Bajaj, Angkutan Beroda Tiga Yang Melegenda

Siapa sih yang tak kenal dengan Bajaj? Kendaraan roda tiga ini sebenarnya bukanlah nama kendaraan, namun sebuah perusahaan bernama PT Bajaj Auto. Kendaraan yang berasal dari India ini masuk ke Indonesia sejak tahun 1970an atau tepatnya 1975. Uniknya bajaj pertama kali masuk ke Jakarta yang saat itu sudah menjadi ibukota Negara Indonesia untuk menggantikan becak yang eksis tahun 1963.

Dengan masuknya bajaj ini, Gubernur DKI Jakarta saaat itu Ali Sadikin memiliki niat untuk memodernisasikan Jakarta dan menganggap becak bukanlah hal yang modern. Tak hanya untuk memodernkan kota Jakarta, becak juga waktu itu di anggap membuat macet Jakarta. Sehingga saat bajaj masuk ke Jakarta di anggap pas untuk menggantikan era becak.
bajajBajaj di Jakarta saat pertama kali keluar menggunakan mesin 2 tak dan berkembang denngan cepat karena menggunakan mesin yang bandel dan lebih baik dari sebelumnya. Bajaj hanya menampung penumpang 2 orang dewasa dan satu anak kecil. Namun, Bajaj oranye yang pertama kali hadir di Jakarta, tempat duduk di pengemudi lebih panjang sehingga, terkadang ada penumpang yang duduk dengan supir bajajnya.

Tak hanya itu, minimnya tempat duduk membuat penumpang di dalam Bajaj hanya bisa 3 orang tidak lebih. Namun, dengan bentuk yang unik ini, justru bajaj bisa menerobos kemacetan. Tak hanya bentuk Bajaj yang unik, kemudi supir yang berentuk seperti kemudi motor ini pun menjadi salah satu daya tarik Bajaj.

Anda yang tinggal di Jakarta pastilah sudah terbiasa dengan Bajaj, apalagi dengan suaranya yang memekakan telingga. Bunyi seperti “kaleng rombeng” kalau orang Jakarta bilang, bukan hanya menyakitkan telinga tapi sudah menjadi satu ciri yang khas dan Anda pasti kenal yang lewat depan rumah dipastikan Bajaj. Ini dikarenakan tidak ada angkutan umum di Jakarta yang memiliki bunyi khas seperti itu.
708px-gas_fuelled_bajaj_in_jakartaBajaj yang ada di Jakarta sejak tahun 1975 ini, menggunakan bahan bakar bensin (premium) dan bertransformasi di tahun 2007 dengan warna biru yang melambangkan Bajaj tersebut menggunakan bahan bakar gas. Namun, masih juga menggunakan campuran premium sebagai bahan bakarnya. Pada Bajaj biru ini, bunyi berisik sudah tidak terdengar, suara lebih halus dan tidak bisa dibedakan dengan kendaraan lain bila lewat depan rumah Anda.

Adanya penggantian bahan bakar pada Bajaj, agar lebih ramah lingkungan untuk mengurangi polusi udara yang ada di Jakarta. Mesin yang digunakan juga sudah 4 tak dengan semua lampu berfungsi seperti sein yang dulu di Bajaj oranye tidak berfungsi. Satu hal yang tak boleh terlupakan, setiap Anda menaiki Bajaj, pasti melihat tanda Kotamadya Bajaj tersebut.

Namun, ternyata Bajaj tak hanya ada di Jakarta saja melainkan ada di Banjarmasin dan Pekanbaru. Sayangnya Bajaj di dua kota besar tersebut tak terlalu mencolok seperti di Jakarta. Hal ini terlihat di Jakarta saja sampai ada Sitkom tentang keluarga supir Bajaj dengan judul Bajaj Bajuri. Sitkom yang mengisahkan kehidupan seorang supir Bajaj (diperankan Mat Solar) bernama Bajuri bersama sang istri agak tulalit bernama Oneng (dipernkan Rieke Diah Pitaloka) dan mertua yang mata duitan, Emak (Nanik Wijaya). Sitkom ini sempat tayang di salah satu stasiun televisi swasta tahun 2002-2007 dan sukses penayangannya hingga dibuatkan film layar lebar dengan pemerannya bukanlah pemeran di televisi.