Manjakan Penumpang, Maskapai Mulai Hadirkan Dudukan Gadget Yang Pas dan Ergonomis

Selain fasilitas In Flight Entertainment (IFE), hal lain yang dibutuhkan penumpang selama penerbangan adalah dudukan yang pas untuk menempatkan perangkat elektronik di depan kursi. Sekilas nampak sepele, namun pada kenyataan banyak penumpang yang merasa bingung untuk meletakan gadget, ketika pilihannya adalah menaruh smartphone/tablet di kantung majalah, sudah pasti itu bukan ide yang baik, mengingat Anda tak mudah menggapai gadget bila suatu waktu dibutuhkan.

Baca juga: Rancang Ruang Bagasi Unik, Kelompok Mahasiswa Hong Kong Raih Penghargaan dari Airbus

KabarPenumpng.com melansir dari laman runwaygirlnetwork.com beberapa perusahaan penerbangan kini menunjukkan pilihan PED (Personal Electronic Device) berteknologi rendah yang dirilis untuk disematkan pada meja/kursi penumpang. Seperti Zodiac Aerospace yang memperkenalkan tempat duduk Z400 barunya di Boeing 777X, inovasi ini digadang bisa digunakan untuk meletakkan kabel dan dudukan telepon serta pegangan meja.

PED berada dibalik meja, sehingga untuk menggunakannya meja harus tetap terbuka. Tak hanya Zodiac, beberapa perusahaan penerbangan lain juga membuat hal serupa dimana Pitch memiliki soket USB yang berada di balik meja. Pitch menjadi salah satu pengguna PED paling inovatif dan sederhana untuk tablet. Desain Pitch sendiri sangat pintar dengan meja ultra slim yang bisa diangkat dari sisi lutut penumpang, ini bisa menciptakan lebih banyak ruang bagi penumpang.

(runwaygirlnetwork.com)

Sementara itu, perusahaan teknik material Boltaron, menunjukkan permukaan nonslip yang dapat merevolusi desain pemegang PED. Boltaron menunjukkan permukaan lengket dengan segelas air, namun produknya bisa dimodifikasi untuk mengakomodasi PED, yang cenderung meluncur.

Dibandingkan dengan titik atau strip karet tradisional, permukaan Motaron tidak bersih, tapi juga tidak dikenai atau dipenggal dengan penggunaan. Memang, desain Boltaron mengingatkan pada kabin koordinat Embraer E-Jet E2 yang dikoordinasikan Priestmangoode, yang harus dirancang ulang oleh perancang udara setelah memenangkan Crystal Cabin Award, di mana permukaan lengket pada pemegang PED yang hampir vertikal.

Adapun solusi lainnya datang dari kabin HAECO yang memiliki sentuhan unik untuk kursi malas di pasar premium, meja koktail gabungan dan pemegang PED. Meski tidak biasa, ini agak rumit dengan banyak komponen yang bergerak dan sepertinya hanya cocok untuk perangkat berukuran smartphone jika kedua penumpang menggunakan receiver yang terpasang di tengahnya.

Seatmaker HAECO menunjukkan fitur flip-down tambahan dengan kedua pemegang PED berputar maju ke belakang dan potongan cupholders. Sehingga membuat dudukan pemegang PED pada poros ini tentu terasa sangat alami, namun satu masalahnya adalah bobot dan ukuran perangkat yang bervariasi secara signifikan.

Baca juga: Smartsealz, Headset Berteknologi Augmented Reality, Sanggup Bantu Tugas Pilot!

Memastikan bahwa mekanisme ini cukup kuat untuk mendukung iPad Pro 12,9 inchi dan SE SEWA empat inci, sementara masih mudah diubah tanpa menggunakan perangkat sebagai pengungkit, sangat kompleks. Di sini, seperti di tempat lain dalam kategori fitur permukaan ekstra lipat, pemegang cuplikan yang rendah hati akan kembali mungkin karena semakin banyak maskapai penerbangan kembali ke model minuman gratis atau berusaha meningkatkan permintaan untuk penjualan minuman tambahan mereka dan di sana adalah lingkup untuk desain dual tujuan.

Tidak Puas, LG Kembali Luncurkan Tiga Robot Anyar di Las Vegas Pekan Depan

Setelah berhasil mengembangkan robot di Tanah Airnya sendiri, Korea dimana robot-robot tersebut akan ditugaskan untuk membantu petugas Bandara Internasional Incheon selama Olimpiade Musim Dingin yang jatuh pada 9 hingga 25 Februari 2018, kini raksana elektronik LG Electronics mulai beralih menuju pengembangan robot lainnya.

Melihat dunia robotika sebagai ladang bisnis yang cukup menjanjikan dan diprediksi akan diminati oleh banyak pihak dalam beberapa tahun mendatang, maka tidak heran jika LG memfokuskan diri pada pengembangan teknologi penanda perkembangan jaman ini.

Baca Juga: Sambut Olimpiade Musim Dingin, LG Hadirkan Dua Robot Canggih di Bandara Incheon

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (5/1/2018), pihak LG Electonics akan kembali ‘menggemparkan dunia’ dengan sejumlah robot yang akan diluncurkan pada pertengahan bulan Januari 2018 ini. Rencananya, perhelatan Consumer Electronic Show (CES) Las Vegas 218 akan menjadi saksi dari peluncuran empat robot yang sudah dikembangkan oleh pihak LG sebelumnya.

Berbeda dengan peluncuran robot pada pagelaran CES 2017 kemarin, dimana LG merilis Airport Guide Robot, Airport Cleaning Robot, Lawn Mowing Robot, dan Hub Robot, kali ini LG akan meluncurkan tiga robot yang dibangun untuk melakukan interaksi dengan pelanggan di supermarket berkelas premium. CLOi (dilafalkan KLOH-ee), begitulah robot pembantu pelanggan supermarket ini disebut, memiliki perawakan setinggi orang yang sedang jongkok, ditambah dengan bagian atas yang menyerupai muka seseorang.

Serving Robot. Sumber: newatlas.com

“The Serving Robot memiliki pangsa pasar hotel dan bandara,” tutur pihak LG, dikutip dari laman sumber. Berlandaskan alasan ekonomi dan keamanan, The Serving Robot ini nantinya akan menggantikan tugas manusia di restoran, dimana setiap pengunjung bisa melakukan pemesanan melalui sistem touchscreen yang diterapkan. Makanan pun akan diantar oleh robot ini, dengan  mengandalkan fitur baki built-in, sehingga diperkirakan dapat meminimalisir terjadinya human error seperti makanan yang jatuh dari baki, dan lain-lain.

Porter Robot. Sumber: newatlas.com

Varian lainnya adalah The Porter Robot. Sesuai dengan namanya, wilayah operasi dari robot ini adalah seputaran hotel, dimana robot ini akan membantu setiap pengunjung untuk membawa barang bawaannya menuju kamar yang sudah dipesan. Selain itu, The Porter Robot juga bisa menangani proses check-in dan check-out secara cepat, hingga membantu proses pembayaran.

Shopping Cart Robot. Sumber: newatlas.com

Terakhir adalah Shopping Cart Robot, dimana teknologi ini akan mengambil wilayah operasi di sekitaran supermarket berkelas premium. Tugasnya adalah untuk membantu pengunjung untuk berbelanja, termasuk memindai barcode harga dan menampilkan informasi tentang barang tersebut, hingga menampilkan daftar belanjaan yang dibeli. Dikombinasikan dengan aplikasi di smartphone, pengunjung juga bisa memerintahkan si robot untuk membantu mencari barang yang hendak dibeli.

Baca Juga: Ini Dia Troika! Robot Canggih di Bandara Incheon, Korea Selatan

“Sebagai salah satu tonggak penting dari pertumbuhan perusahaan kami, LG berkomitmen untuk memperluas portofolio di dunia robotika, dimana kehadirannya dapat memberikan kenyamanan dan inovasi nyata dalam kehidupan para pelanggan kami,” tutur Ryu Hye-Jung, kepala divisi bisnis solusi cerdas LG’s Home Appliance & Air Solutions Company.

“Perjalanan kami tidak akan berhenti sampai di sini. Kami akan terus mengembangkan berbagai macam produk yang berkaitan dengan dunia robotika, sembari mencari peluang baru untuk berkontribusi pada kemajuan industri robotika,” timbalnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada kejelasan mengenai kapan deretan robot CLOi ini ditawarkan kepada publik.

Flex Seat Smart Cabin, Bukti Kolaborasi Cerdas Airbus dan Recaro

Smart Cabin Reconfiguration merupakan hasil penelitian dan kolaborasi antara Airbus, Recaro dan THK. Dan hasil kolaborasi dari tiga nama besar tersebut memunculkan adapa yang disebut sebagai Flex Seat dan dibuat untuk kebutuhan Smart Cabin Airbus A320 yang diluncurkan tahun 2017 lalu pada Aircraft Interior Expo di Hamburg.

Baca juga: JetBlue Upgrade Desain Kabin Airbus A320, Tapi Penumpang Justru Merana

KabarPenumpang.com melansir dari laman apex.aero, Flex Seat sendiri menawarkan fleksibilitas dalam tata letak tempat duduk, sehingga maskapai bisa memaksimalkan pemesanan dan memberi penumpang ruang kaki ekstra jika penerbangan tidak terisi penuh. Cara kerjanya pun cukup mudah, awak kabin hanya menyesuaikan tempat dengan mengangkat jok kursi, melepaskan mekanisme penguncian lantai dan mendorong kursi depan terpisah di sepanjang sistem rel.

Mekanisme sederhana ini hampir tidak memerlukan komponen tambahan dan dapat dioperasikan sepenuhnya tanpa alat dan yang penting dapat dilakukan awak kabin dengan sedikit usaha. Jochen Lohrmann, kepala Manajemen Inovasi di Recaro, mengatakan bahwa Flex Seat tidak akan mempengaruhi waktu perputaran di antara penerbangan.

“Salah satu tujuan utama kami adalah memberikan solusi sederhana agar tata letak kabin bisa diubah dalam hitungan menit. Tapi maskapai harus tahu bagaimana mengelola ini, di dalam sistem pemesanan mereka, misalnya,” katanya.

Flex Seat adalah bagian dari paket “bintang lima baru” yang ditawarkan Recaro dan ini jelas menunjukkan bagaimana gagasan sederhana dapat berkembang menjadi inovasi dalam wujud produk nyata. Oleh karena itu, awak kabin dapat secara fleksibel mengatur konfigurasi tempat duduk di antara penerbangan tergantung pada volume penumpang yang sebenarnya dan memastikan lebih banyak ruang untuk berselonjor kaki.

Tak hanya itu, Recaro juga menampilkan teknologi iSeat yang mampu menginformasikan awak kabin tentang posisi kursi melalui aplikasi. Sensor yang ada di sandaran tangan dan meja lipat juga bisa mendeteksi posisi duduk penumpang yang tepat untuk lepas landas dan mendarat, sebab bisa meningkatkan efisiensi awak kabin.

(apex.aero)

Aplikasi ini juga mencatat berapa kali bagian tubuh telah bergera yang memungkinkan perawatan prediktif. Tak hanya itu, aplikasi ini juga dipajang di AIX yang merupakan rak tablet Recaro dengan pemegang cup terpadu.

Recaro Aircraft Seating mengembangkan ide kreatif dan solusi yang disesuaikan untuk kabin pesawat dan gagasan ini menawarkan wawasan yang jelas tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Layanan Pelanggan, Kursi Flex, Kesejahteraan, Solusi antibakteri dan iSeat adalah lima bintang baru dari Recaro yang memenuhi keinginan maskapai penerbangan untuk menyesuaikan sekaligus mencerminkan secara sempurna evolusi dinamis dari sektor penerbangan.

Baca juga: Gunakan Teknologi Mobile-Encoding, Netflix Siap Manjakan Penumpang Pesawat

Marisa Garcia, mantan direktur perusahaan di Hoover Industries, telah bekerja dengan tim teknik untuk sertifikasi pelapisan dan membuktikan kesulitan prosesnya, “Begitu Anda menambahkan lapisan kimia ke permukaan, ia harus melewati tes burn baru. Mendapatkan hak campuran pada lapisan apapun sangat halus. Bahan kimia memiliki volatilitas yang sangat tinggi, Anda harus melakukan pengujian berulang dengan mudah bisa memakan waktu setahun. “

Garuda Indonesia Canangkan 50 Unit Armada Baru Hingga Tahun 2024

Dalam upayanya untuk meningkatkan pelayanan, maskapai flag carrier Garuda Indonesia telah menargetkan untuk mendatangkan sekitar 50 armada baru hingga tahun 2024 mendatang. Ini merupakan salah satu langkah yang ditempuh pihak Garuda dalam upaya merevitalisasi armada dan memperbaiki kinerja perusahaannya.

Baca Juga: Di 2018, Garuda Indonesia Canangkan Buka 30 Rute Penerbangan Baru

Sebagaimana yang sudah diketahui besama, salah satu pesawat dari 50 armada baru tersebut sudah datang pada 26 Desember 2017 kemarin dan langsung beroperasi pada 1 Januari 2018. Ya, B737 MAX 8 menjadi yang armada pertama dalam list belanja Garuda yang sudah mencicipi terbang di atas Nusantara.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman indonesia-investments.com, Presiden Direktur Garuda Indonesia, Pahala N. Mansury mengatakan bahwa maskapai plat merah tersebut telah melakukan pemesanan sejak tahun 2014 silam. Ia melanjutkan bahwa antara tahun 2020 hingga 2024, pesawat lainnya akan menyusul dengan perkiraan 5 – 10 pesawat per tahunnya.

“Jadi kan mereka itu punya jadwal delivery, makanya jadi antre. Ya seperti ada masa indennya. Fasilitas produksinya juga terbatas, lalu juga ada proses desain, testing, dan proses yang panjang,” ungkap Pahala dikutip dari sumber terpisah. Dalam kesempatan lain, Pahala menyebutkan  bahwa kehadiran B737 MAX 8 ini nantinya akan menggantikan B737-800 Next Generation (NG) yang kontrak sewanya akan segera berakhir.

Di sini, Garuda Indonesia akan menjadi maskapai kedua di Indonesia yang mengoperasikan B737 MAX 8 setelah Lion Air. Optimalisasi armada merupakan bagian dari program revitalisasi maskapai penerbangan dan harus mengarah pada peningkatan kinerja perusahaan.

Seperti yang sudah pernah diberitakan sebelumnya, B737 MAX 8 perdana Garuda Indonesia diterbangkan ke Indonesia melalui rute Seattle-Tacoma, Washington-Honolulu, Hawai-Kepulauan Marshall, Majuro-Bandara Frans Kaisiepo, Biak. B737 Max 8 kemudian melanjutkan penerbangan ke Bandara Juanda di Surabaya untuk menjalani sertifikasi PBN.

Dalam keterangannya, Pahala juga menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mendatangkan pesawat baru selama periode 2018. Dengan kata lain, kehadiran B737 MAX 8 menjadi armada teranyar Garuda Indonesia. Selain ramai diperbincangkan karena kehadirannya melengkapi armada Garuda, B737 MAX 8 juga dinilai sebagai pesawat yang memiliki efisiensi bahan bakar lebih baik dari seri Boeing lainnya.

Ini dikarenakan oleh pengaplikasian Scimitar Winglet, dimana dalam pengaplikasiannya, winglet tambahan yang menjulur ke bawah ini berguna untuk memecah turbulensi udara yang terjadi di ujung sayap, saat pesawat berjalan dalam kecepatan tinggi. Secara otomatis, hambatan laju pesawat akan berkurang dan konsumsi bahan bakar menjadi lebih irit.

Baca Juga: Intip Kecanggihan dan Ruang Kabin Boeing 737 MAX 8 Garuda Indonesia

Selain membahas soal armada terbaru lengkap dengan kelebihannya, pihak Garuda juga mengutarakan niatnya untuk membuka sejumlah rute baru. Dalam jumpa pers di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta, Senin sore (18/12/2017), Pahala menyebut akan membuka 30 rute penerbangan baru di sepanjang 2018. “Sepertiga adalah rute baru untuk penerbangan internasional, dan dua pertiga adalah rute baru untuk penerbangan domestik.”

Meski sudah disebutkan jumlah rute baru, Ia menolak untuk memaparkan tentang jalur rute baru yang akan dibuka. “Mohon maaf detailnya belum bisa kami sampaikan, karena sifatnya rahasia, nanti kurang baik bila diketahui oleh kompetitor,” ujar Pahala.

Untuk pasar internasional, Pahala menyebut akan memberi porsi lebih kepada jalur baru di Cina. Seperti yang diketahui bersama, Cina menjadi pasar kedua terbesar Garuda Indonesia untuk penerbangan internasional setelah Australia.

Tuai Pro dan Kontra, Thailand Setujui Proyek Pembangunan Kereta Cepat dengan Cina

Setelah sebelumnya sempat menemui hambatan dan tertunda pembangunannya selama dua tahun, akhirnya Pemerintah Thailand memberikan lampu hijau berkenaan dengan pembangunan jalur kereta berkecepatan tinggi senilai $5,2 miliar ke pihak Cina.

Baca Juga: Thailand Setujui Mega Proyek Kereta Peluru dengan Cina

Adapun penundaan pembangunan ini dilatarbelakangi oleh masalah hukum, teknis, dan kesalahpahaman antara kedua belah pihak. Dengan adanya titik terang ini, diharapkan upaya Cina untuk menghubungkan negara-negara di Asia Tenggara menjadi terbuka lebar.

Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, keputusan Pemerintah Thailand pada bulan Juli untuk menyetujui jalur kereta api berkecepatan tinggi ke Cina ini disambut dengan gembira oleh pihak Beijing. Dengan dana sebesar $5,2 miliar atau yang setara dengan Rp74,2 triliun, proyek ini pada akhirnya diharapkan akan menghubungkan Kunming di sebelah selatan provinsi Yunan hingga ke Singapura, melalui Laos, Thailand dan Malaysia.

Tidak hanya berkenaan dengan urusan transportasi saja, hadirnya kereta cepat ini juga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki hubungan multilateral Thailand dengan berbagai negara. “Saya pikir cukup banyak kepentingan awal dari tim Thailand dalam memperkuat hubungan strategis dengan Beijing, terutama pada saat Junta Thailand dikucilkan oleh banyak negara demokrasi Barat,” ungkap Joshua Kurlantzick, seorang rekan senior untuk Asia Tenggara di Dewan Hubungan Luar Negeri. “Junta Thailand mungkin menggunakan kesepakatan tersebut untuk mengendurkan otot geopolitiknya,” tandasnya.

Sebelumnya, Junta Thailand yang dikepalai oleh Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha, dilaporkan telah menjanjikan penggelontoran dana sebesar $5,3 miliar untuk rencana pembangunan jalur sepanjang 850 km dalam jangka waktu empat tahun dari Bangkok hingga Nong Khai di perbatasan Laos.

Namun rencana pembangunan jalur kereta ini juga tidak sedikit menuai kontra, seperti yang dilontarkan oleh salah seorang dari Associate Policy Fellow di European Council on Foreign Relations, Agatha Kratz. Terlepas dari dampak positif yang mungkin dihadirkan pasca pembangunannya, ia malah mempertanyakan soal target pasar dari kereta tersebut. “Masih belum jelas apa sebenarnya tujuan dari proyek ini. Sebut saja rasio kereta penumpang dan barang yang belum ditentukan oleh kedua belah pihak,” ungkap Agatha. “Perhatikan, di sini proyeknya tidak berkecepatan tinggi, tapi direncanakan memiliki kecepatan medium, yaitu sekitar 160 km per am,” imbuhnya.

Baca Juga: Terbebas dari Status Skors, Kereta Peluru Cina Siap Mengular Kembali

Agatha menilai, akan lebih menguntungkan bagi Thailand jika dana proyek tersebut digunakan untuk berinvestasi dalam memperbaiki infrastruktur kereta api dan jalan di dalam teritorialnya sendiri. Ia juga menambahkan berbagai faktor sosio dan geopolitik juga perlu diperhitungkan di sini. Sejak merebut kekuasaan pada tahun 2014, Junta Thailand tidak malu menyelaraskan diri dengan Beijing, yang dengan pasti telah menghabiskan jutaan uang untuk pengadaan senjata dari Cina sebagai imbalan investasi dalam proyek-proyek lokal.

Menurut Anda, apakah proyek pembangunan ini akan terus berjalan walaupun ada banyak pro dan kontra yang menyertai perjalanannya?

Long Haul Low Cost Carriers, Solusi Terbang Jarak Jauh Tanpa Harus Kuras Dompet!

Secara umum, dunia penerbangan global terbagi ke dalam dua kategori, yaitu Full Services dan Low Cost Carriers (LCC). Sesuai dengan namanya, layanan Full Services sudah mencakup keseluruhan tetek bengek selama perjalanan, mulai dari apron tax, asuransi, hingga penganan selama penerbangan. Pun dengan rute yang disanggupi oleh layanan ini juga didominasi oleh penerbangan jarak jauh. Berbanding terbalik dengan layanan LCC yang semuanya serba terbatas dan rute penerbangannya yang mayoritas hanyalah penerbangan jarak pendek.

Baca Juga: Dilema Seat Pitch, Maskapai Tambah Untung Penumpang Merana

Namun, belakangan ini santer tersiar kabar mengenai keberadaan Long Haul Low Cost Carriers (LHLCC), layanan berbiaya rendah yang menyanggupi perjalanan jarak jauh yang memakan waktu perjalanan berjam-jam, nah lho! Memang, di satu sisi penumpang tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk mengudara dari satu negara ke negara lainnya, tapi di sisi lainnya banyak hal yang mesti dikorbankan  oleh para penumpangnya, salah satunya adalah kenyamanan selama mengudara.

Tidak bisa dipungkiri, layanan LCC erat kaitannya dengan jumlah kursi yang dipadatkan di dalam kabin sehingga berpengaruh terhadap sempitnya ruang antara kaki penumpang dengan kursi yang berada di depannya (Seat Pitch sempit). Pun dengan hiburan yang harus disiapkan sendiri oleh penumpang, karena di hampir semua layanan LCC tidak menyediakan media entertainment bagi para penumpangnya, berbeda dengan layanan Full Services.

Banyaknya poin minus di layanan LCC ternyata tidak menyurutkan pihak maskapai untuk menyediakan layanan penerbangan jarak jauh. Sebut saja AirAsia X, Eurowings, Jetstar, LEVEL, Norwegian, Scoot, WOW Air merupakan beberapa nama maskapai yang menyediakan layanan LHLCC. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman runwaygirlnetwork.com (30/12/2017), tahun 2018 diprediksi sebagai tahun yang gemilang untuk layanan LHLCC ini. Bagaimana tidak, pihak maskapai bisa meraup untung besar karena penumpang akan lebih tertarik untuk menggunakan layanan LHLCC ini  ketimbang layanan Full Service yang harganya terkenal melangit.

Hadirnya layanan LHLCC ini juga merupakan bukti nyata dari ketatnya persaingan di dunia aviasi global. LHLCC juga memungkinkan sejumlah kelompok maskapai induk untuk bereksperimen dengan berbagai cara, tanpa merugikan merek penerbangan Full Services yang ada di dalam keluarganya (Seperti Garuda Indonesia yang merupakan induk perusahaan dari Citilink). Dalam kebanyakan kasus, LHLCC memberi kesempatan kepada kelompok maskapai penerbangan untuk memperluas jangkauan dasarnya dengan biaya operasional yang lebih rendah.

Melambungnya harga layanan Full Services yang diterapkan oleh suatu maskapai penerbangan dan sepinya permintaan dari penumpang membuat para pegiatnya memikirkan cara bagaimana bisa menjaring penumpang yang hendak bepergian jarak jauh tanpa mereka harus merogoh kocek yang dalam. Seperti halnya menyajikan layanan kelas dua di kategori Full Services, akhirnya menelurkan satu ide untuk menghadirkan layanan LHLCC.

Walaupun pihak maskapai harus mengorbankan kenyamanan penumpangnya dengan memadatkan kursi di dalam kabin, namun taktik ini dinilai ampuh untuk menjaring lebih banyak penumpang yang hendak terbang jauh dengan budget yang terbatas.

Baca Juga: IATA: LCC Berkibar, ASEAN Bakal Jadi Kawasan Pertumbuhan Penerbangan Tercepat

Ditinjau dari segi armada, ambil contoh Jetstar yang menggunakan Airbus A330-200 untuk mengudara dari Sydney menuju Honolulu. Konfigurasi kursi yang digunakan oleh anak  perusahaan dari Qantas ini adalah 2 – 4 – 2, dengan kursi yang memiliki pitch 31 inci (79 sentimeter) dan lebar 17 inci (43cm).

Dilansir dari sumber terpisah, penerbangan bertarif rendah ini dapat ‘disulap’ menjadi lebih nyaman dengan biaya tambahan senilai $10 (Rp135.000) yang mencakup neck pillow, sikat dan pasta gigi, erarplugs, kaos kaki, lip balm, hingga peminjaman selimut selama perjalanan. Tapi Comfort Pack yag ditawarkan oleh pihak maskapai ini harus terlebih dahulu dipesan, tidak bisa Anda menambah layanan ini secara mendadak.

Selain Comfort Pack tadi, pihak Jetstar juga melayangkan penawaran untuk penyewaan iPad selama perjalanan. Harga yang ditawarkan berkisar antara $15 hingga $18 (Rp 200.000 hingga Rp240.000) dalam sekali penerbangan. Sebuah harga yang bisa dibilang pantas daripada Anda harus bengong selama mengudara.

Akibat “Teror” Kotoran Manusia, Penerbangan United Airlines Terpaksa Dialihkan

Lama tak tersiar kabar dari salah satu maskapai wahid Negeri Paman Sam, United Airlines. Baru-baru ini, maskapai yang bermarkas di Chicago, Illinois, Amerika Serikat ini kembali menghebohkan dunia pemberitaan global setelah salah satu armadanya mendapat teror dari salah satu penumpangnya. Alhasil, penerbangan tersebut dialihkan ke luar jalur yang semestinya dan penumpang sempat terlantar selama masa pengalihan tersebut.

Baca Juga: Pelayanan Buruk Malah Dongkrak Laba United Airlines, Kok Bisa?

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, armada United yang tengah melakukan perjalanan jarak jauh dari Chicago menuju Hong Kong tersebut terpaksa dialihkan ke Ted Stevens Anchorage International Airport di Alaska pada Kamis (4/1/2018) kemarin. Pesawat yang tengah mengangkut lebih dari 200 penumpang tersebut terpaksa dialihkan menuju Alaska setelah toilet di dalam penerbangan itu diteror dengan menggunakan kotoran manusia.

“Kami menerima laporan bahwasanya seorang penumpang telah mengotori tembok toilet pesawat dengan kotorannya sendiri,” tutur juru bicara Polisi Bandara Ted Stevens Anchorage International Airport, Letnan Joe Gamache. Ketika diinterogasi oleh polisi bandara, pria yang disinyalir sebagai warga Amerika yang berdomisili di Vietnam ini bersikap kooperatif dan tidak melakukan ancaman apapun.

Setelah diyakini tidak akan melakukan ancaman apapun terhadap awak kabin dan penumpang, akhirnya pria berusia 22 tahun tersebut digelandang menuju pos pemeriksaan, lengkap dengan borgol dan pengawalan dari pihak kepolisian bandara guna pemeriksaan lebih lanjut.

Sama seperti pemeriksaan awal selama berada di dalam pesawat, pria yang namanya enggan dibongkar tersebut menunjukkan sikap kooperatif dan mengaku tidak mengetahui apa yang melatarbelakangi tindakan berbau teror ini. “Tidak ada biaya yang sesuai untuk kejahatan apapun,” imbuh Lt Joe.

Setelah melewati serangkaian pemeriksaan yang didampingi oleh penerjemah, pria tersebut lalu dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan mental dan hasilnya akan digunakan untuk pertimbangan langkah hukum apa yang selanjutnya akan ditempuh.

Dalam sebuah pernyataan resmi, pihak United mengatakan bahwa armada Boeing dengan nomor penerbangan UA895 tersebut terpaksa dialihkan karena penumpang yang dinilai mengganggu. Sementara itu, bagi penumpang yang berada di dalam penerbangan tersebut akan disiapkan akomodasi hotel hingga pesawat siap untuk melanjutkan perjalanan kembali.

Baca Juga: Minta Maaf Dua Kali, United Airlines Berdamai Dengan David Dao

Sebelumnya, kasus yang ‘mengharumkan’ nama United adalah tindak kekerasan yang dilakukan oleh kru maskapai terhadap seorang penumpang bernama Dr. David Dao. Pria yang berprofesi sebagai dokter tersebut diseret secara tidak manusiawi keluar dari pesawat hingga mengalami luka yang cukup parah pada bagian kepalanya.

Seolah belum kapok dengan aksi yang mengundang respon negatif dari seluruh penjuru dunia ini, nama United kembali menjadi perbincangan sarat emosi setelah permintaan maaf yang dilontarkan langsung oleh Oscar Munoz selaku CEO maskapai tersebut dinilai tidak sungguh-sungguh dan terkesan mengandung unsur penghinaan.

Ada-ada saja, ya!

Perusahaan Bus di California Hadirkan Peta Audio dan Tactile Untuk Kaum Difabel

Serangkaian upaya telah dilakukan otoritas penyelenggara transportasi untuk memudahkan aksesbilitas penyandang tunanetra. Salah satu yang lumrah kita lihat adalah pemasangan tactile paving (ubin dengan ornamen timbul) yang fungsinya memudahkan navigasi kaum difabel. Sayangnya selain tactile paving, belum banyak pra sarana pendukung transportasi yang dihadirkan untuk penyandang tunanetra.

Baca juga: Sering Terlupakan, Tactile Paving Penting Sebagai “Pemandu” Kaum Difabel

Namun lain halnya dengan San Joaquin Regional Transit District (RTD), perusahaan pengelola bus regional di kota Stockton, California, Amerika Serikat. Operator bus ini meluncurkan layanan baru untuk penumpang tunanetra. Layanan baru tersebut adalah peta audio dan taktil (tactile) “Talk to Me“.

KabarPenumpang.com merangkum dari laman cal.streetsblog.org (18/12/2017), peta audio ini digunakan untuk membantu para tunanetra menuju titik A ke titik B, dimana tersedia jalur halte dan terminal bus. Peta RTD taktil terikat spiral dalam sebuah buku besar. Setiap halaman memiliki gambaran tentang terminal transit, dengan deskripsi terminal dan petunjuk dimana naik bus dan dimana toilet dan loket loket berada. Peta ini tersedia di empat terminal RTD, yakni Downtown Stockton, Manteca, Lodi, dan Tracy. Peta audio ini dibuat oleh Media and Accessible Design Lab team yang berbasis di San Francisco. Mereka memiliki desain tactile yang tidak berantakan dan dicetak dengan warna kontras.

Ini memudahkan penyandang tunanetra menjalankan jari mereka karena ada label, kunci dan instruksi dalam huruf braille. Peta ini juga dipasangkan dengan pena Livescribe yang bisa mengeluarkan suara dan memberikan informasi audio bagi penumpang tunanetra.

Peta ini bekerja dengan menanggapi pola microdot yang tercetak di peta, menggunakan teknologi pengambilan data digital yang dikembangkan oleh Anoto. Petanya cukup sederhana bagi orang yang dapat melihat, dan memberikan banyak informasi kepada tunanetra.

Joni Bauer, seorang spesialis orientasi dan mobilitas di Pusat Komunitas Kaum Difabel yang berbasis di Stockton, bekerja dengan klien yang berkisar dari orang-orang buta sejak kelahiran hingga yang berangsur-angsur kehilangan penglihatan mereka. Dia mengatakan bahwa tidak semua dari mereka membaca huruf braille, dan fitur pembicaraan peta berguna bagi orang yang belajar menavigasi sistem transit.

Will Butler, direktur komunikasi Lighthouse for the Blind, mengatakan bahwa salah satu masalah besar yang dihadapi orang-orang dengan gangguan penglihatan atau kebutaan hilang pada gambaran umum lokasi tertentu. Garis embossed pada peta adalah upaya untuk membantu menciptakan gambaran umum tersebut.

Peta taktil dan audio LightHouse sudah digunakan oleh BART dan sistem Muni di Bay Area, namun San Joaquin RTD adalah agen transit pertama di Central Valley untuk memanfaatkan sumber ini. Organisasi ini juga menciptakan peta taktil untuk taman dan museum negara bagian, dan sedang mengerjakan perangkat lunak yang memungkinkan seseorang mencetak peta sentuhan di rumah, dengan peralatan yang tepat.

“Semua yang kita lakukan untuk komunitas buta kembali ke mobilitas. Karena kebanyakan sistem wayfinding dirancang secara visual. Lighthouse menghabiskan banyak waktu membuat mobilitas lebih adaptif,” kata Butler.

Seperti semua agen angkutan umum, RTD harus mematuhi Undang-Undang Penyandang Cacat Amerika dengan menghilangkan hambatan untuk mengakses orang-orang yang tunanetra. Agensi ini diharuskan menyediakan menu sumber daya seperti paratransit, bus berlutut, signage braille dan bantuan audio pada mesin yang mengeluarkan tarif.

Baca juga: moBiel, Vending Machine Yang Akrab Bagi Penyandang Disabilitas

Proyek peta audio dan tactile tersebut bernilai $15 ribu, dan memerlukan banyak kolaborasi antar agensi untuk memastikan peta mudah digunakan dan informasi tentang informasi tersebut benar. Mulai bulan Januari 2018, RTD akan mengubah beberapa rute dan pemberhentiannya dan akan menambahkan stasiun baru, namun yang harus dilakukan oleh agen hanya menelepon LightHouse dan meminta mereka membuat halaman peta baru.

Gandeng Google, KLM Hadirkan ‘Asisten Pribadi’ Bagi Calon Penumpang

Dalam upayanya untuk meningkatkan pelayanannya kepada para penumpang, maskapai kebanggaan Negeri Kincir Angin, KLM baru-baru ini meluncurkan sebuah teknologi interactive voice-driven pack assistant di Beranda Google. Peluncuran inovasi ini dipercaya dapat membantu penumpang untuk menganjurkan barang yang hendak dibawa sesuai dengan destinasi yang mereka tuju.

Baca Juga: Qatar Airways, KLM dan Bandara Heathrow Sabet Penghargaan di Future Travel Experience Awards

Tidak hanya menganjurkan barang apa saja yang harus dibawa, inovasi ini juga dapat menginformasikan durasi perjalanan, cuaca di destinasi, dan menawarkan alternatif bagi penumpang tentang apa saja yang bisa mereka lakukan di destinasi tujuan.

“KLM terkenal dengan pendekatan pribadinya terhadap penumpang. Layanan baru KLM di Google Home dengan Blue Bot (BB) adalah langkah lanjutan dalam strategi digital inovatif dan langkah pertama dalam hal suara, menawarkan layanan pribadi melalui Google Home dengan bantuan kecerdasan buatan,” tutur Wakil Presiden Senior Digital Air France-KLM, Pieter Groeneveld, dikutip KabarPenumpang.com dari laman runwaygirlnetwork.com (13/12/2017).

“Blue Bot sendiri merupakan bot service KLM yang mendukung  penumpang dengan teknologi smart interactive voice-driven. Layanan ini juga tersedia di perangkat yang dilengkapi dengan aplikasi Google Assistant,” imbuh Pieter. Lebih lanjut, ia juga mengatakan ada fitur lain yang dapat diakses oleh penumpang melalui kerja sama yang KLM jalin dengan pihak Google.

“Dalam waktu dekat, para calon penumpang juga dapat mengirim daftar pengingat melalui Beranda Google ke saluran media sosial yang mereka pilih. Alih-alih mereka tidak dapat mengemas barang tertentu secara instan, termasuk kemungkinan visa yang perlu diatur,” tandasnya.

Untuk memudahkan pengenalan BB ini, KLM mengunggah video berdurasi satu menit ke jejaring sosial Youtube. Dalam video tersebut, terlihat benda menyerupai pengeras suara yang dapat diajak interaksi. Pengeras suara berwarna putih tersebut dapat secara rinci menyarankan barang-barang apa saja yang sekiranya mesti dibawa oleh calon penumpang, seperti visa hingga pakaian dalam yang cukup selama durasi mereka bervakansi.

Anda tidak perlu mengeluarkan mengeluarkan kocek lagi untuk membeli gadget yang menyerupai pengeras suara tersebut, cukup menggunakan fitur yang tersedia di Google Assistant saja.

Baca Juga: Qantas Airways – The “Flying Kangaroo” Rajai Maskapai Teraman di Dunia

Diketahui, BB mulai beroperasi sejak bulan September 2017 sebagai bagian dari perpindahan KLM ke Facebook Messenger dan sekarang berkembang ke dunia otomasi berbasis suara.

Sejak tahun 2009 silam, KLM telah mendapatkan reputasi sebagai pelopor dalam bidang layanan media sosial dan kampanye. Melalui sejumlah platform media sosial seperti WhatsApp, Facebook, Messenger, Twitter, WeChat dan KakaoTalk, KLM seolah menjelma menjadi maskapai yang sangat mengerti kebutuhan para pelanggan setianya.

Terhitung sejak tahun 2016, KLM mulai memperkenalkan sistem Digital Genius artificial intelligence (AI) yang akan menjawab semua pertanyaan yang masuk ke dalam jejaring sosial mereka. Wajar saja jika upaya mendekatkan diri kepada pelanggan ini menuai banyak respon positif dari berbagai kalangan yang merasa kebutuhannya dibantu secara langsung oleh pihak KLM.

Diterjang Badai Salju, Halte Bus di Cina Ambruk Tewaskan Calon Penumpang

Badai salju kini tengah melanda daratan Cina, satu orang dilaporkan tewas dan 20 lainnya luka-luka akibat lima halte bus ambruk di Hefei, ibukota Provinsi Anhui di Cina Bagian Timur, Kamis (4/1/2018). Penumpang yang meninggal diketahui seorang wanita berusia 61 tahun.

Baca juga: Kenapa Kapal Pesiar Bisa Tahan Terjangan Badai? Ternyata Jawabannya Sangat Sederhana!

Musibah ini berawal dari badai salju yang terjadi pada Rabu (3/1/2018) dan membuat salju menumpuk setebal 30 cm di halte-halte bus. KabarPenumpang.com mengabarkan bahwa kejadian ambruknya halte bus ini terjadi pada jam sibuk dimana para penumpang menunggu bus pada halte-halte tersebut.

“Kejadian itu terjadi pada jam sibuk, Banyak penumpang menunggu di bawah atap untuk menunggu bus. Atap tiba-tiba saja hancur tanpa ada peringatan apapun,” ujar seorang saksi yang di kutip KabarPenumpang.com dari laman gbtimes.com (5/1/2018).

Halte yang runtuh di Hefei, Cina Timur (www.szdaily.com)

Diketahui kurang dari satu tahun sebanyak 15 halte di Hefei runtuh total dan semuanya berada di Jalan Wangjiang, Hefei. Akibat ambruknya halte-halte ini, masyarakat mempertanyakan kualitas dari bangunan halte tersebut dan mengkritik pekerjaan konstruksi yang di anggap buruk ini.

Kemudian ada juga yang mempertanyakan siapa yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Zhang Jiaxiang, kepala Biro Manajemen Proyek Utama yang menanggapi runtuhnya halte-halte ini mengatakan, tim tanggap darurat telah dibentuk dalam semalam untuk melakukan penyelidikan di tempat kejadian.

Jiaxiang juga berjanji, jika tim penyelidikan telah menemukan alasan runtuhnya halte-halte tersebut, maka masyarakat akan segera diberitahu alasannya. Selain runtuhnya halte-halte bus, tiga bandara di tutup dan sembilan lainnya mengalami penundaan cukup lama karena badai salju yang lebat.

Dua diantara bandara yang ditutup tersebut berada di Anhui yakni Bandara Internasional Hefei Xinqiao dan bandara Fuyang Xiguan. Adanya peringatan terkait badai salju ini sendiri sudah disampaikan oleh observatorium provinsi.

Satu bandara lainnya yakni andara Jining Qufu di provinsi pesisir Shandong telah ditutup. Beberapa landasan pacu di bandara lain juga ditutup dan menyebabkan penundaan. Tak hanya itu, akibat badai salju ini aktivitas di Bandara Internasional Beijing juga ikut terkena dampak dengan penundaan pemberangkatan. Beberapa jalan raya di Henan Tengah dan Ningxia barat laut juga ditutup karena salju.

Baca juga: Belanda Diterpa Cuaca Buruk, Bandara Schiphol Bakal Lebih Sepi di Akhir Tahun

Salju salju di Xian, ibu kota provinsi Shaanxi, juga menyebabkan tertundanya banyak kereta berkecepatan tinggi. Pusat meteorologi mengatakan hujan lebat atau salju di kawasan pusat dan timur China selama minggu depan.