Pemprov DKI Lanjutkan Program Pembangunan Halte TransJakarta di Jalur Tol

Walaupun sempat menuai kontroversi dalam masa kampanye Gubernur Anies Baswedan dan Wakilnya Sandiaga Uno, namun proyek pengadaan jalur TransJakarta di enam jalur tol dalam kota Jakarta hingga kini masih digodog. Rencananya, jalur yang diproyeksikan akan menimbulkan kemacetan ini sendiri akan rampung pada tahun 2023 mendatang.

Baca Juga: TransJakarta Perkenalkan 3 Varian Bus Baru, Lebih Bersahabat Bagi Penyandang Disabilitas dan Lansia

Wakil Gubernur Sandiaga Uno mengatakan bahwa dirinya kini hanya melanjutkan apa yang sudah dirancang sebelumnya. “Sempet ditolak tapi sudah dibangun, jadi kita rampungkan. Kita hentikan polemiknya dan kita pastikan tidak menambah kemacetan, justru menampung TJ. Karena dulu zaman Foke (Fauzi Bowo) sudah memberikan persetujuan dengan syarat TJ boleh beroperasi,” Ujar Sandiaga, dikutip KabarPenumpang.com dari laman tribunnews.com (13/7/2018).

Dilansir dari laman sumber lain, enam ruas tol dalam kota ini merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN), yang terlampir dalam Peraturan Presiden No.3 Tahun 2016 maupun dalam Peraturan Presiden (Perpres) perubahan No.58 Tahun 2017. Masuknya proyek ini ke dalam PSN mewajibkannya harus dimulai sebelum 2019.

Di sisi lain, Direktur Utama PT Jakarta Toll Road Development selaku kontraktor dari proyek ini, Frans Sunito mengatakan bahwa keseluruhan progress proyek ini baru berada di level 16 persen. Pembangunan tahap 1 ini terbagi ke dalam tiga sesi ; Sesi A menghubungkan ruas Kelapa Gading – Pulo Gebang dengan panjang 9,3km, Sesi B menghubungkan Grogol – Semanan dengan panjang 8,6km, dan Sesi C menghubungkan Grogol – Kelapa Gading dengan panjang 12,3km.

Kini pihak kontraktor tengah mengejar target untuk menyelesaikan Sesi A, sementara Sesi B dan C akan menyusul dan diproyeksikan mulai dikerjakan pada pertengahan tahun depan. “Tahap 1 ini akan jadi urat nadi wilayah Barat – Timur DKI Jakarta,” ujar Sandiaga. Lebih lanjut, Sandiaga mengatakan halte bus yang ada di dalam tol akan dibuat terintegrasi dengan moda transportasi lain, seperti LRT, Commuter Line, dan MRT.

Baca Juga: Percayakan Produk Eropa Ketiga Kalinya, TransJakarta Resmi Gunakan Sasis Volvo

“Kita pastikan ada satu line untuk TJ. Kita harapkan ini bukan hanya menambah jumlah kendaraan, tapi juga dengan dipakai di TJ dan akan terintegrasi dengan TOD (Transit Oriented Development) MRT Jakarta,” ujar Sandi.

 

 

Universitas Indonesia MoU dengan Damri Untuk Kembangkan Bus Listrik

Bus listrik di masa ini perlahan-lahan mulai populer dengan teknologinya yang ramah lingkungan dan hemat energi. Terbukti hampir disemua negara di dunia terus mengembangkan teknologi pada bus listrik yang diproduksinya.

Baca juga: Inilah Citaro, Primadona Bus Listrik Besotan Mercedes Benz

Hal ini membuat Indonesia tidak ketinggalan, sebab Universitas Indonesia baru saja menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Perum DAMRI dan PT Pengembangan Pariwisata Indonesia. Dengan adanya penandatanganan nota kesepahaman ini ketiganya sepakat mengembangkan operasi bus listrik nasional produksi UI serta berkomitmen untuk memesan beberapa unit bus listrik buatan Fakultas Teknik UI.

Rektor UI Muhammad Anis mengatakan UI memiliki tim riset mobil listrik atau tim Mobil Listrik Nasional yang bernama tim Molina. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, tim Mobil Listrik Nasional UI kini telah meluncurkan Molina UI-EV Bus. Ini adalah bus listrik hasil dari riset yang sudah siap untuk dikomersialkan.

Meski besutan anak negeri, bus tersebut memiliki sifat ramah lingkungan dan hemat energi, selain itu patut dibanggakan dan dipromosikan. Sehingga kedepannya Molina UI-EV akan siap dipasarkan untuk turut meramaikan industri otomotif Indonesia.

“Pengembangan bus listrik ini sejalan dengan tren kendaraan masa depan, yaitu kendaraan dengan konsep hemat energi dan ramah lingkungan,” kata Anis yang dikutip KabarPenumpang.com dari Republika.co.id.

Tak hanya itu, adanya pengembangan bus listrik ini sendiri, UI ikut andil dalam program pemerintah yakni menurunkan emisi sebesar 29 persen pada 2030 mendatang. Sebagai universitas dengan kampus ramah lingkungan, UI diklaim berusaha memanfaatkan 25 persen untuk kegiatan akademis dari luas sekitar 320 hektare.

Baca juga: Berharap Mampu Pasok Kebutuhan Bus di Bandara, Moeldoko Hadirkan Prototipe Bus Listrik Ketiga

Adapun sisanya, kampus juga berkomitmen untuk 75 persen dari lahan tersebut agar tetap hijau dengan fungsi sebagai hutan kita serta melestarikan keberadaan tujuh danau di sekitarnya.

“Sehingga, ekosistem di lingkungan kampus tetap terjaga keseimbangannya, juga mendukung visi UI sebagai green campus,” tambah Anis.

Ke depannya, UI disebut akan terus melakukan inovasi dan pengembangan bus listrik ini, tidak hanya dari segi kendaraan, tetapi juga beberapa hal yang mendukung operasionalisasi bus listrik seperti pabrikasi, charging station dan after sales service.

Cina Luncurkan Fuxing High-Speed Train, Mampu Tembus Kecepatan 350 km Per Jam!

Negeri Tirai Bambu kembali unjuk gigi sebagai negara yang maju di segala bidang. Baru-baru ini negara dengan populasi manusia terbanyak di dunia ini merilis layanan kereta peluru terbarunya yang digadang mampu menembus kecepatan maksimum 350 km per jam. Selain itu, kehadiran armada bernama Fuxing High-Speed Train ini juga diproyeksikan untuk melipatgandakan kapasitas yang dilayani oleh armada sebelumnya.

Baca Juga: Kereta Peluru Fuxing Akhirnya Kembali Merajai Dunia Kereta Api Cina

Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, Fuxing High-Speed Train yang menarik 16 gerbong ini berangkat Shanghai Hongqiao Railway Station pada Senin (1/7/2018) sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Dengan panjangnya yang mencapai 415 meter, kereta ini diproyeksikan untuk mengangkut 1.193 penumpang setiap perjalanannya, atau dua kali lipat layanan kereta komersial di Cina.

Dengan kecepatan maksimum yang sudah disebutkan di atas, itu berarti kereta ini mampu menghubungkan Shanghai dan Beijing yang terpaut jarak 819 mil (1.318km) hanya dengan waktu empat jam 28 menit saja.

Menurut Shanghai Railway Station, sebanyak tiga kereta cepat ini nantinya akan beroperasi di ute G2 / G3, G10 / G11 dan G118 / G149 antara Shanghai dan Beijing. Selain itu, Fuxing High-Speed Train ini juga memiliki kursi first-class dan business-class yang lebih banyak ketimbang layanan lainnya.

Hadirnya layanan kereta cepat di Cina dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang ternyata telah mengubah budaya berkendara masyarakatnya sendiri. Berdasarkan laporan yang dirilis oleh China Railway Corporation, rata-rata okupansi Fuxing High-Speed Train antara Shanghai – Beijing mencapai angka 94 persen. Angka tersebut menguat 17,5 persen dari layanan lain yang mengular di jalur yang sama.

Baca Juga: Terbebas dari Status Skors, Kereta Peluru Cina Siap Mengular Kembali

Kedepannya, akan ada tambahan enam kereta cepat yang menghubungkan Shanghai dengan sejumlah destinasi lain di Negeri Tiongkok, seperti Provinsi Fujian, Hunan, Jiangxi dan Shanxi. Terhitung sejak debutnya, Fuxing High-Speed Train telah mengangkut lebih dari 2,8 juta penumpang.

Wakil Kepala Shanghai Railway Station, Wu Peng memperkirakan bahwa pada puncak liburan musim panas ini, kereta akna mengangkut sekitar, “21,5 juta penumpang. Terhitung sejak 1 Juli hingga 1 Agustus 2018 mendatang,”

 

Penuh Polemik, Maroko Siap Operasikan Kereta Cepat Penuh di Penghujung 2018

Nampaknya tidak hanya Indonesia saja yang kini tengah berupaya untukmenghadirkan jaringan kereta cepat di negaranya, pun dengan Maroko. Diketahui, Maroko kini tengah mempersiapkan kehadiran dari kereta berkecepatan tinggi yang diproyeksikan beroperasi pada akhir tahun 2018 ini. Pernyataan tersebut dilontarkan langsung oleh operator kereta di negara matahari tenggelam, Office National des Chemins de Fer (ONCF).

Baca Juga: Lintasi Hutan di Karawang, Pembebasan Lahan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Optimis Tuntas Akhir Tahun

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman xinhuanet.com (13/7/2018), adapun jaringan kereta cepat ini nantinya akan menghubungkan kota Tangier di Mediterania dengan salah satu kota terbesar yang juga merangkap sebagai Ibukota Keuangan, Casablanca. “Komisioning proyek unggulan ini sudah dicapai pada bulan Juni kemarin,” tutur salah satu juru bicara dari ONCF.

Pihak operator kereta juga optimis bahwa hadirnya jaringan kereta cepat ini dapat membawa perubahan yang signifikan. “Sebuah modernisasi, penanda kemajuan, dan inovasi,” ungkap sang juru bicara. “Jaringan kereta cepat ini juga dapat membangun citra negara menjadi lebih baik lagi, mengingat kondisi negara yang masih berupaya untuk membangun masa depan yang lebih cerah,” imbuhnya.

Sebenarnya, proyek ini sudah mulai direncanakan sejak tahun 2005 silam dan baru mendapat putusan untuk memulai pembangunan pada November 2007. Lalu pada Februari 2010, ONCF secara resmi menandatangani pendanaan pembangunan proyek ini senilai 20 juta Dirham atau yang setara dengan Rp7,83 triliun.

Pada Desember 2010, ONCF menandatangani kontrak kerja sama dengan Alstom – berperan sebagai penyedia armada kereta cepat – dengan nilai kontrak 400 juta Euro atau yang setara dengan Rp6,7 triliun untuk 14 kereta Euroduplex yang masing-masing mampu mengangkut 533 penumpang.

Patut diketahui, hampir mirip seperti Indonesia, proyek kereta cepat ini juga sempat menuai kecaman dari beberapa golongan. Golongan yang kontra dengan pembangunan jaringan kereta cepat ini menilai kehadirannya belum terlalu dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah transportasi di Maroko. Selain itu – mereka menilai – alangkah lebih bijaksananya jika anggaran yang digunakan untuk pembangunan dialokasikan untuk maslaah yang lebih serius di sana.

Baca Juga: Whoosh! Inilah Lima Kereta Tercepat di Dunia, Proyek di Indonesia Ada di Peringkat Berapa Ya?

Terlepas dari polemik yang sempat membara di Maroko tentang rencana pengadaan jaringan kereta cepat ini, kabar terakhir menyebutkan bahwa pihak operator kini tengah membuka ‘sayembara’ untuk menciptakan logo dari kereta cepat yang pada uji cobanya beberapa waktu yang lalu berhasil menempuh kecepatan 352 km per jam. Sebagai informasi tambahan, proyek yang telah dikembangkan selama kurang lebih satu dekade ini dibiayai oleh banyak mitra, diantaranya adalah ONCF, Perancis, Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.

 

FAA Menolak Aturan Pembatasan Jarak Kursi di Kabin Pesawat

Mempersempit kursi dalam pesawat mungkin memang membuat untung maskapai, tapi tidak bagi penumpang. Bahkan dengan tubuh yang lebih besar dari standar, penumpang akan sulit masuk kedalam kursinya. Sayangnya, permasalahan penyempitan jarak kursi tersebut tidak digubris oleh Federal Aviation Administration (FAA) yang menolak terkait ukuran kursi tersebut.

Baca juga: Tolak Atur Regulasi Kursi Pesawat, FAA: Kenyamanan Penumpang Bukan Masalah Keamanan

FAA sebenarnya sempat diperintahkan oleh hakim di Pengadilan Banding Amerika Serikat untuk Distrik Sirkuit Columbia tahun 2017 lalu untuk menangani kasus kursi maskapai penerbangan yang jaraknya menyusut secara drastis. KabarPenumpang.com merangkum dari laman marketwatch.com (9/7/2018), FAA pada 6 Juli 2018 kemarin menanggapi perintah itu dengan memutuskan bahwa penyusutan kursi pada kenyataannya tidak mempengaruhi keamanan konsumen. Sehingga membuat FAA tidak menetapkan batas pada ruang kaki atau lebar tempat duduk penumpang.

“FAA tidak memiliki bukti yang menunjukkan bahwa dimensi tempat duduk saat ini menghambat kecepatan evakuasi penumpang, atau bahwa peningkatan ukuran penumpang menciptakan masalah evakuasi. Selama evakuasi, penumpang berdiri hanya dalam beberapa detik, yang waktu kurang dari yang dibutuhkan untuk keluar darurat untuk mulai berfungsi dan untuk garis yang mulai terbentuk di lorong untuk membersihkan,” ujar juru bicara FAA.

FlyersRights.org sempat mengajukan petisi pada 2017 lalu terkait ruang kaki atau jarak kursi dengan rata-rata pada penerbangan domestik 31 inci. Maskapai penerbangan ekonomi seperti Frontier dan Spirit memiliki jarak terendahyakni 28 inci dan lebar kursi pun mengalami penurunan.

Mei lalu, American Airlines AAL, -8,08 persen direncanakan akan mendatangkan Boeing BA, -1,89 persen Max jetliners dengan dua inci lebih sedikit ruang kaki di pelatih 29 inci versus 31 inci, tetapi kembali mengevaluasi rencana itu pada bulan Juni untuk mempertahankan setidaknya 30 inci dari ruang untuk kaki. Selain tidak nyaman, kursi menyusut mengancam kemampuan untuk mengevakuasi pesawat dalam waktu 90 detik.

“Satu-satunya cara yang mungkin adalah untuk masyarakat yang bepergian adalah dengan protes publik yang luar biasa. FAA mengatakan bahwa mereka tidak melihat bukti bahwa ukuran penumpang, usia atau kapasitas fisik mempengaruhi waktu evakuasi karena menolak melakukan pengujian yang benar-benar mencerminkan populasi penumpang saat ini dan kursi yang menyusut dan lebar lorong dengan cara yang realistis,” kata Paul Hudson, presiden FlyersRights.org.

Tempat duduk yang sempit juga meningkatkan ketegangan di pesawat dan dapat mengatur panggung untuk pengalaman di atas kapal yang tidak menyenangkan, menurut Christopher Elliott, seorang advokat perjalanan konsumen dan pendiri Advokasi Konsumen Elliott. Dia menghubungkan meningkatnya jumlah perkelahian dan pertengkaran yang dipublikasikan secara besar-besaran pada penerbangan ke ketegangan yang meningkat karena ketidaknyamanan di udara.

Baca juga: Terkait Masalah Seat Pitch, FAA Dipaksa Perbaharui Peraturan Penerbangan

“Orang-orang memiliki lebih sedikit ruang di kursi, tempat duduk kurang nyaman dari sebelumnya, dan mereka bereaksi dengan cara yang sangat mudah diprediksi mereka panik. Ukuran kursi minimum bisa menghentikan konfrontasi di udara ini,” katanya.

Mungkin masih ada kemungkinan ukuran tempat duduk akan diatasi pada tahun mendatang, namun. Inspektur Jenderal Departemen Transportasi AS Calvin Scovel mengumumkan peninjauan standar evakuasi FAA pada bulan Juni, menanggapi permintaan dari House Transportation Committee. Dia mencatat bahwa pesawat modern memiliki lebih banyak kursi, penumpang yang lebih besar dan memuat lebih banyak tas jinjing.

Terminal Baru Bandara Seletar Mulai Beroperasi Akhir 2018

Singapura tidak hanya mempunyai Bandara Internasional Changi, tetapi juga memiliki Bandara Seletar yang letaknya di wilayah timur laut Singapura. Bandara ini dikelola oleh Changi Airport Group (GAC) dan terminal barunya yang mengahabiskan biaya S$80 juta atau setara dengan Rp842 miliar akan mulai beroperasi pada akhir 2018.

Baca juga: Terminal 4 Bandara Changi Hadirkan Kemewahan dan Teknologi Tinggi

KabarPenumpang.com melansir dari laman channelnewsasia.com (4/7/2018), bandara ini akan memiliki terminal dengan dua lantai seluas sepuluh ribu meter persegi dan dapat menangani 700 ribu pergerakan penumpang per tahunnya. Ini lebih banyak dari jumlah penumpang yang di lihat pada 2016 lalu.

Dalam terminal Bandara Seletar, area keberangkatan akan memuat empat loket check in, enam lajur imigrasi, dua pos pemeriksaan kemanan dan satu ruang gerbang (ruang tunggu) yang bisa menampung 200 orang.

“Terminal baru di Bandara Seletar ini disediakan dengan kapasitas yang dibutuhkan untuk menangani pertumbuhan penumpang di tahun-tahun mendatang. Ini akan memberi penumpang kami aliran proses yang lebih efisien baik untuk penumpang terjadwal ataupun yang tidak terjadwal,” ujar Wakil Manager Umum Bandara, Khoh Su Lim.

Terminal baru ini bisa menampung tiga pesawat parkir yang akan meningkatkan efisien dan kenyamanan menaiki pesawat. Area pribadi sebagai Seletar Business Aviation Center juga disiapkan bagi penumpang yang melakukan perjalanan dengan penerbangan bisnis carteran dan jet pribadi.

Sayangnya terminal baru tersebut tidak memiliki gerai ritel kecuali satu kios makanan dan minuman. Setelah dibuka, operator Malaysia Firefly akan mengalihkan operasionalnya dari Bandara Changi ke terminal baru Seletar.

Maskapai tersebut akan mengoperasikan 20 penerbangan turboprop hariannya ke dan dari Subang, Ipoh dan Kuantan di Malaysia. CAG mengatakan, relokasi operasional pesawat kecil ke Seletar akan membantu meningkatkan sumber daya untuk memenuhi permintaan kapasitas yang meningkat.

“Beberapa konsumen yang terbang antara Singapura dan Kuala Lumpur akan mendapat manfaat karena mereka mungkin menghargai kenyamanan dari bandara yang sangat kecil dan mudah di lalui,” ujar Brendan Sobie, Kepala Analisis CAPA Center fo Aviation.

Dia mengatakan, kelebihan lainnya bagi pengguna adalah harga bisa turun dan banyak maskapai dengan pesawat kecil yang masuk pasar ini.

“Kami mengharapkan persaingan di rute, yang tidak mungkin sampai pembukaan bandara ini. Malindo Air sekarang dapat bersaing dengan Firefly di pasar yang seharusnya menurunkan tarif, yang relatif tinggi antara Changi dan Subang. Apa yang akan dilakukan adalah berpotensi merangsang permintaan awal,” tambah Sobie.

Baca juga: Demi Pembangunan Terminal 5, Bandara Changi Kutip Pajak Hingga S$15 Per Penumpang

Namun, dia juga menambahkan bahwa terminal baru mungkin tidak memindahkan jarum pada kedatangan penumpang Singapura. Kapasitasnya adalah sekitar satu persen ukuran kedatangan 62 juta penumpang Bandara Changi tahun lalu.

Peningkatan ini menandai langkah terbaru dalam pembangunan kembali Bandara Seletar yang dimulai pada tahun 2008. Sejak itu, bandara yang berdekatan dengan dengan wilayah Malaysia ini telah mengalami beberapa peningkatan, seperti pemanjangan landasan pacu dan pembangunan menara kontrol baru dan stasiun pemadam kebakaran.

Tolak Atur Regulasi Kursi Pesawat, FAA: Kenyamanan Penumpang Bukan Masalah Keamanan

Dalam menanggapi kasus pengadilan banding, Federal Aviation Administration (FAA) mengatakan tidak perlu mengatur kembali tepat duduk maskapai penerbangan. Sebab, dalam tes evakuasi membuktikan ada ruang yang cukup untuk manuver meski ada keluhan konsumen tentang tempat duduk yang sempit.

Baca juga: Dilema Seat Pitch, Maskapai Tambah Untung Penumpang Merana

Masalah ini sebenarnya diajukan FlyersRights.org agar FAA menetapkan standar kursi minimum karena kekhawatiran tempat duduk yang sempit untuk memudahkan evakuasi. Apalagi dengan penumpang yang memiliki tubuh lebih besar.

Namun, FAA sendiri mengaku pihaknya tidak benar-benar melakukan uji keselamatan tersebut untuk mematuhi aturan dimana dalam evakuasi penumpang dalam waktu 90 detik. Mereka menyatakan, bahwa mengandalkan demostrasi parsial dari Boeing dan Airbus.

FAA juga tidak akan melakukan tes penuh untuk meninjau terkait keselamatan. Pihaknya mengatakan, setiap desain maskapai harus lulus tes evakuasi darurat minimal satu kali sebelum mendapat sertifikat untuk mengangkut penumpang di ruang udara Amerika Serikat.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman eturbonews.com (11/7/2018), Paul Hudson, presiden organisasi penumpang dan anggota lama Komite Penasihat Rasionalisme Aviation FAA yang menangani keselamatan penerbangan kemudian mempertanyakan bukti keamanan FAA.

“Video klip Airbus dan Boeing yang disensor ini hanya menunjukkan subjek tes yang lebih muda secara fisik dalam pakaian olahraga melangkah ke lorong. Tidak ada subjek yang menunjukkan benar-benar keluar dari pesawat apa pun. Tidak ada subjek yang kelebihan berat badan (obesitas), lansia, lemah atau anak-anak dengan demikian tidak termasuk sekitar 80 persen dari penumpang Amerika Serikat,” ujar Hudson.

Dia mengatakan, tes seharusnya mensimulasikan kepanikan, karena ini merupakan faktor utama dalam evakuasi. Permasalahannya, dalam video tersebut bahkan subjek tes tersenyum dan beberapa di antara lainnya tertawa.

Padahal tes tersebut mengaruskan 50 persen bagasi kabin berada di lorong, tetapi itu tidak ada dalam video. Bahkan tampaknya tidak ada pengawasan atau pengamatan langsung leh FAA atau ahli keamanan luar.

“Memang, tes evakuasi ini begitu dipertanyakan sehingga mayoritas bipartisan besar dari DPR Amerika Serikat mengeluarkan undang-undang pada bulan April yang mewajibkan FAA untuk menetapkan standar kursi dan Inspektur Jenderal DOT baru-baru ini membuka audit pengujian evakuasi FAA,” ujar Hudson.

Sayangnya, FAA dan lembaga federal lainnya memiliki sejarah peraturan yang lemah ditambah dengan terlalu bergantung pada regulasi industri sendiri. Pada tahun 2001, ketika FAA bertugas mengatur keamanan penerbangan swasta memungkinkan 19 dari 19 pembajak teroris untuk melewati keamanan dengan senjata pisau yang diizinkan yang mengakibatkan hampir 3000 kematian.

Pada tahun 1988, ketika berada di bawah regulasi FAA, ada 270 kematian dalam pemboman teroris Pan Am 103 karena kegagalan keamanan penerbangan. EPA dan NATCA sama bergantung pada pengujian emisi curang untuk mobil Volkswagen selama bertahun-tahun.

Baca juga: Terkait Masalah Seat Pitch, FAA Dipaksa Perbaharui Peraturan Penerbangan

“Sekarang birokrasi FAA sekali lagi menolak peraturan apa pun tentang ukuran tempat duduk dan ruang penumpang sambil mengolok-olok ketidaknyamanan penumpang dan mengabaikan semua masalah keselamatan dan kesehatan, satu-satunya cara yang mungkin adalah bagi publik yang melakukan perjalanan adalah dengan protes publik yang luar biasa untuk berkomentar secara online bertentangan dengan Keputusan FAA di Regulations.gov FAA-2015-4011, atau dengan mengirimkan video pengalaman penumpang ke map atau ke Flyersrights.org dan menghubungi anggota Kongres mereka. Pengadilan, Pejabat FAA Administrator Dan Elwell, DOT Sekretaris Elaine Chao, atau Presiden Donald J. Trump, yang tampaknya tidak pernah diterbangkan secara komersial selama bertahun-tahun, juga memiliki kekuatan untuk membalikkan keputusan FAA yang tidak menguntungkan ini,” tutur Hudson.

Keder, Dua Pemuda di Tangsel Kendarai Motor di Celah Peron dan Rel

Ada-ada saja memang kelakuan orang Indonesia. Entah terlalu kreatif atau apa, tapi yang jelas tindakan yang dilakukan oleh dua pemuda di daerah Tangerang Selatan ini sontak mengundang berbagai reaksi dari netizen. Bagaimana tidak, mereka menunggangi sepeda motor di celah sempit antara peron dan rel. Kejadian yang tersebar di berbagai jejaring sosial media ini pun menjadi perbincangan masyarakat banyak.

Baca Juga: Viral Suzuki Jimny Nongkrong di Atas Rel LRT Sumatera Selatan. Ada Apa?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, kejadian ini disinyalir terjadi di Stasiun Sudimara, Tangerang Selatan pada Senin (2/7/2018). Seorang pengirim video di Instagram dengan nama pengguna @sannsani menulis kesaksiannya tentang kejadian unik tersebut.

“Jadi, itu pengendara motor lawan arus kereta dari arah (Stasiun) Jurang Mangu menuju (Stasiun) Sudimara. Saya juga heran pas lihat awal dia asal lewat aja. Nah, di situ ada beberapa security yang memberhentikan dan yang saya dengar pengendara motor mau keluar lewat stasiun atau lurus terus sampai jalan raya. Trus security tersebut melarang dan disuruh putar balik lagi ke arah Jurang Mangu. Video diambil setelah security menyuruh putar balik, gitu min,” tulis @sannsani, dikutip dari laman kompas.com (3/7/2018).

Selain kesaksian tersebut, Kepala Stasiun Sudimara, Khairul mengatakan bahwa dua pria yang berboncengan tanpa mengenakan helm ini mengaku baru tinggal di daerah itu dan masih bingung dengan jalanannya. “Mereka mengaku sebagai warga baru yang tinggal di dekat stasiun,” ujar Khairul.

Entah apa yang terbesit di pikiran kedua pemuda ini, mengendarai sepeda motor di celah sempit antara peron dan rel. Padahal, sudah sangat jelas bahwa medan tersebut dipenuhi oleh bebatuan kecil dan tidak diperuntukkan bagi sepeda motor atau pun pejalan kaki.

Baca Juga: Bawa Komputer Full Set, Wanita Ini Mendadak Viral

Jika ditelusuri lebih lanjut, sepanjang jalur rel Stasiun Sudimara – Jurang Mangu memang tidak dibubuhi dengan pagar pembatas, maka asal usul datangnya dua pemuda bermotor ini nampaknya agak sedikit masuk di akal.

Kendati alasan yang mereka lontarkan bisa diterima akal sehat, namun tetap saja keduanya sudah kadung menjadi trending topic di sejumlah sosial media dalam beberapa hari ke belakang.

Bantu Penumpang Bawa Barang Hingga ke Gerbang, KLM Hadirkan Robot Care-E

Ketika teknologi sudah memasuki dunia bandara, maka setiap penumpang akan merasakan kemudahan dan kenyamanan. Apalagi jika memiliki asisten pribadi yang bisa membantu Anda dalam menikmati perjalanan di bandara sebelum sampai tiba di gerbang keberangkatan untuk membawakan barang.

Baca juga: RADA! Robot Berteknologi Artificial Intelligence di Bandara Indira Gandhi

Baru-baru ini, KLM Royal Dutch Airlines, maskapai plat merah asal Negeri Kincir Angin menghadirkan robot bandara yang akan mengantarkan penumpang sekaligus membawakan barang mereka ke gerbang. KabarPenumpang.com melansir dari laman channel3000.com (11/7/2018), robot ini bernama KLM Care-E yang memiliki bentuk berbeda dari yang lain.

Sebab bila robot biasa hanya memindai wajah atau boarding pass, robot ini didesain juga untuk mengangkut barang bawaan penumpang yang akan dibawa masuk dalam kabin. Care-E sendiri menjadi troly self-driving dengan warna biru terang sama dengan livery milik maskapai nasional Belanda.

Care-E sendiri kini tengah diuji oleh maskapai penerbangan dan akan diluncurkan di dua bandara di Amerika Serikat yakni JFK dan San Francisco Internasional New York pada 2018 ini. Meskipun Care-E adalah produk dari maskapai KLM, penumpang yang menggunakannya tak perlu berbicara bahasa Belanda ataupun bahasa Inggris.

Sebab, dalam menggunakan Care-E sendiri bisa dengan berbagai suara atau gerakan yang akrab agar mudah berinterasksi dengan pengguna. Untuk menggunakan Care-E pun mudah, penumpang hanya perlu memindai boarding pass.

Robot besutan maskapai Belanda ini mampu mengangkut bobot barang hingga 85 pon atau sekitar 38,5 kg dan berjalan bersama Anda dengan kecepatan 3 mph atau 4 km per jamnya setara dengan kecepatan jalan manusia. Untungnya Care-E sudah menggunakan teknologi AI sehingga bisa mengakses data secara real time seperti perubahan gerbang keberangkatan dan akan mengantarkan penumpang sesuai perubahan tersebut.

Baca juga: Menuju Konsep Smart City, Bandara Mineta San Jose Operasikan Robot yang Siap Bantu Penumpang

Tetapi robot ini bukanlah yang pertama kali muncul dibandara sebab di Bandara Incheon Seoul dan LaGuardia New York telah menghadirkan robot panduan. Selain itu di Bandara Schipol Amsterdam Belanda juga hadir Spencer.

Tetapi Spencer tak sama dengan Care-E yang bisa membawa tas. Meski begitu, saat ini masih ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan robot bandara seperti membuat kopi, membuat seseorang berhenti berbicara di ponsel dengan volume penuh sementara yang lainnya mendengar informasi keberangkatan.

Seni Graffiti di Inggris, Kebanggaan Kaum Bronx yang Sisakan Kesan Kotor dan Tidak Terjaga

Tentu Anda semua pernah melihat mural di dinding berupa tulisan dengan font dan warna yang beragam. Tidak bisa dipungkiri, seni graffiti memang sering dibuat oleh sekumpulan seniman kreatif dengan tujuan dan maksud tertentu. Ada yang sekedar iseng saja, atau bahkan ada juga yang menjadi satu hobi buat mereka. Medianya pun beragam, mulai dari tembok-tembok di gang, kolong jembatan, tembok rumah warga, hingga tembok pembatas rel kereta.

Baca Juga: Azuma Virgin, Kereta Cepat Ramah Lingkungan di Inggris, Mengular di 2018

Kendati ini termasuk ke dalam kategori tindakan vandalisme, namun tetap saja ancaman hukum tidak menggentarkan para pejuang malam ini. Mengapa dinamai pejuang malam? Karena kebanyakan dari seniman jalanan ini beraksi saat malam hari, dimana tidak banyak orang yang dapat memergoki aksi mereka. Walhasil, sebuah perencanaan yang sangat matang harus disiapkan sebelum mereka terjun ke lapangan ; mulai dari lokasi penyemprotan mural, alat dan bahan, hingga sketsa kasarnya.

Namun jangan kira aksi yang dilancarkan pada malam hari ini selalu berujung aman. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (19//6/2018), tiga remaja ditemukan tewas di sebuah rel di Selatan London pada Senin (18/6/2018) pagi. Disinyalir, ketiga remaja ini merupakan seniman graffiti yang baru saja melancarkan aksinya.

Graffiti Buatan Alberto Carrasco, Jack Gilbert, dan Harrison Scott-Hood . Sumber: bbc

Sayang, ketika Alberto Carrasco (19), Jack Gilbert (23), dan Harrison Scott-Hood (23) selesai membubuhkan graffiti di dekat rel kereta, ketiganya tersambar oleh kereta dan nyawa mereka pun langsung melayang seketika. “Tidak ada tempat perlindungan yang aman di sana. Jika mereka terperangkap di jalur yang akan dilalui oleh kereta, maka mereka benar-benar tidak punya banyak pilihan,” tutur pihak Kepolisian Transportasi Inggris, Supt. Matt Allingham yang enggan membeberkan lokasi kejadian secara lebih detail.

Kasus ini sontak menjadi bahan evaluasi pihak perkeretaapian untuk menjaga keseluruhan infrastrukturnya agar tidak menjadi objek corat-coret seniman graffiti. Pasalnya, sebuah data menyebutkan bahwa di kuartal pertama tahun 2018 merupakan titik tertinggi dari kasus temuan graffiti yang pernah terjadi, terhitung sejak kuartal pertama tahun 2013. “982 kasus coretan sepanjang kuatral pertama 2018,” tulis data yang dirilis oleh British Transport Police tersebut.

Baca Juga: Aeroliner3000, Konsep Kereta Cepat Inggris dengan Double Decker

Bukan apa-apa, hadirnya coretan semacam ini tentu tidak melulu memperindah sebuah objek, apalagi sarana dan prasarana transportasi. Kesan acak-acakan dan tidak terjaga langsung terpancar dari objek tersebut. Selain menjadikan objeknya jadi terlihat tidak terjaga, mural yang dijadikan sebuah kebanggaan oleh kaum pinggiran (Bronx) ini juga sangat berbahaya.

Berkaca pada kasus terakhir yang menimpa ketiga remaja tersebut, apa masih berani untuk membuat graffiti di prasarana transportasi ketika malam hari?