Lama Tak Terpakai, Gerbong Tua Ini Disulap Jadi Kamar Hotel Mewah

Ketika mengingat gerbong kereta yang lama tak terpakai, teringat gerbong-gerbong yang bertumpuk di Purwakarta. Dimana stasiun kereta Purwakarta selain masih aktif melayani kereta api juga menjadi kuburan untuk gerbong-gerbong kereta tua dan tak lagi digunakan.

Baca juga: Kuburan Tak Selalu Seram, Stasiun Purwakarta Saksinya

Padahal, gerbong-gerbong tersebut mungkin saja masih bisa digunakan. Nah, KabarPenumpang.com mencoba merangkum dari berbagai sumber dimana gerbong-gerbong kereta api tua disulap menjadi sebuah hotel ataupun penginapan.

Ruang kamar di The Santos Express Train Lodge

Padahal biasanya sebuah hotel bertingkat, namun para pengusaha memiliki ide lain dengan merubah gerbong kereta menjadi sebuah hotel yang nyaman. The Santos Express Train Lodge, hotel ini menggunakan kereta tua yang diparkir tepat dipinggir pantai Santos, Kota Pelabuhan Mossel Bay, Southern Cape, Afrika Utara.

Gerbong tua yang dijadikan hotel ini ada tujuh gerbong yang dibagi menjadi beberapa bagian. Empat gerbong pertama, dibuat menjadi kamar tidur tetapi kamar mandi ada di bagian luar kamar alias pelancong harus berbagi kamar mandi dengan tamu lainnya.

Kemudian gerbong kelima dibuat menjadi tipe bangsal dengan tempat tidur tingkat atas bawah untuk pelancong dengan budget minim. Sedangkan dua gerbong terakhir dibuat menjadi suite yang dinamakan Royal Ladies.

Bangsal dan pemandangan di The Santos Express Train Lodge

Gerbong yang digunakan untuk suite Royal Ladies ini berasal dari tahun 1920 isi masing-masing gerbong tersebut ada dua suite yang luas. Karena hotel tersebut berada di pinggir pantai, maka pemandangannya pun pasir putih dan air laut berwarna biru yang cukup menenangkan.

Jika pelancong bosan di kamar, bisa menikmati pantai dengan berjemur atau bermain air laut. Selain bisa menikmati pantai yang indah, restoran dalam hotel ini menyediakan menu-menu tradisional Afrika Selatan seperti boboti yang merupakan daging cincang dengan lumuran saus gurih dan minuman waterblommetjiebredie yang terbuat dari air rebusan bunga.

Tarif untuk menginap di hotel ini cukup terangkau sehingga bisa menjadi tempat favorit pengunjung jika sedang berada di Souther Cape. Tak hanya di Afrika Selatan saja yang menjadikan gerbong tua sebagai hotel, sebuah stasiun tua di Allerston, North Yorkshire, Inggris menjadi tempat peristirahatan tiga gerbong tua.

Stasiun ini bernama Wilton Stasion dan berganti nama menjadi Ebberston station pada tahun 1900an. Kemudian stasiun tua tersebut dikelola Mark dan Carol Benson menjadi sebuah penginapan dengan menyebutnya sebagai The Old Station.

The Old Stasion

Uniknya, The Old Stastion ini menggunakan tiga gerbong kereta tua yang ada di sana menjadi penginapan. Sebelumnya tiga gerbong tua ini saat masih beroperasi merupakan kelas satu dan masih memiliki dapur, tempat bersantai, dua hingga tiga kamar tidur, kamar mandi, pemanas, televisi dan pemilik penginapan melengkapinya dengan pemutar DVD.

Baca juga: Jejak Sejarah Stasiun Medan, Sisakan Kenangan Menara Jam Antik

Untuk membuat kesan tuanya, beberapa ciri dari interior gerbong kereta ini tetap asli dan di pertahankan. Sebab Carol dan Mark ingin pelancong yang menginap di kereta tersebut benar-benar merasakan suasana kereta.

Penginapan yang sudah beroperasi sejak 22 tahun lalu ini menjadi salah satu tujuan wisata menarik. Tidak hanya bagi pelancong lokal melainkan mancanegara dari anak-anak hingga orang tua senang menghabiskan waktu di gerbong tua ini.

Tak Perlu Periksa Keamanan Lagi, Penumpang dari Singapura Bisa Melenggang Saat Transit di Bandara Schipol Amsterdam

Menjadi penumpang transit dalam melanjutkan penerbangan ke sebuah negara, biasanya harus melakukan pemeriksaan ulang keamanan sebelum berpindah penerbangan. Baru-baru ini, pelancong dari Singapura yang transit di bandara Schipol Amsterdam, Belanda tidak lagi harus melalui pemeriksaan keamanan saat transit.

Baca juga: Demi Pembangunan Terminal 5, Bandara Changi Kutip Pajak Hingga S$15 Per Penumpang

KabarPenumpang.com melansir dari laman straitstimes.com (6/2/2018), bahwa pihak Komisi Eropa mengatakan, tak hanya penumpang, barang bawaan mereka pun juga tidak diperiksa lagi sehingga memudahkan perpindahan. Hal ini bisa mengurangi stres penumpang dan kerumitan yang sering terjadi jika barang mereka kembali diperiksa.

Pengaturan keamanan One-Stop dengan Singapura tersebut didasari adanya pengakuan peraturan skrining keamanan dan ini merupakan yang pertama antara Eropa dengan negara di Asia. Rencana ini secara progresif juga akan dilaksanakan pada bandara lain termasuk London dan Frankfurt yang masuk ke dalam skema tersebut.

Adanya hubungan tersebut akan memperbaiki koneksi transfer yang dilakukan penumpang di bandara masing-masing. Selain itu untuk meningkatkan efisiensi operasi penerbangan dan bandara.

Komisi Eropa dan Kementerian Perhubungan Singapura mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama bahwa, hal tersebut akan memberikan keuntungan bagi pelancong udara, pelaku bisnis dan perusahaan penerbangan yang terbang dari Singapura menuju Eropa. Kemitraan ini menegaskan bahwa komitmen antara Singapura dan Eropa juga untuk memperkuat kerja sama internasional dalam meningkatkan kemanan penerbangan sipil serta fasilitas penumpang penerbangan dan bandara sesuai dengan standar internasional.

Dengan kerja sama ini juga bisa menjadi satu hal yang baik untuk menjadi contoh bagaimana cara memperkuat peraturan kemanan penerbangan secara global dan berkontribusi pada keberlanjutan perjalanan udara sebagaimana disahkan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional.

Kemitraan tersebut membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk mempererat dan mensahkannya dalam sebuah kesepakatan dan dilaksanakana di sela-sela Singapore Airshow 2018 di Changi Exhibition Center. Kesepakan tersebut ditandatangani oleh sekretaris Kementerian Perhubungan Singapura Long Ngai Seng bersama Dirjen Mobilitas dan Transportasi Komisi Eropa Henrik Hololei.

Baca juga: Belanda Diterpa Cuaca Buruk, Bandara Schiphol Bakal Lebih Sepi di Akhir Tahun

“Kesepakatan itu memperkuat keamanan penerbangan internasional sekaligus meningkatkan kualitas perjalanan penumpang dan mengurangi biaya untuk bandara dan maskapai penerbangan,” ujar Hololei.

Selain dengan Singapura, Eropa juga sudah menyusun rencana yang sama dengan Amerika Serikat, Kanada dan Montenegro di Eropa Tenggara. Sementara dengan Israel dan Serbia, hal ini masih dalam pembicaraan kedua pihak.

1 April 2018, Tarif Tiket Taj Mahal Naik

Sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia, Taj Mahal di India menjadi salah satu destinasi yang paling sering dikunjungi pelancong baik lokal maupun mancanegara. Kehadiran Taj Mahal memberikan warna dan arti sendiri bagi para pengunjungnya. Sebab, sebagai sebuah makam, Taj Mahal juga melambangkan simbol cinta jika merunut dari terbangunnya bangunan tersebut.

Baca juga: Kabar Duka dari India, Aktor Muda Bollywood Tewas Setelah Terjatuh dari Peron

KabarPenumpang.com melansir dari laman theweek.in (13/2/2018), mendapatkan kabar bahwa pada 1 April 2018 mendatang, pengunjung Taj Mahal harus mengeluarkan biaya lebih banyak untuk menikmati monumen cinta dengan lapisan marmer warna putih tersebut. Awalnya tiket masuk ke monumen cinta ini hanya Rs40 atau Rp8500 menjadi Rs50 atau Rp11 ribu.

Sedangkan untuk pengunjung yang ingin masuk kedalam makam utama harus merogoh kocek tambahan Rs250 atau Rp53 ribu. Kenaikan tiket masuk Taj Mahal tersebut disampaikan oleh Menteri Kebudayaan India Mahes Sharma.

“Kami ingin melestarikan Taj Mahal untuk generasi mendatang. Penelitian konservasi mengenai aspek ini sedang berlangsung di beberapa institut dan salah satu institut, NEERI (National Environmental Engineering Research Institute) telah menyarankan agar jumlah orang di dalam mausoleum utama perlu diatur. Saya mengadakan pertemuan dengan semua pemangku kepentingan dan untuk saat ini diputuskan untuk tidak membatasi jumlah orang,” kata Sharma.

Tak hanya kenaikan tarif tiket, untuk waktu kunjungan para pengunjung pun tidak lagi bisa menghabiskan waktu sepanjang hari di Taj Mahal. Sharma mengatakan, para pengunjung hanya memiliki waktu maksimal tiga jam, jika melebihi waktu tersebut akan dikenakan biaya tambahan. Untuk memberikan pengalaman perjalanan yang lebih baik bagi para wisatawan, pemerintah berencana membangun koridor dari bandara ke Taj Mahal.

Selain itu juga ada rencana pemerintah dimana akan membangun pusat pariwisata malam di lahan kosong seluas 20 hektar yang berdekatan dengan Yamuna di Agra. Sharma menambahkan, bahwa akan hadir sebuah museum Kumbh di Allahabad, Ram Experience Center di Ayodhya dan museum lainnya di Gorakhnath, Gorakhpur. Kementerian Kebudayaan India juga sedang mengerjakan sebuah museum untuk Subash Chandra Bose dan sebuah pusat pameran di IGNCA.

“Kami percaya bahwa Subhash Chandra Bose belum menerima jenis kepentingan yang seharusnya dimiliki dan itulah mengapa kami memutuskan untuk membangun museum untuknya,” kata Sharma.

Alokasi anggaran untuk Kementerian Kebudayaan India telah meningkat sekitar empat persen untuk tahun 2018-2019. Sharma menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan latihan besar pada 100 Monumen Adarsh, fasilitas e-ticketing di semua monumen, kemudian melakukan pemetaan budaya India, Rashtriya Sanskriti Mahotsav, Gangga Mahotsav, Olimpiade Teater ke-8, Festival India di atas kapal dan Digitisasi untuk mempopulerkan budaya India terutama di kalangan kaum muda.

Alokasi anggaran ini juga digunakan untuk mengembangkan sepuluh lokasi wisata unggulan ke destinasi Iconic Tourism dengan membangun fasilitas kelas dunia. Situs ikonik tersebut yakni Taj Mahal dan Fatehpur Sikri, Agra (UP), Gua Ajanta dan Ellora, Aurangabad (Maharashtra), Benteng Merah, Makam Humayun, Qutb Minar dan Purana Qila (Delhi), kelompok kuil Khajuraho (Madhya Pradesh), Hampi kelompok monumen (Karnataka), Kuil Shore, Mahabalipuram (Tamil Nadu), Kuil Matahari, Konark (Odisha) dan Benteng Golkonda, Hyderabad (Telangana).

Selain itu, pekerjaan konservasi dan perbaikan fasilitas sudah dilakukan di Lal Quila, Purana Qila dan Qutb Minar dalam kemitraan dengan pihak swasta. Interglobe, perusahaan induk di belakang maskapai Indigo, sedang bekerja di Lal Quila dan Yatra.com untuk  mengerjakan Qutb Minar. Sharma juga memberikan rincian tentang skema pemetaan budaya yang dilaksanakan dengan pengeluaran Rs490 crores selama tiga tahun ke depan di 622 Kabupaten.

Baca juga: Chennai Mofussil, Terminal Bus Terbesar dengan Kapasitas 2.000 Bus

Dalam hal ini, semua seniman di setiap sudut negara melakukan pendaftaran di portal pusat, dan melalui proses kompetitif mereka akan dibagi ke dalam berbagai kategori. Ini tidak hanya akan membantu memberikan bantuan kepada para seniman, namun juga akan membantu melestarikan seni dan kerajinan yang hampir menjadi naluri. Sharma menjelaskan, hampir satu crore artis seperti itu sudah terdaftar di portal tersebut.

Antisipasi Lonjakan Penumpang Saat Imlek, Bandara Macau Operasikan Terminal Ekstensi Baru

Peningkatan jumlah permintaan terhadap perjalanan udara yang terjadi belakangan ini memaksa sejumlah elemen terkait untuk mengimbanginya. Di beberapa negara, pemerintah setempat memutuskan untuk mendirikan sebuah bandara baru untuk mengimbangi tingginya permintaan perjalanan udara tersebut.

Baca Juga: Di 2019, Cina Siap Operasikan Bandara Internasional Terbesar di Dunia!

Tapi tidak sedikit pula yang memutuskan untuk melakukan ekstensi terminal agar mampu menampung jumlah penumpang dalam skala yang lebih besar, seperti contohnya Macau International Airport (MIA).

Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, adapun perluasan yang dilakukan oleh bandara berkode MFM ini ditujukan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang yang diperkirakan bakal terjadi pada periode puncak Tahun Baru Imlek yang jatuh pada Jumat (16/2/2018). Secara otomatis, ekstensi seluas 14.000 meter persegi ini mencakup peningkatan kapasitas terminal, dimana sekarang bandara ini mampu mengakomodir sekitar 7,8 juta penumpang.

Tidak hanya itu, perluasan ini juga mencakup penambahan sejumlah fasilitas, seperti boarding bridge biasa dan empat remote boarding bridge, boarding counter, hingga sistem penanganan bagasi teranyar. Hadirnya beberapa fasilitas penunjang pengoperasian bandara ini dipercaya mampu meningkatkan efisiensi dan pengalaman para penumpang. Di luar itu semua, sejumlah perangkat lain pun turut dipasangkan pada terminal ekstensi yang rampung pada petengahan Februari  2018 ini.

Salah satu sudut North Extension. Sumber: ggrasia.com

Untuk bagian interior, desain plafon dan lantai baru pun tak luput dari perhitungan pihak bandara. Desain yang simpel namun menonjolkan sisi kemewahan ini dimaksudkan untuk menciptakan nuansa nyaman dan kesan luas bagi siapapun yang menyambanginya.

Dalam sebuah pernyataan resmi, pihak Macau International Airport mengutarakan bahwa diperkirakan volume penumpang harian melonjak melebihi angka 20.000 selama periode libur Tahun Baru Imlek. Angka tersebut juga dibarengi dengan peningkatan arus lalu lintas udara sebesar lima persen dari angka normal.

Baca Juga: Bandara-Bandara Tertinggi di Dunia, Sebagian Besar Berada di Cina

Guna mengimbangi perkiraan tersebut, pihak bandara mengatakan akan meningkatkan jumlah dari pos pengecekan dan memasok petugas di posko pengamanan lima persen lebih banyak dari hari biasa. Operator bandara ini menambahkan bahwa pengembangan North Extension ini telah mendapat dukungan penuh dari Macau Special Administrative Region (SAR).

Tidak Antar Penumpang, Moda Otonom Ini Ditugaskan Untuk Kirim Barang!

Siapa bilang moda otonom hanya diperuntukkan bagi penumpang yang hendak bepergian dari satu titik ke titik lainnya? Ternyata tidak semua lho! Ada beberapa moda otonom yang tersebar di seluruh belahan dunia yang ternyata ditugaskan untuk berperan sebagai kurir, baik itu moda darat maupun moda udara (drone).

Baca Juga: Swiss Manfaatkan Drone Untuk Antar Sampel Laboratorium

Untuk drone, sebuah perusahaan yangbergerak di bidang logistik, Swiss Post berencana untuk menghadirkan drone yang akan ditugaskan untuk mengantarkan sampel laboratorium dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Kota Lugano dipilih sebagai lokasi uji coba teknologi masa depan ini. Matternet ditunjuk Swiss Post untuk menyediakan drone jenis quadcopter (drone dengan empat baling-baling) yang mampu menampung beban hingga 2kg, dengan kecepatan tempuh 36 km/jam.

Tidak Swiss Post, salah satu raksasa dunia aviasi global, Airbus pun baru-baru ini menerbangkan sebuah Unmanned Aerial Vehicle (UAV) untuk pertama kalinya, dimana drone tersebut ditujukan untuk mengantar barang. Adalah Skyways, drone yang pertama kali diuji coba di National University of Singapore pada 8 Februari 2018 ini menuai respon positif dari para pengunjung yang datang di acara tersebut.

Beralih ke moda darat, dimana dua orang insinyur yang pernah mengabdi kepada Waymo (anak perusahaan dari Google) mengembangkan  R1, moda darat yang ditujukan untuk mengantar pesanan online hingga dry cleaning. Dengan menganut sistem pengaplikasian yang sama dengan moda berbasis online, para pengguna nantinya cukup menentukan titik penjemputan dan destinasi pengantaran, dan R1 akan datang menjemput barang tersebut.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman techradar.com (31/1/2018), moda otonom bertenaga listrik ini mampu menangkut beban hingga 20 kantong belanja dan bermanuver layaknya moda otonom terkemuka lainnya. Dengan bentuknya yang menyerupai kantong belanja berroda, menjadikan kendaraan ini mudah untuk dikenali.

Baca Juga: YAPE, Robot Pengirim Barang Dengan Teknologi Pemindai Wajah

Walaupun kehadirannya di pasar moda otonom terbilang cukup terlambat, namun misi yang diemban oleh Nuro dengan R1-nya ini memberikan warna baru di ranah tersebut. Jika tidak ada halangan, R1 akan mulai mengambil jatah di jalanan Amerika pada akhir tahun 2018 ini.

Jika dibandingkan, nampaknya UAV yang berperan sebagai kurir akan lebih mudah diterima oleh pasar, mengingat rute yang dilalui bebas hambatan. Tidak seperti di jalur darat yang memaksa moda otonom untuk bersinggungan secara langsung dengan pengguna jalan lainnya, seperti kendaraan konvensional, pejalan kaki, hingga pesepeda. Belum lagi traffic light yang kerap kali menjadi sumber kemacetan di beberapa titik. Tapi kita tunggu saja perkembangan selanjutnya dari R1!

Kombinasi Teknologi dan Pemanfaatan SDM Jadi Kunci Turunnya Antrean di Bandara

Ada beberapa hal yang sangat membosankan ketika kita hendak bepergian menggunakan pesawat ke luar negeri, salah satunya mengantri di bagian imigrasi. Memang, penempatan pos pemeriksaan, counter check-in, bagian imigrasi, hingga ruang tunggu keberangkatan di setiap bandara berbeda antara satu dengan yang lainnya. Namun bagian imigrasi yang di kebanyakan bandara berada setelah counter check-in ini tak jarang menimbulkan masalah tersendiri, terutama terkait soal antrean.

Baca Juga: TripIt, Aplikasi Pemantau Panjang Antrean di Konter Keamanan Bandara

Jika kebetulan counter check-in dan bagian imigrasi sedang lengang, maka hal tesebut tidak jadi masalah. Namun bagaimana jika kedua pos ini tengah ramai sehingga memaksa Anda untuk mengantre, di sinilah letak masalah sesungguhnya. Waktu mengantre yang Anda buang begitu saja sebenarnya dapat dipergunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat, seperti mengisi ulang daya gadget, dan lain-lain.

Tapi seiring berjalanannya waktu, masalah seperti ini perlahan bisa dientaskan. Hadirnya solusi berupa pemanfaatan smartphone pelancong untuk menangangi masalah ini tidak lepas dari perkembangan teknologi yang belakangan ini melesat pesat dan mengambil peranan penting di dunia aviasi global. Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, bahwa ada banyak perkembangan di sektor teknologi yang mengambil peranan penting dalam evolusi layanan penumpang di bandara, sebut saja seperti teknologi face recognizing yang dapat mengambil data pelacong cukup hanya dengan memindai wajahnya saja.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk, menyebutkan bahwa beberapa bandara di Inggris seperti bandara Birmingham, Bristol, Manchester, dan Edinburgh dapat melacak keberadaan pengunjung yang ada di dalam bandara dengan mendeteksi koneksi Bluetooth dan WiFi yang tersambung.

Pelacakan ini dilakukan tanpa sepengetahuan si pemilik gadget dan tidak menginterupsi aktifitas dunia maya yang tengah dilakukan olehnya. Tanpa ‘mencomot’ identitas sang pemilik gadget, teknologi ini dinilai ampuh untuk memangkas estimasi antrean yang selama ini menjadi momok tersendiri bagi para penumpang. Nantinya, petugas bandara akan menghampiri penumpang yang dijadwalkan untuk mengurus imigrasi dan membuka jalur khusus bagi mereka.

“Dengan meningkatnya jumlah penumpang di bandara, ditambah dengan keterbatasan kapasitas, kebutuhan akan wawasan tentang aspek operasi untuk mengoptimalkan dan membuat keputusan yang tepat, semakin dibutuhkan sekarang,” tulis BLIP, perusahaan penyedia teknologi pelacakan penumpang di bandara, dalam laman resminya.

Baca Juga: Ada Guratan “Abu-Abu” Pada Sistem Pemindai Wajah di Bandara

“Dengan BlipTrack yang memberikan visibilitas pada keefektifan sumber daya, bandara sekarang dapat memanfaatkan apa saja yang tersedia, seperti mengoptimalkan efisiensi pemrosesan, meningkatkan pendapatan dan meningkatkan pengalaman penumpang,” tambahnya.

Sederhananya, kombinasi ketersediaan teknologi dan mengoptimalkan sumber daya yang ada merupakan kunci dari upaya untuk memangkas antrean di bandara ini.

Perkeretaapian India Siap Tinjau Kebijakan ‘Pay and Use’ Pada Toilet Stasiun

Hadirnya toilet di sarana dan pra-sarana transportasi memang dapat meningkatkan kualitas dan pelayanan kepada para penggunanya. Khusus untuk kehadiran toilet di pra-sarana transportasi seperti stasiun kereta api, dapat menunjang kesejahteraan warga yang tinggal di sekitarnya. Ambil contoh di India, dimana setiap rumah tercatat belum memiliki bilik sanitasi yang sesuai standar, bahkan beberapa di antaranya belum ada yang memiliki bilik sanitasi ini.

Baca Juga: Kementerian Kereta Api India Janji Sulap Gerbong Lama Jadi Lebih Modern

Terkait dengan hal ini, Dewan Perkeretaapian India merancang sebuah proposal dimana para pengguna toilet di stasiun dalam waktu dekat ini bisa menikmati bilik sanitasi dengan harga yang lebih murah atau bahkan gratis di stasiun kecil.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman indiatimes.com (12/2/2018), kebijakan ‘pay and use’ yang hingga saat ini masih berlaku memungkinkan para kontraktor yang membangun fasilitas toilet untuk membenahinya dengan dana yang mereka peroleh, walaupun pembenahan tersebut menggunakan harga yang ada di pasar.

Dengan adanya kebijakan baru tersebut, Divisional Railway Managers (DRM) telah diberi wewenang untuk memutuskan apakah mereka ingin toiletnya dibayar atau publik dapat menggunakannya secara bebas tanpa biaya.

“DRM diberdayakan untuk membuat penilaian spesifik lokasi untuk memutuskan apakah konstruksi, operasi, pemeliharaan gaji dan penggunaan toilet harus diambil sebagai ‘kontrak produktif’ atau kontrak layanan,” tulis DRM dalam sebuah keterangan tertulis. Kontrak layanan yang dimaksud di sini adalah toilet akan bebas biaya penggunaan.

Di sisi lain, seorang pejabat senior perkeretaapian India mengatakan bahwa para kontraktor harus mempertimbangkan pemberlakuan kebijakan ‘pay and use’. Pasalnya, sebagian toilet yang berada di daerah pedesaan berada dalam kondisi yang tidak layak pakai.

Baca Juga: Sulap Bus Reyot, Ecotact Hadirkan Bus Toilet Berfasilitas Lengkap!

“Di banyak daerah, khususnya di stasiun-stasiun kecil, orang-orang enggan untuk membayar toilet dan lebih memilih untuk buang air di luar,” petik pejabat senior perkeretaapian India tersebut. “Sekarang, DRM dapat memutuskan toilet mana saja yang akan memberlakukan sistem ‘pay and use’ dan mana yang tidak, bergantung pada kelaikan toilet itu sendiri,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, DRM juga kini dapat memutuskan berapa banyak toilet yang sekiranya harus di bangun, khususnya di stasiun-stasiun yang masih belum memiliki bilik sanitasi yang memadai. “Kebijakan ini akan ditinjau dalam waktu satu bulan ke depan,” tambah sang pejabat.

Rilis Lokomotif Listrik Baru, Bombardier Langsung Teken Kontrak Bersama Mercitalia Rail

Perusahaan kedirgantaraan dan transportasi multinasional yang berbasis di Montreal, Quebec, Kanada, Bombardier baru saja merilis salah satu mahakaryanya yaitu sebuah lokomotif listrik bernama Bombardier Traxx DC3. Lokomotif anyar dengan segala fitur modern yang tersemat ini ternyata langsung menarik hati beberapa perusahaan, dan salah satu yang paling menunjukkan keseriusannya untuk menimang Traxx DC3 ini adalah operator angkutan barang nomor wahid di Italia, Mercitalia Rail.

Baca Juga: Whoosh! Inilah Lima Kereta Tercepat di Dunia, Proyek di Indonesia Ada di Peringkat Berapa Ya?

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman globenewswire.com (21/12/2018), keseriusan Mercitalia Rail untuk memiliki lokomotif listrik terbaru dari Bombardier ini ditunjukkan dengan cara menandatangani kontrak pembelian 40 unit Bombardier Traxx DC3. Tidak berhenti sampai di situ, Mercitalia Rail juga menjalin kerja sama dengan Bombardier untuk pemeliharaan armada selama 16 tahun yang akan dilakukan oleh divisi Bombardier Transportation Italy’s Services.

Jika ditelisik, nominal keseluruhan kerja sama yang dilakukan oleh kedua belah pihak mencapai angka US$249 juta atau yang setara dengan Rp 3,4 triliun kurs sekarang. Harga tersebut mencakup opsi 20 lokomotif tambahan dan layanan pemeliharaan, serta pilihan untuk perawatan delapan tahun tambahan di seluruh armada. Dijadwalkan, pengiriman lokomotif akan dimulai pada kuartal ke VI 2018.

“Kami bangga bahwa Mercitalia Rail, pemimpin pasar di sektor angkutan barang di Italia, telah memilih lokomotif TRAXX DC3 untuk memodernisasi armadanya, dan akan menjadi pelanggan pertama yang mendapatkan keuntungan dari produk inovatif ini,” ucap Luigi Corradi selaku Chief Country Representative Italy Bombardier Transportation.

Baca Juga: Joseph Armand Bombardier – Ketika Minat, Bakat, dan Kegigihan Membuahkan Hasil Manis

“TRAXX DC3 merupakan lokomotif DC paling mutakhir di Eropa. Kontrak kerja sama 16 tahun bersama Mercitalia Rail, yang dikelola oleh divisi layanan kami di Italia akan memastikan ketersediaan armada operasional yang superior,” lanjutnya.

Guna menjamin kelancaran dari TRAXX DC3 yang dipesan oleh Mercitalia Rail, pihak Bombardier lalu melakukan uji coba terhadap lokomotif listrik tersebut pada Senin (12/2/2018) kemarin. Sejumlah lokomotif baru ini digiring keluar dari pabrik perusahaan yang berada di Vado Ligure, dekat Genoa menuju pusat uji coba Osmannoro Trenitalia di dekat Florence. Dikutip dari sumber  lain, adapun lokomotif ini akan melewati uji statis dan dinamis.

Seorang Desainer Industri Rancang Halte Bus yang Dilengkapi Pengisian Daya EV Nirkabel!

Merambaknya pengadaan bus listrik belakangan ini membuat sejumlah kalangan berusaha untuk menyajikan beragam inovasi yang dapat menunjang pengoperasiannya di kehidupan sehari-hari. Ya, kendaraan berbasis tenaga listrik memang tengah naik daun, pasalnya moda ini digalang-galang dapat meminimalisir polusi udara. Walaupun menggunakan tenaga listrik untuk mengoperasikannya, namun kinerja kendaraan yang akrab disebut Electric Vehicle (EV) ini nyatanya mampu bersaing dengan kendaraan konvensional.

Baca Juga: Pertama di Dunia! Cina Perkenalkan Halte Bus Cetak 3D dari Bahan Daur Ulang

Nah, layaknya kendaraan konvensional yang membutuhkan kehadiran pom bensin untuk mengisi ulang bahan bakar mereka, moda berbasis tenaga listik pun membutuhkan stasiun pengisian daya sendiri. Beberapa di antara stasiun pengisian daya ini masih menggunakan metode kabel dimana bus akan berhenti di bawah titik pengisian dan kabel tersebut akan mengalirkan sejumlah daya. Namun apa jadinya jika stasiun pengisian daya tersebut menggunakan sistem nirkabel untuk mengisi ulang daya?

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, seorang perancang industri bernama Gavin Harvey merancang sebuah tempat perberhentian bus (halte) yang dilengkapi dengan teknologi pengisian daya listrik nirkabel untuk bus. Hal tesebut tentu saja memancing beragam komentar positif dari berbagai penjuru dunia yang mengetahui rencana pengadaan halte futuristik ini.

Walaupun ini masih sebatas rencana, namun pengadaan stasiun pengisian daya nirkabel ini dipercaya sebagai tolak ukur kemajuan teknologi di era modern seperti sekarang ini. Tidak hanya mampu mengisi ulang daya saja, stasiun ini juga dapat digunakan oleh para penumpang untuk menunggu bus. Di dalamnya, Anda dapat melakukan pengisian ulang daya gadget dan laptop Anda.

Baca Juga: North Carolina Canangkan Halte Bus dengan Tenaga Surya

Gavin menilai stasiun pengisian daya ini merupakan penyederhanaan kinerja logistik infrastuktur sarana transportasi umum di masa yang akan datang. Adapun stasiun pengisian daya yang diadaptasi oleh Gavin ini merupakan pengembangan teknologi wireless dari WiCity Technology.

Belum ada rincian spesifik mengenai rencana lebih lanjut tentang pembangunan stasiun pengisian daya EV ini, namun kehadirannya di masa yang akan datang diprediksi mampu mengefisiensikan waktu pemberhentian  yang dilakukan oleh bus ketika ‘menjaring’ penumpang di halte.

Berbagi Pasar dengan Dunia Penerbangan, Eurostar Rilis Layanan Kereta Cepat London-Amsterdam

Masih ingatkah Anda dengan janji yang pernah diutarakan oleh Eurostar pada bulan April 2017 silam? Ya, operator layanan kereta cepat yang menghubungkan London dengan kota-kota lain di luar Tanah Britania ini baru saja memenuhi janjinya pada waktu itu, yaitu membuka rute London – Amsterdam.

Baca Juga: Pengalaman Penumpang Jadi Penentu Pertumbuhan Layanan Kereta Cepat

Ibukota Belanda ini sendiri digalang-galang sebagai salah satu destinasi tercantik di Eropa yang memiliki berbagai atraksi wisata menarik dengan museum-museum terbaik. Tidak hanya itu, deretan kanal cantik hingga gemerlap kehidupan malamnya yang disebut-sebut mampu menyaingi indahnya kehidupan malam di Berlin.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, kereta yang akan menghubungkan London dan Amsterdam ini membutuhkan waktu tiga  jam 41 menit untuk menghubungkan dua Ibukota beda negara ini.

“Peluncuran layanan kami ke Belanda merupakan kemajuan yang cukup signifikan dalam perjalanan lintas Channel dan menandai era baru di tingkat internasional,” tutur Chief Executive Eurostar, Nicolas Petrovic, dikutip dari laman independent.co.uk (9/2/2018). “Dengan layanan langsung dari Inggris ke Belanda, Prancis dan Belgia, kami mengubah hubungan antara Inggris dan tiga negara perdagangan utama Eropa,” imbuhnya.

Di sisi lain, Nicolas menambahkan  bahwa  hadirnya layanan kereta London – Amsterdam ini merupakan upaya yang dilakukan oleh operator moda darat untuk ‘membagi’ pasar yang sebelumnya didominasi oleh jalur udara. “Kami akan mengambil sedikit pangsa pasar dari perusahaan penerbangan, tapi kami akan menumbuhkan pasar tersebut,” jelasnya.

Tidak bisa dipungkiri, rute penerbangan London – Amsterdam merupakan salah satu rute paling ‘gemuk’ di Zona Eropa. “Sekitar 17 penerbangan yang menghubungkan dua kota ini setiap harinya,” tutur salah satu juru bicara dari British Airways. “Kami mengangkut sekitar 1,98 juta penumpang per tahun, dengan tarif yang cukup terjangkau, mulai dari £29,99 untuk sekali perjalanan,” timbal seorang juru bicara dari pihak maskapai EasyJet.

Baca Juga: Serba-Serbi Channel Tunnel, Terowongan Rel Terpanjang Kedua di Dunia

Di lain pihak, operator layanan Channel Tunnel mengatakan bahwa terhubungnya London dan Amsterdam akan mengubah sistem perjalanan dan meningkatkan ekspansi pasar di antara dua kota tersebut.

Bagi Anda yang penasaran  dengan layanan baru ini, tiket mulai diperjualbelikan terhitung per tanggal 20 Februari 2018 untuk perjalanan di hari yang sama dengan kereta khusus promo. Tertarik untuk menjajal layanan baru ini?