Instrument Landing System Memungkinkan Pesawat Mendarat Ketika Berkabut

Hingga detik ini, tidak ada yang bisa meragukan sulitnya dalam berkendara ketika turun kabut, begitu pun dengan para pilot. Nyawa dari puluhan hingga ratusan penumpang yang berada di sebuah maskapai dipertaruhkan dengan kepiawaian seorang pilot mengatasi kondisi seperti ini. Namun, seiring berjalannya waktu, sudah banyak bandara yang dilengkapi dengan Instrument Landing Systems (ILS) yang canggih, sehingga para pilot bisa mendarat dan mengudara bahkan dalam kondisi berkabut.

Baca Juga: Hang Nadim, Bandara dengan Landas Pacu Terpanjang di Indonesia

Dipelopori pada tahun 1929 silam, perengkapan ILS  dewasa ini memungkinkan awak pesawat mendekat ke arah landas pacu walaupun jarak visibilitas mereka sangat rendah, dan mereka dapat mengetahui secara real time apakah pesawat sudah sejajar dengan sumbu landasan. Tidak hanya sampai di situ, dengan adanya ILS ini, para pilot juga dapat mengetahui sudut yang tepat untuk mencapai zona touchdown dengan selamat.

Sebagaimana yang disarikan KabarPenumpang.com dari laman love2fly.iberia.com, ILS ini menggunakan beragam sinyal radio yang dipancarkan oleh peralatan pada instalasi berbasis darat, serta penyertaan peralatan on-board yang sesuai sehingga dapat menerima sinyal tersebut dan mengubahnya menjadi informasi yang relevan bagi para pilot.

Data penyelarasan sumbu landas pacu dipancarkan oleh radio dari antena yang disebut localiser, yang kerap kali ditemui di ujung landasan. Dari sinyal yang dipancarkan, pilot dapat menghitung orientasi sinyal kiri dan kanan yang diterima, dan mensejajarkan posisi pesawat dengan landas pacu. Instrumen on-board juga memungkinkan pilot mengetahui posisi pesawat terhadap landas pacu dari perbedaan intensitas sinyal yang diterima.

Baca Juga: 10 Bandara Ini Punya Landasan Paling Ekstrim

Data yang dikirim oleh ILS akan muncul di layar yang berada di dalam kokpit, bahkan beberapa model ILS mampu mengirimkan perintah pendaratan langsung ke sistem auto-pilot. Apabila Anda berpikiran lampu landas pacu merupakan bagian dari ILS, maka Anda salah besar. Karena lampu pada landas pacu merupakan bagian dari Approach Lighting System (ALS) yang juga berperan dalam membantu pilot melakukan pendaratan ketika kondisi berkabut.

ILS sendiri memiliki tiga kategori berbeda, yaitu kategori I, II, dan III. Masing-masing kategori memiliki ketinggian minimum untuk mendarat dan jarak pandang yang berbeda-beda. Terlepas dari kategori tersebut, di setiap pesawat harus dilengkapi dengan on-board instrument ini dan awak kapal yang terlatih untuk membaca informasi yang dikeluarkan oleh alat ini.

Baca Juga: Wow! Bekas Menara ATC ini Disulap Jadi Penthouse

Dalam prakteknya, pengendali lalu lintas udara bertanggung jawab untuk membimbing pesawat terbang menuju localiser landasan pacu saat mendekati bandara, walaupun beberapa pesawat mungkin menggunakan ILS secara bersamaan, menunjukkan rute untuk mengikuti dan menerapkan jarak pengaman yang diperlukan di antara setiap pesawat masuk yang dalam kondisi low-visibility perlu lebih besar dari biasanya. Keberadaan ILS juga bisa dijadikan sebagai pengatur keberadaan pesawat di sekitar landas pacu, sehingga jarak aman antar pesawat tetap terjaga, baik dalam kondisi berkabut ataupun cerah.

Baru Lima Hari Beroperasi, Vandalisme Terpa Jaringan MRT Kuala Lumpur

Bayangan vandalisme pada fasilitas transportasi tak hanya jadi momok di kota besar seperti Jakarta, di Kuala Lumpur, Malaysia yang terkenal lebih tertib, vandalisme juga marak terjadi, terlebih pada sarana MRT (Mass Rapid Transit) yang baru saja diluncurkan pada 20 Juli 2017 di kawasan Bukit Bintang.

Dilansir KabarPenumpang.com dari todayonline.com (25/7/2017), salah seorang penumpang bernama Ahmad Addin Abdul Aziz saat berada di MRT Bukit Bintang mengatakan, tindakan vandalisme menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap fasilitas umum. Menurutnya, vandalisme yang terjadi tidak dapat diterima dan pasti membuat orang lain tidak akan nyaman berada di fasilitas umum bila rusak.

Baca juga: India Sukses Lubangi Perut Bumi Untuk Jalur MRT Bawah Airnya

“Saya yakin bahwa operator MRT telah memasang kamera CCTV yang memadai, namun beberapa individu yang tidak bertanggung jawab akan terus menjalankan vandalisme. MRT harus menemukan pelaku dan menghukum atas tindakan yang dilakukan,” kata mahasiswa berusia 20 tahun tersebut.

Selain itu, Nusyafiqah Mat Arif juga menambahkan, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk mengurus fasilitas umum. “Bila ada yang melakukan vandalisme, baiknya jangan pura-pura tidak melihat, tapi si pelaku harus ditegur,” ujarnya.

Buaian atau jumper bayi yang di gantung saat berada di dalam MRT Malaysia (Malay Mail Online)

Beberapa penumpang yang menggunakan MRT sempat mengambil gambar dan mengunggahnya ke media sosial terkait perilaku penumpang yang tidak bertanggung jawab. Ditempat lain terlihat foto unggahan seorang penumpang dimana membiarkan anak-anak berperilaku buruk di dalam MRT. “Beberapa anak terlihat berdiri di kursi, bermain dengan pegangan tangan, dan yang menyedihkan adalah bahwa orang tua tidak peduli dengan perilaku anak-anak,” katanya.

Baca juga: Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan

Direktur strategis dan pemodelan strategis MRT Corp Datuk Najmuddin Abdullah pada hari Minggu telah menyatakan kekecewaannya dalam sebuah posting Facebook mengenai vandalisme di beberapa stasiun. “Setelah lima hari operasi, goresan bisa terlihat di bangku dan dinding. Toilet untuk orang cacat rusak dua hari yang lalu. Baru sekarang, saya melihat sapu dan sorotan di atap Exit F di stasiun MRT Bukit Bintang,” katanya.

Tidak hanya itu, Abdullah diberitahu bahwa anak-anak memanjat di tembok pembatas antara jalan raya di stasiun Merdeka, sementara orang tuanya tidak mau menghentikan mereka. “Mereka sama sekali tidak sopan,” tambahnya. Abdullah mengatakan bahwa MRT telah menyediakan fasilitas kelas satu kepada warga Kuala Lumpur, namun jika masyarakat masih belum siap menghadapi mental kelas satu untuk menerimanya, banyak uang akan terbuang sia-sia pada pekerjaan perbaikan yang tidak perlu.

Dalam menghadapi permasalahan ini, pihak MRT kemudian mengambil langkah cepat untuk membereskannya. Sapu dan lampu sorot tidak lagi berada di tempat yang tidak semestinya, dimana sebelumnya berada di atap Exit F stasiun Bukit Bintang. Petugas kebersihan juga di tempatkan di beberapa sudut untuk memastikan stasiun tetap bersih.

Baca juga: Sistem Tiket MRT Jakarta Mengacu Ke Singapura, Paling Jauh Ditaksir U$1

Abdullah mengatakan, pihak MRT Corp mengutuk adanya tindakan vandalisme yang terjadi di beberapa stasiun MRT. Menurutnya, fasilitas ini disediakan pemerintah untuk kepentingan rakyat dengan biaya keseluruhan yang mencapai miliaran. “Dengan semua kerusakan ini, lebih banyak uang dibutuhkan untuk perbaikan,” katanya.

Dia mengatakan bahwa orang-orang yang tertangkap basah akan dikenai Undang-Undang Vandalisme (Pengerusakan) 1991 oleh Pemerintah Daerah setempat dan akan dikenai denda maksimal RM2.000 (S$636) atau dipenjara kurang dari setahun, jika terbukti bersalah.

Baca juga: Jepang Tawarkan Teknologi Kereta Cepat Malaysia – Singapura

Dia mengatakan bahwa mereka juga dapat dikenai tuduhan berdasarkan Undang-Undang Komisioner Angkutan Umum Daerah Tahun 2010. Pada 17 Juli, Perdana Menteri Najib Razak meluncurkan tahap kedua dari SBK Line dari Muzium Negara ke Kajang.

Jaringan MRT di Kuala Lumpur telah dilayani oleh 19 stasiun, secara keseluruhan nantinya jaringan MRT Kuala Lumpur akan memiliki 31 stasiun. Tahap pertama MRT dengan rute Sungai Buloh dan Semantan diluncurkan oleh Perdama Menteri Najib Razak pada 15 Desember tahun lalu.

Low Cost Carrier, Ubah Peta Pasar Penerbangan Dunia

Perkataan “Sekarang Semua Orang bisa Terbang,” nampaknya bukan hanya bualan semata, sebab saat ini beberapa maskapai dalam dan luar negeri sudah menghadirkan penerbangan dengan biaya rendah atau low cost carrier (LCC). Ledakan maskapai dengan kategori LCC seperti Lion Air Indonesia, Jetstar Australia, TigerAir Singapura, Cebu Pacific Filipina dan AirAsia membuat setiap orang bisa terbang kemanapun dengan biaya rendah.

Baca juga: Hadapi Tol dan Penerbangan LCC, PT KAI Rancang Layanan “Door to Door Services”

Dilansir KabarPenumpang.com dari ozy.com (17/7/2017), dengan adanya penerbangan biaya rendah ini, lalu lintas udara di kawasan Asia Pasifik tumbuh sebesar 66 persen dari tahun 2010 hingga 2015 lalu dan tahun 2016, jumlah penumpang melonjak hingga 1,3 miliar dan lebih tinggi jumlahnya dari gabungan jumlah penumpang di Eropa, Timur Tengah dan Afrika. Menurut data dari UN International Civil Aviation Organization (ICAO), secara keseluruhan, wilayah Asia Pasifik sekarang memiliki 35,4 persen lalu lintas udara dunia. Bahkan International Air Transport Association (IATA) memproyeksikan Asia Pasifik akan menghasilkan lebih dari 50 persen penumpang baru secara global dalam 20 tahun kedepan.

Sekitar tahun 2024, IATA mengatakan, Cina akan menggantikan Amerika Serikat di pasar penerbangan terbesar dunia, India akan berada di tempat yang sama dengan Inggris pada urutan ketiga tahun 2025. Sedangkan Indonesia akan menggeser Italia dari posisi 10 besar. Direktur Regional Asia Pasifik ICAO, Arun Mishra mengatakan bahwa 200 bandara baru akan berada di wilayah Cina dan India. Diketahui, semua bandara baru tersebut adalah daerah yang bukan masuk dalam jalur penerbangan regional.

Baca juga: Ternyata 40% Turis Australia ke Bali Terbang Dengan JetStar

Sebagai awal, wilayah udara yang luas dan beragam ini terbentang dari Stans, India dan Cina, ke arah tenggara sampai Selandia Baru dan mencakup 50 wilayah informasi penerbangan. Dari 50 wilayah ini, beberapa diantaranya mengelola sistem penerbangan modern dan yang lainnya belum memenuhi spesifikasi internasional. Selain itu perbedaan bahasa, sistem politik dan pendekatan regulasi ekonomi transportasinya pun berbeda.

Pakar Penerbangan dari National University of Singapore, Profesor Alan Tan, menekankan perlunya regulator teknikal serupa dengan FAA atau European Aviation Safety Agency. “Standar tidak perlu seragam namun diselaraskan sampai tingkat yang memadai untuk memungkinkan kerja sama penegakan lintas batas sesuai dengan persyaratan internasional,” katanya.

Tan mencatat, adanya varians besar dalam kapasitas teknis diantara negara-negara ASEAN. Hal ini membuat, lisensi sekolah pilot yang dikeluarkan Kamboja atau Myanmar tidak mudah dikenali oleh negara lain, hingga ada keabsahan kualitas pelatihan yang mereka jalankan.

Lain dari itu, masalah keamanan juga menjadi perhatian para ahli. Menurut Laporan Keselamatan Penerbangan Tahunan ICAO 2016, kecelakaan di kawasan Asia Pasifik telah menurun dalam beberapa tahun terakhir. Namun, pada akhir 2015, FAA menurunkan peringkat Thailand menjadi kategori 2 pada tahun 2014 karena negara tersebut tidak memenuhi standar keselamatan minimum internasional.

Keputusan tersebut melarang operator Thailand membuka rute Amerika Serikat baru atau memperluas yang sudah ada, dan mengarahkan armada negara ke inspeksi tambahan di bandara Amerika Serikat, Negara Asia Pasifik lainnya pada kategori 2 adalah Bangladesh.

“Memang ada ketegangan dalam hal infrastruktur yang berusaha menyusul ledakan di penerbangan regional yang dipimpin oleh LCC. Pasti ada kebutuhan untuk investasi yang lebih besar, tidak hanya di infrastruktur fisik seperti bandara dan terminal, tapi juga kesiapamn sumber daya manusia, seperti untuk  pilot dan personil perawatan,” kata Tan.

Tanpa investasi semacam itu, para ahli khawatir bahwa infrastruktur udara yang tertekan dapat memperlambat pembangunan ekonomi dan pada akhirnya menghasilkan pertumbuhan yang salah arah.

Peluang Pendapatan Baru, LCC Mulai Kenakan Biaya Untuk Bagasi Kabin

Guna meningkatkan pundi-pundi pendpatan, maskapai berbiaya rendah alias low cost carrier (LCC) punya segudang cara untuk mengenakan biaya ekstra kepada penumpang, khususnya dalam pengenaan tarif barang bawaan di kargo. Terlebih melihat kecenderungan penumpang LCC membawa barang bawaan (hand carry) ke dalam kabin, maka beberapa maskapai LCC di luar negeri menerapkan kiat khusus untuk mengenakan tarif pada jenis barang bawaan yang ditenteng  ini.

Baca juga: Penanganan Bagasi di Bandara Kini Libatkan Teknologi RFID

Untuk alasan kenyamanan dan juga keamanan, secara default penumpang dengan hand carry akan menempartkan barang bawaannya ke dalam bagasi kabin, tempat penyimpanan yang tertutup dan berada di atas tempat deretan tempat duduk. Namun mengingat animo penumpang yang begitu besar atas barang bawaan di kabin, menjadikan kapasitas bagasi kabin selalu dalam kondisi overload.

Guna menyiasati kondisi diatas, dan melihat adanya peluang pengenaan tarif tambahan, Jet2, maskapai LCC asal Inggris menerapkan jurus yang terbilang baru. Seperti dilansir KabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk (21/7/2017), saat ini Jet2 sudah menambahkan biaya untuk memasukkan barang ke dalam bagasi kabin pesawat. Harga yang diberikan mulai dari £2,59 (sekitar Rp50.000) per orang per tasnya sekali berangat. Sehingga bila Anda pergi berdua bersama pasangan, setidaknya harus menambahkan £10 (sekitar Rp174.000) untuk ongkos mereka.

Daily Mail

Jet2 menawarkan pemesanan secara online, dimana pada saat penerbangan yang sibuk bisa memudahkan penumpang, atau kemungkinan lain pihak maskapai akan meminta penumpang membawa barang bawaannya untuk tidak dimasukkan ke bagasi kabin, melainkan bisa di pegang dan diletakkan di bawah bangku.

Juru bicara Jet2 mengatakan,”Penumpang Jet2.com dapat membawa 10 kg barang bawaan gratis. Namun pada penerbangan sibuk, kadang-kadang diperlukan beberapa barang bawaan untuk ditempatkan di luar bagasi kabin, namun pelanggan yang ingin menjamin bagasi mereka di pesawat dapat membayar biaya yang kecil untuk kami tangani secara khusus.”

Baca juga: Unik, Penumpang Masukkan Sebuah Bir Kaleng Ke Bagasi Pesawat dan Diberi ‘Tag’

Masih dari maskapai berbasis LCC, Ryanair yang berbasis di Irlandia juga punya ketentuan khusus menyangkut barang bawaan yang bisa masuk ke dalam kabin. Ryanair memang tidak memberikan biaya saat membawa barang ke kabin, tetapi maskapai ini hanya menjamin 90 penumpang saja yang bisa membawa tasnya ke bagasi kabin. Sisanya para penumpang akan seperti terkena bayaran ‘paksaan’ untuk bisa meletakkan barangnya di luar bagasi kabin.

Singkat cerita, apa yang diterapkan Ryanair menyiratkan bahwa penumpang yang check in lebih awal bisa mendapat prioritas membawa tas mereka untuk dibawa masuk ke dalam bagasi kabin pesawat. Selain itu Wizz Air, LCC asal Hungaria memberi imingan pengurangan biaya £9 untuk membawa tas ke bagasi kabin bagi penumpang yang check in lebih dini, dan langkah tersebut banyak membuat penumpang kebingungan.

Baca juga: Terlambat 2 Jam, Bagasi Penumpang Malindo Air Tak Kunjung Tiba Setelah 5 Jam Menanti

Sebuah studi oleh perusahaan penyedia layanan teknologi travel, CarTrawler tentang pendapatan tambahan dari maskapai, yang mencakup semua pendapatan di luar ongkos penerbangan, menemukan sepuluh operator teratas termasuk Ryanair dan Easyjet menghasilkan tambahan £21,5 miliar di tahun lalu, naik dari 1,6 juta poundsterling pada tahun 2007. Prioritas Ryanair Boarding mulai dari £5 per orang per penerbangan.

“Pelanggan Ryanair menikmati salah satu peraturan tas kabin paling murah di Eropa dan mungkin membawa satu tas 10 kg di kargo secara gratis dan satu tas kecil yang juga gratis dalam bagasi kabin. Karena keterbatasan ruang kabin di dalam kabin, hanya 90 tas pertama yang bisa dimasukkan ke dalam kabin, penumpang lainnya dapat menyimpan tas atau barang bawaan di bawah kursi, atau dipangku,” ujar salah seorang juru bicara maskapai.

Bagaimana dengan di Indonesia? LCC yang beroperasi di Tanah Air sampai saat ini memang belum menerapkan tarif atau biaya pada bagasi kabin seperti halnya di Eropa. Namun bukan berarti memasukkan barang ke bagasi kabin bisa semaunya. Ada ketentuan yang harus diikuti, mengingat ada standar keamanan dan kapasitas bagasi kabin yang terbatas. Sebagai contoh, AirAsia menerapkan aturan memasukkan barang ke bagasi kabin tidak boleh melebihi ukuran 56cm x 36cm x 23cm termasuk pemegang, roda, dan kantong tepinya. Bagasi tersebut harus muat dalam kompartemen atas.

 

28 Agustus 2017, Jadwal Ground Breaking Bandara Internasional Bali Utara

Guna meningkatkan kapasitas penerbangan internasional ke Pulau Bali, jelas di masa mendatang tak bisa bertumpu pada layanan di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar. Untuk itu Pemerintah Daerah Provinsi Bali telah mencanangkan pembangunan North Bali International Airport (NBIA) yang peletakan batu pertamanya (ground breaking) pada 28-29 Agustus 2017 di Kecamatan Kubutambahan, Buleleng dan Resort Sheraton Kuta Bali. Digadang-gadang, pembangunan NBIA ini menjadi mega proyek di Indonesia dan Asia Tenggara dan akan memakan waktu delapan tahun untuk membangunnya.

Baca juga: Ratakan Persebaran Wisatawan di Bali, Pemerintah Tawarkan Jalur Kereta ke Investor Cina

Sebab, yang dirangkum KabarPenumpang.com, PT Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) menggandeng investor Airport Kinesis Canada (AKC). Diketahui AKC group ini akan berinvestasi yang diperkirakan mencapai US$3 miliar dalam pembangunan NBIA di Buleleng. Nantinya NBIA ini akan dibangun di atas lahan seluas 2.150 hektare. Dengan setengah lahan dibangun di atas laut dengan cara memperpanjang daratan dan sisanya di daratan.

Perpanjangan struktur bandara ini akan dibuat tanpa merugikan lingkungan dengan sebuah platform MVLFS Hybrid Reinforced (Mega Very Struktur Terapung Besar) dimana konsep dan teknisnya akan dijelaskan oleh AKC selama pembangunan. Selain itu, bandara ini juga dikembangankan sebagai mesin ekonmi katalitik dengan dukungan Aerotropolis secara penuh.

nuasen-nbia.com

Dengan integrasi Aerotropolis seluas 750 hektare ini bernama Tri Hita Karana Organic Nexus (THKON) dan menjadi yang pertama didunia dimana diciptakan struktur tanah akan tumbuh dserta berkembang enggunakan jalur spesifik yang disebut perhubungan organik. Pergubugan ini saling terkait dimana berbagai layanan melalui pengembangan logis yang sudah terkonsep.

Baca juga: Mau Melintasi Selat Bali? Kenali Dulu Tarif Ferry Ketapang – Gilimanuk

NBIA selain menjadi mega proyek, juga akan menjadi pintu gerbang kedua menuju Dunia dan akan menjadi bandara tersibuk kedua di Indonesia yang memungkinkan lebih dari 45 persen populasi masyarakat ASEAN dan SEA melakukan perjalanan dari pintu gerbang ini ke seluruh dunia.

Sebenarnya pembangunan bandara baru di Bali Utara ini juga untuk mengurangi kemacetan di Bandara Denpasar (I Gusti Ngurah Rai). Nantinya, untuk kapasitas global, bandara di Bali Utara ini bisa menampung 36 juta penumpang pertahunnya.

“Tantangan utama bandara ini adalah menghormati lingkungan, Bandara ini rencananya akan dibangun dengan dua runway. Panjang runway masing-masing 7 km lebih, sehingga pesawat komersial besar bisa mendarat. Dan AKC Group mengusulkan untuk membangun seluruh bandara dengan teknologi dengan standar ZEA (Zero Energy Airport)” ujar Made Mangku, yang dikutip KabarPenumpang.com dari jpnn.com (21/7/2017).

Tekan Jumlah Kendaraan Pribadi, India Hadirkan Bus Berbasis Aplikasi

Dalam upayanya untuk mengurangi tingkat polusi dan kemacetan yang terus mendera, otoritas India meluncurkan sebuah bus harian berbasis aplikasi baru-baru ini. Peluncuran bus harian berbasis aplikasi ini berselang satu tahun setelah skema “Premium Bus” yang diusulkan oleh pemerintah ditolak mentah-mentah oleh Gubernur Letnan Najeeb Jung. Kini, pemerintah tengah menyusun proposal layanan bus AC berbasis aplikasi, karena mereka yakin kehadiran bus ini akan menunjang sarana transportasi di Capital.

Baca Juga: Tata Ultra Electric, Revolusi Bus Listrik dari India

KabarPenumpang.com meliput dari laman nyoooz.com (10/7/2017), sejumlah operator seperti Shuttl, ZipGo, dan Ola Shuttle yang menyediakan bus berbasis aplikasi ini pun turut mematuhi peraturan yang berlaku, layaknya bus konvensional pada umumnya. Nantinya, layanan bus berbasis aplikasi ini akan dioperasikan oleh pihak swasta di jalur yang serupa dengan aggregator taksi berbasis aplikasi. Minggu lalu, sebanyak 53 bus berbasis aplikasi terpaksa dikandangkan oleh Departemen Transportasi India.

Sesegera mungkin, warga New Delhi akan dapat memesan kursi bus ber-AC ini cukup melalui aplikasi yang mereka unduh di ponsel mereka. Kehadiran bus ini juga dinilai sebagai langkah nyata dalam pengadaan moda transportasi yang aman dan nyaman, khususnya bagi karyawan kantoran ketika peak hours. Sebagai langkah awal, pemerintah Delhi akan mulai menginduksi setidak-tidaknya 1.000 bus AC untuk digunakan sebagai armada bus berbasis aplikasi ini.

Seperti yang dihimpun dari laman sumber, Menteri Transportasi, Kailash Gahlot mengatakan proyek ini memiliki banyak tujuan yang berguna bagi kemajuan sektor transportasi India, salah satunya adalah untuk mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalanan. Memang, sensasi berkendara menggunakan kendaraan pribadi memang tidak sama ketika kita berkendara menggunakan kendaraan umum. Jika berkendara menggunakan moda berbasis massal, kita dipaksa mengikuti rute yang ada, berbanding terbalik jika kita menggunakan kendaraan pribadi yang bisa memilih akses jalan lain ketika rute yang hendak kita lewati mengalami macet.

Di India sendiri, sebanyak 10 juta kendaraan melintas setiap harinya, dimana sekitar 3,6 juta diantaranya merupakan kendaraan pribadi. Melonjaknya angka ini dibarengi dengan populasi warga India yang di atas rata-rata (1,4 miliar penduduk), jadi tidaklah heran kalau setiap harinya jalan-jalan di India dipadati oleh hilir mudik kendaraan dan pejalan kaki.

Baca Juga: Jajal Tuk Tuk, “Bajaj” dengan Argometer di Bangalore, India

Kailash menambahkan, kehadiran bus ini merupakan salah satu upaya pemerintah India untuk mengurangi tingkat kemacetan yang ada dan mengurangi tingkat pencemaran udara di sana. “Kami berharap orang-orang bisa beralih menggunakan kendaraan umum,” tambahnya.

Untuk urusan modanya sendiri, bus ini bisa dibilang cukup lengkap dengan fasilitas penunjang lainnya yang setara dengan bus kelas premium, seperti WiFi, reclining seat, sistem hiburan seperti TV, kain pelapis jok premium quality, GPRS, kamera CCTV, dan panic buttons. Dari kasus ini, nampaknya masalah yang dihadapi oleh India hampir serupa dengan di Ibu Kota, dimana pemerintah berusaha menekan jumlah kendaraan pribadi yang berkeliaran di jalanan dengan cara menghadirkan beberapa transportasi umum, seperti bus TransJakarta, KRL, dan yang akan datang adalah MRT.

Ada Free WiFi di Stasiun, Warga Manfaatkan Untuk Akses Video Porno

Fasilitas serba gratis memang memikat banyak orang untuk mencoba menggunakannya, terlebih WiFi gratis yang banyak disediakan di fasilitas umum dan sentra transportasi. Tapi ibarat dua mata pisau, WiFi gratis nyatanya tak melulu dimanfaatkan untuk hal yang positif. Di stasiun Mumbai, India, fasilitas free WiFi justru jadi peluang bagi banyak orang untuk mengakses konten video porno.

Dilansir KabarPenumpang.com dari hindustantimes.com (23/6/2017), WiFi yang disediakan gratis untuk para pengguna kereta maupun komuter di Mumbai ini disalah gunakan untuk menonton dan mengunduh video porno. Para pengguna WiFi ini biasanya melancarkan aksi dengan menonton video porno pada malam hari, sementara penumpang komuter yang hilir mudik di stasiun justru tidak mengakses layanan tersebut.

Baca juga: India Luncurkan Kereta Bertenaga Panel Surya

Setelah ditelusuri, para pengakses konten porno adalah masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar stasiun. Lantara kejadian ini, otoritas perkeretaapian India dibuat pusing kepala. “Kami telah menerima keluhan bahwa WiFi di stasiun ini digunakan untuk hal-hal yang tidak baik. Banyaknya keluhan yang diterima salah satunya di stasiun Mumbai Central,” ujar Manajer Komersial Divisi Senior Western ailway, Aarti Singh Parihar.

Baca juga: Tinggalkan Makanan Beku, Kereta di India Tawarkan Menu Siap Saji dari Resto Ternama

Akibat masalah ini, pejabat kereta api berencana mendesak RailTel agar provider WiFi gratis tersebut untuk mematikan WiFi setelah tengah malam atau setelah kereta dari daerah pinggiran kota terakhir berangkat dari stasiun tersebut. “Departemen akan mulai mendekati RailTel menganai masalah penggunaan WiFi ini,” kata Parihar. Tak hanya itu, pejabat kereta juga berencana meminta pada RailTel untuk merancang cara untuk pencegahan penyalahgunaan fasilitas WiFi di stasiun-stasiun tersebut dimana tempat kereta itu berangkat.

“Beberapa pengakses non-komuter ditemukan di dalam stasiun menggunakan WiFi gratis untuk menonton film porno. Pihal Poluska atau Railway Protection Force (RPF) telah berupaya mengusir mereka, tapi entah bagaimana mereka berhasil menyelinap kembali,” kata seorang pejabat perkeretaapian.

Baru-baru ini, 19 stasiun di Mumbai dibekali dengan fasilitas WiFi gratis. Ini termasuk Mumbai Central, Chembur, Ghatkopar, Kurla, Thane, Lokmanya Tilak Terminus (LTT), Bandra Terminus, Vashi, Kalyan, Panvel, Borivli, Churchgate, Chhatrapati Shivaji Maharaj Terminus, Byculla, Jalan Khar, Dadar, Dadar (Western Railway), Andheri dan Bandra.

Ketersediaan akses WiFi gratis di stasiun beberapa waktu lalu juga mendapat dukungan dari Google. Dalam proyek yang dijalankan mulai tahun 2015, Google telah mencanangkan membangun 400 akses high speed WiFi di 400 stasiun di beberapa kota di India.

Citymapper Temani Penumpang di London dengan Layanan Bus Malamnya

Salah satu aplikasi transportasi yang berbasis di London, Citymapper baru-baru ini merilis produk terbarunya, yaitu layanan social Hyper-Local Multi-Passenger Pooled Vehicle. Citymapper diberikan waktu enam bulan untuk melayani perjalanan dari stasiun Aldgate East menuju Highbury dan berakhir di Islington pada malam-malam di akhir pekan.

Baca Juga: Bising, Masyarakat London Keluhkan Layanan Night Tube

Sebagaimana KabarPenumpang.com melansir dari theguardian.com (20/7/2017), layanan ini menggunakan geo-matching technology untuk menjalankan kendaraan dengan cara mengoptimalkan pemberangkatan sembari memangkas waktu tunggu. Lebih lanjut, perusahaan tersebut juga berharap dapat mengaktifkan Estimated Time of Arrival (ETA) yang efisien untuk penumpang dengan demografi yang beragam.

Rencananya, bis CM2 ini akan beroperasi di antara stasiun Aldgate East, Highbury, dan Islington, dengan pemberangkatan setiap 12 menit sekali yang hanya akan beroperasi pada hari Jumat dan Sabtu malam dari pukul 21.00 hingga 05:30 waktu setempat. CM2 akan menjadi bus yang beroperasi layaknya bus umum pada biasanya. Melakukan pembayaran, berhenti di sejumlah halte, dan akan berangkat sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan sebelumnya. Untuk masalah tarif yang dikenakan, belum ada konfirmasi lebih lanjut dari pihak penyedia jasa.

Perusahaan yang telah mendapatkan lisensi selama enam bulan oleh Transport for London (TfL) ini telah melakukan serangkaian peningkatan kualitas dari bus-bus lainnya. Nantinya, pengemudi akan menggunakan sebuah tablet agar bisa menginformasikan kepada pusat mengenai jumlah penumpang, kendala routing, dan memberitahu lokasi bus lainnya sehingga bus dari ketiga jurusan ini tidak pernah muncul secara berbarengan. Begitu pula display yang terpasang di dalam bus, akan menunjukkan lokasi bus saat ini dan pemberhentian yang akan datang.

Baca Juga: Royale VIP Bus, Pindahkan Nuansa Klub Malam ke Dalam Bus

Setiap bangku juga akan dilengkapi oleh USB port yang dapat digunakan oleh penumpang jika ingin mengisi daya ponsel mereka. Pihak Citymapper mengatakan bahwa mereka memilih rute yang dijuluki Night Rider, dengan menganalisis perjalanan yang tercatat dari aplikasi transportasi mereka sendiri. “Kami menemukan pusat kota London cukup tertutup pada siang hari oleh layanan TfL yang ada, namun kami mengidentifikasi kesenjangan lebih besar terjadi pada malam hari,” tuturnya. “Orang-orang akan lebih banyak yang berada di luar, terutama di London timur. Contohnya, ada lebih banyak tujuan malam di Commercial Road, tanpa adanya dukungan dari bus malam,” tambahnya.

Lebih lanjut, sumber yang namanya tidak tercantum tersebut mengatakan kehadiran Night Tube mendorong kehidupan malam di London. “Kami menemukan kehadiran bus di pusat hiburan di jalur Victoria, namun tidak ada yang menjangkau ke daerah Timur.”

Niat Ambil Barang di Ban Berjalan, Penumpang Malah Temukan Kepiting Hidup

Apa yang terlintas di benak Anda jika hendak mengambil barang bawaan di ban berjalan (baggage carousel) di sebuah bandara, Anda menemukan sekelompok kepiting hidup berserakan? Tentu sebagian dari Anda akan menjerit karena merasa jijik dengan binatang yang satu ini. Namun kejadian tersebut benar-benar terjadi baru-baru ini. Kejadian yang direkam oleh salah satu penumpang yang hendak mengambil barangnya di ban berjalan tersebut kemudian diunggah ke dunia maya melalui situs Youtube pada hari Jumat (23/6/2017).

Baca Juga: Bebek Ini Bantu Atasi Stress Pasca Trauma

Dalam rekaman tersebut, terlihat sejumlah kepiting dengan ukuran yang bisa dibilang cukup besar tersebut berbaur bersama barang bawaan penumpang lainnya. Walaupun tidak dicantumkan dimana lokasi kejadian tersebut, namun salah satu pengguna Youtube menyatakan kejadian tersebut terjadi di New York City dalam kolom komentarnya. Rekaman tersebut sontak menjadi viral dan jadi bahan perbincangan netizen.

Sebagaimana KabarPenumpang.com wartakan dari laman dailymail.co.uk (28/6/2017), diduga, kehadiran kepiting-kepiting tersebut dikarenakan wadah yang digunakan untuk menyimpan mereka kurang tertutup dengan sempurna sehingga kerumunan binatang laut tersebut berhasil meloloskan diri. Reaksi yang ditimbulkan oleh para wisatawan juga beragam, dari mulai terkikik karena melihat kejadian di luar dugaan seperti ini hingga ada yang teriak histeris karena merasa geli.

Jika didengar lebih jeli, terdengar seorang wisatawan berteriak “Ya Tuhan!” ketika melihat keberadaan kepiting-kepiting tersebut. Sementara, para penumpang lainnya nampak sibuk memindahkan kepiting yang turut serta di koper mereka. Dalam rekaman yang berdurasi kurang dari dua menit tersebut, terlihat seorang pria memindahkan kepiting-kepiting tersebut ke dalam sebuah wadah yang terlihat seperti kotak pendingin.

Baca Juga: Dinosaurus Hadir Tiba-Tiba di Terminal 3 Bandara Internasional Dubai

Tidak diketahui pasti apakah pria ini yag bertanggung jawab atas insiden lepasnya kepiting-kepiting tersebut, namun yang pasti, para penumpang lainnya harus rela menyingkir manakala pria ini berusaha untuk mengumpulkan kawanan kepiting tersebut.

Kasus ini bukanlah menjadi yang pertama kalinya terjadi di lingkungan bandara, mengingat pada 26 Juni 2017 silam, petugas Transportation Security Administration (TSA) di Bandara Logan, Boston, Massachusetts dibuat heboh dengan penemuan seekor lobster di salah satu tas penumpang dengan berat 20 pon. Petugas TSA tersebut mengetahui keberadaan si lobster ketika barang bawaan penumpang melewati proses screening luggage.

Sebenarnya, penumpang yang membawa serta sebuah lobster hidup ke dalam sebuah penerbangan masuk ke dalam kategori legal, selama keberadaan mereka diperiksa terlebih dahulu dan mengikuti pedoman yang sudah ditentukan sebelumnya oleh pihak TSA.

Baca Juga: Koper di Kargo Aman, Penerbangan Pun Nyaman

Sangat legal untuk terbang dengan lobster hidup baik dalam tas yang diperiksa atau dibawa-bawa sesuai dengan pedoman TSA, meskipun mereka mendesak agar penumpang menghubungi dan memeriksa dengan maskapai mereka terlebih dahulu agar aman. Bagaimana pun juga, binatang tersebut merupakan makhluk hidup yang harus mendapat perhatian lebih jika hendak mengudara.

Dampak Pembangunan Infrastruktur Ibu Kota, Menjamur Tanaman Imitasi

Sebagai pengguna jalan, khususnya warga Ibu Kota, tentu tak asing lagi melihat banyaknya jalan-jalan yang dialihkan hingga ditutup, dimana itu merupakan imbas dari menjamurnya proyek pengerjaan infrastruktur. Mulai dari pembangunan gedung bertingkat, jalur moda transportasi, hingga perbaikan jalan merupakan segelintir alasan mengapa hingga kini Jakarta menjadi semakin macet parah. Debu yang dihasilkan oleh pembangunan tersebut seakan menjadi ‘teman’ setia yang mendampingi di setiap perjalanan.

Baca Juga: Akhir 2017 Proyek MRT Jakarta Ditargetkan Rampung 93%

Banyaknya proyek yang tengah berjalan di Jakarta mendapat sorotan dari beberapa media luar. Bukan hanya membahas mengenai perkembangan signifikannya saja, tapi juga menyinggung soal penebangan tanaman hijau secara besar-besaran karena dianggap menghalangi proyek tersebut. Banyaknya pusat perbelanjaan di Ibu Kota, lengkap dengan tanaman imitasinya juga turut menjadi perbincangan, dimana kedua hal tersebut malah semakin memperkeruh ranah polusi yang selama sini coba dikurangi.

Spanduk bergambarkan hutan hujan perawan yang dipenuhi oleh tetesan embun yang terpasang di beberapa proyek dinilai sebagai dua hal yang amat bertolak belakang. Pembangunan infrastuktur dan penanaman tumbuhan hijau memang tidak bisa dilakukan sejalan, mesti ada yang dikorbankan terlebih dahulu. Tentu, keberadaan spanduk tersebut menjadi ironi tersendiri bagi mereka yang merindukan udara sejuk khas kota-kota yang rindang ditumbuhi pohon.

Baca Juga: Tiga Tahun Pembangunan, MRT Jakarta Buka Pameran Foto

Berangkat dari kasus ini, lansiran KabarPenumpang.com dari laman inquirer.net (20/7/2017), kehadiran taman buatan di terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta berhasil mencuri perhatian banyak orang sehingga mereka bisa menikmati ekosistem buatan ini. Walaupun, ekosistem buatan ini berada di ruangan ber-AC dan menggunakan rumput sintetis, tapi tanaman dalam pot yang ada merupakan tanaman asli.

Hal bertolak belakang lainnya dapat dilihat dari keberadaan tanaman di Istana Kepresidenan yang terawat dengan sangat apik, namun lihatlah di luarnya, tiada pemandangan lain selain kendaraan bermotor yang hilir mudik serta pembangunan dimana-mana, jarang ditemui pepohonan rimbun yang bisa menyerap CO2 dan menghasilkan O2 sehingga udara di Ibu Kota menjadi lebih sejuk, walaupun hanya sedikit.

Baca Juga: Ini Hasil Investigasi PT MRT Jakarta Tentang Hujan Salju di Jalan Jenderal Sudirman

Ini menjadi tantangan tersendiri bagi otoritas setempat dalam mengatasi masalah seperti ini, dimana pembangunan infrastruktur yang bisa menunjang kehidupan masyarakatnya dapat diimbangi dengan penanaman tanaman yang bisa menunjang dari segi kesehatan. Diliput dari sumber yang sama, juru kampanye dari GreenPeace Indonesia, Yuyun Indradi mengkhawatirkan generasi penerus yang merasa lebih nyaman dengan tanaman imitasi daripada yang asli. “Semoga di masa yang akan datang, generasi penerus bangsa bisa merefleksikan betapa pentingnya tanaman asli ketimbang imitasi yang bisa dibeli di mall,” tuturnya.