Tren Baru Liburan ke Korea Selatan: Wisatawan Indonesia Kian Kepincut Jelajahi Destinasi di Luar Seoul

Pengaruh gelombang budaya Korea atau K-culture secara global terbukti masih menjadi magnet kuat yang menarik minat wisatawan asal Indonesia untuk terbang ke Negeri Ginseng. Menariknya, laporan terbaru dari Airbnb bertajuk Korea Calling: How K-Culture Is Driving a New Generation of Travelers into Korea yang dirilis di Jakarta pada Senin, 22 Juni 2026, menyingkap sebuah pergeseran tren liburan yang signifikan.

Wisatawan Indonesia kini tidak lagi hanya terpaku pada gemerlapnya Kota Seoul atau sekadar berburu wisata hiburan arus utama. Sebaliknya, ada dorongan kuat lintas generasi untuk mengeksplorasi wilayah-wilayah lain di Korea Selatan demi mendapatkan pengalaman budaya yang jauh lebih autentik, mendalam, dan dekat dengan kehidupan masyarakat lokal. Komitmen ini tercermin dari hasil survei yang menyatakan bahwa sebanyak 97% wisatawan Indonesia mengakui bahwa aspek budaya sangat memengaruhi keputusan mereka untuk mengunjungi negara tersebut.

Pergeseran pola perjalanan ini diamati langsung oleh Amanpreet Bajaj selaku Country Head Airbnb untuk Asia Tenggara & India. Ia menjelaskan bahwa minat besar wisatawan Indonesia saat ini mulai bergeser ke arah petualangan kuliner lokal, penjelajahan warisan sejarah, serta kunjungan ke daerah-daerah wisata tersembunyi yang belum banyak dijamah oleh turis massal.

Khusus ke Pulau Jeju, Bertandang ke Korea Selatan Memang Tak Perlu Visa

Tren positif ini dinilai sebagai peluang emas untuk menciptakan perjalanan yang lebih bermakna melalui perluasan akses terhadap akomodasi berbasis komunitas di luar ibu kota. Data internal survei bahkan mencatat angka yang fantastis, di mana sebanyak 98% responden Indonesia menyatakan sangat tertarik untuk mengunjungi kota atau wilayah lain di luar kota besar, asalkan tersedia pilihan akomodasi yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Terkait destinasi luar Seoul yang paling diincar oleh pelancong tanah air, Busan dan wilayah sekitarnya sukses menempati urutan teratas dengan persentase mencapai 81%. Posisi berikutnya ditempati oleh keindahan alam Pulau Jeju sebesar 58%, kawasan penyangga Incheon dan Gyeonggi sebesar 47%, serta kota Daegu yang meraup 39%.

Ada berbagai faktor kuat yang mendorong ketertarikan ini, mulai dari pesona pemandangan alam yang unik, petualangan berburu kuliner khas daerah, kekaguman terhadap tradisi lokal, hingga keinginan untuk mendatangi lokasi syuting drama Korea atau film favorit secara langsung. Faktor kenyamanan tempat tinggal juga memegang peranan krusial dalam keputusan ini, di mana 70% wisatawan menyebutkan bahwa ketersediaan homestay atau penginapan lokal menjadi penentu utama karena dinilai menyajikan atmosfer yang lebih hangat serta terasa lebih menyatu dengan keseharian warga lokal dibandingkan dengan hotel konvensional.

Meskipun K-culture secara universal memengaruhi 83% aktivitas pilihan turis Indonesia selama berlibur, survei ini memetakan adanya preferensi yang unik antar-kelompok usia. Bagi generasi Z dan Milenial, fenomena K-pop tetap menjadi motor penggerak utama dengan persentase 64%, jauh mengungguli kelompok usia dewasa yang hanya menyentuh angka 23%. Kebalikannya, para pelancong dari kelompok usia yang lebih matang justru jauh lebih terpikat pada kekayaan warisan sejarah dan budaya Korea (67%) dibandingkan kelompok Gen Z yang berada di angka 46%. Walau berbeda sudut pandang, urusan isi perut rupanya menjadi pemersatu semua generasi. Pengalaman kuliner otentik muncul sebagai motivasi universal yang paling disetujui oleh 65% responden dari seluruh kelompok usia.

Tren eksplorasi yang semakin mendalam ini juga berimplikasi langsung pada durasi tinggal dan perputaran ekonomi di sektor pariwisata. Tercatat, wisatawan Indonesia rata-rata menghabiskan waktu hingga 5,5 malam dalam sekali kunjungan ke Korea Selatan, dengan rata-rata pengeluaran yang cukup besar, yakni mencapai lebih dari Rp30 juta per orang per perjalanan di luar biaya tiket pesawat.

Selain itu, kultur masyarakat Indonesia yang komunal membuat mayoritas dari mereka lebih senang bepergian dalam kelompok, dengan rincian 60% pergi bersama pasangan, 42% memboyong keluarga, dan 22% berlibur bersama teman-teman. Dengan 89% responden yang menyatakan optimis akan kembali mengunjungi Korea Selatan dalam lima tahun ke depan, penyediaan opsi akomodasi lokal yang ramah keluarga di luar Seoul diprediksi akan menjadi kunci utama dalam mendukung gaya liburan baru yang lebih santai, lama, dan bermakna ini.

Korea Selatan Berlakukan Bebas Visa Rombongan bagi WNI: Minimal 3 Orang dan Syarat Khusus Lainnya

Wahana Tiltrotor Tanpa Awak R6000 Buatan Cina Sukses Jalani Terbang Bebas Perdana

Dunia penerbangan global kembali menyaksikan tonggak sejarah baru dalam pengembangan pesawat angkut masa depan. Lanying R6000, sebuah pesawat nirawak (drone) canggih berteknologi tiltrotor buatan perusahaan Cina, United Aircraft, dilaporkan telah sukses melaksanakan uji coba terbang bebas (free flight) perdana tanpa menggunakan kabel pengaman (tethered). Momen krusial ini menandakan bahwa sistem aerodinamika dan transisi mode terbang pesawat hibrida tersebut telah mencapai tingkat kestabilan yang sangat tinggi.

Kabar mengenai kesuksesan uji terbang ini pertama kali mencuat di media sosial setelah pengamat penerbangan mengunggah video yang memperlihatkan R6000 melakukan lepas landas secara vertikal, bermanuver berputar (yaw) pada poros vertikalnya saat melayang (hovering), hingga melakukan penerbangan horizontal yang mulus dan berkelanjutan. Sebelumnya, rangkaian uji coba berkala pada wahana ini masih terbatas menggunakan tali pengaman untuk memverifikasi kemampuan dasar take-off dan landing. Keberhasilan terbang bebas ini menjadi sebuah pencapaian masif mengingat kompleksitas tinggi yang biasa dihadapi pesawat tiltrotor saat beralih dari mode helikopter ke mode pesawat biasa.

Secara teknis, Lanying R6000 adalah monster baru di kelasnya. Memiliki bobot lepas landas maksimum (MTOW) mencapai 6,1 ton, pesawat ini menggabungkan fleksibilitas helikopter yang tidak membutuhkan landasan pacu dengan kecepatan jelajah tinggi khas pesawat propeler konvensional. United Aircraft merancang R6000 dengan kemampuan mengangkut beban muatan (payload) hingga 2 ton, kecepatan jelajah mencapai 550 km/jam, ketinggian terbang hingga 7.620 meter, serta jarak tempuh fantastis yang diklaim mampu menjangkau hingga 4.000 kilometer.

Bagi sektor penerbangan sipil dan transportasi publik, kehadiran R6000 membawa potensi disrupsi yang sangat besar. Dengan volume kompartemen kargo sebesar 7,6 m³, pesawat multi-misi ini diproyeksikan dapat dikembangkan menjadi versi berawak yang mampu membawa antara 6 hingga 12 orang penumpang. Karakteristiknya yang tidak memerlukan infrastruktur bandara modular membuat R6000 sangat ideal untuk melayani rute-rute antarpulau terpencil, kawasan pegunungan, hingga destinasi wisata yang sulit dijangkau oleh moda transportasi udara konvensional.

Selain opsi angkutan penumpang terjadwal, fleksibilitas tinggi dari R6000 juga menjadikannya platform yang sangat andal untuk misi evakuasi medis darurat (MEDEVAC), logistik ekspres, serta operasi pencarian dan penyelamatan (Search and Rescue/SAR). Untuk misi medis, ruang kabinnya diklaim mampu mengakomodasi hingga empat pasien tandu beserta empat tenaga medis sekaligus. United Aircraft juga memastikan bahwa armada ini dirancang tangguh menghadapi cuaca buruk; dilengkapi sistem proteksi petir dan anti-es (anti-icing), R6000 sanggup menembus kekuatan angin hingga skala 8 serta tetap beroperasi dengan aman di tengah guyuran hujan lebat selama 1 hingga 2 jam.

Meskipun memiliki potensi komersial dan sipil yang luar biasa untuk menghubungkan wilayah-wilayah terisolasi, para analis global juga melihat bahwa platform R6000 memiliki nilai taktis yang tinggi untuk sektor logistik militer. Kemampuan otonomnya sangat cocok diaplikasikan pada kapal-kapal pendarat amfibi besar seperti kapal dek datar Type 076 milik Angkatan Laut Cina, guna mendukung rantai pasok logistik di pangkalan-pangkalan terluar maupun garrison terpencil di kawasan Pasifik yang minim fasilitas landasan pacu.

Suksesnya uji terbang bebas di bulan Juni 2026 ini membawa Lanying R6000 selangkah lebih dekat menuju fase produksi massal yang diprediksi akan mengubah peta industri logistik dan transportasi udara masa depan.

Cina Uji Terbang Perdana Pesawat Tiltrotor Berawak, Desain Mirip Leonardo AW609

Stasiun Garut Rencana Hadirkan Museum Mini untuk Wisatawan, Ini Penjelasan KAI Wisata

Stasiun Garut kembali menjadi sorotan. Setelah meresmikan rangkaian Kereta Api (KA) Cikuray menggunakan kereta Ekonomi Kerakyatan dan Petani Pedagang, kini stasiun yang berada di tengah Kota Garut akan menjadi area wisata bagi masyarakat. Ya, di kabarkan bahwa nantinya bahwa selain untuk naik turun penumpang kereta api lokal maupun jarak jauh, Stasiun Garut akan memiliki museum mini.

Diketahui memang Stasiun Garut memiliki bangunan cagar budaya yang berada di sebelah bangunan baru dengan kondisi yang terawat rapi. Lengkap dengan plat nama bertuliskan Garut, stasiun ini sudah semakin eksis di kalangan masyarakat lokal maupun pendatang. Adapun museum mini yang nanti rencananya hadir, tentunya akan menjadi area wisata baru yang bisa dikunjungi oleh masyarakat sambil menunggu datangnya kereta api.

Menurut penuturan dari Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Pariwisata (KAI Wisata), Raden Agus Dwinanto berencana menghadirkan museum mini di Stasiun Garut sebagai upaya mendongkrak minat wisatawan sekaligus melestarikan sejarah perkeretaapian Jawa Barat.

Agus menjelaskan bahwa ide tersebut digagas berdasarkan tren peningkatan signifikan wisatawan dari Jakarta menuju Garut menggunakan kereta api. Pada periode Januari hingga Mei 2026, volume pelanggan rute Papandayan (Gambir-Bandung-Garut pp) tercatat mencapai 10.868 penumpang dengan tingkat okupansi rata-rata di atas 100 persen.

Museum mini yang direncanakan akan direalisasikan tahun ini akan memuat beragam koleksi kereta api serta sejarah jalur dan stasiun dari seluruh Jawa Barat . Koleksi yang dipamerkan rencananya mencakup artefak bersejarah, foto-foto dokumentasi, hingga miniatur lokomotif yang pernah beroperasi di wilayah Priangan.

Kehadiran museum ini melengkapi upaya pelestarian sejarah yang sebelumnya telah dilakukan. Pada Desember 2023, miniatur lokomotif uap tipe DD5208 yang legendaris atau dikenal dengan nama “Si Gombar” telah dipamerkan di Stasiun Garut sebagai bagian dari edukasi sejarah perkeretaapian Indonesia. Lokomotif ini tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) dan pernah beroperasi di wilayah pegunungan Priangan.

Stasiun Garut sendiri memiliki sejarah panjang yang dimulai pada 1 Agustus 1930. Aktivitas perkeretaapian di jalur ini sempat terhenti akibat erupsi Gunung Galunggung pada 1982 yang mengganggu operasional, hingga akhirnya stasiun resmi ditutup pada 1983. Reaktivasi Stasiun Garut pada 2021 menjadi momentum penting yang kembali membangkitkan harapan kemajuan wilayah Garut.

Selain mengaktivasi museum mini, KAI Wisata juga berencana menjajaki kolaborasi dengan agen travel lokal untuk menawarkan paket wisata menarik di Garut. Langkah ini sejalan dengan upaya mengintegrasikan layanan kereta api dengan pelaku usaha lokal. Agus berharap ingin kereta api yang melayani wisatawan, terintegrasi dengan pelaku usaha lokal. Serta bisa menawarkan opsi terbaik untuk wisatawan yang datang ke Garut.

Tentunya, saat di momen libur panjang yang akan datang, KAI Wisata berencana untuk mengaktivasi beragam promo untuk para penumpangnya, yang akan berlibur. Dan akan terus mendukung pengembangan destinasi wisata di berbagai daerah melalui layanan dan pengalaman perjalanan yang berkualitas.

Sejak direaktivasi, Stasiun Garut melayani dua kereta api komersial jarak jauh yakni KA Papandayan relasi Garut-Gambir dan KA Cikuray relasi Garut-Pasar Senen. Pada masa angkutan Lebaran 2026, total keberangkatan penumpang dari Stasiun Garut mencapai 13.076 orang atau naik 6 persen dibandingkan periode Lebaran 2025.

“Warung Bandrek,” dari Tempat Minum Sampai Jadi Nama Stasiun Kereta

Sudah 92%, Siap-siap LRT Jakarta Bakal Diresmikan pada Agustus 2026 rute Velodrome – Manggarai

Kabar gembira khususnya bagi warga Jakarta maupun Jabodetabek yang biasa menggunakan transportasi umum khususnya Light Rail Trainsit (LRT) Jakarta, karena informasi yang ramai di media sosial akan segera beroperasi.

Ya, kabar tersebut menjadi angin segar bagi masyarakat penikmat transportasi umum bahwa LRT Jakarta akan diresmikan pada Agustus 2026 mendatang. Hal tersebut menjadi pengalaman baru bagi masyarakat apalagi menambah perjalanan yang praktis tanpa harus alami kendala kemacetan.

Disampaikan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang memastikan bahwa LRT Jakarta rute Velodrome – Manggarai segera diresmikan dan beroperasi pada Agustus 2026 mendatang. Saat ini, rute LRT Jakarta baru melayani Pegangsaan Dua — Velodrome dengan jarak sekitar 5,8 kilometer (km).

Ia menambahkan bahwa pemerintah DKI Jakarta sudah memutuskan untuk LRT dari Velodrome sampai dengan Manggarai yang mudah-mudahan akan diresmikan pada bulan Agustus ini yang jumlah investasinya Rp12,5 triliun, ada 11 stasiun. Selain itu, pemerintah DKI Jakarta juga telah memutuskan untuk melanjutkan pembangunan LRT Jakarta hingga Dukuh Atas.

Kedepannya, transportasi ini akan terkoneksi dengan LRT Jabodebek yang saat ini terhubung hingga Jatimulya dan Harjamukti. Bertambahnya moda transportasi hingga Dukuh Atas ini turut mendorong pengembangan transit oriented development (TOD) berupa pedestrian deck atau jembatan “donat”.

Jembatan tersebut akan menghubungkan enam moda transportasi. Mulai dari MRT Jakarta, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, Commuter Line (KRL), Transjakarta, dan kereta bandara yang dapat diakses melalui Stasiun BNI City. Jika proyek tersebut selesai sesuai target pada Agustus 2026, perjalanan dari Kelapa Gading menuju Manggarai diproyeksikan hanya memakan waktu sekitar 28 menit.

Berikut lima nama stasiun baru LRT dari Stasiun Velodrom hingga Stasiun Manggarai:
1. Stasiun Rawamangun
2. Stasiun Pramuka BPKP
3. Stasiun Pasar Pramuka
4. Stasiun Matraman
5. Stasiun Manggarai

Di kawasan Manggarai, jalur LRT nantinya akan terintegrasi dengan layanan KRL Commuter Line Jabodetabek serta Transjakarta sehingga diharapkan memudahkan mobilitas masyarakat antar-moda transportasi umum. PT Waskita Karya mencatat progres pengerjaan proyek LRT Jakarta Fase 1B Velodrome – Manggarai telah mencapai 92,76%.

Kinerja layanan LRT Jakarta sendiri mulai menunjukkan peningkatan. Pada 2025, PT LRT Jakarta mencatat rata-rata lebih dari 3.600 penumpang per hari. Tingkat kepuasan pelanggan konsisten berada di atas 90%, ketepatan waktu perjalanan mencapai lebih dari 99%, sedangkan pemenuhan standar pelayanan minimum berada di atas 98%.

Makin Canggih! MRT Jakarta Gandeng Jepang Hadirkan Sistem Tiket Digital Berbasis Akun

Inilah Rutan Model 76 Voyager, Pesawat Pertama yang Keliling Dunia Tanpa Mengisi Bahan Bakar

Hari ini 42 tahun lalu yang bertepatan dengan 22 Juni 1984, menjadi momen bersejarah dalam pengembangan teknologi kedirgantaraan, pasalnya telah berlangsung penerbangan perdana (first flight) The Rutan Model 76 Voyager, yaitu pesawat pertama di dunia yang berhasil melakoni terbang keliling dunia tanpa pengisian bahan bakar.

Baca juga: Hari Ini, 88 tahun Lalu, Wolfgang von Gronau Keliling Dunia Selama 111 Hari Pakai Pesawat Amfibi

Meski uji coba penerbangan secara dramatis berlangsung sukses, baru pada 14 Desember 1986, pesawat ini memulai penerbangan keliling dunia non-stop. Pesawat itu pun akhirnya resmi menjadi pesawat pertama di dunia yang berhasil menyelesaikan penerbangan keliling dunia non-stop atau tanpa mengisi bahan bakar, setelah berhasil mendarat dengan selamat pada 23 Desember 1986, setara melahap penerbangan 9 hari, 3 menit, dan 44 detik.

Dilansir airandspace.si.edu, untuk mendukung penerbangan keliling dunia tanpa mengisi bahan bakar, Voyager dibangun hampir seluruhnya terbuat dari bahan komposit sandwich sarang lebah dan serat grafit. Hal itu dimaksudkan agar pesawat menjadi lebih ringan dan pada akhirnya hemat bahan bakar.

Selama enam tahun, Voyager didesain, dibangun (konstruksinya), dan dikembangkan sedemikian rupa agar benar-benar siap melakukan penerbangan tersebut. Pesawat ini dirancang oleh Burt Rutan, avgeek asal AS yang sudah berpengalaman membuat pesawat home made serta pendiri perusahaan Rutan Aircraft Factory (berubah menjadi Scaled Composites dan diakuisisi oleh Northrop Grumman), dibantu oleh ahli pesawat home made lainnya seperti, VariViggen dan VariEze, serta produsen pesawat Beech Starship.

Voyager. Foto: National Air and Space Museum – Smithsonian Institution

Saat dirasa desain, konstruksi, dan proses pengembangannya sukses, tiga orang lainnya, Dick Rutan, Jeana Yeager, dan Bruce Evans menjadikan itu nyata dalam tempo 18 bulan. Ketiganya membuat pesawat itu di Pusat Uji Penerbangan Sipil, Bandara Mojave, California pada 22 Juni 1984

Pada 14 Desember 1986, pukul 8.01, The Rutan Model 76 Voyager memulai penerbangan keliling dunia usai lepas landas dari Edwards Air Force Base (Edwards AFB) atau Pangkalan Angkatan Udara Edwards, California, AS, diawaki oleh Dick Rutan dan Jeana Yeager.

Tak disebutkan dengan jelas rute pesawat dalam mengelilingi dunia. Namun, Voyager diketahui melintasi Samudera Pasifik, terus terbang mengikuti cuaca, angin, dan geografi yang tepat dengan dipandu ATC serta ahli meteorologi setempat ke arah Karibia, melintasi Samudera Atlantik Utara, menuju Afrika, dan kembali ke Edwards AFB pada pukul 8.05 waktu setempat.

Foto: Tangkapan layar

Selama penerbangan pertama keliling dunia tanpa mengisi bahan bakar, Voyager menempuh jarak 42.212 km selama 216 jam, 3 menit, dan 44 detik, dengan kecepatan rata-rata 186 km per jam serta ketinggian jelajah rata-rata 2.438 meter guna menghemat bahan bakar. Terkait ketinggian, kadang kala pesawat harus terbang lebih tinggi mencapai 6.248 meter untuk menghindari badai.

Selama perjalanan keliling dunia, tentu pesawat menghadapi berbagai masalah. Namun, yang paling menantang tentu mengatur 17 tangki bahan bakar seberat 3 ton lebih agar tetap seimbang saat satu per satu tangki perlahan kosong.

Baca juga: Hari Ini, 38 Tahun Lalu, Helikopter Pertama yang Berhasil Keliling Dunia Berangkat! Butuh Waktu Hampir Sebulan

Usai keberhasilan itu dan sang pilot menerima setidaknya delapan penghargaan internasional, pesawat yang ditenagai oleh dua mesin Teledyne Continental depan-belakang (mesin depan tipe O-240, 130 hp dan belakang tipe IOL-200, 110 hp), twin-boom, dan single wing kemudian disimpan di National Air and Space Museum, Washington DC, sampai detik ini.

Sebelum diabadikan di museum itu, pesawat dengan bentang sayap 33 meter, canard 10 meter, panjang badan 7,7 meter, panjang boom 8,9 meter, dan tinggi 3,1 meter ini sempat melakukan penerbangan terakhir pada Januari 1987, diawaki oleh pilot yang sama, Dick Rutan dan Jeana Yeager, untuk kembali ke Mojave, California.

Châtelet–Les Halles: Dari Pusat Kota Paris, Inilah Stasiun Bawah Bawah Tanah Terbesar di Dunia

Nama Stasiun Châtelet–Les Halles terasa asing bagi netizen di Indonesia, tapi bagi para pelancong yang bertandang ke kota Paris, dan memanfaatkan moda transportasi kereta metro (Mass Rapid Transit), maka akan mengenal Stasiun Châtelet–Les Halles. Pasalnya Châtelet–Les Halles adalah salah satu stasiun besar di Paris yang menjadi hub dari beragam rute kereta di kota mode tersebut.

Baca juga: Intip Langsung Kungstradgarden, Stasiun Bawah Tanah Paling Keren di Dunia

Selain itu, tahukah Anda bahwa Stasiun Châtelet–Les Halles adalah salah satu stasiun bawah tanah terbesar di dunia. Terletak di pusat kota Paris, Perancis, stasiun ini merupakan persimpangan utama bagi beberapa jalur kereta bawah tanah (Métro) dan jalur kereta regional (RER).

Châtelet–Les Halles memiliki arsitektur yang kompleks dan luas. Stasiun ini terdiri dari beberapa level dan terhubung dengan berbagai koridor, eskalator, dan tangga. Selain itu, stasiun ini juga merupakan pintu gerbang menuju pusat perbelanjaan Les Halles, salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Paris.

Karena ukuran dan kompleksitasnya, Châtelet–Les Halles sering kali dianggap sebagai salah satu stasiun bawah tanah terbesar di dunia.

Stasiun bawah tanah Châtelet–Les Halles di Paris memiliki sejarah yang panjang dan rumit. Pada awal abad ke-20, sistem transportasi bawah tanah di Paris mulai dikembangkan. Pada tahun 1900, jalur pertama Métro Paris (Line 1) dibuka, tetapi belum termasuk stasiun Châtelet–Les Halles.

Pada tahun 1931, pembangunan jalur kereta bawah tanah (RER) dimulai di Paris. RER adalah sistem kereta regional yang menghubungkan Paris dengan pinggiran kota dan kawasan sekitarnya. Proyek ini melibatkan pembangunan stasiun bawah tanah baru, termasuk di wilayah Châtelet–Les Halles.

Denah Stasiun Bawah Tanah Châtelet–Les Halles.

Pada tahun 1969, pembangunan stasiun bawah tanah Châtelet–Les Halles baru dimulai sebagai bagian dari perluasan jaringan RER. Stasiun ini direncanakan sebagai persimpangan penting yang menghubungkan berbagai jalur Métro dan RER di pusat kota Paris.

Pada 5 September 1977, Stasiun Châtelet–Les Halles yang baru dibuka untuk umum. Stasiun ini menjadi salah satu persimpangan utama di sistem transportasi Paris, menghubungkan berbagai jalur Métro (termasuk Line 1, 4, 7, 11, dan 14) dan jalur RER (termasuk Jalur A, B, dan D). Jalur RER B dikenal sebagai akses kereta bandara ke Charles de Gaulle International Airport.

Renovasi dan Pengembangan: Seiring berjalannya waktu, stasiun Châtelet–Les Halles mengalami sejumlah renovasi dan pengembangan untuk meningkatkan kapasitas, aksesibilitas, dan kenyamanan bagi penumpang. Renovasi besar-besaran terakhir terjadi pada tahun 2016 sebagai bagian dari proyek “Rénovation des Halles”, yang melibatkan perubahan arsitektur, penambahan ruang terbuka, dan perbaikan fasilitas di sekitar stasiun.

Baca juga: Inilah 10 Stasiun Bawah Tanah Terpadat di Dunia

Hingga saat ini, stasiun bawah tanah Châtelet–Les Halles tetap menjadi salah satu persimpangan transportasi yang paling sibuk dan penting di Paris, melayani jutaan penumpang setiap tahunnya.

Yang Harus Diingat dari Asuransi Penumpang

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, insiden kecelakaan sering sekali terjadi baik saat menggunakan transportasi darat, laut maupun udara. Namun jika musibah datang, selain rasa sedih yang mendera, apa yang ada dipikiran para keluarga ataupun konsumen moda transportasi?

Beberapa mungkin tidak terlalu memikirkan perihal ganti rugi, yang ada dipikiran pertama keluarga selamat dan dapat kembali ke rumah. Di lain pihak, asuransi Jasa Raharja selaku BUMN yang bergerak di bidang jasa asuransi sosial akan bereaksi cepat saat terjadi kecelakaan baik darat, laut maupun udara dengan memberikan santunan untuk para korban baik yang cacat tetap, meninggal, biaya perawatan dan penguburan untuk korban meninggal.

Untuk biaya santunannya pun berbeda untuk yang perawataan ataupun meninggal. Dilansir dari www.jasaraharja.co.id, besaranya santunan menurut UU No. 33&34 tahun 1964, ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan RI No. 36/PMK.010/2008 dan 37/PMK.010/2008 tanggal 26 Februari 2008 jenis santunan yang diberikan untuk darat dan laut sama sedangkan untuk udara ada beberapa yang dibedakan.

Jenis Santunan                     Angkutan Umum
                                               Darat/Laut           Udara
Meninggal Dunia                   Rp.25.000.000,-  Rp.50.000.000,-
Catat Tetap (maksimal)       Rp.25.000.000,-  Rp.50.000.000,-
Biaya Rawatan (maksimal) Rp.10.000.000,-  Rp.25.000.000,-
Biaya Penguburan                Rp.2.000.000,-    Rp.2.000.000,-

Untuk mendapat santunan ini biasanya melalui prosedur dengan melengkapi formulir kemudian bukti dan dokumen yang di siapkan sah, terakhir pihak keluarga menunggu hasil dari berkas-berkas yang diproses.

Untuk UU No. 33 Tahun 1964 Jo PP No. 17 Tahun 1965 tentang Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang umum menhjelaskna, korban yang berhak atass santunan adalah setiap penumpang sah dari alat angkutan penumpang yang mengalami kecelakaan diri yang diakibatkan oleh penggunaan angkutan umum selama penumpang yang bersangkutan berada dalam angkutan tersebut, yaitu saat naik dari tempat pemberangkatan sampaidi tempat tujuan. Untuk penumpang kendaraan bermotor umum (bus) yang berada di dalam tenggelamnya kapal ferry, maka kepada penumpang bus yang menjadi korban diberikan santunan ganda. Sedangkan bagi korban yang jasadnya tidak diketemukan dan/atau hilang, penyelesaiannya didasarkan kepada Putusan Pengadilan Negeri.
lingkup-jaminan-uuno33Namun, bila kecelakaan dilakukan sengaja seperti bunuh diri, klaim asuransi tidak akan di proses dan dana santunan tidak akan dikeluarkan untuk keluarga. Hal ini dikarenakan kecelakaan yang dilakukan sengaja bukan yang tanpa sengaja sehingga pihak asuransi, dimana untuk transportasi adalah Jasa Raharja tidak akan diberikan untuk keluarga korban.

Tak hanya Jasa Raharja saja yang memberikan santunan, bila korban memilii asuransi lain, dan membeli asuransi yang terjual terpisah saat pembelian tiket maka akan mendapat tambahan perlindungan asuransi. Biasanya ini ditemukan saat membeli tiket pesawat pada agen-agen perjalanan atau gerai yang terdapat di bandara.

Punya Bentang Rel ‘Hanya’ 760 Milimeter, Kereta Tua di Bulgaria Berbelok Laksana Rollercoaster

Setiap negara memiliki bentang jalur kereta yang berbeda satu dengan yang lainnya. Seperti jalur di Bulgaria yang memiliki bentang rel atau gauge tampak seperti objek wisata esoteris. Di mana jalur tersebut berliku di antara 27 stasiun dari Bulgaria dan perbatasan Pedalaman Yunani dan ini menjadi satu-satunya di dunia.

Baca juga: Bentang Rel 1.435mm, Ternyata Telah Jadi Standar Sejak Zaman Romawi!

Bentang rel ini cukup sempit yakni hanya 760 mm dan menjadi kekhasan di antara rel kereta api lainnya. Akibat gauge yang terbilang sempit, maka menjadi ‘menyeramkan’ ketika ada belokan sempit dan trek gunung yang curam sehingga terlihat seperti rollercoater daripada kereta penumpang.

Meski begitu dengan bentang jalur tersebut perjalanan Anda bisa lebih cepat. Bentang rel di Bulgaria ini dibangun pada awal 1920-an. Di mana pembangunan jalur kereta api pada saat itu merupakan kebanggaan tersendiri di wilayah tersebut, dimana jalur kereta ini berjalan sejauh Aegea, menghubungkan Bulgaria ke kawasan Mediterania.

Namun, seiring berjalannya waktu, terutama untuk mendukung kompabilitas dengan jalur kereta di negara lain, maka sejak tahun 1990-an, gauge rel utama di negara itu dilepas dan diganti dengan standar Eropa 1435 mm. Dengan gauge baru tersebut, maka jaringan kererta di Bulgaria dapat terhubung dengan kereta ke Turki dan Serbia, seperti halnya Istanbul-Sofia Express.

Sayangnya sisa alur sepanjang 16 km dari cabang Varvara-Pazardhik ditutup pada tahun 2002. Hingga saat ini hanya jalur Septemvri ke Dobrinishte yang menggunakan gauge 760 mm, tetapi kondisinya sudah sangat mengerikan.

Masih ada empat lokomotif penumpang di Septemvri–Dobrinishte yang digunakan  untuk membawa turis melintasi pegunungan. Sebuah badan amal bernama Za Tesnolineikata atau “untuk jalan sempit” telah dibentuk untuk menyelamatkan kereta dan perspektif unik yang diberikannya di pegunungan Balkan.

Melewati masjid-masjid, kuil-kuil ortodoks Yunani dan Bulgaria, seperti kereta yang bergerak lambat, pemandangan pegunungan yang unik telah memungkinkan cara-cara hidup kecil yang istimewa untuk terus berlanjut seperti yang telah mereka lakukan selama seratus tahun terakhir. Di pegunungan Bulgaria Selatan dan dataran tinggi Makedonia, tradisi Muslim Pomak dan Slavia berlanjut di Bulgaria.

Sebagian karena tarif dan penumpang tetap rendah, sementara pemeliharaan jaringan kereta api yang dipesan lebih dahulu sangat tinggi. Za Tesnolineikata berharap dengan mendorong lebih banyak wisatawan ke jalur ini, mereka dapat membantu menjaga kawasan ini terus bergerak.

Baca juga: Lebar Bentang Rel Menjadi Ciri Khas Jalur KRL Jabodetabek

Bahkan mungkin memperkenalkan tarif yang berbeda untuk pengunjung. Namun, untuk saat ini, penduduk lokal dan luar kota membayar dengan harga yang sangat rendah. Ini adalah $9,65 untuk tiket pulang pergi sepanjang 124  km dari jalur kereta. Untuk diketahui, setiap bentang rel kereta tidak memiliki yang sama, tetapi di dunia ada ukuran yang diresmikan sebagai ukuran internasional yakni 1.435 mm.

Stasiun Cibadak: Gerbang Utama Bagi Wisatawan Menuju Kabupaten Sukabumi

Perjalanan menggunakan kereta api selain kangen kampung halaman tentu bisa dijadikan pengalaman berkunjung ke lokasi yang diinginkan. Apalagi saat akhir pekan tiba, tentu pengguna kereta api dengan tujuan lokasi yang digemari akan semakin meningkat.

Tak hanya pada kota-kota yang didominasi oleh wisatawan pada umumnya seperti Jawa Tengah maupun Jawa Timur, ternyata kawasan yang tak jauh dari wilayah Jabodetabek pun justru cukup ramai dengan kereta api yang ada di jalur ini. Ya, berada di lintas Bogor – Sukabumi masyarakat lebih cenderung melakukan perjalanan khususnya wisata menggunakan Kereta Api (KA) Pangrango.

Beberapa stasiun yang dilewati oleh KA Pangrango memang memiliki keunikan tersendiri, mulai dari bangunan stasiunnya hingga menuju ke kawasan wisata sebagai gerbang utama saat turun di stasiun. Selain Stasiun Sukabumi sebagai stasiun kedatangan dan keberangkatan KA Pangrango, ada lagi stasiun selanjutnya yang cukup ramai dengan penumpang.

Ya, Stasiun Cibadak merupakan stasiun yang ternyata cukup ramai dengan penumpang KA Pangrango yang naik dan turun. Setiap akhir pekan, arus penumpang yang naik dan turun di Stasiun Cibadak, Jawa Barat, nyaris tak pernah sepi. Lokasinya di jalur strategis Bogor-Sukabumi menjadikan stasiun ini sebagai salah satu pintu masuk utama bagi wisatawan yang hendak menuju Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Stasiun kelas kecil/III ini menjadi salah satu akses penting bagi masyarakat yang melakukan perjalanan sehari-hari maupun perjalanan akhir pekan. Kereta api memberikan pilihan transportasi yang nyaman, tepat waktu, dan terhubung dengan berbagai tujuan di sepanjang lintas Bogor – Sukabumi. Selama beberapa tahun terakhir, layanan KA Pangrango memang menjadi pilihan masyarakat dan wisatawan di lintas tersebut.

KA Pangrango menghubungkan masyarakat dengan sejumlah stasiun seperti Bogor, Batutulis, Maseng, Cigombong, Cicurug, Parungkuda, Cisaat, dan Sukabumi. Tiket kereta api keberangkatan Stasiun Bogor Paledang menuju Stasiun Cibadak dibanderol mulai dari Rp35.000 sekali jalan. Bahkan untuk kelas ekonomi dengan tipe New Generation modifikasi Balai Yasa Manggarai PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) memberikan diskon mulai dari Rp28.000 sekali jalan.

Diketahui, konektivitas di Stasiun Cibadak mampu mendukung mobilitas pekerja, pelajar, mahasiswa, pelaku usaha, serta wisatawan yang melakukan perjalanan antarkota di Jawa Barat. Sebab, Stasiun Cibadak berada relatif dekat dengan berbagai destinasi wisata unggulan Sukabumi yang banyak dikunjungi saat akhir pekan.

Dari area stasiun, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menuju Situ Gunung Suspension Bridge yang dikenal sebagai salah satu jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara, menikmati keindahan Curug Sawer.

Selain itu bisa menjelajahi kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang menawarkan panorama pegunungan dan hutan yang masih terjaga. Wilayah Cibadak dan Sukabumi juga dikenal dengan beragam kuliner serta oleh-oleh khas yang menjadi tujuan wisatawan setelah menikmati wisata alam.

Data KAI menunjukkan, volume pelanggan naik dan turun di Stasiun Cibadak selama Januari hingga Mei 2026 mencapai 74.281 penumpang. Angka tersebut meningkat 6,46 persen dibanding periode yang sama pada 2025 sebanyak 69.775 penumpang.

Peningkatan vokume penumpang ini menunjukkan peran stasiun yang semakin penting dalam mendukung mobilitas masyarakat di Kabupaten Sukabumi dan sekitarnya. Pertumbuhan pelanggan di Stasiun Cibadak, kata Anne, juga sejalan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi yang mampu menghubungkan kawasan permukiman, pusat aktivitas ekonomi, dan destinasi wisata.

Rute KA Bogor – Sukabumi – Cianjur, Masih Eksis Meski Terlupakan

Catat! Penumpang Meningkat, LRT Jabodebek Tambah Jadwal Perjalanan saat Jam Sibuk

Pengguna layanan Light Rapid Transit (LRT) Jabodebek sudah semakin banyak peminatnya, apalagi pada jam-jam sibuk. Masyarakat wilayah Jabodetabek sudah merasakan layanan perjalanan tersebut dari berbagai stasiun yang dilayani LRT Jabodebek. Tentunya wilayah Bekasi dimulai dari Stasiun Jatimulya, wikayah Jakarta Timur dimulai dari Stasiun Harjamukti, hingga wilayah Jakarta Pusat dari Stasiun Dukuh Atas.

Berbagai akses yang mudah hanya dengan menggunakan LRT Jabodebek, sudah terlihat kepadatan masyarakat yang beraktivitas. Berbagai stasiun yang disinggahi sejatinya berada di kawasan perkantoran maupun aktivitas usaha masyarakat membuat layanan ini terlihat sibuk pada jam tertentu. Untuk itu PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) berinisiatif untuk menambah jadwal perjalanan pada jam sibuk bagi layanan LRT Jabodebek.

Penyesuaian ini mulai diterapkan setelah sebelumnya dilakukan evaluasi terhadap pengoperasian Kereta Luar Biasa (KLB) uji coba penambahan frekuensi perjalanan pada jam sibuk pagi hari pada Senin (8/6) hingga Jumat (12/6). Manager of Public Relation LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, mengatakan penyesuaian jadwal tersebut merupakan bentuk adaptasi layanan terhadap pola mobilitas pengguna yang terus berkembang.

Penambahan frekuensi ini sejatinya untuk mengakomodir tingginya mobilitas masyarakat pengguna transportasi publik di wilayah Jabodebek. Untuk meningkatkan kenyamanan pengguna LRT Jabodebek pada pagi hari yang sangat padat, KAI melakukan penyesuaian jadwal perjalanan LRT Jabodebek dengan menambah frekuensi perjalanan pada pagi hari.

Adapun penambahan LRT Jabodebek dan penyesuaian jadwal perjalanan di jam sibuk pagi sebagai berikut :

Jati Mulya – Dukuh Atas Bank Syariah Indonesia
• Pukul 06.51 WIB
• Pukul 06.59 WIB
• Pukul 07.08 WIB
• Pukul 07.11 WIB (KA tambahan)
• Pukul 07.16 WIB
• Pukul 07.24 WIB

Harjamukti – Dukuh Atas Bank Syariah Indonesia
• Pukul 07.14 WIB
• Pukul 07.22 WIB
• Pukul 07.26 WIB (KA tambahan)
• Pukul 07.30 WIB
• Pukul 07.38 WIB

Untuk penyesuaian perjalanan LRT Jabodebek di malam hari adalah sebagai berikut:

Dukuh Atas Bank Syariah Indonesia – Jati Mulya
• Pukul 21.56 WIB
• Pukul 22.11 WIB (perubahan jadwal)
• Pukul 22.24 WIB (perubahan jadwal)
• Pukul 22.36 WIB (perubahan jadwal)
• Pukul 22.56 WIB

Dukuh Atas Bank Syariah Indonesia – Harjamukti
• Pukul 22.02 WIB
• Pukul 22.17 WIB (erubahan jadwal)
• Pukul 22.32 WIB (perubahan jadwal)
• Pukul 22.42 WIB (perubahan jadwal)
• Pukul 23.02 WIB

Selain yang disebutkan, jadwal perjalanan LRT Jabodebek masih sama seperti sebelumnya. Radhitya mengatakan bahwa dengan penyesuaian tersebut, LRT Jabodebek tetap mengoperasikan sebanyak 430 perjalanan setiap hari kerja. Langkah ini merupakan bagian dari upaya KAI dalam menghadirkan layanan transportasi perkotaan yang selamat, aman, nyaman, serta responsif terhadap kebutuhan mobilitas masyarakat.

Diketahui dari Data KAI menunjukkan tren pertumbuhan pengguna LRT Jabodebek terus mengalami peningkatan. Pada periode Januari hingga Mei 2026, jumlah pengguna telah mencapai 13.211.856 orang, atau naik sekitar 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jika pada 2025 rata-rata pengguna harian berada di kisaran 100 ribu orang, maka pada lima bulan pertama 2026 angka tersebut meningkat menjadi sekitar 120 ribu pengguna per hari kerja.

Sebagai respons terhadap perkembangan tersebut, KAI mulai mengembangkan berbagai fasilitas pendukung dan menghadirkan tenant yang menyediakan kebutuhan praktis bagi pengguna. Mulai dari makanan dan minuman, layanan ritel, hingga berbagai kebutuhan harian lainnya yang dapat diakses sebelum maupun setelah perjalanan.

Namun, sejumlah pengguna menilai bahwa peningkatan fasilitas komersial perlu tetap diimbangi dengan fokus pada aspek utama layanan transportasi, seperti ketepatan waktu, kenyamanan perjalanan, kebersihan, serta kemudahan akses antarmoda.

Menanggapi kebutuhan tersebut, KAI menegaskan bahwa pengembangan layanan pendukung dilakukan sebagai pelengkap, bukan pengganti fungsi utama transportasi publik. Perusahaan memastikan peningkatan fasilitas komersial tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga kualitas operasional dan pelayanan kepada pengguna.

Ke depan, KAI akan terus membuka peluang kerja sama dengan berbagai mitra usaha untuk membangun ekosistem komersial yang terintegrasi dengan layanan transportasi. Langkah ini diharapkan dapat menjadikan stasiun LRT Jabodebek sebagai ruang publik yang tidak hanya mendukung perpindahan orang, tetapi juga mampu memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat modern secara lebih praktis, nyaman, dan efisien.

Minat “Beli” Stasiun LRT Jabodebek? Ternyata Segini Harganya