Punya Nilai Sejarah Tinggi, Stasiun Cilacap Kian Ramai Didatangi Wisatawan

Jalur selatan kereta api selain menghadirkan panorama yang menawan juga memiliki nilai sejarah yang menarik dan melegenda. Memasuki wilayah PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) wilayah Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto berbagai macam bangunan ikonik dan historical stasiun kereta api tak luput dari keunikannya. Salah satunya adalah Stasiun Cilacap yang berada di ujung selatan jalur kereta api antara Maos hingga Cilacap ini.

Ya, Stasiun Cilacap yang merupakan warisan cagar budaya kereta api yang tidak hanya menjadi saksi bisu perjalanan waktu, tetapi juga menyuguhkan keindahan arsitektur dan keunikan transportasi di Indonesia. Cagar budaya ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang kaya akan nilai sejarah dan budaya.

Sejarah kereta api di Cilacap dimulai pada awal abad ke-20, ketika jalur kereta pertama kali dibangun untuk menghubungkan kawasan agraris dengan pelabuhan. Jalur ini bukan hanya menjadi alat transportasi untuk barang, tetapi juga berperan penting dalam mobilitas masyarakat.

Nah, keberadaan kereta api ternyata membawa dampak besar dalam perkembangan ekonomi dan sosial di daerah ini. Stasiun Kereta Api Cilacap, yang diresmikan pada tahun 1906, menjadi pusat kegiatan transportasi dan perhubungan di wilayah ini.

Arsitektur bangunan stasiun yang mengusung gaya kolonial Belanda menambah daya tarik tersendiri. Dengan atap tinggi dan pilar-pilar besar, stasiun ini menghadirkan nuansa megah yang mengingatkan kita pada masa lalu yang kaya akan sejarah. Stasiun ini menjadi salah satu cagar budaya yang diakui dan dilestarikan oleh pemerintah, menjadikannya salah satu destinasi wisata yang menarik. Cagar Budaya Kereta Api di Cilacap tidak hanya terletak pada bangunan stasiun yang megah, tetapi juga pada rel dan lokomotif yang dipelihara dengan baik.

Selain itu Stasiun Cilacap sudah menjadi destinasi masyarakat untuk berkunjung ke berbagai wisata dan pusat kota yang ikonik. Karena itu KAI mencatat bahwa penumpang yang naik dan turun di Stasiun Cilacap cukup ramai. Manager Humas KAI Daop 5 Purwokerto, M. As’ad Habibuddin mengatakan, sebanyak 5.802 penumpang berangkat dari Stasiun Cilacap sedangkan 6.684 penumpang tiba.

Secara keseluruhan, kinerja angkutan penumpang di wilayah Daop 5 Purwokerto juga menunjukkan tren positif. Pada periode yang sama, jumlah penumpang mencapai 233.788 orang, meningkat 19 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat sebanyak 196.377 penumpang.

Adapun stasiun tujuan yang paling banyak dipilih penumpang dari stasiun-stasiun di wilayah Dap 5 Purwokerto antara lain Stasiun Pasarsenen, Stasiun Yogyakarta, Stasiun Kiaracondong, Stasiun Gambir, dan Stasiun Bekasi.

Selain itu, KAI Daop 5 Purwokerto juga menambah kapasitas tempat duduk sebanyak 3.000 tiket keberangkatan dari Stasiun Cilacap. Penambahan kapasitas tersebut dilakukan melalui penambahan satu kereta eksekutif pada sejumlah perjalanan KA Purwojaya, yaitu:
1. KA 49 Purwojaya relasi Cilacap – Gambir, dari 8 menjadi 9 kereta eksekutif pada periode 24 Juni–13 Juli 2026

2. KA 53F Purwojaya relasi Cilacap – Gambir, dari 8 menjadi 9 kereta eksekutif pada periode 23 Juni – 12 Juli 2026

3. KA 57F Purwojaya relasi Cilacap – Gambir, dari 8 menjadi 9 kereta eksekutif pada periode 23 Juni – 12 Juli 2026.

Makin Digemari, Stasiun Sidareja Jadi Simpul Mobilitas dan Perekonomian Warga Cilacap

Makin Digemari, Stasiun Sidareja Jadi Simpul Mobilitas dan Perekonomian Warga Cilacap

Jalur selatan kereta api menjadi daya tarik perjalanan penumpang ke berbagai wilayah tujuan yang menjadi daya tarik wisata. Selain itu kawasan yang bisa diakses dari stasiun menjadi nilai tambah yang membuat masyarakat lebih praktis untuk tiba di tempat wisata. Ya, seperti Stasiun Sidareja yang berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto.

Stasiun Sidareja yang berada di jalur selatan petak Banjar – Maos, kini selalu menjadi daya tarik masyarakat. Tak lain dan tak bukan, mereka bisa mengakses dari stasiun ini untuk langsung berwisata ke kawasan Pantai Pangandaran yang terkenal di Jawa Barat. Dari kabar yang beredar bahwa Stasiun Sidareja memang memiliki akses yang cukup dekat dibanding penumpang yang turun di Stasiun Banjar.

Manager Humas KAI Daop 5 Purwokerto, M. As’ad Habibuddin mengatakan, Stasiun Sidareja merupakan stasiun kereta api kelas I yang terletak di Desa Sidamulya, Kecamatan Sidareja, Kabupaten Cilacap. Stasiun yang melayani sekitar 20 perjalanan kereta api jarak jauh setiap hari, baik kelas eksekutif maupun ekonomi, dan menjadi penghubung vital di jalur selatan Jawa. Stasiun ini melayani rute menuju kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga Surabaya, sehingga memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam merencanakan perjalanan.

Saat ini, Stasiun Sidareja menjadi salah satu simpul transportasi penting di wilayah barat Kabupaten Cilacap yang memiliki potensi besar dalam mendukung mobilitas masyarakat. Keberadaan stasiun ini tidak hanya melayani perjalanan antar kota, tetapi juga membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat menuju berbagai destinasi.

Masyarakat Cilacap Barat dapat menuju Jakarta menggunakan KA Serayu dengan tarif hanya Rp63.000 – Rp67.000, atau ke Bandung menggunakan KA Kutojaya Selatan dengan tarif hanya Rp58.000 – Rp62.000. Selain itu, KA Kahuripan dengan tarif Rp80.000–Rp84.000 tidak hanya melayani perjalanan ke Bandung, tetapi juga menghubungkan pelanggan hingga wilayah Jawa Timur seperti Blitar dan Kediri, sehingga menjadi pilihan transportasi yang ekonomis dan nyaman untuk perjalanan lintas provinsi.

Stasiun yang berada pada ketinggian 5 meter di atas permukaan laut ini menawarkan akses perjalanan yang terjangkau, yaitu menjadi akses terdekat menuju kawasan wisata Pantai Pangandaran dengan jarak sekitar 37 km. Dari stasiun, penumpang dapat melanjutkan perjalanan menggunakan moda transportasi lanjutan seperti ojek maupun angkutan umum.

Data mencatat bahwa volume penumpang di Stasiun Sidareja menunjukkan tren peningkatan. Rata-rata penumpang per bulan pada 2023 tercatat 19.489 penumpang, meningkat menjadi 24.652 penumpang pada 2024, kemudian 25.909 penumpang pada 2025, dan hingga 2026 mencapai 29.225 penumpang.

Di tengah geliat mobilitas dan kebutuhan perjalanan yang kian dinamis, Stasiun Sidareja tak lagi sekadar titik singgah. Ia menjelma menjadi simpul strategi menghubungkan daerah, membuka peluang, dan mendekatkan masyarakat pada berbagai tujuan, tanpa harus menguras biaya. Hal ini menjadikan bahwa KAI tetap terus meningkatkan pelayanan agar manfaatnya semakin luas, terutama dalam mendukung mobilitas dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Motor Bebek Berubah Jadi Lori di Stasiun Banjar

Ekspansi Jaringan, TransNusa Buka Rute Baru Jakarta–Bangkok Serta Akses Langsung Bali ke Wakatobi dan Waingapu

Maskapai Medium Service Carrier (MSC) TransNusa terus memperkuat kepakan sayapnya di industri penerbangan dengan resmi mengumumkan pembukaan satu rute internasional baru dan dua rute domestik sekaligus. TransNusa kini menghadirkan rute langsung Jakarta menuju Bangkok, Thailand, serta memperluas konektivitas ke wilayah Indonesia Timur dengan membuka rute dari Denpasar, Bali, menuju dua destinasi eksotis, yaitu Wakatobi dan Waingapu.

Langkah strategis ini diambil untuk menjawab lonjakan permintaan perjalanan di kawasan Asia Tenggara sekaligus memperluas akses wisatawan mancanegara menuju destinasi wisata unggulan Indonesia. Group CEO TransNusa, Datuk Bernard Francis, menjelaskan bahwa pembukaan tiga rute baru ini merupakan komitmen perusahaan dalam menghadirkan kemudahan akses transportasi demi mendorong pertumbuhan pariwisata dan ekonomi daerah. Dengan menjadikan Bali sebagai hub internasional, TransNusa optimistis destinasi wisata premium di Indonesia Timur akan semakin mudah dijangkau oleh turis domestik maupun global.

Untuk rute internasional Jakarta (CGK) – Bangkok (BKK), TransNusa akan mulai mengoperasikannya pada 6 Agustus 2026 dengan frekuensi dua penerbangan setiap hari melalui Suvarnabhumi Airport. Kehadiran rute ini diharapkan mampu mengakomodasi tingginya minat MICE, perdagangan, dan pariwisata antara Indonesia dan Thailand.

Untuk jadwalnya, penerbangan pertama dijadwalkan berangkat dari Jakarta pukul 08.20 WIB dan tiba di Bangkok pukul 11.45 waktu setempat, kemudian kembali dari Bangkok pukul 12.30 waktu setempat dan mendarat di Jakarta pukul 15.55 WIB. Sementara penerbangan kedua akan berangkat dari Jakarta pada pukul 16.30 WIB dan tiba pada pukul 19.55 waktu setempat, dengan penerbangan kembali dari Bangkok dijadwalkan pukul 20.40 waktu setempat dan mendarat di Jakarta pukul 00.05 WIB. Menyambut pembukaan rute ini, TransNusa menawarkan tarif spesial mulai dari Rp2.999.000 untuk sekali jalan (one way).

Selain memperkuat jaringan internasional, TransNusa juga membuat gebrakan besar di sektor domestik dengan mengukir sejarah sebagai maskapai pertama yang menghadirkan penerbangan langsung dari Denpasar (DPS) menuju Wakatobi (WNI). Selama ini, wisatawan yang ingin menikmati kekayaan biodiversitas laut Wakatobi harus melakukan transit melalui Makassar, Jakarta, atau Kendari, namun kini perjalanan menjadi jauh lebih praktis dan efisien dari Bali.

Penerbangan langsung ke Wakatobi ini akan beroperasi sebanyak 3 kali dalam seminggu mulai 16 Juli 2026. Di sisi lain, TransNusa juga membuka rute Denpasar ke Waingapu (WGP), Sumba, yang terkenal dengan keindahan sabana dan kebudayaan autentiknya, dengan frekuensi terbang 4 kali seminggu mulai 15 Juli 2026. Tiket untuk kedua rute domestik ini sudah dapat dibeli dengan harga promo mulai dari Rp1.349.000 untuk rute Bali–Waingapu dan Rp1.849.000 untuk rute Bali–Wakatobi.

TransNusa Resmi Buka Rute Jakarta-Lombok: Mudahkan Akses Wisatawan ke Destinasi Super Prioritas

Satu Pesawat Kok Bisa Punya Banyak ‘Call Sign’ Berbeda? Ini Rahasia yang Jarang Diketahui Penumpang

Bagi para pencinta dunia penerbangan atau pengguna aplikasi pelacak penerbangan (flight tracker), melihat pergerakan pesawat di langit digital adalah hal yang mengasyikkan. Namun, tidak jarang muncul kebingungan ketika melihat satu pesawat fisik yang sama—dengan nomor registrasi ekor yang identik—bisa beroperasi menggunakan tanda panggil (call sign) yang berubah-ubah sepanjang hari.

Fenomena ini kerap memicu pertanyaan, mengapa identitas di udara bisa berbeda padahal pesawatnya tidak berganti? Jawabannya terletak pada fungsi dasar call sign itu sendiri, yang pada prinsipnya tidak menempel permanen pada badan pesawat seperti halnya nomor registrasi, melainkan melekat pada misi atau rute penerbangan spesifik yang sedang dijalankan pada saat itu.

Untuk memahami hal ini, kita harus membedakan antara nomor registrasi, nomor penerbangan komersial, dan call sign operasional yang dibaca oleh pemandu lalu lintas udara atau Air Traffic Control (ATC). Nomor registrasi ekor (seperti PK-ABC di Indonesia) bersifat permanen sebagai “KTP” pesawat tersebut.

Sementara itu, nomor penerbangan komersial yang berwujud kode IATA (misalnya GA123 atau SQ456) adalah nomor yang dibeli oleh penumpang dan tertera pada tiket, papan pengumuman bandara, serta aplikasi maskapai. Di sisi lain, ATC melihat dunia penerbangan melalui kode ICAO yang lebih teknis, di mana call sign digunakan untuk mempermudah komunikasi radio terarah guna memastikan keselamatan penerbangan di ruang udara yang padat.

Salah satu alasan utama mengapa satu pesawat bisa memiliki call sign berbeda dalam sehari adalah penggunaan kombinasi alfanumerik (huruf dan angka) untuk menghindari risiko call sign similarity atau kemiripan tanda panggil. Secara historis, maskapai kerap menggunakan nama radio mereka diikuti nomor penerbangan komersial di frekuensi radio ATC.

Namun seiring melonjaknya volume penerbangan di langit global, risiko dua pesawat dari maskapai yang sama berada di satu sektor udara dengan nomor mirip (misalnya “Garuda 234” dan “Garuda 244”) menjadi sangat tinggi. Kesalahan dengar di frekuensi radio yang sibuk bisa membuat pilot merespons instruksi ketinggian atau landasan yang sebenarnya ditujukan untuk pesawat lain. Demi mengantisipasi bahaya ini, maskapai memodifikasi call sign operasional di sistem ATC menjadi kode alfanumerik unik (seperti mengubah rute komersial menjadi kode acak di radio) tanpa mengubah nomor penerbangan yang dilihat oleh penumpang di terminal.

Selain faktor dekonflik kode udara untuk keselamatan, perubahan call sign pada pesawat yang sama juga terjadi secara drastis ketika pesawat tersebut tidak sedang mengangkut penumpang komersial. Saat sebuah maskapai memindahkan pesawat kosong ke bandara lain untuk kebutuhan operasional (positioning/ferry flight) atau saat pesawat digunakan untuk sesi latihan pilot (training flight), ATC akan mendeteksi identitas yang sepenuhnya baru.

Biasanya, maskapai akan menambahkan kode alfabet khusus di akhir call sign mereka, seperti huruf “P” (Papa) untuk menandakan penerbangan logistik/kosong, atau huruf “T” (Tango) untuk mengidentifikasi penerbangan pelatihan. Melalui regulasi dinamis ini, call sign bertindak layaknya “seragam tugas” pesawat yang diganti tergantung misi yang sedang ia bawa demi menjaga langit tetap teratur dan aman.

Call Sign Aneh dan Kece Badai Maskapai Seluruh Dunia, Salah Satunya Cedar Jet

Solusi Jitu Hadapi Musim Panas: Dubai Sulap Enam Mal Terbesar Jadi Lintasan Lari Indoor Gratis!

Berlari atau joging di dalam pusat perbelanjaan mewah mungkin terdengar tidak biasa bagi sebagian besar orang. Namun, pemandangan unik inilah yang kini menjadi tren baru di Uni Emirat Arab lewat gelaran Dubai Mallathon edisi kedua. Guna menyiasati suhu udara musim panas yang menyengat, pemerintah Dubai secara kreatif mengubah enam pusat perbelanjaan terbesar di kota tersebut menjadi lintasan olahraga indoor yang megah.

Program yang berlangsung setiap hari mulai 15 Juni hingga 15 September 2026 ini mengajak warga lokal maupun wisatawan asing untuk berjalan kaki, joging, hingga berlari tanpa dipungut biaya sepeser pun alias gratis.

Aktivitas kebugaran antimainstream ini dibuka setiap pagi pukul 06.00 hingga 10.00 waktu setempat, sebuah waktu yang sangat ideal untuk berolahraga sebelum jam operasional toko dimulai. Untuk mengakomodasi berbagai tingkat kebugaran, pihak penyelenggara telah menyiapkan opsi rute yang bervariasi mulai dari jarak 2,5 kilometer, 5 kilometer, hingga rute menantang sejauh 10 kilometer. Menariknya, partisipasi dalam Dubai Mallathon ini sangat praktis karena tidak memerlukan registrasi atau pendaftaran awal yang rumit. Para pelari cukup datang langsung ke mal yang berpartisipasi, mengambil gelang khusus Dubai Mallathon di area yang disediakan, lalu bebas memilih rute lari sesuai keinginan mereka.

Enam pusat perbelanjaan ikonik yang disulap menjadi sirkuit lari indoor ini meliputi Dubai Mall, Mall of the Emirates, Mirdif City Centre, Dubai Festival City Mall, Deira City Centre, dan Dubai Hills Mall. Tidak hanya sekadar menyediakan ruang, ajang ini juga sangat inklusif dengan menyediakan sesi khusus bagi perempuan, lansia, serta People of Determination (penyandang disabilitas). Kenyamanan peserta semakin terjamin berkat adanya sesi pemanasan bersama para pelatih kebugaran profesional yang siap memandu di lokasi.

Keuntungan lain bagi para pelari adalah gelang Dubai Mallathon yang mereka kenakan berfungsi sebagai kartu akses untuk menikmati berbagai diskon dan penawaran eksklusif di berbagai kafe, restoran, serta gerai ritel di dalam mal. Bahkan, penyelenggara juga menyiapkan beragam hadiah menarik yang didasarkan pada tingkat kehadiran dan konsistensi partisipasi peserta selama tiga bulan ke depan.

Inovasi olahraga ramah ruang publik ini mendapat dukungan penuh dari otoritas tertinggi Dubai. Saat mengumumkan peluncuran edisi kedua ini, Sheikh Hamdan bin Mohammed bin Rashid Al Maktoum, Putra Mahkota Dubai yang juga menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Uni Emirat Arab, menegaskan bahwa kesehatan dan kualitas hidup merupakan fondasi utama bagi masyarakat yang maju. Beliau menyampaikan bahwa ketika kesehatan masyarakat terjaga, maka peluang untuk berkembang, berinovasi, dan berkontribusi terhadap lingkungan akan semakin terbuka lebar. Melalui proyek ini, Dubai membuktikan komitmennya dalam merancang fasilitas kota yang inklusif untuk menyatukan komunitas dan membangun kebersamaan.

Langkah kreatif Dubai dalam mengawinkan sektor pariwisata, gaya hidup sehat, dan pusat perbelanjaan ini terbukti sukses besar. Pada edisi perdananya tahun lalu, Dubai Mallathon berhasil menjaring lebih dari 40.000 peserta dan langsung memecahkan Guinness World Record sebagai ajang lari di dalam pusat perbelanjaan dengan jumlah pelari terbanyak di dunia.

Antusiasme yang terus meroket juga terlihat di salah satu lokasi, yakni Dubai Hills Mall, yang sukses mengumpulkan lebih dari 1.300 pelari dalam satu sesi pembukaan. Lewat Dubai Mallathon, kota ini berhasil mendefinisikan ulang fungsi mal yang tidak lagi sekadar menjadi destinasi belanja, melainkan ruang publik yang dinamis. Bagi para pelancong yang sedang berkunjung ke Dubai, ajang ini menawarkan kesempatan emas untuk merasakan atmosfer komunitas lokal yang unik sambil tetap menjaga kebugaran tubuh di tengah liburan musim panas.

Ikon Dubai Berbenah: Burj Al Arab Bakal Tutup 18 Bulan demi Renovasi Besar-besaran

Punya Keuntungan dan Tantangan Tersendiri, Inilah Delapan Tipe Kepemilikan Pesawat

Industri penerbangan sipil terbilang kompleks, salah satu yang dikenal adalah seputar kepemilikan pesawat, pasalnya tipe kepemilikan pesawat dapat bervariasi tergantung pada konteks dan tujuan penggunaan pesawat tersebut.

Baca juga: Takut Pesawat Disita Lessor di Luar Negeri, Maskapai Rusia Hanya Operasikan Penerbangan Domestik

Pemilihan tipe kepemilikan bergantung pada faktor-faktor seperti kebutuhan operasional, anggaran, dan preferensi pemilik atau penyewa. Berikut adalah beberapa tipe kepemilikan pesawat yang umum:

Tipe kepemilikan pesawat dapat bervariasi tergantung pada konteks dan tujuan penggunaan pesawat tersebut. Berikut adalah beberapa tipe kepemilikan pesawat yang umum:

1. Kepemilikan Penuh (Full Ownership)
Pesawat dimiliki sepenuhnya oleh satu individu atau satu perusahaan. Pemilik memiliki kontrol penuh atas pesawat dan bertanggung jawab atas semua biaya operasional, pemeliharaan, dan asuransi.

Contohnya miliarder seperti Jeff Bezos memiliki pesawat jet pribadi Gulfstream G650ER sepenuhnya untuk penggunaan pribadi dan bisnisnya.

2. Kepemilikan Bersama (Fractional Ownership)
Pesawat dimiliki oleh beberapa individu atau perusahaan yang masing-masing memiliki bagian (fraksi) dari pesawat. Pemilik fraksional memiliki hak untuk menggunakan pesawat selama jumlah jam tertentu setiap tahun, berdasarkan proporsi kepemilikan mereka. Biasanya dikelola oleh perusahaan manajemen pesawat yang mengatur operasi, pemeliharaan, dan jadwal penggunaan.

Tipe ini bisa dicontohkan dalam program NetJets yang menawarkan kepemilikan fraksional di mana beberapa klien berbagi kepemilikan pesawat seperti Cessna Citation XLS+. Setiap pemilik memiliki hak untuk menggunakan pesawat selama jumlah jam tertentu per tahun.

3. Sewa Operasi (Operating Lease)
Pesawat disewa dari perusahaan leasing untuk jangka waktu tertentu, biasanya beberapa tahun. Penyewa memiliki hak untuk menggunakan pesawat selama periode sewa tetapi tidak memiliki kepemilikan atas pesawat. Pembayaran sewa bulanan atau tahunan dan biasanya termasuk biaya pemeliharaan dan asuransi.

Tipe ini bisa dicontohkan seperti maskapai penerbangan seperti Delta Airlines menyewa pesawat Boeing 737 dari perusahaan leasing seperti AerCap untuk jangka waktu beberapa tahun tanpa memiliki kepemilikan penuh atas pesawat tersebut.

4. Sewa Modal (Finance Lease)
Serupa dengan sewa operasi, tetapi di akhir periode sewa, penyewa memiliki opsi atau kewajiban untuk membeli pesawat dengan nilai residu yang disepakati. Penyewa memiliki kontrol penuh atas pesawat selama periode sewa dan biasanya bertanggung jawab atas semua biaya operasional dan pemeliharaan.

Tipe ini seperti sebuah perusahaan korporat mungkin menyewa pesawat Bombardier Global 6000 dengan opsi untuk membeli pesawat tersebut setelah jangka waktu sewa lima tahun.

5. Penggunaan Charter (Charter Use)
Pesawat disewa untuk penerbangan tertentu atau untuk jangka waktu pendek. Penyewa memiliki akses ke pesawat untuk waktu tertentu atau penerbangan tertentu tanpa tanggung jawab jangka panjang atau biaya pemeliharaan. Contohnya perusahaan atau individu menyewa pesawat jet pribadi dari perusahaan charter seperti Flexjet untuk perjalanan bisnis atau liburan sekali-sekali tanpa komitmen jangka panjang.

6. Manajemen Pesawat (Aircraft Management)
Pemilik pesawat mempekerjakan perusahaan manajemen untuk mengelola operasi harian, pemeliharaan, dan kepatuhan regulasi. Pemilik tetap memiliki pesawat tetapi mengalihdayakan tanggung jawab operasional kepada perusahaan manajemen. Contohnya seorang pengusaha memiliki pesawat Embraer Legacy 500 tetapi mengontrak perusahaan manajemen pesawat seperti Jet Aviation untuk mengurus operasi harian, pemeliharaan, dan kepatuhan regulasi.

7. Kepemilikan Pemerintah
Dimiliki dan dioperasikan oleh instansi pemerintah atau militer, untuk keperluan operasional pemerintah, misi militer, atau layanan publik seperti pemadam kebakaran dan patroli perbatasan. Contohnya pemerintah Amerika Serikat memiliki pesawat kepresidenan seperti Air Force One (Boeing 747-200B) yang digunakan oleh Presiden Amerika Serikat untuk keperluan resmi dan perjalanan internasional.

8. Kepemilikan Maskapai
Pesawat dimiliki oleh maskapai penerbangan dan digunakan untuk operasi komersial. Penggunaan pesawat untuk penerbangan komersial yang membawa penumpang atau kargo. Contoh seperti Singapore Airlines memiliki dan mengoperasikan pesawat Airbus A380 untuk layanan penerbangan komersialnya yang membawa penumpang di rute internasional.

Apa Itu Pesawat White Tail? Berikut Penjelasannya

Inilah Daftar Stasiun Favorit yang Jadi Primadona Turis Mancanegara saat Berkunjung ke Indonesia

Menggunakan transportasi berbasis rel atau kereta api tak sekadar membantu untuk beraktivitas keseharian saja. Namun dengan adanya kereta api tentu membantu juga dalam sektor perjalanan wisata. Tak hanya masyarakat Indonesia yang tentunya bisa merasakan perjalanan kereta api yang nyaman dengan berbagai fasilitas yang sangat baik, tetap juga wisatawan mancanegara turut berlomba-lomba ikut merasakan kenikmatan pelayanan kereta api di Indonesia.

Selain menikmati perjalanan kereta api, tentu para wisatawan mancanegara ini juga sangat kagum dengan bangunan stasiun saat tiba di tujuan. Ketika turun dari kereta api, berbagai ornamen yang berada di area stasiun sangat terlihat kokoh dan terawat. Apalagi bagi penikmat sejarah, tentu momen tersebut tak selalu mereka tinggalkan untuk mengabadikan bangunan stasiun tersebut.

Maka dari itu banyak turis mancanegara yang menggemari beberapa stasiun kereta api yang tentunya penuh dengan sejarah yang panjang. Jumlah wisatawan mancanegara yang memilih moda transportasi kereta api di Indonesia mengalami pertumbuhan positif pada paruh pertama tahun ini. Berdasarkan data PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI), sebanyak 308.874 turis asing selama semester I 2026. Angka pergerakan pelancong internasional tersebut memperlihatkan kenaikan sebesar 2,54% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencatatkan 301.219 orang.

Minat wisatawan mancanegara terhadap kereta api juga terlihat dari tren beberapa tahun terakhir. Pada 2022, KA Jarak Jauh KAI melayani 300.708 wisatawan mancanegara. Jumlah tersebut meningkat menjadi 580.995 wisatawan pada 2023, lalu 669.226 wisatawan pada 2024, dan mencapai 694.123 wisatawan pada 2025. Dalam rentang 2022 hingga 2025, volume wisatawan mancanegara yang menggunakan KA Jarak Jauh tumbuh 130,83 persen.

Ada sekitar 10 stasiun yang jadi favorit perjalanan kereta api oleh turis asing di Indonesia. Pertama ada Stasiun Gambir dengan jumlah 50.067 wisatawan mancanegara yang menjadi penumpang. Lalu, Stasiun Yogyakarta dengan total 49.202 wisatawan mancanegara disusul Stasiun Bandung dengan total 28.078 wisatawan mancanegara.

Stasiun Pasarsenen berikutnya dengan total 16.980 wisatawan mancanegara yang jadi penumpang. Kemudian, Stasiun Surabaya Gubeng sebanyak 15.514 wisatawan mancanegara, diikuti Stasiun Semarang Tawang dengan jumlah 11.668 wisatawan mancanegara.

Selanjutnya ada Stasiun Malang dengan jumlah 9.881 wisatawan mancanegara yang jadi penumpang. Disusul oleh Stasiun Surabaya Pasar Turi dengan total 7.899 wisatawan mancanegara, setelahnya ada Stasiun Cirebon dengan jumlah 6.474 wisatawan mancanegara, terakhir Stasiun Probolinggo dengan total 6.152 wisatawan mancanegara.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa kereta api semakin menjadi bagian dari pengalaman berwisata di Indonesia. Pun dengan kehadiran wisatawan mancanegara di layanan kereta api jarak jauh turut memberi dampak positif bagi ekosistem pariwisata daerah. Perjalanan mereka membuka ruang bagi aktivitas hotel, kuliner, transportasi lanjutan, pemandu wisata, UMKM, serta pelaku ekonomi lokal di sekitar stasiun dan destinasi.

Dalam hal ini sudah dipastikan bahwa kereta api menjadi penghubung yang mempertemukan wisatawan dengan banyak cerita tentang Indonesia. KAI akan terus menghadirkan perjalanan yang aman, nyaman, dan berkesan agar semakin banyak wisatawan mancanegara memilih kereta api sebagai bagian dari liburannya.

Wajib Tahu! Ada 4 Stasiun yang Berganti Nama di Wilayah Daop 2 Bandung

Klarifikasi Pemerintah Vietnam: Deklarasi Kesehatan Tidak Wajib Bagi Semua Turis Asing

Pemerintah Vietnam baru saja mengeluarkan klarifikasi penting terkait aturan masuk bagi para pelaku perjalanan internasional. Setelah sempat beredar kabar bahwa mulai 1 Juli 2026 seluruh penumpang yang masuk, keluar, maupun transit di Vietnam wajib mengisi deklarasi kesehatan (health declaration), Kementerian Kesehatan Vietnam menegaskan bahwa aturan tersebut tidak berlaku secara otomatis dan permanen bagi semua turis.

Aturan baru di bawah Dekrit No. 165/2026/NĐ-CP ini sejatinya merupakan kerangka regulasi siaga, yang berarti pengisian formulir kesehatan hanya akan diaktifkan sewaktu-waktu tergantung pada situasi epidemiologis, jenis penyakit menular yang sedang berkembang, serta tingkat risiko masuknya penyakit tersebut ke wilayah Vietnam.

Melalui pengumuman resmi yang dirilis di portal pemerintah, otoritas kesehatan Vietnam meminta para pelancong untuk tidak panik ataupun bingung dalam mempersiapkan dokumen perjalanan mereka. Hingga saat ini, belum ada instruksi khusus dari Kementerian Kesehatan untuk mewajibkan formulir kesehatan sebagai dokumen rutin pelengkap e-Visa maupun fasilitas bebas visa.

Selain itu, pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tidak lagi menggunakan situs web lama tokhaiyte.vn. Pihak kementerian saat ini sedang mengembangkan sistem deklarasi kesehatan digital yang baru, yang nantinya hanya akan dibuka dan diumumkan ke publik jika situasi kesehatan global atau regional memang menuntut pengaktifan protokol tersebut. Jika nantinya diaktifkan, formulir dwi-bahasa (Vietnam-Inggris) tersebut dapat diisi secara elektronik maupun kertas dalam waktu tujuh hari sebelum perjalanan.

Satu hal yang sangat krusial untuk dipahami oleh para penumpang adalah membedakan antara Deklarasi Kesehatan (Health Declaration) dengan Kartu Kedatangan Digital (Digital Arrival Card atau Pre-Arrival Information). Kedua dokumen ini dikelola oleh instansi yang berbeda dan memiliki sifat operasional yang bertolak belakang.

Jika deklarasi kesehatan berada di bawah Kementerian Kesehatan dan hanya bersifat situasional, maka Kartu Kedatangan Digital merupakan dokumen imigrasi wajib yang mutlak diisi secara online sebelum tiba di pintu pemeriksaan paspor. Otoritas imigrasi Vietnam sendiri terus memperluas kewajiban pengisian Kartu Kedatangan Digital ini di berbagai pintu masuk utama, seperti Bandara Internasional Phu Quoc, Hanoi, Da Nang, hingga Bandara Cam Ranh.

Dengan adanya klarifikasi resmi ini, para pelancong internasional yang berencana terbang ke Vietnam dalam waktu dekat dapat bernapas lega karena tidak ada prosedur kesehatan tambahan yang bersifat birokratis.

Langkah terbaik sebelum melakukan penerbangan adalah tetap fokus memeriksa validitas visa atau masa berlaku paspor, memastikan pengisian Kartu Kedatangan Digital pada portal imigrasi resmi Vietnam jika bandara tujuan menyayaratkannya, serta terus memantau perkembangan regulasi kesehatan terbaru agar perjalanan tetap berjalan aman, nyaman, dan lancar.

Menikmati ‘Slow Travel’ Berkelas: Mengintip Kemewahan Kereta Wisata Ikonik The Vietage di Vietnam

Dalaman Airport Turki Jadi Bandara Pertama di Dunia yang Seluruh Kebutuhan Listriknya Dipenuhi Solar Panel Atap

Bandara Dalaman (Dalaman Airport) di Turki baru saja menorehkan tonggak sejarah baru yang luar biasa dalam komitmen penerbangan berkelanjutan skala global. Bandara ini resmi menjadi terminal bandara pertama di dunia yang berhasil memenuhi 100 persen kebutuhan energi listriknya secara mandiri hanya melalui instalasi panel surya di atas atap (rooftop solar).

Keberhasilan ini tercapai setelah rampungnya pembangunan Fase 2 dari proyek pembangkit listrik tenaga surya atap mereka, yang tidak hanya membawa perubahan masif bagi operasional bandara yang ramah lingkungan, tetapi juga menegaskan strategi global dalam menghadirkan infrastruktur masa depan yang rendah karbon.

Proyek ambisius ini diprakarsai oleh raksasa infrastruktur asal Spanyol, Ferrovial, yang bertindak sebagai pemegang saham mayoritas pada operator bandara yang mengelola gerbang udara tersebut atas nama Direktorat Jenderal Bandara Negara Turki (DHMI). Dari segi kapasitas produksi, instalasi panel surya raksasa ini mampu menghasilkan lebih dari 20.000 MWh listrik ramah lingkungan setiap tahunnya.

Dengan beralih sepenuhnya ke energi terbarukan, Bandara Dalaman berhasil memangkas sekitar 8.500 ton emisi karbon dioksida (CO2) per tahun, sebuah kontribusi lingkungan yang nilainya setara dengan manfaat penghijauan dari sekitar 380.000 pohon.

Selain menghasilkan energi bersih, pemasangan panel surya di atap ini ternyata memberikan keuntungan ganda yang sangat cerdas dari sisi arsitektural. Panel-panel yang terpasang secara tidak langsung berfungsi sebagai peneduh alami bagi area skylight dan fasad kaca terminal bandara.

Efek peneduh ini berhasil mereduksi hawa panas yang masuk ke dalam gedung, sehingga secara signifikan menurunkan beban kerja sistem pendingin ruangan (AC) dan meningkatkan efisiensi energi secara drastis saat periode puncak musim panas—sebuah keuntungan operasional yang sangat krusial bagi sebuah terminal bandara yang terletak di wilayah beriklim hangat seperti Turki.

Hebatnya lagi, seluruh sistem panel surya ini terintegrasi penuh ke dalam arsitektur dan operasional terminal yang sudah ada, dengan memanfaatkan ruang atap yang selama ini kosong tanpa memperluas jejak fisik bandara sama sekali. Menurut pihak Ferrovial, proyek ini menjadi bukti nyata bagaimana intensitas karbon pada infrastruktur transportasi yang kompleks dapat dikurangi secara material melalui rekayasa teknis yang cermat dan optimalisasi aset yang ada. Pencapaian ini sekaligus menghapus emisi Scope 2 yang terkait dengan konsumsi listrik terminal, serta menetapkan tolok ukur global baru bagi integrasi energi terbarukan di sektor aviasi dunia.

Langkah revolusioner ini merupakan bagian dari peta jalan berkelanjutan yang lebih luas di Bandara Dalaman, yang sebelumnya juga telah mengantongi sertifikasi bergengsi ACI Airport Carbon Accreditation Level 3+.

Pihak Ferrovial menegaskan bahwa seiring dengan terus tumbuhnya permintaan perjalanan dan jumlah penumpang, Bandara Dalaman tetap fokus memberikan pengalaman terbang yang mulus dan berkualitas tinggi bagi para pelancong, sekaligus membuktikan bahwa pertumbuhan bisnis dan efisiensi operasional bandara dapat berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan hidup.

Intip Panel Surya Bandara Soetta, PLTS Terbesar di Indonesia yang Saingi Bandara Changi

Naik Level! Penumpang KA Rajabasa Tak Lagi Duduk Adu Dengkul, Apakah Tarifnya Naik?

Kabar gembira bagi masyarakat khususnya Lampung dan Sumatra Selatan. Bahwa rangkaian kereta api kelas ekonomi yang dikenal dengan tarif yang murah, kini sudah cukup nyaman. Pasalnya rangkaian ini bisa terbilang naik level. Ya, Kereta Api (KA) Rajabasa yang merupakan satu-satunya angkutan penumpang dengan rute Stasiun Tanjung Karang – Kertapati pp.

Banyak yang memanfaatkan KA Rajabasa untuk melakukan perjalanan jarak dekat maupun jarak jauh. Dengan tarif Rp32.000 saja, penumpang sudah bisa menikmati perjalanan hingga 10 jam. Terbilang sangat murah memang, namun layaknya rangkaian kelas ekonomi lainnya yang masih berada pada tarif subsidi, fasilitas yang dirasakan masyarakat masih terbatas.

Sebelumnya KA Rajabasa memiliki kapasitas sebanyak 106 tempat duduk dengan konfigurasi 2-3. Itu berarti penumpang rela duduk dengan posisi tegak dan adu dengkul dengan penumpang yang berada di depannya. Namun, kini fasilitas tersebut kandas sudah. Karena PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) resmi mengoperasikan rangkaian baru KA Rajabasa tersebut.

Modernisasi sarana itu membawa peningkatan kenyamanan bagi penumpang. Dan kabar baiknya tarif yang dikenakan penumpang tidak mengalami kenaikan sama sekali atau dengan kata lain tarif subsidi masih diberlakukan. Kini KA Rajabasa memiliki konfigurasi kursi 2-2 atau dengan total 80 tempat duduk di setiap unit kereta.

Manager Angkutan Fasilitas dan Pelayanan Penumpang KAI Divre IV Tanjungkarang, Eko Dodid Hertanto, mengatakan perubahan paling mencolok terdapat pada konfigurasi tempat duduk. Jika sebelumnya kursi disusun dengan formasi 3-2, kini seluruh rangkaian menggunakan konfigurasi 2-2 sehingga ruang gerak penumpang menjadi lebih lapang.

Tentunya, tak hanya mengubah tata letak kursi, KAI juga melengkapi seluruh gerbong dengan reclining seat. Jarak antarkursi diperlebar sehingga penumpang tidak lagi saling beradu lutut selama perjalanan menuju Sumatra Selatan. Ini membuat penumpang semakin nyaman dengan fasilitas baru ini. Apalagi KA Rajabasa merupakan perjalanan penting bagi masyarakat yang terbiasa menggunakan kereta api di jalur Sumatra.

Meski kualitas layanan meningkat, tarif KA Rajabasa dipastikan tidak berubah. Penumpang tetap membayar Rp32 ribu untuk perjalanan dari Tanjungkarang menuju Kertapati. Antusiasme masyarakat terhadap layanan tersebut langsung terlihat pada hari pertama pengoperasian. Seluruh 440 kursi yang disediakan untuk perjalanan perdana terisi penuh.

Tingginya minat penumpang juga diiringi munculnya permintaan agar KAI menambah frekuensi perjalanan, terutama pada malam hari. Menurut Eko, usulan tersebut telah menjadi perhatian perusahaan dan akan dikaji dalam penyusunan Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) yang baru. Pihaknya pun tengah melakukan survei dan memang ada kebutuhan perjalanan malam. Masukan dari masyarakat tentunya akan di akomodasi dalam perubahan grafik perjalanan kereta api.

KAI juga mengimbau masyarakat merencanakan perjalanan lebih awal melalui aplikasi Access by KAI. Tiket KA Rajabasa sudah dapat dipesan hingga 45 hari sebelum keberangkatan sehingga peluang memperoleh tiket lebih besar. Disamping fasilitasnya sudah cukup baik, pun tiket KA Rajabasa lebih sering cepat habis karena minat masyarakat.

Pemerintah pun akan terus mengusulkan penambahan kuota subsidi sekaligus peningkatan layanan kereta api di Lampung. Salah satu usulan yang tengah didorong adalah penambahan perjalanan malam karena tingkat keterisian penumpang terus tinggi. Karena peningkatan fasilitas dan penambahan layanan juga dapat mendorong lebih banyak masyarakat beralih menggunakan kereta api sebagai moda transportasi antardaerah yang aman, nyaman, dan terjangkau.

Yuk Kenali Nama-nama Stasiun di Lampung yang Terbilang Unik