Sesama Anggota SkyTeam, Vietnam Airlines dan Garuda Indonesia Sepakati Codeshare dan MRO

Maskapai Vietnam Airlines diwartakan telah bekerjasama dengan Garuda Indonesia di bidang kemitraan codeshare, pelayanan MRO (Maintenance, Repair dan Overhaul) dan kargo. Penandatangan kerjasama ini saat kunjungan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam Nguyen Phu Trong ke Indonesia.

Baca juga: Petualangan, 47 Negara Dilalui Tanpa Penerbangan Selama 3 Tahun

Perluasan codeshare ini untuk melayani rute Hanoi – Ho Chi Minh City/ Ho Chi Minch City ke Singapura dan Singapura ke Jakarta, serta Bali ke Jakarta. Perluasan kemitraan kedua maskapai ini, juga untuk memperkuat kerjasama dalam kontribusi pada pengembangan Aliansi SkyTeam. Codeshare merupakan sebuah perjanjian bisnis penerbangan di mana dua maskapai berbagi penerbangan yang sama. Sebuah kursi dapat dibeli di satu maskapai penerbangan namun sebenarnya dioperasikan oleh maskapai rekanan di bawah nomor dan kode penerbangan yang berbeda.

Presiden dan CEO Vietnam Airlines, Duong Tri Than mengatakan , sejak 2006, Vietnam airlines dan Garuda indonesia telah bekerjasama dengan efektif dan membuahkan hasil nyata.

“Kerjasama ini membawa kerjasama kami lebih jauh kearah kemitraan yang solid dan saling menguntungkan serta membantu kedua maskapai mencapai potensi pasar yang luas. engan mitra lama Garuda Indonesia, kami berharap dapat melihat lebih banyak penumpang yang bepergian antara Vietnam dan Indonesia, dan pelanggan kami dapat memperoleh keuntungan dari lebih banyak pilihan penerbangan serta kualitas layanan internasional yang sangat baik dari dua maskapai penerbangan terkemuka di Asia,” ujar Duong yang dilansir KabarPenumpang.com dari incentivetravel.co.uk (25 August 2017).

Presiden dan CEO Garuda Indonesia, Pahala Masury menambahkan, dengan kerjasama Vietnam Airlines ini, bisa mencakup jaringan lebih jauh lagi di Asia Tenggara. Sebab Vietnam bisa dikatakan pasar yang penting bagi Indonesia.

“Kami menawarkan perjalanan dimana penumpang semakin banyak bepergian di antara kedua negara tersebut. Kesepakan ini juga diharapkan bisa mendorong aktivitas perdagangan dan pariwisata dengan membuat Indonesia lebih mudah diakses oleh pengunjung dari Vietnam,” kata Pahala.

Diketahui, dari Pusat Penerbangan Asia pasifik, pasar Asia Tenggara saat ini berkembang lebih cepat dari rata-rata globalnya di hampir semua kawasan Asia Tenggara. Hal ini dikarenakan adanya pertumbuhan ekonomi di kelas menengah pada kawasan Asia Tenggara.

Dari hasil tersebut ada enam dari sepuluh negara Asia Tenggara yang memiliki pertumbuhan dalam lalu lintas penenumpang dan posisi teratas di pegang oleh Vietnam dan diperkirakan tahun 2017 ini, tren akan terus berlanjut.

Bacaa juga: Garap Potensi Wisata, Indonesia Tawarkan Penerbangan Langsung ke Myanmar

Berdasar data dari Badan Pusat Statistik (BPS) total lalu lintas penumpang internasional di Indonesia naik 8,16 persen dari 13,66 jya pada tahun 2015 menjadi 14,77 juta pada 2016 kemarin. Jumlah penumpang internasional ini meningkat di Indonesia karena didorong oleh ekonomi yang lebih kuat pada aktivitas dan jumlah kelas menengah.

Kenaikan ini juga terlihat pada penumpang domestik pada tahun 2015 sebanyak 68,78 juta naik menjadi 80,45 juta ata sebanyak 16,97 persen di tahun 2016. Pertumbuhan penumpang yang luas membuat Indonesia menjadi negara ketiga terbesar dalam pembelian pesawat terbang setelah China dan India.

Perkembangan dan pertumbuhan industri penerbangan Indonesia yang kuat membuka peluang baru bagi bisnis penerbangan. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang solid, yang didukung oleh segmen kelas menengah yang sedang berkembang, selanjutnya akan mendorong perjalanan udara.

IATA: LCC Berkibar, ASEAN Bakal Jadi Kawasan Pertumbuhan Penerbangan Tercepat

Dalam sepuluh tahun terakhir, kawasan Asia Tenggara (AAXJ) (ASEA) seakan menjadi saksi meledaknya permintaan penerbangan menggunakan industri Low Cost Carrier (LCC) yang berimbas pada lonjakan permintaan oleh para penumpang yang hendak melancong. International Air Transport Association (IATA) memperkirakan Asia Tenggara akan menjadi kawasan dengan pertumbuhan penerbangan tercepat, ditandai dengan meningkatnya pendapatan per penumpang sekitar 10,4 persen di tahun 2017 ini. Hal ini didasari oleh meningkatnya pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.

Baca Juga: Low Cost Carrier, Ubah Peta Pasar Penerbangan Dunia

Meningkatnya pendapatan per kapita dan keterjangkauan perjalanan udara yang dikombinasikan dengan menjamurnya maskapai yang menyediakan penerbangan murah telah menjadi kunci pertumbuhan lalu lintas udara di pasar negara berkembang seperti Asia. Diperkirakan, pada tahun 2036 kelak, Asia akan menjadi pasar penerbangan terbesar di dunia karena pertumbuhan ini akan terus berlanjut dengan di Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 5,7 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan rata-rata dunia, yaitu sebesar 4,7 persen. Pertumbuhan juga diperkirakan akan terus bertambah dari segi kapasitas penyedia jasa layanan penerbangan di Asia Tenggara pada tahun 2017 ini.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman frontera.net (30/8/2017), kenaikan jumlah penumpang di Malaysia, Singapura dan Thailand mencatat angka pertumbuhan yang menggembirakan di paruh pertama tahun 2017. Sedangkan Thailand dan Indonesia muncul sebagai destinasi penerbangan yang paling menonjol diantara semua kawasan di Asia Tenggara, khususnya dari kawasan Cina. Pada tahun 2016, Indonesia tercatat meraih kurang lebih 96,5 juta penumpang udara, sementara Thailand memiliki sekitar 60,5 juta penumpang.

Sebuah survei yang baru-baru ini dilakukan oleh Financial Times mengindikasikan adanya peningkatan permintaan penerbangan di Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam dalam 12 bulan ke depan. Meningkatnya permintaan penerbangan di kawasan ASEAN tersebut berkorelasi langsung dengan rencana ekspansi kapasitas penerbangan oleh beberapa maskapai besar.

Baca Juga: Bisnis LCC Tak Selalu Mulus, Kasus Air Berlin Menjadi Contoh

Beberapa maskapai LCC berencana untuk memperluas kapasitas penerbangan mereka dengan sangat agresif. Sebut saja Malaysia Air yang akan menambah 29 armada baru sebagai salah satu cara untuk merealisasikan target mereka, yaitu menerbangkan 323 pesawat pada tahun 2021 mendatang. Sementara itu, AirAsia tercatat mengoperasikan 174 armada pada tahun 2016 silam.

Adapun imbas dari meningkatnya permintaan pasar terhadap maskapai LCC ini dirasakan langsung oleh maskapai layanan “tradisional” yang menyajikan full service seperti Singapore Airlines dan Thai Airways yang mulai goyah dalam persaingan. Kedua perusahaan tersebut diketahui saat ini kehilangan pangsa pasar di kawasan ASEAN dan tengah merumuskan strategi untuk menyesuaikan kembali biaya pengoperasiannya.

Geser Yang “Manual,” Selamat Datang Era Robotika di Bandara

Bandara semakin hari kian maju dengan teknologi yang mendukungnya. Sistem pemindai wajah, bagasi yang menggunakan robot, semuanya adalah rancangan bandara masa depan. Modernisasi dan pembangunan bandara masa depan merupakan visi yang diharapkan para perencana yang akan menjadi kenyataan saat teknologi-teknologi baru bermunculan.

Dari sisi pengguna jasa, hal tersebut bisa mengubah pengalaman antrean panjang yang melelahkan dan membuat terminal yang tadinya penuh sesak menjadi sesuatu yang lebih menyenangkan.

Baca juga: Ini Dia Troika! Robot Canggih di Bandara Incheon, Korea Selatan

Saat ini, kawasan Asia Pasifik sudah menjadi pemimpin dalam modernisasi bandara, bersaing ketat dengan bandara-bandara di kawasan Timur Tengah. Direktur Pusat Studi Penerbangan di Ohio State University, Seth Young mengatakan, daerah-daerah ini merupakan kantong utama pertumbuhan teknologi untuk bersaing dalam dunia global untuk mendukung transportasi udara.

“Jika saya akan terbang dari New York ke Bangalore, apakah saya akan melakukan transfer melalui Abu Dhabi atau Dubai atau apakah saya melakukan transfer melalui Hong Kong? Itu adalah pasar yang sangat besar,” ujar Young.

Adanya modernisasi pada sistem dan teknologi pelayanan di bandara menjadi tantangan besar yang dapat mendorong model bisnis pada puluhan bandara-bandara besar, para analis menitiberatkan bahwa pengelola bandara dapat memaksimalkan pendapatan dari sektor ini hingga miliaran dolar. Sebagai contoh, Bandara Changi di Singapura dianggap sebagai bandara terbaik di dunia, dan kini telah siap meluncurkan teknologi biometrik di terminal baru yang akan dirilis akhir tahun ini.

Dengan sistem pemindai wajah saat pertama kali check in, maka tahap selanjutnya memungkinkan pengguna jasa untuk menjalani seluruh proses tanpa bantuan petugas. Sedangkan Australia pada Juli lalu mengumumkan sebuah investasi sebesar AUS$22,5 juta untuk mengenalkan teknologi pengenalan wajah di semua bandara internasional Australia, begitu juga Dubai melakukan uji coba tersebut.

Selain pemindai wajah, robot untuk menangani bagasi pun sudah hadir di beberapa bandara besar di dunia, salah satunya di bandara Incheon Seoul di Korea Selatan. Tugas para robot ini adalah membersihkan dan membawa barang bawaan. Robot ini juga nantinya akan ada di terminal baru Changi yang lengkap dengan seragam pelayan.

Tak hanya itu, robot pemberi informasi yang juga bisa memberikan layanan boarding pass pun kini telah banyak di terapkan beberapa bandara, salah satunya seperti Pepper Robot yang diluncurkan Eva Air di Taiwan. Selain itu, beberapa bandara juga sudah mengenalkan tentang titik drop bagasi mandiri.

Baca juga: Pepper Robot, Bantu Check In Penumpang Eva Air

Beberapa layanan ini sudah tersedia di beberapa bandara yakni Australia, Hong Kong, London Heathrow dan Schipol Amsterdam. Namun, bukan hanya teknologi yang dikembangkan, adapula pengembangan bandara yang dibuat untuk para pelancong menikmati dan menghabiskan waktu mereka sebelum waktu keberangkatan. Seperti Changi yang akan membangung komplek terminal baru yang disebut jewel. Dengan memiliki sepuluh tingkat, akan penuh dengan berbagai macam hal untuk membuat pelancong betah berlama-lama.

Namun, dari semua kemudahan teknologi hingga tempat menikmati dan kenyamanan, masih juga ada beberapa bandara tua yang kuno dan belum berkembang. Seperti beberapa bandara di Amerika Serikat dan Eropa.

Baca juga: Dengan Canopy Park, Bandara Changi Siapkan Atraksi Spektakuler

Bandara tua di New York yang sudah lama dikritik karena kuno, sempit dan kotor yakni John F Kennedy (JFK), pusat internasional utama yang melayani kota ini diharapkan bisa melepas reputasinya yang buruk ddengan rencana pembangunan kembali senilai US$10 miliar.

Tahun 2019 mendatang Schipol Amsterdam juga akan menjadi bandara digital terdepan. Tetapi dengan hadirnya solusi dan teknologi, selain membawa peningkatan layanan dan pendapatan bagi pengelola bandara, disisi lain munculnya teknologi berbasis nirawak juga dapat memicu masalah sosial bila tak diantisipasi. Pasalnya akan ada pengurangan jumlah tenaga kerja dan petugas di bandara,  yang di beberapa negara hal tersebut kerap menimbulkan polemik.

Berusia 104 Tahun, Baiq Mariah Asal Lombok Jadi Jemaah Haji Tertua di Dunia

Bila niatan tulus untuk beridah telah terpatri di qolbu, maka soal usia tak lagi bisa menjadi batasan seseorang untuk menjalanakan ibadah Haji yang memerlukan stamina fisik prima. Hal tersebut tercermin pada seorang papuq atau nenek dalam bahasa Lombok dengan usia lebih dari satu abad untuk menunaikan ibadah Haji tahun ini.

Mariah Margani Muhammad atau biasa disapa Baiq Mariah telah berusia 104 tahun dan menjadi jemaah haji tertua dari total jemaah haji asal Indonesia. Bahkan Baiq Mariah juga menjadi jemaah tertua di dunia dalam penyelenggaraan Haji 2017.

Baca juga: Terdampak Kisruh Diplomatik, Jamaah Asal Qatar Sulit Tunaikan Ibadah Haji

KabarPenumpang merangkum dari gulfnews.com (4/9/2017), Baiq Mariah berangkat dari kloter 10 embarkasi Lombok, Nusa Tenggara Barat. Setibanya di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Baiq Mariah disambut dengan meriah. Konsul Jenderal RI di Jeddah, Mohammad Hery Saripudin mengatakan, Mariah bisa melaksanakan ibadahnya dalam kondisi sehat dan sanggup melakukan ritual selama enam hari tanpa masalah.

Selain itu, pendamping Baiq Mariah yakni Rahmi mengatakan, saat tiba di Jeddah, Mariah tidak mau menggunakan kursi roda. “Baiq Mariah menolak dan bilang mau jalan saja,” ujar Rahmi. Walaupun sudah tua dan usia lebih dari satu abad, Baiq Mariah tidak terlihat renta justru bersemangat menjalankan ibadah hajinya serta tak mau kalah dengan jemaah yang masih muda.

“Selama latihan manasik haji sehat, menolak kursi roda dan sangat bersemangat pokoknya,” ujar Rahmi.

Namun, sempat ada kekhawatiran karena saat tiba di bandara Jeddah, Baiq Mariah tidak mau terseyum sama sekali dan ingin kembali ke Lombok. Setelah diselidiki, hal tersebut terjadi ia kaget karena mendapat sambutan meriah, lain dari itu, Baiq Mariah masih belum sadar dirinya sudah tiba di Jeddah dan juga bisa dikarenakan sorotan media yang tertuju pada Baiq Mariah.

“Orang kampung dan tidak pernah melakukan perjalanan jauh dan mendapatkan peliputan luar biasa pasti kaget lah. Karena mendapatkan apresiasi dan beberapa wawancara dilakukan oleh media sempat membuat nenek ini stress”, kata juru bicara Kementerian Agama Indonesia, Mastuki.

Baca juga: Bus Shalawat, Angkutan Gratis Istimewa Untuk Jamaah Haji Indonesia

Diketahui, untuk melakukan haji rata-rata orang Indonesia sendiri harus menunggu selama enam tahun sebelum berangkat ke Mekkah. Haji tahun 2017 ini, dimulai tanggal 30 Agustus lalu dengan mengumpulkan lebih dari dua juta jemaah di kota Mina yang kemudian melakukan pendakian di Gunung Arafah dekat Mekkah pada 31 Agustus. Tanggal 1 September kemudian dilanjutkan dengan perayaan Iduh Adha di seluruh dunia.

Pada perayaan ibadah haji kemarin, Pusat Komunikasi Internasional yang menjadi insiatif Kementerian Kebudayaan dan Informasi Arab Saudi memfasilitasi hubungan dengan media global dan memposting segala kegiatan melalui Twitter yang baru dibuat khusus untuk kedatangan Mariah dengan tulisan berbahasa Inggris dan Indonesia.

Setelah India, Google Station Siap Tebar Free WiFi Gratis di Indonesia

Flash back ke tahun 2015, Google saat itu mencanangkan proyek penggelaran akses WiFi gratis di 400 stasiun kereta di beberapa kota di India. Dan sesuai target, pada September 2016 proyek instalasi Google Station telah berhasil dirampungkan. Dan setelah India, ternyata Google menjadikan Indonesia sebagai negara kedua dalam penggelaran proyek WiFi gratis di berbagai saran transportasi, termasuk stasiun dan bandara. Terkait dengan rencana baik tersebut, Google telah mengadakan pembicaraan dengan penyedia akses internet di Tanah Air, seperti Fiberstar dan CBN.

Baca juga: Ookla: Bandara di India Tempati Urutan Empat Asia dengan Kecepatan WiFi Terbaik

Program dari Google ini berjalan dengan memberikan alat pada mitra usaha untuk lebih mudah mengatur hotspot milik Google. Google akan mengelola kualitas koneksi WiFi tersebut menggunakan berbagai software buatannya. Sedangkan CBN dan FiberStar berperan menyediakan kabel dan akses internet yang akan disebarkan sebagai WiFi. Dilansir KabarPenumpang.com dari fortune.com (24/8/2017), pada peluncuran pertamanya di Indonesia, Google Station akan mencakup ratusan stasiun di wilayah pulau Jawa dan Bali, terutama di Jakarta, Surabaya, Denpasar, Bandung, lalu kota-kota lain. Saat yang sama juga, Google merilis layanan Go YouTube di Indonesia.

Aplikasi ini mempermudah orang untuk menonton video di YouTube dengan koneksi data seluler yang terbatas. Ini pertama kali dilakukan juga di India. Titik Google Stasion sendiri bisa digunakan secara bebas. koneksi Google Station bakal lebih baik dibanding kebanyakan WiFi publik. Penggunanya nanti bakal merasakan kecepatan internet tinggi, bisa dengan mudah streaming video HD dan mengakses berbagai layanan dasar seperti email. Google Station sendiri saat ini sudah ada di India. Raksasa internet tersebut memasangnya melalui kerja sama dengan operator lokal, RailTel dan Indian Railways.

Baca juga: 20 Bandara Ini Dipercaya Punya Akses WiFi Terbaik di Dunia

Google mengatakan, Indonesia nantinya akan menjadi negara pertama yang bisa melihat hasilnya karena disesuaikan secara lokal. Untuk mencari pertanyaan tentang kesehatan, Google bermitra dengan kelompok rumah sakit Indonesia Mitra Keluarga yang membantu Google merinci gejala dan perawatan umum untuk 700 kondisi kesehatan paling umum terjadi di Indonesia.

Baidu Rambah Teknologi Pengenalan Wajah di Bandara

Sebagai operator pencarian situs internet terbesar di Cina, Baidu mencoba dirinya kembali untuk menjadi pemimpin dalam teknologi konvergensi digital, seperti adopsi alat pemindai atau pengelanan wajah untuk membantu di Bandara Beijing dalam memudahkan proses dan jalur boarding.

Baca juga: Delta Airlines dan JetBlue Gunakan Mesin Pemindai Wajah di Bandara

KabarPenumpang.com melansir dari scmp.com (24/8/2017), Baidu akan menyediakan teknologi pengenalan wajah AI enabled untuk para kru darat dan staff yang bekerja di bandara. Nantinya secara bertahap kemampuannya akan diperluas untuk memverifikasi data dan identitas penumpang penerbangan yang melalui bandara Beijing.

Baidu mengatakan, untuk para penumpang, alat pengenalan wajah ini akan siap diluncurkan tahun 2018 mendatang. Pihak Baidu menjelaskan bahwa, nantinya para penumpang di bandara Beijing bisa melihat wajah mereka dengan kapabilitas face as boarding pass.

Proyek teknologi ini hadir saat Baidu dalam masa kritis dan mencoba beralih dari penyedia layanan penelusuran berita menjadi pemimpin alat di AI (Artificial intelligencedengan aplikasi dari analisis data yang besar. Sebenarnya, uji coba yang dilakukan Baidu pada bandara Beijing bukanlah hal yang pertama. Sebab aplikasi yang sama pun saat ini sedang di uji coba di bandara Jiangying di provinsi Henan.

Pada bandara Jiangying, penumpang sudah bisa memverifikasi identitas mereka melalui pemindai wajah sebelum melakukan penerbangan. Saat ini beberapa bandara di dunia juga sudah banyak yang menggunakan alat pemindai wajah untuk mempercepat proses keamanan dan boarding penumpang.

Hal ini dilakukan untuk membantu petugas agar mereka bisa melakukan tugas lainnya untuk perjalanan udara. Diketahui, Delta Airlines meluncurkan sebuah program pada Juni lalu di bandara Mainneapolis St Paul, dimana penumpang bisa memeriksa tas mereka secara otomatis melalui kios yang menggunakan perangkat lunak pengenalan wajah untuk mengidentifikasi tiket penumpang.

Maret lalu, British Airways juga telah memperkenalkan alat kontrol pengenalan wajah yang bisa langsung dan melakukan proses cepat dalam mengidentifikasi penumpang di gerbang bandara Heathrow. Untuk proyek yang Baidu lakukan di Beijing saat ini memiliki skala dan cakupan yang jauh lebih besar, sebab bandara ini menangani 94,39 juta penumpang tahun 2016 lalu. Bisa dikatakan, Beijing menjadi bandara teresar kedua di dunia bila berdasarkan lalu lintasnya.

Baca juga: Ada Guratan “Abu-Abu” Pada Sistem Pemindai Wajah di Bandara

Dalam alat pengenalan wajahnya, Baidu mengatakan teknologinya akurat hingga 99,77 persen dan mampu membedakan orang lebih baik dibandingkan dengan wajah manusia. Teknologi pengenal wajahnya pertama kali dipasang tahun lalu untuk memverifikasi identitas di tempat tujuan wisata populer di Wuzhen, sebuah kota air di provinsi Zhejiang, yang memungkinkan pengunjung untuk masuk menggunakan wajah mereka, bukan tiket.

Segway Hadirkan Produk Terbaru Untuk Segmen Anak-Anak

Segway, kendaraan listrik beroda dua yang mampu menyeimbangkan sendiri, belum lama ini telah meluncurkan empat produk terbarunya untuk pasar Asia Pasifik di sebuah acara di Seoul, Korea Selatan. Dua produk Segway ini memiliki tren untuk penyeimbang diri yang disejajarkan dengan miniPRO yakni salah satu Segway paling ringan.

Baca juga: Kiwano 01, Moda Beroda Tunggal yang Dilengkapi Teknologi Self-Balancing

Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (29/8/2017), Segway terbaru ini adalah miniPLUS dan miniLITE dimana mengoperasikannya tanpa menggunakan tangan seperti miniPRO yang diluncurkan pertengahan tahun 2016 kemarin. MiniPLUS merupakan produk baru yang di desain sangat cerdas hanya dengan satu tombol, scalable pen tilt zoom (PTZ) kamera dan lampu LED yang berada di bagian bawah.

MiniPLUS juga memberikan area kaki yang lebih besar dan baterai lebih besar untuk menjangkau daerah lebih jauh. Selain itu ada juga miniLITE yang memiliki berat 11,5 kg dan menjadi Segway paling ringan yang pernah ada. MiniLITE ini juga dirancang dan bisa digunakan untuk anak-anak berusia di atas enam tahun.

Bisa dikatakan miniLITE merupakan Segway yang dipasarkan dengan target kiddie atau anak-anak dengan deteksi pengguna yang warnanya bisa disesuaikan keinginan sang anak dan cocok untuk anak usia diatas enam tahun. Kehadiran Segway sendiri berjalan bersama dengan sepeda anak-anak bermerek Ninebot dan KickScooter.

Tak hanya berjalan bersama, Segway ternyata telah diakuisis oleh perushaaan robotika yang berbasis di Beijing yakni Ninebot pada Mei tahun 2016 lalu. Pada peluncuran di Seoul, tak hanya segway yang meluncurkan dua produknya, Ninebot juga meluncurkan dua produk tanpa teknologi yang dikaitkan dengan Segway yakni sepeda anak konvensional yang terdiri untuk anak perempuan dan laki-laki. Ukuran sepeda ini dibuat dua macam yakni dengan roda 14 dan 16 inci.

Baca juga: Spektakuler! Utrecht Bangun Fasilitas Parkir Sepeda Terbesar di Dunia

Ternyata Segway KickScooter yang baru-baru ini di umumkan di Eropa terlihat serupa dengan ES1 dan ES2. Namun hingga kini belum ada informasi lanjutan tentang spesifikasi teknologi atau tanggal rilis keempat produk ini. Namun pada peluncuran produk Asia Pasifik, digadang-gadang akan dijual di negara Korea, Jepang, Singapura, Australia, Thailand, Taiwan dan Cina. Penjualan ini juga belum jelas apakah pasar lainnya yakni Eropa dan Amerika akan ikut andil dan pada minggu ini juga Segway mengadakan konferensi di IFA.

Pentingnya Sarung Tangan Saat Berkendara

Sebagai pengendara kendaraan roda dua biasanya akan melengkapi diri dengan helm, masker hingga sarung tangan. Baiknya, sebagai seorang pengendara Anda jangan menyepelekan penggunaan sarung tangan.

Baca juga: Untuk Penumpang Obesitas, Perpanjangan Sabuk Pengaman Belum Jadi Prioritas

Tetapi, saat ini banyak sekali pengendara yang malas menggunakan sarung tangan dengan berbagai alasan, panas, tidak nyaman karena tangan tidak bisa bergerak leluasa hingga repot bila menggunakan telepon saat kendaraan berhenti. Padahal sarung tangan juga sangat penting untuk keselamatan dalam berkendara seperti halnya helm yang Anda gunakan.

KabarPenumpang.com merangkum bahwa dalam mengendarai sebuah motor, sarung tangan sangat dibutuhkan dan penting untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan dalam berkendara. Berikut ini ada beberapa hal yang bisa menyadarkan Anda pentingnya sarung tangan dalam mengendarai motor.

1. Dengan adanya sarung tangan, bisa menjaga tangan Anda dari cuaca yang ekstrem. Saat panas, bisa mengurangi panas dari cahaya matahari yang menyengat. Sedangkan saat malam, bisa menghangatkan tangan dari udara malam hari.

2. Melidungi tangan Anda dari belang pada punggung telapak tangan. pastinya Anda tidak ingin tangan terlihat hitam akibat belang dan berbeda antara telapak atas dengan warna kulit pergelangan tangan.

3. Sarung tangan menjaga tangan Anda dari goresan saat terjatuh dari motor baik itu ke aspal, tanah atau jalan berbatu. Karena jatuh atau kecelakaan saat berkendara kita tidak bisa tahu kapan akan terjadi.

4. Sarung tangan bisa mengurangi getaran pada motor dan mengurangi jumlah keringat yang menyebabkan tangan licin dan bisa membuat tergelincir dari stang. Karena tangan licin, bisa mengakibatkan kecelakaan.

Baca juga: Sabuk Pengaman Juga Bisa Berakibat Fatal, Lho!

5. Sarung tangan saat ini banyak modelnya, sebenarnya dengan menggunakan sarung tangan Anda juga bisa bergaya sesuai dengan keinginan. Sebab saat ini berbagai model sarung tangan baik yang berwarna warni, bergambar, atau sarung tangan untuk pembalap.

Jadi, bagaimana masih malaskah Anda menggunakan sarung tangan saat mengendarai motor? Apakah harus terjadi sesuatu pada Anda baru mau gunakan sarung tangan?

Waspada! Kerumunan Kecoa “Kuasai” Jaringan Bus di Guangzhou

Merasa jijik dengan kecoa? Berarti Anda tidak disarankan untuk menaiki bus di Guangzhou, karena bus-bus yang hilir mudik di kota yang terletak 120 km di sebelah timur Hong Kong ini “memelihara” banyak kecoa. Ini terbukti oleh salah seorang penumpang bus yang melihat bukan hanya satu, melainkan lusinan kecoa sedang menikmati serpihan makanan yang tercecer di lantai bus No. 75 di Distrik Haizu.

Baca Juga: Ada Patung Gadis Hiasi Bus di Seoul, Ada Apa Ya?

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thatsmags.com (1/8/2017), penumpang yang bermarga Deng tersebut sontak merasa jijik ketika melihat kerumunan kecoa di dalam bus dan langsung turun walaupun itu bukanlah pemberhentian yang ia tuju. Ternyata, tidak hanya Deng, banyak warga Guangzhou lainnya yang juga melihat serangga yang identik dengan tempat kumuh tersebut. Kejadian yang terjadi pada akhir bulan Juli lalu ini dengan sangat cepat menyebar luas dan menjadi viral.

Tidak hanya di bus No. 75 di Distrik Haizu, kecoa-kecoa ini juga kerap kali terliihat di BRT (Buss Rapid Transit) B2, B2A, B5, B21, dan Bus No. 10 yang menghubungkan Yuexiu dan Haizhu. Lantas, atas dasar itulah banyak keluhan dilayangkan kepada pihak penyedia layanan jasa akibat joroknya tempat tersebut. Keluhan yang juga sampai ke Departemen Urusan Sipil ini akhirnya ditindak lanjuti agar citra jorok bisa terlepas dari bus.

Baca Juga: Inilah 10 Stasiun Bawah Tanah Terpadat di Dunia

Sebenarnya, kehadiran kecoa bisa dicegah dengan berbagai cara, salah satunya adalah menjaga ruangan agar tetap bersih. Kecoa disinyalir suka dengan tempat yang gelap dan lembab, karena mereka bisa menyamarkan keberadaannya. Selain itu, pastikan juga kondisi garasi tempat menyimpan bus selalu dalam keadaan bersih. Tumpahan benda-benda berminyak seperti oli, tetesan minyak dari makanan yang dibawa oleh penumpang ternyata bisa juga menjadi cara ampuh untuk mengundang kecoa.

Teruntuk bus yang memiliki kamar mandi, pastikan pihak penyedia layanan jasa ini melakukan pengecekan secara rutin, terutama terhadap floor drain, karena bau yang ditimbulkan dari kamar mandi akan mengundang kecoa untuk datang melalui floor drain dan “bermukim” di dalam bus. Jadi, perlu ada aksi ekstra untuk menangkal si kecoa ini agar tidak berkeliaran lagi di dalam bus.

Hadapi Keluhan Soal Calo, Otoritas Banglades Hadirkan BGB

Otoritas perkeretaapian Banglades diketahui baru-baru ini menempatkan sejumlah Border Guard Bangladesh (BGB) di Stasiun Rajshahi untuk mengantisipasi maraknya tiket yang dijual oleh para pialang. Penempatan petugas BGB ini dibarengi oleh meningkatnya pengguna jasa layanan kereta api menjelang Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada tanggal 25 dan 26 Juni kemarin.

Baca Juga: Kalau Sudah Lihat Ini, Masih Mau Mengeluh Mengenai Penuhnya KRL?

Anomali penjualan tiket semacam ini memang sering terjadi , terutama di kala peak season, dimana permintaan masyarakat terhadap tiket perjalanan sedang berada di level tertinggi. Maka tidak heran jika banyak oknum yang memanfaatkan momen ini sebagai lading bagi mereka untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya melalui cara yang ilegal.

Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman thedailystar.net (23/6/2017), General Manager zona Barat, Khairul Alam mengatakan stasiun Rajshahi juga dilengkapi dengan sebuah perangkat yang dapat membantu peran dari petugas untuk memeriksa tiket. “Ditambah juga dengan pengamanan melalui kamera CCTV, jadi kami dapat memantau aktifitas di stasiun,” kata Khairul.

Salah satu pejabat perkeretaapian di Banglades juga mengatakan anggota BGB akan menanggapi laporan tentang anomali yang  terjadi saat pembelian tiket. Layaknya di kebanyakan tempat, calo-calo di Banglades pun sama. Mereka menjual tiket resmi kereta api, namun dengan harga yang sudah mereka manipulasi sebelumnya. Mereka biasanya memiliki kelompok sendiri dalam menjalankan praktik ini. Harga tiket tersebut bisa saja berubah tiap waktu seiring ramainya permintaan dari pihak pembeli. Makin banyak orang yang mencari, maka semakin tinggi pula harga yang mereka tawarkan, begitupun sebaliknya.

Selain menampung laporan mengenai keberadaan calo dan ketidakwajaran harga tiket, anggota BGB juga akan membantu menertibkan setiap calon penumpang yang sedang antri. Keberadaan mereka pun seolah menjadi saksi dari puluhan calon penumpang yang gagal mendapatkan tiket kereta untuk mudik ke kampung halaman masing-masing.

Baca Juga: Atapers, Para Penantang Maut dari Atas Gerbong

Keberadaan calo memang merugikan banyak pihak, diantaranya adalah penumpang dan para penyedia jasa. Bagi para penumpang, mereka terpaksa merogoh kocek lebih untuk mendapatkan tiket yang mereka inginkan, walaupun tidak melulu para penumpang ini mendapatkan tiket yang sesuai dengan keinginannya. Selain itu, akan cepat kehabisan tiket di loket resmmi karena biasanya, si calo ini memborong banyak tiket untuk mereka jual kembali dengan harga yang sudah mereka tentukan sendiri.

Di sisi lain, kerugian yang dialami oleh pihak penyedia jasa adalah kemungkinan berkurangnya minat penumpang untuk menggunakan jasa layanan mereka kembali. Jika dibandingkan dengan Indonesia, ramainya calo tiket kereta api seperti pemberitaan di atas juga pernah terjadi  dalam beberapa tahun ke belakang, namun PT KAI segera membenahi sistem penjualan yang ada, seperti mencantumkan data diri layaknya tiket pesawat, melakukan penukaran tiket fisik, dan lain-lain hingga keberadaan calo-calo ini akan menghilang dengan sendirinya.