Indian Railways Bakal Gunakan Drone Untuk Tunjang Pelayanan di Berbagai Aspek

Sebagai bentuk apresiasi terhadap perkembangan jaman dan efisiensi tenaga manusia, Indian Railways mengutarakan rencananya untuk ‘mempekerjakan’ Unmanned Aerial Vehicles (UAV) atau yang lebih dikenal dengan drone. Rencana ini ditujukan untuk berbagai kegiatan terkait keselamatan dan perawatan, dimana hal tersebut secara tidak langsung akan meningkatkan pelayanan perkeretaapian India terhadap para penumpangnya.

Baca Juga: Cegah Kecelakaan di Perlintasan Sebidang, Indian Railways Adopsi Teknologi Satelit

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman opengovasia.com (9/1/2018), kerja sama yang dijalin pihak Indian Railways dengan Indian Space Research Organization (ISRO) terkait penerapan Sistem Informasi Kereta Api Real-Time juga ditengarai sebagai salah satu alasan perkeretaapian India ingin melibatkan drone dalam layanannya. Tidak berhenti sampai di situ, Indian Railways juga menggunakannya untuk menilai kesiapan kerja dari Non-Interlocking (NI), sistem pemantau udara selama acara publik seperti pameran dan lain-lain.

Menurut laman sumber, inisiatif ini sejalan dengan keinginan Indian Railways untuk menggunakan teknologi guna meningkatkan keselamatan dan efisiensi dalam pengoperasi kereta api. Di sisi lain, West Central Railways (WCR) diketahui baru mencoba teknologi drone di dalam layanannya dan langsung menguji cobanya.

Sedikit berbeda dengan Indian Railways, WCR akan menugaskan drone untuk memantau proyek, inspeksi jembatan, dan antisipasi bencana musiman pada layanan kereta yang melewati daerah pegunungan. Sebelumnya, demonstrasi drone dilakukan untuk pemantauan proyek kerja Elektrifikasi Kereta Api Jabalpur Yard.

Pada tanggal 3 Januari kemarin, Pemerintah mengumumkan bahwa Kementerian akan segera menerapkan Real-Time Train Information System (RTIS) pada kereta yang bekerja sama dengan ISRO. Ini melibatkan pelacakan kereta dengan menempatkan perangkat berbasis GPS / GAGAN (Global Positioning System Aided Geo Augmented Navigation System) pada lokomotif.

Tahap I direncanakan selesai pada bulan Desember 2018, proyek RTIS yang menggunakan teknologi GPS ini akan dipasang di sekitar 2700 lokomotif listrik. Sedangkan lokomotif yang belum dipasang teknologi GPS ini akan masuk ke dalam daftar tunggu pemasangan pada fase selanjutnya.

Baca Juga: “The Rail Saarthi,” Aplikasi Mirip KAI Accsess Untuk Penumpang Kereta di India

Uji coba untuk sistem RTIS telah dilakukan di kereta api New Delhi – Guwahati dan New Delhi – Mumbai Rajdhani di enam lokomotif listrik yang berbeda. Tingkat pelaporan real-time yang handal dan tinggi (sekitar 99,3%) telah diamati dan dianggap memadai untuk memenuhi persyaratan RTIS.

Adapun tujuan Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani pihak Indian Railways dan ISRO pada bulan Maret 2016 diantaranya adalah untuk pengembangan sistem peringatan dini untuk pengguna jalan di perlintasan sebidang kereta nirawak, pemetaan aset Indian Railways melalui teknologi Geospasial, mengembangkan RTIS dengan menggunakan Layanan Satelit Komunikasi, hingga memenuhi persyaratan komunikasi berbasis satelit Indian Railways.

Sah! Stasiun Sudirman Baru Ganti Nama Jadi Stasiun BNI City

Siapa yang tidak kenal Bank Nasional Indonesia (BNI)? Salah satu bank terkemuka di Indonesia ini namanya bisa dibilang cukup mahsyur. Setelah pada bulan September 2017 kemarin pihaknya menjalin kerja sama dengan maskapai flag carrier, Garuda Indonesia, belakangan ini bank yang didirikan oleh Margono Djojohadikusumo ini kembali menjalin kerja sama mutual dengan PT Railink selaku pengelola dari layanan Kereta Bandara Soekarno-Hatta.

Baca Juga: Begini Cara Beli Tiket Kereta Bandara Soekarno-Hatta

Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, nama stasiun kereta bandara yang sebelumnya bernama Stasiun Sudirman Baru, kini berubah menjadi Stasiun BNI City. Adapun faktor geografis yang menjadi salah satu alasan penggantian nama stasiun yang terletak di kawasan Sudirman ini. Keberadaan kantor pusat BNI yang berdekatan dengan stasiun kereta bandara tersebut dinilai dapat memudahkan setiap penumpang jika ingin menggunakan layanan BNI di kantor pusat.

Selain itu, Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan Bank BNI, Catur Budi Harto mengatakan bahwa penggantian nama tersebut sebagai salah satu ajang promosi BNI, dengan cara mengenalkan kepada penumpang KA Basoeta bahwa BNI merupakan salah satu bank terbesar di Indonesia. “Jadi, saya kira BNI bukan nama asing lagi. Akan tetapi, lepas dari itu ini upaya kami mendukung program pemerintah di samping ada branding BNI yang sudah dikenal jadi dikenal lagi dan memudahkan lagi,” ungkap Catur, dikutip dari laman kompas.com (8/1/2018).

Sebelumnya, pihak BNI dan PT Railink sendiri sudah menjalin kerja sama pada 11 April 2017 silam, dimana BNI turut mendaftarkan diri sebagai salah satu mitra yang akan memudahkan penumpang untuk membeli tiket Kereta Bandara. Melalui kerja sama ini, transaksi pembelian tiket Kereta Bandara dapat dilakukan dengan menggunakan channel-channel digital dan kartu yang diterbitkan BNI.

Terlepas dari kerja sama pada 11 April 2017 tersebut, pergantian nama stasiun ini baru mendapat restu setelah BNI membuat kesepakatan dengan PT Railink. Namun dirinya enggan menyampaikan sampai kapan nama Stasiun BNI City ini akan bertahan. “Kami harapkan (penamaan stasiun) bisa selamanya, karena keberadaan kami di sini tidak berhenti sampai di sini. Nantinya, diharapkan kawasan terpadu yang dekat ini kami bisa kembangkan,” tandasnya.

Baca Juga: Dengan Regulasi Terpadu, MRT Jakarta Mampu Kurangi Subsidi Pemerintah

Tidak sekedar nama, BNI juga turut melengkapi interior stasiun dengan fasilitas unggulannya, yang notabene akan mempermudah penumpang dalam urusan perbankan. “Di Stasiun BNI City kami siapkan berbagai layanan yang sepenuhnya mendukung penumpang. Ada ATM, money changer, dan lain-lain,” imbuh Catur.

Masih dihimpun dari sumber yang sama, BNI membuka satu outlet khusus yang terletak di lantai dua Stasiun BNI City. Sebanyak dua mesin ATM juga turut menghiasi outlet tersebut, satu mesin ATM Bersama di lokasi yang berbeda, dan satu mesin ATM di stasiun Soekarno-Hatta.

Dilansir dari sumber terpisah, pergantian nama stasiun ini ditengarai adanya campur tangan BNI dalam hal pendanaan proyek, yaitu pemberian kredit sindikasi. “Porsi pembiayaan dari BNI untuk proyek kereta Bandara Soetta mencapai Rp 515,27 miliar,” ungkap Corporate Secretary BNI, Ryan Kiryanto, dikutip dari laman Tempo.co.

Jauh Sebelum Motobus, Ternyata Sudah Ada Jasa Kirim Motor via Bus AKAP!

Setelah sejumlah kalangan dibuat sedikit kecewa dengan ketidakjelasan PT Motobus Trans Nusantara dalam menghadirkan layanan bus yang dapat mengangkut sepeda motor, ternyata selama ini kita seolah lupa dengan layanan serupa yang sudah eksis. Layanan angkut mengangkut sepeda motor ini pun disediakan oleh salah satu PO kawakan yang namanya sudah harum seantero Jawa. Ya, PO Harapan Jaya!

Baca Juga: Layanan Bus Angkut Motor ini Akan Hadir di Indonesia Bulan Depan!

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, bus pengangkut sepeda motor ini menggunakan chassis dan mesin rakitan Scania, salah satu manufaktur raksasa asal Swedia, dan karoseri kawakan asal kota Malang, Tentrem. Kolaborasi kedua perusahaan beda negara ini menghasilkan sebuah bus Super High Deck (SHD) yang memiliki ruang bagasi super besar. Saking besarnya, bagasi dari bus yang menggunakan chassis dan mesin Scania K360iB opticruise ini mampu mengangkut motor dalam posisi tegak!

Dilihat dari penampakan luarnya, lekuk garis body dari bus ini menonjolkan sifat aerodinamis, ditambah  dengan desain livery yang simpel semakin menggambarkan kemegahan dari bus ini. Dihimpun dari sumber lain, bus bertenaga 360HP ini dinilai sangat cocok dipergunakan oleh bus-bus dengan jarak tempuh yang jauh, semisal untuk AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) atau bus pariwisata.

Sumber: poharapanjaya.com

Di Indonesia sendiri nama Scania sudah mulai terkenal dan dinilai mampu untuk bersaing dengan bus lain, bahkan sekelas Mercedes Benz sekali pun yang sudah lama bermain di kelas bus dan juga truk. Dengan segala kelebihan dan keandalan mesinnya, tidak heran jika Scania kini tengah menjadi incaran kebanyakan PO, karena memang menawarkan kualitas mesin yang dapat di andalkan, ekonomis, handal dan pastinya hemat bahan bakar yang akan secara langsung berpengaruh terhadap biaya operasional yang rendah bagi pengusaha transportasi.

Baca Juga: Perjalanan Perdana Meleset dari Target, Ini Dia Penampakan Interior MotoBus

Kembali ke topik pembahasan awal, PO Harapan Jaya melayani jasa angkut motor menggunakan bus dengan trayek Jakarta – Tulung Agung via Solo. Melalui wawancara singkat dengan pihak PO Harapan Jaya, harga yang ditawarkan untuk motor di atas 150CC adalah Rp495.000, sedangkan untuk motor di bawah 150CC berada di harga Rp395.000.

Pemberangkatan dari Jakarta dapat dilakukan dari empat titik, yaitu Grogol, Bekasi, Pasar Rebo, dan Ciputat. Setiap harinya, layanan ini hanya melakukan pemberangkatan sekali, yaitu pada pukul 12.00 WIB. Bagaimana? Apa Anda tertarik untuk mencoba mengirimkan motor menggunakan bus seperti yang disediakan oleh PO Harapan Jaya?

Gunakan Scimitar Winglet, Boeing Maksimalkan Efisiensi Bahan Bakar

Jika Anda pernah duduk di samping jendela selama berada di dalam pesawat, tentu pemandangan yang menyita perhatian selain hamparan awan adalah sayap pesawat. Baik Anda duduk di barisan depan atau di paling belakang sekali pun, sayap pesawat akan selalu hadir menghiasi pemandangan Anda selama mengudara.

Baca Juga: Kebanjiran Pesanan, Boeing 737 MAX Toreh Sejarah Penjualan Pesawat Tercepat di Dunia

Nah, jika diperhatikan, ada dua jenis sayap pesawat yang biasanya Anda temui dewasa ini. Ada yang memiliki winglet, apa pula yang tidak. Winglet sendiri merupakan salah satu bagian terujung dari sayap pesawat yang berdiri tegak. Kebanyakan, pesawat-pesawat jaman sekarang sudah menggunakan teknologi winglet yang teruji dapat menekan angka pengeluaran bahan bakar selama mengudara.

Semakin melambungnya harga minyak dunia dalam beberapa tahun ke belakang membuat orang-orang di manufaktur produksi pesawat seperti Boeing dan Airbus memutar otak untuk menciptakan inovasi yang dapat menunjang efisiensi bahan bakar. Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Boeing hadir dengan teknologi Scimitar Winglet, varian pada sayap pesawat yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi bahan bakar.

Dari tampilan fisik, pengaplikasian teknologi ini dapat dilihat dari ujung sayapnya yang bercabang. Tujuan dari pemasangan Scimitar Winglet ini adalah untuk mereduksi vortex airflow yang biasanya menjadi hambatan udara pada saat pesawat melaju di kecepatan tinggi. Hambatan udara inilah yang akhirnya menjadikan pesawat lebih boros bahan bakar karena harus mengeluarkan tenaga yang lebih besar.

Sebelum inovasi Winglet ini diproduksi secara massal pada seri B737 MAX, perusahaan yang berbasis di Chicago, Illinois, Amerika Serikat ini telah terlebih dahulu menginstalasinya di beberapa armada B737 Next Generation (NG) milik United Airlines dan Ryanair dalam rangka uji coba komersial.

Scimitar Winglet. Sumber: trbimg.com

Dilansir dari sumber terpisah, pemasangan Scimitar Winglet yang mendorong inkarsi aerodinamis ini dapat mengurangi biaya bahan bakar hingga 2 persen, dengan kata lain, pihak maskapai dapat menghemat kocek perusahaan mereka hingga $200 juta. Pihak Boeing sendiri mengaku bahwa pemasangan Scimitar Winglet pada seri B737 MAX dan B737 NG memberikan keseimbangan sempurna yang memaksimalkan efisiensi keseluruhan kinerja pada bagian sayap.

“Dengan pengaplikasian Natural Laminar Flow pada Winglet B737 MAX, memungkinkan aliran udara laminar menjadi lebih halus pada bagian sayap. Hal ini akan mengurangi drag (daya hambat) dan meningkatkan efisiensi bahan bakar,” terang pihak Boeing, dikutip dari laman boeing.com.

Baca Juga: Intip Kecanggihan dan Ruang Kabin Boeing 737 MAX 8 Garuda Indonesia

Dari dalam negeri sendiri, diketahui beberapa maskapai telah menggunakan varian B737 MAX untuk menunjang pengoperasian sehari-harinya, seperti Lion Air dan Garuda Indonesia. Hingga akhir tahun 2015 lalu, Boeing mengklaim telah menerima 3.000 pesanan 737 MAX dari berbagai konsumennya di seluruh dunia. Garuda Indonesia sendiri memesan B737 Max 8 sebanyak 50 unit dengan harga senilai $4,9 miliar pada kala itu.

Pihak maskapai berplat merah ini baru mengoperasikan B737 Max 8 pada 1 Januari 2018 kemarin, karena pesawat yang menjanjikan efisiensi bahan bakar ini baru tiba di Indonesia pada 26 Desember 2017 kemarin.

Luxury Class Sleeper Bus PO Harapan Jaya, Fasilitas “Mewah” dengan Harga Terjangkau

Ketika menggunakan bus untuk perjalanan jauh selain macet apa yang Anda pikirkan? Biasanya yang terpikir adalah badan lelah karena duduk selama perjalanan dan hanya bisa menggerakan badan jika bus berhenti di tempat makan atau tempat peristirahatan.

Untuk kali ini Anda pasti sudah mengenal dengan sleeper bus atau bus dimana penumpang bisa tidur dengan nyaman baik itu dalam bentuk tempat tidur atau bangku dengan reclining seat yang bisa dijadikan tempat tidur. KabarPenumpang.com mendapatkan dari berbagai laman, ada berbagai jenis sleeper bus, dan salah satu yang akan di bahas kali ini adalah fasilitas bus milik PO Harapan Jaya.

Baca juga: Simba, Sleeper Bus Ultra Mewah Yang Siap Meluncur di 2018

Sleeper bus milik PO Harapan Jaya ada lima macam, kali ini KabarPenumpang.com akan membahas fasilitas yang berada di Luxury Class. Dalam bus ini fasilitas yang diberikan sangat lengkap dibanding bus lainnya. Tak hanya itu, Luxury Class PO Harapan Jaya menggunakan bus terbaru Avante di atas chassis Scania K360IB yang nyaman.

Fasilitas dalam bus Luxury Class (PO Harapan Jaya)

Nah, Anda penasaran apa saja fasilitas yangada di dalam bus ini? Selain full AC, toilet dan audio, bus Luxury Class juga memberikan penumpang kelengkapan bantal dan selimut untuk tidur selama perjalanan. Penumpang juga bisa menikmati WiFi gratis, sehingga bisa berselancar di media sosial dengan mudah dan tenang.

Ada yang unik dari bus ini, bukan hanya dibekali WiFi saja, tetapi bus ini dilengkapi dengan layanan telepon gratis yang bisa digunakan penumpang untuk menghubungi kerabat baik yang akan dikunjungi atau orang rumah. Untuk menggunakan telepon ini, penumpang hanya harus menuju bagian depan bus kemudian ke dashboard tepat samping kemudi.

Fasilitas yang diberikan Luxury Class PO Harapan Jaya (Youtube)

Kursi yang nyaman tempat Anda duduk dalam bus dilengkapi dengan sandaran kaki, meja lipat yang letaknya tersembunyi dibawah sandaran tangan. Sehingga penumpang tidak perlu repot dengan meja besar yang mengganggu karena jika tidak digunakan Anda bisa menyimpannya kembali kedalam sandaran tangan. Meja tersebut selain untuk meletakkan makanan juga bisa digunakan untuk laptop.

Pernah terpikirkah oleh Anda dalam sebuah bus terdapat kursi pijat dan mini bar? Mungkin untuk sleeper bus dengan tempat tidur mini bar ada, tapi di Luxury Class ini ada sebuah mini bar yang dilengkapi dengan dispenser untuk minum kopi, teh atau menyeduh mie instan cup. Sedangkan kursi pijat bisa Anda temukan jika ke bagian belakang bus dekat dengan ruang merokok.

Selama perjalanan Anda dimanjakan dengan berbagai fasilitas lengkap dan tak lupa pihak bus memberikan service makan untuk penumpang sebanyak dua kali tergantung tempat perhentian bus. Kursi dalam tipe Luxury Class ini sebanyak 22 dengan posisi seat 2-1.

Fasilitas yang diberikan Luxury Class PO Harapan Jaya (Youtube)

Bukan hanya fasilitasnya saja yang canggih, bus ini juga dikemudikan tanpa tuas transmisi untuk berpindah gigi. Sistem yang digunakan juga sudah komputerisasi, sehingga jika bus tersebut rusak bisa dipantau secara online dari pool bus.

Baca juga: Cabin Tawarkan Layanan Sleeper Bus Full Service

Luxury Class ini berangkat pada siang dan sore hari serta beroperasi sepanjang malam di perjalanan dengan dua pengemudi yang bergantian. Luxury Class milik PO Harapan Jaya tersebut melayani perjalanan Blitar-Cikarang-Jabodetabek-Merak-Lampung baik melalui jalur utara maupun selatan.

Harga sekali naik bus ini cukup murah Rp320 ribu untuk perjalanan dari Jakarta menuju Solo. Jadi, sudah yakin naik bus untuk menikmati kenyamanannya?

Dengan Model Train Set, PT KAI Jadi Lebih Mudah Siapkan Layanan WiFi di Kereta

Setelah lama dinanti, akhirnya ada kepastian bahwa tahun 2018 ini PT KAI bakal menyakikan layanan WiFi di gerbong kereta. Meski bukan teknologi baru, harus diakui sejak lama wacana layanan WiFi sudah dicanangkan pihak PT KAI, namun karena masih ada sejumlah kendala teknis, implementasi WiFi on train berjalan lambat.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Edi Sukmoro menjanjikan peningkatan pelayanan di 2018. “Saat ini mengenai fasilitas WiFi di kereta ini terus kita bicarakan, dan harapannya tahun ini sudah kita implementasikan. Namun bertahap, tidak langsung semua kereta ada WiFi,” ucap dia di Gedung Jakarta Railway Centre (JRC), Jakarta, Selasa (9/1/2018).

Edi mengaku sudah mengalokasikan anggaran untuk pemasangan fasilitas internet on train tersebut. Hanya saja berapa investasinya, Edi masih belum bisa mengungkapkan mengingat masih dalam pembicaraan akhir. Menurutnya, saat ini fasilitas internet tersebut sudah menjadi keharusan mengingat perkembangan teknologi yang terus terjadi. Para pengguna kereta api saat ini sebagian besar sudah memiliki telepon genggam. “Dengan adanya WiFi, maka penumpang yang juga pebisnis bisa sambil kerja di dalam kereta,” tegasnya.

Beberapa kendala yang selama ini dihadapi PT KAI dalam implementasi WiFi adalah rangkaian set kereta (train set) masih putus sambung, artinya antar gerbong kerap dipindah atau ditukar-tukar. Semisal saat perbaikan, hanya satu gerbong yang dilepas. Pola ini menjadi menyulitkan dalam implementasi free WiFi.

Penempatan modul antena biasa disematkan di satu gerbong (kereta restorasi), dan saat antar gerbong dilepas atau diganti maka pengaturan kabel antar gerbong biasanya jadi bermasalah. Sebagai langkah perbaikan, beberapa KA kini sudah digelar dalam train set, artinya jika ada perbaikan (maintenance) maka ya harus dibawa satu train set tersebut, tidak lagi dilepas-lepas. Model train set sudah lumrah diadopsi di beberapa negara maju, seperti di kawasan Eropa.

Gunakan Aplikasi KAI Access, Kini Tak Perlu Antre Cetak Boarding Pass di Stasiun

Pelanggan pengguna aplikasi KAI Access milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) patut berbangga. Pasalnya, kini perlu lagi mengantre untuk mencetak boarding pass sebagai tanda bukti bahwa Anda adalah penumpang kereta saat di stasiun. Pasalnya jika Anda membeli tiket kereta dari KAI Access maka, E-boarding pass atau boarding pass elektronik akan langsung diterbitkan melalui KAI Access versi terbaru.

Baca juga: Update Terbaru Aplikasi KAI Access, Tawarkan Fitur Check In Online dan Pesan Meals

“Penumpang tidak perlu antre check in dan cetak boarding pass di mesin cetak. Penumpang cukup melakukan scan barcode boarding pass pada aplikasi KAI Access di smartphone penumpang saat pemeriksaan boarding gate dengan tetap menunjukkan kartu identitas yang sesuai dengan data pada tiket,” ujar Edi Sukmoro, Direktur Utama PT KAI.

Boarding pass elektronik ini sudah resmi rilis sejak 2 Oktober 2017 lalu dan membuat proses pelayanan penumpang di stasiun keberangkatan menjadi semakin praktis. Sayangnya, boarding pass elektronik ini hanya bisa diterbitkan khusus pemesan tiket dengan melalui aplikasi KAI Access versi terbaru dan bisa di unduh dua jam sebelum keberangkatan kereta api.

Jika sudah menerbitkan e-boarding pass melalui aplikasi KAI Access, secara otomatis penumpang tidak dapat mencetak boarding pass di mesin check in di stasiun, atau sebaliknya. Sedangkan untuk pengguna aplikasi lain yang juga menjual tiket kereta api, penumpang tetap harus mencetak boarding pass di mesin cetak dan di lokasi stasiun tempat keberangkatan.

“Untuk penumpang yang membeli melalui aplikasi lain, tetap seperti biasa mencetak boarding pass di mesin,” ujar Humas PT KAI Agus Komaruddin yang dihubungi KabarPenumpang.com, Rabu (10/1/2018). Agus menambahkan, untuk fitur lainnya yang ada di aplikasi seperti E-Moda dan E-Porter saat ini masih dalam proses untuk bisa di gunakan. Dia mengatakan, kedua fitur ini akan dirilis secepat mungkin.

Baca juga: Akhirnya! Kereta Wisata Priority Keluar Juga Dari Depo KAI

“Kita untuk E-Meals sudah bisa digunakan seperti E-Boarding, sedangkan E-Moda dan E-porter karena bekerja sama dengan pihak luar, maka masih nunggu. Bisa pertengahan tahun, akhir tahun ini atau bisa juga besok. Tergantung nantinya,” jelas Agus.

Banyak Masinis Sakit dan Efek Gelombang Panas, Kereta Komuter Sydney Menghadapi Masalah

Pembatalan pemberangkatan moda transportasi memang bisa menimpa kapan saja, di mana saja, dan dengan beragam alasan yang melatarbelakanginya. Untuk sebagian alasan seperti human error, tentu saja hal tersebut akan mengundang respon negatif dari para penggunanya yang merasa sudah dirugikan dari segi waktu. Hal ini pula yang terjadi di Sydney, Australia beberapa waktu yang lalu, dimana sistem kereta komuter di sana mengalami masalah yang berdampak pada penundaan hingga pembatalan sejumlah armadanya.

Baca juga: Sydney Central, Eksotisme Stasiun Tua Diantara Deru Penumpang Metropolitan

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman news.com.au (10/1/2018), Menteri NSW (New South Wales) Transport, Andrew Constance sampai-sampai mengutarakan permohonan maafnya secara langsung kepada para penumpang yang menjadi korban penundaan dan pembatalan sejumlah armada komuter di Sydney pada Selasa (9/1/2018) kemarin. Andrew mengatakan bahwa insiden ini dilatarbelakangi oleh kerusakan sejumlah elemen akibat gelombang panas hingga kinerja masinis yang kurang baik. Namun pihaknya enggan untuk melakukan refund kepada para penumpang.

Sebagaimana diketahui, wilayah Sydney dalam beberapa hari belakangan tengah mengalami gelombang panas ekstrem, suhu di kota terbesar di Australia tersebut mencapai di atas 40 derajat celcius. Dalam beberapa kasus kondisi tersebut kerap menimbulkan kebakaran hutan.

Antrian Penumpang di Central Station. Sumber: news.com.au

Tidak berhenti sampai di situ, penundaan dan pembatalan keberangkatan sejumlah kereta ini terjadi pada pagi hari (peak hours), dimana penumpang sedang berada di puncak kepadatan. Diantara semua jalur yang terkena dampak penundaan dan pembatalan keberangkatan ini, North Shore Line merupakan yang terparah karena terdapat lima layanan sekaligus yang dibatalkan. Walhasil, ribuan calon penumpang terdampar tanpa kejelasan nasib.

Tidak hanya di North Shore Line, penumpukkan penumpang juga terlihat di Central Station Sydney. Tidak adanya kejelasan tentang penundaan dan pembatalan layanan tersebut tak pelak membuat para calon penumpang geram. Menurut laman sumber, salah satu penumpang yang terjebak dalam situasi ‘shambolic’ tersebut mengatakan bahwa dirinya tengah mengejar penerbangan menuju bandara. “Padahal saya sudah meluangkan waktu dua jam lebih awal dari jadwal penerbangan. Namun kini saya masih terjebak di sini dan saya mulai panik,” tutur seorang penumpang bernama Jess Floyd.

Lain cerita dengan yang dirasakan oleh Nerina Shroff Dari Hornsby. On Time Performance (OTP) yang selalu didahulukan oleh perkeretaapian Australia kini seolah berbanding terbalik sehingga pemandangan ‘langka’ seperti ini pun terjadi di banyak stasiun. “Saya tidak pernah melihat penumpukkan penumpang se-gila ini sebelumnya di Central Station,” papar Nerina.

Baca Juga: AutoHaul, Kereta Diesel Otonom di Australia Barat

Sebagai langkah antisipasi, pihak Sydney Train dan NSW TrainLink menghimbau kepada para calon penumpang melalui jejaring sosial Twitter untuk menggunakan layanan bus untuk sementara waktu, hingga sistem perkeretaapian di sana sudah benar-benar pulih dan siap beroperasi.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Kereta Api Sydney, Howard Collins mengatakan pembatalan sejumlah layanan tersebut dikarenakan kekurangan masinsis. “Sekitar 65 hingga 75 masinis yang sedang sakit. Disinyalir karena mereka bekerja terlalu keras selama periode Natal kemarin,” ungkap Howard membela diri. “Kami akan merekrut lebih banyak masinis agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali di masa yang akan datang,” imbuhnya.

Sepanjang 2017, Bandara Soetta dan Halim Perdanakusuma Layani 70 Juta Penumpang

PT Angkasa Pura II punya berkah tersendiri, pasalnya BUMN ini mengelola bandara terbesar di Indonesia, yakni Bandara Internasional Soekarno-Haatta (Soetta). Dan beragam hal yang terkait Bandara Soetta, akan berujung pada volume dan kapasitas yang besar pula. Seperti halnya untuk pelayanan penumpang, yang di sepanjang tahun 2017 lalu Bandara Soetta telah melayani 63 juta pergerakan penumpang.

Baca juga: Citilink Indonesia Buka Rute Bandara Halim Perdanakusuma – Silangit

Masih dari kawasan Ibukota, Bandara Halim Perdanakusuma yang juga dikeloka PT Angkasa Pura II juga menunjukan pertumbuhan penumpang yang positif, dimana di sepanjanh 2017, bandara yang juga berstatus pangkalan militer (lanud) ini telah melayani 7 juta penumpang.

President Director Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin dalam siaran pers (9/1/2017) mengungkapkan bahwa pencapaian Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang melayani 63 juta penumpang tersebut merupakan pencapaian yang luar biasa. “Karena dari total kurang lebih 50 juta penduduk Jabodetabek, dapat kami layani tidak hanya di bandara utama kami Soekarno-Hatta, tetapi juga di bandara Halim Perdanakusuma yang mencapai 7 juta penumpang,” terang Awaluddin. Adapun dari jumlah tersebut, terdiri dari 14,718 juta penumpang rute internasional dan 48,295 juta penumpang rute domestik.

Adanya pencapaian tersebut, lanjut Awaluddin tidak terlepas dari kerja keras insan Angkasa Pura II yang berkomitmen untuk terus melakukan peningkatan pelayanan di bandara-bandara AP II dimana para pengunjung dan pengguna jasa bandara menduduki posisi tertinggi untuk mendapatkan pelayanan terbaik. “Hal ini mendorong kami untuk terus berinovasi serta meningkatkan fasilitas yang ada di bandara kami. Seperti adanya kereta layang di Bandara Soekarno-Hatta untuk melayani perpindahan penumpang antar terminal,” ungkap Awaluddin.

Sementara itu, penyelenggaraan Angkutan Natal dan Tahun Baru yang berlangsung sejak 22 Desember 2017 hingga 8 Januari 2018 di bandara-bandara yang dikelola Angkasa Pura II berjalan lancar. Tercatat jumlah penumpang pesawat yang ada di 13 bandara Angkasa Pura II mengalami peningkatan 9 persen yakni dari 6,7 juta penumpang menjadi 7,3 Juta penumpang. Sedangkan pergerakan pesawat mengalami peningkatan sebesar 8 persen atau dari 47.700 pergerakan menjadi 51.600 pergerakan pesawat.

Adapun arus puncak libur nataru terjadi pada tanggal 22 Desember 2017 dengan jumlah pergerakan penumpang 371.400 dan puncak arus balik libur nataru pada tanggal 2 Januari 2018 dengan jumlah pergerakan 334.525. Top 5 Destination dalam Angkutan Natal dan Tahun Baru 2017 untuk domestik adalah Denpasar, Surabaya, Kualanamu, Makasar, dan Yogyakarta, dan untuk destinasi internasional adalah Singapura, Kuala Lumpur, Jeddah, Hongkong dan juga Bangkok. Untuk 3 Bandara yang mempunyai pertumbuhan terbesar dalam Angkutan Natal dan Tahun Baru 2017 ini adalah Bandara Silangit sebesar 50 persen, Tanjung Pinang sebesar 45 persen dan juga Bandara Pontianak sebesar 25 persen.

Awaluddin mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada seluruh pihak yang telah membantu pelaksanaan angkutan Nataru 2017/2018 sehingga dapat berjalan lancar di seluruh bandara AP II. “Kami berharap, di musim liburan Natal dan Tahun Baru berikutnya kami dapat terus memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh masyarakat,” ucap Awaluddin.

Selama angkutan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018, jumlah penumpang terbanyak terdapat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta mencapai 4,26 juta penumpang, kemudian Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, sebanyak 740.500 penumpang, lalu Bandara Internasional Halim Perdanakusuma sebanyak 482.500 penumpang.

Di Pergantian Tahun 2017/2018, Angkasa Pura I Sukses Layani 6 Juta Penumpang

PT Angkasa Pura I yang mengelola 13 bandara di wilayah Indonesia Tengah dan Timur, selama Natal dan Tahun Baru 2018 telah melayani 6.012.106 penumpang atau mengalami pertumbuhan sebesar 6,37 persen jika dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5.652.054 penumpang. Jumlah penumpang domestic mencapai 5.196.702 penumpang atau meningkat 7,13 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya yang mencapai 4.850.878 penumpang. Sedangkan total penumpang internasional mencapai 815.404 penumpang atau meningkat 1,78 persen jika dibandingkan pada tahun sebelumnya yang mencapai 801.176 penumpang.

Baca juga: Usai Kembangkan 9 Bandara, Angkasa Pura I Canangkan Benahi Infrastruktur di El Tari dan Frans Kaisiepo

“Pergerakan penumpang baik domestic & internasional tertinggi terjadi di Bandara Internasional Juanda Surabaya yang melayani 1.406.640 penumpang atau meningkat 11,55 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar 1.135.490 penumpang. Bandara Internasional Frans Kaisiepo, Biak mengalami pertumbuhan penumpang paling tinggi selama Natal dan Tahun Baru 2017 yang mencapai 22,99 persen atau 30.083 penumpang jika dibandingkan pada periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 24.459 penumpang,” ujar Direktur Utama Angkasa Pura I, Faik Fahmi.

Pertumbuhan jumlah penumpang juga diikuti oleh pertumbuhan pergerakan pesawat selama Natal dan Tahun Baru 2018. Tercatat 47.578 pergerakan pesawat baik domestic dan internasional di 13 bandara yang dikelola Angkasa Pura I atau meningkat 9,07 persen jika dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 43.621 pergerakan pesawat. Pergerakan pesawat tertinggi terjadi di Bandara Internasional Juanda yang mencapai 9.958 pergerakan pesawat atau meningkat 16,06% jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 8.580 pergerakan pesawat. Sementara Bandara Frans Kaisiepo mengalami pertumbuhan tertinggi pergerakan pesawat sebesar 27,03 persen atau 437 pergerakan pesawat jika dibandingkan pada periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 344 pergerakan pesawat.

“Secara keseluruhan Pelaksanaan Posko Angkutan Udara Natal dan Tahun Baru 2018 di 13 bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura I berjalan aman, baik dan lancar. Kami ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung situasi yang kondusif selama pelaksanaan Posko seperti Otoritas Bandara, TNI, Polri, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), Basarnas, BMKG, Airnav Indonesia, pihak maskapai serta masyarakat,” tambah Faik.