Harap Sabar, MRT Jakarta Pasang Launching Gantry di Haji Nawi, Arus Lalin Dialihkan Sementara

Tanpa ada proyek MRT (Mass Rapid Transit) pun, kawasan Fatmawati di Jakarta Selatan sudah terkenal macet parah di sepanjang hari. Dan dalam proyek pengerjaan jalur MRT yang melewati Fatmawati, publik mulai terbiasa menikmati kemacetan. Namun guna rampungnya pengerjaan proyek MRT pada tahun depan, warga dan pengguna jalan yang melewati kawasan Fatmawati diharap untuk lebih bersabar, pasalnya mulai hari ini (28/7/2017) akan dilakukan pekerjaan pemasangan launching gantry yang nantinya akan digunakan sebagai alat konstruksi utama untuk pemasangan gelagar jalur layang MRT.

Baca juga: Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan

Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers PT MRT Jakarta, lebih khusus pemasangan launching gantry dilakukan di area Haji Nawi. Lewat siaran pers, PT MRT Jakarta memohon maaf atas ketidaknyamanan selama pekerjaan ini berlangsung, dan mengharapkan pengertian dan kerjasama dari masyarakat untuk dapat terus mendukung pelaksanaan proyek ini serta diharapkan kepada para pengguna jalan dan angkutan umum agar mematuhi rambu-rambu dan juga mengikuti petunjuk petugas di lapangan.

Rute Pengalihan dan Pengurangan Lajur Kendaraan di depan Plaza Mebel, Jl. Fatmawati, Jakarta Selatan.

Sehubungan dengan pekerjaan pemasangan gantry tersebut, akan dilakukan pengalihan dan pengurangan lajur kendaraan tepatnya di depan Plaza Mebel, Jl. Fatmawati, Jakarta Selatan. Dimana kendaraan dari arah Fatmawati menuju Blok M akan menggunakan 1 lajur berlawanan arah (contra flow), sedangkan kendaraan yang datang dari arah Blok M menuju Fatmawati mengalami pengurangan lajur dari yang sebelumnya 2 lajur menjadi 1 lajur kendaraan. Hal ini dikarenakan adanya penutupan lajur kendaraan dari arah Fatmawati menuju Blok M tepatnya di depan Plaza Mebel tersebut untuk digunakan sebagai area kerja konstruksi perakitan dan pemasangan gantry.

Kondisi ini berlaku sejak Jumat 28 Juli 2017 (mulai pukul 22.00) hingga Senin 31 Juli 2017 (pukul 06.00). Selama pekerjaan ini berlangsung, PT MRT Jakarta menghimbau kepada para pengguna jalan yang melintasi area ini agar dapat mencari jalan alternatif lain untuk menghindari kemacetan yang mungkin terjadi pada area tersebut.

Kurangi “Lost Luggage,” Amerika Serikat Berlakukan Pelacakan Barang dari Bagasi

Dalam rangka meningkatkan efisiensi penanganan barang di bagasi terdaftar (kargo) dan tentunya atas alasan keamanan, International Air Transportation Association (IATA) dan Airlines for America (A4A) melancarkan kampanye global dalam kurun waktu setahun penuh terkait baggage tracking. Tidak hanya itu, kampanye ini juga bertujuan untuk mengurangi tingkat “salah penanganan” tas para pelancong yang ada di bandara-bandara di Negeri Paman Sam.

Seperti diwartakan KabarPenumpang.com dari laman saudigazette.com.sa (24/7/2017), kampanye ini dilandasi oleh fakta yang menunjukkan tingginya angka kedatangan barang bawaan penumpang ke bandara tanpa tuannya.

Baca Juga: Penanganan Bagasi di Bandara Kini Libatkan Teknologi RFID

Setiap tahunnya, lebih dari empat miliar tas ikut mengudara dalam penerbangan global. Sementara itu, kurang lebih 0,43 persen dari jumlah tersebut datang tidak dengan pemiliknya, dan biasanya kejadian ini terjadi akibat pihak maskapai salah menerbangkan barang bawaan tersebut. Kerap kali juga ditemui kasus barang bawaan penumpang yang tertukar. Oleh karenanya, dunia industri penerbangan bertekad untuk melakukan pelayanan yang lebih baik dengan menyetujui Resolution 753 (R753).

R753 sendiri bertujuan untuk mengurangi jumlah barang bawaan penumpang yang hilang, tertinggal, hingga tertukar dengan cara mencatatnya pada setiap tahap perjalanan melalui penggunaan terknologi pelacakan cerdas. Rencananya, pada bulan Juni 2018 mendatang, setiap perusahaan penerbangan berkomitmen untuk dapat melacak setiap barang yang mereka terima di bandara, mengetahui keberadaan tas tersebut ketika mengudara, dan memastikan barang bawaan tersebut tiba di bandara tujuan bersama dengan pemiliknya. Pihak maskapai penerbangan juga diharapkan dapat berbagi informasi pelacakan ini dengan operator interline sesuai dengan kebutuhan.

Sumber: saudigazette.com.sa

Baca Juga: Terlambat 2 Jam, Bagasi Penumpang Malindo Air Tak Kunjung Tiba Setelah 5 Jam Menanti

Kepala Pengoperasian Bagasi Global IATA, Andrew Price mengatakan perbaikan layanan dari berbagai aspek sangat penting untuk menunjang tingkat kepercayaan konsumen terhadap suatu maskapai. “Tiba di destinasi tujuan tanpa barang bawaan merupakan mimpi buruk bagi para penumpang. Dalam periode satu dekade terakhir, kami meningkatkan pelayanan di bagian bagasi sebesar 54 persen. Langkah selanjutnya adalah untuk semakin menyadari manfaat dari program baggage tracking sehingga pelayanan kepada para penumpang bisa lebih maksimal,” tutur Andrew.

Tidak hanya itu, Andrew pun membeberkan keuntungan lain dari program ini, seperti memungkinkan pelaporan proaktif, dan mempercepat kesiapan sebuah maskapai untuk mengudara. “Juga program ini bisa memfasilitasi proses otomatisasi bagasi dan dapat mengurangi kecurangan yang dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab,” tambahnya.

Sepaham dengan Andrew, Managing Director of Passenger Services di A4A, Patty Edwards pun menambahkan bahwa program baggage tracking ini merupakan wujud kolaborasi pihak maskapai penerbangan dengan pihak bandara untuk sama-sama saling meningkatkan kinerjanya dalam melayani penumpang. ”Pihak maskapai dan bandara saling bahu membahu untuk memastikan infrastuktur yang tersedia dapat menyempurnakan pelayanannya kepada para penumpang,” ujar Patty.

Baca Juga: PT Angkasa Pura II, Buat Transparasi Penanganan Bagasi

Kampanye baggage tracking ini akan membantu perusahaan penerbangan mempersiapkan tenggat waktu pelaksanaan R753 yang jatuh pada Juni 2018. Kampanye ini juga akan dibarengi dengan serangkaian inisiatif yang disesuaikan dengan berbagai pemangku kepentingan. Ini termasuk lokakarya regional untuk entitas penerbangan utama dan kampanye kesadaran untuk para pelancong.

Bosan Antri Lama di Bandara, Begini Cara Cepat Ambil Barang di Klaim Bagasi

Setiap penumpang pesawat terbang saat mendarat pasti tujuan utamanya adalah baggage carousel atau ban berjalan tempat untuk klaim bagasi. Tak hanya itu, terkadang penumpang juga berharap tas atau barang mereka yang pertama keluar dibandingkan milik yang lain.

Kabarpenumpang.com merangkum dari cntraveler.com (5/7/2017), mendapat tas pertama adalah suatu hal yang paling ditunggu semua penumpang. Seperti yang dikatakan Emily McNutt dari Asosiate editor The Point Guy, beberapa pelancong sering berpikir dan mengatakan pada petugas saat check in agar tas mereka bisa menjadi yang pertama saat berada di ban berjalan saat klaim bagasi.

Baca juga: Unik, Penumpang Masukkan Sebuah Bir Kaleng Ke Bagasi Pesawat dan Diberi ‘Tag’

Padahal setiap maskapai penerbangan memiliki cara tersendiri untuk melakukan proses bongkar muat barang-barang dari ruang kargo untuk sampai pada ban berjalan di area klaim bagasi. Sehingga sebenarnya sebagai penumpang pesawat harus bisa bersabar untuk menunggu tas dan barang Anda.

Emily mengatakan beberapa ground crew memuat tas-tas besar untuk menyeimbangkan bobot pada bagian body pesawat dan yang lainnya di letakkan di sektor bawaan individu. Apalagi penumpang tidak tahu proses di balik layar dalam penanganan tas-tas mereka saat masuk dan keluar dari pesawat. Intinya tidak ada yang bisa memanipulassi sistem untuk hasil yang lebih cepat.

Baca juga: Penanganan Bagasi di Bandara Kini Libatkan Teknologi RFID

Tetapi ada pengecualian untuk Anda yang bersedia membayar agar tas di dahulukan saat dikeluarkan dari kargo pesawat. Beda lagi dengan penumpang yang memiliki status elite dimana memesan tempat pada kelas utama atau bisnis. Bila Anda sebagai penumpang kelas utama ini, pastinya mendapat fasilitas papan atas yang lebih baik dan lebih nyaman, termasuk dalam hal penanganan bagasi ikut menjadi prioritas utama dan koper Anda bisa langsung sampai pada Anda tanpa harus menunggu lama di ban berjalan. Dalam hal ini, Emily menyarankan agar petugas counter check in mengetahui Anda sebelumnya sudah mendapat status.

“Saat Anda menurunkan tas Anda ke check in counter, pastikan Anda melihat tag di sana. Selama nomor pesanan penerbangan Anda dikaitkan dengan pemesanan penerbangan Anda, mereka akan bisa memberi tahu,” kata emily.

Baca juga: Terlambat 2 Jam, Bagasi Penumpang Malindo Air Tak Kunjung Tiba Setelah 5 Jam Menanti

Tak hanya itu, saat ini maskapai sedang melakukan perbaikan teknologi untuk mengurangi tekanan pada arus tas penumpang. “Track My Bags” Qatar Airways memungkinkan Anda melihat apakah tas Anda saat check-in, dalam transfer, atau sampai di tempat tujuan, Delta Airlines memperkenalkan teknologi pelacakan bagasi baru di aplikasinya tahun lalu.

“Ketika aktivitas bongkar dilakukan di apron, Anda dapat melihat di mana tas Anda dan memantau ke mana arahnya di bandara, dan memperkirakan waktu ketika tiba di klaim bagasi,” kata Emily.

 

Ingin Bawa Anak Naik Pesawat? Perhatikan Beberapa Poin Penting Ini

Terbang bersama si buah hati tentu jadi momen yang berharga untuk mengenalkan Sang Anak pada dunia dirgantara. Tapi membawa anak untuk terbang butuh perhatian tersendiri, terlebih bila anak baru pertama kali naik pesawat. Bila Anda tidak aware pada persiapan, bukan tak mungkin penerbangan yang diharapkan menyenangkan justru berubah 180 derajat.

Nah, ada beberapa tips yang KabarPenumpang.com rangkum dari independent.co.uk yang dituliskan seorang awak kabin Kelly Eroglu yang bekerja pada maskapai besar lebih dari 20 tahun tentang hal terkait anak dalam pesawat.

Baca juga: 6 Tips Ampuh Menahan BAB Saat Perjalanan Jauh

1. Orang tua membuat anak senyaman mungkin
Dalam penerbangan, menggunakan pesawat, apalagi untuk pertama kalinya seorang anak dibawa bepergian. Baiknya jaga anak Anda dan buat senyaman mungkin. “Penumpang lain bisa saja menjadi mimipi buruk jika anak-anak Anda mulai bertingkah laku. Saya selalu mengatakan kepada penumpang dengan anak-anak bila mereka menangis atau berteriak saat melihat orang lain. Katakan mereka sama dengan Anda jadi jangan khawatir,” ujar Eroglu.

Okezone.com

2. Rencanakan sebaik mungkin
Sebelum bepergian, baiknya lengkapi kebutuhan anak-anak Anda dari popok, susu hingga apapun itu. Sebab, tidak semua maskapai melengkapi kebutuhan anak-anak di dalam pesawat. Kalaupun Anda, kemungkinan tak banyak hanya susu dan popok.

3. Tidak semua suka makanan maskapai penerbangan
Orang tua pastinya berpikir semua anak pastinya akan makan segalanya di pesawat. Padahal, hal tersebut belum tentu terjadi. Sebab anak-anak pastinya lebih banyak bermain dari pada makan dan orang tua justru yang kelaparan karena memikirkan anak-anak.

Baca juga: Ternyata, Sabuk Pengaman Lindungi Anda dari Lima Arah

“Saya menyarankan, bila maskapai membuka pemesanan makanan sebelum Anda berangkat, baiknya pesan makanan untuk anak-anak sekaligus makanan ringannya. Tak lupa juga, persiapkan makanan cemilan untuk anak Anda bila perjalanan lebih lama. Anda juga bisa meminta tolong pada awak kabin untuk memanaskan botol susu anak,” ujarnya.

4. Bersahabat dengan awak kabin
Bila Anda bepergian sendiri dan membawa bayi bersama Anda, baiknya minta bantuan awak kabin untuk memudahkan aktivitas Anda. Saat Anda ingin ke toilet, bisa meminta bantuan awak kabin untuk menjaga bayi Anda sebentar.

www.independent.co.uk

5. Punya banyak taktik untuk usir kebosanan
Saat bersama anak, minta duduk dekat jendela karena jendela memberikan hal menarik yang baru dan passtinya banyak pertanyaan dari anak-anak. Bawa pensil, buku gambar hingga pewarnanya seperti krayon atau kertas origami. Bila dalam perjalanan jauh, bisa gunakan tablet ataupun iPad untuk permainan anak Anda.

Baca juga: Hindari Penumpang Pingsan, Suhu Kabin Pesawat Harus Selalu Dingin

“Minta anak menggambar pilot dan berikan pada awak kabin di akhir penerbangan karena baik untuk anak-anak dan memiliki tujuan,”jelas Eroglu.

6. Jangan biarkan zona waktu mengganggu Anda
Akan ada perbedaan waktu dari tempat Anda menuju tempat wisata pilihan. Baiknya jangan paksa anak-anak tidur, biarkan mereka tidur bila memang sudah lelah. Sebab, di khawatirkan saat samapi di tempat wisata, anak Anda justru lebih banyak tidur dibandingkan bermain.

Baca juga: Kuping Berdengung Saat Take Off? Jangan Panik dan Pahami Penyebabnya

7. Bersiap saat lepas landas dan mendarat
Baik saat mau terbang atau mendarat, pasti akan ada perbedaan tekanan udara sehingga bisa membuat telinga anak tak enak dan bisa membuat mereka sakit. Baiknya disarankan bila bayi Anda menyusui, maka berikat susu tersebut, karena saat bayi menghisap akan membantu meringankan tekanan.

Targetkan 1 Juta Wisman, Jawa Timur Bersama PT Angkasa Pura I Gelar Collaborative Destination Development

Jawa Timur memiliki target satu juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada 2025 mendatang. Dengan adanya target seperti ini, PT Angkasa Pura I (Persero) menggelar kegiatan Collaborative Destination Development (CDD) sebagai upaya untuk mendukung pengembangan potensi pariwisata Jawa Timur di Surabaya dengan tema “Preparing East Java for 1 Million Foreign Tourist Arrivals in 2025”.

CDD sendiri sebenarnya adalah program inisiatif AP I dengan format Focus Group Discusion (FGD) sebagai forum kolaborasi para pemangku kepentingan pariwisata di wilayah AP I yakni wilayah tengah dan timur Indonesia. Forum ini tujuannya untuk mendorong pengembangan potensi industri pariwisata untuk mendapatkan hasil output yang nyata.

Baca juga: Tiga Bandara Angkasa Pura Airports Masuk Peringkat 10 Besar Dunia

“Pariwisata merupakan salah satu industri yang digencarkan oleh Presiden Joko Widodo untuk dipromosikan selain perdagangan dan investasi. Angkasa Pura I sebagai salah satu pemangku kepentingan di industri pariwisata yang berperan untuk mewujudkan konektivitas udara, berupaya lebih jauh lagi dengan menginisiasi kegiatan Collaborative Destination Development ini. Kegiatan ini bertujuan untuk mengkolaborasikan seluruh pemangku kepentingan pariwisata di daerah, khususnya Jawa Timur, agar potensi pariwisata daerah makin berkembang,” ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Danang S. Baskoro dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (27/7/2017).

Danang mengatakan bahwa kunci sukses di industri aviasi dan pariwisata adalah pengembangan kolaborasi antara program maskapai, program pemerintah, program pelaku industri pariwisata, dan program yang diinisasi pengelola bandara. Senada dengan Danang S. Baskoro, Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha AP I Moch Asrori mengatakan bahwa pengelola bandara harus menginisiasi kerja sama dan koordinasi dengan seluruh pelaku bisnis pariwisata instansi terkait dalam mengembangkan industri pariwisata daerah.

“Secara khusus, pengelola bandara juga harus dan membuka akses seluas-luas bagi penyedia layanan agen perjalanan di bandara. Selain itu, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) diperlukan untuk meningkatkan efektifitas koordinasi, komunikasi, integrasi dan pengendalian antar pelaku bisnis dan periwisata terutama PT Angkasa Pura I,” ujar Asrori.

Terkait target kunjungan 1 juta wisatawan mancanegara (wisman) ke Jawa Timur pada 2025, Asrori menyatakan optimismenya. “Jika melihat pertumbuhan pergerakan penumpang mancanegara selama beberapa tahun terakhir, kami optimis dapat mencapai target 1 juta kunjungan wisman ke Jawa Timur pada 2025, bahkan dapat tercapai lebih awal. Pada 2016, terdapat 612.412 kunjungan wisman melalui Bandara Juanda, naik 32 persen dibanding jumlah kunjungan wisman pada 2015 yang sebanyak 463.596 wisman. Bahkan pertumbuhan kunjungan wisman 2015 dibanding 2014 naik cukup signifikan yaitu 54 persen, di mana pada 2014 jumlah kunjungan wisman hanya sebesar 300.009 orang,” jelas Asori.

Baca juga: Inilah Alasan PT Angkasa Pura I Berganti Jadi “Angkasa Pura Airports”

Lebih lanjut Asrori mengatakan, pihaknya selaku pengelola bandara mendukung penuh rencana dan target Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mendatangkan wisatawan ke Jawa Timur. Angkasa Pura I senantiasa memberikan perhatian khusus pada pengembangan daerah, mendorong sinergi dengan Pemerintah Daerah, Kementerian Pariwisata, maskapai penerbangan, serta pemangku kepentingan lain untuk mengambil peran penting dalam usaha penyediaan kapasitas infrastruktur dan konektivitas sisi udara.

Bentuk dukungan lainnya, ujar Asrori, adalah pemberian insentif bagi maskapai yang membuka atau menambah rute baru berupa penggratisan biaya pendaratan (landing fee). “Kami mendorong para maskapai untuk membuka rute baru atau menambah frekuensi terbang dengan memberikan insentif penggratisan landing fee. Dengan bertambahnya rute baru dan frekuensi terbang, maka pergerakan penumpang akan bertumbuh yang pada akhirnya diharapkan akan mendorong industri pariwisata daerah,” kata Asrori.

Saat ini terdapat banyak destinasi wisata dan potensi wisata lainnya di Jawa Timur yang dapat dioptimalkan lebih baik lagi, seperti Gunung Bromo, Gunung Semeru, Kawah Ijen, Gili Iyang, Gili Labak, Pantai Sembilan Gili Genting.

Forum kolaborasi para pemangku kepentingan pariwisata di Jawa Timur ini melibatkan jajaran pemerintah pusat yang diwakili oleh Kementerian Pariwisata dan pemerintah daerah seperti Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Timur, dan perwakilan pemerintah kota/kabupaten sekitarnya. Selain itu kegiatan ini juga melibatkan para pelaku bisnis seperti maskapai penerbangan, Association of Indonesian Tours and Travel Agent (ASITA) Jawa Timur, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur, dan pelaku usaha di bidang pariwisata lainnya.

 

Ini Alasan Kenapa Pesawat Dihimbau Tak Mengudara Saat Turun Kabut

Untuk sebagian orang, turunnya kabut memberikan nuansa tenang dan rileks untuk beristirahat, namun hal tersebut berbanding terbalik dengan para pekerja di dunia aviasi, khususnya pilot. Sedikit bernostalgia ke belakang ketika pada tahun 2006 silam, sejumlah maskapai di Inggris terpaksa mengurungkan niatnya untuk mengudara karena kepulan kabut tebal yang menyelimuti Britania Raya tersebut. Sebenarnya, pembatalan ini bukan diakibatkan efek visibilitas yang rendah saat mengudara, melainkan ketika pesawat berada di darat.

Baca Juga: Lima Penyebab Umum Terjadinya Kecelakaan Pesawat

Faktanya, keberadaan teknologi canggih di dalam pesawat memudahkan pilot untuk mengatasi masalah penglihatan yang kerap kali menganggu tugas mereka, seperti keberadaan awan rendah, hingga kabut tebal sekalipun. Namun setibanya mereka di darat, pandangan pilot benar-benar tergantung dari kaca depan pesawat. Di sini, ia harus benar-benar jeli untuk menghindari tabrakan dengan kendaraan lain yang berada di lintasan, seperti pesawat lain atau pun mobil caddy.

Pernyataan tersebut dipertegas oleh juru bicara National Air Traffic Services (Nats), Richard Wright. “Ini bukanlah masalah pengendali lalu lintas udara, namun lebih kepada masalah saat mereka menyentuh landas pacu,” ujar orang yang juga memantau lalu lintas udara di sekitaran Inggris. “Pesawat-pesawat tersebut membutuhkan ruang lebih ketika mereka sudah berada di landas pacu agar menghindari benturan dengan kendaraan lain,” tambah Richard.

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman theguardian.com, Richard mengatakan alangkah baiknya jika pihak pengelola bandara mengosongkan landas pacu dan mensterilkannya sebelum pesawat lain mendarat. Tentu ini merujuk pada low visibility procedures yang mengatakan setiap pesawat yang mendarat di suatu bandara harus dipisahkan satu sama lain sejauh enam mil atau setara dengan 9,7 meter.

Baca Juga: Layani Penerbangan Malam, ILS Wajib Terpasang di Runway Bandara

Pemberlakuan prosedur ini tentu sangat mungkin dilakukan di bandara-bandara yang berukuran tidak terlalu besar dan tidak terlalu ramai aktifitasnya. Namun apa jadinya jika prosedur tersebut juga diberlakukan di bandara-bandara besar dan telah dinobatkan sebagai bandara dengan tingkat aktifitas yang sangat padat seperti Bandara Internasional Heathrow di Inggris? Tentu saja pemberlakuan prosedur ini akan berimbas pada pembatalan sejumlah penerbangan. Ditinjau lebih lanjut, pembatalan pemberangkatan itu akan membawa kerugian tersendiri terhadap pihak maskapai yang bersangkutan.

Baca Juga: Saat Bencana Alam Tiba, Bukan Berarti Perjalanan Batal, Ikuti Tips Ini!

Maka dari itu, pihak maskapai lebih memilih untuk membatalkan penerbangan ketika cuaca berkabut ketimbang harus menghadapi resiko yang bisa saja membahayakan banyak orang, seperti kejadian pada tahun 2001 dimana 118 orang meninggal di Bandara Linate, Milan ketika sebuah pesawat yang dioperasikan oleh maskapai asal negara skandinavia, SAS tengah bersiap untuk lepas landas. Sayangnya, kondisi berkabut pada saat itu membuat jarak pandang pilot amat terbatas sebelum akhirnya menabrak bagian sayap dari sebuah pesawat pribadi yang “nyasar” landas pacu akibat kondisi kabut yang luar biasa pekat.

Di Indonesia, kasus yang mirip juga kerap terjadi, namun yang dihadapi adalah kabut akibat asap kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Sumatera dan Kalimantan.

Bemo Tereliminasi, Bajaj Qute Jadi Solusi

Bemo, kendaraan penumpang dengan tiga roda dan memiliki body yang lebih besar dari Bajaj ini sepertinya harus tergerus jaman. Sebab per 6 Juni 2017 kemarin, Pemprov DKI Jakarta baru saja menertibkan bemo di Ibu Kota berdasarkan surat edaran Dinas Perhunungan DKI Jakarta Nomor 84 Tahun 2017 tentang pelarangan bemo beroperasi.

Baca juga: Bemo, Mencoba Eksis Ditengah Himpitan Zaman

KabarPenumpang.com mengabarkan, saat ini sudah ada pengganti bemo yakni Bajaj Qute yang bentuk menyerupai mobil mini dengan tempat duduk penumpang berada di samping pengemudi dan bisa memuat tiga sampai empat orang penumpang didalamnya. Bajaj Qute yang saat ini baru ada di Jakarta Utara dan menggantikan jalur Bemo dari Stasiun Jakarta Kota menuju Pademangan dan sebaliknya.

Bajaj Qute memiliki spesifikasi mesin 220 cc dengan tenaga 13,2 Ps dan memiliki transmisi manual lima percepatan. Betapa cute-nya Bajaj Cute bisa dilihat dari dimensinya, yakni panjang 2,75 meter, lebar 1,32 meter dan tinggi 1,65 meter. Berat kosong Bajaj Qute pun cukup ringan, hanya 431 kg dan maksimum bisa membawa muatan hingga 731 kg. Tak seperti Bajaj Biru yang menggunakan bahan bakar gas, Bajaj Qute seperti kendaraan konvensional, menggunakan bensin.

Baca juga: Bajaj, Angkutan Beroda Tiga Yang Melegenda

Pengganti bemo ini, bisa melaju hingga kecepatan 70 km per jam dan dirancang menggunakan stir sebagai kemudi layaknnya kendaraan roda empat lainnya serta bukan stang seperti Bajaj tiga roda. Dikutip KabarPenumpang.com dari Kompas otomania.com (25/7/2017), operasional transmisi Qute menggunakan tuas yang ada ditengah dasbor. Ada pula tiga pedal dibawah kemudi dan sepertinya menggunakan transmisi manual.

Panel instrumen yang ada di tengah memiliki penunjuk kecepatan model analog, sementara bagian bawahnya berpenampang digital. Di Bajaj Qute ini juga ditunjang dengan hiburan yakni perangkat audio yang bisa memutar file digital MP3, kartu memori, radio dan terkoneksi dengan USB.

Baca juga: Jajal Tuk Tuk, “Bajaj” dengan Argometer di Bangalore, India

Bajaj Qute mulai beroperasi di Jakarta sejak 19 Juli lalu dan masih dalam status uji coba. Tarif yang dikenakan pada penumpang juga Rp5 ribu sekali naik untuk per penumpang. Saat ini diketahui, keberadaan Bajaj Qute di sekitaran Jakarta Utara ada 17 unit dan Organda DKI Jakarta sudah menyiapkan 2000 lebih armada Bajaj Qute yang ditargetkan, akan beroperasi pada akhir 2017.

Tahun 2018, Bandara Internasional Kertajati di Majalengka Mulai Beroperasi

Provinsi Jawa Barat tahun depan rencananya bakal memiliki satu lagi bandara internasional, setelah saat ini ada Bandara Husein Sastranegara yang berada di Kota Bandung. Bandara yang dimaksud adalah Bandara Internasional Kertajadi di Kota Majalengka, yang pengoperasiannya telah dipatok pada tahun 2018.

Selain digadang meningkatkan kapasitas arus wisatawan dan bisnis ke wilayah Jawa Barat, bandara yang disebut Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) atau Bandara Internasional Kertajati, dicanangkan untuk melayani rute penerbangan Haji. Selama ini calon Haji asal Jawa Barat yang ingin terbang ke Tanah Suci harus melalui Bandara Soekarno-Hatta. Dirangkum dari berbagai sumber oleh KabarPenumpang.com, BIJB ini akan dibangun dengan panjang landasan pacu (runway) tunggal dengan panjang 3.500 meter, itu untuk tahap pertama, kedepannya bila telah selesai tuntas, BIJB akan memiliki dua landasan pacu.

Baca juga: 28 Agustus 2017, Jadwal Ground Breaking Bandara Internasional Bali Utara

Pada tahap pertama nantinya bandara ini mampu menampung 5 juta penumpang per tahun dan bisa menampung hingga 18 juta penumpang per tahun di tahun berikutnya. Dari konsepnya, BIJB dibangun untuk membantu arus penerbangan di Bandara Internasional Husein Sastranegara. Selain untuk kepentingan penerbangan komersial, selama ini Bandara Husein Sastranegara digunakan bersama untuk aktivitas PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU. Jarak antara Bandung menuju Majalengka sendiri sekitar 68 km, atau jika ditempuh lewat jalur Purwakarta berjarak 98,4 km. Karena dibangun di lokasi strategis, aksesbilitas BIJB terjamin karena adanya jalan raya dan jalur kereta api yang menghubungkan Bandung, Kertajati dan Cirebon.

Sketsa Terminal Utama Bandara Internasional Kertajati (PT BIJB)

Nantinya jalur kereta bandara BIJB akan membentang sejauh 15 km dari Kertajati sampai ke stasiun Jatibarang, Indramayu dan dibangun oleh anak usaha PT KAI yakni PT Railink. Pembangunan kereta bandara hingga stasiun Jatibarang, dikarenakan penumpang dari Jakarta yang berangkat dari stasiun Gambir bisa menuju BIJB melalui stasiun Jatibarang.

Baca juga: Hang Nadim, Bandara dengan Landas Pacu Terpanjang di Indonesia

Bandara yang akan selesai pembangunannya tahun 2018 mendatang ini, dibangun diatas lahan seluas 1.800 hektar dan akan dibagi tiga tahap pembangunan. Proyek pembangunan BIJB sendiri diperkirakan menghabiskan biaya Rp25,4 triliun. Selain itu bandara ini akan mengoperasikan 14 rute penerbangan yakni sepuluh penerbangan domestik dan empat penerbangan internasional termasuk pengangkutan jemaah haji.

Yang unik, nantinya BIJB akan memiliki menara ATC (Air Traffic Control) berbentuk Kujang yang merupakan senjata tradisional asal Jawa Barat. Bandara Internasional Kertajati, akan dikelola oleh PT Angkasa Pura II (Persero) yang juga mengelola Bandara Internasional Husein Sastranegara.

Tampak Luas Bandara Internasional Kertajati (bandarakertajati.com)

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemprov Jabar atas kepercayaan yang diberikan sehingga dalam waktu dekat AP II dan PT BIJB akan membahas lebih detail terkait pengoperasian BIJB serta akan melakukan penandatanganan MoU terkait hal ini. Kami optimistis akan dapat membawa BIJB menjadi bandara yang secara maksimal dapat mendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia khususnya Jawa Barat. Saat bertemu dengan Gubernur Jabar, kami juga menyampaikan minat untuk terlibat dalam pengembangan Aerocity di kawasan bandara tersebut. Tidak menutup kemungkinan bahwa AP II dan PT BIJB juga akan membentuk joint venture company yang fokus pada pengembangan usaha di BIJB,” ujar Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (24/7/2017).

Baca juga: Bandara Radin Inten II Semakin Keren dengan Lorong Fiberglass

AP II juga berkomitmen penuh dalam mendukung PT BIJB sehingga target pengoperasian BIJB dapat memenuhi target yang ditetapkan yakni pada Semester I/2018. Seperti diketahui, AP II saat ini juga mengelola Bandara Internasional Husein Sastranegara yang terletak di Bandung. Bandara tersebut kini menjadi salah satu penopang pertumbuhan industri pariwisata di kawasan Jawa Barat khususnya Bandung.

Ternyata! Jakarta Dijadikan Panutan Dalam Program Pengurangan Polusi di Sydney

Simpang siur kendaraan di Ibu Kota memang sering sekali membuat sebagian pengguna jalan kesal. Tidak hanya kendaraan pribadi saja, kendaraan umum serta para pengguna jalan lainnya juga seolah terburu-buru sehingga kemacetan yang menjadi pemandangan sehari-hari di sini pun menjadi kian runyam. Belum lagi tingginya tingkat pelanggaran lalu lintas dan polusi di Jakarta semakin “mengharumkan” namanya. Ini berimbas pada disematkannya predikat kota terburuk di dunia karena kemacetan lalu lintasnya pada tahun 2015 silam.

Baca Juga: Tekan Jumlah Kendaraan Pribadi, India Hadirkan Bus Berbasis Aplikasi

Belakangan ini, masalah polusi menjadi topik perbincangan hangat di kalangan otoritas kelas wahid. Tingkat pencemaran udara di Jakarta dinilai sudah melebihi batas dan sudah tiba waktunya untuk memikirkan bagaimana cara untuk meredam tingkat pencemaran tersebut.

Menurut data yang dilansir KabarPenumpang.com dari news.com.au (2/5/2017), tingkat emiter karbon dioksida per-kapita Indonesia berada di angka 1,9 ton per-orang, sedangkan benua tetangga kita, Australia menempati urutan ke-12 dunia dengan tingkat emiter karbon dioksida per-kapitanya berada di angka 16,3 ton per-orang.

Secara mengejutkan, hasil riset menunjukkan tingkat emiter yang karbon dioksida yang dimiliki Indonesia berada jauh di bawah Negeri Kangguru. Ini merupakan salah satu acuan hingga Australia menjadikan Indonesia sebagai panutan dalam dua hal yang dianggap akan berdampak pada kondisi transportasi di sana. Dua aspek tersebut meliputi usaha dalam meredam peningkatan polusi.

Sumber: istania.net

Yang pertama adalah pemberlakuan program “Car Free Day” setiap hari Minggu. Seperti yang diketahui sebelumnya, pemberlakuan program ini bertujuan untuk mengurangi tingkat polusi di Ibu Kota dengan cara melarang kendaraan bermotor untuk melintas beberapa jalur protokol, seperti Jalan Sudirman hingga Jalan M. H. Thamrin, termasuk Bunderan HI. Program ini dilakukan setiap hari Minggu dari mulai pukul 06.00 hingga 11.00 WIB.

Walaupun Car Free Day hanya berlaku sekali dalam seminggu, namun program ini mampu membuat benua tetangga iri, khususnya kota Sydney. Bahkan media luar menilai ini merupakan hal yang luar biasa untuk ukuran kota yang sama sekali tidak memungkinkan para warganya untuk berjalan kaki. Seorang ahli transportasi dan pengamat kota dari University of Sydney, Dr. Stephen Greaves mengatakan Australia bisa saja melakukan hal serupa dengan apa yang diterapkan di Indonesia, selama pihak otoritas setempat memiliki kemauan untuk mengadakan program Car Free Day.

Baca Juga: Peduli Polusi, Hyundai Hadirkan Bus Listrik Untuk Tekan Pencemaran Lingkungan

Lebih lanjut, Stephen mengatakan pemerintah setempat memiliki beberapa rancangan yang bisa dibilang serupa dengan program Car Free Day, namun selalu dibantah karena dianggap tidak memiliki dampak yang signifikan. “Selain itu, kami juga kerap kali meremehkan peran transportasi dalam memproduksi emisi karbon. Namun, emisi karbon tersebut terus tumbuh seiring masyarakat membeli kendaraan yang lebih besar dan mampu menempuh jarak yang lebih jauh,” ungkapnya.

Sumber: sindikat.co.id

Selain itu, kehadiran Gojek juga menjadi poin perhatian Australia. Gojek dinilai oleh media luar sebagai inovasi dalam mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan, bersanding dengan sarana transportasi lainnya, seperti KRL dan TransJakarta. Kembali, pihak Australia memberikan pembelaan dengan mengatakan pengadaan lebih banyak sarana transportasi akan berbenturan dengan perluasan jaringan bawah tanah yang tengah digarap.

Hadirnya pernyataan seperti ini memang membawa penyegaran tersendiri untuk Indonesia karena masih bisa dijadikan contoh oleh negara lain. Namun, tentu saja kita tidak boleh cepat berpuas diri, karena masih banyak negara yang memiliki tingkat polusi yang jauh lebih rendah dari Indonesia, dan kita harus mencontoh negara tersebut. Sebagai masyarakat, yang harus kita lakukan adalah membantu program pemerintah dalam mengurangi polusi, seperti lebih memilih menggunakan transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi. Jadi, siapkah kita membantu program pemerintah untuk mengurangi polusi?

Tahun 2020, Dipercaya 14.419 Pesawat Komersial Gunakan Akses WiFi di Kabin

Sampai saat ini tersedianya koneksi WiFi (wireless fidelity) di kabin pesawat masih hadir secara terbatas di penerbangan full service. Bagi pihak maskapai, adanya koneksi WiFi jelas membawa citra positif bagi kepentingan promosi. Namun karena dibutuhkan investasi tambahan untuk instalasi WiFi, baru penerbangan terpilih jarak jauh yang menghadirkan WiFi hotspot. Dari dimensi pesawat pun, deployment WiFi masih didominasi oleh pesawat berbadan lebar (wide body).

Namun bakal berbeda dalam lima tahun mendatang, sebaran koneks WiFi di pesawat bakal lebih booming, bahkan boleh jadi WiFi akan menjadi layanan standar. Dilansir KabarPenumpang.com dari fortune.com (11/7/2017), Juniper Research memperidiksi bahwa di tahun 2022 bakal ada sekitar 14.419 pesawat komersial yang dilengkapi konektivitas WiFi. Kenaikan ini mencapai 175 persen dari jumlah tahun ini yang baru mencapai angka 5.234 pesawat.

Baca juga: Maskapai Pacu Kemampuan WiFi dalam Penerbangan

Hasil ini merupakan proyeksi dari Juniper Research yang berbasis di Inggris. “Kenaikan hampir 175 persen ini bisa dikatakan setengah dari armada penumpang dunia yakni pesawat komersial akan terhubung dengan konektivitas,” ujar juru bicara Juniper.

Permintaan konektivitas WiFi didorong dari adanya masyarakat yang membawa perangkat masing-masing atau BYOD (Bring On Your Device) booming. Dimana setiap orang ingin menggunakan smartphone ataupun tablet pribadi dimana pun mereka berada, baik itu untuk bekerja, bermain game atau menyusuri website untuk membaca berita serta sekedar membuka media sosialnya masing-masing.

Baca juga: Ookla: Bandara di India Tempati Urutan Empat Asia dengan Kecepatan WiFi Terbaik

Tentu kebutuhan akses internet penumpang tak bisa dilakukan saat smartphone maupun tablet dalam kondisi flight mode (airplane mode), sehingga tidak terhubung dengan jaringan internet. Tantangan tersebut jelas menjadi tantangan besar bagi para maskapai penerbangan dan pihak penyedia solusi teknologi.

Bagi maskapai, hadirnya koneksi WiFi, terutama pada penerbangan jarak jauh bisa meningkatkan pendapatan di luar penjualan tiket. Pasalnya akses WiFi di kabin pesawat tak disajikan secara gratis. Sebagai ilustrasi, Gogo selaku penyedia layanan inflight WiFi di Alaska Airlines mengenakan tarif US$7 (sekitar Rp93 ribu) untuk pemakaian akses internet selama sat jam, atau US$19 untuk akses penuh selama satu hari.

Sebagai layanan yang masih tergolong premium, penumpang dimudahkan untuk membeli voucher akses WiFi bulanan atau tahunan. Di masa mendatang, maskapai American Airlines akan menggunakan layanan satelit Gogo dan ViaSat (VSAT, + 0,24 persen). Juniper Research juga mencatat peningkatan jumlah maskapai penerbangan yang menawarkan layanan streaming nirkabel dalam pesawat sebagai pilihan sistem hiburan. Bagi para pemerhati penerbangan, dengan layanan ini maka pendapatan bulanan dari streaming tersebut akan meningkat 30 persen.

Baca juga: WiFox, Bantu Anda Berburu WiFi Gratisan di Bandara Internasional

Meski ada potensi pasar penggunaan WiFi di pesawat, namun ada satu masalah yang masih mengganjal, yakni kekhawatiran keamanan yang menyebabkan pemerintah AS mengusulkan larangan laptop di kabin penumpang pada beberapa penerbangan. Isu lainnya yakni WiFi yang bertatif premium tidak menjamin pengalaman konektivitas di angkasa itu bisa maksimal seperti di darat. Perlu jadi catatan, bahwa koneksi internet WiF di pesawat memanfaatkan satelit sebagai hub transponder, boleh jadi ancaman cuaca buruk akan mempengaruhi kualitas koneksi inflight WiFi.