Kecelakaan serius terjadi di bandara Heathrow London, Rabu (14/2/2018) kemarin, di terminal lima yang melibatkan dua orang anggota staf dan satu diantaranya meninggal dunia serta lainnya patah tulang. Kejadian ini terjadi sekitar pukul 06.00 pagi waktu setempat dimana melibatkan dua kendaraan operasional.
Adanya kecelakaan ini memuat penundaan hingga dua jam pada lebih dari 20 penerbangan termasuk British Airways. KabarPenumpang.com melansir dari laman dailymail.co.uk (14/2/2018), penumpang mengeluhkan kebingungan dan penundaan yang terjadi pada pesawat mereka di bandara Heathrow London.
Karena kecelakaan ini, pihak bandara memanggil polisi dan Ambulance Service untuk menolong para korban. Dimana satu orang staf korban kecelakaan tersebut mengalami patah tulang bahu dan seorang petugas berusia 40 tahun yang dibawa kerumah sakit mengalami luka serius dan tidak tertolong.
Dua kendaraan yang bertabrakan di bandara Heathrow London (Dailymail)
“Kami memastikan setelah terjadi kecelakaan serius yang melibatkan dua kendaraan di lapangan terbang kami, satu rekan bandara meninggal dunia. Dukacita terdalam kami pergi ke keluarga dan teman-teman yang terkena dampak kecelakaan ini. Kami akan sepenuhnya bekerja sama dengan Polisi dalam penyelidikan yang akan menyusul,” ujar juru bicara bnadara Heathrow.
Sedangkan juru bicara British Airway mengatakan, pihaknya sangat sedih dengan kejadian tragis ini dan menawarkan untuk pembiayaan perawatan penuh serta dukungan untuk keluarga korban.
“Kami telah meminta maaf kepada pelanggan atas penundaan sejumlah kecil penerbangan kami pagi ini, menyusul sebuah insiden yang melibatkan dua kendaraan operasional di bandara tersebut. Kami melakukan semua yang kami bisa untuk memastikan mereka dapat segera berangkat sesegera mungkin,” ujar juru bicara BA.
Atas insiden ini, pihak bandara mengonfirmasi kejadian tersebut di Twitter dan mengatakan mungkin ada penundaan. Adanya tweet dari pihak bandara membuat salah seorang bercuit di akun Twitternya, “Rupanya telah terjadi kecelakaan di salah satu landasan pacu di @HeathrowAirport dan banyak pesawat (termasuk yang satu ini) diparkir di landasan dengan penundaan jam yang tidak ditentukan.”
Sedangkan seorang penumpang penerbangan Zurich mengatakan, para penumpang naik dan menunggu, kemudian kapten pesawat meminta maaf dan menunda pengumuman lanjutan.
“Sepertinya beberapa staf bandara atau maskapai penerbangan mungkin terluka dan polisi meminta sebuah area ditutup sehingga mencegah beberapa pesawat meninggalkan gerbang mereka,” ujar penumpang tersebut.
Suksesnya pencapaian proyek MRT Jakarta fase I yang telah mencapai 91 persen, sudah barang tentu tak terlepas dari dukungan para kontraktor. Dan sebagai wujud apresiasi, hari ini (15/2/2018), PT MRT Jakarta memberikan penghargaan terkait Safety, Health, Environment, Security (SHES) Award 2018 kepada kontraktor proyek MRT Jakarta.
Ajang penghargaan SHES Award 2018 ini terbagi menjadi lima kategori penerapan SHES, yaitu Di Atas Empat Juta manhour, Tanpa Kecelakaan; Subkontraktor Terbaik; Karyawan Terbaik; Improvement SHES Terbaik, dan Kontraktor Terbaik.
“Masing-masing kategori memiliki kriteriapenilaian yang didasarkan pada aspek-aspek SHES yang diterapkan di proyek ini, seperti berhasil untuk meningkatkan sistem manajemen kesehatan, lingkungan, dan keselamatan kerja atau berkontribusi aktif pada Program Identifikasi Bahaya, termasuk melakukan langkah-langkah mitigasi risiko di area kerja,” ungkap Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar dalam siaran pers.
“Perusahaan terus memutakhirkan strategi dan program-program yang terkait dengan aspek SHES setiap tahunnya, menyesuaikan perkembangan terbaru di bidang SHES yang berlaku secara internasional,” lanjutnya. Sebagai kontraktor terbaik adalah Sumitomo-Mitsui-Hutama Karya (SMCC-HK) dan SHES Imrovement terbaik adalah Tokyu-Wika Joint Operation (TWJO). Sementara kontraktor yang meraih empat juta jam kerja tanpa kecelakaan adalah Shimizu-Obayashi-Wijaya Karya-Jaya Konstruksi Joint Venture (SOWJJV) telah mencapai 4.494.320 jam kerja.
Masih ingatkah Anda tentang sebuah stasiun kereta kecil di Jepang yang hanya melayani seorang penumpang saja? Ya, Stasiun Kami-Shirataki yang terletak di Engaru, Hokkaido ini memperpanjang masa operasinya hanya demi menjemput dan mengantarkan seorang gadis yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Entah kebetulan atau bukan, stasiun yang berada di bawah kendali JR Hokkaido ini akhirnya resmi ditutup tidak lama setelah gadis ini menyelesaikan masa pendidikannya.
Nah, ternyata hal seperti ini tidak hanya terjadi di Jepang lho! Di Rusia, ada layanan kereta api yang hanya melayani dua orang penumpang saja. Adalah Karina Kozlova, seorang gadis berusia 14 tahun dan neneknya, Natalia Kozlova yang tinggal di wilayah terpencil bernama Poyakonda ini setiap harinya ‘dilayani’ oleh kereta api jarak jauh Saint Petersburg – Murmansk baru-baru ini.
Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, surat kabar setempat mengabarkan bahwa operator kereta yang mengoperasikan rute ini sudah mulai memberlakukan pemberhentian di Stasiun Poyakonda hanya untuk memberikan tumpangan kepada cucu dan nenek Kuzlova ini. Kurang lebih sudah 10 tahun cucu dan nenek Kuzlova ini diantar-jemput oleh kereta lokal yang mengular di jalur utama Rusia ini.
Sedikit berbeda dengan yang ada di Jepang, kereta lokal ini sebelumnya hanya berhenti di Stasiun Poyakonda dua kali sehari hanya untuk mengantar jemput para pegawai kereta api yang kebetulan tinggal di daerah sana. Mau tidak mau, Karina dan Natalia lah yang harus menyesuaikan diri dengan jadwal yang sudah berlaku sebelumnya. Mereka akan dijemput pada pukul 06.30 waktu setempat, dan akan diantarkan pulang oleh kereta yang berangkat pada pukul 19.10 waktu setempat.
“Kira-kira sampai rumah sekitar pukul 21.00,” ujar mereka. Mengingat kereta lokal ini hanya melintasi wilayah Poyakonda selama dua kali dalam sehari, maka mau tidak mau Karina dan Natalia menghabiskan lebih dari setengah hari mereka di luar rumah. Natalia yang merupakan pensiunan guru TK ini melakukan perjalanan panjang setiap harinya hanya demi mengantar jemput cucu kesayangannya dan anak-anak lain di wilayah Poyakonda.
“Dulu, setiap pagi, saya menunggu anak-anak lain di kedai desa lalu berjalan sekitar 1 kilometer untuk tiba di Stasiun Poyakonda,” ujar Natalia. “Sepulang sekolah, saya bersama cucu dan anak-anak lain menempuh perjalanan jauh untuk pulang ke Poyakonda,”imbuh Natalia, dikutip dari laman bbc.com (9/2/2018).
Namun, entah bagaimana cerita perjuangan Karina dan Natalia ini bisa sampai tersebar luas, sehingga operator kereta jarak jauh yang menghubungkan Saint Petersburg – Murmansk ini memutuskan untuk menambah titik pemberhentian kereta, yaitu di Stasiun Poyakonda hanya untuk melayani duo cucu dan nenek ini. Dengan diberlakukannya peraturan baru ini, Karina dan Natalia tidak perlu lagi menunggu hingga matahari terbenam untuk pulang ke rumah.
Tidak ada seorang pun yang mengharapkan proses lepas landas tidak berjalan dengan mulus, begitupun dengan penumpang yang berada di dalam pesawat Boeing 737-800 maskapai SpiceJet beberapa waktu yang lalu. Sebanyak 199 penumpang yang berada di dalam Low Cost Carrier (LCC) asal India ini harus berbesar hati menyaksikan secara langsung dua drama yang sarat akan adrenalin dari dalam pesawat. Tak ayal, nuansa perjalanan yang menyenangkan pun sontak berubah menjadi mencekam.
Berdasarkan lansiran yang dikutip KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, maskapai SpiceJet yang hendak lepas landas dari Bandara Internasional Chennai pada Kamis (8/2/2018) siang mengalami masalah pada landing gear mereka. Sayangnya, masalah pada perangkat utama pendaratan ini baru terdeteksi ketika pesawat sudah berjalan di landas pacu.
Pilot maskapai ini pun baru mengetahui ada masalah pada landing gear ketika pihak Air Traffic Controller (ATC) berusaha menghubungi mereka melalui jaringan telekomunikasi. Namun tidak ada istilah ‘batal mengudara’ ketika pesawat sudah menyentuh landas pacu, terlebih ketika pesawat sudah memacu penuh tenaga pendorongnya. Alhasil, drama pertama pun dimulai ketika maskapai SpiceJet ini mengudara dengan kondisi landing gear yang rusak.
Berdasarkan pantauan petugas ATC Bandara Internasional Chennai, mereka melihat kepulan api yang melahap ban belakang dari armada SpiceJet ini ketika pesawat hendak lepas landas. Beberapa saat setelah pesawat meninggalkan daratan, ban kanan belakang yang berapi-api tersebut pun meledak. Imbasnya, cairan hidrolik yang tersimpan dekat dengan ban ini membanjiri landas pacu utama bandara tersibuk ketiga di India ini.
Pilot SpiceJet yang tiada henti berkomunikasi dengan pihak ATC terus berusaha untuk mendaratkan pesawat yang berada dalam kondisi tidak prima tersebut. Opsi pertama pesawat bisa mendarat di Bandara Vijayawada, namun sayangnya bandara tersebut tidak memiliki fasilitas pendaratan darurat yang memadai. Akhirnya pihak ATC Bandara Internasional Chennai memerintahkan maskapai SpiceJet yang tengah bermasalah tersebut untuk return to base ke landas pacu Chennai.
Setelah mendapat lampu hijau dari petugas ATC, pilot lalu melakukan pendaratan darurat di landas pacu Bandara Chennai. Kendati maskapai SpiceJet tersebut mengalami pecah ban, namun pilot tetap bisa mendaratkan pesawat dengan selamat. Kondisi ban yang sudah tidak terlindung karet ini membuat landas pacu tersebut rusak. Walaupun sudah melewati dua drama menegangkan dalam penerbangan gagal tersebut, namun keseluruhan penumpang dan awak kabin SpiceJet selamat.
Alhasil, pihak bandara harus menutup sementara proses penerbangan dan pendaratan hingga pukul 18.45 waktu setempat. Sejumlah maskapai yang dijadwalkan berangkat pada rentang waktu tersebut pun terpaksa mengalami keterlambatan penerbangan.
Drama lain kembali muncul ketika pihak ATC Bandara Internasional Chennai menerima laporan dari sebuah pesawat kargo asal Ethiopia yang meminta ijin untuk melakukan pendaratan darurat dikarenakan bahan bakar mereka hampir habis. Padahal landas pacu bandara tersebut masih ditutup karena kerusakan yang terjadi akibat pendaratan darurat maskapai SpiceJet.
Setelah melakukan beragam pertimbangan, akhirnya petugas ATC Chennai mengijinkan pesawat kargo tersebut untuk melakukan pendaratan darurat di landas pacu kedua mereka.
Ketika berbicara mengenai ganja yang terpikir adalah narkoba atau obat-obatan terlarang dan melanggar hukum. Namun, apa jadinya jika beberapa negara saat ini sudah memperbolehkan membawa tanamana ganja ini dan menjadi buah tangan saat menggunakan sebuah penerbangan?
Baca juga:Mau Bawa Snow Globe Selama Penerbangan? Sebaiknya Kemasi di Dalam Koper
Pada Januari 2018 kemarin, California terdaftar sebagai salah satu Negara Bagian di Amerika Serikat yang melegalkan adanya ganja. KabarPenumpang.com merangkum dari laman usatoday.com (7/2/2018), dikabarkan bahwa saat ini satu diantara lima orang Amerika membawa ganja dalam pot sebagai buah tangan.
Tapi jika Anda masih ragu untuk mebawa ganja, baiknya hati-hati bahkan tidak perlu dibawa. Sebab ganja atau mariyuana ini masih merupakan obat ilegal dibawah undang-undang federal dan daerah pasca keamanan di bandara yang diperintah oleh badan-badan federal.
Seperti di Washington, Oregon, Colorado, Alaska dan Nevada, membawa ganja dalam pot serta dibeli secara legal dan melewati pos pemeriksaan keamanan di negara bagian yang paling padat penduduknya masih dapat memicu respon penegak hukum. Transportation Security Administration (TSA) mengatakan, petugas pemeriksa tetap berfokus pada keamanan, mendeteksi senjata, bahan peledak dan ancaman lain yang bisa menganggu penerbangan dan tidak mengendus obat terlarang.
Kampanye tentang ganja legal
Memang mereka tidak terlalu memeriksa terkait ganja, tetapi jika petugas TSA menemukan ganja serta zat ilegal lainnya selama pemeriksaan bagasi, kebijakan akan berlaku dan akan menghubungi penegak hukum bandara setempat.
“Bawaan penumpang dan tujuan penumpang tidak diperhitungkan. Respon TSA terhadap penemuan ganja sama di setiap negara bagian dan di setiap bandara, terlepas dari apakah ganja telah atau akan dilegalisir,” kata juru bicara TSA Lorie Dankers.
Menurut polisi bandara Los Angeles, pihaknya yang berada di bandara Los Angeles dan Southern California lainnya, untuk penumpang yang dihentikan oleh pihak TSA dengan aduan masalah ganja, mereka tidak akan meminta apapun. Sebab membawa ganja bukanlah suatu kejahatan. Hal ini juga berlaku di bandara John Wayne di Orange County.
“Jika TSA memanggil ketika menemukan ganja, kami akan naik dan memastikan jumlahnya sesuai dengan hukum. Jika begitu, kami hanya akan berdiri sementara penumpang memutuskan apa yang harus dilakukan dengan hal itu. TSA mungkin tidak menginginkannya terbang, tapi bukan berarti itu ilegal di California,” ujar Letnan Mark Gonzales, Kepala Dinas Kepolisian Bandara departemen Sheriff.
Dia mengatakan, hingga saat ini, timnya belum pernah ada yang dipanggil ke pos pemeriksaan bandara oleh pihak TSA untuk menangani masalah ganja. Gonzales berujar, sepertinya penumpang tahu dan membaca peraturan, apa yang harus mereka lakukan saat melewati pos pemeriksaan.
Sedangkan di bandara yang tidak melarang membawa ganja, penegak hukum setempat di panggil oleh pihak TSA untuk menjelaskan pilihan pada penumpang dan mungkin termasuk membuangnya ke tempat sampah. Tak hanya itu, penumpang juga bisa mengembalikan ke dalam mobil atau bisa dikatakan ganja tersebut tidak bisa dibawa dalam sebuah penerbangan meski legal.
Bulan November 2017 lalu, Organa Brands memasang iklan mereka pada baki di pos pemeriksaan Bandara Internasional Ontario. Dengan pesan yang berbunyi “Ganja legal. Tetapi tidak bepergian dengan membawa itu. Biarkan saja di California.”
Juru bicara Organa Brands, Jackson Tilley mengatakan, pihaknya yakin, jika pesan yang ada di baki tersebut adalah postif. Meskipun dia mengatakan, perusahaan tersebut tidak terlalu terkejut ketika sebulan setelah kampanye pesan-pesan tersebut dilepas.
Saat ini di San Francisco, Long Beach atau bandara California lainnya sudah tidak ada lagi iklan dibaki pemeriksaan terkait ganja. Tetapi di Nevada yang mana ganja menjadi legal sejak Juli 2017 lalu memiliki cerita berbeda. Bandara Internasional Reno-Tahoe memiliki tanda di area merokok yang mengingatkan pelancong bahwa penggunaan ganja tidak diperbolehkan.
“Secara umum, kami belum melihat dampak yang besar dari undang-undang baru ini di bandara. Namun, kami mengamati dengan seksama bandara lain dan bagaimana penanganannya dengan situasi unik ini,” kata juru bicara bandara Heidi Jared.
Di Bandara Internasional McCarran di Las Vegas, ada larangan bandara secara resmi bagi yang memiliki ganja, dengan pemberitahuan tentang keputusan Komisi County Clark yang dimuat di situs bandara. Mulai bulan depan, tanda-tanda tentang kotak kebijakan dan amnesti untuk ganja serta produk ganja lainnya akan dipasang di lokasi-lokasi utama di McCarran, termasuk di fasilitas penyewaan mobil bandara.
“Kotak pembuangan ini akan berada di luar gedung, bukan di pos pemeriksaan. Tujuannya agar produk ganja tidak diijinkan di manapun di dalam gedung, baik itu sebelum atau sesudah keamanan,” kata juru bicara McCarran Chris Jones.
Sementara itu, di Colorado, pada tahun 2014 adalah negara bagian pertama yang melisensikan toko untuk menjual ganja, tetapi Bandara Internasional Denver masih mempertahankan kebijakannya untuk melarang ganja di manapun pada properti bandara.
“Polisi meminta penumpang yang ditemukan dengan mariyuana atau ganja untuk membuang obat tersebut. Tapi kita sudah memiliki beberapa contoh sehingga kita tidak bisa melacak kontak ini lagi,” kata juru bicara bandara Heath Montgomery.
Ada-ada saja memang ulah penumpang yang akhirnya menimbulkan imbas buruk tidak hanya kepada penumpang penerbangan lain, melainkan juga kepada pihak maskapai. Setelah pada 29 Juli 2017 silam, seorang penumpang maskapai Spirit Airlines membuat penerbangan menuju Oakland, California ini sempat tertunda selama kurang lebih 30 menit. Penumpang yang diduga mengalami gangguan pada kejiwaannya ini dilaporkan menanggalkan pakaiannya sesaat sebelum memasuki kabin.
Kali ini, seorang perokok menyebabkan sebuah penerbangan dari Bandara Auckland, Selandia Baru mengalami keterlambatan selama kurang lebih dua jam. KabarPenumpang.com melansir dari berbagai laman sumber, kejadian yang terjadi pada Minggu, 11 Februari 2018 ini berawal ketika seorang wanita datang ke Bandara Auckland dan melewati proses skrining secara normal. Sesampainya di gerbang pesawat, wanita yang identitasnya dirahasiakan tersebut tidak lantas masuk ke dalam kabin.
Alih-alih menunggu pesawat boarding dari dalam kabin, ia memutuskan untuk merokok terlebih dahulu sebelum pesawat berangkat. Dengan asumsi tidak perlu melewati lagi proses pemeriksaan keamanan, ia lalu berjalan kembali menuju pesawatnya tidak lama setelah ia menghabiskan rokoknya. Namun sial, asumsi wanita ini salah karena pihak Aviation Secutiry (Avsec) tetap memberlakukan pemeriksaan terhadap setiap orang, bahkan yang sudah melakukan check in sebelumnya.
Tidak diketahui pasti berapa lama wanita ini merokok dan berapa banyak rokok yang ia habiskan sesaat sebelum mengudara, namun proses skrining ulang tersebut menghabiskan waktu kurang lebih dua jam. “Proses skrining ulang semua penumpang selesai pada pukul 09.20 (waktu setempat), kurang lebih dua jam setelah wanita ini menghabiskan rokoknya,” ujar salah satu petugas Avsec, dikutip dari laman stuff.co.nz (11/2/2018).
Kejadian ini sontak menambah frustasi para penumpang yang sebelumnya mengalami keterlambatan karena kabut tebal yang membumbung di atas langit Wellington, mengakibatkan banyak maskapai yang terganggu perjalanannya. “Pelanggaran tersebut segera dilaporkan kepada pihak Avsec dan semua agen bandara bekerja sama untuk menemukan penumpang wanita ini,” ungkap juru bicara tersebut.
Upaya yang dilakukan oleh petugas Avsec tidak percuma. Akhirnya wanita ini ditemukan dan dicekal untuk masuk ke dalam pesawat di Gate 23. “Meskipun pencekalan ini dapat diterima oleh wanita ini, bahwa pada kesempatan ini kami selaku pihak kemanan bandara tidak ada maksud jahat, pelanggaran keamanan yang mengakibatkan gangguan pada sejumlah penumpang dan penundaan penerbangan tetap harus diusut hingga tuntas,” tutur juru bicara Avsec.
Sebagai seorang pengemudi taksi online yang mengumpulkan pundi-pundinya dengan membawa penumpang terkadang tidak memikirkan waktu untuk istirahat. Bahkan seringkali terlalu asyik mengemudi hingga lupa sudah berapa jam dirinya mengemudi selama seharian penuh tersebut tanpa istirahat yang cukup. Padahal istirahat yang cukup bagi pengemudi adalah salah satu kunci keselamatan di jalan raya.
KabarPenumpang.com melansir dari laman arstechnica.com (13/2/2018), kini Uber mengharuskan pengemudinya beristirahat selama enam jam setelah menyetir 12 jam dalam sehari. Dalam sebuah update terbaru pada aplikasinya yang di umumkan Senin (12/2/2018) kemarin, pengemudi Uber sekarang akan dipaksa untuk beristirahat selama enam jam.
Dalam waktu enam jam tersebut pengemudi nantinya tidak akan bisa mendapatkan penumpang dan harus beristirahat. Sebuah postingan di salah satu blog, pihak Uber mengatakan, mereka akan membantu para pengemudi tetap aman di jalan sambil membuat pengemudi nyaman.
Dalam postingan tersebut juga menambahkan bahwa ada 60 persen pengemudi berada di jalan untuk waktu sepuluh jam atau kurang per minggunya. Sebaliknya, dalam peraturan federal menetapkan pengemudi bus hanya bisa mengemudi selama sepuluh jam berturut-turut dengan tugas yang mereka miliki selama delapan jam.
Namun, waktu istirahat yang diberikan Uber ini justru membuat pengemudi beralih ke aplikasi Lyft. Biasanya memang para pengemudi ini memiliki dua aplikasi sehingga jika Uber menetapkan hal demikian, mereka akan tetap melanjutkan berkendara dengan Lyft agar bisa menghasilkan pundi-pundi kembali.
Lyft sendiri telah menetapkan waktu istirahat selama enam jam untuk pengemudi yang bekerja 14 jam sehari. Bahkan di beberapa negara bagian juga memiliki peraturan yang terpisah tergantung pertimbangan pihak aplikasi. Seperti di Virginia memberlakukan waktu maksimal 13 mengemudi dalam periode 24 jam.
“Saya tidak punya data untuk dibagikan hari ini. Tapi bahkan satu kecelakaan terlalu banyak, seperti laporan baru-baru ini. Ini adalah masalah bagi semua orang yang berbagi jalan. Kami ingin mendorong orang untuk menggunakan Uber secara bertanggung jawab,” tulis Susan Hendrick, juru bicara Uber, dalam sebuah email.
Diketahui, dari laporan National Sleep Foundation, menemukan hampir tujuh juta orang yang disurvei tahun 2016 mengaku tertidur di belakang kemudi dalam periode dua minggu yang sama. Sedangkan National Highway Traffic Safety Administrator mengatakan, saat mengemudi dan mengantuk adalah penyebab sekitar enam ribu kecelakaan fatal di Amerika Serikat setiap tahunnya.
Perayaan hari kasih sayang atau yang akrab disebut Valentine memang kerap kali dijadikan momen berharga oleh banyak pasangan di seluruh dunia untuk menghabiskan waktu bersama. Ada yang memutuskan keluar untuk makan, berjalan-jalan, atau hanya sekedar menyempatkan diri bertemu sang kekasih di tengah kesibukan sehari-harinya. Berkaca pada fenomena ini, penyedia jasa penerbangan asal Inggris, Virgin Atlantic seolah tidak mau kehilangan momen setahun sekali ini.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailystar.co.uk (12/2/2018), penyedia layanan jasa penerbangan besotan Sir Richard Brenson ini menyediakan suite khusus pada armada A330-200 baru yang mereka operasikan. Love Suites, begitulah nama suite spesial yang dikhususkan bagi para pasangan ini. Tentu saja ini bisa menjadi kejutan special jika Anda merencanakan untuk menghabiskan momen Valentine bersama sang kekasih.
Terletak di tengah kabin, layanan spesial yang tersedia di Love Suites ini dapat dinikmati dengan cara meng-upgrade tiket ekonomi Anda ke Upper Class. Tentu saja bangku spesial ini tidak sama dengan konfigurasi lainnya. Di sini, Anda bisa menikmati bangku jenis lie flat beds yang memungkinkan Anda untuk memundurkan sandaran bangku hingga mencapai posisi tidur. Dengan menggunakan bangku jenis ini, akan memberikan kenyamanan dan ruang ekstra bagi Anda dan pasangan.
Tersedia juga layanan makanan dan minuman yang dapat Anda menangkan setelah melewati kontes berpelukan bersama pasangan Anda. Layaknya First Class, di Love Suites Anda dapat menikmati fasilitas free WiFi dan fasilitas hiburan lainnya. Sesuai dengan namanya, nampaknya agak aneh jika suite ini dinikmati seorang diri.
Bagi Anda yang tidak memiliki pasangan namun hendak merasakan sensasi dari suite ini, Anda bisa mencicipi fasilitas serupa di Freedom Suites atau Corner Suites. Freedom Suites dirancang khusus bagi anda yang ingin berbaring dan bersantai selama penerbangan, sementara Corner Suites menawarkan privasi dengan tampilan yang lebih bagus.
Ternyata, tidak hanya Virgin Atlantic saja yang diketahui telah melakukan perombakan pada armadanya, Singapore Airlines pun demikian. Walaupun tidak secara rinci menyebutkan bahwa perombakan yang dilakukan oleh Singapore Airlines ditujukan untuk merayakan Hari Valentine, namun laman sumber menyatakan bahwa maskapai kebanggan Negeri Singa ini merogoh kocek hingga £634 juta atau yang setara dengan Rp11,98 triliun untuk melakukan perombakan besar-besaran ini.
Bandara Blimbingsari di Banyuwangi kini diwartakan telah dikelola oleh PT Angkasa Pura II. Penyerahanan pengelolaan tersebut langsung dari Kementerian Perhubungan untuk meningkatkan layanan bagi penumpang angkutan penerbangan dalam jangka waktu yang panjang.
Penandatanganan serah terima tersebut dilakukan oleh Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santosa dan Dirut AP II Muhammad Awaluddin di bandara Banyuwangi pada 22 Desember 2017 kemarin. Adapun pemberian pengelolaan bandara Banyuwangi ini untuk meningkatkan pelayanan pada konsumen penerbangan terutama untuk mengantisipasi tingkat pertumbuhan penumpang dan kargo.
“Pengembangan bandara Banyuwangi yang sudah bagus ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan, karena nanti pasti berdampak pada kesejahteraan ekonomi warga,” ujar Agus.
Tak hanya itu Dirut AP II, Awaluddin mengatakan, akan menyegerakan percepatan langkah dengan memulai pembangunan infrastruktur, terutama perluasan apron hingga 18 ribu meter persegi. “Ini untuk menyambut Banyuwangi sebagai bandara penyangga Bandara Ngurah Rai saat Annual Meeting IMF-World Bank, Oktober 2018. Menteri keuangan dan pejabat dari seluruh dunia akan datang ke Bali, sebagian mendarat di Banyuwangi. Kementerian Pariwisata juga sudah menyiapkan tur wisata yang melibatkan Banyuwangi untuk menyambut ajang tersebut,” jelasnya.
Dalam pengelolaan bandara Banyuwangi oleh AP II ini, membantahkan pemikiran masyarakat tentang adanya pembagian pengelolaan bandara. Dimana banyak diketahui, pembagian bandara seperti terbagi dua yakni dari tengah ke barat dikelola AP II dan tengah ke timur dikelola AP I.
Padahal, itu tidak lah benar, sebab tidak ada pembagian terkait pengelolaan bandara secara tertulis. Menanggapi hal ini, Corporate Secretary AP I, Israwadi mengatakan hal pengelolaan bandara Banyuwangi merupakan kebijakan pemerintah pusat yakni Kementerian Perhubungan.
“Itu kan kebijakan Kemenhub yang memberikan kewenangan dalam pengelolaan. Karena secara tertulis, atau dalam undang-undang tidak ada pembagian barat atau timur milik siapa,” ujar Israwadi yang dihubungi KabarPenumpang.com, Rabu (14/2/2018).
Dia menambahkan, pihak AP I juga dulu sempat mengelola bandara Polonia Medan. Diketahui, bandara Banyuwangi mulai beroperasi tahun 2010. Saat ini dalam sehari ada enam frekuensi penerbangan, yaitu tiga kali dari Surabaya dan tiga kali dari Jakarta.
Jumlah penumpang di bandara tersebut terus melonjak. Pada 2011, jumlah penumpang baru 7.826 orang per tahun, lalu melonjak menjadi 112.661 orang pada 2016. Sejak 2014, dibangun terminal berkonsep hijau pertama di Indonesia dengan konsumsi energi sangat minim karena nyaris tanpa alat pengatur suhu (AC) dan memanfaatkan pencahayaan alami dengan sinar matahari.
Saat ini dengan tambahan bandara Banyuwangi, AP II mengelola 14 bandara dan rencananya ada sekitar sembilan bandara tambahan. Sedangkan AP I saat ini mengelola 13 bandara dengan tambahan Kulon Progo yang dalam pembangunan.
Dilihat dari desain, jelas bus ukuran medium ini tak memiliki kualifikasi sebagai kendaraan off road. Namun bus bercat putih dengan garis biru ini sontak melaju perlahan menembus medan berat laksana kendaraan off road. Inilah potret bus Damri yang tak asing melayani beberapa trayek perintis di Tanah Air. Tak jarang bus Damri ini melewati jalan berlumpur dalam, tanjakan licin, menyeberangi sungai dan bermacam jalan ekstrem lainnya.
Misi yang diemban Damri memang sangat mulia, yaitu melayani daerah-daerah terisolir sebagai angkutan perintis, dimana di daerah tersebut tidak tersedia sarana angkutan yang memadai dengan tarif yang terjangkau, maka Damri menjadi kepanjangan tangan pemerintah dalam rangka menyediakan angkutan kepada seluruh masyarakat di pedalaman.
Dari kacamata bisnis, trayek perintis dengan medan berat sudah barang tentu kurang menggiurkan, lantaran tingginya harga bahan bakar dan spare part, serta tingkat kerusakan pada kendaraan yang terbilang tinggi. Kesemuanya menjadi beban biaya operasional yang tak kecil bagi perusahaan.
“Angkutan Perintis bagi kami adalah sebuah tantangan, dan tentu atas keputusan pemerintah Damri hadir di area perintis tersebut, membuka layanan transportasi bagi warga di kawasan pedalaman,” ujar SN Milatia Moemin, Direktur Utama Perum Damri kepada KabarPenumpang.com di kantornya pada Senin (12/2/2018) lalu. Ia menambahkan, meski Angkutan Perintis secara bisnis tak membuat untung perusahaan, namun kebutuhan operasional Angkutan Perintis sedapat mungkin masih bisa ditutupi oleh layanan lain, seperti misalnya Layanan Angkutan Bus Bandara yang merupakan pundi keuntungan perusahaan.
Seperti diketahui, Perum Damri hadir melayani Angkutan Perintis melalui public service obligation, dan mendapatkan subsidi dari pemerintah bila load factor bisa mencapai minimal 30 persen. Inilah yang menjadi tantangan berat bagi Damri, pasalnya load factor 30 persen kadang sulit dicapai untuk trayek perintis, terlebih bila melihat populasi di suatu desa terbilang sedikit, seperti ada satu desa yang jumlah penduduknya hanya 150 orang.
Meski Damri Angkutan Perintis identik dengan trayek di luar Pulau Jawa, namun jangan salah, bus perintis Damri ternyata juga beberapa melayani trayek di Jawa, seperti ada di daerah Sukabumi, Cianjur, Pangandaran, Banyuwangi, dan masih banyak lainnya.