinya digunakan di laut untuk menghasilkan hidrogen selama persinggahan dan navigasi.

KabarPenumpang.com merangkum dari laman techradar.com (5/7/2018), kapal ini menghasilkan hidrogen dengan demineralisasi air laut yang mana menghilangkan garam dan ion. Kemudian memisahkan oksigen dan hidrogen melalui elektrolisis.

Hidrogen ini dikompresi pada 350-700 bar yang kemudian disimpan dalam tangki yang siap digunakan jika diperlukan. Energy Observer dibangun di Kanada pada tahun 1983 oleh arsitek angkatan laut Nigel Irens dan pelayaran terbaru ini tidak akan menjadi rekor dunia pertamanya.

Pada tahun 1984, itu menjadi perahu layar balap pertama yang menembus batas 500 mil dalam 24 jam. Kapal telah diperpanjang empat kali sejak mengkuti balapan dan sekarang panjangnya 30,5 meter dan lebar 12,8 meter. Pada 28 metrik ton, itu memiliki keuntungan berat yang cukup besar dibandingkan dengan perahu yang didukung oleh baterai penyimpanan saja.

Diketahui, sebuah tim yang beranggotakan lebih dari 30 orang, termasuk arsitek, perancang dan insinyur bekerja untuk mempersiapkan kapal selama enam tahun pelayarannya, di mana ia akan menavigasi 50 negara dan berhenti di 101 pelabuhan. Tur Eropa utara dijadwalkan untuk tahun depan, termasuk Inggris.

Para kru bertujuan untuk mencapai Tokyo pada tahun 2020 saat Olimpiade. Kapal ini dikapteni oleh pembalap profesional Victorien Erussard, didampingi oleh pemimpin eksplorasi Jérôme Delafosse, penyelam laut dalam dan pembuat film.

Selama perjalanan mereka, tim akan memproduksi konten dokumenter tentang sumber energi yang dapat diandalkan. Ini akan disiarkan melalui serangkaian delapan episode di jaringan TV Prancis Planète dan sebagai serial web yang dibagikan di media sosial.

“Pengamat Energi adalah konversi yang memiliki makna ganda yakni mendaur ulang catamaran yang andal dan ringan yang merupakan pemegang rekor dunia dan berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan, bukan dalam komposit,” kata Erussard.

Baca juga: Saingi Jerman, SINTEF Fokuskan Penggunaan Bahan Bakar Hidrogen di Norwegia

Toyota sendiri diketahui sudah menggunakan hidrogen untuk membantu menggerakkan kendaraan di darat, termasuk mobil seperti Toyota Mirai, bus, truk dan forklift. Toyota Prancis menyediakan kru Energy Observer dengan delapan kendaraan untuk digunakan selama persinggahan ketika kapal berangkat tahun lalu dan sekarang Toyota Motor Eropa telah memberikan dukungan penuh di belakang pelayaran.

“Energy Observer adalah inisiatif yang menarik dan kami di Toyota Motor Eropa senang dikaitkan dengan tim yang begitu bersemangat dan berdedikasi. Proyek ini sekali lagi menunjukkan banyak kegunaan praktis hidrogen yang dapat dikembangkan saat kita bertransisi menuju masyarakat hidrogen,” kata Matt Harrison, wakil presiden penjualan dan pemasaran.

Kendati Futuristik, Sistem Pengereman Otomatis Masih Terbilang Prematur!

Tidak ada yang bisa memungkiri bahwa rem merupakan salah satu intrumen vital yang ada di setiap kendaraan. Sedikit saja terjadi malfungsi, maka keselamatan pengemudi dan penumpang yang berada di dalam kendaraan tersebut akan terancam.

Di Jepang, sebuah laporan menyebutkan bahwa sebanyak 82 kasus kecelakaan yang terjadi pada periode tahun 2017 diakibatkan oleh malfungsi rem otomatis. Angka tersebut tentu saja tidak bisa dipandang remeh karena jika tidak ditindaklanjuti, maka tidak menutup kemungkinan insiden semacam ini akan terus berulang.

Baca Juga: Tekan Angka Kecelakaan, London Uji Coba Sistem Rem Otonom Pada Bus Umum

KabarPenumpang.com mengutip dari laman japantimes.co.jp (3/7/2018), mengingat banyaknya kasus kecelakaan yang terjadi akibat malfungsi sistem pengereman otomatis ini, Kementerian Perhubungan sampai-sampai mengumpulkan data sendiri. Tercatat ada 320 laporan masuk yang berkaitan dengan malfungsi sistem pengereman tersebut selama tahun 2017.

Dari 320 kasus tersebut, pihak kementerian memusatkan perhatian terhadap 88 kasus yang menyatakan bahwa sistem pengereman tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan 249 kasus lainnya berisikan keluhan tentang sistem rem yang aktif secara tidak terduga. Ada satu anomali unik di sini, dimana otoritas berwajib di Jepang sebelumnya telah mendorong setiap mobil penumpang untuk memasang sistem pengereman otomatis.

Namun sayangnya sistem tersebut masih terlalu prematur untuk diterapkan pada kendaraan pribadi di Jepang sana. Masih diperlukannya serangkaian pengembangan membuat sistem pengereman otomatis ini berdampak buruk terhadap penggunanya. “Sistem pengereman otomatis tersebut terpasang pada 66,2 persen mobil penumpang yang diproduksi pada tahun 2016,” tutur pihak kementerian. “Angka tersebut naik 4,3 persen ketimbang tahun 2012,” tandasnya.

Sekedar informasi, sistem pengereman otomatis ini menggunakan teknologi radar yang akan mendeteksi dan memantau kondisi di depan kendaraan. Tidak hanya itu, inovasi ini juga akan memberitahu pengemudi semisal ada ancaman tabrakan atau halangan lain sebelum sistem secara otomatis mengurangi laju kendaraan dan melakukan pengereman.

Baca Juga: 10 Poin Penting Sistem Keselamatan di Bus

Pada bulan April lalu, pihak kementerian merilis sebuah video yang menayangkan bahwa sistem canggih ini belum bisa sepenuhnya diaplikasikan dalam semua kondisi. Sebut saja ketika turun hujan, pencahayaan yang kurang, turunnya kabut, atau serangkaian gangguan lain yang menghambat daya pantau radar. “Bahkan sistem pengereman otomatis ini tidak berfungsi sempurna ketika kendaraan tengah melaju dengan kecepatan tinggi.” tutup pihak kementerian.

 

Sukses Hadirkan WiFi Gratis di 400 Stasiun India, Kini Google Rambah Ruang Publik Lain

Sukses menghadirkan WiFi gratis di 400 stasiun India, Google berencana untuk menawarkan WiFi gratisnya seperti di mall dan universitas. Pemilihan ruang publik lainnya ini dimaksudkan untuk memudahkan pengguna mengakses internet dengan jangkauan lebih luas lagi secara gratis.

Baca juga: 400 Spot WiFi Gratis “Google Station” Telah Terpasang di India

Saat ini untuk memperluas jaringannya, Google sedang dalam pembicaraan dengan operator telekomunikasi dan penyedia layanan internet serta pemerintah negara bagian. KabarPenumpang.com merangkum dari laman inc42.com (5/7/2018), Direktur kemitraan di Google India, K Suri mengatakan, Telcos adalah sesuatu yang pasti pihaknya bicarakan.

“Dengan hal-hal seperti cakupan WiFi dan pemindahan data ke jaringan yang tidak stabil. Itu adalah alasan mengapa perusahaan telekomunikasi ingin berada di ruang ini. WiFi sedang dalam tahap yang baru lahir di sini, Sehingga siapapun yang tertarik dengan ekosistem WiFi publik, kami terlibat dengan mereka untuk mendorong akses. Filosofi kami adalah bagaimana kita menghubungkan miliaran selanjutnya?” ujar Suri.

Diketahui sebelumnya, Google sudah mendapatkan kesepakatan dengan RailTel dan Larsen&Tourbo untuk menyebarkan 150 Hotspot Google Station di Pune. Dengan Google WiFi telah digunakan lebih dari delapan pengguna setiap hari.

“Kami bekerja pada kekuatan kami dalam bermain iklan untuk melihat bahwa kami dapat tampil di proses masuk dengan cara yang mulus. Kami melakukan itu sehingga kami dapat memonetisasi bagian-bagian dari WiFi, oleh karena itu menjadi model yang berkelanjutan. Kami dapat membawa banyak teknologi kami untuk menanggungnya dan memecahkan masalah keberlanjutan pada dasarnya,” ujar Suri.

Terkait dengan WiFi berbayar, Suri mengatakan, tidak semua orang benar-benar bersedia membayar untuk layanan WiFi publik, ini adalah tahap awal ekosistem WiFi, sehingga pihaknya melakukan uji coba dengan apa yang diketahui dapat bekerja dan terus mencari caranya.

Beberapa peneliti mengatakan pengguna bisa mempertimbangkan untuk membayar layanan WiFi di lokasi umum jika dengan harga INR5-6 atau Rp1000-1200 per GB. Suri menambahkan, bahwa Google secara konstan akan mencari lebih banyak peluang yang mungkin termasuk menggulirkan WiFi gratis di lebih banyak stasiun.

Perkembangan ini terjadi setelah proyek Open Public WiFi dari Pusat yang bertujuan untuk mengembangkan penggunaan WiFi dengan menawarkan konektivitas Internet murah untuk orang-orang di Kota Tingkat 2 dan 3 di India. Saat ini, Telecom Regulatory Authority of India (TRAI) telah membuat rekomendasi untuk pembuatan agregat kantor data publik (PDOA) dan kantor data publik (PDO), yang harus diizinkan untuk menyediakan akses Internet melalui teknologi WiFi tanpa lisensi apa pun.

Pada bulan Juli 2017, TRAI telah mengumumkan rencana untuk membuat jaringan hotspot WiFi di seluruh negeri. Sebagai bagian dari inisiatif, TRAI akan berkolaborasi dengan perusahaan telekomunikasi dan penyedia data Internet yang ada untuk menyiapkan PDO “bayar saat pergi” di berbagai bagian negara.

The Indian Space Research Organization (ISRO) meluncurkan tiga satelit pada Mei 2017 dengan tujuan menyediakan Internet berkecepatan tinggi di India. Selama periode yang sama, Facebook meluncurkan Proyek WiFi Express di India, yang bertujuan untuk memberdayakan pengusaha lokal agar mendapatkan penghasilan tetap dengan menyediakan akses Internet berkualitas kepada tetangga mereka.

Baca juga: Setelah India, Google Station Siap Tebar Free WiFi Gratis di Indonesia

Kabarnya, Bharti Airtel juga telah bergabung untuk membantu meluncurkan 20 ribu hotspot lagi di negara ini. Vodafone India meluncurkan SuperWiFi dengan banyak fitur dan manfaat bagi perusahaan. Layanan tersebut saat ini ditargetkan pada segmen seperti perusahaan, pemerintah, perhotelan, pendidikan, BFSI, ritel, restoran, kesehatan dan manufaktur.

Reliance Jio juga menggelar hotspot di tempat-tempat umum. Perusahaan telekomunikasi ini dapat menggunakan jaringan WiFi mereka untuk menawarkan layanan voice over WiFi (VoWiFi) di India juga. Menurut studi Analysys Mason, WiFi publik akan menghubungkan 40 juta pengguna baru ke Internet pada tahun 2019. Rencana Google untuk menyediakan WiFi publik di mall dan universitas pasti akan berkontribusi pada basis pengguna baru ini.

Sydney Hadirkan Kereta Double Deck Terbaru dari Korea Selatan, Mengular di 2020

Kereta dengan model kabin bertingkat atau double deck sudah dikenal di Sydney, Australia. Bahkan kereta double deck dengan warna kuning ini sangat akrab sebagai wahana komuter warga di kota terbesar di Negeri Benua tersebut. Dan kini ada kabar pemerintah negara bagian New South Wales (NSW) berencana untuk merilis double deck terbaru dengan melintas wilayah Newcastle, Blue Montains dan South Coast.

Baca juga: Wujudkan Mimpi, Pemilik Resor di Australia Hadirkan Kereta Bertenaga Sel Surya

Kereta tersebut dibuat selama sembilan bulan terakhir oleh para arsitek untuk menyempurnakan aspek interior kereta seperti penyimpanan bagasi, rak sepeda bahkan warna kursi. KabarPenumpang.com melansir dari smh.com.au (27/6/2018), nantinya kereta tersebut akan dipesan sebanyak 512 gerbong dan akan menggantikan kereta V-set yang sudah ada selama empat dekade.

Tahun depan, kereta baru ini akan meluncur di rel dari Central Coast dan Newcastle. Tahun 2020 kereta api yang dibuat di Korea Selatan ini akan mulai berjalan di Blue Montains ke Mount Victoria kemudian menuju Lithgow sekitar empat bulan kemudian serta di jalur South Coast ke Wollongong dan Kiama.

Dalam kereta dua dek ini, terdapat toilet yang bisa diakses oleh penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda, tangga yang cukup untuk digunakan penumpang nantinya untuk ke dek atas. Kursi yang melengkapi kereta ini pun terpasang dalam formasi dua-dua dan bukan model kursi yang bisa di balik.

Menteri Perhubungan Australia Andrew Constance mengatakaan, kereta ini akan menjadi pengalaman yang benar-benar baru untuk pelanggan. Dimana kereta ini lebih nyaman dan menyenangkan dari yang lalu.

“Ini bukan seolah-olah ini adalah kereta yang dirancang untuk perjalanan penumpang 10 hingga 12 jam,” ujar Constance.

Kepala Transportasi NSW bagian pengiriman armada, Becky Wod mengatakan, dirinya berharap penumpang akan melihat ruangan yang lebih besar dan lingkungan yang ramah.

“Kami mendapat banyak umpan balik dari para pelanggan kami bahwa salah satu hal yang perlu kami fokuskan adalah perasaan aman, serta merasa nyaman. Kami benar-benar memikirkan teknologi dan membuatnya dapat diakses,” ujar Wood.

Di bagian luar kereta, layar digital akan memberi tahu orang-orang tentang aspek-aspek seperti lokasi gerbong yang tenang dan penuh. Pembaruan dua tahun ke jalur Blue Mountains antara Springwood dan Lithgow akan dimulai akhir tahun ini untuk membuatnya mampu membawa kereta baru. Constance mengatakan, dia akan mengungkapkan biaya pembaruan ketika kontrak akhir ditandatangani.

Baca juga: AutoHaul, Kereta Diesel Otonom di Australia Barat

“Kami memiliki kemampuan untuk melakukan ini untuk pertama kalinya dalam 150 tahun dan kami akan melakukannya. Saya tidak mengerti mengapa orang-orang Lithgow harus ditolak akses ke kereta kelas dunia modern,” katanya.

Pemerintah telah menetapkan biaya keseluruhan dari kereta api baru, peningkatan ke jalur Blue Mountains dan fasilitas pemeliharaan baru di Kangy Angy sebesar AUS$2,8 miliar atau setara dengan Rp29,6 triliun.

Gegara ‘Flight Mode’ di Ponsel, Seorang DJ Didepak Pramugari

Delapan orang harus keluar dari sebuah penerbangan Delta Airlines karena dianggap tidak mengubah flight mode alias mode pesawat di ponsel mereka. Perlakuan ini dilakukan oleh seorang pramugari yang tidak disebutkan namanya.

Baca juga: Ini Lho Fungsi Lain dari Airplane Mode!

Awal mulanya seorang pramugari yang tak disebutkan namanya di videokan saat menegur Robyn Rogers dan mengatakan dirinya tidak mengubah mode pesawat di ponselnya. KabarPenumpang.com melansir dari laman thesun.co.uk (29/6/2018), bahwa pramugari tersebut berdiri didepan DJ asal New York itu dan mengancam untuk mengubah mode ponselnya ke pengaturan yang tepat.

Rogers sendiri mengklaim dirinya mencoba memperlihatkan pada pramugari bahwa ponselnya berada di mode pesawat. Tetapi pramugari tersebut justru terus berargumen dan berselisih dengan Rogers.

Hingga dalam video yang diambil penumpang dari deretan belakang tersebut terdengar pramugari mengatakan, “Saya tahu apa yang saya dengar. Saya tidak akan berdebat dengan Anda. Tidak perlu berdebat, karena instruksi kru artinya instruksi kru.”

Saat itu pun Rogers menegaskan bahwa ponselnya sudah dalam mode pesawat tetapi pramugari tersebut tetap saja berdebat. Hingga seorang penumpang bernama Ryan Miller mengatakan, “Saya berada di sampingnya.”

Pramugari tersebut mengatakan kepada Miller apakah dirinya ingin ditinggal juga. Insiden ini kemudian diunggah Rogers di akun Instagramnya dimana dirinya dan beberapa penumpang lain dipaksa keluar pesawat.

Dalam postingannya tersebut, Rogers mengatakan, dirinya merasa insiden tersebut adalah sangkut paut dengan rasisme. Sebab selain Rogers, seorang wanita Latina dan seorang pria dengan anaknya juga tidak bisa kembali ke pesawat.

Baca juga: Ditendang Penumpang Cilik, Wanita Ini Keluhkan Regulasi Delta Airlines

“Saya ingin mengakui karena saya sangat menyadari ketidakadilan yang serius dan sangat menyakitkan yang terjadi di dunia dan komunitas kami, saya telah bergumul dengan berbagi pengalaman saya. Sepertinya kecil dalam menghadapi hal-hal itu. Tetapi yang kecil itu penting dan hal-hal kecil yang tidak terkendali,” ujarnya.

Insiden ini sendiri terjadi pada 23 Juni 2018 dalam penerbangan dari Bandara Fort Wayne di Indiana, Amerika Serikat. Terkait insiden ini pun Delta Airlines melalui seorang juru bicaranya menyebutkan bahwa hwapenerbangan tersebut merupakan penerangan lanjutan yang dioperasikan SkyWest Airlines. Masalah ini pun ditanggapi SkyWest dan melakukan peninjauan serta penyelidikan terhadap rekaman insiden itu.