Sejak 2013, Proyek MRT Jakarta Telah Menyerap Dana Rp5 Triliun

Proyek pembangunan jalur MRT (Mass Rapid Transit) oleh PT MRT Jakarta sudah dimulai sejak tahun 2013. Dengan segala hiruk pikuknya, warga Jakarta pun sepakat bahwa inilah proyek megastruktur terbesar yang pernah dilangsungkan di DKI Jakarta. Dan secara terbuka, manajemen PT MRT Jakarta dalam Forum Jurnalis dan Blogger hari ini (26/9) menyebutkan bahwa secara keseluruhan proses pembangunan infrasktur sudah mencapai 80,1 persen. Dan akan dikejar hingga level 90 persen sampai akhir tahun ini.

Baca juga: Merespon Tanggapan Masyarakat, MRT Jakarta Gandeng Qlue Indonesia

Hal tersebut diungkapkan direktur utama PT MRT Jakarta William P. Sabandar. Lebih detail Ia mengakatan pencapaian 80,1 persen terdiri dari dua elemen, yakni pengerjaan elevated section, di permukaan tanah dan jalan layang mencapai 70,16 persen. Dan selanjutnya pengerjaan underground section, yang terdiri dari jalur terowongan dan stasiun bawah tanah yang sudah mencapai 90,22 persen.

Dengan besarnya pencapaian yang telah dilakukan, tentu menjadi pertanyaan menarik, berapa dana yang telah digelontorkan untuk menggarap mega proyek ini? Kesan ‘wah’ memang terasa, mengingat sebagian besar komponen pada proyek ini masih harus diimpor, terutama rangkaian kereta (rolling stock) dan rel yang masih harus didatangkan langsung dari Jepang.

“Semenjak proyek MRT ini berjalan di tahun 2013, sampai saat ini dana yang telah terserap mencapai Rp5 triliun, dan sampai akhir tahun ini kami akan menyerap hingga mencapai Rp8 triliun,” ujar William P. Sabandar. Ia menambahkan secara keseluruhan pada pembangunan jalur di fase I dibutuhkan dana sampai Rp16 triliun. Sumber pendanaan MRT Jakarta sendiri berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan pinjaman dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Pada kesempatan temu media, William dan jajarannya berkomitmen untuk mulai mengoperasikan MRT pada Maret 2019.

Baca juga: Lintasi Tol JORR, Inilah “Special Bridge,” Jembatan Unik di Jalur MRT Fatmawati

Di pembangunan fase II yang akan menghubungkan antara Stasiun Bunderan HI sampai Stasiun Kampung Bandan, gelontoran dana yang dibutuhkan akan lebih besar lagi, yakni mencapai total Rp25,1 triliun, mengingat jalur ini secara keseluruhan di bangun di bawah tanah, dan penggarapan terowongan kereta sebagian besar berada di bawah Sungai di Jalan Gajah Mada.