Mengenal Lockheed L-188 Electra – Pesawat yang Menjadi Ikon di Film “The Hijacking of Flight 601”

Melanjutkan tentang film “The Hijacking of Flight 601” yang tengah tayang di Netflix, selain plot pembajakan yang menegangkan, turut menjadi perhatian adalah jenis pesawat yang menjadi latar kejadian, yakni Lockheed L-188 Electra yang dalam film disebut dioperasikan Aerobolivar Airlenes, meski dalam kisah asli, yang terkait adalah SAM Airlines, maskapai penerbangan asal Kolombia.

Baca juga: Maskapai Aerobolivar di Film “The Hijacking of Flight 601”, Nyata atau Sekedar Rekaan?  

Menjadi ikon dalam “The Hijacking of Flight 601”, tentang Lockheed L-188 Electra menjadi sesuatu yang menarik untuk diketahui lebih dalam. Lockheed L-188 Electra pertama kali terbang pada bulan Desember 1957 dan mulai dioperasikan secara komersial oleh American Airlines pada tahun 1959. Pesawat ini dirancang untuk mengisi kebutuhan maskapai penerbangan akan pesawat bermesin turboprop yang lebih efisien daripada pesawat bermesin piston pada saat itu.

Lockheed L-188 Electra adalah pesawat turboprop empat mesin dengan kemampuan untuk mengangkut hingga sekitar 100-130 penumpang tergantung konfigurasi kursi. Berikut adalah beberapa spesifikasi umum dari pesawat ini:

– Kru: 3-4 (pilot, kopilot, mekanik, pramugari)
– Kapasitas: 99-130 penumpang
– Panjang: 31,7 meter
– Rentang sayap: 37,4 meter
– Tinggi: 10,8 meter
– Berat kosong: sekitar 27.000 kg
– Berat maksimum lepas landas: sekitar 50.000 kg
– Mesin: 4 × Allison 501-D13 turboprop, masing-masing 3.750 hp
– Kecepatan jelajah: sekitar 587 km/jam
– Jangkauan: sekitar 3.900 km
– Ketinggian layanan: sekitar 7.620 meter

Meskipun Electra awalnya mendapat sambutan yang baik, reputasinya tercoreng setelah serangkaian kecelakaan yang melibatkan kegagalan struktural sayap. Insiden tersebut memicu perubahan desain pada pesawat, dan Electra diperbaiki dan dimodifikasi menjadi model yang lebih aman.

Di luar kecelakaan tersebut, Electra tetap menjadi pesawat yang populer di kalangan maskapai penerbangan, terutama untuk penerbangan regional dan pendek. Beberapa versi dari Electra juga digunakan untuk keperluan militer dan misi khusus, menunjukkan fleksibilitas dan kehandalan pesawat ini.

Lockheed L-188 Electra terakhir kali dioperasikan oleh maskapai penerbangan Afrika Selatan, Phoebus Apollo Aviation, hingga sekitar tahun 2008. Meskipun telah pensiun dari sebagian besar maskapai penerbangan komersial, beberapa pesawat masih digunakan untuk tugas khusus, seperti pemadam kebakaran udara dan pengujian teknologi penerbangan.

Sebanyak 170 pesawat Lockheed L-188 Electra telah diproduksi. Desain Lockheed L-188 Electra memiliki beberapa kesamaan dengan Douglas DC-6, terutama dalam hal konfigurasi sayap dan bentuk badan pesawat. Namun, keduanya merupakan pesawat yang berbeda dengan sejarah dan pengembangan yang berbeda pula.

Hari Ini, 64 Tahun Lalu, Lockheed L-188 Electra Sang ‘Maut’ Andalan Garuda Indonesia Terbang Perdana

Pembajakan Pesawat Terlama di Dunia, 39 Hari Kelam Bagi Penumpang El Al Flight 426

23 Juli 1968 akan menjadi momen kelam yang tak terlupakan bagi seluruh penumpang maskapai Israel, El Al Flight 426. Pasalnya, pesawat Boeing 707 tersebut semula dijadwalkan berangkat menuju Roma dari Inggris pada 22 Juli 1968 sore hari. Namun karena mengalami kendala pada mesin, memaksa pihak maskapai untuk mencari pesawat pengganti. Sayangnya, pesawat pengganti tersebut tidak cukup kuat untuk menempuh perjalanan dari Inggris menuju Roma.

Baca Juga: KNKT: Isi Black Box Bisa Diterjemahkan ke Format Excel

Ketika pesawat tersebut baru saja melanjutkan perjalanannya, kondisi dalam pesawat hanya ada 38 penumpang, tujuh diantaranya merupakan karyawan El Al beserta anggota keluarga mereka. Jumlah awak kapal saat itu 10 orang, dimana empat diantaranya berada di ruang kokpit, yaitu Chief Pilot Oded Abarbanell, flight engineer Yonah Lichtman, training pilot Avner Slapak dan first officer Maoz Poraz.

Pesawat tersebut lalu dibajak oleh tiga orang anggota Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP), sebuah organisasi sekuler Palestina yang didirikan pada tahun 1967. Dalam melakukan aksinya, ketiga tersangka dalam kasus ini membagi tugas sesuai dengan keahlian mereka. Satu orang menyambangi ruang kokpit untuk memulai pembajakan, dan dua sisanya mengurusi para penumpang dan kru pesawat lainnya.

Pembajak yang masuk ke ruang kokpit lalu memukuli co-pilot dengan menggunakan gagang pistol yang ia bawa lalu memerintahkan sang pilot untuk menerbangkan pesawat tersebut menuju Algeria. Sementara dua pembajak lain sibuk mengurusi para penumpang serta kru pesawat yang berada di kabin. Para sandera tersebut diancam dengan menggunakan beceng dan beberapa buah granat.

Baca Juga: Mengenal Jasa Penerbangan Charter di Indonesia

Drama kembali terjadi kala pesawat naas tersebut mendarat di Bandara Dar El Beida di Algeria. Sejurus kemudian, pihak berwenang Aljazair menyita pesawat tersebut. Dalam waktu 24 jam setelah tiga orang tersebut menguasai pesawat, semua penumpang non-Israel, kurang lebih sekitar 23 orang, diterbangkan kembali ke Roma dengan status bebas.

Pada tanggal 27 Juli, 10 perempuan berkebangsaan Israel yang tersisa, awak kapal, dan ketiga anak kecil yang juga berada di kapal lalu dibebaskan. Berarti tersisa 12 orang Israel dengan rincian tujuh awak pesawat dan lima penumpang, dua di antaranya adalah karyawan maskapai penerbangan. Dua minggu berselang, para sandera kedatangan seorang pria Abarbanell yang dikenal sebagai George Habash, yang notabene merupakan pimpinan dari PFLP. Tidak ada yang mengetahui maksud dari kunjungan tersebut, tetapi tak berselang lama setelah kunjungan tersebut, para sandera yang merupakan orang-orang Israel tersebut dipindahkan ke vila pribadi dengan kondisi yang jauh lebih manusiawi dari sebelumnya.

Dengan akses ke surat kabar dan radio, para pembajak ini mengerti bahwa berbagai upaya internasional seperti yang dilakukan oleh PBB, pihak berwenang Italia, dan Federasi Internasional Asosiasi Pilot Penerbangan untuk menjamin pembebasan mereka.  Pada saat yang bersamaan, Abarbanell kemudian mulai mencari celah, dan merencanakan sebuah operasi militer untuk membebaskan para sandera tersebut.

Baca Juga: Terpaksa Menginap di Bandara? Siapa Takut!

Di bawah perintah Menteri Pertahanan Moshe Dayan, dan arahan dari Kepala Staf Haim Bar-Lev dan Panglima Angkatan Udara Mordechai Hod, sebuah rencana penyelamatan dirancang. Menurut Abarbanell, perampok Israel tersebut bermaksud menggunakan kesempatan untuk menghancurkan semua pesawat Air Algerie yang diparkir di bandara.

Pada tanggal 1 September 1968, 12 sandera Israel dinyatakan bebas dan diterbangkan menuju domisili masing-masing. Boeing 707 senilai $ 6 juta juga dikembalikan ke Israel. Tidak ada yang kehilangan nyawa dalam drama pembajakan yang berlangsung selama 39 hari tersebut. Tapi era pembajakan politik dan serangan teror lainnya baru saja dimulai.

Maskapai Aerobolivar di Film “The Hijacking of Flight 601”, Nyata atau Sekedar Rekaan?  

Film “The Hijacking of Flight 601” saat ini tengah tayang di Netflix, dengan tema pembajakan pesawat di era 70-an, plot film ini lumayan menarik untuk dinikmati para pecinta dunia dirgantara. Plot dasar film ini didasarkan pada kisah nyata; namun, banyak peristiwa dan nama karakter telah diubah dalam serial ini karena alasan kreatif.

Baca juga: Pembajakan Pesawat Terlama di Dunia, 39 Hari Kelam Bagi Penumpang El Al Flight 426

Aerobolivar Airlines, misalnya, didasarkan pada perusahaan penerbangan Medellin bernama SAM Airlines yang mulai beroperasi pada tahun 1946. Kantor pusat utama perusahaan tersebut berada di Bogota, mirip dengan yang kita lihat di serial Netflix. Sesuai kejadian sebenarnya, pesawat SAM Airlines dari jenis Lockheed Electra HK-1274 dibajak pada tanggal 30 Mei 1973, oleh dua perompak yang tergabung dalam komunitas imigran Paraguay.

Namun, para pembajak ini tidak menaiki pesawat di Bogota, seperti yang disajikan dalam serial tersebut. Sebaliknya, mereka mengejar penerbangan di Pereira, yang pada dasarnya merupakan tempat asal para teroris ini. Selain itu, ada sekitar 84 penumpang di dalamnya, sementara serial Netflix mengurangi separuh jumlahnya.

Seperti yang disajikan dalam serial tersebut, segera setelah pesawat dibajak, markas besar Aerobolivar di Bogota menerima pesan radio tentang hal yang sama. Kemungkinan besar, kejadian-kejadian ini masih mendekati kenyataan; Namun, seluruh politik internal perusahaan penerbangan tersebut tampak fiktif.

Dalam kehidupan nyata, segera setelah para pembajak menyampaikan tuntutan awal mereka, pemerintah Kolombia mundur karena mereka tidak ingin bernegosiasi dengan para teroris. Pembajakan seperti ini sudah sering terjadi di negara ini, dan menuruti tuntutan salah satu teroris berarti mendorong teroris lain untuk melakukan pembajakan udara serupa.

SAM Airlines, sebaliknya, mendatangkan pengacara negosiasi, Ignacio Mustafa, yang sebenarnya tidak memiliki pengalaman dengan teroris dan belum pernah berurusan dengan teroris seumur hidupnya. Kenyataannya, dia bertanggung jawab atas tim negosiasi perburuhan di perusahaan.

Dalam serial tersebut, pimpinan Aerobolivar, Aristides Pirateque, bahkan melontarkan lelucon serupa saat rapat dewan direksi, jika ada yang ingat. Belakangan, Pirateque mengambil tanggung jawab menangani para pembajak. Sejujurnya, Pirateque tidak memenuhi syarat untuk tugas tersebut, dan itulah alasan mengapa seluruh strategi negosiasinya tampak seperti lelucon.

Sementara itu, karakter Misael Pastrana memang berdasarkan pada kehidupan nyata presiden Kolombia. Namun beberapa peristiwa yang terjadi di sekitarnya cukup fiktif. Misalnya, setelah para pemimpin Kolombia menolak bernegosiasi dengan teroris, mereka tidak menghentikan perusahaan penerbangan tersebut untuk bernegosiasi dengan teroris. Mustafa, bersama sekretaris jenderal SAM, tiba di Aruba (tempat pesawat mendarat) untuk merundingkan persyaratan dengan para teroris. Mustafa dan sekretaris jenderal ingin naik ke pesawat untuk membicarakan hal ini lebih lanjut, namun para pembajak ketakutan dan mengancam mereka untuk tidak ikut campur lebih jauh.

Sebagai catatan, SAM Airlines adalah maskapai penerbangan asal Kolombia. Maskapai ini melayani rute domestik di Kolombia serta beberapa rute internasional ke negara-negara di Amerika Latin. SAM Airlines memiliki basis di Bandar Udara Internasional El Dorado di Bogotá.

Sementara, Aerobolivar Airlines yang ditampikan di Netflix, sejatinya adalah maskapai penerbangan Venezuela yang berbasis di kota Ciudad Bolivar. Maskapai ini melayani rute domestik di Venezuela serta beberapa rute internasional ke negara-negara di Amerika Latin. Aerobolivar Airlines didirikan pada tahun 1972 dan telah menjadi salah satu maskapai penerbangan yang penting di wilayah tersebut.

Minta Tebusan Rp20Juta dan Parasut, Inilah Kronologi Pembajakan Pesawat Pertama di Indonesia

Bolak Balik di Tutup, Stasiun Purworejo Kini Jadi Cagar Budaya

Berbicara tentang stasiun bersejarah, saat ini banyak sekali yang sudah tidak aktif dan tak sedikit yang di jadikan cagar budaya. Seperti salah satu stasiun besar di Jawa Tengah yakni stasiun Purworejo. Stasiun yang dijadikan cagar budaya sejak tahun 2010 ini, merupakan stasiun kelas satu dan berada tepatnya 11 km arah timur stasiun Kutoarjo.

Baca juga: Analisis Ilmiah Berbalut Nuansa Mistis Warnai Rentetan Kecelakaan di Stasiun Cipeundeuy

Awal tahun 2018 ini, stasiun Purworejo sempat digunakan oleh masyarakat Purworejo untuk tempat resepsi pernikahan. Pada resepsi tersebut, para undangan yang hadir menuliskan nama pada papan putih layaknya jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta. Tak hanya itu, para tamu juga akan melewati portal seperti di jalan raya menunggu kereta lewat dan bersalaman dengan petugas sebelum bertemu pengantin.

Stasiun Purworejo masa lalu (Sportourism.id)

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa stasiun ini pertama kali didirikan pada masa kolonial Belanda oleh Staatsspoorwegen (SS) pada 20 Juli 1887 atau sekitar 131 tahun yang lalu. Berada di ketinggian +63 meter Purworejo menjadi stasiun paling timur di Daerah Operasional (Daop) V Purwokerto.

Stasiun Purworejo sendiri masih menggunakan sistem persinyalan manual atau mekanik. Dimasa peralihan dari Belanda ke Jepang, stasiun ini melayani relasi antara Kutoarjo menuju Magelang, Secang, Temanggung hingga Ambarawa.

Namun, saat ini stasiun yang menjadi cagar budaya tersebut tidak lagi melayani satu pun kereta api. Diketahui kereta terakhir yang singgah di stasiun ini adalah kereta api Feeder Purworejo-Kutoarjo, ditarik lokomotif simbah BB300 dan tidak lagi beroperasi sejak November 2010 lalu.

Bangunan stasiun ini sendiri dari awal dirancang sudah menggunakan pondasi beton dengan tinggi delapan meter. Untuk peronnya sendiri menggunakan bahan baja dengan atap berbentuk setengah lingkaran seperti bentuk peron stasiun di Eropa pada masa itu.

Stasiun Purworejo sendiri sudah dua kali dilakukan pemugaran, namun tidak merubah bentuknya sama sekali. Meski tak lagi digunakan, stasiun Purworejo masih tetap kokoh berdiri meski hampir 1,5 abad dibangun.

Bagian dalam stasiun dan jalur sepur stasiun Purworejo

Sebelum akhirnya tidak aktif lagi pada tahun 2010, selain menjadi jalur kereta api Feeder, stasiun ini juga pernah ditutup empat kali. Pertama pada masa penjajahan Jepang, kedua saat peralihan menjadi Djawatan Kereta Api, kemudian tahun 1977 dan sempat dihidupkan tahun 1990an serta hingga kini tutup dan entah kapan lagi kembali beroperasi.

Baca juga: Stasiun Cirebon, Bernilai Strategis dan Menyandang Bangunan Cagar Budaya

Meski wacana untuk menghidupkan kembali terus bermunculan. Tetapi sepertinya sulit untuk merealisasikan hal tersebut mengingat transportasi darat semakin banyak jumlahnya ditambah, saat ini setiap keluarga sudah menggunakan kendaraan pribadi. Tetapi terealisasi atau tidaknya, PT KAI bisa diapresiasi, karena mampu untuk menjaga serta merawat stasiun Purworejo tersebut apalagi sejak menjadi bangunan cagar budaya yang wajib dilindungi.

Saat Ada Penumpang Meninggal di Kabin Pesawat? Inilah Prosedur Penanganannya

Apapun bisa terjadi pada pesawat atau penumpang yang tengah terbang menuju suatu tempat. Mungkin bila sakit biasa awak kabin bisa menangani dengan cepat. Namun bagaimana jika seseorang tiba-tiba meninggal dalam sebuah penerbangan dengan ketingian 35 ribu kaki?

Baca juga: Tergelincir di Dalam Toilet, Seorang Penumpang Tuntut Rp2,2 Miliar ke Pihak Jetstar

Hal ini sepertinya tidak pernah dipikirkan dan bertanya-tanya akan diapakan. KabarPenumpang.com merangkum dari laman goodyfeed.com, ada beberapa fakta yang akan dilakukan awak kabin dalam menangani penumpang yang meninggal dalam pesawat.

1. Tidak diletakkan dalam toilet
Tubuh penumpang yang meninggal tidak bisa dipindahkan ke dalam toilet. Selain sempit, tidak ada pengikat atau sesuatu yang bisa menjaga keamanan jenazah dan bisa terjatuh ke lantai. Awak kabin biasanya akan memindahkan jenazah tersebut ke kursi kosong dan merebahkannya serta menutupnya dengan selimut. Atau bila tidak ada maka akan tetap di tempat serta ditutup selimut. Bahkan bisa dipindahkan ke kabin kelas bisnis atau kelas satu karena penumpang yang sedikit.

Singapore Airlines memiliki lemari penyimpanan jenazah dalam penerbangan jarak jauh mereka. Prioritas utama awak kabin adalah memindahkan jenazah dari pandangan penumpang untuk meminimalisir trauma.

2. Butuh dokter atau petugas medis
Seseorang dalam kondisi pucat, dingin dan tidak responsif belum tentu meninggal. Karena hanya seorang dokter yang bersertifikatlah yang bisa menyatakan seseorang itu meninggal. Biasanya awak kabin bila melihat sesuatu kejadian yang janggal pada penumpang sakit akan bertanya kepada semua penumpang apakah ada dokter untuk melihat penumpang tersebut. Bila dokter tersebut kemudian merasakan tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan maka penumpang tersebut akan dinyatakan meninggal.

3. Beritahu pilot
Bila ada seorang penumpang yang meninggal, awak kabin wajib memberitahukan kepada pilot. Jika pilot tidak memeriksa secara pribadi jenazah tersebut dan berbicara kepada keluarga penumpang, maka harus memberitahukan staf darat di bandara tujuan. Ini merupakan prosedur hukum yang mana staf darat akan memberitahu otoritas yakni polisi dan pemeriksa negara serta menyiapkan ambulans atau mobil jenazah ketika pesawat sudah mendarat.

Baca juga: Selundupkan Kokain di Dalam Perut, Penumpang Asal Jepang Meregang Nyawa di Ketinggian

4. Interogasi
Pesawat mendarat bukan langsung selesai masalah penumpang yang meninggal. otoritas terkait seperti polisi akan datang untuk melakukan pemeriksaan. Beberapa penumpang yang duduk dekat penumpang dan awak kabin bisa diwawancarai untuk mendapat keterangan pasti. Jika tidak ada hal yang dicurigai, jenazah akan dikeluarkan dari pesawat terlebih dahulu sebelum penumpang dan awak lainnya turun dari pesawat.

Gulfstream G650 dan Bombardier Global 7500 – Dua Jet Pribadi Dwayne “The Rock” Johnson

Sebagai salah satu entertainerdengan bayaran tertinggi di dunia, tidak mengherankan jika Dwayne “The Rock” Johnson memiliki jet pribadi. Film-filmnya, dukungan merek, dan perusahaan tequila menghasilkan aliran pendapatan sekitar 100 juta dalam pendapatan setahun. Berdasarkan hal ini, dapat dipahami bahwa aktor, mantan pegulat, dan pengusaha ini akan menginvestasikan sebagian pendapatannya pada jet pribadi yang bernilai jutaan dollar.

Baca juga: Nasib Tak Jelas, Jet Pribadi Elvis Presley Akan Dijual (Lagi)

Bintang serial film “Fast and Furious” ini telahj memilih salah satu jet pribadi tercepat yang ditawarkan industri untuk terbang ke dunia, yakni Gulfstream G650.

Di antara berbagai jenis pesawat yang dibuat oleh pabrikan, Gulfstream G650 terkenal dengan kecepatan dan interiornya yang mewah. Pesawat ini sejauh ini telah mencetak lebih dari 125 rekor kecepatan dunia, dan interiornya yang megah telah memenuhi selera banyak orang, dengan lebih dari 500 contoh yang saat ini terbang. Tabel berikut merangkum spesifikasi teknis utama pesawat ini:

Pesawat ini sangat nyaman bagi mantan pegulat dan sekarang pebisnis yang harus terbang dari satu sudut dunia ke sudut lain untuk menghadiri acara, pertemuan, dan mungkin liburan yang layak di lokasi eksotis. Peta di bawah mengilustrasikan wilayah dunia yang berpotensi dijangkau oleh Gulfstream G650, dengan menggunakan Bandara Van Nuys (VNY) di California sebagai referensi karena lokasi ini adalah tempat jet pribadi kedua Dwayne ditempatkan.

Selain menjadi salah satu jet pribadi tercepat di dunia, The Rock sepertinya tergiur dengan kabin mewah luar biasa yang ditawarkan jet ini kepada pelanggan premiumnya. Dipan dan kursi Gulfstream G650 diubah menjadi tempat tidur untuk meningkatkan kenyamanan dan memberikan pengalaman hotel bintang lima di dalam pesawat. Pesawat ini memiliki kapasitas maksimal 19 penumpang dan mampu menampung hingga 10 orang.

Mengingat kemampuan teknis yang mengesankan dan pengalaman penerbangan yang mewah, tidak mengherankan jika banyak penumpang VIP memilih G650 (atau versi jarak jauhnya, G650ER) untuk perjalanan udara mereka. Elon Musk, Jeff Bezos, Oprah Winfrey, dan Bill Gates adalah contoh bagus dari apa yang dapat disebut sebagai pecinta Gulfstream G650 (atau G650ER).

Intip Mewahnya Private Jet Cristiano Ronaldo, Pesawat Pribadi Pesepak Bola Termahal

Seperti dikutip SimpleFlying, Harga jet pribadi ini bisa bervariasi tergantung tingkat penyesuaiannya. Namun, diperkirakan harga Gulfstream G650 anyar berkisar antara $65 hingga $70 juta. Pada harga listing, kita perlu menambahkan biaya operasional tahunan, yang meliputi bahan bakar, gaji kru, pemeliharaan, dan asuransi, dengan total biaya sekitar $2 hingga $4 juta.

Perjalanan mewah menjadi prioritas mantan pegulat, aktor, dan pengusaha Dwayne Johnson. Oleh karena itu, pada tahun 2023, ia memutuskan sudah saatnya membeli jet pribadi kedua – Bombardier Global 7500. Menurut pabrikannya, pesawat ini adalah jet bisnis terbesar dan jarak jauh di dunia, yang spesifikasi teknisnya diilustrasikan pada tabel di bawah ini.

 

Liburan Lebaran Usai, PT KAI Gelar Promo Diskon Tiket KA Jarak Jauh Sampai 20 Persen

Setelah liburan lebaran usai, maka tingkat okupansi kereta api kembali norrmal, dan untuk meningkatkan keterisian kursi pada periode pasca lebaran. PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyediakan promo Bursa Pariwisata, dimana pelanggan dapat membeli tiket kereta api dari Surabaya dan Malang ke sejumlah daerah dengan potongan harga tiket 20 persen.

Promo berlangsung pada periode 20 s.d 30 April 2024 untuk KA-KA tertentu pada kelas eksekutif, bisnis, dan ekonomi dengan tanggal keberangkatan KA tanggal 22 s.d 30 April 2024. Tiket promo ini dapat dipesan melalui aplikasi Access by KAI, website kai.id, dan semua channel penjualan tiket kereta api.

Berikut daftar kereta api yang mendapatkan tarif Promo Bursa Pariwisata:
1. Turangga relasi Surabaya Gubeng – Bandung
2. Argo Bromo Anggrek relasi Surabaya Pasarturi – Gambir
3. Argo Wilis relasi Surabaya Gubeng – Bandung
4. Sembrani relasi Surabaya Pasarturi – Gambir
5. Bima relasi Surabaya Gubeng – Gambir
6. Gajayana relasi Malang – Gambir
7. Gumarang relasi Surabaya Pasarturi – Pasarsenen
8. Malabar relasi Malang – Bandung
9. Kertanegara relasi Malang – Purwokerto
10. Sancaka relasi Surabaya Gubeng – Yogyakarta
11. Mutiara Selatan relasi Surabaya Gubeng – Bandung
12. Harina relasi Surabaya Pasarturi – Bandung
13. Majapahit relasi Malang – Pasarsenen
14. Kertajaya relasi Surabaya Pasarturi – Pasarsenen
15. Jayakarta relasi Surabaya Gubeng – Pasarsenen

Tarif diskon ini tidak dapat digabungkan dengan tarif reduksi (kecuali reduksi infant), tarif khusus, atau diskon lainnya. Tiket dengan tarif diskon ini dapat dibatalkan atau diubah jadwal sesuai aturan yang berlaku.

Kurangi Emisi Karbon, Cathay Pacific Tanyakan Apakah Frequent Flyer Bersedia Membawa Peralatan Makan Sendiri di Kelas Bisnis

Seperti kebanyakan maskapai penerbangan global, Cathay Pacific mempunyai misi untuk menjadikan bisnisnya yang boros bahan bakar menjadi lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Sebagian besar fokusnya adalah pada pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan dalam upaya mengurangi emisi karbon, namun lain dari itu,m ada banyak inisiatif keberlanjutan lainnya yang sedang dilakukan oleh maskapai penerbangan untuk menjadikan bisnis mereka lebih ramah lingkungan dan lebih bertanggung jawab.

Baca juga: Kurangi Emisi Karbon, Japan Airlines dan Sumitomo Tawarkan Sewa Pakaian Bagi Turis Asing

Di antaranya yang dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai atau mengurangi jumlah sampah makanan, dan ada banyak inisiatif yang semakin terlihat oleh penumpang. Namun, salah satu ide keberlanjutan terbaru dari maskapai penerbangan yang berbasis di Hong Kong ini mungkin menimbulkan semacam keraguan.

Seperti dikutip paddleyourownkanoo.com (18/4/2024), Cathay Pacific telah mengirimkan survei kepada beberapa frequent flyer melalui komunitas konsumen Cathay Lab, yang terdiri dari lebih dari 10.000 pelanggan di seluruh dunia. Survei ini mencari masukan mengenai inisiatif apa yang ingin diikuti oleh pelanggan yang bepergian di Kelas Bisnis untuk menjadikan Cathay Pacific lebih berkelanjutan.

Beberapa dari inisiatif ini cukup standar – seperti menanyakan apakah pelanggan bersedia menyerahkan kembali botol air plastik sekali pakai yang sudah kosong kepada awak kabin agar mereka dapat didaur ulang atau bahkan menyimpan botol tersebut ke dalam kaleng daur ulang saat mereka turun dari pesawat.

Pertanyaan lainnya mengukur seberapa besar keinginan pelanggan untuk bepergian dengan membawa botol air minum yang dapat digunakan kembali, sementara pertanyaan keempat menanyakan apakah pelanggan akan dengan senang hati membawa peralatan makan mereka sendiri ke dalam pesawat.

Ya, Anda membacanya dengan benar. Cathay Pacific sedang mengukur seberapa besar keinginan penumpang Kelas Bisnis untuk membawa peralatan makan mereka sendiri.

Tentu saja, ini hanyalah survei konsumen, dan tidak ada indikasi bahwa Cathay Pacific akan menghapus peralatan makan dari penerbangannya, meskipun hal ini menunjukkan inisiatif keberlanjutan ekstrim yang sedang diselidiki secara aktif oleh maskapai tersebut.

Cathay Pacific sudah dalam proses menghentikan penggunaan gelas plastik sekali pakai, mengganti peralatan makan plastik di Kelas Ekonomi dengan peralatan makan berbahan logam ringan, dan membungkus selimut dengan penutup plastik biodegradable.

Maskapai ini juga berupaya mengurangi limbah makanan dengan serangkaian inisiatif, termasuk mendorong penumpang untuk memesan makanan pilihan mereka terlebih dahulu sebelum penerbangan.

Sampah makanan, khususnya, merupakan area fokus bagi banyak maskapai penerbangan karena sisa makanan biasanya harus dibakar untuk mematuhi peraturan karantina internasional.

Beberapa bulan yang lalu, sebuah maskapai penerbangan Belanda membanggakan bahwa mereka telah memperkenalkan kecerdasan buatan ke dalam sistem perencanaan makan untuk Kelas Bisnis, yang bertujuan untuk menebak berapa banyak penumpang yang benar-benar akan melakukan penerbangan, bukan berapa banyak yang memesan.

Alaska Airlines Jadi Maskapai AS Pertama Tinggalkan Gelas Plastik di Pesawat

Dalam uji coba selama tiga bulan, KLM mengatakan bahwa sistem ini membantu mengurangi limbah makanan sebesar 63% dibandingkan dengan metode lama yang hanya memuat cukup makanan untuk setiap penumpang yang memesan, meskipun AI tidak bisa salah, dan terkadang jumlah makanan tidak mencukupi. sarat.

Membawa konsep ini ke tingkat yang lebih tinggi, Japan Airlines memberi penumpang pilihan untuk tidak menyediakan makanan untuk mereka – sebuah gagasan yang oleh JAL disebut sebagai ‘pilihan etis’.

Pesawat Boeing Pakai Winglet dan Pesawat Airbus Pakai Sharklet, Apa Bedanya?

Persaingan Boeing dan Airbus sebagai raja manufaktur pesawat dunia sangat ketat. Keduanya bahkan selalu ingin berbeda dalam banyak hal. Kemudi pesawat, misalnya, bila Airbus menggunakan joy stick atau side stick, maka Boeing menggunakan yoke. Begitu juga dengan ujung sayap pesawat (wingtip), jika Boeing menggunakan winglet, maka Airbus menggunakan sharklet. Lantas, apa bedanya?

Baca juga: Heboh Fitur Folding Wingtip di Boeing 777X, Apa Sih Bedanya Winglet dan Wingtip?

Sebagaimana joy stick atau side stick pada pesawat Airbus dan yoke pada pesawat Boeing, winglet dan sharklet juga demikian. Fungsinya sama namun dengan istilah yang berbeda. Selain itu tentu terdapat kelebihan dan kekurangan masing-masing mengingat bentuknya berbeda.

Sebelum menjawab perbedaan dan persamaan winglet dengan sharklet, ada baiknya kita membahas terlebih dahulu fungsi dari sayap pesawat itu sendiri.

Meski masih menjadi perdebatan, secara umum para ahli sepakat bahwa pesawat bisa terbang disebabkan oleh adanya empat gaya. Gaya thrus (gaya dorong), lift (gaya angkat), weight (gaya berat), dan drag (gaya ke belakang atau menarik mundur).

Namun, semua gaya untuk membuat sebuah pesawat dapat terbang akan sia-sia bila tida ada sayap. Sebab, komponen utama pesawat terbang yang menghasilkan gaya angkat adalah sayap.

Prinsip kerja sayap sendiri adalah udara yang mengalir di bawah sayap lebih lambat daripada di bagian atasnya dikarenakan jalur yang dilewati udara di atas sayap lebih jauh, perbedaan kecepatan tersebut menghasilkan perbedaan tekanan yaitu tekanan di bawah sayap lebih tinggi dari pada tekanan di atas sayap, yang mana mengakibatkan pesawat terangkat ke atas.

Tentu saja kita telah sama-sama ketahui bahwa udara mengalir dari tekanan rendah ke tekananan tinggi, misalkan balon yang kita tiup akan menyemburkan udaranya keluar ketika kita lepaskan karena tekanan di dalam balon lebih tinggi dari tekanan luar balon.

Hal tersebut juga terjadi pada perbedaan tekanan antara bagian bawah dan atas sayap, tepatnya terjadi pada ujung sayap. Aliran udara dari bawah ke atas sayap pada ujung sayap menghasilkan aliran udara yang berputar dengan cepat pada ujung sayap yang disebut juga dengan tip vortex. Aliran ini dapat meningkatkan drag pada sayap, menurunkan gaya angkat dan mengganggu aliran udara.

Guna menghindari terjadinya hal tersebut, ujung sayap dibuat berbelok ke atas dan mengecil atau disebut juga dengan winglet.

Winglet berfungsi untuk meredam putaran udara (vortex) pada bagian ujung sayap yang disebabkan pertemuan udara bagian bawah sayap yang bertekanan tinggi dengan udara bagian atas sayap yang bertekanan rendah yang menyebabkan terjadinya turbulensi.

Putaran udara ini juga menyebabkan pesawat membutuhkan energi yang lebih besar agar dapat stabil di udara, sehingga akan boros bahan bakar. Dengan adanya winglet, bahan bakar pesawat bisa diirit hingga 7 persen, jumlah yang cukup besar untuk pesawat yang melakukan perjalanan long distance.

Winglet pada pesawat Boeing dan sharklet pada pesawat Airbus secara kasat mata hampir tidak ada perbedaan. Keduanya sama-sama menekuk ujung sayap (wingtip) ke arah atas dengan sudut yang nyaris sama. Bedanya, pada sharklet Airbus A320, misalnya, terlihat strobe dan navigation light agak berjauhan.

Baca juga: Kenapa Ujung Sayap Pesawat Boeing 787 Dreamliner Tidak Menekuk? Ini Jawabannya

Sedangkan winglet pada pesawat Boeing 737-NG, misalnya, letak strobe dan nav light lebih berdekatan. Ada juga perbedaan lainnya dimana winglet di pesawat Boeing dilengkapi dengan fin kecil di bawah winglet. Adapun di pesawat Airbus tidak ada.

Dalam situs tanya jawab Quora, perbedaan winglet dan sharklet terletak pada lekukan wingtipnya, dimana pada winglet sudut lekukannya lebih tegas dan sharklet lebih halus. Selain itu, perbedaan juga terletak pada kemiringan wingtipnya.

 

Bekas Mesin Pesawat Disulap Jadi Karavan Unik dengan 4 Tempat Tidur, Dapur, dan Ruang Tamu

Barang bekas yang semula tak bernilai, di tangan-tangan kreatif mampu diubah menjadi sesuatu bernilai tinggi. Salah satunya mesin pesawat. Alih-alih menjadi barang rongsokan, mesin pesawat Rolls-Royce Conway 30 dari pesawat Vickers VC10 yang sudah pensiun disulap menjadi pod karavan unik dengan empat tempat tidur, dapur, bahkan ruang tamu. Oleh sang pemilik, ini dinamakan VC10 Caravan Pod.

Baca juga: Airbus A319 Etihad Bekas Disulap Jadi Penginapan “Arabian Night” Mewah

Dilansir Insider, ide untuk menyulap mesin yang biasa digunakan di pesawat Vickers VC10 itu muncul pada 2013 lalu. Saat itu, Steve Jones mendapat kabar bahwa rekan lamanya di Angkatan Udara Britania Raya (RAF) telah mempensiunkan pesawat buatan Vickers-Armstrongs tersebut.

Beberapa tahun berlalu, ia pun mendatanginya dan membeli mesin pesawat itu. Proses perakitan mesin rongsok menjadi sebuah trailer atau pod karavan tidaklah mudah.

Interior pod karavan buatan Steve Jones. Foto: Insider

Setidaknya butuh waktu sekitar 1.000 jam atau kurang lebih dua bulan, mulai Januari-Maret 2020 lalu. Kocek yang dikeluarkan juga tergolong mahal, mencapai US$5.025 atau sekitar Rp70 juta lebih (kurs 14.084). Itu pun belum termasuk membeli rongsokan atau mesin bekas itu.

Disebutkan, mula-mula Jones memotong semua kabel dan pipa, diikuti dengan meratakan bagian bawah mesin agar sesuai dengan sasis.

Kemudian, ia menyiapkan dua pintu, jendela, melapisi bagian dalam pesawat dengan kayu, karpet, membuat pajangan di dinding, meletakkan furnitur minimalis, dan membuat lounge-dining area di ruang yang cukup sempit, lengkap dengan dua kursi panjang yang bisa difungsikan sebagai tempat tidur double bed. Dalam mode tidur, pod karavan ini bahkan mendapat tambahan dua tempat tidur lagi di bagian atas layaknya kasur tingkat. Jadi total ada empat tempat tidur.

“Tugas besar pertama saya adalah membagi mesin menjadi dua, jadi saya bisa menggunakan rangka luar menjadi pod saya,” katanya. “Setelah semua komponen dikeluarkan dan hanya menyisakan dua roda saja, saya memasukkan kayu lapis dan kemudian menambahkan furniture dan peralatan penunjuang lainnya,” tambahnya.

Ketika difungsikan, VC10 Caravan Pod buatan Jones akan tampak lebih lega dengan adanya dua pintu yang membuat separuh karavan tersebut terbuka lebar. Hal itu juga bisa membuat cahaya dan udara segar di alam bebas masuk ke dalam kabin pod itu sambil duduk menikmati sampanye, mirip seperti ruang tamu.

Meskipun sudah selesai dikerjakan dan siap digunakan kapan pun, Jones belum berencana membawa pod karavan unik itu keliling Inggris sampai setidaknya 2021, akibat pandemi virus Corona. Namun, sebelum hal itu terwujud, nampaknya ia akan disibukkan dengan banyaknya pesanan pod karavan serupa dan khusus.

Baca juga: Fotografer Bali Sukses Curi Perhatian Dunia Berkat Aksi Esktrem di Atas Sayap Pesawat

Meski begitu, Jones berkomitmen untuk menyelesaikan pesanan pod karavan senilai US$31.477 atau Rp 436 juta lebih (kurs Rp 14.084).

Jones memang mendadak terkenal usai kegiatannya yang berpusat di kediamannya di Leicester, diliput oleh sebuah stasiun TV dan ditayangkan dalam sebuah acara bedah rumah, George Clarke’s Amazing Spaces.