Pelabuhan Bojonegara, Mungkinkah Jadi “Pesaing” Pelabuhan Ferry Merak?

Pelabuhan Bojonegara di Cilegon Banten dalam beberapa waktu lalu sempat disebut sebagai pesaing utama layanan penyebarangan di Pelabuhan Merak dalam angkutan barang menuju ke Lampung. Berbeda dengan Pelabuhan Merak yang mengoperasikan kapal ferry, di Pelabuhan Bojonegara belum terdapat fasilitas dermaga yang memadai, layanan pelayaran menggunakan kapal jenis Landing Craft Tank (LCT) yang digunakan untuk menyeberangkan kendaraan-kendaraan bertonase besar.

Baca juga: Mengenal Pelabuhan Merak, Gerbang Penyeberangan Tersibuk di Indonesia

Dari legalitasnya, Pelabuhan Bojonegara berada di bawah manajemen PT Pelindo II dengan pengoperasian armada LCT oleh PT Bandar Niaga Raya (BNR). KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, ternyata tarif kendaraan-kendaraan besar untuk menyeberang pada lintasan Bojonegera – Muara Pilu (Lampung) memiliki perbedaan tarif dengan yang digunakan PT ASDP di lintasan Merak  – Bakauheni.

Adanya perbedaan tarif ini dikarenakan Pelabuhan Merak kini sudah menggunakan sistem tiket otomatis atau automatic ticketing, dimana semua transaksi pembayaran dari pengguna jasa dapat dilihat secara transparan. Sedangkan pelabuhan Bojonegara masih mengadopsi pembayaran tiket secara manual. Hal ini yang membuat banyak pengemudi kendaraan-kendaraan berat mulai beralih ke Pelabuhan Bojonegara untuk mendapat harga yang lebih murah, terlebih bila terjadi antrian panjang menuju Pelabuhan Merak.

Kendaraan-kendaraan besar seperti truk yang menggunakan jasa di Pelabuhan Bojonegara bisa disandingkan dengan golongan V sampai dengan IX pada penetapan tarif kapal ferry oleh PT ASDP. “Kalau golongan yang dominan di pelabuhan Bojonegara kendaraan barang mulai dari golongan V sampai dengan IX,” ujar Branch Manager PT Mata Pensil Globalindo Cabang Merak, Muhamad Hakim yang dihubungi KabarPenumpang.com (19/9/2017). PT Mata Pensil Globalindo adalah mitra kerja PT ASDP untuk penyediaan layanan automatic ticketing di Pelabuhan Merak dan Bakauheni. Sebagai ilustrasi Gol V-B Truck Sedang dikenakan tarif Rp645.000 oleh PT ASDP.

Foto: Beritatrans

Dari beberapa sumber yang diperoleh, tarif golongan kendaraan besar di Pelabuhan Bojonegara bila kelebihan 10 cm pada tahun 2015 akan dikenakan sekitar Rp500 ribu lebih murah dibandingkan dengan tarif di Pelabuhan Merak. Tetapi untuk tahun ini beberapa sumber mengatakan perbedaan tarif hingga Rp200 ribu lebih murah dari tarif di Pelabuhan Merak.

Baca juga: Landing Craft Tank Mulai Gerus Pendapatan Pengusaha Kapal Ferry

Namun, karena tarif yang berbeda terlalu jauh, Gabungan Pengusaha Nasional Angkuutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) meminta pada Kementerian Perhubungan agar tarif disamaratakan antara Pelabuhan Bojonegara dengan Pelabuhan Merak. Sebab dua pelabuhan ini menyeberang melalui Selat Sunda yang juga diatur dalam regulasi Kemenhub, walaupun tujuannya dari Merak menuju Bakauheni dan Bojonegara menuju Muara Pilu.

Bila permasalahan ini tak kunjung dipecahkan, maka jasa penyeberangan melalui jalur Pelabuhan Merak akan terancam. Tetapi jika regulasi dijadikan satu pintu dengan tarif yang sama kedua pelabuhan ini akan bisa berjalan dengan lancar dan lebih baik. Pelabuhan Bojonegara dahulu menginduk pada regulasi yang ditetapkan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, sementara Pelabuhan Ferry Merak menginduk pada regulasi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.

Tidak adanya ketentuan batas ketinggian barang bawaan pada truk menjadi daya pikat tersendiri bagi pengemudi truk untuk beralih ke jasa LCT. Padahal tidak adanya ketentuan batas ketinggian pada truk yang dibawa berbuntut pada masalah standar keselamatan dan mengganggu stabilitas kapal. Karena tak dirancang dengan standar keselamatan yang baik, kelengkapan seperti “life jacket”, “inflatable life raft” (ILR), dan sprinkler di setiap geladak juga tidak ada .Dari sisi keamanan LCT tidak dilengkapi dengan CCTV dan tenaga keamanan.