Kolaborasi Google dan Levi’s Buahkan Jaket Pintar, Apa Saja Kelebihannya?

Satu lagi, perkembangan teknologi yang dijamin akan mempermudah aktifitas Anda sehari-hari. Setelah kurang lebih dua tahun merancangnya, akhirnya Google yang bekerja sama dengan Levi’s merilis sebuah jaket pintar yang dapat mengendalikan sebuah smartphone. Melalui divisi Advanced Technology and Projects (ATAP), Google sempat memberikan bocoran mengenai produk jaket pintar ini dalam perhelatan I/O pada tahun 2016 silam.

Baca Juga: Google Pasang WiFi di Bus Sekolah Untuk Kemudahan Siswa di Pedesaan

Sebagaimana yang dilansir oleh KabarPenumpang.com dari laman krollontrack.co.uk (21/7/2017), jaket ini didesain khusus untuk para pesepeda. Layaknya perangkat wearable lainnya seperti headset, jaket ini juga bisa melakukan hal serupa, seperti mengontrol music, menjawab panggilan masuk, hingga mengakses fitur navigasi. Untuk menggunakan fitur-fitur tersebut, Anda cukup menyentuh panel yang terletak di bagian lengan jaket. Panel tersebut bertenagakan sebuah baterai yang mampu bertahan selama dua hari dalam sekali pengisian.

Menurut pimpinan Project Jacquard di Google, Ivan Poupyrev, pemilik jaket ini diwajibkan untuk mengunduh sebuah aplikasi smartphone agar bisa menghubungkan panel tersebut ke smartphone, sekaligus memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia, seperti mengatur bahwa dua ketukan di panel sentuh berarti perintah untuk menyalakan aplikasi musik, dan lain sebagainya.

Sumber: zetizen.com

Dilansir dari sumber terpisah, pihak Google mengatakan mereka tengah berupaya untuk mengembangkan jaket pintar ini lebih jauh. Dengan harapan, mereka bisa memasang berbagai aplikasi lainnya ke platform jaket pintar sehingga pengguna mengakses fitur yang lebih banyak. Lebih lanjut, pihak Google mengatakan jaket bernama Commuter Trucker ini akan dipasarkan pada Musim Gugur 2017 kelak.

Hingga saat ini, para pengguna iPhone nampaknya harus gigit jari, karena platform yang ada di Commuter Trucker ini baru bisa diakses lancar oleh para pengguna smartphone Android. Kehadiran jaket ini tentu membawa angin segar, bukan hanya di bidang teknologi saja, melainkan dari sektor transportasinya juga. Dewasa ini, ada banyak sekali kecelakaan yang diakibatkan oleh pengendara yang memainkan ponselnya. Himbauan demi himbauan sudah dilayangkan oleh pihak yang berwajib mengenai bahayanya memainkan ponsel sembari berkendara, namun para pengemudi bandel ini seolah tidak mengindahkan nasihat tersebut.

Baca Juga: Ford Hadirkan Layanan Bike Sharing, Kok Bisa?

Diharapkan, hadirnya jaket pintar ini bisa menekan angka kecelakaan akibat keteledoran pengemudi. Jaket berbahan jeans ini tersedia untuk pria dan wanita dalam berbagai ukuran. Untuk membawanya pulang, Anda harus merogoh kocek yang lumayan mahal, yaitu US$350 atau setara dengan Rp4,6 juta. Apakah Anda berniat untuk memilikinya?

Raba-Raba Seorang Remaja Putri, Penumpang United Airline Ditangkap FBI

Lama tak membuat kabar menghebohkan, kali ini kembali United Airlines memberikan kabar terkait seorang remaja putri 16 tahun yang tubuhnya diraba-raba seorang pria di bagian pahanya. Saat itu remaja perempuan tersebut sedang tidur dan duduk di kursi dekat jendela keberangkatan menuju Newark dari Seattle.

Awalnya, pria yang duduk disebelahnya meraba dirinya di bagian paha dan selangkangan, serta dengan cepat kembali melepaskan saat si gadis remaja ini terbangun dan kemudian kembali tidur. Tak lama setelah agak terlelap, si pria tersebut kembali meraba-raba bagian tubuhnya, dan kembali gadis tersebut terbangun.

Baca juga: Pelayanan Buruk Malah Dongkrak Laba United Airlines, Kok Bisa?

KabarPenumpang.com melansir washingtonpost.com (2/8/2017), gadis tersebut kemudian meminta pada awak kabin agar bisa pindah duduk dan memberitahukan alasannya. Setelah penerbangan mendarat di Newark Liberty International Airport, gadis tersebut langsung memanggil orangtuanya.

Johnny McCray, pengacara gadis tersebut mengatakan, setelah mendarat dan keluar dari pesawat, pria pelaku kejahatan seksual tersebut pergi begitu saja meninggalkan bandara seperti tanpa masalah. Insiden tersebut membuat keluarga sang gadis marah dan mempertanyakan sikap United Airlies yang membiarkan pria tersebut meninggalkan pesawat dan bandara setelah melakukan kejahatan seksual.

Baca juga: Karyawan United Airlines Dorong Penumpang di Bandara, Kenapa Lagi?

Kasus ini kemudian ditangani FBI dan menyelidiki pelaku yang melakukan kejahatan seksual tersebut. Setelah para penyelidik menemukan identitas penumpang yang duduk disebelah gadis tersebut, dari jajaran foto yang dibeberkan maka langsung tertuju pada seorang pria berusia 28 tahun bernama Vijakumar Krishnappa.

Kemudian pria tersebut ditangkap dan dikenai tuduhan melakukan pelecehan seksual dengan gadis dibawah umur. Ironisnya pelaku dibebaskan, namun dengan ikatan dan ditempatkan pada pemantauan elektronik.

Federal Aviation Admistration memiliki kebijakan mengenai bagaimana menangani insiden di pesawat terbang, termasuk serangan fisik atau ancaman serangan fisik setiap orang yang berada di dalam pesawat terbang. Namun, terserah kepada penegakan hukum untuk menentukan apa yang harus dilakukan dengan seseorang yang dituduh melakukan kejahatan.

Baca juga: Minta Maaf Dua Kali, United Airlines Berdamai Dengan David Dao

Terkait masalah ini, seorang juru bicara United Airlines menanggapinya dengan mengatakan, “Keamanan dan kenyamanan pelanggan adalah prioritas kami, kami menanggapi tuduhan ini dengan serius dan terus bekerjasama dengan pihak berwenang sebagai bagian dari tinjauan mereka.”

Konsumen telah mengulurkan tangan ke United Airlines untuk memberikan komentar tambahan atas insiden tersebut. Kami akan memperbarui posting ini jika kita mendengarnya kembali.

Bandara Kopenhagen Tempati Peringkat Teratas Untuk Pemeriksaan Keamanan

Skytrax kembali memberikan penghargaan pada bandara-bandara di dunia, kali ini terkait pemeriksaan keamanan pada barang-barang yang dibawa penumpang. Dikutip KabarPenumpang.com dari worldairportawards.com ada sepuluh bandara yang menerapkan prosedur kemanan paling baik dan yang berada di urutan pertama adalah Bandara Kopenhagen di Denmark.

Baca juga: 10 Bandara Ini Disebut Sebagai Yang Tersibuk

Diurutan kedua ada bandara Haneda di Tokyo, ketiga ditempati Centrair di Nagoya. Urutan keempat Zurich di Swiss, kelima Changi di Singapura, enam Kansai. Urutan ketujuh ada Bandara Hongkong, urutan delapan Bandara Narita di Tokyo, urutan sembilan Incheon di Seoul dan urutan kesepuluh yakni Bandara di Munich, Jerman.

Sebagai bandara dengan pengamanan nomor satu, Kopenhagen merupakan bandara tersibuk ketiga di Eropa Utara. Hingga kini juga menjadi bandara tersibuk untuk penerbangan internasional di Skandinavia dan juga menjadi salah satu bandara tertua di Eropa.

Bandara ini terletak di pulau Amager dengan area seluas 11,8 kilometer persegi. Kopenhagen sendiri merupakan bandara yang menangani sekitar 60 maskapai penerbangan terjadwal dan memiliki pengunjung paling banyak untuk penerbangan internasional seperti bandara di Skandinavia lainnya.

Baca juga: 10 Bandara Ini Punya Landasan Paling Ekstrim

Dulunya bandar Kopenhagen disebut bandara Kastrup karena terletak di kota kecil Kastrup. Sebenarnya disebut bandara Kastrup karena untuk membedakan dari bandara Roskilde yang memiliki nama asli bandara Kopenhagen, Roskilde.

Bandara Kopenhagen sendiri resmi digunakan pada 20 April 1925 dan menjadi salah satu bandara sipil pertama di dunia. Tahun 1932-1939 jumlah penumpang yang tadinya 6.000 menjadi 50 ribu dan meningkat hingga 72 ribu penumpang tahun 1936-1939.

Terminal di dalam bandara ini di rancang oleh Vilhem Luritzen. Pada Perang Dunia II, bandara Kopenhagen sempat ditutup untuk operasional sipil kecuali penerbangan ke destinasi di Jerman, Swedia dan Austria.

Baca juga: Duuh! Ini Dia 10 Bandara Terburuk di Dunia

Tahun 2006 merupakan sejarah pertama kalinya bandara Kopenhagen memiliki lebih dari 20 juta penumpang. Tahun berikutnya yakni Oktober 2007, stasiun metro dibuka yang menghubungkan antara Bandara ke Kopenhagen Metro. Tahun 2008, menara kontrol baru dibuka oleh Naviair sebagai bagian renovasi besar-besaran sistem ATC.

Bandara yang ada di Skandinavia ini pada tahun 2015 kemarin, menjadi yang pertama menjadwalkan penerbangan Airbus A380 setelah Emirates mulai mengoperasikan pesawat tersebut untuk rute Kopenhagen.

Mendarat Darurat, Pesawat Cessna Gilas Dua Orang di Pantai Caparica

Terjadi sebuah kecelakaan pesawat di Lisbon, Portugal pada Rabu (2/8/2017) lalu dan menewaskan dua orang yang sedang berjemur. Diketahui korban seorang pria berusia 56 tahun dan seorang anak perempuan berusia 8 tahun. Sebuah pesawat ringan tiba-tiba mendarat secara darurat di pantai yang populer di jadikan tempat berjemur yakni Caparica.

Baca juga: 10 Bandara Ini Punya Landasan Paling Ekstrim

Dilansir KabarPenumpang.com dari globalnews.ca (2/8/2017), saat itu ratusan orang sedang berjemur dan saksi mata mengatakan, beberapa orang yang berjemur berlarian menuju ke laut untuk menghindari pesawat yang tiba-tiba mendarat. Otoritas Maritim Nasional mengatakan, dari kecelakaan ini seorang pria dan gadis meninggal di pantai itu. Waktu kejadian yakni sekitar pukul 04.50 sore waktu Lisbon.

“Kelekaan tersebut terjadi sangat cepat, sehingga tidak banyak waktu untuk mempersiapkan diri dan berlari,” ujar juru bicara Otoritas Maritim Nasional. Kedua korban saat itu sedang berjemur di atas handuk mereka sebelum tiba-tiba pesawat tersebut mendarat secara darurat dan melindas keduanya. Selain korban meninggal, belum diketahui apakah ada korban luka lainnya.

Baca juga: Lima Penyebab Umum Terjadinya Kecelakaan Pesawat

Dilaporkan, pesawat tersebut adalah jenis Cessna bermesin tunggal yang membawa dua orang dan tengah mengalami kesulitan navigasi, pesawat tak terkendali serta meluncur rendah sehingga menyebabkan kepanikan di pantai. Terlihat pula sayap kiri pesawat kecil tersebut rusak dan menggantung lebih rendah dari sayap kanan. Kedua penumpang pesawat tersebut selamat dan atas kejadian ini, keduanya kemudian diinterogasi oleh pihak kepolisian.

Dalam kejadian ini, mengingatkan ada beberapa bandara yang memiliki landasan terekstrim seperti bandara Barra di Skotlandia yang memiliki landasan pacu di pantai. Tak hanya itu, Princess Juliana Airport di Saint Maarten, Belanda juga memiliki landasan pacu yang berdekatan dengan pantai tempat para wisatawan berjemur. Untungnya, walaupun dekat dengan pantai, maskapai yang mendarat di bandara ini belum pernah mengalami kegagaan baik saat lepas landas maupun mendarat, sehingga wisatawan yang berjemur bisa dengan tenang dan menikmati pemandangan.

Baca juga: Banyak Kecelakaan Tapi Bandara Ini Mendapat Award Bergengsi

Tetapi ada satu tempat yakni jalur landasan pacu 10 di Princess Juliana Airport yang biasa digunakan oleh pesawat jet untuk lepas landas. Bila berada di sini, baiknya Anda berpindah karena buangan gas mesin jet pesawat terbang dapat mengakibatkan cedera serius bahkan hingga membuat tewas seseorang.

Pelabuhan Benoa Berbeda dengan Tanjung Benoa di Bali

Pelabuhan Benoa yang terletak d kota Denpasar, Bali merupakan pintu masuk ke Ibu Kota Provinsi Bali melalui jalur laut. Pelabuhan ini sudah mulai diusahakan sejak tahun 1924 silam, seiring keberadaan bangsa Belanda saat itu di Denpasar. Awalnya, batas daerah kerja dan kepentingan pelabuhan Benoa didasarkan pada gambar peta pelabuhan zaman Belanda yang ditetapkan dalam Staadblad nomor 16 pada 8 Januari 1926 lalu.

Baca juga: 28 Agustus 2017, Jadwal Ground Breaking Bandara Internasional Bali Utara

Kemudian, pada 14 Februari 1990, batas-batas lingkungan kerja pelabuhan dan kepentigan pelabuhan Benoa ditetapkan dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri dan Menteri Perhubungan nomor 15 tahun 1990/KM 18 Tahun 1990. Rencananya pada tahun 2017 ini, pelabuhan Benoa akan diperbesar melalui rekomendasi draft Rencana Induk Pelabuhan (RIP) dari pemerintah kota Denpasar.

Nantinya pelabuhan Benoa akan melayani pengiriman logistik, kapal pesiar dan kapal penumpang biasa. Dikutip KabarPenumpang.com dari detikfinance.com (11/5/2017), Gubernur Bali Made Mangku Pastia mengatakan pembangunan ini sedang dalam proses dan pembicaraan dengan Wali Kota Denpasar. “Bila jadi terlaksana, pelabuhan Benoa akan menjadi pelabuhan terbesar di Bali.”

Pengembangan pelabuhan Benoa ini, juga dikarenakan, kunjungan wisatawan ke Bali dengan kapal pesiar kecil hingga menengah semakin banyak dan padat. Sehingga, pelabuhan Benoa ini harus diperluas untuk memudahkan kapal-kapal pesiar bersandar.

Baca juga: Ratakan Persebaran Wisatawan di Bali, Pemerintah Tawarkan Jalur Kereta ke Investor Cina

Selain akan menjadi pelabuhan terbesar di Bali, di sekitaran pelabuhan Benoa ini pun banyak sekali objek wisata yang bisa didatangi. Apalagi Bali terkenal dengan pantai, ombak dan segala atraksi yang selalu berhubungan dengan laut.

Tempat wisata yang bisa dikunjungi di dekat pelabuhan Benoa yakni Bali Water Park, tempat untuk bermain ski air dan biasanya ini lebih cocok untuk pemula. Tak hanya itu Aneecha Sailing Catamaran, dimana para pengujung bisa menyewa kapal dengan layar dan menikmati laut Bali dengan semilir angin, serta pelayanan bintang lima.

Anda juga bisa ke konservasi penyelamatan penyu, disini Anda bersama keluarga bisa melihat penyu-penyu kecil yang baru menetas dari telurnya. Tak hanya itu, spot diving atau menyelam pun sangat strategis dari pelabuhan Benoa ini. Upside Down World, seperti yang ada di kota lainnya pun bisa Anda nikmati dengan jarak hanya 1,5 km dari pelabuhan Benoa, disini Anda akan seperti berada dalam sebuah ruangan terbalik, yang suka foto-foto tempat ini cocok untuk berfoto.

Baca juga: Ternyata 40% Turis Australia ke Bali Terbang Dengan JetStar

Diketahui, tahun 2010 lalu, pelabuhan Benoa mendapat penghargaan dari Majalah Dream Worlf Cruise Destination sebagai Best Port Welcome. Untuk diketahui, pelabuhan Benoa berbeda dengan Tanjung Benoa. Pelabuhan Benoa berada di Denpasar sedangkan Tanjung Benoa berada di Kuta Selatan, Badung dan di Tanjung Benoa kaya akan spot untuk aktivitas air.

Elon Musk Hadirkan Solusi Transportasi Canggih Berbasis Travelator

Siapa yang tidak kenal dengan Elon Musk? Dewasa ini namanya kerap kali menghiasi sejumlah media dengan salah satu idenya dalam pengadaan moda transportasi masa depan bernama Hyperloop. Tidak hanya itu, CEO SpaceX ini juga tengah berkutat dengan proyek lainnya yang masih berkaitan dengan dunia transportasi, yaitu pengadaan sebuah jaringan transportasi di bawah kota Los Angeles. Baru-baru ini, Elon mengunggah video di akun Instagram miliknya yang menunjukkan sebuah mobil otonom, Tesla yang masuk ke dalam sebuah lubang menggunakan mesin elevator.

Baca Juga: Bertha, Mesin Bor Raksasa Yang Pernah Terperangkap di Bawah Tanah Seattle

Sebagaimana informasi yang diperoleh KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (26/7/2017), nantinya mobil tersebut akan memasuki sebuah terowongan dan mengarungi bawah tanah Los Angeles menggunakan travelator yang dapat melaju dengan kecepatan 130mph atau setara dengan 209 km per jam. Adapun terowongan ini merupakan cara yang Elon tempuh untuk mengentaskan masalah kemacetan yang kian hari kian meradang di Los Angeles.

Sebelum Elon mengunggah video tersebut ke akun Instagram pribadinya, ia terlebih dulu mengantongi ijin dari pemerintah setempat untuk “melubangi” perut bumi yang nantinya akan menghubungkan New York dan Washington DC hanya dalam waktu 29 menit saja. Jika tidak menemukan kendala dalam pengerjaannya, terowongan ini akan menjadi terowongan terpanjang di dunia. Ini akan mengalahkan rekor yang saat ini dipegang oleh Gotthard Base Tunnel, sebuah jalur kereta api yang membentang sepanjang Pegunungan Alpen di Swiss dengan panjang kurang lebih 35,5 mil (setara 57 km).

Baca Juga: Elon Musk, CEO SpaceX Ini Paparkan Ide Entaskan Masalah Kemacetan

Beberapa minggu ke belakang, Elon mengatakan bahwa kerangka travelator di terowongan tersebut sudah terpasang. “Seharusnya minggu depan sudah bisa dioperasikan,” ungkap Elon. Pria yang dikenal aktif di media sosial ini juga mengunggah foto lokasi dari terowongan tersebut di akun Twitter pribadinya. Pembangunan terowongan ini sendiri baru selesai pada awal bulan Juli kemarin, dan dalam cuitan terpisah, Elon mengatakan bahwa alat tersebut tidak akan mengecewakan para penggunanya.

Pengadaan terowongan ini merupakan bentuk jawaban Elon terhadap cibiran para ahli yang menyebutkan bahwa terowongan ini tidaklah praktis dan tidak mungkin diterapkan. Dalam keterangan terpisah, Elon menyebutkan bahwa terowongan ini weatherproof, tidak terlihat, dan tidak akan membentur kepala Anda seraya menyindir perusahaan lain yang menghadirkan teknologi drone atau taksi udara.

Kisruh Pemesanan Kursi, Swiss Airlines Hadapi Gugatan dari Penumpang

Swiss Airlines baru-baru ini dilaporkan telah membuat penumpangnya kecewa atas pelayanan yang diberikan. Hal ini tersebut diungkapkan Shelley Benjamin, salah seorang penumpang dari San Francisco tujuan Zürich, Swiss bersama anak dan suaminya.

Seperti diwartakan beberapa media, saat itu Shelley membayar US$99 untuk perjalanan suaminya agar bisa duduk dekat dengannya dan anaknya yang masih balita (3 bulan). Dia melakukan pembayaran tersebut agar bisa mendapatkan tempat duduk, agar bisa sedikit privasi untuk menyusui dan mengganti popok bayinya.

Baca juga: Sedang Gendong Anak, Penumpang Ini Malah Mendapat Bogem dari Petugas Bandara

Setidaknya dengan biaya tambahan tersebut, Shelley beserta keluarga tidak harus repot melewati orang lain saat mau mengganti popok bayi. Sayangnya, bukan pelayanan yang didapat Shelley, justru bagian pelayanan pelanggan menolak dengan hal tersebut.

Pihak layanan pelanggan justru mengatakan bahwa dalam pesawat hanya memiliki dua kursi tengah karena keranjang hanya terpasang di kursi tengah. Namun kesialan kembali dirasakan Shelley dan keluarganya yang menemukan fakta saat berada di pesawat keranjang bayi hanya bisa diletakkan pada kursi paling akhir.

Selain itu, dia pun mengaku, harus meletakkan keranjang bayinya tidak bersama dirinya melainkan di bangku depan bersama orang asing. “Saya membayar dua tempat duduk, membayar untuk suami saya agar bisa duduk disebelah saya, tapi saya tidak benar-benar bisa memilih tempat duduk saya sendiri,” ujar Shelley yang dilansir KabarPenumpang.com dari chicagotribune.com (31/7/2017).

Baca juga: Ingin Bawa Anak Naik Pesawat? Perhatikan Beberapa Poin Penting Ini

Terkait masalah tersebut, Shelley menginginkan uang sebesar US$99 dikembalikan karena merasa dibohongi. Advokat konsumen Christopher Elliott, menanggapi permasalahan yang dihadapi keluarga Shelley dengan mengatakan bahwa Swiss Airlines seharusnya tidak mengenakan biaya apapun untuk tempat duduk tersebut.

Dia mengatakan, bila sudah setuju untuk membayar biaya tersebut, harusnya Shelley bersama keluarga menempati tempat duduk di lorong yang sudah dibayarkan tersebut. Namun, permasalah utamanya adalah tidak adanya catatan tertulis dari perwakilan Swiss Airlines yang memberi informasi tentang keranjang bayi tersebut. Sehingga bila dikaitkan masalah ini seperti tak jelas.

Baca juga: Tanggalkan Pakaian Sebelum Mengudara, Pria Ini Tunda Keberangkatan Pesawat

Elliott menjelaskan bahwa maskapai ini sebenarnya mempertahankan biaya tempat duduk tersebut dan mencatat untuk menawarkan kepada semua pelanggan, agar para pelanggan diberi kesempatan untuk memilih tempat duduk yang mereka sukai dalam penerbangan. Dulu, Swiss Airlines tidak memberikan kesempatan ini pada semua kalangan tetapi hanya untuk pelanggan tertentu yang membuat reservasi. Tahun 2014, dengan membayar biaya, pelanggan yang melakukan pemesanan penerbangan kemudian dapat menentukan tempat duduk 11 bulan sebelum keberangkatan.

Buntut Penangkapan Teroris di Sydney, Seluruh Bandara di Australia Alami Penumpukan Penumpang

Bagi Anda yang sedang bersiap pergi atau datang ke Australia dalam waktu dekat, maka bersiaplah untuk menghadapi pemeriksaan panjang di bandara-bandara di Negeri Kangguru. Pemeriksaan yang ketat dari Kepolisian Federal dilakukan setelah pada hari Sabtu lalu (29/7/2017) dilakukan penangkapan pada empat orang terduga teroris. Empat warga Australia keturunan Lebanon dipercaya sedang mempersiapkan teror pada pesawat rute Jakarta – Sydney.

Baca juga: Koneksi Data Bermasalah, Ribuan Penumpang di Australia Lakukan Cek Paspor Manual

Dilansir KabarPenumpang.com dari kidderminstershuttle.co.uk (31/7/2017), keempatnya merupakan dua pasang ayah dan anak di dua daerah berbeda, yakni di Lakemba, Surry Hills, Wiley Park, dan Punchbowl. Kesemuanya masuk bagian kota Sydney. Keempatnya diduga terinspirasi oleh gerakan ISIS.

Sebelum melakukan penangkapan pada keempat terduga teroris, polisi Australia menggerebek lima rumah pada hari yang sama. Dalam penggerebekan tersebut selain mengamankan empat orang tersebut, diduga komplotan tersebut melibatkan penyelundupan perangkat dalam penerbangan dari Sydney ke Timur Tengah. Selain itu bom yang sudah dibuat juga ditemukan di rumah salah satu pelaku yakni di Surry Hills.

Dengan diperketatnya keamanan di seluruh bandara, Peter Dutton, Menteri Perlindungan Perbatasan Australia, memberikan himbauan bagi para wisatawan yang akan bepergian menggunakan pesawat di seluruh bandara Australia, harus sampai dua jam sebelum penerbangan domestik dan tiga jam sebelum penerbangan internasional untuk pengecekan barang bawaan penumpang. Menurutnya, saat ini bagasi harus dipantau semaksimal mungkin dan wisatawan bisa memasuki bagian terminal yang aman bukan terisolir.

Dengan merebaknya berita rencana teror, Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull tidak akan memberi komentar mengenai laporan beberapa surat kabar yang menyebut ekstrimis Islam berencana membunuh penghuni sebuah pesawat dengan gas beracun dan sebuah bom buatan tengah dipersiapkan di perumahan. Atas kejadian ini, Komisioner Polisi Federal Australia Andrew Colvin mengatakan, penenangkapan keempatnya atas dasar undang-undang kontra terorisme. “Kami percaya bahwa kami telah menggagalkan upaya yang dapat menyerang sebuah pesawat,” ujar Colvin.

Pengaman empat orang terduga teroris di Australia

Baca juga: Yuk! Intip Tempat Istirahat Awak Kabin Virgin Australia

Turnbull menambahkan, bahwa warga Australia bisa lebih tenang karena memiliki dinas intelijen yang baik dalam melakukan pengamanan dan bergerak sangat cepat dengan hasil yang tepat sasaran. Diketahui, komplotan ini membuat sebuah alat peledak yang bisa mengeluarkan gas beracun berbasis belerang untuk membunuh ataupun melumpuhkan semua orang di dalam pesawat.

Baca juga: Ternyata 40% Turis Australia ke Bali Terbang Dengan JetStar

“Akan ada banyak spekulasi nantinya. Fokus kami sekarang adalah benar-benar memastikan orang-orang yang merencanakan teroris digagalkan,” ujarnya. Adanya pengecekan bagasi bawaan penumpang membuat bandara-bandara di Australia terlihat penumpukan penumpang dan antrean yang terlihat mengular.

Berkiblat ke Jerman, Cina Hadirkan Skytrain Generasi Terbaru

Cina baru saja dinobatkan sebagai negara ketiga di dunia yang menggunakan teknologi Skytrain setelah beberapa waktu yang lalu, Negeri Tirai Bambu tersebut baru saja menyelesaikan proyek kereta gantung tersebut. Rencananya, kereta yang akan mengular di jalur suspensi tersebut akan menjalani serangkaian uji coba di Qiangdao, Provinsi Shandong, Cina Timur.

Baca Juga: The Dolphin Blue dan Golden Phoenix, Kereta Peluru Terbaru Tembus 400Km Per Jam

Sebagaimana yang KabarPenumpang.com sarikan dari laman vanguardngr.com (26/7/2017), salah satu alasan mengapa moda darat ini diberi nama Skytrain adalah karena kereta ini merupakan sebuah monorel dimana jalurnya sudah ditinggikan dan diketahui memecahkan rekor. Para teknisi mengatakan Skytrain ini dapat beroperasi tiga kali lebih baik daripada kereta bawah tanah biasa. Tidak hanya itu, mereka juga mengatakan kereta ini bisa menanjak hingga gradien 100 meter dengan jarak 1000 meter.

Kereta ini dirancang khusus sebagai salah satu transportasi dengan biaya operasi yang rendah, ditambah dengan bobot moda yang masuk ke dalam kategori lightweight, dan kecepatan sedang diharapkan Skytrain ini bisa diadposi di daerah dengan pemandangan yang indah, seperti di daerah pegunungan atau kota-kota besar yang dihiasi oleh gedung-gedung pencakar langit. Setidaknya, potensi pasarnya akan meningkat jika diadopsi di tempat-tempat tersebut.

Kereta yang diproduksi oleh CRRC Qingdao Sifang Co. Ltd. ini terdiri dari tiga hingga lima gerbong yang mampu menampung kurang lebih 510 penumpang. Seperti yang sudah dijabarkan di atas mengenai daya laju Skytrain, kereta ini mampu menaju dengan kecepatan maksimum 70 km per jam. Liu Yuwen selaku Technical Director dalam proyek ini mengatakan kereta monorel ini dilengkapi dengan teknologi permanent magnet motor terbaru yang akan berpengaruh terhadap pengoperasian yang lebih efisien.

“Ini memungkinkan kereta memiliki kekuatan yang lebih besar, volume fisik yang lebih kecil, tingkat kebisingan yang rendah, serta bobot yang lebih ringan,” tutur Liu seperti yang tertera di laman sumber. Ia menambahkan, kereta ini mampu untuk dioperasikan di daerah pegunungan yang curam dan terjal sekalipun. “Skytrain akan memberi tumpangan yang aman dan nyaman,” tambahnya.

Baca Juga: Tanggula, Stasiun Terbengkalai di Atas Awan

Liu mengaku, penggunaan rel di atas permukaan tanah juga dinilai lebih hemat serta lebih mudah untuk dikelola. Hingga saat ini, baru tiga negara yang mengembangkan teknologi serupa, yaitu Jerman, Jepang, dan juga Cina. Dalam hal ini, Cina menjadikan Jerman sebagai kiblat pengadaan Skytrain, karena pada tahun 1901 silam, pembangunan sistem transportasi serupa diadakan di Negeri Bavaria dan menjadi pionir. Pengadaan kereta dengan jalur di atas permukaan tanah tersebut awalnya dibangun di kota Wuppertal dan hingga kini masih beroperasi.

Masker Oksigen, “Penyambung Nyawa” Saat Kabin Kehilangan Tekanan

“Gunakan Masker Oksigen Terlebih Dahulu, Baru Bantu Orang Lain,” demikian instruksi yang senantiasa diingatkan oleh awak kabin dan display informasi sebelum berlangsungnya penerbangan. Peran masker oksigen yang berada di dalam kabin berguna tatkala tekanan dalam kabin tiba-tiba berkurang atau hilang. Bila masker oksigen sudah keluar dari langit-langit kompartemen, maka pakailah untuk diri Anda sendiri sebelum membantu orang lain, dalam hal ini termasuk anak sekalipun.

Baca juga: Peragaan Alat Keselamatan Penerbangan, Masih Efektifkah?

Seorang pilot yang juga penulis Cockpit Confidential, Patrick Smith mengatakan, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah bahwa kecelakaan pesawat akibat masalah tekanan dalam kabin sangatlah jarang terjadi. Bahkan bila kabin tertusuk sesuatu pun tidak akan terjadi apapun menyangkut tekanan.

“Jika tekanan kabin turun dibawah ambang batas tertentu, maka otomatis masker oksigen akan turun dari langit-langit kompartemen di atas penumpang dan terlihat seperti hutan masker. Jika Anda dihadapkan dengan masker oksigen yang tiba-tiba muncul, pakailah masker tersebut untuk Anda terlebih dahulu sebelum membatu orang lain, bawa diri Anda serileks mungkin,” ujar Smith yang dikutip KabarPenumpang.com dari travelandleisure.com (30/7/2017).

Smith menambahkan, saat masker oksigen yang sudah Anda gunakan tersebut, maka pesawat akan segera berada di tempat yang aman dan oksigen tersebut cukup untuk beberapa menit kedepan. Faktanya dengan kondisi masker oksigen tiba-tiba turun dari langit-langit kompartemen dan pendaratan darurat, cukup membuat penumpang takut, tetapi pilot sudah dilatih untuk menangani situasi seperti ini.

Baca juga: Pentingnya Pelampung Untuk Keselamatan Penerbangan

Sebagian dari Anda mungkin bertanya-tanya seberapa lama masker oksigen mampu membantu para penumpang? Menurut io9, setiap pesawat sebenarnya membawa oksigen yang cukup membantu penumpang selama 20 menit untuk bernafas. Tetapi untuk diketahui, sebenarnya itu bukanlah oksigen asli, melainkan senyawa kimia yang menjadi oksigen setelah terbakar.

Saat ini kebanyakan pesawat banyak membawa campuran barium peroksida, natrium klorat dan kalium klorat. Memang mungkin terdengar tidak ideal untuk menghirup bahan kimia, tetapi ini adalah alternatif yang baik agar penumpang tidak kehilangan kesadaran ataupun sekarat. Sayangnya bila Anda menolak menggunakan masker, kemungkinan terburuknya adalah akan menderita hipoksia atau kekurangan oksigen kurang dari 30 detik.

Baca juga: Green Laser Pointer 303, Teror Baru Untuk Dunia Aviasi

Menurut Airbus, penumpang memiliki waktu sekitar 18 detik untuk tetap sadar saat sebuah pesawat kehilangan tekanan pada ketinggian 37 ribu kaki (11.300 meter). Hal ini sangat penting dan seperti yang dikatakan awak kabin dalam memeragakan alat keselamatan yang salah satunya adalah masker oksigen. “Tarik kebawah masker, letakkan menutupi hidung dan mulut Anda dan baru kemudian membantu orang lain disekitar Anda.”