Belanda Diterpa Cuaca Buruk, Bandara Schiphol Bakal Lebih Sepi di Akhir Tahun

Bandara Schiphol

Bandara Schiphol di Amsterdam, Belanda terkenal sebagai salah satu hub penerbangan transit utama di Eropa. Dan pada akhir tahun 2017 ini, diperkirakan cuaca buruk yang akan melanda Negeri Kincir Angin ini juga akan berdampak pada penerbangan dari dan ke Belanda, yang artinya Schipol akan lebih sepi di akhir tahun.

Baca juga: Empat Bandara di Belanda Bersiap Manfaatkan Energi Angin

Namun, dari sekian banyak penumpang ada lima persen yang masih menggunakan penerbangan walau dengan langit yang sedang tidak bersahabat. KabarPenumpang.com melansir dari laman curbed.com (20/11/2017), diperkirakan hanya sebanyak empat juta penumpang yang bisa melakukan perjalanan dengan menghindari badai yang menyebabkan penundaan penerbangan.

Bandara Schiphol yang dibangun tahun 60-an menjadi model bandara selain Chicago O’Hare dan mampu mengakomodasi 65 juta penumpang setiap tahunnya. Menurut arsitek utamanya Han Benthem dari Benthem Crouwel Architects megawasi penambahan dan desain ulang pada tahun 80-an. Benthem mengatakan Schiphol sendiri memiliki ruang lebih sedikit yang digunakan dibandingkan bandara lainnya.

“Lalu lintas udara telah berkembang pesat dan tidak dapat diprediksi. Masa depan tidak perah tiba tapi saat ini selalu ada, Jika Anda membiarkan desainnya mengarah pada visi masa depan, akhirnya Anda akan berakhir dengan bangunan tua,” ujar Benthem.

Menurutnya, terlihat ironis jika selalu menganggap arus lalu lintas yang padat, sistem keamanan yang kedap udara dan keinginan bersaing dan maskapai membuat beberapa tempat yang paling tidak banyak dirancang. Dalam batasan ini, Schiphol berusaha memberi penumpang kekuatan untuk memberikan suara dalam pengalaman yang mereka rasakan.

Saat ini Schiphol sedang berbenah untuk menjadi yang lebih baik dan akan selesai pembangunannya pada tahun 2023 mendatang. Arsitek Kees Kaan mengatakan, Schiphol akan dibuat dalam kesederhanaan yang berbeda dan spektakuler dengan tata letak rasional yang mencirikan Schiphol.

Benthem menambahkan, bahwa keterbukaan berasaal dari desakan terhadap keseimbangan. Dimana menempatkan penumpang sejajar dengan kepentingan komersialnya.

Dengan penempatan ini, bandara Schiphol telah berevolusi untuk menjadi lebih akomodatif. “Memecahkan sesuatu untuk semua orang tidak semudah kedengaranya,” jelasnya.

Benthem menambahkan, banyak orang yang suka menganggap sebuah bandara sebagai kota, dengan desain interior yang terang dan mengkilap yang bisa terlihat lebih hebat. Tetapi jika hanya dipenuhi dengan toko dan jalan yang tidak jelas ini adalah suatu kegagalan sebuah bangunan dan bandara.

“Kami mengundang Anda untuk tujuan penerbangan yang menyenangkan dan aman. Kami melihat bandara sebagai perpanjangan dari area publik. Tentu saja prosesnya tetap sama seperti bandara lainnya. Tapi kami pikir ini lebih efisien dan menyenangkan,” Benthem mengatakan.

Menurut Jaap Wiedenhoff, seorang insinyur dan perancang dari ABT yang sedang mengerjakan terminal baru di Schipol, ini semua tentang strategu menciptakan arus. Tiga bagian pengalaman keamanan di darat, filter keamanan, dan penutup udara akan menampilkan efek siang hari yang melimpah. Dengan fokus holistik untuk mengurangi kecemasan, alih-alih hanya melemparkan barikade tambahan, transisi membantu mengurangi stres dalam perjalanan.

Baca juga: Dari Italia Sampai Ke Inggris, Berikut 10 Bandara Tersibuk di Benua Biru!

Dengan tes yang dilakukan pada pemindai baru yang memungkinkan penumpang untuk menjaga sepatu dan laptop dan cairan di tas mereka, serta tes lanjutan dengan teknologi pengenalan wajah, pengalaman pengguna jasa bisa menjadi lebih mulus.