Sambut Asian Games 2018, LRT Jakarta Siap Beroperasi 10 Agustus Mendatang

Laga pembukaan Asian Games 2018 rencananya akan dibuka pada 18 Agustus mendatang, dan ada kabar baik terkait prasarana transportasi, bahwa pada 10 Agustus 2018 jaringan LRT (Light Rapid Transit) sudah dapat dioperasikan untuk mendukung mobilitas para atlet dan kru dari manca negara.

Hal tersebut disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat meninjau fasilitas jaringan Light Rapid Transit (LRT) Jakarta pada 15 Juli kemari. Senada dengan Menteri Budi – pada kesempatan yang sama – Direktur Utama PT Jakarta Propertindo yang baru, Dwi Wahyu Daryoto pun meyakini bahwa pembangunan LRT dapat diselesaikan oleh Wijaya Karya (Wika) pada akhir bulan Juli ini.

Baca Juga: Hitung Mundur, LRT Jakarta Optimis Bisa Beroperasi Saat Asian Games 2018

Setelah sejumlah otoritas terkait mulai membocorkan tanggal rilis dari salah satu moda yang akan dibanggakan Indonesia pada pagelaran Asian Games 2018 ini, satu fase akhir yang tidak boleh dilewatkan adalah uji kelayakan. Menyinggung soal ini, Menteri Budi mengatakan bahwa LRT Jakarta akan mendapatkan ijin operasi pada awal Agustus.

“Saya sudah tugaskan Direktur Prasarana lakukan sertifikasi secara berangsur. Kita utamakan apa yang sudah kita kerjakan, disertifikasi. Direncanakan kurang lebih 1-10 agustus selesai,” ungkap Menteri Budi, dikutip dari laman TribunNews.com (15/7/2018).

Nah, pasti banyak dari Anda semua yang penasaran dengan gambaran sarana dan pra-sarana LRT Jakarta rute Kelapa Gading – Velodrome Rawamangun ini, bukan? Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, nantinya akan ada empat trainset yang akan beroperasi, walaupun tercatat LRT Jakarta sendiri sudah memiliki delapan trainset. Waktu operasinya sendiri mulai pukul 05.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB.

Projects Managers Sarana LRT Jakarta, Aditya Kesumanegara mengatakan bahwa perusahaan sudah mengantongi 24 nama yang siap menjalankan moda ini. Uniknya, beberapa dari masinis ini berjenis kelamin perempuan. “Sekitar 24 orang masinis, jam operasional jam 5 atau 6 pagi sampai jam 10 malam,” kata Aditya, dikutip dari laman liputan6.com (15/7/2018). Aditya menambahkan bahwa satu trainset terdiri dari dua gerbong yang mampu mengangkut hingga 270 penumpang.

Suasana di dalam gerbongnya pun sangat nyaman, dengan perpaduan warna merah putih yang mendominasi dan deretan bangku menyamping berbahan plastik seperti yang ada di MRT siap menemani perjalanan Anda.

Baca Juga: Di Jakarta Segera Beroperasi MRT dan LRT, Tahukah Artinya?

Kereta buatan Hyundai Rotem asal Korea Selatan ini menggunakan sistem articulated boogie yang memungkinkan kereta dapat melaju dengan aman dan luwes mengikuti kontur jalur trek pada tikungan tajam. Selain itu, produsen kereta pun mengatakan bahwa armadanya mampu mengular nyaris tanpa getararan dan juga lebih kedap suara.

Sedangkan dari segi pra-sarananya sendiri, LRT Jakarta sudah menyiapkan yang terbaik dari yang terbaik. Sebut saja Stasiun Kelapa Gading yang akan dibekali dengan elevator, lift, toko retail, dan coffee shop yang siap memanjakan setiap penumpang. Kendati pembangunan Stasiun Kelapa Gading baru rampung 90 persen, namun Aditya yakin bahwa stasiun ini bisa selesai pada akhir Juli mendatang. “Kami sedang menunggu elevator yang nantinya akan dipasang di samping tangga manual.” Tutup Aditya.

 

Dari 234 Unit Pesanan, Batik Air Terima Airbus A320-200CEO ke-41

Sebagai maskapai penerbangan terbesar di Indonesia, Lion Air Group baru saja menerima pesawat tipe Airbus A320-200CEO (A320) yang langsung diterbangkan dari pabriknya di Toulouse, Perancis untuk melengkapi Batik Air. Armada ini merupakan pesawat ke-41 dari total pesanan A320-200CEO sebanyak 234 unit pesawat.

Baca juga: Telat Sosialisasi, Batik Air Buka Penerbangan Jakarta ke Kinabalu

A320 untuk kode penerbangan ID tersebut memiliki nomor registrasi PK-LZI. Pesawat tersebut tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta setelah menempuh perjalanan selama 19 jam 20 menit dengan transit di Bandara internasional Abu Dhabi dan Bandara Internasional Kuala Lumpur.

Pesawat tersebut akan melengkapi armada yang sudah dioperasikan Batik Air yakni 40 Airbus A320-200CEO (12 kelas bisnis dan 144 kelas ekonomi), enam Boeing 737-900ER (12 kelas bisnis dan 168 kelas ekonomi) serta delapan Boeing 737-800NG (12 kelas bisnis dan 150 kelas ekonomi).

“Kami sangat senang dengan menerima pesawat terbaru yang tiba sesuai jadwal. Kehadiran PK-LZI ini merupakan wujud komitmen dalam menyediakan pelayanan terbaik dan menambahkan tingkat kenyamanan pelanggan saat berada di pesawat (in-flight services). Kami mengharapkan, Batik Air semakin meningkatkan pengalaman terbang bagi pelanggan di kelas premium services. Batik Air memiliki keseriusan dalam menyediakan service berkonsep pre-flight, in-flight serta post-flight,” ujar Capt. Achmad Lutfie, Chief Executive Officer Batik Air yang dikutip KabarPenumpang.com dari keterangan tertulis, Senin (16/7/2018).

“Airbus sangat senang keluarga pesawat A320 telah berperan penting dalam membantu Batik Air mengembangkan jaringan rute domestik dan internasionalnya. Kami juga turut merasa bangga atas kemitraan yang sangat kuat dengan Lion Air Group dan kami berharap untuk dapat terus mendukung pertumbuhan maskapai ini di masa depan,” ujar Jean-Francois Laval, Airbus Executive Vice President, Customer Affairs, Asia.

A320 merupakan salah satu keluarga pesawat lorong tunggal yang menjadi bagian dari pilihan Batik Air dalam mengembangkan konsep full-service. Dengan pesawat ini, Batik Air telah menyesuaikan ukuran pesawat dengan permintaan pasar dan pelanggan, yang didasarkan jarak rute penerbangan, kepadatan penumpang, frekuensi terbang per hari serta operasional bandar udara.

Capt. Lutfie mengatakan, Batik Air akan mendatangkan armada terbaru dengan mengoperasikan pesawat kategori lorong kabin tunggal (single aisle) yang disesuaikan perkembangan teknologi. Upaya ini selain memberikan layanan terbaik kepada pelanggan, juga untuk meningkatkan kapasitas angkut penumpang dan barang, memperkuat layanan rute yang sudah ada serta mendukung rencana pengembangan jaringan perusahaan seperti pembukaan rute baru.

“Batik Air memiliki pandangan bisnis yang tajam ke depan yang didukung berbagai strategi tepat, dengan tujuan agar operasional penerbangan berada pada level terbaik. Hadirnya pesawat baru ini, diharapkan berdampak positif terhadap tingkat ketepatan waktu penerbangan (on time performance/ OTP) per hari. Saat ini, Batik Air mencatatkan rata-rata OTP 88 persen hingga 90,3 persen,” papar Capt. Lutfie.

Baca juga: Lion Air Group Jadi 5 Maskapai Teratas Pembawa Penumpang Terbanyak ke Singapura

Hingga saat ini Batik Air melayani 40 destinasi domestik dan internasional (Singapura; Kuala Lumpur, Kinabalu, Malaysia; Chennai, India; Perth, Australia) dengan frekuensi mencapai lebih dari 350 penerbangan perhari. Untuk pengaturan operasional, Batik Air memiliki utilisasi 12 jam per hari, dua pesawat menjalani perawatan (schedule maintenance) serta satu pesawat sebagai cadangan (stand by).

Penumpang Blue Bird ‘Dipaksa’ Turun di Bandara Ahmad Yani, Ini Tanggapan Angkasa Pura I

Belum lama ini ada kejadian yang tidak menyenangkan terjadi di Bandara Internasional Ahmada Yani, Semarang. Nathalie, penumpang yang baru saja mendarat dan menumpangi taksi Blue Bird, pada 15 Juli lalu mengalami penurunan paksa setelah kendaraan berjalan sekitar 10 – 15 meter. Kejadian yang berada di lingkungan bandara tersebut lantas menjadi viral di kalangan netizen.

Baca juga: Stiker “Taksi Bandara,” Apa Guna dan Manfaatnya Buat Penumpang?

Kabar yang menyinggung citra pengelola bandara tersebut lantas direspon langsung oleh PT Angkasa Pura I. Israwadi, Corporate Secretary PT Angkasa Pura I dalam siaran pers (17/7/2018) menyebutkan bahwa pihaknya akan menginvestigasi kejadian ini dan menindak oknum tersebut sesuai dengan alur dan prosedur yang berlaku. Disebutkan bila penghadangan terjadi pada taksi Blue Bird non resmi bandara yang ditumpangi Nathalie.

Diurunut dari kejadian, sekitar pukul 12.30 WIB Sdri. Nathalie yang baru tiba dari Surabaya dan mencari taksi untuk pulang. Ketika itu Nathalie hendak meninggalkan bandara menggunakan taksi Blue Bird. Setelah taksi yang ditumpangi jalan sekitar 10-20 meter, ternyata ada seorang pria menghadang dan meminta Nathalie turun. Sopir Blue Bird pun diminta menurunkan barang-barang milik Nathalie.

Nathalie kemudian menghampiri petugas customer service bandara untuk mengadukan peristiwa yang dialaminya itu. Berdasarkan laporan itu, pengelola Bandara Ahmad Yani, melalui petugas customer service dan Airport Duty Manager berusaha memberikan penjelasan dan meminta Nathalie untuk mengisi formulir complaint ticket.

Pengisian formulir complaint tersebut diperlukan agar pihak bandara mengetahui identitas lengkap pengguna jasa bandara sehingga pengelola bandara dapat mengabarkan tindak lanjut keluhan tersebut kepada pengguna jasa tersebut. Namun sayangnya Nathalie tidak mengisi formulir tersebut.

Baca juga: Biar Tak Bingung, Ini Panduan Pilih Taksi di Bandara

Terkait transportasi di Bandara Ahmad Yani Semarang, sebenarnya telah ada peraturan dan kerjasama. Hingga saat ini yang bisa mengangkut penumpang dari bandara tersebut adalah Taksi Bandara Primer Koperasi Taksi Angkatan Darat (Primkopad) S-16, Bus Trans Semarang, dan rental mobil dari TRAC serta Blue Bird.

The Solo, Electric Vehicle Roda Tiga yang Ramah Lingkungan nan Nyentrik

Ketika ditanya, “Moda apa yang bergerak dengan menggunakan tiga roda?”, mungkin kebanyakan dari Anda akan bajaj, bemo, atau becak. Tidak ada yang salah dengan semua jawaban tersebut. Tapi, kini jaman sudah berkembang dan tidak hanya tiga moda tersebut yang memiliki tiga roda. Pasalnya, induk perusahaan dari Intermeccanica International Inc., Electra Meccanica telah merancang sebuah moda futuristik yang mampu berjalan dengan menggunakan tiga roda.

Baca Juga: EMBATT, Baterai Mobil Yang Dapat Menempuh Jarak 1000 Km

Alih-alih menggunakan bahan bakar fosil seperti bajaj dan bemo atau tenaga manusia seperti becak, The Solo – mobil tiga roda karya Electra Meccanica – menggunakan listrik sebagai motor utama moda berbentuk unik ini. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (13/7/2018), moda seberat 675 kg ini mampu melesat pesat hingga menyentuh angka 82 mph atau yang setara dengan 132 km per jam.

Menggunakan baterai berkapasitas 17,3 kWh, moda ini mampu menempuh jarak hingga 161 km dalam sekali charge. Untuk bagian interiornya sendiri, The Solo memiliki fitur yang tidak jauh dengan mobil konvensional kebanyakan. Sebuah bangku single seat, AC, reverse camera, pemutar musik berteknologi stereo Bluetooth, kaca spion, wiper, hingga bagasi berkapasitas 285 liter. Keunikan terdapat pada fitur keyless yang memungkinkan pengguna berkendara tanpa menggunakan kunci.

Ketika masterpiece dari moda ini sudah berhasil mengundang decak kagum dari berbagai kalangan, kini waktunya Electra Meccanica untuk mulai memproduksinya secara massal. Dalam rencananya untuk memproduksi kendaraan futuristik ini dalam skala besar, perusahaan menggandeng Zongshen Industrial Group, manufaktur otomotif asal Cina yang sudah menandatangani kesepakatan kerja sama pada bulan Oktober tahun lalu.

Baca Juga: Serap Pengguna Mobil Listrik Lebih Banyak, Queensland Gratiskan Electric Super Highway

Dengan menggaet Zongshen Industrial Group, Electra Meccanica berharap bisa menembus target produksi sebanyak 75.000 kendaraan dalam jangka waktu tiga tahun ke depan. Adapun rincian pembuatannya terbagi ke dalam tiga sesi: 5.000 armada dalam satu tahun pertama, 20.000 armada di tahun yang kedua, dan 50.000 sisanya di tahun ketiga.

Bagaimana, apakah Anda tertarik untuk menimang salah satu dari mobil ramah lingkungan ini? Bagi Anda yang tertarik, Electra Meccanica mematok harga US$15.000 atau yang setara dengan Rp216 juta untuk satu unit The Solo. Mengingat produksi yang masih inden, maka Anda bisa memesannya terlebih dahulu dengan dana awal US$250 (Rp3,6 juta).

 

BlackFly, Moda VTOL Personal dengan Fleksibilitas Tinggi

Produksi pesawat Vertical Take Off Landing (VTOL) kini kian menjamur. Tidak hanya digandrungi oleh produsen pesawat raksasa seperti Boeing saja, bisnis ini juga tak pelak dilakoni oleh Opener Inc., sebuah perusahaan penerbangan yang berbasis di Kanada. Sebenarnnya, moda ini hanya dikhususkan untuk satu penumpang saja, tidak seperti produksian VTOL lain yang mampu mengangkut lebih dari satu penumpang. Lalu, apa kelebihan dari moda berjenis Personal Aerial Vehicle (PAV) ini?

Baca Juga: Cormorant, Satu-Satunya Unmanned Aerial Vehichle yang Diakui NATO

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (14/7/2018), adapun moda yang diberi nama BlackFly ini menggunakan delapan motor listrik yang terpasang di sayap depan dan belakang. Dengan kecepatan maksimum yang mencapai 100 km per jam, moda ini mampu menempuh jarak 40 km dalam sekali charge.

Dalam video yang diunggah pihak Opener Inc. ke jejaring sosial Youtube, tampilan dari dalam kokpit BlackFly ini hampir mirip dengan pesawat tempur, dimana sang pilot mampu melihat 360 derajat kondisi di sekelilingnya melalui sebuah kaca berbentuk oval. “BlackFly dirancang dan dibangun untuk dunia transportasi tiga dimensi yang baru,” tutur pihak Opener Inc.

Kelebihan BlackFly ketimbang moda udara lainnya terletak pada tombol Automatic Return-to-Home. Sesuai dengan namanya, fungsi dari tombol ini adalah untuk mengembalikan pesawat secara otomatis ke titik awal penerbangan. Kehadirannya sangat berguna bagi pengguna yang tersasar atau kehilangan titik koordinat. Tentunya jika si pengemudi sudah menghabiskan daya dari BlackFly, fungsi dari tombol futuristik ini pun akan dipertanyakan. Apakah ada kapasitas daya cadangan yang mampu diakses semisal daya dari BlackFly habis atau tidak.

Selain tombol tersebut, tingkat kebisingan dari moda ini pun bisa dibilang rendah. Itu menandakan bahwa perpaduan tenaga listrik yang digunakan dan tingkat kebisingan yang dihasilkan mampu menjadikan BlackFly sebagai salah satu moda VTOL yang sangat ramah lingkungan.

Kehadiran fitur parasut balistik darurat juga menjadi tambahan nilai jual BlackFly sendiri, yang mengindikasikan Opener Inc. tidak hanya memperhatikan inovasi, melainkan keselamatan tetaplah yang utama. “Keselamatan telah menjadi tujuan utama kami dalam pengembangan teknologi baru ini,” tutur pihak Opener Inc. “Selama sembilan tahun mengembangkan BlackFly, kami telah melakukan lebih dari 1.000 kali uji terbang dan menawarkan redundansi tiga modular untuk tingkat keamanan yang lebih besar,” imbuhnya.

Baca Juga: Didukung Intel Capital, Joby Aviation Siap Ramaikan Industri Taksi Udara

Mungkin diantara semua kelebihan BlackFly, poin inilah yang menjadi daya jual utamanya. Ya, pengguna BlackFly tidak membutuhkan lisensi penerbangan untuk mengoperasikannya. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kemampuan dari BlackFly sendiri yang masih bisa dibilang terbatas. Kendati demikian, pihak perusahaan akan memberikan serangkaian, “ujian tertulis FAA Private Pilot. Selain itu, para calon pembeli juga wajib untuk mengetahui seluk-beluk dari BlackFly dan mengikuti pelatihan penerbangan yang sudah menjadi ketentuan dari kami.” Ujar pihak Opener Inc.

 

Selain Kualitas Layanan, Nilai Aset di Dunia Transportasi Tak Bisa Dikesampingkan

Selain penting bagi perekonomian dan masyarakat di suatu daerah – tanpa disadari – jaringan transportasi juga berpengaruh terhadap kualitas orang-orang yang hidup di dalam lingkaran tersebut, dimana mereka bisa memiliki keleluasaan untuk bepergian dari satu titik menuju titik lainnya. Layaknya teknologi, jaringan transportasi pun akan terus mengalami perkembangan, yang pada akhirnya, itu semua mampu meningkatkan pengalaman perjalanan para penggunanya.

Baca Juga: Riyadh Metro, Inilah Serba-Serbi LRT Pertama di Arab Saudi

Selain perkembangan teknologi yang juga memegang andil dalam dunia transportasi, soal polusi juga turut mencuat ke permukaan. Wajar saja jika setiap operator transportasi mengupayakan sebuah moda yang aman, cepat, andal, dan ramah lingkungan untuk ‘memindahkan’ penumpang dan barang. Banyak yang menilai bahwa perjalanan menggunakan kereta api itu 50 persen lebih ramah lingkungan, dan sembilan kali lebih aman ketimbang moda darat lainnya.

Namun untuk mempertahankan penilaian tersebut, para pelaku industri ini harus memastikan keamanan aset, memberikan layanan terbaik yang telah dijanjikan sebelumnya, dan memaksimalkan kinerja aset. Keamanan aset di sini mencakup menghindari kecelakaan, cidera, atau bahkan kematian para pekerjanya. Sedangkan memaksimalkan kinerja aset di sini maksudnya adalah memberikan solusi yang paling ekonomis dalam setiap pertimbangan, tanpa mengesampingkan soal keselamatan dan keamanan.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman constructionweekonline.com (12/6/2018), laporan McKinsey & Company berjudul Imagining Construction’s Digital Future yang diterbitkan pada tahun 2016 menunjukkan bahwa industri konstruksi belum sepenuhnya mengadopsi platform terintegrasi, yang mencakup perencanaan, desain, konstruksi, operasi, dan pemeliharaan proyek. Akibatnya, sebagian besar organisasi kehilangan sumber informasi yang terkait dengan desain, biaya, dan jadwal proyek, atau kondisi aset selama operasi.

Hingga saat ini, membangun atau mengadopsi standar Building Information Modelling (BIM) dan proses untuk mengatasi tantangan ini telah menjadi fokus penting organisasi infrastruktur rel dan profesional di seluruh dunia. Dan ketika masa seperti ini, Bentley Systems hadir bak pahlawan dengan beragam penawaran yang diharapkan bisa menjadi jawaban dari masalah BIM tersebut.

Baca Juga: Ternyata, Ini Yang Harus Dilakukan Pilot Saat Terjadi Malfungsi Rem!

Sebagai contoh, salah satu produk Bentley Systems yang bernama ComplyPro memungkinkan penggunanya — termasuk Riyadh Metro di Arab Saudi — untuk secara jelas mendefinisikan, mencatat, dan mengelola persyaratan proyek melalui daftar berbasis cloud, yang memungkinkan setiap persyaratan untuk diakui dan dikelola secara efisien. Jadi, bukan melulu soal keselamatan, tapi juga aset merupakan salah satu nilai penting yang tidak boleh dianak-tirikan.

Listrik Telah Tersambung, MRT Jakarta Siap Uji Coba Wahana

Gardu distribusi listrik (Receiving Substation atau RSS) MRT Jakarta yang berada di Taman Sambas, Jakarta Selatan mulai beroperasi pada 13 Juli 2018. Pengoperasian ini setelah diresmikannya oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Baca juga: Tahap Awal Operasional MRT Jakarta, PLN Siapkan Pasokan Listrik 60 MVA

Direktur Bisnis Regional Jawa bagian Tengah PT PLN Amir Rosidi mengatakan, pengaliran pertama suplay listrik ini saat yang dinantikan PT MRT Jakarta. Dia mengatakan, dengan pengaliran listrik tersebut akan memudahkan MRT Jakarta untuk menguji coba perangkat baik kereta, persinyalan dan lainnya.

“Pengaliran listrik ini juga bisa mempercepat pengerjaan MRT. Listrik Jakarta sendiri cukup karena di suplay dari empat titik yakni Balaraja, Bekasi, Muara Karang atau Tanjung Priok dan Gandul,” ujar Amir saat peresmian listrik untuk MRT Jakarta di Taman Sambas (13/7/2018).

Dirut PT MRT Jakarta William Sabandar juga mengatakan setelah masuknya aliran listrik maka energi MRT Jakarta dimulai. Dia mengatakan aliran listrik untuk MRT seperti jalur aliran darah untuk menghidupkannya, sedangkan sistem signal dan telekomunikasi termasuk dalam sistem saraf pada MRT Jakarta.

“PT MRT Jakarta dan PT PLN (Persero) telah menyepakati perjanjian kerja sama pada Maret 2015 dengan penerimaan listrik Tegangan Tinggi dengan kategori I4 Premium Silver agar dapat menjaga keandalan sistem MRT Jakarta. Instalasi peralatan di RSS Taman Sambas ini telah dimulai pada pertengahan 2017 dan selesai pada akhir Juni 2018 lalu dan menjadi gardu listrik pertama di Indonesia yang memiliki desain di bawah tanah,” kata William. “Sistem daya MRT Jakarta memiliki redundancy penuh, yaitu satu trafo 60 MVA dapat memenuhi kebutuhan listrik MRT Jakarta, dan trafo lainnya sebagai cadangan (pendukung),” ujar William.

Sehingga dengan teralirinya listrik tersebut secara permanen maka pengetesan rangkaian kereta di jalur utama bisa segera dilakukan. Diketahui, RSS Taman Sambas MRT Jakarta merupakan gardu penerima distribusi listrik dari PLN yang dipasok dari Gardu Induk Pondok Indah untuk jalur selatan dan Gardu Induk CSW untuk jalur utara.

MRT Jakarta menggunakan grade 150 kV. RSS ini adalah gardu listrik pertama yang di desain semi-bawah tanah, yaitu trafo utama di permukaan tanah dan Gas Insulated Swithgear (GIS) 150kV serta Control Protection Panel (CPP) berada di bawah tanah. Dari RSS Taman Sambas ini, pasokan listrik didistribusikan ke gardu traksi di setiap stasiun untuk memenuhi operasional utilitasnya dan untuk pengoperasian kereta.

Saat ini progres pengerjaan MRT sendiri sudah mencai 94,69 persen dengan rincian depo dan struktur layang telah mencapai 92,5 persen sedngkan underground atau bawah tanah 96,87 persen. Direktur konstruksi MR Jakarta Silvia Halim mengatakan, setelah adanya listrik masuk adalah testing persinyalan dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI.

Baca juga: Sampai Mana Perkembangan Pembangunan MRT Jakarta? Ini Dia Jawabannya!

“Setelah ini selesai kita bisa menjalanakan kereta kita dari Lebak Bulus hingga ke HI. Rel juga sudah terpasang 100 persen tinggal finishing saja,” yang ditemui KabarPenumpang.com usai peresmian pengoperasian listrik MRT Jakarta (13/7/2018).

Sedangkan untuk fase 2 masuk basic enginering desain dan akhir tahun 2019 ada ground breaking untuk dimulainya kostruksi fase 2. Di masa depan, untuk fase 2, rencananya akan dibangun Gardu Induk RSS kedua di kawasan Monas sebagai penyedia daya untuk MRT Jakarta fase 2 dengan desain seluruhnya berada di bawah tanah.

Tersandung Masalah Diplomatik, Pria Rusia Ini ‘Terjebak’ di Bandara Soetta Selama 3 Minggu!

Bandar udara utama di Indonesia, Soekarno Hatta mendapat sorotan dari publik dunia setelah petugas di sana menahan seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Rusia selama kurang lebih tiga minggu. Penahanan WNA bernama Denis Saltanov ini sendiri dilatarbelakangi oleh urusan diplomasi yang tercampur-aduk. Kondisi yang dialami Denis semakin parah ketika otoritas bandara tertangkap mata kamera tidak memperlakukan Denis sebagaimana mestinya.

Baca Juga: Agar Proses Imigrasi Lebih Cepat, Yuk Manfaatkan Autogate di Bandara Soekarno-Hatta

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman ladbible.com (26/6/2018), Denis sendiri sebenarnya telah menikah dengan Warga Negara Indonesia (WNI). Sebelum terjebak di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Denis sempat pergi ke Malaysia. Namun setibanya di Malaysia, ia malah disuruh kembali ke Indonesia karena peraturan di sana menegaskan bahwa dana yang ia bawa tidak cukup untuknya tinggal di Malaysia.

Alhasil, ia kembali lagi ke domisili sang Istri, Indonesia. Sayangnya, pabean Indonesia mengatakan bahwa sebagai akibat dari deportasinya dari Malaysia, Denis dilarang pula untuk masuk ke Indonesia. Sebuah laporan menyebutkan bahwa larangan tersebut merupakan prosedur hukum yang harus dijalani.

Terlepas dari itu semua, Denis yang malang kini terombang-ambing tidak bisa masuk negara manapun. Ia terpaksa tinggal di Bandara Soekarno-Hatta hingga waktu yang tidak ditentukan – setidaknya hingga permasalahan kompleks ini selesai. Diketahui, Istri Denis yang turut pergi bersama sang Suami diperbolehkan pergi karena ia memegang paspor, namun tidak dengan Denis. Paspornya telah disita, yang pada akhirnya berbuntut pada dirinya yang tidak bisa masuk ke negara manapun, termasuk Tanah Airnya, Rusia.

Salah satu pihak yang berdiri di samping Denis adalah organisasi non-pemerintahan, CST Commands. Organisasi ini memperjuangkan Denis untuk bisa menyelesaikan masalahnya dan kembali menuju kampung halamannya. Namun apa yang didapati oleh organisasi tersebut? Mereka mendapati Denis diperlakukan secara tidak layak oleh otoritas bandara. Selain tidur beralaskan kardus, CST Commands juga mengatakan bahwa Denis sempat dipukuli dan dipermalukan oleh otoritas bandara.

Baca Juga: Dalam Jumlah Pergerakan Penumpang, Bandara Soekarno-Hatta Unggul Tipis dari Changi

“Dia (Denis) akan senang dideportasi, tetapi baik pihak berwenang Indonesia maupun Konsulat Rusia tidak mau mewajibkan dia dengan cara ini,” ungkap salah seorang juru bicara dari CST Commands. “Istrinya tidak bisa mengunjunginya. Setidaknya, dia masih mendapatkan makanan,” tandasnya.

Kasus yang menimpa Denis ini bukanlah yang pertama terjadi. Sebelumnya sudah banyak WNA yang ‘terperangkap’ di bandara karena masalah diplomatik atau masalah dokumen (paspor). Tidak banyak informasi lain yang dapat digali mengenai kelanjutan kasus Denis ini, namun satu yang pasti, tindakan intimidasi berlebih yang dilakukan oleh otoritas bandara sewaktu-waktu bisa menjadi bumerang bagi otoritas bandara.

 

 

PT KCI: Tukar KMT Lama ke Baru Sebelum Tanggal 21 Juli 2018

Sebagai pengguna tetap kereta rel listrik atau KRL biasanya akan memiliki Kartu Multi Trip (KMT) yang digunakan untuk alat pembayaran yang sah dengan men-tap in dan tap out pada gate stasiun. Namun, sebagai pengguna KMT, ada info untuk mengganti kartu KMT lama Anda.

Baca juga: PT KCI Gandeng PPD Hadirkan Bus Integrasi dari Stasiun Sudirman ke Gambir dan Blok M

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa pembaharuan sistem tiket elektronik KRL untuk KMT dilakukan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KCI). Dengan adanya pembaruan sistem tiket tersebut, dihimbau kepada pengguna KMT edisi lama untuk menukarkannya sebelum 21 Juli 2018.

Adapun pembaruan yang dilakukan KCI berlaku bagi pemilik KMT dengan nomor seri empat angka pertama 1001, sehingga bagi pemilik kartu dengan nomor ini baiknya untuk segera menukarnya ke loket. Nomor ini sendiri berada di belakang kartu KMT yang dimiliki para penggunanya.

“Sementara pemilik KMT dengan nomor seri empat angkat pertama selain 1001 tidak perlu menukarkan kartu miliknya,” ujar VP Komunikasi Perusahaan PT KCI Eva Chairunisa.

Untuk penukaran kartu KMT dengan edisi terbaru sendiri tidaklah dikenakan biaya sepeserpun. Untuk penurkaran ada beberapa syarat yakni kartu bisa dibaca oleh sistem tiket elektronik kereta.

Kemudian kartu tidak sedang digunakan dalam transaksi yang belum tuntas seperti belum melakukan gate out di parkiran stasiun yang dikelola oleh PT Reska Multi Usaha. Nantinya jika dua syarat tersebut terpenuhi maka petugas akan memindahkan saldo dari KMT lama ke KMT baru.

Baiknya lagi, KCI memberikan garansi penggunaan KMT baru tersebut selama 30 hari atau satu bulan setelah penukaran terjadi. Adapun pentingnya penukaran ini sebab mulai 21 Juni 2018 besok, seri 1001 tidak lagi bisa melakukan tap in maupun tap out di seluruh stasiun.

Baca juga: PT KCI Hadirkan Mesin Penyelaras Tarif dan Penetapan Saldo Minimun Baru untuk Kartu Multi Trip

Program ini sebenarnya telah berjalan sejak tahun 2017 lalu. Untuk itu PT KCI menghimbau kembali kepada seluruh pengguna KMT bernomor seri 1001 untuk segera memanfaatkan program penukaran ini karena tenggat waktu yang semakin dekat. Eva menambahkan bahwa kebijakan KMT ini tidak berpengaruh terhadap kartu e-money yang diterbitkan oleh bank yang bisa digunakan sebagai kartu untuk masuk ke stasiun KRL.

Identifikasi Biometrik di Bandara Canberra Mencapai Akurasi 94 Persen

Identifikasi penumpang dengan teknologi mulai dikembangkan beberapa bandara di dunia. Salah satunya adalah Dubai yang mengembangkan smart tunnel dan akuarium virtual untuk memudahkan pemeriksaan data penumpang. Uniknya dalam pemeriksaan ini jika biometrik penumpang tidak ada masalah, maka di akhir perjalanan akan ada pesan have a nice trip. Tapi jika ditemukan masalah, maka petugas akan memeriksa ulang penumpang secara manual..

KabarPenumpang.com melansir dari laman planetbiometrics.com (11/7/2018), dimana Bandara Canberra di Australia pun tidak ingin kalah saing dan membuat teknologi pengenalan wajah yang sudah akurat hingga 94 persen. Dari studi awal yang dilakukan Department of Home Affairs, solusi tersebut mendapatkan hasil yang cukup akurat pada pelancong yang datang ke Ibu Kota Negera Kangguru tersebut.

Baca juga: Gandeng Qantas Airways, Bandara Internasional Sydney Operasikan Fitur Face Recognition

Hasil uji coba teknologi pengenalan wajah ini di Bandara Canberra sendiri menjadi solusi kontrol biometrik otomatis untuk memudahkan pengenalan penumpang di kedatangan. Solusi ini dibuat untuk mencocokkan individu atau penumpang dengan gambar wajah yang disimpan dalam pemrosesan penumpang lanjutan (transit).

Sehingga dengan adanya solusi pengenalan wajah biometrik membuat penumpang tidak lagi menunjukkan paspor mereka di gerbang dan ‘menghapus’ peran bagian imigrasi. Sedangkan untuk urusan penerbangan dalam negeri atau domestik, pihak bandara sedang dalam proses memudahkan penumpang dengan teknologi morpho di semua bandara internasionalnya.

Solusi tersebut diberikan penyedia teknologi Vision Bos yang menyediakan smartgate baru untuk gerbang keberangkatan bandara di Australia. Kesepakanan Vixion Box dengan pihak bandara yakni dengan nilai AUS$22,5 juta atau Rp239 triliun pada Juli kemarin untuk merombak terminal kedatangan bandara.

Departemen ini juga ingin agar 90 persen pelancong mancanegara untuk diproses secara otomatis dengan solusi itu pada tahun 2020 mendatang. Diketahui, Bandara Canberra merupakan bandara pertama yang menerima smart gates tersebut pada November kemarin.

Baca juga: Fasilitas Pertumbuhan Penumpang, Bandara Global Bakal Terapkan Teknologi Biometrik

Awalnya dioperasikan hanya dalam bentuk mode kotak dan masih mengharuskan pelancong memasukkan paspor untuk di proses. Namun kini, dengan solusi pengenalan otomatis yang diuji coba pada 2200 pelancong.

“Percobaan menghadapi kepindahan dilakukan di Exit Marshall Point dan melibatkan 2200 pelancong. Rata-rata hasilnya adalah 94 persen dari pelancong yang berpartisipasi cocok dan tidak ada kesalahan identifikasi,” ujar departemen tersebut.