Kumuh di Luar, Ciamik di Dalam. Inilah Stasiun MRT Caojiawan

Bak disambut oleh modernisasi, mungkin pemandangan gedung-gedung tinggi ketika Anda turun dari sistem Mass Rapid Transit (MRT) di luar negeri sudah bukanlah jadi hal yang aneh. Jika ditelisik lebih dalam, memang salah satu tujuan dari pembangunan stasiun MRT adalah untuk mengkoneksikan pusat-pusat keramaian di suatu kota, bukan?

Baca Juga: Stasiun Kereta Ini Khusus Layani Seorang Gadis SMA Untuk Bersekolah, Salut!

Nah, di Cina, ada satu stasiun MRT yang seolah membawa Anda menuju dunia antah berantah, dimana pemandangan gedung-gedung tinggi tersebut tergantikan oleh rerumputan tinggi, lengkap dengan puing-puing sisa bangunan. Nah lho!

Sumber: cnn

Sebagai salah satu tulang punggung sarana transportasi di Negeri Tirai Bambu, tidak heran jika otoritas di sana berusaha untuk mengkoneksikan semua titik yang akan memudahkan mobilitas daripada masyarakatnya. Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnn.com, terdapat sebuah statiun MRT unik di pinggiran kota Chongqing, Cina. Seperti yang sudah disinggung di atas, stasiun bernama Caojiawan ini berada di tengah semak belukar, lengkap dengan puing-puing bangunan yang sudah tidak terpakai lagi.

Perbandingan yang sangat signifikan terlihat dari area luar stasiun ini, dimana sentuhan modernisasi hanya tampak dari bibir terowongan menuju Stasiun Caojiawan saja. Sedangkan daerah sekelilingnya, hanyalah ditumbuhi oleh rumput dan tanaman liar. Namun ketika Anda masuk ke dalamnya, stasiun MRT yang dilintasi oleh Metro’s Line 6 ini memiliki tampilan yang sewajarnya sebuah stasiun MRT. Sentuhan modernisasi tampak di setiap sudut stasiun yang sejuk oleh pendingin udara.

Interior Stasiun Caojiawan. Sumber: cnn

Pada awalnya, Stasiun Caojiawan memiliki tiga buah pintu keluar, namun karena satu dua hal, hingga kini hanya satu pintu saja yang dapat diakses oleh para penumpang. Entah di dasari pada kondisi di luar stasiun yang belum terjamah oleh modernisasi atau memang stasiun ini bukanlah salah satu destinasi utama penumpang, namun Caojiawan bisa dibilang termasuk stasiun paling sepi diantara stasiun lain yang bertengger di sistem MRT Tiongkok.

Terbukti, stasiun yang mulai beroperasi  pada 26 Oktober 2015 ini hanya melayani beberapa penumpang saja ketika jam sibuk. “Sedikit sekali penumpang yang turun di stasiun ini. Biasanya, tidak akan ada penumpang yang naik atau turun di sini,” tutur salah satu pekerja stasiun.

Baca Juga: Stasiun Gorakhpur, Punya Peron Terpanjang di Dunia

Dilansir dari laman sumber lain, desain jalur kereta bawah tanah dan pembangunan jalan dikelola oleh dua departemen pemerintahan yang berbeda. Departemen Perencanaan Kota dilaporkan mengikuti pengembangan jalur metro di masa depan. Hal ini berarti kemungkinan ada sebuah kota yang dibangun di dekat Stasiun Caojiawan suatu hari nanti.

Stasiun Ini Dalamnya Melebihi Tinggi Patung Liberty

Kereta api sejatinya masih menjadi salah satu moda favorit pilihan para penumpang, bukan hanya menawarkan kecepatan, estimasi perjalanan yang tepat waktu juga menjadi salah satu faktor pendukung si ular besi ini menjadi primadona di mata penggunanya. Di beberapa Negara, terdapat layanan kereta bawah tanah, sebut saja Jepang, Rusia, dan Inggris merupakan Negara yang memiliki kereta subway. Biasanya, instalasi dari kereta bawah tanah tidak terlalu dalam. Tapi tahukah Anda tentang 1 stasiun bawah tanah paling dalam di dunia?

Baca juga: Terowongan Brockville – Terowongan Kereta Pertama di Kanada yang Dihiasi Lampu Warna Warni dan Alunan Musik 

Adalah The Arsenalna, sebuah stasiun Metro di Kiev, Ukraina yang berada di rute Sviatoshynsko-Brovarska.Tidak main-main, kedalaman dari stasiun ini adalah 105,5 m, kedalaman yang mengalahkan tinggi dari patung Liberty. Stasiun yang dibuka pada 6 november 1960 ini mengalahkan stasiun bawah tanah lainnya di dunia, seperti Stasiun Admiralteyskaya di kota St. Petersburg Rusia dengan kedalaman 86 m, dan Stasiun Park Pobedy di Moskow dengan kedalaman 84 meter.

Anda membutuhkan waktu 5 menit dengan menggunakan eskalator untuk sampai ke stasiun yang berada di perut bumi ini. Ternyata, pembangungan stasiun bawah tanah terdalam di dunia ini bukan tanpa alas an. Berdasarkan data yang dilansir dari laman amusingplanet.com, dimana kondisi geografis di Kievlah yang memperngaruhi kedalaman dari stasiun yang memiliki 2 track tersebut. Mungkin suasana di dalam stasiun agak sedikit terasa sesak, mengingat kedalaman yang cukup ekstrim dari stasiun Arsenalna ini, seperti yang Anda rasakan ketika melewati sebuah terowongan gelap yang panjang.

Pintu masuk dari stasiun ini berada di atas sebuah lembah curam di samping sungai Dnieper, dimana para pekerja yang membangun proyek ini harus menggali lebih dalam. Interior di dalam stasiun ini juga bisa dibilang sangat artistik. Anda akan menemukan dinding beton kokoh berlapiskan keramik berwarna putih pudar seketika Anda turun dari eskalator panjang tersebut. Terdapat pula nama stasiun ini dalam bahasa Ukraina di salah satu dinding stasiun ini yang semakin menambah kesan artistik.

Stasiun yang diarsiteki oleh H.Hranatkin, S.Krushynsky, N.Shchukina memiliki tiang-tiang kokoh serta langit-langit yang di plester seakan menahan stasiun ini dari aliran sungai Dnieper di atasnya. Dulu, sebelum tahun 1990, terdapat sebuah karya seni berupa pahatan yang menggambarkan peristiwa revolusioner yang berlangsung di pabrik gudang peluru pada tahun 1918 menghiasi dinding ruang lobi utama. Namun sayangnya, karya seni tesebut sudah tidak bisa lagi dinikmati karena sudah dirombak pada periode 1990-an.

Sumber: travelro.files.wordpress.com
Sumber: travelro.files.wordpress.com

Baca juga: Terowongan Tongguling yang Hubungkan Cina ke Vietnam Akhirnya Selesai

Adapun bagian atas atau serambi dari stasiun Arsenalna ini terletak di sebuah alun-alun yang mengarah ke Ivana Mazepy, Dmytro Godzenko dan jalan-jalan Mykhailo Hrushevsky, mirip dengan terowongan yang terletak di dekat stasiun Kota, Jakarta. Hingga kini, stasiun terdalam di dunia ini masih beroperasi dan melayani ribuan orang yang transit setiap harinya.

Di Bawah Tembok Besar Cina Ternyata Ada Jalur Kereta Berkecepatan Tinggi Terdalam di Dunia

Tembok Besar Cina adalah salah satu dari keajaiban di dunia yang ternyata di bawahnya terdapat stasiun kereta api berkecepatan tinggi. Penasaran dengan stasiun ini? Stasiun ini selesai tahun 2019 lalu dan bernama Stasiun Badaling.

Baca juga: Stasiun Ini Dalamnya Melebihi Tinggi Patung Liberty Loh!

Kalau dikatakan, stasiun ini hanya sepelemparan batu dari pintu masuk Badaling yang adalah bagian populer dari tembok yang berusia berabad-abad. Untuk melindungi monumen ikonik dari kerusakan struktural, maka stasiun dan jalur kereta api ini dibangun jauh di bawah tanah.

Pintu masuk Stasiun Badaling dekat Tembok Besar Cina

KabarPenumpang.com melansir cnn.com (3/2/2022), jalur ini terkubur sedalam 102 meter di bawah tanah dan meliputi area seluas lebih dari 36 ribu meter persegi. Memiliki struktur tiga lantai sebagai stasiun kereta api bawah tanah berkecepatan tinggi terdalam dan terbesar di dunia.

Untuk membangun stasiun yang begitu kompleks ini dengan sistem terowongan sepanjang 12 km di bawah situs Warisan Dunia UNESCO bukanlah hal yang mudah. Untuk itu para insinyur menggunakan detonator elektronik agar bisa mengatur waktu bahan peledak hingga milidetik.

Bisa dikatakan ini adalah pertama kalinya teknologi ini digunakan di Cina dan memungkinkan pekerja untuk mempertahankan kecepatan getaran di bawah 0,2 cm per detik. Itu berarti setiap ledakan diperhitungkan dengan tepat untuk memastikan dampaknya tidak lebih kuat dari satu langkah kaki di Tembok Besar.

Mulai tahun 2016, pembangunan terowongan dan stasiun membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk diselesaikan. Kehadiran kereta api berkecepatan tinggi di bawah Tembok Besar Cina Badaling ini sekitar 1,5 jam. Stasiun ini berjarak beberapa menit dari stasiun kereta gantung Tembok Besar dan sekitar 800 meter dari titik awal Tembok Besar Badaling. Ini juga merupakan rumah bagi eskalator terpanjang kedua di Cina, dengan panjang 88 meter dan tinggi 42 meter.

Karena jarak ke peron kereta, gerbang stasiun ditutup untuk pemegang tiket 12 menit sebelum keberangkatan kereta terakhir, bukannya lima menit seperti biasanya di stasiun lain di Cina, untuk memastikan bahwa penumpang memiliki cukup waktu untuk melakukan perjalanan. Meskipun tidak akan ada acara olahraga Olimpiade yang diadakan di dekat Tembok Besar Badaling, itu akan menjadi bagian dari estafet obor, yang berlangsung pada 2-4 Februari.

Baca juga: Seikan, Terowongan Kereta Terpanjang dan Terdalam di Dunia

Akibatnya stasiun, serta tembok bagian Badaling, ditutup pada 2 dan 3 Februari. Badaling bukan satu-satunya bagian dari Tembok Besar yang akan muncul di layar TV sebagai bagian dari upacara Olimpiade Musim Dingin.

Vietnam Airlines Pilih Airbus Skywise Untuk Solusi Pemeliharaan Prediktif Armadanya

Vietnam Airlines mengambil langkah signifikan dalam memastikan keselamatan penerbangan, mendorong keberlanjutan dan efisiensi operasional armadanya, dengan menandatangani perjanjian penggunaan solusi digital Airbus Skywise Predictive Maintenance (SPM).

Baca juga: Genjot Pendanaan, Vietnam Airlines Lelang Tiga Unit Airbus A321 Berusia 16 Tahun

Perjanjian jangka panjang ini akan meliputi pemeliharaan hingga 65 pesawat A321 Family, yang terdiri dari A321ceo dan A321neo, dan menjadi tonggak penting dalam transformasi digital yang sedang dilakukan oleh Vietnam Airlines.

Memanfaatkan data pesawat yang dikumpulkan dari Flight Operations and Maintenance Exchanger (“FOMAX”) yang baru, SPM dapat memberikan rekomendasi prediktif terbaik di kelasnya agar maskapai dapat mengurangi kejadian tak terencana, menangani ketidakpastian operasional, dan menghemat biaya perawatan yang bersifat tidak terjadwal.

Selain itu, SPM juga menawarkan efisiensi dalam hal mengoptimalkan pengelolaan suku cadang dan inventarisnya, serta membantu maskapai mengurangi emisi CO2 dengan mencegah konsumsi bahan bakar berlebih yang disebabkan oleh kecacatan pemeliharaan, sehingga secara keseluruhan SPM berkontribusi pada operasional maskapai yang lebih berkelanjutan.

Kontrak baru ini didasarkan pada kesuksesan penggunaan Skywise Health Monitoring (SHM) oleh Vietnam Airlines, yang telah memungkinkan tim pemeliharaan dan teknisi mengelola kejadian-kejadian pada pesawat dan memecahkan masalah secara real-time. Kemampuan ini membantu maskapai dalam mengidentifikasi, memprioritaskan, menganalisis, dan menangani kejadian in-service, memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat, dan meminimalkan risiko Aircraft On Ground (AOG).

Baca juga: Vietnam Airlines Jadi Maskapai Kedua di Asia Tenggara yang Layani Penerbangan Langsung ke AS

Skywise dari Airbus merupakan kumpulan solusi digital untuk industri penerbangan yang mencakup beberapa modul termasuk reliabilitas, pemeliharaan prediktif, atau pemantauan kesehatan pesawat. Layanan ini didukung oleh platform big data terkemuka di bidang penerbangan guna menawarkan serangkaian solusi siap pakai yang disesuaikan dengan kebutuhan operator untuk mengatasi tantangan teknis operasional mereka, serta menawarkan cara pengoperasian dan perawatan pesawat Airbus yang lebih berkelanjutan.

Waspada ‘Chikan dan Butsukariya’ – Masalah Sosial di Jaringan Kereta Komuter Jepang

Jepang terkenal dengan masyarakat transportasi yang maju, namun dibalik kemajuan tersebut terselip masalah sosial. Misalnya, di jaringan kereta api komuter Tokyo yang terkenal dengan kapadatannya, ada istilah Chikan dan Batsukariya.

Baca juga: Operator Kereta Komuter di Jepang Hadirkan Aplikasi Anti Pelecehan Seksual

Ada banyak hal yang disukai dari kereta api Jepang yang bersih, tepat waktu, dan terjangkau. Namun seperti semua hal di dunia ini, bepergian dengan kereta api di Jepang memiliki banyak elemen positif dan negatif.

Selain Chikan, muncul sosok lain yang tidak diinginkan bagi perumpuan wanita yang menggunakan jasa kereta komuter. Berbeda dengan Chikan, yang melakukan kejahatannya di dalam kereta, Butsukariya melakukan tindakan tercela di dalam stasiun, dengan sengaja dan paksa menabrak wanita saat mereka berjalan melewati melintasi lorong/peron stasiun.

Meskipun penumpang wanita sudah cukup lama mengeluh tentang Butsukariya, masalah ini hanya mendapat sedikit perhatian, sebagian karena fakta bahwa pusat-pusat kereta api utama di Jepang menjadi sangat ramai pada jam-jam sibuk sehingga sulit untuk menghindarinya tanpa sengaja.

Direkam oleh seorang pelajar yang sedang melakukan perjalanan melalui Stasiun Shinjuku dan disebarkan melalui organisasi berita FNN, video pendek yang diambil pada tanggal 25 Mei 2023 menunjukkan seorang pria dengan ransel berulang kali menabrak wanita. Kebanyakan dari mereka berjalan berlawanan arah dengan dirinya, namun ia juga memanggul seorang wanita dari belakang, sehingga wanita tersebut tidak mempunyai kesempatan untuk menghindari atau bahkan bersiap menghadapi dampaknya.

Baca juga: Lakukan Hal Ini Jika Mengalami Pelecehan Seksual di Kereta Api

Sama seperti Chikan, Butsukariya memanfaatkan kecenderungan masyarakat Jepang untuk mencoba meredakan kemarahan dan menghindari konfrontasi fisik. Yang lebih rumit lagi adalah sifat Butsukariya yang mudah berpindah-pindah berarti bahwa pada saat korban menyadari apa yang terjadi, dan bahwa mereka mempunyai alasan yang sah untuk marah, Butsukariya sering kali sudah pergi ke tengah kerumunan, atau bahkan melompat ke kereta untuk melarikan diri.

COMAC Luncurkan Varian C919 “Shortened/Plateau” untuk Beroperasi di Bandara Dataran Tinggi

Commercial Aircraft Corporation of China, Ltd. (COMAC) telah meluncurkan varian pesawat narrow body C919 yang diregangkan dan diperpendek, yang ditujukan untuk memenuhi berbagai kebutuhan operasional di dalam dan sekitar wilayah Cina.

Baca juga: Sebelum Resmi Angkut Penumpang, China Eastern Lakukan Penerbangan Verifikasi COMAC C919 Selama 100 Jam

Dinamakan C919 Stretched Variant dan C919 Shortened/Plateau Variant, kedua konsep tersebut terungkap di Shanghai International Commercial Aviation & Aerospace Industry Exhibition. Menaikkan dan menurunkan ukuran badan sempit standarnya untuk membuat keluarga pesawat dengan kebutuhan berbeda akan meniru variasi keluarga Airbus A320 dan keluarga Boeing 737 MAX.

C919 standar yang dikirimkan kepada pelanggan peluncuran China Eastern Airlines memiliki 164 kursi di kabin bisnis dan ekonomi. Comac mengatakan C919 Stretched Variant sesuai dengan tren perkembangan pasar pesawat lorong tunggal dalam skala besar dan dapat menampung 210 penumpang dalam tata letak dua kelas.

Varian yang lebih kecil dari C919 dirancang untuk menghubungkan bandara di dataran tinggi. Konfigurasi Shortened/Plateau memiliki kinerja lepas landas dan mendarat yang mencakup seluruh bandara dataran tinggi Cina dan dapat menampung 140 penumpang. Comac menambahkan pihaknya memiliki “potensi bagus” untuk turunannya lebih lanjut.

Baca juga: Gallop Air dari Brunei, Jadi Maskapai Internasional Kedua Pengguna COMAC ARJ21 Setelah TransNusa

Sementara itu, Cina menyebut Comac ARJ21 telah mengangkut lebih dari 10 juta penumpang. Jet regional tersebut melewati tonggak sejarah ketika China Southern Airlines ARJ21 baru-baru ini lepas landas pada rute Guangzhou-Jieyang. ARJ21 kini diperkirakan menerbangi 1.800 layanan mingguan di seluruh Cina dan Indonesia.

Airbus Uji Terbang Helikopter dengan Kendali Otomatis Lewat Tablet

Airbus berhasil menguji antarmuka mesin manusia atau human machine interface (HMI) baru yang disederhanakan bersama dengan fitur otonom canggih melalui proyek yang diberi nama kode Vertex. Teknologi yang dikembangkan oleh Airbus UpNext, dikendalikan oleh tablet layar sentuh dan bertujuan untuk menyederhanakan persiapan dan manajemen misi, mengurangi beban kerja pilot helikopter, dan lebih meningkatkan keselamatan.

Baca juga: Airbus Uji Coba Fitur Kendali Otonom pada Helikopter

FlightLab Helikopter Airbus terbang sepenuhnya otomatis mulai dari lepas landas, taksi, lepas landas, berlayar, mendekat, dan kemudian mendarat selama penerbangan uji satu jam dengan mengikuti rute yang telah ditentukan. Selama penerbangan ini, pilot memantau sistem yang mampu mendeteksi hambatan tak terduga dan secara otomatis menghitung ulang jalur penerbangan yang aman.

Kapanpun diperlukan, pilot dapat dengan mudah mengesampingkan kontrol melalui tablet dan melanjutkan misi setelahnya. Periode uji terbang berlangsung dari tanggal 27 Oktober hingga 22 November di fasilitas Helikopter Airbus di Marignane, Perancis.

“Demonstrasi sukses penerbangan otonom penuh mulai lepas landas hingga mendarat merupakan langkah besar menuju pengurangan beban kerja pilot dan penyederhanaan HMI yang ingin diterapkan oleh tim Airbus Urban Air Mobility pada CityAirbus NextGen. “Hal ini juga dapat diterapkan secara langsung pada helikopter dalam penerbangan tingkat rendah yang dekat dengan rintangan berkat informasi yang diberikan oleh sensor LIDAR (Light Detection and Ranging),” kata Michael Augello, CEO Airbus UpNext.

Baca juga: Airbus Helicopters Siapkan Suksesor Helikopter Terlaris H125, Bertenaga Listrik?

Helikopter Airbus akan terus mengembangkan berbagai teknologi yang terdiri dari Vertex: sensor dan algoritma berbasis penglihatan untuk kesadaran situasional dan deteksi rintangan; fly-by-wire untuk peningkatan auto-pilot; dan antarmuka manusia-mesin yang canggih – dalam bentuk layar sentuh dan tampilan yang dikenakan di kepala untuk pemantauan dan kontrol dalam penerbangan.

Kennington, Stasiun Bawah Tanah Unik dengan Fasilitas “U-Turn”

Terkenal dengan layanan kereta bawah tanahnya – Underground, Inggris memiliki cerita unik dari salah satu stasiun yang masuk ke dalam jaringan tersebut. Adalah Stasiun Kennington yang terletak di Kennington Park Road, Southwark, Selatan Inggris. Jika selama ini yang kita tahu adalah kereta akan langsir untuk berubah arah (biasanya kereta jarak jauh), atau menggunakan kereta dua kepala (biasanya dipakai oleh kereta komuter), maka lain cerita dengan di Kennington ini.

Baca Juga: Inilah 12 Stasiun Angker di Dunia!

Pembangunan stasiun ini dimulai pada tahun 1886 dan rampung pada tahun 1890 sebagai bagian dari kereta api listrik bawah tanah pertama di dunia. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman londonist.com, Stasiun Kennington ini terkenal dengan Kennington Loop-nya – dimana kereta yang Anda tumpangi akan melakukan U-Turn dan berjalan menuju arah sebaliknya tanpa harus langsir atau menggunakan kereta dua kepala.

Ya, skema U-Turn ini sangatlah unik terlebih ketika hal tersebut dilakukan di bawah tanah. Jadi semisal Anda tengah naik kereta yang mengarah ke Utara, setibanya Anda di Kennington Loop, kereta tersebut akan belok ke tube sebelah kiri dan melakukan U-Turn dimana itu akan membuat kereta berbalik arah dan melanjutkan perjalanan menuju Selatan.

Sumber: The Anonymous Widower

Salah satu lelucon yang kerap dilontarkan oleh warga Inggris soal stasiun ini adalah, “Sekarang Anda berada di Stasiun Kennington. Pemberhentian selanjutnya adalah Stasiun Kennington,”. Kelakar ini dilatarbelakangi oleh jalur U-Turn tadi. Selain kelakar, stasiun ini juga kerap diidentikkan dengan hal mistis – baik berupa lelucon atau kejadian nyata yang dialami oleh sejumlah komuter.

Untuk nuansa mistis yang berdasarkan lelucon, U-Turn tadilah yang menjadi inspirasinya, dimana para komuter akan dibuat bingung karena melewati Stasiun Kennington dua kali – padahal kereta hanya berputar di U-Turn. Sementara untuk nuansa mistis yang sesungguhnya, stasiun ini memang terkenal cukup angker karena sejumlah pengalaman zonk yang dirasakan langsung oleh para penumpang.

Berdasarkan cerita di laman sumber, beberapa penumpang kerap mendengar suara jeritan seorang perempuan, lampu kereta yang berkedip dengan sendirinya, suara pengumuman yang sering tidak terdengar, hingga papan penunjuk informasi yang mendadak error/rusak (glitch).

Baca Juga: Analisis Ilmiah Berbalut Nuansa Mistis Warnai Rentetan Kecelakaan di Stasiun Cipeundeuy

Bagi Anda para pecinta nuansa mistis yang kebetulan hendak atau tengah berkunjung ke Tanah Britania, nampaknya Stasiun Kennington menjadi satu tempat yang tidak boleh dilewatkan oleh Anda. Jika bingung mencari keberadaan dari stasiun ini, cukup buka aplikasi penunjuk arah dan Anda akan dituntun untuk tiba di Stasiun Kennington.

Yang Unik dari Monako, Satu-satunya Negara dengan Jaringan Kereta Seluruhnya di Bawah Tanah

Monako sebagai negara yang sangat kecil (luas total wilayah Monako hanya sekitar 2.02 km2) di pesisir Laut Tengah, terkenal dengan berbagai hal khas dan unik. Selain punya warna berdera yang sama dengan Indonesia, Monako sangat dikenal dunia sebagai lokasi kasino ternama di Monto Carlo dan ajang Formula 1 Grand Prix di sirkut jalanan. Lepas dari itu, Monako juga dikenal punya sistem transportasi kota yang unik.

Baca juga: Negara Mana Saja yang Tidak Punya Maskapai Nasional dan Tidak Punya Bandara?

Monako memiliki stasiun kereta bawah tanah dan sistem transportasi umum yang efisien dan nyaman, meskipun kota ini kecil, sehingga memudahkan penduduk dan pengunjung untuk bergerak di sekitar kota. Nah, tahukah Anda, bahwa Monako adalah satu-satunya negara di dunia yang tidak mempunyai jaringan rel kereta di permukaan, persisnya seluruh jaringan kereta di Monako berada di bawah tanah (underground).

Sifat jaringan kereta api yang seluruhnya di bawah tanah adalah akibat dari terbatasnya ruang di Monako dan topografi yang menantang. Membangun jalur kereta api di atas tanah yang luas akan menjadi tidak praktis mengingat keterbatasan geografis negara ini.

Jaringan kereta api di Monako sangat pendek dan terdiri dari jalur ganda standar. Kereta api ini menghubungkan Monako dengan kota-kota tetangganya di Perancis, dan jaringan tersebut sebagian besar terbatas pada terowongan.

Stasiun utama di Monako adalah Stasiun Monaco-Monte Carlo, juga dikenal sebagai Gare de Monaco, terletak di bawah tanah. Stasiun Monaco-Monte Carlo dibuka pada tanggal 7 Juli 1867, sebagai bagian dari jalur kereta api yang menghubungkan Nice di Perancis dengan Ventimiglia di Italia, melalui wilayah Monako.

Stasiun ini dirancang oleh arsitek Prancis, Gustave Eiffel, yang juga merancang Menara Eiffel di Paris. Stasiun ini terletak di bagian utara Monako dan menawarkan pemandangan indah Laut Tengah.

Baca juga: Inilah Andorra, Negara Terbesar Tanpa Bandara 

Stasiun Monaco-Monte Carlo berperan penting dalam sistem transportasi umum Monako dan membantu menghubungkan kota ini dengan kota-kota di sekitarnya. Stasiun ini juga merupakan titik masuk yang penting selama acara-acara besar, termasuk Formula 1 Grand Prix Monako yang terkenal.

Manufaktur Rudal dari Cina Buat Pemindai Tubuh di Bandara dengan Keakuratan 95 Persen

China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC) selama ini dikenal luas sebagai motor dalam indsutri rudal (peluru kendali) Cina. Dengan menguasai teknologi tinggi, CASIC belum lama ini mengumumkan baru saja meluncurkan alat pemindai tubuh dengan kecerdasan buatan untuk digunakan di bandara. Alat pemindai ini dapat mendeteksi 89 barang terlarang dalam waktu satu detik.

Baca juga: Jelang Pemeriksaan Keamanan di Bandara, Sebaiknya Tanggalkan Aksesoris Berikut Ini!

KabarPenumpang.com merangkum dari South China Morning Post, bahwa sistem yang ada di alat pemindai ini memiliki tingkat akurasi 95 persen. Sehingga diharapkan mampu membantu meningkatkan prosedur keamanan saat check ini di bandara yang tadinya hanya memindai secara manual dengan detektor logam.

“Menggunakan teknologi kedirgantaraan dalam keamanan seperti menggunakan mata rudal untuk memindai. Tidak ada yang bisa disembunyikan di bawah pakaian seseorang atau di atas kulit seseorang,” ujar kepala laboratorium AI, Zhao Yinghai.

Saat ini alat pemindai yang dilengkapi sistem terbaru sedang diuji coba di Bandara Beijing dan Urumqi ibu kota Xinjiang yang pernah mengalami kerusuhan karena masalah etnis pada 2009 lalu. Hadirnya produk keamanan ini ditengah upaya pemerintah Cina dalam mempromosikan inovasi komersial di bidang canggih dengan kepintaran buatan. Pada Juli lalu, Dewan Negara Cina menyusun agar negara tersebut menjadi pusat inovasi terkemuka di AI termasuk membangun industri AI dalam negeri senilai US$150 miliar.

Diketahui, lembaga penelitian yang berbasis di Beijing tersebut telah mengembangkan persenjataan dengan teknologi AI sejak 2015 lalu. Mereka mendirikan laboratorium penelitian AI khusus pada awal tahun 2017 lalu untuk mempercepat penelitian dan pengembangan yang terkait.

Salah satunya adalah pemindai tubuh yang didukung AI merupakan perkembangan terakhir yang keluar dari lab. Pemindai dapat membaca semua informasi antara pakaian dan kulit seseorang untuk mendeteksi item yang dilarang, termasuk zat korosif dan cairan yang mudah terbakar, yang sulit untuk menyaring menggunakan langkah-langkah keamanan tradisional.

Orang yang sedang akan masuk ke mesin harus menempelkan tangan mereka selama kurang dari dua detik untuk mengaktifkan pemindaian. Sistem ini bekerja dengan cara yang mirip dengan pemindai seluruh tubuh yang digunakan di bandara Amerika Serikat, dengan memantulkan gelombang elektromagnetik dari wisatawan dan secara otomatis menghasilkan gambar untuk menunjukkan di mana barang yang mencurigakan mungkin berada.

Baca juga: Hitachi Luncurkan EMIEW3, Robot Pintar di Bandara Dengan Artificial Intelligence

Meskipun kekhawatiran privasi meningkat, otoritas Cina telah banyak mengadopsi teknologi AI, khususnya sistem pengenalan wajah, untuk meningkatkan pengawasan keamanan publik. Kamera pengintai bertenaga AI telah dipasang di seluruh negeri untuk menemukan penjahat yang dicurigai.

Beberapa stasiun kereta bawah tanah yang paling sibuk di Beijing telah memasang kamera pengenal wajah untuk pengawasan kerumunan sementara polisi kereta api di provinsi Henan China tengah telah dilengkapi dengan kacamata pintar dengan teknologi pengenalan wajah built-in untuk menyaring penumpang.